• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Ethnosentrisme Konsumen

1. Pengertian Ethnosentrisme Konsumen

G. A. Sumner pertama kali memperkenalkan konsep

ethnosentrisme pada tahun 1906 (Alsughayir, 2013; Chen, 2008;

Shimp & Sharma, 1987). Ehtnosentrisme merupakan fenomena

mengenai hubungan antarkelompok (Lewis dalam Sharma, Shimp &

Shin, 1995). Beberapa penulis juga berpendapat bahwa

ethnosentrisme merupakan bagian dari sifat manusia (Lynn; Mihalyi;

Rushton dalam Sharma, Shimp & Shin, 1995).

Definisi ehtnosentrisme dapat dilihat dari beberapa pandangan

ilmu. Menurut sosiologi, ethnosentrisme didefinisikan sebagai suatu

pandangan yang membedakan antara ingrup (individu-individu yang

mengidentifikasi grup yang lain) dan outgrup (individu-individu yang

dianggap memusuhi ingrup) dan menganggap bahwa kelompok

mereka sendiri (ingrup) adalah superior dan pusat dari segala sesuatu

(Alsughayir, 2013; Chen, 2008; Lantz & Loeb, dalam Chen 2008).

kecenderungan dalam menilai diri sendiri adalah benar dan menilai

orang lain menurut kehendak mereka sendiri (Ueltschy, dalam Chen

2008). Pada psikososial, ethnosentrisme juga menjadi konstruk yang

memiliki relevansi dengan kepribadian individu dan analisis kultural

serta sosial secara umum (Levine & Campbell dalam Shimp &

Sharma, 1987).

Konsep umum dari ethnosentrisme adalah sikap individu yang

melihat bahwa kelompok mereka sebagai pusat dari segalanya dan

menilai kelompok lain menurut perseptif kelompok mereka sendiri

dan menolak budaya lainnya (Booth; Worchel & Cooper dalam Shimp

& Sharma, 1987). Secara lebih spesifik, LeVine & Campbell (dalam

Sharma, Shimp & Shin, 1995) menyebutkan kecenderungan

ethnosentrisme merupakan kecenderungan sikap untuk: (1)

membedakan berbagai kelompok, (2) yang hanya tertarik dengan

urusan kelompoknya sendiri, (3) melihat kelompok sendiri sebagai

pusat dari dunia dan menganggap cara hidupnya lebih unggul

dibandingkan dengan yang lain, (4) menjadi curiga dan meremehkan

kelompok lain, (5) melihat kelompok sendiri sebagai superior, kuat

dan jujur, (6) melihat kelompok lain sebagai inferior, lemah dan

pembuat masalah yang tidak jujur.

Pradesta (2014) yang mengatakan bahwa ethnosentrisme

merupakan suatu kecenderungan dalam memandang norma dan nilai

standar untuk mengukur serta mengambil sikap terhadap kebudayaan

lain. Selain itu, ethnosentrisme merujuk pada sikap, kepercayaan,

standar, dan perilaku individu yang berlebih pada sesuatu (Summer

dalam Zhaki, 2014). Dalam dunia konsumen, ethnosentrisme

dikatakan sebagai konstruk yang mampu menjelaskan mengapa

konsumen menilai produk dalam negeri lebih unggul daripada produk

impor. Ethnosentrisme konsumen didefinisikan sebagai suatu

kepercayaan konsumen mengenai kesesuaian dan moralitas dalam

membeli produk impor dan dengan pembelian produk impor itu sendiri

merupakan suatu kesalahan karena menimbulkan kerusakan ekonomi

lokal (Shimp & Sharma, 1987).

Berdasarkan paparan definisi ethnosentrisme dalam

konsumen, sikap dipilih karena merupakan suatu bentuk tindakan akan

kepercayaan konsumen dalam menilai dan membeli suatu produk.

Oleh karena itu, definisi ethnosentrisme konsumen dapat disimpulkan

sebagai suatu sikap yang memandang kelompok sendiri lebih unggul

dari kelompok lain yang berbeda budaya dan akan membeli produk

yang sesuai dengan budayanya.

2. Aspek Sikap

Sikap merupakan suatu keadaan mental yang dipengaruhi oleh

pengalaman yang akan memberikan respon terhadap objek dan situasi

organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional,

perceptual dan kognitif mengenai beberapa aspek dunia inidividu

(Allport & Krech dan Crutchfield dalam Sears, Freedman & Peplau,

2009).

Pendapat lain, Thurstone (dalam Kurnianto, 2015)

mengemukakan istilah sikap dalam lingkup pemasaran sebagai suatu

konsep mengenai jumlah pengaruh yang dimiliki individu dan

menempatkannya pada suatu kerangka pemikiran mengenai suka atau

tidaknya individu pada sesuatu, mendekati atau menjauhi mereka.

Selain itu, sikap juga dikatakan mampu untuk menggambarkan

kepercayaan konsumen terhadap berbagai atribut dan manfaat dari

obyek tersebut.

Aspek sikap menurut Sears, Freedman & Peplau (2009),

antara lain:

1) Aspek Kognitif

Aspek ini berkaitan dengan pemikiran, yang terdiri dari

seluruh kognisi yang dimiliki individu mengenai obyek sikap

tertentu (fakta), pengetahuan dan keyakinan mengenai obyek

tersebut.

Indikator ethnosentrisme dalam aspek kognitif berupa

pemikiran yang dimiliki individu mengenai keunggulan yang

dimiliki oleh produk lokal dan membeli produk impor

2) Aspek Afektif

Aspek ini berkaitan dengan perasaan atau emosi

individu terhadap obyek, terutama penilaian.

Indikator ethnosentrisme dalam aspek afektif berupa

kesenangan individu akan produk lokal.

3) Aspek Konatif

Aspek ini berkaitan dengan kesiapan individu untuk

bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek.

Indikator ethnosentrisme dalam aspek konatif berupa

tindakan membeli produl lokal.

Berdasarkan pemaparan tersebut dapat berarti aspek sikap

adalah aspek kognitif yang berupa pemikiran, aspek afektif yang

berupa perasaan terkesan atau emosi, dan aspek konatif yang berupa

reaksi atau tindakan.

3. Dampak Ethnosentrisme Konsumen

Penelitian yang dilakukan oleh Chen (2008) juga

menunjukkan bahwa ethnosentrisme memiliki pengaruh terhadap niat

membeli. Akan tetapi, konsumen Ethnosentrisme melakukan

Mereka akan lebih berkenan pada produk yang memiliki budaya yang

sama. Ketika melakukan pembelian terhadap produk impor maka dapat

dikatakan sebagai suatu hal yang salah (Lundstrom, Lee & White

dalam Candan, Aydin & Yamamoto, 2008; Shimp & Sharma dalam

Anggasari, Yuiati & Retnaningsing, 2013; Lantz dan Loeb dalam

Watson & Wright, 2000).

Orang yang dengan ethnosentrisme tinggi akan membeli

produk yang dijual di negaranya. Tingkat ethnosentris akan semakin

tinggi apabila produk lokal memiliki kelebihan tersendiri (Chen, 2008;

Anggasari, Yuiati & Retnaningsing, 2013). Sebagai contoh, survey

yang dilakukan oleh Soegiono (dalam Setiawan, 2014). Hasil survey

menemukan bahwa di Indonesia terdapat dua konsumen fanatik. Salah

satunya adalah konsumen yang fanatik terhadap produk lokal

dikarenakan bagi mereka produk lokal cenderung lebih murah, mudah

didapat, dan lebih sesuai dengan kondisi masyarakat di Indonesia.

Sedangkan, orang yang dengan ethnosentrisme rendah akan membeli

produk yang dijual oleh negara lain (Chen, 2008).

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa

ethnosentrisme memiliki pengaruh terhadap niat beli dan konsumen

ethnosentrisme lebih tertarik dengan produk yang memiliki budaya

Dokumen terkait