PeMIKIran KeIsLaMan PerIODe naBI saW &
A. Karakteristik Pemikiran Masa Nabi SAW
4. Garis Perundang-undangan dalam periode Rasul
Sistem yang ditempuh oleh Rasul dalam mengembalikan persoalan kepada sumber tasyri’ adalah bila datang kebutuhan kepada hukum, beliau menanti wahyu Allah yang berupa satu atau beberapa yang mengandung hukum dari persoalan yang ditanyakan, apabila tidak ada wahyu, maka beliau akan berijtihad dengan mengambil petunjuk ayat-ayat hukum yang telah ada, atau berdasarkan kemaslahatan serta bermusyawarah dengan para sahabat.
5. Prinsip-prinsip umum pada periode takwin : a. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum
b. Hikmahnya: agar secara bertahap mudah mengetahui isi undang-undang, materi demi materi dan mudah memahami hukum-hukumnya secara sempurna dengan berpijak kepada peristiwa dan situasi yang memerlukan penetapan hukum.
c. Mensedikitkan pembuatan undang-undang
d. Hukum-hukum disyariatkan sekedar memenuhi kebutuhan hukum yang diperlukan
e. Memberikan kemudahan dan keringanan
f. Berjalannya undang-undang sesuai dengan kemaslahatan manusia.
Perundang-undangan yang ditinggalkan Periode Rasul adalah wahyu Ilahi yang berwujud ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an dan ijtihad Rasul yang berwujud hadits-hadits hukum.
Keduanya merupakan undang-undang asasi bagi kaum muslim, dasar bagi perundang-undangan Islam, dan tempat kembali bagi tiap-tiap mujtahid muslim di masa mendatang.
Namun demikian sebagian sahabat pernah melakukan ijtihad dan memutuskan sebagian persengketaan dan mengambil suatu hukum. Rasulullah SAW mengizinkan para sahabat memutuskan perkara sesuai dengan ketetapan Allah, Sunnah Rasul, ijtihad atau
qiyas. Ini dibuktikan dengan hadis Mu’âdz bin Jabal tatkala beliau diangkat menjadi gubenur dan hakim di Yaman:
َفْيَك َلاَقَف ِنَمَيْلا َلِإ ُهَثَعَب َيِح َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللها ىَّل َص َِّللها َلوُسَر َّنَأ َْلم ْنِإَف َلاَق َِّللها ِباَتِك ِف اَِبم ي ِضْقَأ َلاَق ٌءا َضَق َكَل َضَرَع ْنِإ ُعَن ْصَت َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللها ىَّل َص َِّللها ِلوُسَر ِةَّنُسِبَف َلاَق َِّللها ِباَتِك ِف ْنُكَي ُدِهَتْجَأ َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللها ىَّل َص َِّللها ِلوُسَر ِةَّنُس ِف ْنُكَي َْلم ْنِإَف يِرْد َص َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللها ىَّل َص َِّللها ُلوُسَر َبَر َضَف َلاَق وُلآ َلا يِيْأَر ِهْيَلَع َُّللها ىَّل َص َِّللها ِلوُسَر َلوُسَر َقَّفَو يِذَّلا َِِّلله ُدْمَْلا َلاَق َّمُث .َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللها ىَّل َص َِّللها َلوُسَر ي ِضْرُي اَِل َمَّلَسَو
Sesungguhnya Rasulullah SAW pada saat mengutusnya (Mu’âdz bin Jabal) ke Yaman, Rasul berkata padanya: “Bagaimana kamu melakukan ketika kamu hendak memutus perkara?” Mu’âdz pun menjawab: “Aku memutus dengan apa yang terdapat di dalam kitab Allah”. Lalu Rasul bertanya: “Kalau tidak terdapat di dalam kitab Allah?” Mu’âdz menjawab: “Maka dengan memakai sunnah Rasulullah SAW”. Lalu Rasul bertanya: “Seumpama tidak ada di sunnah Rasulullah?” Mu’âdz menjawab: “Aku berijtihad sesuai dengan pemikiranku bukan dengan nafsuku”. Lalu Rasulullah SAW menepuk dada Mu’âdz, dan Rasul bersabda “Segala puji bagi Allah yang telah mencocokkan kerasulan Rasullullah pada apa yang diridai Allah terhadap Rasulullah”
Peradaban pada masa Nabi Saw dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh beliau di bawah bimbingan wahyu.
Kemudian Nabi Saw mengupayakan dasar-dasar membangunan peradaban bangsa Arab sebagai berikut.
Pertama: Mendirikan masjid, yakni masjid Quba (sebagai masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Agama Islam), yang berlokasi dipinggiran kota Madinah. Fungsi pembangunan
masjid ini antaralain; Shalat (kewajiban asasi seorang muslim), belajar agama, pengadilan atas perkara-perkara yang terjadi saat itu, pertemuan-pertemuan penting (musyawarah), dakwah, penyusunan administrasi pemerintahan, dan lain sebagainya.
Jadi pembangunan masjid itu memiliki multi fungsi, untuk mengembangkan kehidupan spiritual yang kuat dan disisi lain untuk membentuk integrasi sosial.
Kedua: Mempersatukan antara Anshor dan Muhajirin.
Manfaat persaudaraan kedua golongan itu nantinya adalah ; kaum Anshor dengan senang hati membantu kaum Muhajirin jika membutuhkan baik materiil bahkan isteri-isteri, kaum Anshor bahkan meluangkan waktu hanya sekedar menunjukkan pasar-pasar yang bisa digunakan untuk transaksi perdagangan. Lebih dari itu, bahwa upaya mempersaudarakan antara kedua golongan ini sebenarnya Nabi Saw telah menciptakan suatu persatuan yang berlandaskan agama sebagai pengganti persaudaraan yang berdasar kesukuan seperti yang banyak dianut sebelum kedatangan Nabi Saw.
Ketiga : Kerjasama antar komponen penduduk madinah (muslim dan non muslim). Dimana dimana saat itu non muslim yang tinggal di Madinah terdiri dari Nasrani dan Yahudi (Banu Nadzir dan Banu Quraidzah).
Untuk menjaga keutuhan perdamaian antar komponen Nabi Saw memprakarsai pembentukan Piagam Madinah. “Piagam Madinah” atau juga dikenal “Perjanjian Madinah” atau “Dustar al-Madinah” juga“Sahifah al-Madinah” dapat dikaitkan dengan Perlembagaan Madinah karena kandungannya membentuk peraturan-peraturan yang berasaskan Syariat Islam bagi membentuk sebuah negara (Daulah Islamiyah) yang menempatkan penduduk berbagai suku, ras dan agama (yang tinggal di Madinah/Yatsrib kala itu adalah kaum Arab Muhajirin Makkah, Arab Madinah, dan masyarakat Yahudi yang hidup di Madinah).
Kehadiran “Piagam Madinah” nyaris 6 abad mendahului Magna
Charta, dan hampir 12 abad mendahului Konstitusi Amerika Serikat ataupun Prancis.
Kandungan “Piagam Madinah” terdiri dari 47 pasal, 23 pasal membicarakan tentang hubungan antara umat Islam yaitu; antara Kaum Anshat dan Kaum Muhajirin. 24 pasal lain membicarakan tentang hubungan umat Islam dengan umat lain, termasuk Yahudi. Adapun pokok-pokok ketentuan Piagam Madinah antara lain :
1. Seluruh masyarakat yang menandatangi harus bersatu padu di bawah paying perdamaian.
2. Jika salah satu kelompok yang turut menandatangi piagam tersebut diserang, maka kelompok yang lain harus membelanya
3. Tidak boleh pada suatu kelompokpun yang menggalang kerjasama dengan kafi Quraisy atau membantu mereka melakukan perlawanan terhadap msyarakat Madinah.
4. Orang Islam, Nasrani dan Yahudi serta seluruh masyarakat Madinah yang lain bebas memeluk agama dan keyakinan masing-masing dan mereka dijamin kebebasannya dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing.
5. Urusan pribadi atau perseorangan, atau perkara-perkara kecil kelompok non muslim tidak harus melibatkan pihak-pihak lain secara keeluruhan.
6. Setiap bentuk penindasan dilarang
7. Mulai hari ini segala bentuk pertumpahan darah, pembunuhan dan penganiayaan diharamkan diseluruh negeri Madinah.
8. Muhammad Saw menjadi kepala perintahan Madinah dan memegang kekuasaan peradilan yang tinggi.42
Keempat: Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan social untuk masyarakat baru, antara lain:
42Ali Mufradi, Islam di Kawasan Arab, (Jakarta: Logos, 1997), h. 46
1. Beliau berusaha menetapkan dan menegakkan hukum-hukum privat seperti hukum-hukum keluarga, baru kemudian masalah-masalah publik seperti interaksi sosial.
2. Dalam masalah sosia-politik, Nabi Saw membangun dasar-dasar sistem musyawarah.
3. Dalam sistem ekonomi, munculnya sistem baru dalam perdagangan yakni sistem dagang non ribawi yang melarang adanya eksploitasi, monopoli dan rentenir.
4. Dalam bidang kemasyarakatan dibuatlah dasar-dasar sistem social seperti al ukhuwah (persaudaraan), al musawah (persamaan), at tasamuh (toleransi), al musyawarah (perundingan), dan al mu’awanah (kerjasama).43
Pemikiran hukum Islam di masa Nabi belum menampakkan corak pemahaman yang diakibatkan oleh perbedaan penafsiran, karena posisi Nabi selain sebagai bayan (pemberi penjelasan) juga sebagai penetap hukum atau masalah yang muncul. Sehingga kesimpulan hukum yang dihasilkan kurang bahkan tidak reaksi dalam masyarakat. Pada zaman Nabi, hukum-hukum atau penetapan-penettapan hukum itu masih belum mendapatkan bentuk tertentu. Hukum Islam pada waktu itu masih merupakan sesuatu yang lahir dari ucapan-ucapan Nabi yang nampak pada tindakan-tindakan Nabi. Beliaulah dan hanya dari beliau sendiri, baik yang berupa wahyu maupun yang berupa musyawarah dengan para sahabt-sahabat, dan dapat dianggap sah sesuatu penetapan hukum.44
B. Variasi Dan Dinamika Pemikiran Keislaman Pada Masa