BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.4 Manfaat Penelitian
2.1.3 Etiologi Overweight
Penyebab mendasar dari overweight dan obesitas ialah kelebihan asupan energi dalam makanan dibandingkan pengeluaran energi. Jika seseorang diberi
makan diet tinggi kalori dalam jumlah tetap, sebagian mengalami pertambahan
overweight cepat dari yang lain, tetapi pertambahan berat badan yang lebih lambat disebabkan oleh peningkatan pengeluaran energi dalam bentuk gerakan kecil yang
gelisah (Nonexercise Activity Thermogenesis; NEAT) (Ganong, 2008).
Kegemukan dapat terjadi jika konsumsi kilokalori berlebihan
dibandingkan dengan yang digunakan untuk menunjang kebutuhan energi tubuh.
Sehingga kelebihan tersebut disimpan sebagai trigliserida di jaringan lemak.
Seorang manusia dewasa dapat memiliki sekitar 40 milyar hingga 50 milyar
adiposit dan setiap sel lemak mampu menampung 1,2 μg trigliserida. Jumlah ini
akan terus mengalami peningkatan seiring jumlah kalori yang dikonsumsi
(Sherwood, 2011). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mujur (2011)
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian
overweight di SMA N 4 Semarang (p=0,005). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Supeni dan Asmayuni pada tahun 2007 di Kota Padang Panjang juga
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan kalori
12 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
karbohidrat menyumbang sebanyak 58% (lebih rendah daripada yang dianjurkan
yaitu sebesar 60%-65%), lemak menyumbang sebanyak 29% (lebih besar dari
yang dianjurkan yaitu sebesar 20%-25%) dan asupan protein menyumbang
sebanyak 14% (masih dalam batas yang dianjurkan yaitu 10%-15%).
Overweight terjadi jika aktivitas fisik yang dilakukan lebih sedikit dibandingkan dengan asupan kalori yang dikonsumsi. Hasil penelitian yang
dilakukan Hudha (2006) menunjukkan bahwa responden yang kurang melakukan
aktivitas fisik cenderung untuk mengalami kelebihan berat badan. Sebuah
penelitian lain yang dilakukan Rahmadani et al., pada tahun 2014 (p=0,000) juga menunjukkan hasil yang sama yaitu, terdapat hubungan positif yang signifikan
antara perilaku sedentari (aktivitas fisik yang sangat kurang) dengan kejadian
overweight pada remaja di SMA Katolik Cendrawasih Makassar. Siswa yang sering melakukan aktivitas sedentari (78,6%) cenderung mengalami overweight
(50,9%).
Berikut ini adalah komponen makanan yang berperan menyebabkan
peningkatan jumlah lemak (adiposit) di dalam tubuh pada kondisi gizi lebih dan
diet yang tidak seimbang :
2.1.3.1Lemak
Diet kaya lemak dapat menyebabkan konsumsi energi secara berlebihan
dan keseimbangan energi menjadi positif. Lemak dalam makanan yang
kebanyakan berbentuk triasilgliserol (trigliserida) dapat menghasilkan 9
kkal/g. Ini adalah jumlah kalori tertinggi di antara yang dapat dihasilkan
oleh jenis asupan makanan lainnya. Triasilgliserol yang masuk ke lambung
13 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
oleh garam empedu, lalu dicerna oleh lipase pankreas menghasilkan
2-monoasilgliserol dan asam lemak yang dikemas dalam misel untuk diserap
oleh vili-vili usus. Kemudian 2-monoasilgliserol dan asam lemak
bergabung kembali menjadi triasilgliserol lalu bersama protein dan
fosfolipid dikemas menjadi kilomikron (lipoprotein). Kilomikron
disekresikan ke dalam kilus sistem limfatik dan masuk ke dalam darah
melalui duktus torasikus. Triasilgliserol pada kilomikron dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) dicerna oleh LPL (Lipoprotein Lipase) menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak ini akan masuk ke dalam otot untuk
selanjutnya dioksidasi menjadi energi dan CO2 + H2O sedangkan gliserol
dapat digunakan untuk membentuk triasilgliserol di dalam hati dalam
keadaan kenyang. Sisa asam lemak bebas yang tidak digunakan untuk
membentuk energi akan diserap oleh jaringan adiposa dan disimpan
sebagai trigliserida kembali (Marks et. al, 2000). 2.1.3.2Karbohidrat
Mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat akan memicu insulin untuk
merangsang penyaluran glukosa ke dalam hati dan otot. Hati akan
mengoksidasi glukosa untuk memenuhi kebutuhan energi. Kelebihan
glukosa disimpan di hati dalam bentuk glikogen dan glukosa diubah
menjadi asam lemak dan menjadi gugus gliserol yang bereaksi dengan
asam lemak untuk menghasilkan gliserol, proses ini dinamakan
lipogenesis. Triasilgliserol ini dikemas dalam VLDL lalu dikeluarkan ke
14 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
dalam bentuk trigliserida. Glukosa juga dapat disimpan dalam bentuk
glikogen di hati dan otot pada saat istirahat (Marks et. al, 2000). 2.1.3.3Alkohol
Alkohol dapat menyebabkan asupan energi berlebihan jika dikonsumsi
sebagai tambahan makanan normal (Barasi, 2007). Alkohol dioksidasi
menjadi CO2 dan H2O dalam tubuh dan menghasilkan energi sekitar 7
kkal/g, lebih besar daripada karbohidrat tetapi lebih kecil daripada lemak.
Alkohol dioksidasi menjadi asetaldehida terutama oleh ADH (alkohol
dehidrogenase) di dalam mitokondria. Etanol pada konsentrasi tinggi juga
dapat dioksidasi oleh MEOS (Microsomal Ethanol Oxidizing System). Efek dari proses ini dapat berdampak pada peningkatan pembentukan
triasilgliserol. Penimbunan triasilgliserol di dalam hati dapat menyebabkan
perlemakan hati sedangkan triasilgliserol yang disekresikan ke luar hati
dalam bentuk VLDL (Very Low Density Lipoprotein) akan dicerna oleh LPL (Lipoprotein Lipase) menjadi asam lemak. Asam lemak ini bisa
diserap oleh adiposa dan disimpan sebagai trigliserida (Marks et. al, 2000).
Pada orang yang mengalami berat badan yang berlebihan terjadi
keseimbangan energi positif. Pada saat jumlah energi dalam makanan yang masuk
lebih besar daripada jumlah energi yang dikeluarkan untuk kerja eksternal dan
fungsi internal, maka kelebihan energi tersebut akan disimpan di dalam tubuh,
terutama sebagai jaringan lemak, sehingga berat tubuh bertambah. Sebaliknya,
15 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
keseimbangan energi netral dicapai jika energi yang masuk sebanding dengan
energi yang digunakan (Sherwood, 2011).
Beberapa penyebab yang diduga mungkin terlibat dalam terjadinya
overweight antara lain(Sherwood, 2011) :
- Pembentukan sel lemak dalam jumlah berlebihan
Sekali terbentuk, sel lemak tidak akan lenyap dengan pembatasan makan
dan usaha penurunan berat badan. Trigliserida dapat menghilang dari sel
lemak ketika seseorang melakukan diet, namun sel-sel lemak ini akan
senantiasa siap untuk diisi kembali oleh trigliserida saat seseorang berhenti
dari program dietnya. Karena itu, rebound setelah penurunan berat badan sulit dihindari.
- Gangguan jalur sinyal leptin
Leptin adalah suatu hormon yang esensial bagi regulasi berat tubuh. Defek
dapat terjadi pada reseptor leptin di otak yang tidak berespon terhadap
tingginya kadar leptin darah yang berasal dari jaringan lemak yang
banyak. Defek lain yang mungkin terjadi adalah gangguan transpor leptin
menembus sawar darah otak atau defisisensi salah satu pembawa pesan
kimiawi di jalur leptin. Sehingga otak tidak mendeteksi leptin tersebut
sebagai sinyal untuk menurunkan nafsu makan. Hal ini akan memicu
penimbunan lemak terus menerus di dalam tubuh yang berakibat
terjadinya kelebihan berat badan.
- Kurang olahraga
Saat ini seseorang harus melakukan olahraga atas keinginan sendiri karena
16 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
penyebabnya adalah teknologi yang banyak menggantikan sebagian besar
kerja fisik. Tingkat aktivitas yang sangat rendah ini biasanya tidak disertai
penurunan asupan makanan. Sehingga menjadi risiko penyebab terjadinya
kelebihan berat badan.
- Perbedaan “fidget factor” (Non Exercise Activity Thermogenesis/NEAT) Fidget factor adalah energi yang dikeluarkan oleh aktivitas fisik di luar olahraga yang direncanakan. Orang yang sering mengetuk-ngetukkan kaki
atau jenis aktivitas fisik spontan berulang menghabiskan kilokalori yang
cukup besar sepanjang hari tanpa mereka sadari.
- Perbedaan dalam mengekstraksi energi dari makanan
Studi-studi memperlihatkan bahwa orang dengan berat badan ideal
memiliki lebih banyak uncoupling proteins yang memungkinkan sel-sel mereka mengubah lebih banyak kalori nutrien menjadi panas dan bukan
menjadi lemak. Mereka adalah orang yang dapat makan banyak tanpa
bertambah berat badannya. Sebaliknya, orang dengan overweight mungkin memiliki sistem metabolik yang lebih efisien dalam mengekstraksi energi
dari makanan sehingga menyebabkan penimbunan lemak yang lebih
banyak dalam tubuh.
- Keberadaan penyakit endokrin tertentu misalnya hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah defisiensi produksi hormon tiroid. Fungsi hormon
tiroid yaitu meningkatkan Basal Metabolic Rate (BMR) sehingga tubuh membakar kalori lebih banyak saat beristirahat. Pada pasien
hipotiroidisme, hormon tiroid tidak dapat menjalankan perannya secara
17 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
- Ketersediaan makanan yang berlimpah, lezat, padat energi dan relatif
murah.
- Gangguan emosi di mana makan berlebihan menggantikan kepuasan yang
lain.
- Pengaruh Genetik
Pada populasi umum, meskipun cacat gen spesifik belum teridentifikasi
dengan jelas, pengaruh riwayat keluarga jelas menunjukkan peran genetik
sebagai faktor obesitas manusia (Greganti dan Runge, 2009). Menurut
Mustofa (2010) Parentalfatness merupakan faktor genetik yang memiliki peranan besar. Bila kedua orangtua obesitas, 80% anaknya menjadi
obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40%
dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.