• Tidak ada hasil yang ditemukan

Epistemologi Dan Beberapa Produk Pemikiran Kalam Dari segi epistimologinya berbagai aliran kalam di atas dapat

Dalam dokumen PERBANDINGAN PEMIKIRAN ISLAM (Halaman 97-102)

PeMIKIran aLIran KaLaM

C. Epistemologi Dan Beberapa Produk Pemikiran Kalam Dari segi epistimologinya berbagai aliran kalam di atas dapat

dibagi menjadi beberapa kelompok diantaranya:

79Umar Farrukh, Tarik al-Fikr al-Araby, (Bairut: Daar Lil Malayin, 1983), Cet. III, h. 207

1. Kelompok Rasionalis Yang Diwakili Oleh Mu’tazilah Yang Dikomendani Washil Bin Atho’. Pendekatan Rasional Ini, Karena Didorong Oleh Keinginan Mempertahankan Aqidah Islam Yang Saat Itu Banyak Memperoleh Serangan Dari Luar Dengan Menggunakan Pendekatan Filsafat, Maka Dilawan Pula Dengan Argumentasi Filosofis.

2. Kelompok Tekstualis Dihidupkan Dan Dipertahankan Oleh Aliran Salaf Dipelopori Oleh Imam Hambali (Hanabilah) Dan Dipopulerkan Oelh Ibnu Taymiyah.

3. Kelompok Pemikiran Sintesis Dimotori Imam Abu Hasan Al-Asy’ari Dan Abu Manshur A-Maturidi Yang Pemikirannya Tradisional Dan Cenderung Moderat.

Diluar tiga tipe pemikiran diatas, sebenarnya masih ada tipe pemikiran Radikal yang cenderung menyimpang dari pendapat umum ummat Islam, karena terpinggirkan dalam percaturan sosial politik, bersifat keras dan ekslusif yaitu aliran Khawarij.

Perbedaan metode berfikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu kerangka berfikir rasional dan kerangka berfikir tradisional. Metode berfikir rasional memiliki prinsip-prinsip berikut ini :

a. hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas di sebut dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi, yakni ayat yang gathi (tersayang tidak boleh disamakan dengan arti lain)

b. memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak

c. memberikan daya yang kuat kepada akal

Adapun metode berfikir tradisional memiliki prinsip-prinsip berikut ini :

a. Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti Zhanni (tersayang boleh mengandung arti lain).

b. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.

c. Memberikan daya yang kecil kepada akal.

Aliran yang sering di sebut-sebut memiliki cara berfikir teologi rasional adalah mu’tazilah dan adapun yang sering disebut-sebut memiliki metode berfikir tradisional adalah Asy’ariyah.

Disamping pengategorian teologi rasional dan tradisional dikenal pula pengkategorian akibat adanya perbedaan kerangka berfikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam.:

1. Aliran Antroposentris

Aliran antroposentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos dan impersonal. Ia berhubungan erat dengan masyarakat kosmos baik ang natural maupun yang supra natural dalam arti unsurt-unsurnya. Manusia adalah anak kosmos. Unsur supranatural dalam dirinya merupakan sumber kekuatannya. Tugas manusia adalah melepaskan unsure natural yang jahat. Dengan demikian, manusia harus mampu menghapus kepribadian kemanusiannya untuk meraih kemerdekaan dari lilitan naturalnya.

Manusia antroposentris sangat dinamis karena menganggap hakekat realitas transenden yang bersifat intrakosmos dan inpersonal dating kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir. Daya ini berupa potensi yang menjadikannya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Manusia yang memilih kebaikan akan memperileh keuntungan melimpah (surge), sedangkan manusia yang memilih kejahatan, ia akan memperoleh kerugian melimpah pula (neraka). Dengan dayanya, manusia mempunyai kebebasan mutlak tanpa campur tangan realitas transenden. Aliran teologi yang termasuk dalam katagori ini adalah Qadariyah, Mu’tazilah dan Syi’ah.

2. Teolog Teosentris

Aliran teosentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat Suprakosmos, personal dan ketuhanan,

Tuhan adalah pencipta segala sesuatu yang ada di kosmos ini dengan segala kekuasaan-Nya, mampu berbuat apa saja secara mutlak dan manusia adalah ciptaan-Nya sehingga harus berkarya hanya untuk-Nya.

Manusia teosentris adalah manusia statis karena sering terjebak dalam kepasrahan mutlak kepada tuhan. Bagianya, segala sesuatu/perbuatanya pada hakikatnya adalah aktiitas tuhan. Ia tidak mempunyai ketetapan lain, kecuali apa yang telah ditetapkan Tuhan.

Aliran teosentris menganggap daya yang menjadi potensi perbuatan baik atau jahat bisa datang sewaktu-waktu dari Tuhan.

Aliran ini yang tegolong kategori Jabbariyah.

3. Aliran Konvergensi Sintesis

Aliran konvergensi menganggap hakikat Realitas transenden besifat supra sekaligus intrekosms, personal dan impersonal, lahut dan nashut, makhluk dan tuhan saying dan jahat, lenyao dan abadi, tampak dan abstrak dan sifat lain yang di kotomik.

Aliran konvergensi memandang bahwa pada dasarnya segala sesuatu itu selalu berada dalam abmbiu (serba ganda) baik secara subtansial maupun formal.

Aliran ini juga berkeyakinan bahwa daya manusia merupakan proses kerja sama antara daya yang transedental (Tuhan) dalam bentuk kebijasanaan dan daya temporal (manusia) dalam bentuk teknis.

Kebahagian bagi para penganut aliran konvergensi, terletak pada kemampuanya membuat pendalam agar selalu berada tidak jauh kekanan atau kekiri tetapi tetap ditengah-tengah antara berbagai ekstrimitas aliran teolog yang dapat di masukkan ke dalam kategori ini adalah Asy’ariyah.

4. Aliran Nihilis

Aliran Nihilis menganggap bahwa hakekat realitas transcendental hanyalah ilusi. Aliran ini pun menolak tuhan yang mutlak, tetapi menerima berbagai variasi tuhan kosmos.

Kekuatan terletak pada kecerdikan diri sendiri manusia sendiri sehingga mampu melakukan yang terbaik dari tawaran yang tebutuk. Idealnya manusia mempunyai kebahagian besifat fisik yang merupakan titik sentral perjuangan seluruh manusia.

1. Kritik terhadap pemikiran Kalam Klasik

1). Permasalahan teologis yang diformulasikan oleh para mutakallimin itu terbatas pada disekitar ketuhanan dan segala atributnya, kenabian, akal vs wahyu, kepemimpinan, baik dan buruk , semuanya dilihat dari perpektif langit, sehingga dikatakan oleh Hasan Hanafi tak pernah menyentuh problem riel (sosial) hidup manusia di bumi ini.

2). Telaah pemikirannya berputar-putar sekitar, epistemologi melompat ke ontologi, deskripsi tentang esensi (Subyek), atribut-atribut subyek, bagaimana proses terciptanya tindakan-tindakan.

3). Akibatnya seperti ketika mu’tazilah membicarakan keadilan, maka keadilan yang diperdebatkan itu ya keadilan Tuhan, bukan bagaimana manusia menegakkan keadilan dalam hidupnya untuk melawan penindasan. Demikian pula ketika bicara tentang otoritas akal dan wahyu, ia selalu diperhadapkan seakan tak bisa disandingkan, pada hal sebenarnya keduanya saling melengkapi.

4). Demikian pula ketika bicara baik dan buruk, janji dan ancaman Tuhan selalu berputar disekitar dunia logika yang semata melahirkan perdebatan yang melelahkan, padahal menurut Nur Khalik Ridwan karena kontruksi teologi Islam itu berbasis pada berbuat kebajikan, demikian pula fitrah manusia, maka mestinya memperhadapkan antara manusia baik dengan manusia buruk (jahat) diwilayah kehidupan sosial

5). Hasan Hanafi mengatakan mengapa diskursus tentang manusia hilang dari tradisi (intelektual) klasik kita? Karena tradisi klasik ini telah mengeksploitasi manusia dengan

ratusan bungkus dan tirai eksternal yang menutupi isi dan hati manusia

D. Karya Karya dan Perkembangan Ilmu Kalam

Dalam dokumen PERBANDINGAN PEMIKIRAN ISLAM (Halaman 97-102)