BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Etos Kerja Masyarakat Nelayan
Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang lingkungan pemukimannya berada pada wilayah peralihan antara daratan dengan lautan yang disebut pinggir pantai atau tepi laut. Masyarakat pesisir atas nelayan, pembudi daya ikan, dan pedagang hasil laut, serta masyarakat nelayan yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan.
Masyarakat nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang tergantung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan atau budidaya yang pada umuninya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.
Dirjen Perikanan (dalam Satria 2002) mendefinisikan nelayan sebagai orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air, adapun orang yang hanya melakukan pekerjaan seperti membuat jaring atau mengangkut alat-alat perlengkapan kedalam perahu/kapal tidak dikaterigorikan sebagai nelayan. Sementara itu ahlimesin dan juruh masak yang bekerja diatas kapal penangkap tersebut sebagai nelayan meskipun mereka tidak secara langsung melakukan penangkapan ikan.
Mereka pada umumnya mendiami daerah kepulauan, sepanjang pesisir termasuk danau dan sepanjang aliran sungai. Penduduk tersebut tidak semuannya menggantungkan hidupnya dari kegiatan menangkap ikan akan tetapi masih ada bidang-bidang lain seperti usaha pariwisata bahari, pengangkutan antar pulau danau dan penyebrangan, pedagang
perantara/eceran hasil tangkapan nelayan, penjaga keamanan laut, penambangan lepas pantai dan usaha-usaha lainnya yang berhubungan dengan laut dan pesisir.
Masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakatnelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan. Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaansumber daya pesisir dan kelautan.
Sejak dahulu sampai sekarang nelayan telah hidup dalam sebuah organisasi kerja secara turun temurun tidak mengalami perubahan yang berarti. Kelas pemilik sebagai juragan relatif kesejahteraan lebih baik karena menguasai faktor produksi seperti kapal, mesin dan alat maupun faktor pendukungnya seperti es, garam dan lainnya. Kelas lain merupakan mayoritas adalah pekerja atau penerima upah dari pemilik faktor produksi dan kalau pun mereka mengusahakan sendiri faktor/alat produksinya masih sangat konvensional, sehingga produksinya tidak berkembang, kelonipok inilah yang terns berhadapan dan digeluti oleh kemiskinan.(Mubyarto,dkk :1984)
Masyarakat nelayan pada umumnya memiliki persoalan yang lebih kompleks dibanding dengan masyarakat pertanian. Masyarakat nelayan memiliki ciri-ciri khusus seperti penggunaan wilayah pesisir dan lautan (common property) sebagai faktor produksi, jam kerja harus mengikuti siklus
bulan yaitu dalam 30 hari atau satu bulan yang dapat dimanfaatkan untuk melaut hanya 20 hari sisanya mereka relatif menganggur. Selain daripada itu pekerjaan menangkap ikan adalahmerupakan pekerjaan yang penuh resiko dan umumnya karena itu hanya dapat di kerjakan oleh lelaki, hal ini mengandung arti keluarga yang lain tidak dibantu secara penuh. (Kusnadi :2009)
Menurut Apridar (2011) memanfaatkan potensi laut yang ada sudah menjadi kebiasaan dan cara utama untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pesisir. Namun kondisi masyarakat pesisir secara umum lebih-lebih adalah masyarakat nelayan yang masih tradisional berada dalam kondisi atau di bawah garis kemiskinan.
Dalam konteks hubungan eksploitasi sumber daya perikanan, masyarakat nelayan kita memerankan empat perilaku sebagai berikut: (1) mengeksploitasi terus-menerus sumber daya perikanan tanpa memahami batas-batasnya; (2) mengeksploitasi sumber daya perikanan, disertai dengan merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti menebangi hutan bakau serta mengambil terumbu karang dan pasir laut; (3) mengeksploitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing), seperti kelompok nelayan yang melakukan pemboman ikan, melarutkan potasium sianida, dan mengoperasikan jaring yang merusak lingkungan, seperti
trawlatau minitrawl; serta (4) mengeksploitasi sumber daya perikanan
dipadukan dengan tindakan konservasi, seperti nelayan-nelayan yang melakukan penangkapan disertai dengan kebijakan pelestarian terumbu karang, hutan bakau, dan mengoperasikan jaring yang ramah lingkungan (Kusnadi, 2009).
Perilaku pertama, kedua, dan ketiga dianutoleh sebagian besar nelayan kita sebagai konsekuensi dari persepsi yang kuat terhadap sumber daya perikanan atau sumber daya kelautan yang bersifat open accessbagi siapapun yang mau memanfaatkannya. Perilaku keempat adalah perilaku minoritas di kalangan masyarakat nelayan, seperti ditunjukkan oleh adanya komunitas-komunitas adat atau komunitas-komunitas lokal yang mengelola sumber daya perikanan untuk memperkuat kepentingan ekonomi kolektif, kemandirian sosial, dan kelangsungan hidup. Komunitas-komunitas adat seperti ini tersebar di berbagai wilayah tanah air.Mereka menjaga dengan baik pranata-pranata pengelolaan sumber daya laut yang dimilikinya, seperti sasi di Maluku, ondoafidi Papua Barat, batidi Ternate, rompongdi Sulawesi Selatan, tonassdi Sulawesi Utara, awig-awigdi Nusa Tenggara Barat, patenekandi Banten, atau gogolandi Tegal. Klaim pemilikan atas sumber daya komunal ini dilegitimasi oleh sejarah sosial dan unsur-unsur identitas etnisitas yang mereka miliki (Kusnadi, 2003).
Orang pesisir memiliki orientasi yang kuat untuk merebut dan meningkatkan kewibawaan atau status sosial. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka cepat marah, mudah tersinggung, lekas menggunakan kekerasan, dan
gampang cenderung balas-membalas sampai dengan pembunuhan. Orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat tinggi dan sangat peka. Perasaan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pola hidup pesisir memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi. Perilaku sosial di atas memiliki relevansi dengan ciri-ciri kepemimpinan sosial masyarakat pesisir.Upaya untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya laut dan mengatasi overfishingmelalui diversifikasi pekerjaanatau konversi pekerjaan tidak mudah dilakukan karena terbatasnya peluang kerja lainnya (off-fishing) di daerah pesisir. Ketergantungan nelayan terhadap laut sangat tinggi menurut(purnomo 2005)
Dalam tatanan masyarakat nelayan Emerson (1979) menemukan bahwa sistera meminjam uang dan bekerja pada pemilik perahu dan kapal bermotor adalah ikatan yang kohesif bagi integrasi sosial di pedesaan pantai.
Hutang dapat mengukuhkan hubungan antara dua pihak : peminjarn berusaha untuk memenuhi kewajibannya dalam bentuk kesetiaan dan kejujuran, sedangkan pemberi pinjam akan memberi bantuan kepada peminjam pada saat diperlukan. Gejala ini menjadi kepatronan tumbuh subur dalarn masyarakat nelayan. Akan tetapi, kenyataan yang muneul adalah modernisasi dan motorisasi alat-alat pengeluaran yang diperkenalkan pada masyarakat nelayan, temyata tidak menunjukan adanya peningkatan kualitas hidup sebagian besar nelayan tradisional yang tersebar di hampir 7.122 desa nelayan sepanjang pantai kepulauan Indonesia. Yang memperoleh daripada motorisasi tefctiologi pengeluaran yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia pada sekitar awal
tahun 1980 adalah sebagian kecil nelayan, yaitu para pemilik modal dan alat-alat pengeluaran.
Kemunculan hubungan patron-klien tidak hanya dapat dilihat antara toke yang menyewakan sampannya kepada nelayan penyewa, tetapi juga dapat muneul dari hubungan yang sifatnya longgar yakni antara nelayan yang memiliki alat tangkap sendiri dan menjualnya hasil tangkapannya kepada seorang toke pengumpul ikan. Nelayan yang memiliki alat tangkap sendiri pada musim tertentu, misalnya musim paceklik (ketika ikan jarang didapat juga akan terpaksa berhutang pada toke). Seringkali utang tersebut jatuh tempo atau melewati waktu perjanjian, sehingga si nelayan akan diberikan semacam kompensasi seperti keringanan membayar utangnya dengan syarat ikannya harus dijual kepada si toke, tidak boleh kepada pembeli lain.
Kompensasi lainnya bisa berupa pemotongan utang dari hasil penjualan ikan.
Kondisi tersebut akan berlangsung dalam waktu lama dan akhirnya dimanfaatkan toke menjadi hubungan mengikat, sehingga harga ikan ditentukan oleh si nelayan.
Kelangsungan hubungan tersebut sudah membudidaya seiring dengan tekanan kemiskinan yang dialami oleh nelayan sebagai klien. Nelayan sangat sulit keluar dari keterikatan hubungan tersebut karena hubungan patron-klien merupakan hubungan yang langgeng dalam komunitas nelayan. Meski Idealnya, hubungan patron-klien adalah untuk melindungi dan membantu pemenuhan kebutuhan keseharian dari kliennya.
Upaya pemerintah selama ini sepertinya tidak melihat sebuah realitas yang utuh, yakni bagaimana proses yang berlangsung dan bagaimana struktur-struktur yang mengakibatkan kemiskinan tersebut terjadi. Untuk meretasnya, barangkali tetap harus melihat bagaimana struktur sosial yang menjadikan nelayan tetap miskin. Struktur tersebut antara lain:
Pertama, Struktur kemasyarakatan yakni hubungan patron-klien.
Hubungan ini haras dilihat sebagai salah satu bagian yang langsung atau tidak langsung menjadi penyebab kemiskinan, tentu dengan tidak memasukan adanya hubungan patron-klien yang lebih adil, tetapi lebih kepada kondisi dimana hubungan tersebut telah mengalami pergeseran. Hubungan patron-klien yang sudah termternalisasi memang sulit diputus.
Kedua, Struktur yang dibangun oleh Negara. Kebijakan ekonomi yang
masih berorientasi pada pertumbuhan khususnya sektor pesisir dan laut harus diubah dengan memperhatikan aspek kemanusiaan. Artinya, nelayan harus menjadi subjek pembangunan melalui keterlibatannya dalam proses pembuatan kebijakan.
Ketiga, Struktur pemasaran, di mana harga ikan yang didominasi oleh
toke-toke harus dikemballkan melalui sistem pelelangan sehingga hak nelayan tradisional dalam penentuan harga bisa diakomodasikan. Upaya ini dapat dilakukan dengan mengfusikan kembali TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang selama ini dikuasai para tengkulak/toke.
Keempat, dengan adanya peluang Otonomi Daerah melalui UU No. 22 Tahun 1999, daerah bisa mengambil peran yang lebih strategis, tentu dengan
Perda yang bisa memberikan akses lebih besar kepada masyarakat nelayan untuk memanfaatkan, mengawasi, dan melindungi sumberdaya laut di daerahnya.
Pengurus persatuari Serikat Nelayan Merdeka (SNM) dan jaringan-jaringan laninya untuk memberantas Trawl (pukat harimau) dan sejenisnya serta mencedaskan masyarakat nelayan, mengkritisi pembangunan kawasan pesisir, melestarikan lingkungan pesisir, memperkuat organisasi, membangun jaringan kerja, dan mendorong peningkatan ekonomi nelayan.