KESEHATAN PRIMER
D. Etik Issu dan dilema Pelayanan Kebidanan
Pengertian :
1. Issu etik yang terjadi antara bidan dengan klien, keluarga dan masyarakat mempunyai hubunga erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan.
2. Bidan dikatakan profesional apabila ia bekerja sesuai dengan peran dan fungsinya serta standar pelayanan dan bertanggung jawab menolong persalinan.
3. Penyimpangan etik dapat saja terjadi dalam praktik kebidanan misalnya dalam praktek mandiri, bidan yang bekerja di RS, RB atau institusi kesehatan lainnya.
4. Bidan yang praktek mandiri menjadi pekerja yang bebas mengontrol dirinya sendiri, sehingga kemungkinan besar akan terjadi penyimpangan etik.
Contoh :
1. Issu etik yang terjadi antara bidan dengan klien, keluarga dan masyarakat 2. 1ssu etik yang terjadi antara bidan dan teman sejawat Kasus
Desa X , kecamatan X, kabupaten X yang jaraknya 21 Km dari kota X. Di sesa tersebut terdapat dua orang bidan yang sama-sama memiliki tempat praktek yaitu bidan mawar dan bidan melati karena mereka hanya berdua sehingga terjadi persaingan di antara dua bidan tersebut. Pada suatu hari datang seorang pasien bernama NY Y yang akan datang melahirkan anak kedua diBPS seorang bidan yang jaraknya tidak jauh dari lokasi BPS bidan mawar setelah bidan melati melakukan pemeriksaan ternyata pembukaan belum lengkap da janin letak sungsang, namun seorang bidan tetap melakukan asuhan persalinan, meskipun seorang bidan mengetahui bahwa hal tersebut melanggar wewenang seorang bidan, tetapi demi mendapatkan bayaran dan pasien sebagai gengsi persaingan denga salah seorang bidan, proses asuhan yang dilakukan seorang bidan dipantau oleh salah seorang bidan. Jika seorang bidan tetap melakukan asuhan persalinan terhadap NY Y yang letak janinnya sungsang, maka seorang bidan akan melaporkan salah seorang bidan sebagai upaya untuk menjatuhkan nama baik seorang bidan karena telah melanggar wwenang bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan. ISSU MORAL : Seorang bidan melakukan pertolangan persalinan normal. KONFLIK MORAL : Menolong sersalinan sungsang untuk mendapatkan uang dan
pasien demi persaingan atau dilaporkan oleh seorang bidan.
DILEMA :
1. Kalau seorang bidan tidak melakukan persalinan NY Y yang letak sungsang tersebut, maka dia akan kehilangan satu pasien
2. Kalau seorang bidan menolong persalinan NY Y yang letak sungsang tersebut, maka seorang bidan dilaporkan oleh salah seorang bidan karena melanggar kewenangannya.
Bahan diskusi : apakah yang seharusnya dilakukan seorang bidan atas tindakan yang dilakukan salah seorang bidan. Kalau seandainya saudara seorang bidan apa yang saudara lakukan ?
3. Issu etik bidan dengan organisasi profesi Kasus pertama
Desa X dikabupaten X merupakan sebuah desa yang terpencil, didesa tersebut praktik seorang bidan sebagai bidan desa yang sudah bertugas selama 15 tahun dan umurnya sudah 45 tahun, seorang bidan sudah mendapatkan keparcayaan dari masyarakat desa X untuk melakukan pertolonga persalinan dan pemeriksaan anggota masyarakat yang sakit karena seorang bidan satu-satunya tenaga kesehatan yang berada didesa tersebut, walaupun dia masih berpendidikan BI dan P2B, sedangkan sesuai ketentuan, saat ini seorang bidan diharuskan berpendidikan mengenal minimal DIII kebidanan. Namun, karena seorang bidan sudah merasa banyak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan jarak desa dengan kota tempat pendidikan DIII sangat jauh sehingga bidan tersebut tidak melanjutkan pendidikan DIII kebidanan. Sebagai seorang bidan yang sudah praktik dan satu-satunya didesa tersebut tanpa melanjutkan pendidikan DIII masyarakat sudah banyak yang mengetahui kemampuan pelayanan kebidanan yang dimiliki seorang bidan, sehingga hampir semua ibu bersalin didesa tersebut melakukan pemeriksaan kehamilannyadan pertolonga persalinan kepada seorang bidan. Karena seorang bidan belum berpendidikan DIII kebidanan, belum menjadi anggota organisasi IBI sehingga oleh organisasinya tidak memproses izin praktiknya.
DILEMA : Seorang bidan satu-satunya tenaga kesehatan didesa X, sehingga jika pergi melanjutkan pendidikan DIII kebidanan, tidak ada bidan yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat didesa tersebut. Masyarakat sudah mengetahui kemampuan dan keterampilan seorang bidan dan memberikan pemerisaan kehamilan dan pertolongan persalinan sehingga tanpa mengikuti pendidikan DIII pasiennya pasti banyak. Seorang bidan berpikir umurnya sudah 45 tahun. Sehingga merasa tidak mampu lagi mengikuti pendidikan tinggi dari yang dimilikinya sekarang.
ISSU MORAL : Seorang bidan melakukan pelanggaran etika karena telah mendirikan tempat praktik dan melaksanakan pelayanan kebidanan yang tidak mempunyai surat izin (ILEGAL) dan belum menjadi anggota IBI.
KONFLIK MORAL : Seorang bidan mendapatkan tuntutan dari organisasi profesi untuk melanjutkan pendidikan DIII kebidanan Sedangkan permintaan masyarakat desa X kepada seorang bidan untuk tidak melanjutkan pendidkan DIII kebidanan sebelum ada bidan yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sama dengan dia. Bahan diskusi : Kalau seandainya saudara-saudara mahasiswa sebagai
seorang bidan, apa yang akan saudara lakukan 4. Issu pelanggaran etik seorang bidan dengan petugas kesehatan lain.
Permasalahan pelayanan kebidanan pada sebuah institusi adalah sering kali terjadi perbedaan sikap bidan dengan tenaga kesehatan yang lain, sehingga perbedaan pandangan dalam pelayanan kebidanan antara keduannya sering kali berlanjut pada perselisihan.
Kasus pertama
Seorang bidan membuka praktik didesa X kecamatan X dengan kondisi tempat praktik sangat banyak pasiennya. Pada suatu hari ada seorang ibu muda bersama suaminya datang ketempat praktik seorang bidan untuk melakukan pergantian kontrasepsi KB dengan suntikan. Ny S sudah menggunakan suntikan KB 1 bulan, sekarang ibu mau mengganti memakai KB suntik 3 bulan. Setelah seorang bidan menjelaskan bahwa mengganti KB suntik dari 1 bulan ke KB suntik 3 bulan kemungkinan pasien akan mengalami perdarahan kalau tidak cocok. Namum, ibu dan suaminya tetap mau mengganti KB suntik 3 bulan. Setelah dua bulan kemudian seorang ibu datang bersama suaminya dengan keluhan keluar darah lumayan banyak dari vaginanya. Ibu terlihat pucat dan lemas, seorang bidan menjelaskan bahwa ternyata KB suntuk 3 bulan tidak cocok untuk ibu tersebut dan memeriksa keadaanya dengan membaringkan di tempat tidur dengan hasil diagnosis telah terjadi perdarahan cukup banyak. Suami Ny S meminta seseorang bidan diberikan obat untuk dapat mengurangi jumlah darah yang keluar, tapi seorang bidan tidak mau memberikan obat dengan alasan penyebab terjadinya perdarahan belum
diketahui dengan pasti tetapi karna darah semakin banyak yang keluar dari vagina Ny S sehingga bidan merujuknya kedokter kebidanan yang terdekat karena banyaknya darah yang keluar, maka pada waktu Ny S sudah sampai ditempat praktik dokter Ny S syok sehingga dokter memberikan obat untuk menghentikan perdarahan. Karena kejadian tersebut bidan ditegur oleh dokter. ISSU ETIK : Perbuatan seorang bidan telah mengganti KB suntuk dari 1
bulan ke KB suntik 3 bulan. Terjadi keluhan keluar darah lumayan banyak dari vagina Ny S sehingga terlihat pucat dan lemas. Ny S syok sehingga dokter memberikan obat untuk menghentikan perdarahan.
DILEMA : Ny S adalah pasiennya yang sudah menggunakan suntikan KB 1 bulan sehingga kalau tidak memberikan pelayanan sesuai dengan permintaanya maka seorang bidan dapat dilaporkan tidak memberikan pelayanan dan kehilangan pasien sebagai lahannya.
KONFLIK MORAL : Dokter memberikan teguran kepada seorang bidan dan melaporkan keorganisasi profisi (IBI) untuk diambil langkah-langkah perbaikan kode etik bidan.
Bahan diskusi : Apakah tindakan dokter kebidanan tersebut dapat menimbulkan sikap antipati dari seorang bidan kepada dokter?
Menghadapi masalah etik dalam praktik kebidanan
Bidan dikatakan profesional bila dapat menerapkan etika dalam menjalankan praktek. Bidan ada dalam posisi baik yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etika untuk menetapkan dalam strategi praktek kebidanan.
a) Informed choice
Informed choice adalah membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang dibutuhkan.
Pilihan (Choice) berbeda dengan persetujuan (Consent)
1. Persetujuan atau consent penting dari sudut pandang bidan karena berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang akan dilakukan bidan.
2. Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa asuhan kebidanan, yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang sesungguhnya dan menerapkan aspek otonomi pribadi menentukan “pilihannya” sendiri.
a. Pilihhan dapat diperluas dan menghindari konflik
Memberikan informasi yang lengkap pada ibu, informasi yang jujur, tidakbisa dan dapat dipahami oleh ibu, menggunakan alternatif media ataupun yang lain, sebaiknya tetap muka.
b. Beberapa jenis pelayanan yang dapat dipilih klien. 1) Bentuk pemeriksaan ANC dan skrining
2) Tempat melahirkan
3) Masuk ke kamar bersalin pada tahap awal persalinan 4) Disamping waktu melahirkan
5) Metode monitor djj
6) Argumentasi, Stimulasi, Induksi 7) Mobilitas atau posisi saat persalinan 8) Pemakaian analgesia
9) Episiotomi
10) Pemecahan ketuban 11) Penolong persalinan
12) Keterlibatan suami pada waktu melahirkan 13) Teknik pemberian minuman pada bayi 14) Metode kontrasepsi
c. Tanggapan berkaitan kode etik bidan Pegertian kode etik bidan indonesia
Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntunan bagi anggotadalam melaksanakan pengabdian profesi.
d. Solusi penyelesaian permasalahan kode etik bidan
1) Memberikan ketegasan kepada bidan untuk tetap melakukan pelyanan kebidanan sesuai standar.
2) Menjatuhkan sanksi administrasi beruba teguran secara tertulis kepada bidan yang telah melanggar kode etikbidan dalam pelayanan kebidanan.
3) Memberikan pembinaan secara berkala kepada bidan agar mereka meningkatkan kualitas pelayanan sesuai standar 4) Mencabut ijin praktek dan surat keterangan kompetensinya
terhadap bidan yang tidak melakukan pelayanan sesuai standar 5) Tidak menerbitkan ijin praktek dan surat keterangan kompetensinya terhadap bidan yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.