BAB IV SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
A. Epidemiologi
Di Indonesia, virus Hepatitis A masih merupakan penyebab Hepatitis akut yang dirawat di rumah sakit (39,8-68,3%). Pada negara berkembang, sebagian besar orang dewasa sudah memiliki kekebalan terhadap Hepatitis A sehingga wabah Hepatitis A jarang terjadi. Hal ini terlihat pada lebih dari 75% anak dari berbagai benua Asia, Afrika, dan India menunjukkan sudah adanya antibodi anti-HAV pada usia 5 tahun. Pada daerah dengan sanitasi lingkungan yang rendah, infeksi terhadap virus ini umumnya terjadi pada anak-anak hingga dewasa muda. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak sekolah dan dewasa muda dengan jalur penularan melalui fecal-oral.
2. Hepatitis B
Hepatitis B tersebar di seluruh dunia, WHO memperkirakan lebih dari 2 milyar orang terinfeksi HBV (termasuk 240 juta dengan infeksi kronis). Setiap tahun diperkirakan sekitar 1.000.000 orang meninggal akibat infeksi HBV.
c) Siapa yang terkena (jenis kelamin dan usia)
4) Rumuskan dugaan sementara
Kemungkinan penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease).
5) Rencana penyelidikan epidemiologi
Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail dengan melakukan wawancara :
Tentukan data yang diperlukan (jumlah kasus dan populasi berisiko)
Gunakan check list
Lakukan pengambilan data dengan sampel yang cukup (minimal 30% dari jumlah kasus)
6) Lakukan tindakan penanggulangan
Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif Lakukan surveilans terhadap penyakit dan faktor lain
yang berhubungan
Tentukan cara pencegahan dimasa akan dating 7) Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan
epidemiologi tersebut: Pendahuluan Latar belakang
Hasil penyelidikan epidemiologi Analisis data dan kesimpulan Tindakan penanggulangan Saran rekomendasi
Pada negara dengan VHB endemis tinggi (prevalensi HBsAg berkisar di atas 8%), infeksi dapat terjadi pada semua golongan usia. Prevalensi terjadinya infeksi Hepatitis B kronik pada anak-anak jauh lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa. Penularan Hepatitis B terutama terjadi selama masa kehamilan dari ibu dengan Hepatitis B ke anak (penyebaran perinatal).
Pada negara dengan endemisitas Hepatitis B rendah (prevalensi HBsAg kurang dari 2%), sebagian besar infeksi terjadi pada dewasa muda, khususnya pada kelompok berisiko.
Tingkat prevalensi Hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi yaitu berkisar dari 2,5% di daerah Banjarmasin hingga 25,61% di Kupang, sehingga Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan endemisitas sedang hingga tinggi. Sebelum kebijakan skrining terhadap darah donor ditetapkan, penderita yang menerima darah dari donor carrier Hepatitis B mempunyai risiko tinggi tertular penyakit ini. Namun saat ini sebagian besar negara di dunia menyediakan fasilitas skrining untuk HBsAg terhadap darah donor sebelum diberikan kepada penderita yang memerlukan.
3. Hepatitis C
Penularan VHC yang paling sering adalah melalui parenteral yaitu pajanan dengan darah dan produknya. Oleh karena itu, prevalensi Hepatitis C sangat dipengaruhi oleh penggunaan jarum suntik bersama di kalangan pecandu obat terlarang dan penggunaan jarum suntik tidak steril di pelayanan kesehatan. Selain itu, penularan dapat pula terjadi melalui infeksi seksual dan maternal-neonatal (efisiensi dan frekuensi rendah). Menurut WHO, 2-3% penduduk dunia (130-170 juta) terinfeksi oleh VHC. Di Eropa dan Amerika, Afrika, Asia Tenggara, prevalensi Hepatitis C berkisar antara 0,5% hingga 2,4%. Data yang tersedia untuk Hepatitis C lebih menggambarkan hasil skrining dan tes laboratorium daripada surveilans epidemilogi. Di Indonesia, prevalensi anti-HCV donor darah di beberapa tempat menunjukkan angka antara 0,05% hingga 3,37%.
berwarna pekat seperti teh, sampai ikterus (kekuningan) yang terlihat pada kulit dan mata, dapat didukung dengan ditemukannya IgM anti VHA pada beberapa kasus yang diperiksa. KLB Hepatitis (suspek A atau E) dilaporkan dengan menggunakan format W1 secara berjenjang.
2. Penyelidikan Epidemiologi
Tujuan penyelidikan epidemiologi:
a. Menegakkan diagnosis KLB Hepatitis A atau E.
b. Mengetahui penyebaran kasus menurut waktu (minggu), wilayah geografi (RT/RW, desa, dan kecamatan), umur dan variabel lainnya yang diperlukan misalnya sekolah dan tempat kerja.
c. Mengetahui sumber dan cara penularan.
d. Mengetahui situasi KLB pada saat penyelidikan epidemiologi dilaksanakan serta perkiraan peningkatan dan penyebaran KLB.
3. Langkah-langkah Penyelidikan Epidemiologi
1) Konfimasi / penegakan diagnosis a) Definisi kasus
b) Klasifikasi kasus (suspek atau konfirm) c) Pemeriksaan laboratorium :
Penderita (IgM HAV)
Laboratorium rujukan : Badan Litbangkes Lingkungan: air minum, air bersih
Laboratorium rujukan: BBTKL Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan BTKL Medan.
2) Menentukan apakah peristiwa itu suatu KLB atau bukan a) Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi
yang sudah ditentukan tentang KLB.
b) Bandingkan dengan insiden penyakit pada minggu/ bulan/tahun sebelumnya.
3) Hubungan adanya KLB dengan faktor waktu, tempat, dan orang
a) Kapan mulai sakit (waktu)
4. Hepatitis D
Diperkirakan terdapat 10 juta penduduk terinfeksi virus Hepatitis D dan pada penderita Hepatitis B lebih berisiko terkena Hepatitis D. Hepatitis D dapat muncul secara endemis atau dalam bentuk KLB pada populasi yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi VHB, misalnya pada populasi Hepatitis B endemis (seperti di Rusia, Romania, Italia bagian selatan, Afrika dan Amerika Selatan), mereka adalah penderita
hemophilia, pecandu obat terlarang dan lainnya, karena
mereka sering kontak dengan darah. Mengingat bahwa infeksi VHD membutuhkan terjadinya infeksi VHB secara bersamaan, maka bila ada penurunan carrier HBsAg infeksi VHD juga menurun, seperti yang terjadi di daerah Mediterania (Yunani, Italia, Spanyol) dan sebagian besar negara di dunia.
5. Hepatitis E
Hepatitis E (VHE) merupakan penyebab utama Hepatitis non-A non-B enterik di seluruh dunia. KLB Hepatitis E dan kasus sporadis telah terjadi di wilayah yang sangat luas terutama di negara yang sanitasi lingkungannya kurang baik. Beberapa tahun belakangan ini dengan adanya kemajuan teknologi pemeriksaan serologis untuk mendeteksi IgM dan IgG anti VHE maka peta distribusi infeksi VHE dapat diketahui dengan jelas, misalnya di daerah yang selama ini endemis ternyata prevalensinya lebih rendah (3%-26%), sedangkan di daerah non endemis seperti Amerika Serikat ternyata frekuensinya lebih tinggi dari yang diduga (1%-3%).
Di sebagian negara endemis tinggi, infeksi VHE > 50%. Angka tertinggi distribusi penyakit adalah pada anak muda sampai dengan usia pertengahan(15-40) tahun. Walaupun infeksi sering terjadi pada anak tetapi biasanya asimtomatis atau menyebabkan sakit yang ringan tanpa jaundice (anicteric) sehingga penyakit ini tidak terdiagnosis. VHE terutama ditularkan melalui fekal-oral, air minum yang tercemar tinja merupakan media penularan yang paling sering terjadi.
D. KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) 1. Penetapan KLB
Penetapan KLB berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010. Suatu daerah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB, apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut :
a. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 4 yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah tertentu.
b. Peningkatan jumlah kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hari, atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
c. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis penyakitnya. d. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
e. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
f. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima pulu persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
g. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada 1 (satu) periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
Apabila terdapat sejumlah penderita dalam satu daerah dengan gejala demam, sakit kepala, lelah, nafsu makan menurun, gangguan pencernaan, mual, muntah, air kencing