• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Skizofrenia

2.1.4. Etiologi Skizofrenia

Penyebab skizofrenia sampai kini belum diketahui secara pasti dan merupakan tantangan riset terbesar bagi pengobatan kontemporer.Telah banyak riset dilakukan dan banyak faktor predisposisi maupun pencetus yang diketahui anatara lain:

2.1.4.1. Faktor genetika

Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat umum 1%, pada orang tua resiko 5%, pada saudara kandung 8% dan pada anak 15%-20% apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua orang tua skizofrenia 30-40%. Pada kembar monozigot 40%-50%, sedangkan untuk kembar dizigot sebesar 5%-10 %. Dari penelitian epidemiologi keluarga terlihat bahwa resiko untuk keponakan adalah 3%, masih lebih tinggi dari populasi umum yang hanya 1%. Demikian juga dari penelitian anak adopsi dikatakan, anak penderita skizofrenia yang diadopsi orang tua normal, tetap mempunyai resiko 16,6%, sebaliknya anak sehat yang diadopsi penderita skizofrenia resiko 1,6%, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin dekat hubungan keluarga biologis semakin tinggi resiko terkena skizofrenia

(Kaplan,1997; Teddy, 2002; Tomb, 2004). 2.1.4.2. Faktor biologis dan biokimia

Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamine yang menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal otak, dan berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya neurotransmiter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamate dan GABA. Selain perubahan yang sifatnya neurokimiawi, penelitian menggunakan CT Scan otak ternyata ditemukan perubahan anatomi otak seperti pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks atau atropi otak kecil (cerebellum), terutama pada penderita kronis skizofrenia (Kaplan,1997; Hawari, 2001; Isaacs, 2005).

2.1.4.3. Faktor psikososial a. Teori perkembangan

Ahli teori seperti Freud, Sullivan, dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan sosial pada penderita skizorenia (Kaplan,1997; Isaacs, 2005).

b. Teori belajar

Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang kemudian menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berfikir irasional orang tua yang mungkin memiliki masalah emosional yang bermakna. Hubungan interpersonal yang buruk dari penderita skizofrenia akan berkembang karena mempelajari model yang buruk selama anak-anak(Kaplan,1997).

Teori-teori yang berkaitan dengan peran keluarga dalam munculnya skizofrenia belum divalidasi dengan penelitian. Bagian fungsi keluarga yang diimplikasikan dalam peningkatan kekambuhan penderita skizofrenia antara lain:

c.1. Faktor keluarga

Faktor keluarga yang dimaksudkan disini adalah faktor stress yang dialami anak dan remaja yang disebabkan kondisi keluarga yang tidak baik antara lain:

c.1.1. Hubungan kedua orang tua yang dingin atau penuh ketegangan

c.1.2. Kedua orang tua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk bersama dengan anak-anak

c.1.3. Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak baik c.1.4. Kedua orang tua berpisah atau bercerai

c.1.5. Kematian salah satu atau kedua orang tua

c.2. Emosi yang diekspresikan atau disingkat EE (Expressed Emotion).

Dimana keluarga sering mengekspresikan emosi secara berlebihan dengan sikap kurang sabar, bermusuhan, pemarah, keras, kasar, kritis dan otoriter. Menurut penelitian (Leff dan Wing), angka relaps dirumah dengan EE rendah dan penderita minum obat teratur sebesar 12%, dengan EE rendah dan tanpa obat 42% sedangkan EE tinggi dan tanpa obat sebesar 92%. Penelitian lain juga mengatakan pemisahan penderita dari EE tinggi memperbaiki angka relaps (Kaplan, 1997; Hawari, 2001; Chandra, 2005).

2.1.4.4. Status sosial ekonomi

Beberapa ahli teori telah menyatakan bahwa industrialisasi, urbanisasi dan status sosial ekonomi yang rendah sangat kuat hubungannya dengan skizofrenia. Itu

sebabnya banyak penderita yang dijumpai pada masyarakat golongan menengah ke bawah. Hal ini juga didukung oleh penelitian Saifullah (2005) di Badan Pelayanan Kesehatan Jiwa Nangroe Aceh Darussalam, bahwa 95,1% penderita relaps berasal dari golongan ekonomi tidak mampu (Kaplan, 1997; UCLA, 1997; Tomb, 2004).

2.1.4.5. Stres

Karena bervariasinya presentasi simtom dan prognosis skizofrenia, maka tidak ada faktor etiologik tunggal yang menyebabkan timbulnya skizofrenia. Ada model yang mengintegrasikan faktor biologis, faktor psikososial dan faktor lingkungan adalah model stress diatesis. Model ini menyatakan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) terhadap stres yang memungkinkan berkembang menjadi simtom skizofrenia (Kaplan, 1997).

Model interaksional yang mengatakan bahwa penderita skizofrenia mempunyai kerentanan genetik dan biologik terhadap stress dan dianggap penyebab utama dalam menentukan onset dan keparahan penyakit (Isaacs, 2005).

2.1.4.6. Kepribadian premorbid

Indikator premorbid (sebelum sakit) pada anak preskizofrenia menurut Nurmiati Amir (2003) antara lain ketidakmampuan anak mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh dan penyimpangan komunikasi seperti anak sulit melakukan pembicaraan terarah. Sedangkan pada remaja perlu diperhatikan kepribadian premorbid seperti kepribadian paranoid atau curiga berlebihan, menganggap semua orang musuh, juga kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri (Ingram, 1995; Amir, 2003; Chandra, 2005).

2.1.4.7.Rokok dan penyalahgunaan napza

Gangguan skizoid dapat dicetuskan atau disebabkan oleh penggunaan kanabis (ganja, gelek, marijuana). Hasil penelitian terhadap 152 subjek episode pertama skizofrenia di West London didapatkan bahwa 60% subjek adalah perokok, 27% ada riwayat penggunaan alkohol, 35% sedang terlibat napza ( tidak termasuk alkohol ), dan 68% adalah pengguna napza selama hidupnya (Kaplan, 1997; Chandra, 2006).

Teori ini digunakan dalam penelitian agar keluarga mengetahui penyebab terjadinya skizofrenia yang dialami oleh anggota keluarganya, sehingga keluarga mampu menangani masalah yang terjadi.

2.1.5. Prognosis

Gejala premorbid merupakan gejala awal dari penyakit dan mulai pada masa remaja diikuti dengan perkembangan gejala prodromal dalam beberapa hari sampai beberapa bulan. Onset gejala yang mengganggu terlihat setelah tercetus oleh perubahan sosial atau lingkungan. Sindrom prodromal dapat berlangsung selama satu tahun atau lebih sebelum onset gejala psikotik yang jelas. Setelah episode psikotik yang pertama, pasien memiliki periode pemulihan yang bertahap diikuti periode fungsi yang relatif normal. Tetapi relaps biasanya terjadi dalam lima tahun pertama setelah diagnosis, diikuti oleh pemburukan lebih lanjut pada fungsi dasar pasien. Perjalanan klasik skizofrenia adalah suatu eksaserbasi dan remisi. Gejala positif dari skizofrenia cenderung lebih baik dibanding dengan gejala negatif yang dapat menimbulkan ketidakmampuan secara sosial (Kaplan, 1997).

Skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronis, pasien secara berangsur-angsur menjadi semakin menarik diri dan tidak berfungsi selama bertahun-tahun. Beberapa penelitian telah menemukan lebih dari periode waktu 5 samapi 10 tahun setelah perawatan psikiatrik pertama kali di rumah sakit jiwa, hanya 10 sampai 20% memiliki hasil yang baik. Lebih dari 50% memiliki hasil buruk dengan perawatan berulang di rumah sakit, eksaserbasi gejala, gangguan mood berat dan ada usaha bunuh diri. Rentang angka pemulihan berkisar 10 sampai 60%, kira-kira 20 sampai 30% dari penderita terus mengalami gejala yang sedang dan 40 sampai 60% dari penderita terus mengalami gangguan secara bermakna seumur hidup (Kaplan, 1997; Tomb, 2004).

2.1.6. Pencegahan dan Pengobatan Skizofrenia