BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Variabel Penelitian
3.3.4 Variabel Tidak Terkendali
Kejujuran dan keakuratan responden dalam menjawab pertanyaan.
3.4 Definisi Operasional
Tabel 1. Definisi operasional variabel bebas Variabel
• Menggigit kuku adalah kebiasaan menggigit kuku yang muncul sebagai pengganti kebiasaan
menghisap ibu jari atau jari.
• Mengunyah
permen karet adalah kebiasaan mengonsumsi permen karet paling sedikit satu jam setiap hari
• Menopang dagu adalah kebiasaan postur tubuh yang salah yang terjadi bertahun-tahun dan menyebabkan ketidak
seimbangan sendi dan otot.
Tabel 2. Definisi operasional variabel terikat
Table 3. Definisi operasional variabel terkendali
Table 4. Definisi operasional variabel tidak terkendali Variabel
2. Departemen Prostodonsia FKG USU untuk melakukan pemeriksaan klinis
3.5.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2018
3.6 Prosedur Penelitian
3.6.1 Alat dan Bahan Penelitian 3.6.1.1 Alat Penelitian
1. Kaca mulut 2. Stetoskop 3. Kaliper digital 4. Alat tulis 5. Penggaris 6. Masker 7. Sarung tangan 8. Kamera digital
9. Alat pengolah data/computer
3.6.1.2 Bahan Penelitian 1. Lembar kuesioner 2. Lembar pemeriksaan
3.6.2 Cara Penelitian
3.6.2.1 Persiapan Penelitian
1. Peneliti terlebih dahulu melakukan observasi terhadap populasi yaitu mahasiswa FKG USU stambuk 2014 sampai 2017.
2. Peneliti mengurus surat Ethical Clearance dari Komisi Etik Bidang Kesehatan, dan izin melakukan penelitian di Departemen Prostodonsia ke Ketua Departemen Prostodonsia.
3. Peneliti mencari sampel sesuai jumlah yang sudah ditentukan berdasarkan rumus dengan menggunakan kuesioner.
4. Peneliti memberikan kuesioner kepada populasi untuk mengeksklusikan subjek yang sesuai kriteria eksklusi.
5. Peneliti memberikan lembar penjelasan kepada subjek yang sesuai kriteria inklusi dan menjelaskan penelitian yang akan dilakukan serta meminta subjek untuk menandatangani informed consent setelah membaca lembar penjelasan.
3.6.2.2 Pelaksanaan Penelitian
A. Pemeriksaan Gangguan Sendi Temporomandibula
1. Peneliti melakukan wawancara di dalam Ruang Kelas FKG USU pada subjek yang sudah setuju dan menandatangani informed consent.
2. Wawancara kepada subjek dilakukan dengan menggunakan pertanyaan berdasarkan Helkimo’s Anamnestic Index yang terdiri dari 10 pertanyaan. 10 pertanyaan tersebut mengenai sulit atau tidaknya membuka dan menggerakkan mulut, nyeri pada otot saat mengunyah, frekuensi sakit kepala, nyeri pada leher atau bahu, nyeri pada area telinga, bunyi pada daerah sendi, mengunyah disatu sisi, dan nyeri pada wajah di pagi hari. Setiap pertanyaan memiliki 3 pilihan jawaban yaitu Tidak (Skor 0), Kadang-kadang (Skor 1), dan Ya (Skor 2). Penarikan kesimpulan pasien memiliki gangguan STM berdasarkan total skor dari semua pertanyaan.
• Tidak ada gangguan STM : Skor 0-3
• Gangguan STM ringan : Skor 4-8
• Gangguan STM sedang : Skor 9-14
• Gangguan STM parah : Skor 15-23
Kesimpulan dari hasil wawancara menggunakan 10 pertanyaan Helkimo’s Anamnestic Index adalah pasien dengan skor 0-3 disimpulkan tidak memiliki gangguan STM sedangkan pasien dengan skor 4-23 disimpulkan mengalami gangguan STM.
3. Subjek kemudian dibawa ke Departemen Prostodonsia untuk dilakukan pemeriksaan STM.
4. Subjek diinstruksikan duduk di dental unit untuk dilakukan pemeriksaan dan kemudian peneliti menjelaskan tahapan pemeriksaan dan semua tahapan pemeriksaan dilakukan pengambilan foto menggunakan kamera digital sebagai dokumentasi.
5. Pemeriksaan pembukaan mulut secara maksimal.
Pertama-tama subjek diinstruksikan untuk duduk dengan nyaman dengan posisi 90o terhadap operator dan subjek diminta untuk memposisikan mandibulanya senyaman mungkin. Kemudian subjek diinstruksikan untuk membuka mulut selebar mungkin. Peneliti kemudian mengukur jarak dari insisal gigi anterior maksila ke insisal gigi anterior mandibula dengan menggunakan kaliper digital. (Gambar 4).
• Normal : Jarak pengukuran ≥ 40 mm
• Gangguan pembukaan ringan : Jarak pengukuran 30-39 mm
• Gangguan pembukaan parah : Jarak pengukuran < 30 mm
Gambar 4 : Pemeriksaan pembukaan mulut
6. Pemeriksaan gangguan fungsi sendi temporomandibula
Pemeriksaan fungsi STM meliputi adanya bunyi dan deviasi mandibula ketika gerakan membuka dan menutup mulut. Pemeriksaan bunyi pada STM diperiksa dengan stetoskop pada daerah persendian untuk mendeteksi adanya bunyi klik atau krepitasi. Bunyi tersebut diperiksa saat pembukaan rahang dan penutupan rahang,
serta dicatat apakah terdapat satu kali bunyi atau bunyi yang berulang. Deviasi didefinisikan sebagai displacement mandibula dari garis vertikal imajiner saat mandibula membuka kurang lebih setengah dari pembukaan maksimal. Garis vertikal imajiner ini teletak pada midline rahang saat mulut tertutup
7. Pemeriksaan otot dan sendi dengan palpasi.
Subjek diinstruksikan untuk memposisikan mandibula senyaman mungkin.
Kemudian lakukan palpasi pada otot masetter, temporalis, pterigoid lateral, pterigoid medial dan digastrikus. Palpasi pada daerah STM dilakukan pada daerah lateral (lateral pole) dan posterior (posterior attachment).
1. Palpasi otot mastikasi (Gambar 5)
a. Otot temporalis posterior : berada disamping telinga
b. Otot temporalis medial : berada 4-5 cm di sebelah lateral alis mata.
c. Otot temporalis anterior : berada pada daerah infratemporal fossa atau diatas prosesus zygomatikus.
d. Origo of masseter : berada 1 cm di depan STM dan di bawah prosesus zygomatikus.
e. Body of masseter : mulai dari prosesus zygomatikus sampai ke angulus mandibula.
f. Insersi of masseter : berada 1 cm diatas (superior) angulus mandibula pada bagian anterior.
g. Region submandibula (pertigoid medial) berada 2 cm dari bagian anterior angulus mandibula.
h. Pterigoid lateral : berada pada bagian lateral alveolar ridge di atas molar maksila kemudian kearah distal.
a b c
d e f
g h
Gambar 5 : Palpasi otot pengunyahan. (a) Temporalis posterior, (b) Temporalis medial, (c) Temporalis anterior, (d) origo masseter. (e) body masseter, (f) Insersi masseter, (g) Pterigoid medial, (h) Pterigoid lateral
2. Palpasi daerah persendian (Gambar 6)
a. Lateral Pole : berada di anterior tragus atau sekitar 5 mm dari depan lubang telinga.
b. Posterior attachment : dipalpasi dengan memposisikan jari kelingking ke dalam lubang telinga pada daerah external meatus kemudian memposisikannya ke depan sehingga akan terasa pergerakan sendi terjadi pembukaan mulut.
Gambar 6 : Palpasi daerah sendi 8. Pemeriksaan nyeri pada saat pergerakan.
Subjek diinstruksikan untuk membuka mulut secara maksimal. Subjek diinstruksikan untuk menggerakkan mandibula ke lateral kiri dan kanan serta memprotrusikan mandibula. Peneliti mencatat apakah ada nyeri yang dirasakan subjek (Gambar 7).
a b
Gambar 7 : Pemeriksaan nyeri pada saat pergerakan rahang ke protrusi (a) dan lateral (b)
9. Penelitian terhadap pemeriksaan klinis dilakukan berdasarkan Helkimo’s index.
Penilaian dilakuan dengan 3 kategori yaitu Normal (Skor 0), Ringan (Skor 1), Berat (Skor 5). Kesimpulan ada atau tidak gangguan STM dilakukan berdasarkan jumlah skor dari hasil pemeriksaan:
Tidak ada gangguan STM : Skor 0 Gangguan STM ringan : Skor 1-4 Gangguan STM sedang : Skor 5-9 Gangguan STM berat : Skor 10-25
B. Pemeriksaan Kebiasaan Parafungsional
1. Peneliti mewawancarai subjek menggunakan kuesioner tentang kebiasaan buruk.
2. Peneliti melihat kondisi gigi geligi apakah terjadi atrisi pada permukaan oklusal gigi untuk melihat tanda kebiasaan clenching dan grinding (Gambar 8) dan peneliti melihat kuesioner dan melakukan wawancara untuk memeriksa kebiasaan menopang dagu, menggigit kuku dan mengunyah permen karet
a b
Gambar 8: Gambaran klinis penderita clenching (a) dan grinding (b) Setelah data diperoleh maka dilakukan tabulasi dan pengolahan data.
3.7 Analisis Data
Data akan diolah menggunakan program komputerisasi. Data yang bersifat deskriptif akan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi deskriptif. Untuk data yang bersifat analitik yaitu mencari hubungan antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan STM, maka akan digunakan uji chi-square untuk melihat signifikansinya (p<0.05). Uji chi-square merupakan uji untuk melihat hubungan dua variabel nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel nominal lainnya.
3.8 Kerangka Operasional
Observasi terhadap mahasiswa di FKG USU stambuk 2014-2017
Mengurus surat ijin penelitian ke Komisi Etik di Bidang Kesehatan
Mengurus surat ijin penelitian di Departemen Prostodonsia ke Ketua Departemen Prostodonsia
Mengeksklusikan subjek dari populasi menggunakan kuesioner
Subjek penelitian
Penjelasan dan penandatanganan Informed Consent Wawancara dan pengisian kuesioner
Pemeriksaan subjek penelitian di Departemen Prostodonsia
Pemeriksaan gangguan sendi temporomandibula
Pemeriksaan kebiasaan parafungsional
Pengisian Lembar Pemeriksaan
Tabulasi Data
Analisis Data
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Prevalensi Kebiasaan Parafungsional pada Mahasiswa FKG USU Subjek pada penelitian ini berjumlah 115 orang yang terdiri dari 29 (25,2%) responden dengan jenis kelamin laki-laki dan 86 (74,8%) perempuan. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan kuesioner, dari 115 responden diketahui terdapat 22 (19,1%) responden tidak memiliki kebiasaan parafungsional, sementara 93 (80,9%) memiliki kebiasaan parafungsional (Tabel 5).
Tabel 5. Karakteristik responden Variabel
Jenis Kelamin Kebiasaan Parafungsional
Laki-Laki Perempuan Ada Tidak Ada
n % n % n % n %
Jumlah 29 25,2 86 74,8 93 80,9 22 19,1
Adapun kebiasaan parafungsional yang dimiliki oleh responden adalah 12 (10,4%) responden memiliki kebiasaan clenching, 5 (4,2%) grinding, 19 (16,5%) menggigit kuku, 25 (21,7%) mengunyah permen karet, 32 (27,8%) menopang dagu, dan 22 (19,1%) tidak memiliki kebiasaan parafungsional (Tabel 6).
Tabel 6. Prevalensi kebiasaan parafungsional pada mahasiswa FKG USU
Kebiasaan Parafungsional n %
Clenching 12 10,4
Grinding 5 4,2
Menggigit Kuku 19 16,5
Mengunyah Permen Karet 25 21,7
Menopang Dagu 32 27,8
Tidak Ada Kebiasaan 22 19,1
Jumlah 115 100
4.2 Prevalensi Gangguan Sendi Temporomandibula pada Mahasiswa FKG USU Berdasarkan Wawancara dan Pemeriksaan Klinis
Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan bantuan kuesioner sesuai Helkimo’s Anamnestic Index dan pemeriksaan secara klinis sesuai dengan Helkimo’s Clinical Dysfunction Index. Berdasarkan hasil wawancara menggunakan Helkimo’s Anamnestic Index diketahui sebanyak 41 (35,7%) responden mengalami gangguan STM dan 74 (66%) responden tidak mengalami gangguan STM. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dengan menggunakan Helkimo’s Clinical Dysfunction Index, diketahui sebanyak 96 (83,4%) responden mengalami gangguan STM dan 19 (16,6%) responden tidak mengalami gangguan STM (Tabel 7).
Tabel 7. Prevalensi gangguan sendi temporomandibula pada mahasiswa FKG USU berdasarkan wawancara dan pemeriksaan klinis
4.3 Prevalensi Gangguan Sendi Temporomandibula Berdasarkan Kebiasaan Parafungsional pada Mahasiswa FKG USU
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 22 responden yang tidak memiliki kebiasaan parafungsional, 13 (59,1%) responden tidak mengalami gangguan STM dan 9 (40,9%) responden mengalami gangguan STM. Dari 93 responden yang memiliki kebiasaan parafungsional, 28 (30,1%) responden tidak mengalami gangguan STM dan 65 (69,9%) responden mengalami gangguan STM.
Sedangkan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis terhadap 22 responden yang tidak memiliki kebiasaan parafungsional, 16 (72,7%) responden tidak mengalami gangguan STM dan 6 (27,3%) responden mengalami gangguan STM. Dari 93 responden yang memiliki kebiasaan parafungsional, 90 (96,8%) responden mengalami gangguan STM dan 3 (3,2%) responden tidak mengalami gangguan STM (Tabel 8).
Tabel 8. Prevalensi gangguan sendi temporomandibula berdasarkan kebiasaan parafungsional pada mahasiswa FKG USU berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan klinis Berdasarkan hasil wawancara terhadap 115 responden, dari 12 responden yang memiliki kebiasaan clenching, 11 (91,7%) responden diantaranya mengalami gangguan STM, sementara 1 (8,3%) responden tidak mengalami gangguan STM.
Sedangkan dari 5 responden yang memiliki kebiasaan grinding, 4 (80%) responden mengalami gangguan STM dan 1 (20%) responden tidak mengalami gangguan STM.
Selanjutnya, dari 19 responden yang memiliki kebiasaan menggigit kuku, 11 (57,9%) responden mengalami gangguan STM dan 8 (42,1%) responden tidak mengalami gangguan STM. Kemudian, dari 25 responden yang memiliki kebiasaan mengunyah permen karet, 16 (64%) responden mengalami gangguan STM dan 9 (36%) responden tidak mengalami gangguan STM. Selanjutnya, dari 32 responden yang memiliki kebiasaan menopang dagu, 23 (71,9%) responden mengalami gangguan STM dan 9 (28,1%) responden tidak mengalami gangguan STM (Tabel 9).
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis terhadap 115 responden maka diperoleh data, dari 12 responden yang memiliki kebiasaan clenching, 12 (100%) responden mengalami gangguan STM dan tidak ada responden tidak mengalami gangguan STM. Sedangkan dari 5 responden yang memiliki kebiasaan grinding, 5 (100%) responden mengalami gangguan STM dan tidak ada responden tidak mengalami gangguan STM. Selanjutnya, dari 19 responden yang memiliki kebiasaan menggigit kuku, 18 (94,7%) responden mengalami gangguan STM dan 1 (5,3%) responden tidak mengalami gangguan STM. Kemudian, dari 25 responden yang memiliki kebiasaan mengunyah permen karet, 25 (100%) responden mengalami gangguan
STM dan tidak ada responden tidak mengalami gangguan STM. Selanjutnya, dari 32 responden yang memiliki kebiasaan menopang dagu, 30 (93,8%) responden mengalami gangguan STM dan 2 (6,2%) responden tidak mengalami gangguan STM (Tabel 10).
Tabel 9. Prevalensi gangguan sendi temporomandibula dengan metode wawancara berdasarkan kebiasaan parafungsional pada mahasiswa FKG USU.
Gangguan
Tabel 10. Prevalensi gangguan sendi temporomandibula dengan pemeriksaan klinis berdasarkan kebiasaan parafungsional pada mahasiswa FKG USU.
4.4 Prevalensi Tanda Gangguan Sendi Temporomandibula pada Mahasiswa FKG USU yang Memiliki Kebiasaan Parafungsional
Berdasarkan seluruh kebiasaan parafungsional terlihat tanda yang paling banyak ditemukan adalah gangguan fungsi STM yaitu 83,3% pada clenching, 100%
pada grinding, 73,6% pada menggigit kuku, 88% pada mengunyah permen karet dan 78,1% pada menopang dagu (Tabel 11).
Tabel 11. Distribusi frekuensi tanda gangguan sendi temporomandibula pada mahasiswa FKG USU yang memiliki kebiasaan parafungsional
Tanda
4.5 Hubungan Antara Gangguan Sendi Temporomandibula dengan Kebiasaan Parafungsional pada Mahasiswa FKG USU
Untuk antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan STM berdasarkan wawancara digunakan uji statistik chi-square. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh hasil berupa adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan STM berdasarkan wawancara dengan p=0.011 (p<0.05) (Tabel 12).
Tabel 12. Hubungan antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan sendi temporomandibula berdasarkan wawancara pada mahasiswa FKG USU Gangguan sendi
Keterangan : * : Hubungan signifikan (p<0.05)
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi-square test diperoleh hasil berupa adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan STM berdasarkan wawancara dengan p=0.0001 (p<0.05) (Tabel 13).
Tabel 13. Hubungan antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan sendi temproomandibula berdasarkan pemeriksaan klinis pada mahasiswa FKG USU
Keterangan : * : Hubungan signifikan (p<0.05)
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi-square test diperoleh hasil berupa adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan clenching (p=0.004) dan menopang dagu (p=0.023) dengan gangguan STM berdasarkan wawancara (p<0.05).
Sementara kebiasaan grinding (p=0.114), menggigit kuku (p=0.278) dan mengunyah permen karet (p=0.113) tidak memiliki hubungan dengan gangguan STM berdasarkan wawancara (p>0.05) (Tabel 14).
Tabel 14. Hubungan antara masing-masing kebiasaan parafungsional dengan gangguan sendi temporomandibula berdasarkan wawancara pada mahasiswa FKG USU
Keterangan : * : Hubungan signifikan (p<0.05)
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi-square test diperoleh hasil berupa adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan clenching (p=0.0001), grinding (p=0.003), menggigit kuku (p=0.0001), mengunyah permen karet
(p=0.0001) dan menopang dagu (p=0.0001) dengan gangguan STM berdasarkan pemeriksaan klinis (p<0.05) (Tabel 15).
Tabel 15. Hubungan antara masing-masing kebiasaan parafungsional dengan gangguan sendi temproomandibula berdasarkan pemeriksaan klinis pada mahasiswa FKG USU
Kebiasaan Gangguan STM
Ada Tidak Ada p
Clenching 12 0 0.0001*
Grinding 5 0 0.003*
Menggigit Kuku 18 1 0.0001*
Mengunyah Permen Karet 25 0 0.0001*
Menopang Dagu 30 2 0.0001*
Keterangan : * : Hubungan signifikan (p<0.05)
BAB 5
PEMBAHASAN
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional. Penelitian ini merupakan studi deskriptif untuk melihat prevalensi gangguan STM pada mahasiswa FKG USU, prevalensi tanda gangguan STM pada mahasiswa FKG USU yang memiliki kebiasaan parafungsional dan melihat hubungan antara kebiasaan parafungsional dengan gangguan STM.
Wawancara dan pemeriksaan telah dilakukan pada 115 mahasiswa FKG USU yang berusia 17-22 tahun, dimana terdapat 29 laki-laki dan 86 perempuan yang dipilih menggunakan sistem simple random sampling dengan melakukan undian pada mahasiswa yang memenuhi kriteria penelitian. Wawancara dan pemeriksaan klinis dilakukan untuk mendapatkan data kebiasaan parafungsional dan gangguan STM.
Data yang diperoleh diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel.
5.1 Prevalensi Kebiasaan Parafungsional pada Mahasiswa FKG USU Pada penelitian ini, prevalensi mahasiswa yang memiliki kebiasaan parafungsional diperoleh melalui wawancara dan pemeriksaan klinis. Berdasarkan wawancara dan pemeriksaan klinis diperoleh prevalensi mahasiswa yang memiliki kebiasaan parafungsional sebesar 80,9% sedangkan prevalensi mahasiswa yang tidak memiliki kebiasaan parafungsional sebesar 19,1%. Hasil penelitian ini sesuai dengan Carolline dkk (2016) yang mengatakan bahwa prevalensi kebiasaan parafungsional pada remaja adalah 78,3%.3 Winocur dkk (2006) mengatakan bahwa kebiasaan parafungsional sangat umum terjadi pada remaja dan dewasa.51
Dari 115 responden diperoleh kebiasaan clenching dimiliki oleh 12 (10,4%) responden. Prevalensi ini mendekati hasil penelitian yang dilakukan oleh BDO Saheeb (2005) yang mengatakan bahwa prevalensi kebiasaan clenching adalah 17,2%.9 Namun prevalensi kebiasaan clenching pada penelitian ini lebih rendah
dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Carolline dkk (2016), Fabiane dkk (2014) dan Agarwal dkk (2016), dimana pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa prevalensi kebiasaan clenching pada remaja dan dewasa sekitar 23,3% sampai 68,4%.3,5,15
Hasil penelitian menunjukkan 5 (4,2%) responden memiliki kebiasaan grinding. Prevalensi tersebut mendekati penelitian Ferreira dkk (2014), dimana penelitian tersebut menunjukkan bahwa prevalensi kebiasaan grinding pada remaja berusia rata-rata 20,5 tahun adalah 12,9%.5 Penelitian ini juga mendekati penelitian Seraj dkk (2009), BDO Saheeb (2005) dan Carolline dkk (2016) yang mengatakan bahwa prevalensi kebiasaan grinding pada remaja dan dewasa sekitar 13,8% sampai 17,8%.3,9,10
Hasil penelitian menunjukkan 19 (16,5%) responden memiliki kebiasaan menggigit kuku. Prevalensi ini sedikit lebih rendah dengan penelitian yang dilakukan oleh Ghanizadeh (2011), BDO Saheeb (2005), Carolline dkk (2016), Agarwal dkk (2016) yang mengatakan bahwa prevalensi kebiasaan menggigit kuku pada remaja dan dewasa sekitar 21,5% sampai 88,3%.3,9,15,50
Hasil penelitian menunjukkan 25 (21,7%) responden memiliki kebiasaan mengunyah permen karet. Prevalensi ini lebih rendah dengan penelitian yang telah dilakukan oleh BDO Saheeb (2005) dan Carolline dkk (2016) yang mendapatkan prevalensi kebiasaan mengunyah permen karet berjumlah sekitar 24,1% sampai 65,9%.3,9
Hasil penelitian menunjukkan 32 (27,8%) responden memiliki kebiasaan menopang dagu. Prevalensi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan BDO Saheeb (2005) dan Carolline dkk (2016) yang mendapatkan prevalensi kebiasaan menopang dagu antara 46,6% sampai 58,6%.3,9
Prevalensi kebiasaan menopang dagu merupakan kebiasaan yang paling banyak dialami oleh responden. Tingginya prevalensi tersebut didukung oleh penelitian Winocur dkk (2006), penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menopang dagu merupakan kebiasaan yang banyak dimiliki remaja dan dewasa.
Kebiasaan menopang dagu yang tinggi disebabkan karena faktor psikologis.51
Dimana menurut penelitian Soukaina dkk (2007), mahasiswa di fakultas kesehatan memiliki beban studi yang lebih besar, sehingga mengakibatkan mahasiswa di fakultas kesehatan mengalami tekanan psikologi yang lebih besar dan mengalami kecemasan.7
5.2 Prevalensi Gangguan Sendi Temporomandibula pada Mahasiswa FKG USU Berdasarkan Wawancara dan Pemeriksaan Klinis
Pada penelitian ini diperoleh perbedaan prevalensi responden yang mengalami gangguan STM berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan klinis. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh prevalensi responden yang mengalami gangguan STM sebesar 64,3% sedangkan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis diperoleh prevalensi responden yang mengalami gangguan STM sebesar 83,5%. Hasil penelitian ini lebih tingi dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Roben (2016) di FKG USU, dimana pada hasil penelitian tersebut ditemukan sebanyak 44% responden yang mengalami gangguan STM berdasarkan hasil wawancara dan sebanyak 74%
responden mengalami gangguan STM berdasarkan hasil pemeriksaan klinis.61
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fabianne dkk (2014) yang menunjukkan bahwa gangguan STM umumnya terjadi pada populasi yang berusia diantara 17 sampai 34 tahun.5 Hasil penelitian Fernandes dkk (2013) menunjukkan bahwa gangguan STM lebih tinggi pada remaja dan dewasa karena faktor puberitas yang dialami, dimana faktor hormon juga mempunyai peran penting dalam etiologi dari gangguan STM.2 Jumlah responden yang berjenis kelamin perempuan yang lebih banyak pada penelitian ini juga mengakibatkan prevalensi gangguan STM lebih tinggi. Penelitian Auh dkk (2016) mengatakan bahwa tingginya insiden gangguan STM pada perempuan dipengaruhi oleh perubahan hormon yang terjadi pada siklus menstruasi.33 Menurut Okeson (2008), pada masa menstruasi terjadi peningkatan aktivitas EMG yang menimbulkan peningkatan sensitivitas nyeri sehingga masa premenstruasi berhubungan dengan terjadinya gejala gangguan STM.
Selain itu adanya keberadaan hormon esterogen yang tinggi pada wanita merupakan hal yang penting dalam gangguan STM. Hormon esterogen merupakan faktor penting
dalam patogenesis nyeri karena perubahan jumlah hormon esterogen dapat mengubah transmisi nosiseptif.17
Jika dibandingkan data hasil pemeriksaan menggunakan wawancara dengan pemeriksaan klinis terlihat data dari hasil pemeriksaan klinis menunjukkan prevalensi gangguan STM yang lebih besar. Perbedaan hasil ini disebabkan karena pasien sering tidak menyadari adanya tanda dan gejala gangguan STM seperti bunyi kliking, krepitasi dan juga deviasi mandibula. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada populasi di Asia dan Kaukasoid dengan cara wawancara diperoleh data subjek yang mengakui dan sadar adanya bunyi pada STM sebesar 6-30%, adanya nyeri pada daerah rahang 3-33% dan 4-10% melaporkan adanya kesulitan membuka rahang.59 Hasil ini menunjukkan bahwa teknik diagnosa menggunakan wawancara kurang efisien. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gaphor dan Hameed (2013) menunjukkan bahwa pasien yang sering malu untuk mengakui adanya keluhan yang mereka alami pada saat dilakukan wawancara sehingga membuat hasil anamnesa menjadi tidak akurat.60 Maka pemeriksaan klinis dianggap sebagai cara mendiagnosa gangguan STM yang lebih objekif dan akurat sehingga hasil pemeriksaan klinis digunakan sebagai sumber data untuk melakukan uji statistik.
5.3 Prevalensi Gangguan Sendi Temporomandibula Berdasarkan Kebiasaan Parafungsional Pada Mahasiswa FKG USU
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 22 responden yang tidak memiliki kebiasaan parafungsional, 13 (59,1%) diantaranya tidak mengalami gangguan STM, sementara 9 (40,9%) mengalami gangguan STM. Dari 93 responden yang memiliki kebiasaan parafungsional, 28 (30,1%) diantaranya tidak mengalami gangguan STM.
sementara 65 (69,9%) responden mengalami gangguan STM.
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis terhadap 22 responden yang tidak memiliki kebiasaan parafungsional, 16 (72,7%) diantaranya tidak mengalami gangguan STM, sementara 6 (27,3%) mengalami gangguan STM. Dari 93 responden yang memiliki kebiasaan parafungsional, 90 (96,8%) responden mengalami gangguan STM, sementara 3 (3,2%) responden tidak mengalami gangguan STM.
Prevalensi gangguan STM pada subjek yang memiliki kebiasaan parafungsional menunjukkan jumlah yang besar, terutama hasil pemeriksaan klinis.
Tingginya prevalensi ini disebabkan kebiasaan parafungsional merupakan etiologi yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan STM.3,5,9,15 Menurut penelitian Carolline dkk (2016) yang menggunakan metode wawancara menunjukkan bahwa 87,2% dari responden yang memiliki kebiasaan parafungsional mengalami gangguan STM, sedangkan 12,8% responden tidak mengalami gangguan STM.3 Penelitian dari Agarwal dkk (2016) menunjukkan bahwa kebiasaan parafungsional memiliki korelasi dengan gangguan STM berdasarkan wawancara. Pada penelitian yang dilakukannya menunjukkan 78,6% responden yang memiliki kebiasaan parafungsional mengalami gangguan STM, sedangkan 21,4% responden tidak mengalami gangguan STM.15 Penelitian menggunakan metode pemeriksaan klinis telah dilakukan oleh BDO Saheeb (2005), hasil penelitian tersebut menunjukkan 89,7% responden yang memiliki kebiasaan parafungsional mengalami gangguan STM, sedangkan 10,3%
responden tidak mengalami gangguan STM.9
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 115 responden, dari 12 responden yang memiliki kebiasaan clenching, 11 (91,7%) responden mengalami gangguan STM, sementara 1 (8,3%) responden tidak mengalami gangguan STM. Dari 5 responden yang memiliki kebiasaan grinding, 4 (80%) responden mengalami gangguan STM dan 1 (20%) responden tidak mengalami gangguan STM. Dari 19 responden yang memiliki kebiasaan menggigit kuku, 11 (57,9%) responden mengalami gangguan STM dan 8 (42,1%) responden tidak mengalami gangguan STM. Dari 25 responden yang memiliki kebiasaan mengunyah permen karet, 16 (64%) responden mengalami gangguan STM dan 9 (36%) responden tidak mengalami gangguan STM. Dari 32 responden yang memiliki kebiasaan menopang dagu, 23 (71,9%) responden mengalami gangguan STM dan 9 (28,1%) responden tidak mengalami gangguan STM.
Hasil penelitian tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian yang menggunakan metode yang sama oleh Agarwal dkk (2016) dan Carolline dkk (2016). Pada penelitian tersebut menunjukkan prevalensi responden
yang memiliki kebiasaan clenching dan mengalami gangguan STM sebanyak 93,3%
dan 96,7%. Prevalensi responden yang memiliki kebiasaan grinding dan mengalami gangguan STM sebanyak 86,9%. Prevalensi responden yang memiliki kebiasaan menggigit kuku dan mengalami gangguan STM sebanyak 89,2% dan 73,68%.
Prevalensi responden yang memiliki kebiasaan mengunyah permen karet dan
Prevalensi responden yang memiliki kebiasaan mengunyah permen karet dan