BAB VII ~ Tata Cara Menengok Orang Sakit
F. Euthanasia
oleh jiwa dan semangat ajaran agama Islam (haram) baik di kala janin sudah bernyawa (umur empat bulan dalam kandungan) ataupun belum karena perbuatan itu merupakan pembunuhan terselubung yang dilarang oleh syari’at Islam kecuali untuk menyelamatkan jiwa si ibu,
h. Untuk memantapkan program Keluarga Berencana khususnya menggunaka kontrasepsi hendaknya pada setiap klinik Keluarga Berencana dilengkapi dengan tenaga yang memahami ajaran Islam, i. Menganjurkan kepada pemerintah untuk melarang
pelaksanaan vasektomi, tubektomi dan abortus bagi umat Islam, serta meningkatkan pengawasan terhadap penyalahgunaan alat-alat kontrasepsi yang ada kemungkinan dipergunakan untuk perbuatan maksiat, dan
j. Menganjurkan kepada umat untuk meningkatkan pembentukan keluarga yang sejahtera dan bahagia penuh sakinah, mawadah dan rahmah agar tercapai keberhasilan dan pembinaan anak yang sehat, cerdas, terampil, dan salih.
dengan belas kasih” terhadap orang sakit, luka-luka, atau lumpuh yang tidak memiliki harapan sembuh dan didefinisikan pula sebagai pencabutan nyawa dengan sebisa mungkin tidak menimbulkan rasa sakit seseorang pasien yang menderita penyakit parah dan mengalami kesakitan yang sangat menyiksa. Dengan demikian, euthanasia mencakup:105
1. kematian dengan cara memasukkan obat dengan atau tanpa permintaan eksplisit dari si pasien;
2. keputusan untuk menghentikan perawatan yang dapat memperpanjang hidup pasien dengan tujuan mempercepat kematiannya;
3. penanggulangan rasa sakit dengan cara memasukkan obat bius dalam dosis besar, dengan mempertimbangkan timbulnya resiko kematian, tetapi tanpa ada niatan eksplisit untuk menimbulkan kematian pada si pasien; dan
4. pemberian obat bius dalam jumlah yang overdosis atau penyuntikan cairan yang mematikan dengan tujuan mengakhiri si pasien.
Eutanasia pada hakikatnya adalah pencabutan nya-wa seseorang yang menderita penyakit parah atas dasar permintaan atau kepentingan orang itu sendiri. Eutanasia masih menimbulkan problem keagamaan, hukum, dan moral di semua budaya dan tradisi keagamaan. Sebelum membahas isu tentang eutanasia menurut tinjauan
105Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Kloning, ..., h. 148-149.
syariat, ada baiknya untuk menguraikan sikap Islam tentang hak hidup.
1. Hak Hidup
Seperti halnya agama-agama yang lain, Islam menjunjung tinggi hak hidup seseorang sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Ma’idah, (5):32)106 yang telah dikutip sebelumnya. Bagaimanapun, perlu dicatat bahwa peraturan pidana Islam menetapkan hukuman mati bagi orang yang melakukan tindak kejahatan berat tertentu. Dengan tujuan mencegah terjadinya kejahatan dan memelihara kedamaian, ke-amanan, dan ketentraman, Islam menetapkan aturan-aturan preventif dan hukuman yang adil bagi tindakan-tindakan yang cenderung mengancam hidup orang lain tanpa ada alasan yang sah. Al-Qur’an menetapkan hukuman mati untuk tindak pembunuhan yang disengaja.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 178
ف ُصا َصِقْلا ُم ُكْيَلَع َبِتُك اوُنَماَء َنيِذَّلا اَ ُّهيَأاَي ىَثْنُ ْلاِب ىَثْنُ ْلا َو ِدْبَعْلاِب ُدْبَعْلا َو ِّرُ ْلحاِب ُّهرُ ْلحا َلْتَقْلا
ٌميِلَأ ٌبا َذ َع ُهَلَف َكِلَذ َدْعَب ىَد.هَل َيِف ُع ْنَمَف
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka,
106Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an..., h.164.
hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diyat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.
Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Qs. al-Baqarah [2]:178). 107
Hukuman bagi pelaku pidana pembunuhan dalam bahasa arab disebut al-qishas (pembalasan yang adil).
Aturan ini memastikan bahwa ketika hukuman mati dilaksanakan, maka hanya orang bersalahlah yang akan kehilangan nyawanya. Namun, perlu dikemukakan di sini bahwa keluarga yang terbunuh juga memiliki dua pilihan lain: memafkan pelaku, atau menerima uang tebusan.108
2. Macam-macam Eutanasia
a. Euthanasia Aktif (Euthanasia Positif) atau Taisir al-Maut al-fa’al109
Eutanasia aktif adalah tindakan sengaja yang dilakukan oleh ahli medis untuk mengakhiri hidup pasiennya. Artinya ada tindakan untuk mempermudah kematian dengan menggunakan alat. Eutanasia jenis ini dilakukan atas dasar keputusan paternalistik untuk
107Ibid., h.43.
108Abul fadl Mohsin Ebraqhim, Kloning..., h.149-150.
109Ibid., h.150-151.
melakukan sesuatu yang terbaik bagi penarita penyakit parah. Hal ini tidak boleh dilakukan sebagaimana firman Allah dalam surat al-Isra’(17) ayat 33:
ِّقَ ْلحاِب َّلاِإ ُللها َمَّر َح يِتَّلا َسْفَّنلا اوُلُتْقَت َلا َو
Artinya:“Dan janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan suatu (alasan) yang benar”.110 Dari ayat di atas, jelaslah bahwa nyawa manusia adalah suci dan, karenanya, tidak boleh dilenyapkan kecuali atas dasar alasan yang dibenarkan, yaitu dalam eksekusi hukuman mati, dalam perang suci, atau dalam pembelaan diri yang sah. Pencabutan nyawa seorang penderita penyakit parah tidak termasuk dalam kelompok
“alasan yang dibenarkan”. Karenanya, jika seorang ahli medis secara sengaja mengakhiri hidup pasiennya, maka dia akan dianggap melakukan pembunuhan. Hidup dan mati adalah hak progresif Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dengan tegas dalam Qs. Ali Imran (3):156.
ٌي ِصَب َنوُلَمْعَت اـَمِب ُللها َو ُتيِمُي َو يِيْ ُي ُهَّلـلا َو
Artinya:“Allah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Allah mengetahui segala apa yang kalian lakukan”111 Dari ayat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun ahli medis hanya bermaksud meninggikan dosis obat yang diberikan, sementara ia sadar
sepe-110Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an..., h.429.
111Ibid., h.103.
nuhnya bahwa tindakan tersebut dapat mengakibatkan kematian, maka menurut syariat, ia akan dimintai pertanggungjawaban karena telah mengakhiri hidup pasiennya yang sama saja dengan tindak pembunuhan.
Memang benar bahwa niat seorang ahli medis berada di luar yurisdiksi hakim atau pengadilan, tetapi niatnya itu tidak akan luput dari pengawasan Allah Yang Maha Melihat. Dalam hal ini, al-Qur’an surat Al-Mukminun (23): 19 menyebutkan
رو ُد ُّهصلا يِفْ ُت اَم َو ِ ُيْعَ ْلا َةَنِئا َخ ُمَلْعَي
Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”112
b. Euthanasia Pasif (Euthanasia negatif/Taisir al-Maut al-Munfa’il).113
Eutanasia pasif adalah ketiadaan penanganan yang seharusnya diberikan oleh petugas medis, misalnya, memasang alat bantu pernapasan yang sakit parah sehingga berakibat pada kematian pasien. Dalam kon-teks ini petugas medis tidak dikenai tanggungjawab atas tindakannya yang menyebabkan kematian si pasien berdasarkan pada kaidah hukum Islam: ”Lâ dlarara walâ dlirâra”. Prinsip ini membenarkan seseorang untuk membiarkan kematian terjadi secara alamiah. Lebih lanjut perlu dikemukakan bahwa walaupun petugas diwajibkan menyediakan pelayanan medis sepanjang
112Ibid., h.528.
113Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Kloning ..., h. 154-155.
waktu tetapi penekanan medis ini boleh dihentikan jika menurut pendapatnya sebagai seorang yang ahlul khibrah (ahli pengobatan), tipis harapan bagi si pasien untuk sembuh. Ini berarti penyaluran zat makanan ke tabung dihentikan jiuka menurut pendapat ahli medis pemberian zat makanan tidak berguna lagi. Dibolehkan bagi petugas medis untuk mematikan alat bantu hidup begitu pasiennya didiagnosis mati otak dan ahli medis menyatakan berhentinya aktifitas otak si pasien tidak dapat dibolehkan lagi.
Motivasi euthanasia ada tiga sebagai berikut a. faktor ekonomi,
b. pertimbangan sarana dan petugas medis, dan c. mati dengan layak.