• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Manajemen Sumber Daya Manusia

4. Etos Kerja

a. Definisi Etos Kerja

Menurut Gregory (2003) sejarah membuktikan negara yang dewasa ini menjadi negara maju, dan terus berpacu dengan

26

teknologi/informasi tinggi pada dasarnya dimulai dengan suatu etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil. Maka tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan besar dan terkenal telah membuktikan bahwa etos kerja yang militan menjadi salah satu dampak keberhasilan perusahaannya. Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan karakternya. Setiap orang memiliki internal being yang merumuskan siapa dia. Selanjutnya internal being menetapkan respon, atau reaksi terhadap tuntutan eksternal. Respon internal being terhadap tuntutan eksternal dunia kerja menetapkan etos kerja seseorang (Siregar, 2000 : 25).

Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia karyawan yang direfleksikan dalam kehidupan (Khasanah, 2004:8).

Menurut Geertz (1982:3) etos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Sikap disini digambarkan sebagai prinsip masing-masing individu yang sudah menjadi keyakinannya dalam mengambil keputusan .

27

Etos kerja dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo, 2003,2). Menurut Toto Tasmara, (2002) Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:

1) Orientasi ke masa depan yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik, baik waktu, kondisi untuk ke depan agar lebih baik dari kemarin.

2) Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting guna efesien dan efektivitas bekerja.

3) Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.

4) Hemat dan sederhana, yaitu sesuatu yang berbeda dengan hidup boros, sehingga bagaimana pengeluaran itu bermanfaat untuk kedepan.

28

5) Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan yang dilakukan tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri.

b. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja

Etos kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : 1) Faktor internal

Seberapa tinggi atau rendahnya etos kerja seseorang dapat dipengaruhi oleh adanya motivasi intrinsik dalam diri individu. Anoraga (2005) mengatakan bahwa individu yang memiliki etos kerja yang tinggi adalah individu yang bermotivasi tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap, yang tentunya didasari oleh nilai nilai yang diyakini seseorang. Keyakinan ini menjadi suatu motivasi kerja, yang mempengaruhi juga etos kerja seseorang. Etos kerja juga ditentukan oleh kualitas pendidikan, keahlian dan keterampilan yang dimiliki individu. Sehingga, dengan meningkatnya kualitas tersebut semakin bertambahnya pula pandangan, sikap dan perilaku individu dalam bekerja. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja. Rahimah, Fauziah, Suri, Nasution dan Novliadi (dalam Antonius : 2014) juga menambahkan bahwa meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian

29

dan keterampilan, sehingga semakin meningkan pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi.

Dalam penelitian Djajendra (2012) juga menyatakan bahwa emosi negatif karyawan yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber masalah, dapat mengurangi upaya dan kerja keras, mempengaruhi produktifitas, profitabilitas, kerja sama, kinerja, daya tahan, semangat kerja, dan pada akhirnya akan mengurangi keberhasilan perusahaan untuk mencapai target. Emosi negatif yang dapat dikelola dengan baik akan mempengaruhi etos kerja seseorang.

2) Faktor Eksternal

Budaya yang tertanam sejak lama dalam masyarakat mampu mempengaruhi etos kerja yang dimunculkan individu. Budaya tersebut meliputi, disiplin, sikap mental yang diyakini oleh masyarakat setempat. Masyarakat yang memiliki sistem orientasi maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sedangkan masyarakat yang memiliki sistem masyarakat konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah. Etos kerja juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang mampu meningkatkan kinerja individu. lingkungan kerja tersebut dipengaruhi oleh diantaranya fasilitas kerja, gaji atau tunjangan dan hubungan kerja. Hubungan kerja antara individu satu dengan yang lain dapat meningkatkan produktivitas kerja ketika individu mampu

30

menghadapi pekerjaannya dan juga ketegangan psikologis yang ditimbulkan dari hubungan kerja tersebut (Sofyan, 2013)

b. Aspek-aspek Etos Kerja

Etos kerja adalah suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau satu umat terhadap kerja (Anoraga, 2009 : 29). Untuk menimbulkan pandangan dan sikap yang menghargai kerja sebagai sesuatu yang luhur, maka diperlukan adanya aspek aspek dalam etos kerja. Adapun aspek aspek tersebut adalah : 1) Motivasi kerja

Motif adalah yang melatarbelakangi individu untuk berbuat mencapai tujuan tertentu (Anoraga, 2009 : 35). Motif juga dapat diartikan semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu (Gerungan,2004 : 151). Motif-motif ini memberikan tujuan dan arah kepada tingkah laku karena semua tingkah laku manusia pada hakikatnya memiliki motif.

Motivasi adalah keadaan internal individu yang melahirkan kekuatan, kegairahan dan dinamika, serta mengarahkan tingkah laku pada tujuan (Mursi, 1999 : 91). Sementara itu motivasi menurut G.R Terry (dalam Hasibuan, 2006 : 145) dapat diartikan keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan.

31

Motivasi ini tampak dalam dua segi yang berbeda. Pertama, jika dilihat dari segi aktif/dinamis, motivasi tampak sebagai usaha yang positif dalam menggerakkan, mengerahkan, dan mengarahkan daya serta potensi tenaga kerja, agar secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Kedua, jika dilihat dari segi pasif/statis, motivasi akan tampak sebagai kebutuhan sekaligus sebagai perangsang untuk menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan potensi serta daya kerja manusia tersebut kearah yang diinginkan. Selanjutnya motivasi kerja dapat diartikan sebagai sesuatu yang menimbulkan atau dorongan kerja (Anoraga, 2009 : 35). Dorongan disini adalah untuk dapat meraih sesuatu keberhasilan yang didukung oleh semangat untuk melakukan suatu usaha atau kerja. Selama dorongan kerja itu kuat, semakin besar peluang individu untuk lebih konsisten pada tujuan kerja.

Aspek-aspek terpenting motivasi kerja adalah bagaimana mambuat orang cenderung untuk tetap giat bekerja, sehingga bersedia mendayagunakan kelebihan waktunya dengan menambah volume kerja apabila kondisi memungkinkan. Salah satu penggerak motivasi adalah perasaan senang saat melihat hasil kerja yang berkualitas. Sehingga menjadikan pekerjaan sebagai tujuannya. Pekerja yang bermotivasi lemah selalu

32

mengharapkan imbalan atas setiap yang dikeluarkannya. Sedangkan pekerja yang bermotivasi tinggi, tidak mengharapkan dan tidak selalu mengorientasikan setiap tenaganya untuk memperoleh imbalan, baginya imbalan tidak mempunyai nilai validitas. Ia memperoleh kepuasan dan kebahagiaan dalam mencari posisi kerja yang menantang dan menikmati pekerjaan yang tingi tingkat kesulitannya. Pekerja semacam ini tidak membutuhkan orang lain untuk membangkitkan motivasi (Mursi,1999:104) Di samping itu, iklim kerja yang sehat dapat mendorong sikap keterburukan baik dari pihak karyawan maupun pihak pengusaha sehingga mampu menumbuhkan motovasi kerja yang searah antara karyawan dan pihak pimpinan (Sinungan, 2005:138)

2) Kedisiplinan Kerja

Disiplin adalah suatu sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib (Anoraga, 2009 : 46). Menurut (sinungan, 2005 : 135), disiplin adalah sikap kejiwaan dari seseorang atau sekelompok orang yang senantiasa berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala aturan yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan pekerjaan, pengertian disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan perusahaan.

33

Sementara itu, menurut Anoraga (2009 : 46) kedisiplinan keja adalah suatu sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib atau peraturan dalam bekerja. Sikap dan perilaku dalam disiplin kerja ditandai oleh berbagai inisiatif, kemauan dan kehendak untuk mentaati peraturan. Artinya, orang yang dikatakan mempunyai disiplin yang tinggi tidak semata-mata patuh dan taat terhadap peraturan secara kaku dan mati, tetapi juga mempunyai kehendak (niat) untuk menyesuaikan diri dengan peraturan organisasi atau perusahaan. Berdasarkan uraian diatas kedisiplinan kerja memiliki arti suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentaati segala peraturan yang perusahaan yang didasarkan atas kesadaran diri untuk menyesuaikan dengan peraturan perusahaan. Para ahli menyebutkan beberapa pendekatan untuk menigkatkan kedisiplinan kerja karyawan yang meliputi :

a) Disiplin preventif

Disiplin preventif merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendorong karyawan mentaati standar dan peraturan sehingga tidak terjadi pelanggaran, atau bersifat mencegah tanpa ada yang memaksa yang pada akhirnya akan menciptakan disiplin diri.

34

Disiplin korektif yaitu tindakan yang dilakukan untuk mencegah supaya tidak terulang kembali sehingga tidak terjadi pelanggaran pada hari-hari selanjutnya, yang tujuannya adalah untuk memperbaiki perilaku yang melanggar aturan dan mencegah orang dan melakukan tindakan serupa.

c) Disiplin progresif

Disiplin progresif yaitu pengulangan kesalahan yang sama akan mengakibatkan hukuman yang lebih berat. Tindakan ini bisa dilakukan melalui teguran lisan, teguran tertulis, dan skorsing (Hariandja, 2002 : 302).

3) Produktivitas Kerja

Dilihat dari segi psikologi, produktivitas adalah suatu tingkah laku. Produktivitas menunjukan tingkah laku sebagai keluaran (output) dari suatu proses dari berbagai macam komponen kejiwaan yang melatarbelakangi (Anoraga, 2009:50). Produktivitas kerja juga dapat diartikan cara pemanfaatan sevara baik terhadap sumber sumber dalam memproduksi barang, sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang atau jasa-jasa (Sinungan, 2005 : 12). Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada

35

kemaren, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Produktivitas bukanlah karyawan bekerja lebih lama atau lebih keras. Peningkatan produktivitas lebih banyak merupakan hasil dari perencanaan yang tepat, teknik yang lebih baik dan efisien yang lebih tinggi (Anoraga,2009 : 53).

d. Aspek aspek Pengukuran Etos Kerja

Paradigma kerja profesional menurut Jansen Sinamo dalam Iga Manuati (2005) antara lain adalah :

1) Kerja adalah rahmat

Harus bekerja tulus penuh syukur 2) Kerja adalah amanah

Harus bekerja benar penuh integrasi 3) Kerja adalah panggilan

Harus bekerja tuntas penuh tanggung jawab 4) Kerja adalah aktualisasi

Harus bekerja keras penuh semangat 5) Kerja adalah ibadah

Harus bekerja serius penuh pengabdian 6) Kerja adalah seni

Harus bekerja kreatif penuh suka cita 7) Kerja adalah kehormatan

36 8) Kerja adalah pelayanan

Harus bekerja sempuena penuh kerendahan hati.

Aspek aspek pengukuran dalam etos kerja menurut Handoko (1993) yaitu :

1) Aspek dari dalam, merupakan aspek penggerak atau pembagi semangat dari dalam diri individu, minat yang timbul disini merupakan dorongan yang berasal dari dalam karena kebutuhan biologis, misalnya keingingan untuk bekerja akan memotivasi aktivitas mencari kerja.

2) Aspek motif sosial, yaitu aspek yang timbul dari luar manusia. Aspek ini bisa berwujud suatu objek kegiatan seseorang yang ada di ruang lingkup pergaulan manusia. Pada aspek sosial ini peran human relation akan tampak dan diperlukan dalam upaya meningkatkan etos kerja karyawan.

3) Aspek persepsi, adalah aspek yang berhubungan dengan suatu yang ada pada diri seseorang yang berhubungan dengan perasaan, misalnya dengan rasa senang, rasa simpati, rasa cemburu, serta perasaan lain yang timbul dari dalam diri individu. Aspek ini berfungsi sebagai kekuatan yang menyebabkan karyawan memberikan perhatian atas persepsi pada sistem budaya organisasi dan aktivitas kerjanya.

37

Tasmara (2002 : 104) mengemukakan bahwa etos kerja individu dapat diukur berdasarkan aspek aspek sebagai berikut : 1) Menghargai waktu, individu yang mempunyai etos kerja yang tinggi memendang waktu sebagai sesuatu yang sangat bermakna dan sebagai wadah produktivitas.

2) Tangguh dan pantang menyerah, individu yang mempunyai etos kerja tinggi cenderung suka bekerja keras, ulet, dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap tantangan atau tekanan (pressure).

3) Keinginan untuk mandiri (independent). Individu yang mempunyai etos kerja tinggi selalu berusaha mengaktualisasi seluruh kemampuan dan berusaha memperoleh hasil dari usaha sendiri.

4) Penyesuaian, individu dengan etos kerja tinggi cenderung dapat menyesuaikan diri dengan baik dalam lingkungan kerja, rekan kerja maupun dengan atasan atau bawahan.

Mengingat kandungan yang ada dalam pengertian etos kerja, unsur penilaian, maka secara garis besar dalam penelitian itu, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu penilaian positif dan negatif. Berpangkal tolak dari uraian itu, maka suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan memiliki etos kerja yang tinggi, apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut :

38

1) Memiliki penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia

2) Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat luhur bagi eksistensi manusia.

3) Kerja yang dirasakan sebagai suatu aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia.

4) Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita.

5) Kerja dihayati sebagai bentuk rutinitas hidup.

Dokumen terkait