BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Epidemiologi Sirosis Hati
a. Menurut Orang
a.1 Umur dan Jenis Kelamin
Age Standarized Death Rates (ASDR) sirosis hati laki-laki di Amerika Serikat pada tahun 2005 sebesar 13,5 per 100.000 penduduk dan wanita sebesar 6,1 per 100.000 penduduk.31
Menurut Maryani penderita sirosis hati lebih banyak dijumpai pada kaum laki-laki, jika dibandingkan dengan kaum wanita sekitar 1,6 : 1 dengan umur rata- rata terbanyak antara golongan umur 30-59 tahun dan puncaknya 40-44,9 tahun.32
Penelitian Karina pada tahun 2002-2006 terdapat 637 pasien sirosis hati dimana kejadiannya lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 2:1. Usia penderita diatas 50 tahun dengan rata-rata usia 56 tahun.9 a.2 Agama
Salah satu penyebab sirosis hati adalah kebiasaan minum alkohol yang berlebihan. Untuk mencegah sirosis maka dianjurkan tidak meminum alkohol. Ada beberapa agama yang melarang umatnya untuk mengkonsumsi alkohol seperti Budha, Hindu dan Kristen Advent. Hal ini bisa untuk mengurangi resiko terkena sirosis hati.33
b. Menurut Tempat
Sirosis hati dapat dijumpai diseluruh dunia termasuk di Indonesia, akan tetapi kejadiannya berbeda-beda tiap negara.
Pada periode 1999-2004 insidensi sirosis hati di Norwegia sebesar 13,4 per 100.000 penduduk.34 Dalam kurun waktu 5 tahun ( 2002-2006) dari data yang dikumpulkan di RSU dr. Pringadi Medan terdapat 669 penderita sirsosis hati.
c. Menurut Waktu
Di Inggris angka kematian akibat sirosis meningkat tajam selama tahun 1990- an. Antara periode 1997-2001 angka kematian akibat sirosis hati pada pria di Skotlandia meningkat lebih dari dua kali lipat (104% kenaikan) dan di Inggris dan Wales naik lebih dari dua per tiga (69%). Kematian pada wanita meningkat hampir setengah (46%) Skotlandia dan 44% di Inggris dan Wales. 35
2.7.2 Determinan
Ada beberapa penyebab dari sirosis hati yaitu: a. Virus Hepatitis
Virus Hepatitis B dan C merupakan penyebab utama timbulnya penyakit parah dan kematian. Beban dunia kibat penyakit hepatitis B dan C akut cukup tinggi (sekitar 2,7%) dari kematian, diperkirakan akan menjadi penyebab kematian tertinggi selama dua dekade berikutnya . Diperkirakan 57% kasus sirosis hati diakibatkan oleh infeksi virus hepatitis B atau C. 12
Penyebab utama sirosis hati di Amerika adalah hepatitis C (26%), penyakit hati alkoholik (21%), hepatitis C plus penyakit hati alkoholik (15%), kriptogenik (18%) sedangkan di Indonesia terutama akibat infeksi virus hepatitis B dan C.31 Hasil penelitian Indonesia menyebabkan bahwa virus hepatitis menyebabkan B menyebabkan sirosis sebesar 40-50% dan virus hepatitis C sebesar 30-40%, sedangkan 10-20% penyebabnya tidak diketahui, alkohol sebagai penyebab sirosis di Indonesia mungkin frekuensinya kecil karena sama sekali belum ada datanya.34
b. Kekurangan Nutrisi
Di negara-negara Asia , faktor kekurangan gangguan nutrisi memegang peranan untuk timbulnya sirosis hati. Malnutrisi terjadi karena berbagai sebab, antara lain gangguan metabolisme, masukan makanan yang kurang, malabsorbsi, maldigesti dan akibat terapi medik. 16,25
c. Zat Hepatotoksik
Beberapa obat-obatan dan bahan kimia dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel hati secara akut dan kronis. Kerusakan hati secara akut akan
mengakibatkan nekrosis atau degenerasi lemak. Kerusakan kronis pada hati akan berupa sirosis hati. Pemberian bermacam-macam hepatotoksik secara berulang-ulang dan terus-menerus, mula-mula terjadi kerusakan setempat kemudian terjadi kerusakan hati yang merata dan akhirnya terjadi sirosis hati. Zat hepatotoksik yang dimaksud adalah alkohol, parasetamol, OAT (seperti rifampisin, isoniazid, pirazinamid, ethambutol), ranitidine, lansoprazol, tramadol, obat kortikosteroid (metil prednisolon, dexametason, prednisone, aminophilin) 20
d. Hemokromatosis
Ada 2 kemungkinan timbulnya hemokromatosis. Pertama yaitu sejak dilahirkan si penderita mengalami kenaikan absorbs dari Fe. Kedua yaitu kemungkinan didapat setelah lahir, misalnya dijumpai pada penderita penyakit hati karena alkohol.22
2.8 Pencegahan
2.8.1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan sebelum penyakit terjadi. Upaya ini umumnya bertujuan mencegah terjadinya penyakit dan sasarannya. Hal ini merupakan upaya agar masyarakat yang berada dalam keadaan sakit tidak jatuh dalam keadaan sakit, melalui usaha mengontrol dan mengatasi faktor resiko dengan sasaran utamanya adalah orang sehat melalui promosi kesehatan, perlindungan umum dan khusus. 36
Cara untuk mencegah terjadinya sirosis dengan tidak mengkonsumsi alkohol, menghindari resiko infeksi virus Hepatitis B dan hepatitis C, tidak mengkonsumsi
obat yang memiliki efek toksik pada hati. Vaksinasi terhadap virus hepatitis B merupakan pencegahan yang efektif untuk mencegah hepatitis B yang dilakukan untuk menghindari resiko penularan vertikal dari ibu kepada bayi. Vaksinasi hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir umur 0-7 hari (HB0). Vaksinasi ini dilakukan terutama kepada kelompok resiko tinggi seperti pada bayi dari ibu pengidap virus hepatitis B, petugas pelayanan kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat, bidan, petugas laboratorium), anggota keluarga pengidap hepatitis, kaum homo seks, para tuna susila, dan pelanggan mereka, pecandu obat bius suntik, mereka yang sering mendapat perawatan tusuk jarum yang suntiknya tidak steril, mereka yang sering mendapatkan transfuse darah. Cara pencegahan sirosis hati dapat dilakukan dengan cara tidak gonta-ganti pasangan sexual, menghindari kontak darah dengan penderita hepatitis B, hindari penggunaan narkoba suntikan, hindari pengguanaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah secara steril dan aman.37
2.8.2 Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah langkah yang dilakukan untuk mendeteksi secara dini suatu penyakit yang diusahakan dilakukan pada masa awal sakit yang berupa penyaringan atau dengan pemberian terapi, bukan obat dan terapi obat.
Terapi bukan obat dilakukan dengan mengurangi faktor penyebab terjadinya sirosis hati. Bila penyebab sirosis hati alkohol, maka konsumsi alkohol sebaiknya dihentikan. Bila penyebabnya adalah fatty liver akibat malnutrisi atau obesitas maka diberi diet tinggi protein dan rendah kalori. Penyakit hemokromatosis, obstruksi saluran empedu, dan penyakit Wilson segera dikenali jangan sampai terkena sirosis
berat, Penderita sirosis hati juga melakukan disiplin ketat dalam kegiatan sehari-hari. Olahraga yang disarankan hanya sebatas jalan-kaki. 37
2.8.3 Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier biasanya dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat, kecacatan dan kematian. Pencegahan dalam tingkatan ini biasanya dapat berupa rehabilitasi fisik, mental dan sosial. Jika kerusakan hati sangat parah dan mengancam nyawa maka satu-satunya cara untuk memperoleh kesembuhan total adalah dengan transplantasi hati. 37
2.9 Model Kerangka Konsep
Karakteristik Penderita Sirosis Hati 1. Sosiodemografi a. Umur b. Jenis kelamin c. Suku bangsa d. Agama e. Pendidikan f. Pekerjaan
g. Tempat tinggal/asal daerah 2. Keluhan utama sewaktu datang 3. Riwayat penyakit terdahulu 4. Status komplikasi
5. Jenis komplikasi 6. Sumber biaya
7. Lama rawatan rata-rata 8. Keadaan sewaktu pulang
BAB III
METODE PENELITIAN