BAB III REFEREN MAKIAN BAHASA MELAYU PALEMBANG
3.3 Etnis
‘Mintak alem, jadi kemauan kamu ini apa?’ (81) Banci kau ni,lebih penakut dari betino!
[] ‘Banci kau ni, lebih penakut dari perempuan!’ (82) Geta basa, mintak SMS sikok bae dak dienjuk.
[] ‘Geta basa, minta satu SMS saja tidak diberi.’ (83) Busuk ati,mugola cepat mampus!
[] ‘Busuk ati, semoga cepat mati!’
(84) Majal,tekwan limo mangkok abis galo! [] ‘Majal, tekwan lima mangkuk habis semua!’ (85) Nyenyes,payo diemla pulo!
[] ‘Nyenyes, ayo diamlah pula!’
(86) Lancang nian awak,mintak jata reman samo preman lamo. [] ‘Lancang nan awak, minta uang sama preman lama.’
(87) Kanji,pegang-pegang bini wong! [] ‘Kanji, pegang-pegang istri orang!’
3.3 Etnis
Iklim sosial masyarakat Palembang yang multikultural menyebabkan terjadinya komunikasi antaretnis. Dalam hal ini, sering terjadi ketidakcocokan yang esensial sehingga mengakibatkan nama etnis tertentu digunakan untuk memaki. Misalkan, sifat etnis Batak yang rakus, Cina yang pelit, Jawa yang suka bergaya,
sehingga etnis-etnis ini akrab digunakan untuk mengekspresikan makian. Di samping itu, etnis yang dipandang rendah derajatnya lazim pula dijadikan makian, yakniKubu. Makian yang memiliki referen etnis, lazim dibentuk menjadi frase, yakni: dasar Batak, dasar Jawo, dasar Cino,dandasar Kubu. Perihal pemakaiannya dapat dilihat pada contoh:(17) sampai dengan (20) dalam bab II.
3.4 Binatang
Binatang yang digunakan untuk memaki, ialah binatang yang dipandang tidak baik. Secara rinci, binatang yang dipandang najis, haram, menjijikkan, dan binatang yang dipercaya memiliki keburukan-keburukan baik fisik maupun sifatnya. Mengenai keburukan sifat, hal ini dipercaya masyarakat Melayu Palembang secara turun-temurun. Hal ini terbukti dalam sastra lisan – fabel atau cerita binatang – yang menceritakan sifat-sifat binatang. Di lain sisi, binatang yang haram menurut ajaran Islam lazim dijadikan makian.
Dari data yang telah dianalisis pada bab sebelumnya, binatang-binatang yang sering dipakai untuk memaki, ialah: buayo, babi, beruk, bongok, dan anjing. Selain itu, terdapat pula katabinatangyang mencakup semua jenis hewan. Selanjutnya, akan dijelaskan satu-persatu. Buayo mewakili sifat lelaki – sudah memiliki pasangan – yang suka mencari wanita lain.Berukmewakili keburukan: fisik dan sifat. Keburukan fisik yang dimaksudkan adalah keburukan bentuk muka, sedangkan keburukan sifat mengarah pada keliaran dan keagresifan. Babi dan anjing dijadikan makian karena kedua binatang itu diharamkan oleh agama Islam, selain itu juga dipandang
menjijikkan. Bongok,jenis ikan yang memiliki sifat tidak baik karena sifatnya yang jelek; setara dengan keledai. Ikan air tawar ini, sering terjebak di pukat (jaring) yang sama secara berulang-ulang. Esensinya, sifat ikan ini setara dengan keledai: lambang kebodohan dan kedunguan, plus sering melakukan kesalahan yang sama. Di samping itu, ditemui pula kata binatang yang juga sering digunakan untuk memaki. Kata ini lebih bersifat umum dan dimaksudkan untuk mewakili semua binatang-binatang yang telah dijelaskan di atas.
Tentunya, baik binatang dan binatang-binatang yang dijadikan makian, bersifat metaforis. Esensinya, hanya sifat maupun fisik binatang tertentu yang memiliki kemiripan atau kesamaan – bisa juga disamakan – dengan individu yang dijadikan sasaran. Dalam hal ini, tidak pernah ditemui kata ayam untuk memaki karena binatang ini dipandang baik dan halal menurut agama Islam. Untuk penggunaannya dapat diperhatikan contoh (88) sampai dengan (93) di bawah ini:
(88) Babi,makan tiduk tula gawe awak! [] ‘Babi, makan tidur saja kerja kamu!’ (89) Anjing,dari mano bae kau ni!
[] ‘Anjing, dari mana saja kau ini!’
(90) Dasar buayo,segalo betino nak dicubo! [] ‘Dasar buayo, segala wanita mau dicoba!’ (91) Beruk,samo siapo awak datang ke sano?
[] ‘Beruk,dengan siapa kamu datang ke sana?’
(92) Bongok,la dienjuk tau bekali-kali masi bae keno tangkap polisi! [] ‘Bongok,sudah diberi tahu berkali-kali masih saja kena tangkap polisi!’ (93) Binatang kau,jago dikit kalu ngomong tu!
[] ‘Binatang kau, jaga sedikit kalau bicara itu!’
3.5 Makhluk Halus
Belis dan taun, hanya dua kata itulah yang akrab digunakan penutur bahasa Melayu Palembang untuk memaki. Bukan berarti tidak dimungkinkan adanya pemakaian kata setan, tuyul, gendruwo, kuntilanak, dsb. Pokok yang menjadi landasan peneliti, ialah data yang dipetik: baik dari kamus, maupun narasumber. Jadi, nilai favorit suatu makian menjadi alat penentu atau penyaringnya.
Belis atau iblis dan taun atau setan, merupakan makhluk halus penggangu
yang akrab digunakan sebagai makian. Hal ini dikarenakan,belisdan taundipercaya sebagai musuh umat beragama baik Islam maupun agama lain. Contoh penggunaannya pada (94) dan (95) berikut ini:
(94) Dasar belis, nak ngajak gawe maksiat tula! [] ‘Dasar belis, mau ngajak berbuat maksiat terus!’ (95) Taun kau,balekla pulo!
[] ‘Taun kau, pulanglah pula!’
3.6 Benda
Nama benda yang digunakan untuk memaki juga berhubungan erat dengan keburukan bentuk referennya. Benda-benda yang sering digunakan untuk memaki dalam bahasa Melayu Palembang, yakni: buntang, pilat, tai, tai babi, dan tai pilat (bau busuk). Perhatikan penggunaannya pada (96) sampai dengan (100) di bawah ini:
(96) Buntang,makan tiduk bae! [] ‘Buntang,makan tidur saja!’ (97) Pilat,pecak nantang nian awak ni.
[] ‘Pilat,seperti nantang sekali kamu ini.’ (98) Tai,datang dak kasi kabar dulu.
[] ‘Tai,datang tidak kasih kabar dulu.’
(99) Tai babi,makan pempek punyo siapo awak tu? []
‘Tai babi,makan empek-empek punya siapa kamu itu?’ (100) Tai pilat,kagek kukancit pulo betino sikok ini.
[] ‘Tai pilat,nanti kuperkosa pula perempuan satu ini.’
Nama-nama benda di atas digunakan untuk mengekspresikan makian secara tidak langsung – begitu juga yang tergolong dalam referen binatang dan makluk halus. Benda-benda yang berupa kotoran dan buntang (bangkai) tampaknya sangat eksis di kalangan penutur. Di samping itu, peneliti menemukan satu data dari naskah Kamus Bahasa Palembang, yaknikancut(celana dalam: lebih menekankan pada milik
wanita) juga kondusif dipakai dalam memaki; hanya saja sudah jarang digunakan penutur.
3.7 Bagian Tubuh
Bagian tubuh sangat favorit untuk mengekspresikan makian. Terlebih, bagian yang menjadi inti dalam kegiatan seksual, seperti alat kelamin pria (kontoldanpeler), alat kelamin wanita (pepek, memek, tempekdanpuki). Perlu dijelaskan pula, kata-kata di dalam kurung tersebut saling bersinonimi. Di samping itu, bagian yang berdekatan dengan alat kelamin, yaknijembut; juga akrab dijadikan makian.
Bagian tubuh lain yang tidak memiliki fungsi utama sebagai alat seksual, namun akrab dijadikan makian, seperti mato dan palak lazim dibentuk menjadi klausa. Dua kata di samping dalam bentuk klausa, setidaknya menjadi:mato kau, dan palak kau. Meskipun demikian, sering pula menjadi: biji mato kau, dan palak bapak
kau. Rai (wajah) sering dibentuk menjadi frase dengan penambahan kata yang
memiliki referen bagian tubuh juga, sehingga menjadi rai tempek atau bahkan rai kelentit.Di samping itu, dapat juga menjadi frase dasar dak katek rai. Bagian tubuh yang berfungsi sebagai saluran sisa hasil metabolisme tubuh (saluran tinja) juga sering dipakai, yakni burit (sering dibentuk menjadi burit umak kau), dan jubur. Untuk kata yang terakhir, akrab dibentuk menjadi frase, yakni jubur molor. Bagian tubuh yang berfungsi untuk tindak verbal pun tak luput dijadikan makian, yakni mulut menjadi mulut duo belas. Masih berkaitan dengan hal ini, bentuk mulut yang kurang estetis, yakni monyong juga sering dijadikan makian. Terakhir, bagian tubuh
(organ dalam tubuh) yang merupakan aras kecerdasan, yakni otak; pada pemakaiannya sering dibentuk menjadi frase katek otak. Selanjutnya, perhatikan penggunaan makian dalam sesi ini pada contoh (101) sampai dengan (109) di bawah ini:
(101) Kontol,ngapo pulo BBM naik terus ni. [] ‘Kontol,kenapa pula BBM naik terus ini.’
(102) Pepek,laju panas pulo aku jingok tingka awak ni. [] ‘Pepek,lalu panas juga aku melihat tingkah kamu ini.’ (103) Jembut,la kecik betingka pulo!
[] ‘Jembut,sudah kecil bertingkah pula!’
(104) Biji mato kau,bukan sikok duo bae parpol mikut pemilu agek. [] ‘Biji mato kaut,bukan satu dua parpol yang ikut pemilu nanti.’ (105) Palak bapak kau,aku ni tau la pulo kalu parpol jumlanyo banyak.
[] ‘Palak bapak kau,aku ini tahu pula jika parpol jumlahnya banyak.’ (106) Rai kelentit,negaro kacau masi tula galak main betino.
[] ‘Rai kelentit,negara kacau masih saja suka main perempuan.’ (107) Jubur molor,tula galak gino makan duit haram.
[] ‘Jubur molor,itulah mau-maunya makan uang haram.’ (108) Monyong,kagek kubakar pulo markas awak.
[] ‘Monyong,nanti kubakar pula markas kamu.’
(109) Katek otak,mak itu bae dak pacak. [] ‘Katek otak,seperti itu saja tidak bisa.’
3.8 Aktivitas
Aktivitas seksual merupakan acuan yang kondusif untuk memaki. Di sini, peneliti menemukan tiga buah kata yakni: kacok, ngentot, dan ngancit. Ketiga kata tersebut saling bersinonimi.Kacoklebih sering dibentuk menjadi klausa, yaknikacok umak awak. Meskipun demikian, sering dibentuk menjadi frase, yakni kacok umak. Bahkan, layak pula dipakai dengan tanpa membentuknya menjadi frase ataupun klausa.
(110) Kacok,mintak duit bae gawe kau ni. [] ‘Kacok,minta uang saja kerja kamu ini.’
Dua kata lainnya, yakni ngentot, dan ngancit, lebih akrab digunakan dalam bentuk kalimat minor, sebagai kalimat fragmen – kalimat singkat yang dipakai untuk menjawab pertanyaan. Penutur bahasa Melayu Palembang tidak lazim membentuk kedua kata menjadi seperti di bawah ini:
(111) *Ngentot umak awak, ngajak ribut bae kau ni. [] ‘Ngentot umak awak,ngajak ribut saja kau ini.’ (112) *Ngancit umak,mak itu bae dak becus.
[] ‘Ngancit umak,seperti itu saja tidak bisa.’