Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Panitia yang telah mengundang saya dan memberi kesempatan untuk ikut menyampaikan sedikit pemikiran di dalam acara yang penting ini. Sudah begitu banyak pembicara sebelum saya sebetulnya, sehingga apa yang dapat saya sampaikan mungin saja tidak diperlukan lagi. Bagaimanapun saya mencoba memberikan sedikit pemikiran.
Buku SIAUW GIOK TJHAN yang ditulis oleh Siauw Tiong Djin menunjukkan, sedikitnya di dalam interpretasi sederhana saya, bahwa salah satu yang hendak diperjuangkan oleh SIAUW GIOK TJHAN pada masanya dan masih relevan hingga sekarang, adalah kemungkinan untuk orang-orang Tionghoa menjadi Indonesia tanpa menghilangkan dengan paksa keTionghoaannya.
Dengan demikian, kalau saya boleh menyederhanakan sebagian perjuangan SIAUW GIOK TJHAN ke dalam sepotong kalimat, khususnya yang menyangkut persoalan integrasi, maka saya melihatnya sebagai dua hal yang menyatu dalam sebuah pertanyaan:
Bagaimanakah ethnic belonging menyatu dengan nationhood?
Kepada saya diminta untuk membahas mengenai masalah hak eksistensial. Sebuah sebutan yang memang mungkin harus dicarikan definisinya kecuali bahwa itu berhubungan dengan hak yang tidak bisa diganggu gugat menyangkut keberadaan seseorang di dalam sebuah dunia bersama. Maka saya memilih judul di atas, yang saya simpulkan dari interpretasi saya dalam membaca sedikit pemikiran SIAUW GIOK TJHAN, untuk memperoleh penggabungan antara keberasalan seseorang dan keberadaan seseorang di dalam sebuah dunia bersama. Sebuah pertalian antara keberadaan yang eksistensial dan yang politis.
Keberadaan eksistensial adalah yang tidak bisa dipilihnya dengan bebas sejak awal. Orang tidak bisa memilih masuk ke dalam suku, etnik, asal-usul bangsa mana, ketika ia lahir ke dunia. Bukankah persoalan lahir ke dunia bukan soal pilihan diri orang yang dilahirkan? Ia dilempar begitu saja tanpa ia kehendaki dan tiba-tiba berada dalam sebuah dunia berama yang sudah mempunyai tradisi, aturan, kebiasaan adat istiadat? Sebelum sempat menyadari, seorang manusia sudah menjadi bagian dari sebuah realitas.
Sementara yang kedua, adalah sebuah pilihan.
Untuk itu izinkan saya pertama-tama kembali dulu ke sebuah cerita yang pernah saya sampaikan dalam peluncuran buku SIAUW GIOK TJHAN di Perpustakaan Nasional beberapa bulan yang lalu, tentang makna menjadi Indonesia yang berangkat dari kepala sederhana seorang anak baru gede. Dalam sebuah diskusi buku sejarah anak saya, 13 tahun waktu itu, ditanya oleh moderator, apa sedikitnya sumbangan Belanda selama 350 tahun menjajah Indonesia? Ia diam sebentar, dan menjawab, “Adanya Indonesia.”
Tampak di dalam pengertian sederhananya bahwa Indonesia bukanlah satu bangsa yang hadir berdasarkan penyatuan akibat adanya etnik Indonesia atau akibat adanya kisah
tentang darah tribal. Indonesia adalah sebuah kesatuan yang hadir karena kehendak luar biasa, atau adanya komitmen, untuk bersama. Kehendak yang lahir dari pengalaman kesejarahan di atas penderitaan yang serupa akibat penindasan penjajah.
Dalam pengertian Indonesia ada berbagai suku bangsa dengan berbagai asal usul daerah dan asal usul darah, yang berjuang bersama-sama dalam kesatuan gagasan dan upaya untuk memerdekaan wilayah-wilayahnya secara bersamaan dan menyatukannya ke dalam “Indonesia” (yang menurut Pramoedya salah kaprah dalam penamaan).
Di dalam kata Indonesia terserap orang-orang yang tidak saling berhubungan secara asal usul tetapi yang diharapkan dapat bergerak bersama, atau bertransformasi, menuju ke sebuah cara bersikap dan berfikir atas dasar kesadaran nasionalisme keberwarganegaraan dan bukan nasionalisme darah. Di sinilah disadari bahwa kewarganegaraan, adalah sebuah pilihan bebas, bukan sebuah refleks atau upaya kembali ke asal-usul.
Yang kedua, ethnic belonging, untuk saya ini berhubungan dengan rumah budaya. Rumah
Budaya, demikian saya ingin menyebutnya, adalah sebuah ruang kultural yang membawa di dalamnya selama beratus-ratus tahun berbagai kebiasaan di dalam kelompok. Kebiasaan itu mulai dari tata cara pemberian nama--nama pribadi, nama keluarga atau nama kelompok, untuk menjadi simbol pertama penggunaan bahasa yang akan membawanya menemukan dan menghadapi dunia, sampai ke pandangan-pandangan hidup, kesenian, gagasan filosofis, serta keyakinan-keyakinan.
Di dalam rumah budaya, orang merupakan hasil sejarah serta asal usul sekaligus pewaris berbagai kondisi dalam hubungannya dengan kelompok dan wilayah tempat ia dilahirkan. Di dalam rumah budaya tumbuh makna kultural bersama-sama dengan makna eksistensial seseorang yang melekat bersamanya seketika ia lahir ke dunia dengan membawa bersamanya, pertama-tama, keserupaan biologis dari masa lampau yang tak dapat dieliminasi dari dirinya.
Ketiadaan rumah budaya menjadikan orang tidak memiliki tempat berlindung. Ketika seseorang atau sekelompok orang, dengan alasan peleburan budaya, harus meninggalkan rumah budayanya dengan paksa, tetapi yang kemudian dalam kenyataannya tidak pernah diberi kesempatan dengan cara yang jujur untuk menumbuhkan akar-akar barunya, maka dengan mudah ia akan dijadikan korban. Proses ini biasanya diikuti dengan pembatasan fungsi dan peran di dalam ruang-ruang publik sehingga tidak lagi mempunyai apa-apa kecuali keahlian profesi.
Orang yang tidak mempunyai rumah budaya dapat dengan segera diidentifikasikan sebagai pendatang, ‘yang lain’; dan pendatang mempunyai status inferior. Pencerabutan rumah budaya dari komunitas tertentu dengan alasan apapun merupakan salah satu bentuk kekerasan budaya. Sering sekali hal ini dilakukan dengan alasan untuk menyelesaikan konflik yang muncul akibat perbedaan; baik itu perbedaan etnik, suku, ras, ataupun budaya.
Memang menjadi sangat mudah dan sederhana ketika pertentangan hendak diatasi dengan cara mengawinkan dua pihak yang berkonflik, sehingga identitas salah satu di antaranya melebur ke dalam identitas yang lawan. Tetapi cara ini merupakan pengingkaran
terhadap keberagaman yang secara hakiki menjadi ciri kehidupan itu sendiri, baik dalam pengertian alamiah maupun kultural.
Dengan ini saya hendak meninjau pelandasan untuk menolak berbagai upaya penyelesaian konflik yang mengacu ke proses peleburan.
Politik peleburan dilandasi oleh epistemologi kesamaan yang hendak mengembalikan segala sesuatu ke asal usul yang satu. Semua yang berbeda dilihat sebagai yang lain yang harus dihancurkan atau dikembalikan ke asal yang satu itu. Epistemologi seperti ini menolak perbedaan.
Di dalam praksis epistemologi ini melihat yang berbeda sebagai yang lain, dan memilih sebuah pendasaran ideologis untuk menciptakan konflik. Untuk orang-orang Tionghoa pendasaran ideologis itu mengacu ke kesenjangan ekonomi dan perbedaan agama; keduanya menyangkut hal minoritas. Maka di dalam upaya mengatasi konflik, diajukanlah peleburan yang kemudian dipahami sebagai pengidentifikasian diri dengan yang mayoritas. Inilah gagasan yang menghendaki pengembalian ke yang satu. “Saya tidak dapat mentolerir yang lain. Yang lain harus sama dengan saya.”
Jika ditinjau lebih lanjut, epistemologi yang menghendaki ‘menjadi sama’ ini sebetulnya adalah jawaban untuk ketidakmampuan berkomunikasi. Komunikasi mengandaikan adanya hubungan sekaligus perbedaan. Itu sebabnya ketika menjadi sama tidak dapat tercapai, yang bisa terjadi adalah konflik yang berujung kekerasan. Bukankah kekerasan adalah komunikasi bisu seperti katah Hannah Arendt?
Jika maksud dari politik peleburan adalah untuk menyelesaikan konflik yang muncul akibat perbedaan, dan dengan begitu mau mencapai atau mempertahankan persatuan dan kerukunan, maka sebetulnya di belakang upaya peleburan tersebut, baik dalam pengertian alamiah maupun kultural, tersembunyi logical fallacy, atau kekeliruan logis, mengenai
upaya penyelesaian konflik yang terpicu akibat adanya perbedaan.
Haruslah dipahami bahwa penerimaan adanya yang lain, yang berbeda, bukan karena
keharusan untuk persatuan atau rukun. Pertama-tama adalah kenyataan bahwa ada perbedaan dalam berbagai bentuk, etnik, agama, suku. Perbedaan ini harus diterima sebagai realitas kehidupan, dan dalamkonteks Indonesia, realitas ke-Indonesia-an. Jika keharusan untuk bersatu yang menjadi dasar penerimaan perbedaan atau keragaman, ini adalah dasar yang sangat rapuh dan rancu.
Di permukaan boleh jadi ada keberagaman dan ada kerukunan atau persatuan, tetapi dasarnya bukanlah pengakuan dan penghormatan terhadap kekhasan dan nilai-nilai yang berbeda.
Yang harus menjadi fokus utama ialah identitas. Dengan tetap menghormati identitas yang lain, seseorang atau sekelompok orang ditantang untuk mendengarkan kisah-kisah dan menjawab pesan yang tumbuh dan berkembang di dalam kelompok identitas berbeda. Demikian sebaliknya.
Maka perbedaan, keberadaan yang lain, merupakan tantangan untuk dijawab. Bukan
kenyataan yang harus dilebur. Mungkin tepat juga mengutip Emmanuel Levinas yang memaparkan keindahan hubungan dalam keragaman: “Hubungan tidak menetralisir yang
lain, tetapi memelihara yang lain. Yang lain sebagai yang berbeda bukan obyek yang menjadi milik saya atau menjadi saya, tetapi yang menarik diri saya ke dalam misterinya” Seperti dua jenis kelamin yang berbeda yang tidak dapat dilihat sebagai dualitas dari dua istilah yang saling melengkapi, begitu juga dengan perbedaan identitas. Saling melengkapi mengandaikan ada keseluruhan yang hadir sebelumnya. Maka perbedaan tidak juga bisa dipecahkan hanya dengan mengatakan bahwa yang lain dan saya akan saling melengkapi. Ini adalah solusi yang juga terlalu mudah karena yang lain akan diterima dengan perbedaannya tetapi sejauh menggunakan kategori-kategori saya. Maka ia melengkapi yang tiada dari saya.
Penerimaan keragaman memang menuntut keterbukaan sehingga hubungan dengan yang lain bukannya melenyapkan ataupun memasukkan yang lain menjadi bagiannya. Yang dituntut adalah hubungan dialogal setara. Dalam hubungan ini yang lain tidak lenyap, dan tidak bisa direduksi menjadi masalah perbedaan perspektif kultural semata-mata. Yang lain adalah kesadaran yang utuh yang berada di luar diri saya dan harus dihormati martabatnya.
Jelaslah bahwa penerimaan keragaman seperti ini memiliki landasan yang kokoh karena bukan didasari oleh kehendak memberi tempat kepada yang lain atas dasar belas kasihan, tenggang rasa, ataupun demi kerukunan kehidupan bersama, ataupun persatuan, tetapi atas dasar kesadaran akan hak dan atas dasar kesadaran eksistensial.
Apakah kita bisa menerima perbedaan? Dari pertanyaan ini kemudian kita bisa bertanya lagi, apakah penggalian kembali kemampuan menerima perbedaan itu lalu bisa menjadi perekat untuk menumbuhkan perasaan satu sebagai nation sebagaimana divisikan di dalam proses menjadikan Indonesia?
Dengan ini kita hendak mengembalikan kekeliruan berpikir yang saya sebutkan di atas, bahwa persatuan ataupun sebutan ‘demi kerukunan’ sudah dijadikan legitimasi untuk mengatasi keragaman, dan bukan sebaliknya: kedewasaan menerima perbedaan akan menciptakan persatuan. Dengan kesalahan berpikir seperti itu maka demi persatuan telah terjadi berbagai pembenaran terhadap berbagai tindakan represif yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan.
***
Melalui ini saya sebetulnya ingin mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Montesquieu: If I knew something that would be useful to myself, but detrimental to my family, I would cast it from my mind. If I knew something that was useful to my family but detrimental to my country I would consider it criminal. If I knew something useful to my country but detrimental to humankind, I would consider it a crime.
Nasion, keluarga, individu dikenali sebagai momen-momen konsolidasi yang niscaya tetapi tidak pernah cukup.
Maka pertama-tama seseorang itu adalah warga kehidupan; ia adalah bagian dari komunitas bernama kemanusiaan, baru kemudian ia adalah warga sebuah negara. Ciri kebermanusiaannya itulah yang pertama-tama harus diterima. Yang kedua adalah sebuah pilihan.
Persoalannya sekarang adalah bagaimana memenuhi Montesquieu tersebut, yaitu mengangkat keberagaman asal usul, yang individu dan keluarga tersebut, ke aras nasion dalam keseluruhan kerangka nilai-nilai kemanusiaan.
***
Inilah sedikit bagian pemahaman yang dapat saya ambil dari karya SIAUW TIONG DJIN yang menuliskan kembali pemikiran dan perjuangan SIAUW GIOK TJHAN. Seperti saya sampaikan dalam peluncuran buku ini, karya ini adalah upaya penulisan ulang sejarah yang lahir dari dalam sebuah ruang tersembunyi, sebuah hidden sphere—kata Vaclav Havel, eseis dan penulis drama yang menjadi Presiden Cekoslovakia. Yaitu sebuah private self yang berjuang untuk menangkap, memahami, dan mereaksi terhadap realitas yang
dihadapi dari waktu ke waktu. Ke dalam ruang tersembunyi itu mengalir kisah-kisah semangat, perjuangan, rasa sakit, dan penderitaan. Kisah-kisah itu menunggu dengan amat sabar dalam kebisuan, untuk kemudian tiba-tiba hidup dan lahir menjadi sebuah kajian biografis yang dalam salah satu bentuknya bersifat akademik. Namun saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai upaya perdamaian Siauw Tiong Djin dengan masa lalu. Mudah-mudahan juga untuk seluruh keluarga.
Saya berharap akan banyak lagi ruang-ruang tersembunyi seperti ini yang bermunculan dan menjadi benang-benang perajut ulang sejarah.
Saya menyampaikan penghargaan yang amat tinggi kepada penulis dan keluarganya untuk sebuah karya demi pemahaman tentang keragaman dalam ke-Indonesia-an.
* * * * *