B. Kerangka Teori
1. Equivalent Rate Tabungan Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
Mudharabah berasal dari kata dharaba yang berarti memukul atau berjalan. Antonio (2001:95) memberikan definisi, mudharabah
adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah
dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami.
Tabungan Mudharabah adalah tabungan atau simpanan pemilik dana yang penyetorannya dan penarikannya dapat dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Pada simpanan mudharabah tidak diberikan bunga sebagai bentuk laba bagi bank syariah tetapi diberikan bagi hasil. Variasi jenis simpanan yang berakad mudharabah dapat dikembangkan kedalam berbagai variasi simpanan, seperti Tabungan Haji, Tabungan Pendidikan,
Tabungan Pelajar, Tabungan Kesehatan, dan lain-lain (Muhammad 2002).
Tabungan Mudharabah menurut Adiwarman Karim (2004: 273-275) adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad
mudharabah. Bank bertindak sebagai mudharib (pengelola dana) sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Bank sebagai mudharib memiliki kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain. Bank syariah juga memiliki sifat sebagai seorang wali amanah (trustee), yang berarti bank harus berhati-hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung jawab atas segala yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya.
Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh Islam, karena dengan menabung berarti seorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan perencanaan masa yang akan datang sekaligus untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat- ayat yang secara tidak langsung telah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan hari esok secara lebih baik, seperti dalam Q.S An-Nisa ayat 9 dan Q.S Al- Baqarah ayat 266 yang menyatakan bahwa “Allah memerintahkan manusia untuk mengantisipasi dan mempersiapkan masa depan
Menabung adalah salah satu langkah dari persiapan tersebut (Antonio, 2009; 205 -206).
Bagi hasil yang dikenal sebagai “profit sharing” dalam
kamus ekonomi diartikan sebagai laba. Secara definitif profit sharing
adalah distribusi beberapa bagian dari laba pada para pegawai dari suatu perusahaan. Lebih lanjut dikatakan bahwa hal itu dapat berbentuk suatu bentuk uang tunai tahunan yang didasarkan pada laba yang diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya, atau dapat berbentuk pembayaran mingguan atau bulanan (Muhammad, 2006: 39).
Pendapatan bagi hasil berlaku untuk produk-produk penyertaan, baik menyeluruh maupun sebagian, atau bentuk bisnis korporasi (kerjasama). Pihak terlibat dalam kepentingan bisnis harus melakukan transparansi dan kemitraan secara baik dan ideal. Karena, semua pengeluaran dan pemasukan rutin yang berkaitan dengan bisnis penyertaan bukan untuk kepentingan pribadi yang menjalankan proyek. Keuntungan yang dibagi hasilkan harus dibagi secara proporsional antara shohibul mall dengan mudharib. Mudharabah bukan untuk kepentingan pribadi/ mudharib akan tetapi dapat dimasukkan ke dalam biaya operasional. Keuntungan bersih harus dibagi antara shohibul mall dan mudharib sesuai dengan proporsi yang disepakati sebelumnya dan secara eksplisit disebutkan dalam perjanjian awal. Tidak ada pembagian laba sampai semua
kerugian telah ditutup dan ekuitas shohibul mall telah dibayar kembali. Jika ada pembagian keuntungan sebelum habis masa perjanjian akan dianggap sebagai pembagian keuntungan di muka (Muhamad, 2001: 18-19).
Dengan mengacu kepada petunjuk Al-Qur’an, QS. Al- Baqarah (2): 275 dan surat An-Nisa (4): 29 yang intinya: Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba serta suruhan untuk menempuh jalan perniagaan dengan suka sama suka, maka setiap transaksi kelembagaan ekonomi islami harus selalu dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uang dengan barang atau jasa (Wirdyaningsih, 2005: 16).
Sistem bagi hasil pada bank syariah sangatlah menguntungkan bagi nasabah atau masyarakat, dimana sistem bunga pada bank konvensional dianggap berat bagi kalangan masyarakat karena tingakat suku bunga yang ditetapkan terkadang tidak sesuai dengan perhitungan masyarakat pada umumnya. Dengan adanya sistem bagi hasil, masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan, karena berjalan sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak pada awal proses peminjaman. Disaat tingkat bagi hasil yang diterima oleh para deposan bank syariah kurang lebih setara atau lebih baik daripada tingkat bunga yang ditawarkan oleh bank
konvensional, maka bank syariah akan menjadi prioritas utama (Arifin, 1999:28).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memperhitungkan bagi hasil tabungan mudharabah adalah:
a) Hasil diperhitungkan bagi hasil dalam angka satuan bulat tanpa mengurangi hak nasabah (pembulatan ke atas untuk nasabah, pembulatan ke bawah untuk bank).
b) Hasil perhitungan pajak dibulatkan ke atas sampai puluhan terdekat.
Bank syariah menggunakan metode end of month dalam pembayaran bagi hasil, yaitu:
a) Pembayaran bagi hasil tabungan mudharabah dilakukan secara bulanan, yaitu pada tanggal tutup buku setiap bulan.
b) Bagi hasil bulan pertama dihitung secara proporsional hari efektif termasuk tanggal tutup buku, tapi tidak termasuk tanggal pembukaan tabungan.
c) Bagi hasil bulan terakhir dihitung secara proporsional hari efektif. Tingkat bagi hasil yang dibayarkan adalah tingkat bagi hasil tutup buku bulan terakhir.
d) Jumlah hari sebulan adalah jumlah hari kalender bulan yang bersangkutan.
e) Bagi hasil bulanan yang diterima nasabah dapat diafiliasikan ke rekening lainnya sesuai permintaan nasabah.
ii. Equivalent Rate
Equivalent rate merupakan indikasi tingkat imbalan dari suatu penanaman dana atau penghimpunan dana yang dilakukan bank. Equivalent rate juga berarti tingkat pengembalian atas investasi yang telah ditanamkan. Equivalent rate ini perannya sama dengan bunga pada bank konvensional, yaitu memberikan gambaran seberapa besar tingkat pengembalian atas investasi yang ditanam. Bedanya, bunga langsung diperjanjikan diawal kontrak sebelum investasi berjalan. Sedangkan equivalent rate dihitung oleh pihak bank setiap akhir bulan setelah investasi yang dijalankan memberikan hasil. Nasabah dapat melihat berapa equivalent rate
bank bulan yang lalu untuk memberikan perkiraan berapa equivalent rate bank pada bulan berjalan (Machmud 2010: 36).
Keharaman bunga dalam syariah membawa konsekuensi adanya penghapusan bunga secara mutlak. Teori PLS atau profit and loss sharing dibangun sebagai tawaran baru di luar sistem bunga yang cenderung tidak mencerminkan keadilan karena memberikan diskriminasi terhadap pembagian resiko maupun untung bagi para pelaku ekonomi. Profit-loss sharing berarti keuntungan dan atau kerugian yang mungkin timbul dari kegiatan ekonomi/bisnis ditanggung bersamasama. Dalam atribut nisbah bagi hasil tidak terdapat suatu fixed and certain return sebagaimana
bunga, tetapi dilakukan profit and loss sharing berdasarkan produktivitas nyata dari produk tersebut (Yahya, 2011).
Terdapat perbedaan bagi hasil dengan equivalent rate. Jadi misalnya jika suatu bank menyatakan bahwa bagi hasil bulan kemarin setara dengan 12% tetap saja tidak dapat menentukan berapa besaran bagi hasil pada bulan yang akan datang. Jika nisbah bagi hasil misalnya 70:30 hasil dari bagi hasil di masa datang kemungkinan bisa kurang atau bisa lebih dari 12%, semuanya tergantung dari pendapatan bank. Hal seperti ini merupakan praktik yang umum di bank syariah di Indonesia. Penyebutan equivalent rate
hanya untuk mempermudah nasabah dalam memperkirakan bagi hasil saja, dan bukan bagi hasilnya. Jika equivalent rate sama dengan bagi hasil di masa yang akan datang berarti bagi hasil tersebut sudah dipastikan di awal, hal tersebut berarti riba (Ilmiah, 2013: 4).
Equivalent rate dapat di rumuskan dibawah ini beserta contoh soalnya (http://dokumen.tips):
Equivalent Rate = Pendapatan nasabah x 365 x 100% Saldo Rata-rata x 30
Namun sebelum perhitungan equivalent rate dilakukan, maka sebelumnya dilakukan perhitungan mengenai proporsi tabungan
Rumus Proporsi Tabungan Mudharabah yaitu: Saldo Rata2 Sumber Dana x Pendapatan Bagi Hasil Jumlah Keseluruhan Saldo
Contoh soal:
Saldo rata-rata sumber dana tabungan mudharabah pada bank BTN Syariah sebesar Rp. 30.000.000. Nisbah bagi hasil nasabah dan bank adalah 55:45 jika keuntungan yang diperoleh bank sebesar Rp.1.000.000 dan jumlah saldo rata-rata sumber dana sebesar Rp. 200.000.000. Maka tentukan equivalent ratenya!
Jawab:
Proporsi Tabungan = Saldo rata2 sumber dana x bagi hasil Jumlah keseluruhan saldo
= Rp. 30.000.000 x Rp. 1.000.000 Rp. 200.000.000
= Rp. 150.000
Pendapatan Nasabah = Proporsi Tabungan x nisbah bagi hasil nasabah = Rp. 150.000 x 55%
= Rp. 82.500
Equivalent rate = Pendapatan nasabah x 365 x 100% Saldo Rata-rata x 30
Equivalent rate = Rp. 82.500 x 365 x 100% = Rp. 30.000.000 x 30 = 3,35%
Jadi dapat dilihat bahwa penentuan equivalent rate adalah setelah bagi hasil dari usaha pada bulan tersebut didapat untuk kemudian
dihitung. Bukan diperjanjikan dari awal seperti yang dilakukan bank konvensional yang biasa dikenal dengan bunga. Walaupun equivalent rate tidak dapat dijadikan patokan dalam menentukan equivalent rate
yang akan datang namun, setidaknya equivalent rate dapat memberikan gambaran pada nasabah tentang kinerja bank dalam mendapatkan keuntungan pada setiap investasinya. Nasabah juga dapat menaksir dan memperkirakan berapa besaran equivalent rate yang akan datang dengan melihat equivalent rate yang lalu. Karena biasanya dalam kondisi ekonomi yang stabil, pergerakan equivalent rate dari bulan ke bulan yang akan datang hanya berkisar pada nol, sampai 1% saja. Hal ini dikarenakan pada kondisi ekonomi yang stabil, prediksi-prediksi perekonomian dapat ditentukan dengan akurat. Dalam artian tidak ada hal-hal yang dapat menganggu kelancaran perputaran sendi perekonomian. Sehingga apabila suatu usaha berjalan pada suatu kondisi perekonomian yang stabil, maka hasil usaha tersebut akan stabil, tidak terjadi fluktuasi yang ekstrim (Susanti, 2015: 115)
Jadi dapat dilihat bahwa penentuan equivalent rate adalah setelah hasil dari usaha pada bulan tersebut didapatkan untuk kemudian dihitung. Bukan diperjanjikan dari awal seperti yang dilakukan bank konvensional yang biasa dikenal bunga. Walaupun equivalent rate tidak dapat dijadikan patokan dalam menentukan equivalent rate yang akan datang, namun setidaknya equivalent rate dapat memberikan gambaran pada nasabah tentang kinerja bank dalam mendapatkan keuntungan
pada setiap investasinya. Nasabah juga dapat menaksir dan memperkirakan berapa besaran equivalent rate yang akan datang dengan melihat equivalent rate yang lalu (Ilmiah 2013: 6).
Membahas masalah equivalent rate bagi hasil yang mampu ditawarkan oleh bank syariah, selama ini memang sudah mampu bersaing atau menyetarakan diri dengan suku bunga yang telah ditetapkan BI. Equivalent rate merupakan besarnya penyetaraan tarif dalam hal ini jumlah bagi hasil terhadap tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh BI sebagai patokan dalam memberikan keuntungan kepada nasabah khususnya nasabah yang menyimpan dananya dalam bentuk deposito berjangka (www.bi.go.id). Namun jika di lihat dari berbagai sisi faktor-faktor yang mempengaruhi bagi hasil di perbankan syariah sangatlah banyak diantaranya ada faktor langsung yang terdiri atas investement rate, jumlah dana yang tersedia dan nisbah bagi hasil (Muhammad, 2005:110-111)
Pada jenis simpanan mudharabah inilah yang terdapat bentuk imbalannya berupa bagi hasil tabungan atau bisa disetarakan dengan prosentase equivalent rate dari tabungan tersebut. Variasi jenis simpanan yang berakad mudharabah dapat dikembangkan kedalam berbagai variasi simpanan, seperti Tabungan Haji, Qurban Tabungan Pendidikan, Tabungan Pelajar, Tabungan Kesehatan, dan lain-lain (Muhamad, 2002: 6).
Bank syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Bank syariah menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Selain itu, bank syariah tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah penabung tanpa persetujuan yang bersangkutan. Bank syariah tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang terjadi yang bukan kelalaiannya. Namun apabila terjadi miss management, bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian yang terjadi (Muhamad, 2002: 7).
Sistem bagi hasil pada bank syariah sangatlah menguntungkan bagi nasabah atau masyarakat, dimana sistem bunga pada bank konvensional dianggap berat bagi kalangan masyarakat karena tingakat suku bunga yang ditetapkan terkadang tidak sesuai dengan perhitungan masyarakat pada umumnya. Dengan adanya sistem bagi hasil, masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan, karena berjalan sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak pada awal proses peminjaman. Disaat tingkat bagi hasil yang diterima oleh para deposan bank syariah kurang lebih setara atau lebih baik daripada tingkat bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional, maka bank syariah akan menjadi prioritas utama (Arifin, 1999:28).
Dalam hal ini bank syariah menggunakan instrument nisbah bagi hasil yang dalam bentuk lainnya dinyatakan dengan istilah equivalent
rate dalam menarik nasabah untuk menyimpan dananya di bank syariah. Instrument equivalent rate di bank syariah tentunya berbeda dengan bunga di bank konvensional yang bersaing dengan sangat kompetitif dalam menetapkan suku bunga simpanan yang sangat menarik dalam menggaet calon nasabah dan pembagian keuntungannya ditentukan diawal yaitu dengan menghitung jumlah beban bunga dari dana yang disimpan atau dipinjam dan sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga (Kasmir 2005: 27).
Sedangkan nisbah bagi hasil dan equivalent rate ketentuan keuntungan ditentukan besar kecilnya hasil suatu usaha. pembagian porsi keuntungan dihitung sesuai nisbah bagi hasil didasarkan jumlah keuntungan yang diperoleh. Semakin besar tingkat keuntungan yang diperoleh semakin besar jumlah pembagian laba yang dibagikan kepada nasabah (Kasmir 2005: 28).