Gambar 35.Penyebaran Woton ( Sterculia shilinglawii F v Muell.) di Tanah Papua
PEMANFAATANNYA OLEH SUKU ISIRAWA DI KABUPATEN SARM
F. Etnobotani Gayang dalam Budaya Suku Isirawa
Secara umum masyarakat suku Isirawa dan suku asli lainnya di Sarmi memiliki bahan pangan pokok utama yaitu aci sagu dan umbi-umbian seperti kimpul atau keladi, ketela rambat atau betatas,
Buah Protein (gr) Lemak (gr) Vit C (mg) Air (gr) Gayang Kacang hijau Kedelai Sorghum Jagung Kacang tanah Alpukat Durian Sirsak Langsat Pepaya Rambutan Salak 7,37 23,0 36,9 9,8 9,4 20,0 0,9 2,5 1,0 0,9 0,5 2,0 0,9 2,04 1,2 17,2 3,30 4,20 45,0 6,5 3,0 0,3 0,2 0 0,1 0 99,36 - - - - - 13 5,3 20 3,0 78 58 2 43,53 12,4 9,8 11,2 13,5 - 84,4 65 81,7 81 86,7 80,5 78 153
talas dan ketela pohon atau kasbi. Mata pencaharian utama mereka adalah berladang berpindah.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi, apalagi dengan pemekaran daerah tersebut menjadi Kabupaten Sarmi sejak tahun 2002, masyarakat etnik Isirawa dan etnik lainnya di Kabupaten Sarmi telah mengalami perubahan dalam hal makanan pokok. Saat ini masyarakat tidak lagi memanfaatkan aci sagu dan umbi-umbian sebagai bahan pangan pokok tetapi masyarakat telah beralih ke beras sebagai bahan pangan pokok.
Gayang adalah jenis buah yang bijinya dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan merupakan makanan favorit (kesukaan) oleh masyarakat etnik Isirawa dan etnik Sarmi lainnya. Masyarakat yang tergolong dalam 5 suku besar di Sarmi (Sobey, Armati, Rumbuay, Manirem dan Isirawa) telah memanfaatkan buah tersebut secara turun temurun sejak zaman nenek moyang hingga sampai saat ini. Tidak ada bukti yang tepat menjelaskan sejak kapan orang Sarmi pertama kali mengkonsumsi jenis buah gayang tersebut. Namun secara budaya buah gayang ini memiliki beberapa fungsi atau peranan yang penting dalam perkembangan budaya beberapa suku di Sarmi.
Gambar 40. Pemanfaatan buah gayang: A. buahnya yang gugur secara alami dikumpulkan;B. dibelah; C. bijinya diambil sebagai bahan pangan
Buah gayang yang sudah tua (secara alami gugur dari pohon), bijinya dapat dimakan setelah diambil dari buahnya kemudian dibakar atau direbus terlebih dahulu, setelah masak, buah gayang tersebut dapat dimakan secara langsung atau biasanya dimakan dengan kelapa yang sudah diparut (kelapa parut) atau bisa juga dimakan dengan buah kelapa yang belum diparut (kelapa gesek). Pemanfaatan buah gayang sebagai bahan pangan oleh masyarakat tradisional di Kabupaten Sarmi, biasanya dilakukan 2 sampai 3 kali dalam setahun.
Jika dijual, harga buah gayang sepiring ditambah dengan 3–4 potong (penggal) kelapa harganya ± Rp. 10.000,-/piring. Selain buahnya dimanfaatkan sebagai bahan makanan, kayunya juga sering dimanfaatkan oleh masyarakat. Masyarakat tradisional Kabupaten Sarmi sering memanfaatkan kayu gayang yang sudah
Dokumentasi : Krisma Lekitoo, 2008 dan 2010
A B C
kering atau rantingnya yang gugur sebagai kayu bakar. Pada pohon yang masih hidup, bagian banirnya sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pembuatan hulu atau gagang parang. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi pengobatan tradisional, masyarakat akhirnya mengetahui bahwa kulit gayang ternyata bisa digunakan untuk mengobati penyakit diabetes dengan cara meminum rebusan kulit gayang secara rutin.
G. Konservasi Tradisional
Masyarakat Suku Sarmi telah lama memanfaatkan buah gayang dalam kehidupan budaya dan keseharian mereka. Saat ini masyarakat telah melakukan konservasi tradisional dengan cara merawat anakan dan pohon gayang yang terdapat di alam serta melakukan penanaman pohon gayang pada areal perkebunan mereka.
Gayang yang ditanam pada kebun-kebun masyarakat dan yang dirawat di alam umumnya memiliki perlakuan yang berbeda. Gayang yang ditanam pada areal kebun masyarakat, biasanya dirawat dengan baik yaitu dengan cara memperhatikan jarak tanam, membersihkan gulma dan diberi naungan. Sedangkan pohon gayang yang tumbuh secara alami di daerah pesisir pantai Sarmi dirawat oleh masyarakat dengan intensitas yang rendah. Biasanya frekwensi masyarakat untuk membersihkan gulma hanya setahun sekali. Selain itu, gayang juga dibiarkan tumbuh bersama-sama dengan jenis vegetasi pantai lainnya seperti Pandanus dubius,
Pandanus tectorius, Sararanga sinuosa, Barringtonia asiatica, Voacanga papuana dan Tabernaemontona aurantiaca.
Biasanya gayang yang terdapat di areal kebun yang baru dibuka akan dibiarkan pada tahap awal dan kemudian dirawat hingga mencapai masa berbuah. Gayang yang ditanam langsung oleh masyarakat di areal kebun akan dirawat sampai masa berbuah. Biasanya gayang yang ditanam oleh masyarakat akan berbuah pada umur 5 sampai 7 tahun.
H. Status Konservasi
Gayang adalah salah satu jenis tumbuhan asli (native species) di Papua. Di Indonesia, jenis ini penyebarannya meliputi hampir seluruh wilayah kepulauan terutama pada daerah ekologi hutan pantai dan hutan dataran rendah. Secara ekologi, jenis gayang merupakan jenis pada hutan pantai dan hutan dataran rendah dengan topografi landai, bergelombang atau punggung bukit dan puncak bukit. Penyebaran jenis ini secara alami pada ketinggian tempat 5–300 m dpl.
Secara tradisional masyarakat Kampung Amsira Distrik Sarmi sudah melakukan kegiatan budidaya (konservasi tradisional) namun secara umum perlu adanya perhatian dari pemerintah Kabupaten Sarmi untuk skala pembudidayaan yang lebih luas lagi mengingat buah gayang merupakan salah satu sumber makanan tambahan bagi masyarakat tradisional Sarmi.
Meskipun jenis ini secara global belum dinyatakan sebagai spesies yang terancam punah, namun untuk mendukung pemanfaatan buah gayang oleh masyarakat tradisional Sarmi sebagai bahan makanan tambahan, sekarang sudah saatnya untuk melakukan kegiatan penanaman dalam rangka penghijauan dan reboisasi pada kawasan hutan pantai dan hutan dataran rendah di Kabupaten Sarmi. Untuk itu sangat diperlukan adanya dukungan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat.
I. Prospek Pengembangan
Gayang sangat potensial dikembangkan di Tanah Papua terutama pada daerah yang memiliki tipe ekosistem hutan pantai dan dataran rendah. Buah gayang telah lama dimanfaatkan oleh suku-suku atau masyarakat tradisional yang bermukim pada kawasan hutan pantai dan hutan dataran rendah di Tanah Papua sebagai buah yang dapat dikonsumsi.
Pengembangan atau penanaman jenis ini dalam bentuk kebun koleksi sangat mudah untuk dilakukan mengingat jenis ini tidak membutuhkan karakter habitat yang spesifik. Untuk tujuan tersebut perlu adanya dukungan Pemerintah Daerah melalui instansi teknis terkait.
Keterangan : = Lokasi Penyebaran