Upaya Mewujudkan Kebudayaan Ilmu dalam Ikatan
Pendahuluan
Masyarakat merupakan suatu kesatuan dari berbagai manusia yang beragam dan memiliki kultur yang majemuk. Keragaman manusia dikarena dua factor yang utama; letak geografis dan sifat dan fitrah yang diciptakan oleh Tuhan dengan keberagaman. Manusia sebagai animal rational memiliki kemampuan untuk menciptakan kreasi serta innovasi dalam mengelola lingkungan agar dapat bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Interaksi manusia dengan lingkungan dapat melahirkan suatu kebiasaan yang berbeda dengan lingkungan yang lain dan bahkan melahirkan suatu symbol dari masyarakat tertentu. Symbol yang dimiliki oleh masyarakat tersebut bersifat eksklusif guna mengikat dan memberikan makna didalam masyarakat yang memiliki symbol tersebut. Symbol yang berada dalam masyarakat merupakan representasi dari masyarakatnya dan menggambarkan keadaan tertentu dalam masyarakat. Misalkan symbol kain putih dalam masyarakat merupakan suatu gamabaran tentang duka cita atau biasanya ada orang yang meninggal.
Manusia dengan dikarunia akal yang digunakan untuk megelola alam, serta menggali manfaatnya dapat digunakan untuk kepentingan kemusiaan. Interaksi manusia dengan alam dan memanfaatkan alam dengan bekerja. Kerja merupakan aktualisasi diri dengan segenap kemampuan dan mengelola alam diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Bekerja merupakan salah satu wahana dari terciptanya suatu kebudayaan. Kebudayaan yang dihasilkan merupakan kebudayaan bagaimana manusia dapat memanfaatkan sumber daya alam. Kebudayaan dalam hal ini bisa mencapai kerangka berfikir untuk survaiv dalam alam dan menghasilkan alat guna pengelolaan alam. Alat yang dihasilkan oleh manusia dalam sejarahnya dari yang klasik samapai dengan sekarang yang modern. Alat klasik dapat dilihat dari zaman manusia zaman dulu dalam memanfaatkan alam seperti bentuk kampak yang terbuat dengan
batu atau kerang. Sedangkan untuk zaman sekarang merupakan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan alam.
Sikap KH. Ahmad Dahlan yang melihat serta merespon suatu realitas sehingga ia menerjemahkannya dengan suatu organisasi merupakan langkah yang cerdas dalam rangka memkoordinir dalam permasalahan social. Sikap KH.Ahmad Dahlan yang khas bersama organisasinya yang membedakan keberagamaan dapat dikatan sebagai suatu kebudayaan. Sikap ini seperti ia konstekstualisasi ajaran agama agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan merupakan langkah yang penting guna menjawab problem social pada waktu itu. Sikap KH. Ahmad Dahlan yang menghargai ilmu dan menganjurkan pada umat agar menguasai ilmu umum yang bersifat duniawi bukan hanya ilmu keagamaan ini merupakan semangat dari Muhammadiyah yang berusaha melakukan modernisasi. Sikap pembaharuan juga yang ia lakukan dalam penggabungan antara dua model pendidikan tradisioal corak agamis dengan pendidikan sekuler modernis, dan menghasilkan system pendidikan agamis modernis seperti sekolah Muhammadiyah sekarang perpaduan antara ilmu agama dengan ilmu alam dan ilmu humaniora.
Sekilas Pengertian Etos dan Kebudayaan
Etos memiliki hubungan erat dengan sikap moral, walaupun keduanya tidak seluruhnya identik. Kesamaan erletak dalam kesamaan sikap, keduanya didasari sebagai sifat mutlak atau wajib diambil terhadap sesuatu. Perbedaanya terletak pada tekanan, sikmap moral menegaskan orientasi pada norma-norma sebagai standar yang harus diikuti. Sedangkan etos mengegaskan bahwa sikap itu sikap yang sudah mantap dan biasa, sesuatu yang nyata-nyata mempengaruhi, yang menentukan idividu atau kelompok orang mendekati atau melakukan sesuatu. Etos mengungkapkan semangat dan sikap tetap batin seseorang atau sekelompok orang sejauh sejauh didalamnya termuat tekanan-tekanan moral dan nilai-nilai moral tertentu. Etos merupkan sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki dan yang tidak dapat dipaksa. Etos merupakan deskriftif tentang sikap mental yang ada. (Franz Magnis Suseno, Befilsafat dari Konteks)
Etos merupakan suatu pandangan yang khas suatu bangsa dimana membedakan dengan bangsa yang lain. Etos sebagai pandangan yang khas atau semangat atu jiwa yang khas merupakan suatu hal yang mencirikan identitas serta eksistensi bangsa
dihadapan negaranya ataupun Negara yang lain. Etos merupakan salah satu kajian yang sering dipakai oleh antroplog dalam menggambarkan suatu kebudayaan yang khas dan membedakan dengan yang lain dari suatu Negara atau kelompok tertentu. Misalakan dalam hal ini, dapat dianalisis tentang semangat serta terjadinya kapitalisme merupakan ethos dari Protestan bukan Katolik. Etos dalam Protestan ini yang diyakini yang menyebabkan kapitalisme. Hal ini, dapat dianalisis dari ajaran Protestan Madzab Calvinis tentang konsep keselamatan, asketis dan gemar menabung. Madzab Calvinis yang menyebabkan kapitalisme menurut Weber merupakan suatu penggalian terhadap agama Protestan yang tidak dapat diketemukaan pada Katolik. Semangat yang ada mengenai konsep keselamatan bahwa orang yang masuk kedalam keerajaan Tuhan (surga) merupakan orang yang kaya membantu orang lain untuk mandiri dan tidak mengalami ketergantungan. Selanjutnya bahwa dalam memperoleh keselamatan tersebut diharapkan umat bersikap asketis atau zuhud (menahan diri). Menahan diri dalam konteks ini ia hidup secara wajar tidak berlebihan atau bermewah-mewah dan hartanya digunakan untuk melakukan investasi membangun usaha atau ditabungkan. Dari semangat tersebut yang dilaksanakan sambil bergulir waktu maka menjadikan investasi dan modal yang besar sehingga menjadi suatu system yang dapat berdiri sendiri. System tersebut mengambil dari nilai ajaran agama dan sekarang menjadi sangkar besi rasionalis dimana kapitalisme tidak dapat dikontrol.
Menurut ilmu antropologi bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan merupakan seluruh hasil tindakan manusia karena hanya sedikit tindakan manusia yang tidak diterapkan dalam bejar seperti tindakan refleks, dan beberapa tindakan proses fisiologi. Kata kebudayaan berasal dari kata sangsekerta buddhayah yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kata budaya merupakan kata majemuk dari budi-daya, yang berarti daya dari budi. Oleh sebab itu ada yang membedakan antara kebudayaan dan budaya. Budaya merupakan daya dari budi yang berupa cipta rasa dan karsa dan kebudayaan merupakan hasil dari cipta, rasa dan karsa. (Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antroplogi)
Pada umunya yang tergambar dalam pemahaman tentang kebudayaan merupakan kesenian. Misalkan dalam Muhammadiyah gambaran tersebut akan dilengkapi dengan olah raga, seperti bela diri dan sepak bola. Menurut Ernst Cassirer dalan An Essay of Man, mengatakan bahwa kebudayaan adalah agama, seni, filsafat, ilmu sejarah, mitos dan bahasa. Bahkan manusia menambahkan bahwa cara beragama pada agama, kebudayaan gaya hidup, fashion, upacara, dan festival. Kebudayaan merupakan ide dan symbol, sedangkan manusia merupakan animal simbolicum, dimana ia akan menciptakan symbol. System symbol erat kaitannya dengan ideological constraint untuk menggambarkan mahluk hidup. (Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid).
Kebudayaan menurut Karl Marx kotemplasi diri di dunia yang kita ciptakan sebagai produk kerja manusia dan alat utama yang menghubungkan diri dengan manusia yang lain, tetapi juga dengan alam. Kebudayaan merupakan sebagai produk kerja yang belum selesai, merupakan perpanjangan tubuh manusia dalam tubuh alam melalui kebudayaan yang unik. Aktivitas tersebut tidak akan mereduksi seakan-akan terbenam dalam realitas yang selesai dan tidak berubah. (John C. Raines, Marx tentang Agama). Aktivitas manusia dalam alam yang teraktualisasikan dalam kerja menjadikan suatu kebudayaan dan kebudayaan tersebut tidak akan pernah selesai dikarenakan dalam realitas yang selalu berubah. Aktivitas yang dilakukan oleh manusia dengan berkerja dalam mengelola alam memerlukan alat yang dibutuhkan. Pemenuhan terhadap alat yang diperlukan manusia dalam mengelola alam mengalami kemajuan yang baik dari yang sederhana hingga kompleks. Aktualisasi dalam kerja tersebut menghasilkan suatu kebudayaan yang membawa pemberdayaan alam guna memenuhi kebutuhan dan kemudahan bagi manusia. Kebudayaan menurut E.B Taylor merupakan kompleks yang mencangkup pengetahuan, keprcayaan kesenian, moral hokum dan adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan merupakan seluruh aspek yang dapat dipelajari oleh manusia dalam menjadi anggota masyarakat. Kebudayaan merupakan ketiga unsure dari cipta rasa dn karsa yang telah dimiliki oleh manusia dalam masyarakat. (Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar)
Kebudayaan memiliki tiga gejala menurut ahli ilmu antropologi, yakni idea, activities, dan artifac. Wujud dari kebudayaan yang ideas, merupakan suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan. Wujud ini merupakan yang ideal dalam kebudayaan memiliki sifat yang abstrak, tidak dapat diraba dan difoto. Lokasi tersebut berada dikepala manusia, atau berada dalam alam pikiran masyarakat diman kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Pertama, wujud ini merupakan wujud yang ideal dari kebudayaan, bersifat abstrak tidak daaat di foro atau diraba. Lokasi kebudayaan tersebut terletak pada kepala, atau perakataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Ide dan gagasan manusia hidup bersama dengan suatu masyarakat dan memberi jiwa kepada masyarakat itu pula. Gagasan tidak dapat dilepaskan dari sutu system dan para sosiolog dan antropolog menyebutnya dengan sebutan system budaya.
Kedua, merupakan social system, mengenai tindakan berpola dari manusia, yang terdiri dari aktivitas manusia yang saling berinteraksi, hubungan serta bergaul dengan yang lain selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adapt dan kelakuan. System social dalam manusia bersifat konreat, tertaji disekelilong kita sehari-hari bias diobservasi difoto dan didokumentasikan. Ketiga, merupakan dalam bentuk fisik, karena seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan dan karya semua, manusia dalam masyarakat, sifatnya merupakan paling konreat, berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan difoto. Ketiga, wujud kebudayan merupakan realitas yang ada dalam kenyataan kehidupan masyarakat tertentu yang tak terpisahkan satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal dan adat-istiadat mengatur dan memberi arah kepada tindakan karya manusia.baik pikiran dan ide-ide, maupun tindakan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda dalam kebudayaan fisik. Sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi pola perbuatannya, bahkan juga cara berfikirnya. (Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi).
Bercermin pada Sejarah Muhammadiyah dan Ikatan
Hidup yang tak direfleksikan merupakan kehidupan yang tak pantas dijalani, itulah perkataan bijak Socrates. Begitupula, dengan perkataan dari nabi bahwa hari ini
lebih baik dari pada hari kemarin merupakan orang yang beruntung, hari ini sama dengan hari kemarin merupakan orang yang rugi sedangkan dalam hari ini lebih buruk dari kemarin merupakan orang-orang yang mendapatkan laknat. Perkataan bijak Socrarates maupun nabi merupakan pentingnya melakukan sebuah refleksi yang dilakukan oleh secara sendiri atau kolektif guna meningkatkan atau apa yang telah dilakukan. Cara melakukan refleksi dengan pengevaluasian perbuatan yang telah dilakukan, proses dalam mencapai tujuan yang telah diidealkan. Refleksi digunakan dalam menilai dan koreksi apa yang telah dikaukan dapat menunjang atau menghambat tujuan serta jalan yang digunakan dalam rangkan penyelesaian masalah yang dihadapi. Refleksi yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan apa yang telah dilakukan sihingga tercipta kehidupan lebih baik dari pada hari kemarin dan menciptakan makna dalam kehidupan.
Begitupula, dengan ikata sebelum menggulirkan sebuah pemikiran atau penggagasan tentang kebudayaan ikatan, sebuah ikatan melakukan sebuah refleksi tentang Muhammadiyah dan ikatan guna melihat sejarah agar mencapai subtansi dari mengapa oragnisasi itu berdiri. Bercermin kepada Muhammadiyah dikarenakan iktan merupakan salah satu ortom dari Muhammadiyah sehingga secara tidak langsung ikatan merupakan penerus dari jalannya Muhammadiyah guna menciptakan masyarakat yang telah diidealkan oleh Muhammadiyah. Ikatan dalam tujuan serta langkah geraknya merupakan salah satu usaha dalam mencapai tujuan ideal dari Muhammadiyah. Begitupula, dengan Muhmmadiyah sebagai orang tua dari ikatan membrikan kesempatan kepada ikatan untuk menentukan pilihan jalan guna menciptakan tujuan dari Muhammadiyah meskipun jalan tersebut berlawanan dengan Muhammadiyah, tetapi yang terpenting masih dalam kerangka pikir Muhmmadiyah dan meniru pendirinnya KH. Ahmad Dahlan.
Muhammadiyah sebagai organisasi social kemasyarakatan dalam sejarahnya tidak dapat dilepaskan dari tokoh yang berada dalam Muhammadiyah dan mengembangkannya. Muhammadiyah merupakan organisasi social modern yang berada di Indonesia yang konsen pada lembaga pendidikan serta social kemasyarakatan. Pilihan yang dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai lahan gerakannya dalam bidang
social kemasyarakatan. Muhammadiyah dilahirkan dikarenakan dua factor yang melatar belakanginya. Faktor yang melatar belakangi lahirnya Muhammadiyah dua bagi menjadi dua macam factor eksternal dan faktor internal. Factor eksternal situasi politik penjajahan colonial Belanda dan ide-ide pembharuan yang berada di Timur Tengah. Sedangkan untuk factor internal merupakan yang berkaitan dengan ajaran Islam itu sendiri secara menyeluruh. Hal ini, seperti kebragamaan umat Islam, lembaga pendidikan Islam. Melihat berbagai persolan baik yang berada dalam umat Islam atapun berbagai persoalan yang berkaitan dengan kondisi social masyarakat pada waktu itu dimana terjadinya penjajahan yang menyebabkan dehumanisasi.
Melihat realitas dan pemaknaan terhadap doktrin agama sehingga melahiorkan pemikiran dan tindakan yang praktis dalam rangka mengatasi permasalah yang terjadai dalam umat pada waktu itu. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh KH. Ahamad Dahalan merupakan tindakan agar menjadikan Islam sebagai rahmat atau paling tidak dapat menyelesaikan permasalahan sehingga dalam tafsirannya Islam sangat praktis dan dapat dirasakan oleh masyarakat. Hal ini, dapat dilihat apa yang dilakukan oleh Muhammdiyah awal mendirikan PKU, sekolah dan panti asuhan dalam rangkan untuk mengurangi beban masyarakat miskin dan merupakan proyek kemanusiaan tanpa balas jasa. Semangat yang dimiliki oleh Muhammadiyah awal adalah semangat Ikhlas serta
amliyah yang kosekuens. Sikap yang dimiliki oleh Muhammadiyah sebagai respon terhadap realitas ini merupakan pilihan yang dilakukan oleh generasi awal Muhammadiyah yang membedakan Muhammadiayh dengan organisasi yang lain. Gerakan yang dilakukan oleh Muhammadiyah memilili social kemanusian dari pada partai politik serta gerakan purifikasi ansih, tetapi yang dilakukan oleh Muhammadiyah gerakan moden yang leboih cenderung rasional serta melakukan rasionalisasi bukan dalam gerakannya dibawa pada mistis dan irasional.
Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan merupakan organisasi social keagamaan dalam gerakannya berbeda dengan gerakan organisasi yang lain. Gerakan yang berbeda tersebut, melahirkan kultur serta paradigma yang berbeda maka dalam etos serta kebudayaan yang dilahirkan pun berbeda. Sebagaimana, dalam kerangka etos bahwa etos merupakan pandangan dasar yang berbeda dari suatu
komunitas atau masyarakat yang mencerminkan dirinya sendiri. Menurut pengertian dari etos sebagai sesuatu sikap mental yang ada, maka sikap mental yang ada dalam Muhammadiyah yang telah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan setidaknya memilimi etos. Sedangkan etos dalam Muhammadiyah dengan gerakannya menurut Haedar Natshir memiliki dua etos yaitu; etos keilmuan (kemajuan), dan etos pembaharu (tajdid). Etos Kemajuan (keilmuan), etos ini dimiliki oleh Muhammadiyah yang menjadi gerakanya dalam mengatasi persolan umat dengan menggunakan atau pemanfaatan teknlogi serta pengembangan sumber daya manusia yang dikembangkan oleh Muhammadiyah. Semangat keilmuan ini dapat dilihat dari penerapan dan penggabungan dua lembaga pendidikan yang saling bertentangan yakni penggabungan antara pendidikan tradisionalis dan pendidikan modern yang bersifat sekuler. Penggabungan antara ilmu agama dan ilmu umum menjadikan corak yang khas pada lembaga pendidikan yang telah dirintis oleh Muhammadiyah. Pendidikan yang dilakukan merupkan kritik terhadap keadaan pendidikan pada waktu itu. Pendidikan yang berjalan tanpa sapa dan berdiri sendiri antara agama dengan ilmu pengetahuan. Upaya yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan merupakan salah satu upaya kreatif guna memberikan solusi agar umat dapat menguasai ilmu alam dan humaniora agar dapat menerapkan ajaran Islam sebagai rahmat dan diterima oleh semua manusia. Kerangka keilmuan dalam Muhammadiyah juga di miliki oleh KH. Ahmad Dahlan ia menganjurkan kepada umat agar mencari ilmu-ilmu dunia bukan ilmu tentang ukhrawi saja. Ia juga meletakkan etos guru dan murid merupakan warga aktivis Muhammadiyah yang selalu bersedia belajar kepada siapapun agar dapat memperoleh ilmu, kebenaran dan kebaikan (murid) dan selalu menyebarkan ilmu, kebenaran dan kebaikan itu saat berkomunikasi dengan orang lain siapa pun orang itu (guru). (Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikultural).
Etos tajdid (pembaharu). Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharu merupakan sikap setelah mengetahui dan bagaiamana cara merespon realitas. Tajdid yang dilakukan oleh Muhammadiyah merupakan hasil diealektika antara teks, konteks dan kontekstualisasi dari pemahaman keagamaan. Pemahaman kegamaan yang telah dikonstruksi oleh Muhammadiyah bersifat praktis dan menjadikan agama dapat
memberikan rasa atau kegunaan pada masyarakat yang pada waktu itu mengalami ketertindasan. Semangat agama yang dibawa oleh Muhammadiyah merupkan semangat keagamaan yang bersifat praksis emansipatoris serta liberatif dan pemihakan terhadap yang termarginalkan baik dalam aksesnya tapun dalam komunikasi. Gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammadiyah terdiri dari dua aspek yang penting pertama dalam aspek keagamaan dan kedua pada aspek social kemasyarakatan. Etos pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammadiyah merupakan sikap Muhammadiyah dalam memberkan solusi terhadap persolan yang terjadi pada masyarakat pada waktu itu dimana terjadinya dehumanisasi.
Tajdid dalam masalah keagamaan. Tajdid yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah semangat untuk melakukan rasionalisasi, demistifikasi, dan demitologi umat yang terjadi pada waktu itu. Miskan yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan pada waktu itu sangat controversial tetapi dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan, sebagai gambaran seorang guru agama merupakan suatu yang sacral dan dalam kajian dalam bidang ilmu keagamaan didatangi oleh muridnya, tetapi apa yang telah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan malah mendatangi murid-muridnya bahkan supaya bersikap terbuka terhadap suatu kebenaran. Selanjutnya tajdid dalam masalah social kemasyarakatan. Tajdid ini yang dilakukan oleh Muhammadiyah banyak dan telah dirasakan oleh seluruh umat manusia. Hal yang baru dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dalam mengatasi persolan umat diselesaikan dengan cara kolektif, pengorganisasian dana zakat, infak dan sodaqoh. Kesadaran untuk memperdayakan umat merupakan kesadaran individu tetapi apa yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan ia mendirikan PKO, panti asuhan dan orang terlantar merupakan kesadaran individu dibawa menjadi kesadaran kolektif. Pengelolaan kolektif merupakan semangat dari kemajuan persolan umat tersebut tidak boleh ditanggung secara individual tetapi dibawa pada persolan kolektif sehingga dalam penangannya lebih efektif, da meniru organisasi modern yang ada pada waktu itu. Pengumpulan dana zakat, infak, dan sodaqoh yang dikelola secara modern tidak digunakan sebagai barang konsumtif tetapi pada pemberdayaan masyarakat misalkan dengan mendirikan lembaga amal usaha dan ditangani dengan menggunakan organisasi modern serta menegement
yang baik. Hasil dari pengelolaan tersebut digunakan modal untuk mendirikan koperasi dan lembaga keungan yang terkait bukan saja untuk dikonsumsi. Kesadaran kolektif yang dimiliki oleh Muhammadiyah menjadikan suatu terbangunya solideritas oraganis yakni suatu soilideritas yang terjadi melalui diferensiasi pemikiran atau gebrakan social yang dipandang tidak wajar oleh orang sekitar. Ini terjadi pada struktur masyarakat modern dimana umat yang terjalin dalam Muhammadiyah tidak tergantung pada kharisme ulama. Sedangkan pada waktu, konteks yang terjadi dalam masyarakat merupakan kesadaran mekanis yang menandakan sebagi kesdaran dari masyarakat tradisonal. (Bahrus Surur Iyunk, Teologi Amal Soleh).
Kedua etos yang telah dimiliki oleh Muhammadiyah ini merupakan saling berkelindan tidak dapat dipisahkan. Muhammadiyah sebagai gerakan yang kemajuan bersikap terbuka dan melakukan emansipatoris terhadap masyarakat melalalui amal usahanya menjadikan ciri Muhammadiyah dalam upaya mencapai tujuan utama yang ia ciptakan dalam naungan Tuhan. Etos dalam Muhammadiyah menjadi kebudayaan yang telah dimiliki oleh Muhammadiyah guna menciptakan suatu masyarakat ilmu dimana bersifat, terbuka, toleran serta inklusif. Pilihan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam gerakannya sebagai organisasi social keagamaan bukan organisasi polik merupakan pilihan yang "genius" untuk tidak menyatakan orisinal. Terlebih lagi, pilihan tersebut tidak didasarkan kajian cerman terhadap literature Islam klasik dan juga tidak memperoleh ispirasi dari konsep-konsep "teologis" atau kalam klasik yang telah baku atau mapan. Tetepi Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang memiliki program aksi guna menciptakan apa yang telah diidealkan oleh Muhammadiyah. (M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural). Masyarakat ilmu telah dirintis oleh Muhammadiyah sebagai pemecahan problem umat Islam pada waktu itu. Pemecahan permasalahan umat diharapkan dapat mencapai apa yang telah dicita-citakan oleh Muhammadiyah.
Ikatan merupakan salah satu organisasi kader yang memiliki kaitan erat dengan Muhammadiyah dalam setiap dan langkahnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh Muhammadiyah. Muhammadiyah dengan etos ilmu dan pembaharuan merupakan tugas yang mulia dan sikap ikatan sebagai organisasi kader adalah sebagai penerus
terhadap etos yang telah dimiliki oleh Muhammadiyah dalam rangka menciptakan kebudayaan ilmu guna mewujudkan ummat yang terbaik. Ikatan memiliki tujuan yang jelas dan harus berani menentukan pilihan serta konsisten terhadap pilihan guna mewujudkan masyarakat yang diidealkan. Sikap pilihan gerakan merupakan langkah tak asal pilih tetapi merupkan perenungan panjang kontemplasi diri serta bagaimana keadaan sekarang. Gerakan yang diangkat oleh ikatan sebagai kader Muhammadiyah