• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam melihat peranan beliau dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, keadilan sosial dan kemakmuran, ada pandangan yang pertama-tama memberikan stempel Komunis pada beliau. Cara memandang yang agak 'umum' seperti itu adalah setali tiga uang dengan pandangan dan sikap serta kultur Orba. Tidaklah keliru untuk menyatakan bahwa sikap dan pendirian seperti itu, sama dengan pendirian, sikap dan tindak-tanduk para pengikut 'Mc Carthy-isme' pada periode berkecamuknya pengejaran terhadap kaum komunis di Amerika Serikat, pada awal 'perang dingin', kurang lebih 50 tahun yang lalu.

Teringat saya belasan tahun yang lalu, saat saya bertemu kembali dengan Bung Siauw, ketika beliau terpaksa hijrah ke Belanda, sesudah mengalami pembuian belasan tahun dalam penjara rezim Suharto. Antara lain beliau menuturkan pengalaman beliau, yang tanpa tuduhan ditangkap dan kemudian dipenjarakan oleh Orba. Beliau begitu saja dijebloskan dalam penajara, padahal ketika itu beliau adalah anggota DPA dan anggota DPR-GR. Bung Siauw mengenangkan kembali: Pertanyaan yang pertama-tama diajukan oleh para interogator intel pihak militer secara berulang-kali ialah, apakah beliau itu anggota PKI; apakah mengetahui sebelumnya tentang G30S. Setelah dijawab tegas bahwa beliau bukan anggota PKI dan tidak tahu menahu sebelumnya mengenai G30S, para interogator menyecar terus. Mereka lalu memperlihatkan pelbagai skema beserta nama-nama personil dalam organisasi PKI, dan lagi-lagi, bertubi-tubi menanyakan kepada Bung Siauw, dimana tempat beliau dalam skema organisasi PKI itu.

Siauw tetap pada jawabannya semula. Lalu para interogator itu secara konklusif memastikan bahwa yang bernama Siauw Giok Tjhan, Ketua Baperki, adalah anggota penting PKI yang 'tertutup'. Maksud pihak militer ialah hendak melibatkan Bung Siauw dan Baperki yang dipimpinnya dalam peristiwa G30S. Merekayasa 'pembuktian keterlibatan' dengan G30S, siapa saja yang melawan politik Orba ataupun tidak sejalan dengan politik Orba, adalah cara pokok aparat Orba untuk melakukan persekusi pihak yang dituduhnya . Ada baiknya saya sampaikan disini sekelumit kesaksian, bahwa Bung Siauw samasekali tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 itu. Ketika itu kebetulan saya ada di Jakarta untuk Konferensi Internasional Anti Pangkalan-Pangkalan Militer Asing (KIAPPMA). Saya bermalam di Wisma Warta. Pagi tanggal 4 Oktober Bung Siauw dan Bung Asmara Hadi (ketika itu Ketua Partindo), mencari saya di Wisma Warta. Tampak sekali dalam keadaan kebingungan, mereka berdua menanyakan kepada saya, apa yang yang telah terjadi pada tanggal 1 Oktober itu dan selanjutnya akan ada apa lagi. Sayapun tidak mampu memberikan jawaban, karena, sama saja dengan mereka, juga saya tidak tahu situasi.

Amat disayangkan bahwa diantara mereka yang sampai detik ini, sudah sedemikian 'termakan' oleh 'hantu Komunisme' atau 'bahaya laten PKI', terdapat juga orang-orang yang sesugguhnya tergolong orang yang berpengetahuan dan berilmu. Apakah seseorang itu

komunis atau tidak, simpatisan komunis atau tidak, itulah yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk menilai apakah seseorang itu 'orang baik' atau tidak, memiliki kebenaran atau tidak. Orang-orang yang seluruh pandangan dan pikirannya didominasi oleh pikiran anti-Komunis itu, menjadi buta politik dan buta sejarah. Mengapa saya katakan orang demkian itu buta politik dan buta sejarah. Sebabnya ialah, karena 'pahlawan-pahlawan anti-komunis' itu sudah kehilangan kemampuan untuk dengan obyektif melihat kenyataan dan kebenaran, bahwa kegiatan Siauw Giok Tjhan sebagai manusia dan sebagai pejuang politik, pertama-tama dan yang terutama, adalah kegiatan perjuangan untuk kemerdekaan nasional bangsanya sendiri, bangsa Indonesia yang dicintainya dengan sepenuh hati. Seumur hidupnya apa yang dilakukan Siauw Giok Tjhan adalah memberikan sumbangannya pada usaha besar pembinaan nasion Indonesia, kepada perjuangan untuk usaha menegakkan keadilan bagi semua, bagi setiap warganegara Indonesia.

Sebagai seorang intelektual Indonesia keturunan Tionghoa, beliau menyadari betul bahwa perjuangan untuk kemerdekaan nasional dan keadilan sosial, amat bertalian erat dengan perjuangan untuk sama-hak bagi orang-orang Tionghoa warganegara Indonesia yang sudah turun-temurun hidup bermukim di negeri ini, dan yang tidak sedikit diantaranya secara fisik dan kulturil sudah berintegrasi dan berbaur dengan orang-orang pribumi. Secara naluriah mereka sudah menjadikan Indonesia sebagai negerinya sendiri. Beliau melihat dan menyadari bahwa orang-orang Tionghoa serta keturunan Tionghoa tsb merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia. Di bidang ekonomi, berbeda dengan modal monopoli asing, modal mereka adalah modal domestik yang memainkan peranan positif dalam perkembangan ekonomi nasional.

Beliau melihat kekuatan ekonomi yang terkandung di dalam masyarakat keturunan Tionghoa Indonesia. Dan bahwa sekali kekuatan ekonomi ini berpadu dan dibimbing oleh kesadaran nasional yang mantap, maka ia akan merupakan kekuatan pendorong yang ampuh dalam perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya ekonomi nasional Indonesia. Beliau mengemban keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa perasaan naluriah dari orang-orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa yang sudah menjadikan Indonesia sebagai negerinya sendiri, khususnya yang sudah menjadi warganegara Indonesia yang sah menurut hukum, perlu ditingkatkan menjadi kesadaran politik yang mantap akan ke-Indonesiannya itu. Itulah sebabnya Bung Siauw mencurahkan perhatian dan kegiatannya untuk mencapai tujuan tsb.

Beliau menolak konsep 'asimilasi' antara keturunan Tionghoa dengan bangsa Indonesia yang 'pribumi', sebagai suatu jalan untuk memecahkan 'masalah minoritas etnis Tionghoa'. Karena di dalam konsep asimilasi itu dirasakan terkandung faktor keharusan yang bersangkutan meninggalkan tradisi bangsa dan kultur asal-muasal mereka. Siauw menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip "Bhinneka Tunggal Eka", prinsip yang selama ini menjadi dasar negara Republik Indonesia, dimana setiap suku bangsa dari nasion Indonesia, tetap mempertahankan dan bahkan mengembangkan tradisi dan kultur daerahnya, sambil bersama-sama seluruh nasion membangun tradisi dan kultur Indonesia secara nasional.

maka bersama dengan pejuang-pejuang integrasi lainnya, beliau ambil bagian penting dalam mendirikan BAPERKI.

Nama Siauw Giok Tjhan tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan nasional, untuk keadilan sosial dan melawan diskriminasi rasial. Seluruh hidup beliau telah disumbangkannya untuk cita-cita luhur tersebut.

Bangsa kita memiliki tidak sedikit pahlawan nasional, yaitu tokoh-tokoh perjuangan yang telah memberikan teladan sepanjang hidupnya, tanpa pamrih memperuntukkan yang paling berharga dari hidup mereka untuk kepentingan seluruh bangsa, yang telah memberikan sumbangan besar dalam perjuangan kemerdekaan, persamaan-hak dan pembangunan nasion Indonesia.

Siauw Giok Tjhan adalah salah seorang dari pahlawan nasional itu. * * * * *

Politik Minoritas pada awal tahun 1960-an: