• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Cara Kerja Aromaterapi

3.7 Etika Penelitian

Etika penelitian dalam penelitian ini antara lain : 3.7.1 Informed consent

Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden peneliti dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent

tersebut diberikan senelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menanda tangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien.

3.7.2 Anonymity (tanpa nama)

Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

3.7.3 Confidentiality (kerahasiaan)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Hidayat 2007).

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta yang terletak di Jalan Kalingga Utara V Bayan Kadipiro Surakarta. Panti tersebut berdiri sejak tanggal 19 November 2001 dan merupakan salah satu Yayasan Panti Katolik di Surakarta yang dikelola oleh pengurus yayasan dan pengurus panti termasuk perawat. Kegiatan yang rutin dilakukan di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta ini adalah pembinaan hidup rohani setiap hari senin, kratifitas/kerajinan tangan setiap hari selasa, rekreasi setiap hari rabu, kerja bhakti setiap hari kamis, senam pagi setiap hari jumat dan perayaan syukur ekaristi atau misa setiap hari sabtu. Selain kegiatan tersebut beberapa lansia yang masih aktif biasanya melakukan kegiatan sehari-hari seperti membantu memasak dan membersihkan tempat tidur dan halaman sekitar panti.

Penelitian ini dilakukan selama 14 hari yaitu pada tanggal 10 februari hingga 23 februari 2014. Berdasarkan data yang diperoleh selama penelitian, lansia yang memenuhi kriteria inklusi adalah 20 orang responden. Semua responden tersebut diberi terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender secara bersamaan di kamar masing – masing responden yaitu satu kali sehari dalam waktu 30 menit selama 7 hari. Adapun hasil penelitian ini adalah :

4.1 Karakteristik Responden

4.1.1 Karakteristik responden berdasarkan usia

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta tahun 2014 (n=20)

Usia Jumlah Persentase (%)

60-74 tahun (lanjut usia dini)

15 75

75-90 tahun (lanjut usia tua)

5 25

Total 20 100

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa usia responden terbanyak adalah usia 60-74 tahun sebanyak 15 (75%) orang dan usia 75-90 tahun sebanyak 5 orang (25%).

4.1.2 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin di Panti wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta tahun 2014 (n=20)

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

Laki-laki 7 35

Perempuan 13 65

Total 20 100

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jenis kelamin perempuan lebih banyak dibanding jenis kelamin laki-laki yaitu responden perempuan sebanyak 13 orang (65%) sedangkan responden laki-laki 7 orang (35%).

4.2 Analisis Univariat

4.2.1 Kualitas tidur sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi kualitas tidur responden sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta tahun 2014 (n=20)

Kualitas tidur Jumlah Persentase (%)

Baik 0 0

Buruk 20 100

Total 20 100

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa kualitas tidur responden sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender yang mengalami kualitas tidur buruk adalah 20 orang (100%). 4.2.2 Kualitas tidur sesudah diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi

lavender

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi kualitas tidur responden sesudah diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta tahun 2014 (n=20)

Kualitas tidur Jumlah Persentase (%)

Baik 11 55

Buruk 9 45

Total 20 100

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sesudah diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender sebanyak 11 orang (55%) mengalami kualitas tidur baik dan sebanyak 9 orang (45%) masih mengalami kualitas tidur buruk.

4.3 Analisis Bivariat

4.3.1 Pengaruh sebelum dan sesudah pemberian terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender terhadap kualitas tidur

Tabel 4.5 Pengaruh sebelum dan sesudah pemberian terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender terhadap kualitas tidur responden di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta tahun 2014 (n=20)

Variabel Z hitung Z tabel p value

Kualitas tidur 3,317 2,093 0,001

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa dengan menggunakan uji Wilcoxon diperoleh statistik Z hitung sebesar 3,371 dan Z

tabel sebesar 2,093 sehingga Z hitung (3,371) > Z tabel (2,093) dengan p value sebesar 0,001 (p value ≤ 0,05) maka H0 ditolak artinya ada pengaruh pemberian terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender terhadap peningkatan kualitas tidur lansia.

48 BAB V PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang hasil penelitian yang telah didapat yaitu meliputi karakteristik responden, analisis univariat dan analisis bivariat. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara membandingkan hasil penelitian dengan teori dan hasil penelitian terdahulu.

5.1 Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa usia responden terbanyak adalah usia 60-74 tahun (75%) sebanyak 15 orang. Lanjut usia akan mengalami perubahan fisik berupa penurunan fungsi organ sehingga rentan terhadap berbagai penyakit seperti nyeri pinggang, nyeri dada, nyeri sendi, pusing dan gangguan tidur (Bandiyah 2009). Hal tersebut dapat terjadi pada lanjut usia dini karena adanya proses degenerasi dan hal ini dapat menyebabkan kualitas tidur tidak adekuat (Erliana 2008). Kualitas tidur yang kurang pada lanjut usia terjadi karena adanya penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4, beberapa lansia hampir tidak memiliki tahap tidur NREM 4 dan tidur yang dalam (Potter dan Perry 2006). Akibat kualitas tidur yang kurang menyebabkan peningkatan kerja jantung dan saat bangun di pagi hari seseorang akan merasa tidak segar dan di siang hari merasa kelelahan atau sering mengantuk.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin perempuan sebesar 65% memiliki kualitas tidur buruk. Perempuan

cenderung memiliki kualitas tidur buruk dibandingkan dengan laki-laki karena perempuan lebih sering mengalami gangguan pada faktor psikis seperti stres atau depresi. Perempuan menggunakan perasaan untuk mengekspresikan sesuatu sehingga perempuan lebih sering merasa takut, gelisah dan tertekan yang mengakibatkan stres (Widya 2010).

Keadaan stres dapat membuat tidur tidak lelap, susah tidur bahkan tidak bisa tidur. Stress tingkat tinggi juga menghambat kerja hormon melatonin yang disekresikan pada saat tidur dalam terutama pada malam hari, sehingga penurunan kadar hormon tersebut akan menyebabkan lansia sulit untuk mempertahankan tidur (Siregar 2011). Perubahan hormon juga terjadi pada saat perempuan memasuki massa menopause dimana terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron seperti yang dialami oleh lansia yang mengakibatkan terjadinya gangguan tidur (Widya 2010). 5.2 Analisis Univariat

5.2.1 Kualitas tidur sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kualitas tidur responden sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender yang mengalami kualitas tidur buruk adalah 20 responden (100%). Hal ini berkaitan dengan penelitian sebelumnya mengenai kualitas tidur yang menyatakan bahwa sebelum diberikan aromaterapi lavender sebanyak 18 responden (100%) mengalami gangguan kualitas tidur buruk (Kurnia, Wardhani dan rusca 2009).

Lansia yang mengalami kualitas tidur buruk terjadi karena gangguan fisik, mental dan psikososial (Anwar 2010). Hal tersebut juga terjadi pada lansia di di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih. Gangguan fisik yang terjadi antara lain timbulnya penyakit-penyakit seperti pegal-pegal, pusing, gatal-gatal dan penyakit lain seperti hipertensi. Gangguan mental yang terjadi pada lansia antara lain curiga, mudah marah dan egois. Gangguan psikososial berdasarkan pernyataan lansia yaitu kehilangan teman, jauh dari keluarga sehingga menyebabkan lansia merasa kesepian. Faktor tersebut diatas dapat mempengaruhi kualitas tidur pada lansia.

Hasil kuesioner yang mendukung bahwa responden memiliki kualitas tidur buruk adalah 20 responden (100%) menjawab kesulitan untuk memulai tidur, 12 responden (60%) menyatakan tidur selama 5-6 jam, 11 responden (55%) menyatakan terbangun di tengah malam dan 12 responden (60%) terbangun karena harus ke kamar mandi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kupfer dan Reyold (2012) mengenai masalah tidur yang sering muncul adalah kesulitan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur. Kesulitan mempertahankan tidur digambarkan dengan keadaan ketika seseorang sudah tertidur kemudian terbangun dan sulit untuk memulai tidur kembali (Silber 2005).

Pernyataan dari lansia sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender berkaitan dengan faktor

penyebab gangguan tidur yang dialami lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta yaitu terjadi penurunan pada status kesehatan lansia karena adanya proses menua sehingga lansia mudah terserang penyakit seperti pegal-pegal, pusing dan beberapa lansia mengeluh tekanan darahnya tinggi. Kondisi lingkungan juga mempengaruhi kualitas tidur lansia dimana beberapa lansia mengeluh teman sekamar mereka berisik sebelum memulai tidur dan adanya perubahan suhu ruangan seperti pada musim hujan menyebabkan lansia sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil.

Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa gangguan tidur seperti insomnia terjadi pada lansia dengan keluhan mencakup ketidakmampuan untuk tidur, sering terbangun pada malam hari, ketidakmampuan untuk kembali tidur, dan terbangun pada dini hari. Beberapa gejala tersebut dapat ditentukan derajat insomnia yang terjadi pada lansia (Adiyati 2010).

5.2.2 Kualitas tidur sesudah diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender

Hasil penelitian sesudah diberikan intervensi terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender pada lansia, yang mengalami kualitas tidur menjadi baik adalah 11 responden dari 20 responden. Hal ini dapat diketahui dari hasil kuesioner yang diberikan pada responden dimana sebanyak 20 responden (100%) menyatakan tidak

pernah meminum obat tidur untuk membantu tidurnya, 17 responden (85%) tidak pernah menahan kantuk ketika bekerja, makan atau aktifitas lainnya dan 11 responden (55%) mengatakan kualitas tidurnya sangat baik, maka dapat disimpulkan terjadi peningkatan kualitas tidur lansia sesudah diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender.

Hasil penelitian yang dilakukan peneliti tersebut berkaitan dengan penelitian sebelumnya mengenai kualitas tidur yaitu sebelum diberikan aromaterapi lavender kualitas tidur semua responden buruk dan setelah diberikan aromaterapi lavender 20 responden (47,6%) kualitas tidurnya menjadi baik (Soemardini, Suharsono dan Kusuma 2013). Penelitian lain menunjukkan hasil bahwa setelah diberikan terapi musik keroncong sebesar 18 responden (64%) mengalami insomnia ringan dan 8 responden (29%) tidak mengalami insomnia (Wijayanti 2012).

Peningkatan kualitas tidur pada lansia dapat dipengaruhi oleh lingkungan, gaya hidup dan obat-obatan. Lingkungan tempat tinggal lansia yang nyaman, suhu ruangan yang sesuai dan pencahayaan yang baik dapat meningkatkan kualitas tidur lansia menjadi lebih baik. Gaya hidup lansia yang baik seperti olahraga teratur juga mempengaruhi kualitas tidur lansia dimana badan akan terasa lebih segar, tidak lemas dan tidak mudah kelelahan karena kondisi fisik yang baik. Sedangkan obat-obatan yang dikonsumsi secara terus

menerus akan mengganggu kesehatan pada lansia yang telah rentan terhadap perubahan baik secara fisik maupun psikologi. Dengan lebih mengutamakan pada kebutuhan nutrisi atau makanan yang sehat maka lansia tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk membantu tidurnya (Siregar 2011). Hal ini sesuai dengan pernyataan dari lansia di Panti wredha Dharma Bhakti kasih dimana sebanyak 100% (20 orang) responden tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan untuk membantu tidurnya.

Menurut seorang ahli dari pusat gangguan tidur di Amerika menyatakan bahwa terapi musik yang diberikan 30 menit sampai satu jam setiap hari menjelang waktu tidur, secara teratur selama 1 minggu cukup efektif untuk mengurangi gangguan tidur (Djohan 2006). Teori tersebut diterapkan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu dengan memberikan terapi musik keroncong selama 30 menit setiap hari sebelum tidur dan secara teratur selama 7 hari. Musik keroncong yang diberikan bertempo pelan sesuai dengan kesukaan para lanjut usia. Musik dengan tempo lamban memberikan rangsangan pada korteks serebri (korteks auditorius primer dan sekunder) sehingga dapat menyeimbangkan gelombang otak menuju gelombang otak alpha yang menandakan ketenangan (Wijayanti 2012). Ketenangan yang ditimbulkan dari pemberian terapi musik membuat lansia nyaman dan rileks sehingga terjadi peningkatan pada kualitas tidur lansia yang awalnya buruk menjadi baik.

Cara lain untuk mengatasi kualitas tidur adalah dengan relaksasi otot progresif, relaksasi nafas dalam dan aromaterapi. Penelitian ini menggunakan aromaterapi sebagai cara mengatasi gangguan kualitas tidur. Aromaterapi yang diberikan dalam penelitian ini merupakan aroma lavender yang diberikan menggunakan tungku pemanas yang dilakukan bersamaan dengan terapi musik keroncong selama 7 hari.

Aroma lavender merupakan aroma yang baik digunakan untuk mengatasi kualitas tidur buruk karena aromaterapi lavender memiliki kandungan kimia linalyl ester yang berkhasiat menenangkan dan memberikan efek rileks sistem saraf pusat dengan menstimulasi saraf olfaktorius (Stanley 2007). Semua impuls yang melewati saraf olfaktorius mencapai sistem limbik. Sistem limbik adalah bagian dari otak yang berkaitan dengan suasana hati, emosi, memori dan belajar kita. Semua bau yang mencapai sistem limbik memiliki pengaruh kimia langsung pada suasana hati kita (Sharma 2009). Hal ini sesuai dengan penelitian mengenai kualitas tidur dengan menggunakan aromaterapi lavender yang diberikan 7 hari berturut-turut memberikan perbaikan kualitas tidur yang besar dan signifikan pada lansia yang mengalami gangguan kualitas tidur (Kurnia, Wardhani dan Rusca 2009).

Terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender ini merupakan terapi nonfarmakologi yang dapat meningkatkan kualitas

tidur dan termasuk dalam relaxation therapy. Teknik relaxation therapy ini melatih otot dan pikiran menjadi rileks dengan cara yang cukup sederhana, selain terapi musik dan aromaterapi terapi ini dapat dilakukan dengan meditasi, relaksasi otot dan mengurangi cahaya penerangan (Adesla 2009).

5.3 Analisis Bivariat

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa p value sebesar 0,001 sehingga dapat diketahui ada pengaruh pemberian terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender terhadap peningkatan kualitas tidur responden. Hal ini sesuai dengan teori bahwa terapi musik merupakan sebuah terapi kesehatan yang menggunakan musik yang bertujuan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan usia (Javasugar 2009). Dalam penelitian ini dengan menggunakan musik sebagai terapi yang diketahui dapat meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif dan sosial akan membantu meningkatkan kualitas tidur lansia menjadi baik.

Berdasarkan prinsip kerjanya musik yang didengar oleh telinga akan distimulasi ke otak, kemudian musik tersebut akan diterjemahkan menurut jenis musik dan target yang akan distimulasi. Gelombang suara yang dihantarkan ke otak akan membangkitkan gelombang otak alfa yang dapat membangkitkan relaksasi (Stefanus 2011). Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa dengan menggunakan musik yang sederhana, menenangkan dan mempunyai tempo teratur dapat mengatasi

stres dan menimbulkan kondisi rileks pada seseorang (Widyastuti, Achjar dan Surasta 2011). Kondisi rileks pada seseorang membuat tubuh dapat beristirahat dengan baik dan tidur menjadi lebih nyenyak sehingga kualitas tidur akan menjadi baik.

Terapi lain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu aromaterapi lavender yang merupakan bagian dari terapi relaksasi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kualitas tidur. Aromaterapi lavender memiliki khasiat menenangkan, sedatif dan membantu meregulasi sistem saraf pusat. Mekanisme aromaterapi ini dimulai dari aromaterapi bunga lavender yang dihirup memasuki hidung dan berhubungan dengan silia, bulu-bulu halus di dalam lapisan dalam hidung. Penerima-penerima di dalam silia dihubungkan dengan alat penghirup yang berada di ujung saluran bau. Ujung saluran ini selanjutnya dihubungkan dengan otak itu sendiri. Bau-bauan diubah oleh silia menjadi impuls listrik yang dipancarkan ke otak melaui sistem penghirup. Semua impulsi mencapai sistem limbik di hipotalamus. Selanjutnya akan meningkatkan gelombang-gelombang alfa di dalam otak dan justru gelombang inilah yang membantu kita untuk merasa rileks (Sharma 2011).

Posisi rileks inilah yang menurunkan stimulus ke Sistem aktivasi retikular (SAR), dimana (SAR) yang berlokasi pada batang otak teratas yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan terjaga. Dengan demikian akan diambil alih oleh bagian otak yang lain yang disebut BSR (bulbar synchronizing region) yang fungsinya berkebalikan dengan SAR, sehingga

bisa menyebabkan tidur yang diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas tidur (Potter dan Perry 2006).

Teori tersebut sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa aromaterapi lavender mempengaruhi kualitas tidur pada lansia dimana terjadi peningkatan kualitas tidur setelah diberikan aromaterapi lavender (Kurnia, Wardhani dan rusca 2009).

Pemberian musik keroncong dan aromaterapi lavender membantu dalam memenuhi kebutuhan tidur pada lansia baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Pada penelitian ini peneliti berfokus pada kualitas tidur dimana banyak orang yang menganggap bahwa lamanya tidur akan membuat seseorang beristirahat dengan baik padahal dengan jam tidur yang terlalu banyak juga tidak akan bermanfaat bagi tubuh tanpa adanya kualitas tidur yang baik (Siregar 2011). Berdasarkan hal tersebut peneliti menganggap bahwa kualitas tidur seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dimana faktor internal yaitu keadaan fisik dan psikologis pada seseorang berbeda satu sama lain sehingga apabila terjadi perubahan fisik dan psikologis berupa adanya penyakit dan gangguan mood dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Begitu pula dengan faktor eksternal yang dialami seseorang berupa perubahan lingkungan tempat tinggal, perubahan suhu ruangan tempat tidur menyebabkan seseorang lebih mudah terbangun di tengah malam dan sulit untuk memulai tidur. Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, gelisah, lesu dan apatis serta tidak adanya

tanda kehitaman disekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk (Hidayat 2006).

Dampak yang terjadi apabila kualitas tidur terpenuhi yaitu mengalami peningkatan kesehatan fisiologis maupun psikologis. Kesehatan fisiologis ditunjukkan dengan tidak pusing dan tidak merasa lesu setelah bangun tidur dan kesehatan psikologis ditunjukkan dengan tidak terjadi gangguan mood seperti mudah marah sehingga gejala-gejala yang menandakan kualitas tidur buruk menjadi menurun bahkan tidak terjadi.

Terapi musik yang diberikan memberi rangsangan pada korteks auditorius yang menstimulasi otak dan membangkitkan gelombang otak alfa sehingga dapat merelaksasi (Djohan 2006). Sedangkan aromaterapi yang diberikan memberi rangsangan pada korteks olfaktorius yang menstimulasi otak dan impuls mencapai sistem limbik sehingga mempengaruhi suasana hati (Sharma 2011). Kedua terapi tersebut saling berkaitan dimana hasil yang didapatkan dari pemberian terapi tersebut dapat membuat seseorang menjadi rileks dan mempengaruhi suasana hati sehingga adanya pengaruh tersebut membuat lansia mudah untuk tertidur dengan nyenyak dan kualitas tidur akan menjadi baik.

5.4 Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti merupakan peneliti pemula yang masih asing dengan dunia penelitian sehingga masih banyak hal yang harus dipelajari oleh peneliti bersamaan dengan jalannya penelitian. Beberapa kendala yang dialami peneliti yaitu responden yang semuanya adalah lanjut

usia memiliki tingkat emosi yang lebih tinggi dan perubahan mood yang terjadi menyebabkan responden terkadang mengulur waktu untuk mengikuti terapi yang diberikan dengan melakukan aktivitas lain seperti menonton tv atau bercerita dengan teman sekamar. Oleh karena itu peneliti tidak dapat melakukan penelitian pada jam yang sama setiap harinya. Selain itu pengisian data kuesioner bersifat subjektif sehingga kebenaran data sangat bergantung pada kejujuran responden.

60 BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan sebagai berikut :

6.1.1 Responden sebelum diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender sebanyak 20 orang (100%) mengalami kualitas tidur buruk dan sesudah diberikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender sebanyak 11 orang (55%) mengalami kualitas tidur baik.

6.1.2 Ada pengaruh pemberian terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender terhadap peningkatan kualitas tidur lansia dengan p value 0,001.

6.2 Saran

6.2.1 Bagi Responden

Lansia dapat mengaplikasikan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender dengan bantuan tenaga kesehatan di Panti Wredha tersebut untuk meningkatkan kualitas tidur lansia.

6.2.2 Bagi Panti Wredha

Perawat di panti wredha dapat menerapkan terapi musik keroncong dan aromaterapi lavender setiap 2 kali dalam seminggu saat jam menjelang tidur sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur lansia.

6.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan bagi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dan melakukan penelitian tentang terapi nonfarmakologi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tidur lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Adesla, V 2009, Gangguan Tidur, diakses 15 februari 2014, (http://www.emedicinehealth.com/gangguantidur/article.hmt)

Adiyati 2010, Pengaruh Aromaterapi terhadap Insomnia pada Lansia di PSTW Unit Budi Luhur Kasongan bantul Yogyakarta, diakses 5 Desember 2013, (http://journal.akbideub.ac.id/index.php/jkeb/article/view/79/78)

Anwar, Z 2010, Penanganan Gangguan Tidur pada Lansia, diakses 7 November 2013, (http://research-report.umm.ac.id/index.php/research--report/article/ view File/ 341/ 453 umm research report full text.pdf)

Asmadi 2008, Konsep Dasar Keperawatan, EGC, Jakarta

Badan Pusat Statistik 2010, Data Statistik Indonesia : Jumlah penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi dan Kabupaten/ Kota 2005, diakses 8 November 2013, (http://demografi.bps.id/ versi1/index.php? option=com-tabel&tast=&ltmid=1)

Bandiyah, S 2009, Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik, Nuha Medika, Yogjakarta

Buysee DJ, dkk 1988, The Pittsburgh sleep quality index: a new instrument for psychiatric practice and research, Psychiatry Research. 28: 193-213.

Darmojo, RB & Martono, HH 2004, Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Davison, GC & Neale, JM 2006, Psikologi Abnormal, Edisi 9, Rajawali Pers, Jakarta

Dharma, KK 2011, Metodelogi Penelitian Keperawatan, Trans Info Media, Jakarta

Djohan 2006, Terapi Musik, Teori dan Aplikasi, Galangpresss, Yogyakarta

Erliana, E, Haroen, H & Susanti RD 2008, Perbedaan Tingkat Insomnia Lansia Sebelum dan Sesudah Latihan Relaksasi Otot Progresif di BPSTW Ciparay Bandung, diakses pada tangga 5 Februari 2014, (http://www.kesehatan.lansia.com/2009/tingkat-insomnia-pada-lansia.pdf) Hidayat, A 2006, Pengantar kebutuhan dasar manusia : aplikasi konsep dan

proses keperawatan, Salemba Medika, Jakarta

Hidayat, A 2007, Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data,

Dokumen terkait