TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Skizofrenia
2.1.6. Pencegahan dan Pengobatan Skizofrenia 1. Pencegahan
Menurut Kusumanto Setyonegoro (1967) pendekatan yang dilakukan dalam pencegahan skizofrenia dapat bersifat “eklektik holistik” yang mencakup tiga pilar yaitu organobiologis, psikoedukatif, dan sosial budaya, dan dari ketiga pilar tersebut dapat diketahui kepribadian seseorang. Dalam melengkapi pendekatan holistik tersebut, Hawari (1993) menambah satu pilar sehingga menjadi empat pilar yaitu organobiologis, psikoedukatif, sosial budaya, dan psikoreligius.
Upaya pencegahan yang dilakukan pada masing-masing pilar dimaksudkan untuk menekan seminimal mungkin munculnya skizofrenia dan kekambuhannya.
a. Organobiologis.
a.1. Bila ada silsilah keluarga menderita skizofrenia sebaiknya menikah dengan keluarga yang tidak ada silsilah skizofrenia
a.2. Walaupun dalam keluarga tidak ada silsilah menderita skizofrenia sebaiknya bila menikah dengan keluarga yang tidak ada silsilah menderita skizofrenia dan merupakan keluarga jauh.
a.3. Sebaiknya penderita atau bekas penderita skizofrenia tidak saling menikah. b. Psikoedukatif.
Beberapa sikap yang harus diperhatikan orang tua dalam membina mental-emosional dan mental-intelektual anak yaitu:
b.1. Sikap pertama adalah kemampuan untuk percaya pada kebaikan orang lain, Erikson (1972) memberikan istilah kepercayaan dasar (basic trust).
b.2. Sikap kedua adalah sikap terbuka. Kalau sikap ini di gabungkan dengan sikap kepercayaan, maka anak akan menjadi terbuka dan terus terang pada orang di sekitarnya. Sikap ini juga akan menciptakan sikap ingin tau dan sikap mau belajar (otonomi dan inisiatif).
b.3. Sikap ketiga adalah anak mampu menerima kata tidak atau kemampuan pengendalian diri terhadap hal-hal yang mengecewakan, kalau tidak anak akan sulit bergaul dan belajar di sekolah.
Keterpaduan ketiga sikap tersebut diatas akan menghasilkan anggota masyarakat baru dan sehat, mempunyai potensi untuk bisa sekolah dan bergaul dengan baik didalam maupun diluar keluarganya tanpa pengawasan serta mampu menyelesaikan konflik baik internal maupun eksternal dalam dirinya.
c. Psikoreligius.
D.B Larson, dkk (1992) dalam penelitiannya yang termuat dalam “Religious
pencegahan agar seseorang tidak mudah jatuh sakit, meningkatkan kemampuan mengatasi penderitaan dan mempercepat penyembuhan. Sementara Snyderman (1996) menyatakan bahwa terapi medis tanpa agama tidak lengkap atau sebaliknya.
d. Psikososial.
Agar tumbuh kembang anak sehat baik fisik, psikologik, sosial dan spiritual, hendaknya diciptakan rumah tangga yang sehat dan bahagia agar supaya kepribadian anak menjadi matang dan kuat sehingga tidak mudah jatuh sakit. Sehubungan dengan hal tersebut N.Stinnet dan J.De Frain (1987) dalam studinya yang berjudul” The
National Study on Family Strength” mengemukakan 6 kriteria membina keluarga yang
sehat dan bahagia yaitu:
d.1. Ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga. d.2. Adakan waktu bersama dalam keluarga.
d.3. Ciptakan hubungan yang baik antar anggota keluarga.
d.4. Keluarga sebagai unit sosial yang terkecil ikatannya harus erat dan kuat, jangan longgar dan rapuh.
d.5. Harus saling harga-menghargai (appresiasi) sesama anggota keluarga.
d.6. Bila keluarga mengalami krisis, maka prioritas utama adalah keutuhan keluarga dan bila diperlukan berkonsultasi dengan ahlinya (marriage counselor) (Hawari, 2001; Vijay, 2005).
2.1.6.2. Pengobatan
Skizofrenia merupakan penyakit yang cenderung berlanjut (kronis atau menahun) maka terapi yang diberikan memerlukan waktu relatif lama berbulan bahkan sampai bertahun, hal ini dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan
(relaps). Terapi yang komprehensif dan holistik telah dikembangkan sehingga penderita skizofrenia tidak lagi mengalami diskriminasi dan lebih manusiawi dibandingkan dengan pengobatan sebelumnya. Adapan terapi yang dimaksud adalah:
a. Psikofarmaka
Obat anti psikotik yang sering disebut dengan neuroleptik ditujukan untuk menghilangkan gejala skizofrenia. Golongan obat psikofarmaka yang sering digunakan di Indonesia (2001) terbagi dua: golongan typical (Largactil, Stelazine, Haldol) dan golongan atypical (Risperdal. Clozaril, Seroquel, Zyprexa). Menutrut Nemeroff (2001) dan Sharma (2001) kelebihan obat atypical antara lain: (1). Dapat menghilangkan gejala positif dan negatif, (2). Efek samping Extra Pyramidal Symptoms (EPS) sangat minimal atau boleh dikatakan tidak ada, (3). memulihkan fungsi kognitif.
Sementara Nasrallah (2001) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pemakaian obat golongan typical sebanyak 30% penderita tidak memperlihatkan perbaikan klinis bermakna, diakui bahwa golongan obat typical hanya mampu mengatasi gejala positif tetapi kurang efektif untuk mengatasi gejala negatif (Kaplan, 1997; Hawari, 2001; Isaacs, 2005).
b. Electro Convulsive Terapy ( ECT )
Electro Convulsive Terapy (ECT) diberikan pada penderita skizofrenia kronik. Tujuannya adalah memperpendek serangan skizofrenia, mempermudah kontak dengan penderita, namun tidak dapat mencegah serangan ulang (Kaplan, 1997; Maramis, 2004; Amir, 2006).
c. Terapi psikososial
Terapi yang berorientasi keluarga sangat berguna dalam pengobatan skizofrenia, karena seringkali pasien dipulangkan dalam keadaan remisi parsial. Ahli terapi harus membantu keluarga dan penderita mengerti skizofrenia, episode psikotik dan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan episode tersebut. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga sangat efektif dalam menurunkan relaps. Demikian juga dengan pendapat Chandra yang mengatakan bahwa penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati dari keluarga, itu sebabnya keluarga perlu menghindari sikap Expressed Emotion (EE) atau reaksi berlebihan terhadap penderita.
c.2. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi penderita skizofrenia dipusatkan pada rencana, masalah dan hubungannya dengan kehidupan nyata dan sangat efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi penderita skizofrenia.
Terapi psikososial ini dimaksudkan agar penderita mampu beradaptasi kembali dengan lingkungan sosialnya dan mampu merawat diri, mandiri dan tidak tergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga. Sebaiknya penderita selama menjalani terapi psikososial masih tetap mengkonsumsi psikofarmaka dan diupayakan untuk tidak menyendiri, tidak melamun dan harus melakukan kesibukan (Kaplan, 1997; Hawari, 2001; Chandra, 2005).
d. Psikoterapi
Merupakan terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan terapi psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai
realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik. Psikoterapi ini bermacam-macam bentuknya antara lain: Psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa. Psikoterapi
re-edukatif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya
memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu. Psikoterapi rekonstruktif
dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh seperti semula sebelum sakit. Psikoterapi kognitif
dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai-nilai moral etika, mana yang baik dan buruk,mana yang boleh dan tidak dan sebagainya. Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri.
Psikoterapi keluarga dimaksudkan untuk memulihkan penderita dan keluarganya
(Kaplan, 1997; Hawari, 2001). e. Terapi psikoreligius
Terapi keagamaan ternyata masih bermanfaat bagi penderita gangguan jiwa. Dari penelitian ternyata didapatkan kenyataan secara umum komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya di bidang klinik. Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa, memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, kajian kitab suci dan lain-lain (Vijay, 2005; Hawari, 2001).
f. Edukasi kepada publik untuk menurunkan stigma dan diskriminasi
Penting adanya pengetahuan masyarakat untuk tidak mengecap penderita dengan kata-kata seperti “gila” atau “kurang waras” bahkan mengejek atau menghujatnya (Vijay, 2005).
g. Rehabilitasi
Program rehabilitasi penting dilakukan sebagai persiapan penempatan kembali penderita kekeluarga dan masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain: terapi kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik seperti olah raga, keterampilan khusus/kursus, bercocok tanam, rekreasi dan lain-lain. Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung 3-6 bulan. Secara berkala dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu sebelum dan sesudah program rehabilitasi atau sebelum penderita dikembalikan ke keluarga dan masyarakat (Hawari, 2001; Isaacs, 2005).
Teori ini digunakan dalam penelitian untuk mengetahui tindakan apa yang dilakukan untuk mencegah terjadinya skizofrenia dan pengobatan apa yang harus dilakukan terhadap penderita skizofrenia.
2.1.7. Relaps
Relaps atau kambuh merupakan kondisi dimana pasien kembali menunjukkan gejala-gejala skizofrenia setelah remisi dari rumah sakit. Penderita yang mengalami relaps diikuti oleh pemburukan sosial lebih lanjut pada fungsi dasar pasien. Peningkatan angka relaps/kekambuhan berhubungan secara bermakna dengan emosi yang berlebihan dilingkungan rumah, terutama di dalam keluarga yang tidak harmonis, ketidaktahuan keluarga dalam menghadapi penderita dan juga pengobatan yang tidak adekuat yang dilakukan oleh keluarga terhadap penderita (Kaplan, 1997; UCLA, 1997; Tomb, 2004).
2.1.8. Komplikasi
Bunuh diri pada penderita skizofrenia merupakan urutan terbesar ketiga setelah gangguan afektif (30-90%) dan gangguan penyalahgunaan narkoba (20-60%). Selain itu yang tadinya penderita tidak merokok menjadi perokok berat. Pemakaian antipsikotik, menimbulkan tekanan terhadap hormon estrogen dan testosteron yang berguna untuk memproteksi tulang, sehingga mudah terjadi osteoporosis (Jurnal Farmasi dan Kedokteran, 2006; Chandra, 2006).