Dari form usulan perbaikan yang diimplementasikan selama 19 Mei – 4 Juni 2008, ruang lingkup implementasi pada Kepala Unit terkait. Penjelasan kepada operator dapat dilakukan apabila produk tersebut sedang ada jadwal produksi, karena sistem produksi di ATK adalah make to order.
Defect List OTC, LKH Packing Thermal Paper, LKH Telex Paper dan LKH Packing Duplicating Ink adalah form usulan yang berjalan lancar, berdasarkan koleksi data yang lengkap, yaitu pengisian form di semua kolom sudah lengkap dan benar. Defect Lict OTC yang berjalan di ATK Atas sejak 23 Mei 2008, sudah mencatat tiap kecatatan OTC yang dihasilkan per shiftnya.
Defect List ini sudah dipantau oleh Checker QC FG setiap kali dibuat. LKH Packing Duplicating Ink juga berjalan dengan lancar di ATK Bawah pada tanggal 19 Mei 2008, memuat semua informasi di stasiun kerja packing dari aliran bahan masuk hingga keluar dan dikirim ke Gudang FG. Pencatatan pemakaian bahan pembantu berupa plastik yang mulanya kesulitan sudah berhasil diselesaikan dengan metode pendekatan. LKH Packing Thermal Paper sudah berjalan dengan baik mulai 2 Juni 2008, pengisian kolom proses produksi dan pemakaian bahan pembantu sudah tercatat dengan benar. LKH Telex Paper hanya berjalan sekali saja, yaitu pada 29 Mei 2008 dan sudah terimplementasi dengan baik.
Form Retur bahan baku ke Gudang Raw Material sudah berjalan di ATK Atas. Implementasi Form Retur ini berjalan dengan lancar. ATK Bawah terhitung jarang mengembalikan bahan baku. Menurut Kepala Unit ATK Bawah, bahan baku yang masuk ke lantai produksi sudah sesuai standar. Unit Amplop selama ini
tidak pernah mengembalikan bahan baku ke Gudang Raw Material. Form Retur di ATK Atas biasanya untuk mengembalikan bahan baku pembantu yang tidak sesuai spesifikasi di pembuatan Ordner.
Beberapa form usulan tidak dapat dijalankan karena tidak ada proses produksi untuk beberapa produk. Proses produksi akan berjalan jika ada order yang masuk dari Marketing. Form usulan yang tidak dapat diimplementasikan kepada operator karena tidak adanya order hingga batas waktu implementasi selesai adalah LKH Gabus, LKH Perforasi dan Packing Stensil Sheet, LKH Tube Duplicating Ink, LKH Packing Refill Ribbon, dan LKH Packing Refill Ink. Form usulan tersebut tetap diimplementasikan dalam ruang lingkup hanya sebatas penjelasan kepada Kepala Unit terkait. Form usulan ini diprediksi dapat berjalan dengan lancar karena prosesnya tidak continue, jadi operator dapat lebih tenang dan mengisi form dengan lengkap.
Form usulan LKH Ordner sudah berjalan, tetapi belum dapat terisi dengan lengkap. Pengisisan form ini terkendala pada ketidak siapan Sumber Daya Manusia yang ada, yaitu operator untuk menjalankan form yang baru. Dalam sistem pencatatan lama, mereka tidak diharuskan untuk menghitung pemakaian bahan pembantu dan menghitung stok di stasiun kerja masing-masing. Mereka hanya bekerja secara teknis saja. Integrasi data tidak diperhatikan. Mulanya, sistem pencatatan yang baru tidak terlalu disambut dengan antusias oleh operator, tetapi perlahan-lahan mulai timbul kesadaran dan kemauan untuk mengisi, walaupun tidak semua kolom.
Kesulitan yang mereka hadapi dalam pengisian terdapat pada penghitungan stok awal bahan di unit, penghitungan stok bahan pembantu yang ada di lantai produksi, dan besarnya perpindahan bahan selama proses produksi.
Perlu diketahui bahwa seorang operator dapat bertugas di beberapa stasiun kerja sekaligus dalam satu hari. Mereka umumnya lupa mencatat hasil setor ke stasiun kerja berikutnya atau jumlah pengambilan dari stasiun kerja sebelumnya.
Banyaknya jenis ordner yang diproduksi juga memberikan kesulitan tersendiri, apalagi mereka belum terbiasa untuk mencatat.
Pada penghitungan pemakaian bahan pembantu operator kesulitan untuk menghitung stok aktual embalase yang ada secara presisi. Embalase fingering dan
radoring dalam sekali pengebonan dalam jumlah banyak dan bentuknya kecil-kecil. Pada proses produksi, embalase tersebut dimasukkan ke dalam mesin sehingga operator tidak tahu berapa jumlah embalase yang tersisa. Jumlah embalase yang tersisa pada sistem pencatatan yang lama, dihitung dari jumlah terpakai dalam satu bulan. Mengatasi permasalahan ini, pada lantai produksi Ordner ini diberikan kelonggaran. Pada awalnya mereka hanya perlu menghitung jumlah yang terpakai dan rusak sampai stok lama habis. Pada saat dilakukan permintaan embalase kembali ke Gudang Raw Material, jumlah tersisa pasti tinggal sedikit dan mudah dihitung. Jumlah embalase sisa lalu dan kiriman baru digunakan sebagai data pada kolom stok awal.
Jadi dari 11 form usulan yang diimplementasikan kepada operator, sebanyak 5 form (46%) berjalan dengan baik, 5 form (45%) tidak dapat berjalan karena tidak ada order, dan 1 form (9%) belum terisi dengan lengkap dan benar.
Secara keseluruhan, hasil implementasi form usulan dapat dilihat pada Tabel 4.1. di bawah ini. Hasil Tabel 4.1. digambarkan dalam pie chart di Gambar 4.5.
Tabel 4.1. Rekapitulasi Hasil Implementasi
Rekapitulasi Hasil Implementasi Jumlah
Berjalan dengan baik 46%
Tidak dapat berjalan karena tidak ada order 45%
Belum terisi dengan lengkap dan benar 9%
Rekapitulasi Hasil Implementasi Form Usulan
46%
45%
9% Berjalan dengan baik
Tidak dapat berjalan karena tidak ada order Belum terisi dengan lengkap dan benar
Gambar 4.5. Rekapitulasi Hasil Implementasi
4.4.2. Analisa Perbandingan
Untuk mengetahui seberapa jauh perubahan yang ada setelah implementasi SOP di Unit Produksi ATK, dilakukan penilaian. Parameter yang digunakan adalah dengan melihat apakah tujuan SOP secara teoritis dapat tercapai di lapangan. Penilaian bukan dilakukan untuk mengukur kinerja staf yang terlibat dalam SOP ini, tetapi hanya menilai secara administrasi. Tujuan SOP yang akan menjadi dasar penilaian adalah sebagai berikut:
1. Agar petugas menjaga konsistensi dan tingkat kinerja staf atau operator dalam organisasi atau unit.
2. Memperjelas alur tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari staf atau operator terkait.
3. Untuk menghindari kesalahan, keraguan, dan duplikasi dan inefisiensi.
4. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi.
5. Melindungi organisasi dan staf dari malpraktek atau kesalahan admninistrasi lainnya.
Setiap butir dalam tujuan tersebut dibuat persyaratannya sesuai ruang lingkup yang diteliti, yaitu Unit Produksi ATK dan unit pendukung yang terkait
dalam proses produksi secara langsung. Penilaian untuk tiap pasal berdasarkan pengamatan penulis di lapangan dan wawancara dengan pihak terkait. Untuk keakuratan hasil, pada saat penilaian, penulis meninjau keadaan lapangan baik dari segi pengamatan dan wawancara seperti observasi biasa. Jadi pihak Unit Produksi ATK tidak merasa sedang dinilai. Metode seperti ini untuk mencegah manipulasi penyimpangan yang dapat menguntungkan salah satu pihak.
Dari tiap poin persyaratan yang ada dilihat keadaan sebelum dan sesudah implementasi SOP di Unit Produksi ATK. Setiap poin ditinjau untuk ATK Atas, ATK Bawah, dan ATK Amplop. Poin persyaratan yang dinyatakan sesuai dengan kondisi di Unit Produksi ATK, diberi tanda “√”. Sedangkan jika pada poin persyaratan yang ada tidak sesuai dengan kondisi di Unit Produksi ATK, maka poin tersebut diberi tanda “x”. Apabila salah satu unit produksi ATK tersebut tidak dapat memenuhi poin persyaratan yang dimaksud, maka pada poin tersebut diberi tanda “x”. Misal pada poin 5a, ATK Amplop sudah dapat memenuhi poin persyaratan, tetapi ATK Atas dan ATK Bawah tidak memenuhi poin tersebut.
Maka poin 5a tetap mendapat tanda “x”. Hal ini karena SOP harus dapat diterapkan pada Unit Produksi ATK, sesuai judul Tugas Akhir ini. ATK Atas, ATK Bawah, dan ATK Amplop merupakan bagian dari Unit Produksi ATK.
Implementasi perbaikan diberikan kepada poin yang pada keadaan sebelum implementasi mendapat tanda “x”. Apabila pada keadaan sebelum implementasi, poin persyaratan sudah mendapat tanda “√”, maka tidak diberikan proses perbaikan. Berikut merupakan hasil penilaian penerapan SOP di Unit Produksi ATK:
1. Agar petugas menjaga konsistensi dan tingkat kinerja staf atau operator dalam organisasi atau unit.
Kondisi yang diamati dapat dilihat pada tabel 4.2. sebagai berikut:
Tabel 4.2. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan
Apabila bahan baku yang dikeluarkan dari Gudang Raw Material tidak sesuai dengan BPBG, Unit Produksi dapat mengajukan klaim ke Gudang Raw Material kembali untuk mengecek pengeluaran bahan baku hingga sesuai dengan permintaan BPBG
√ √
b
Apabila bahan baku yang akan diproses tidak sesuai spesifikasi, Unit Produksi harus mengembalikan ke Gudang Raw Material
√ √
c
Dalam proses produksi, mesin dapat mengalami gangguan. Kendala ini harus terlebih dahulu dianalisa operator apakah dapat ditangani secara mandiri atau tidak. Gangguan mesin yang tidak dapat ditangani sendiri dilaporkan kepada Kepala Unit terkait agar dapat meminta bantuan kepada Unit Engineering
√ √
d
Setiap kali proses di masing-masing stasiun kerja, operator menginspeksi hasil proses produksi.
Kecacatan yang timbul dapat diperbaiki dengan segera sehingga tidak mengganggu hasil sampling inspeksi produk oleh Unit QC FG. Kecacatan yang tidak dapat diperbaiki disisihkan tersendiri sebagai barang afkir
√ √
e
Hasil sampling produk setiap kali turunan produksi yang tidak memenuhi karakteristik kualitas yang ditentukan QC FG tidak serta merta direject, tetapi diberi label QC Hold terlebih dahulu. Keputusan final harus menunggu dari rapat manajemen. Kecacatan yang dapat ditoleransi akan diloloskan dan diberi label QC Passed. Kecacatan yang tidak dapat ditoleransi akan diberi label QC Reject
√ √
f Operator menggunakan bahan yang sama untuk
memproduksi produk yang tidak berbeda √ √ g Operator bekerja sesuai work instruction yang dibuat √ √ h Langkah-langkah proses produksi untuk pembuatan
produk, sama √ √
Dari tabel di atas, diketahui semua persyaratan dapat dipenuhi, baik sebelum maupun sesudah implementasi. Hal ini menunjukkan Unit ATK Produksi sudah melakukan prosedur kerja dengan konsisten.
2. Memperjelas alur tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari staf atau operator terkait.
Tugas yang tercantum di bawah ini sesuai dengan job description dari HRD Perusahaan “X”. Penilaian bukan untuk mengukur kinerja tetapi dilihat dari segi administratif. Job description yang dimbil sebagai poin penilaian disesuaikan dengan ruang lingkup Tugas Akhir ini.
Kondisi yang diamati dapat dilihat pada Tabel 4.3. berikut:
Tabel 4.3. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan Kedua
Kesesuaian
Poin Persyaratan Sebelum Sesudah
a
Kepala Unit Produksi ATK bertugas untuk mempersiapkan bahan baku dengan membuat bukti BPBG ke Unit Gudang Raw Material, memeriksa pelaksanaan proses produksi, memeriksa kualitas dan kuantitas hasil produksi, mengontrol penggunaan material dalam proses produksi, menyetujui laporan hasil produksi harian, menyetujui laporan pemakaian bahan harian, mengatur penyerahan barang WIP ke Gudang Semi finishing, mengatur penyerahan barang cacat ke Gudang Raw Material, mengatur penyerahan barang jadi ke Gudang FG
√ √
b
Foreman produksi bertugas untuk menerima bahan baku yang telah dipesan oleh Kepala Unit, memeriksa kualitas dan kuantitas hasil produksi, mengontrol penggunaan material dalam proses produksi, memeriksa checksheet proses produksi ATK, serta mengawasi laporan hasil produksi dan laporan pemakaian bahan baku, menyerahkan hasil produksi WIP ke Gudang Semi Finishing, menyerahkan hasil produksi ke Gudang FG
√ √
Tabel 4.3. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan Kedua (Sambungan)
Kesesuaian
Poin Persyaratan Sebelum Sesudah
c
Operator produksi bertanggung jawab terhadap proses produksi yang dikerjakannya dan mencatatnya
√ √
d Kepala Unit QC FG bertugas untuk
memeriksa checksheet QC √ √
e
Kepala Unit Engineering bertugas menerima dan memeriksa OKE dan memeriksa pengajuan permintaan spare part ke Gudang spare part
√ √
f
Kepala Unit Gudang FG bertugas untuk memeriksa penerimaan barang FG di Gudang FG sesuai Surat Pengantar Produksi dari Unit Produksi
√ √
g
Kepala Unit PPIC bertugas untuk membuat JOS sesuai rencana produksi dan membuat bon pemesanan barang ke Purchasing jika dibutuhkan.
√ √
h
Kepala Unit Gudang Raw Material bertugas mengawasi dan memeriksa pengeluaran bahan baku dan Semi Finishing di gudang sesuai BPBG yang diterima dari produksi, mengawasi penerimaan barang semi finishing dari bagian produksi sesuai dengan SPB ke Gudang Semi Finished, dan mengawasi pengembalian barang cacat dari produksi
√ √
Dari tabel di atas, diketahui semua persyaratan dapat dipenuhi, baik sebelum maupun sesudah implementasi. Hal ini menunjukkan Unit Produksi ATK dan unit pendukung yang terkait langsung dengan proses produksi, sudah menjalankan tugas, wewenang, dan tanggung jawab dengan baik ditinjau dari segi administrasi.
3. Untuk menghindari kesalahan, keraguan, dan duplikasi dan inefisiensi Kondisi yang diamati dapat dilihat pada tabel 4.4. sebagai berikut:
Tabel 4.4. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan Ketiga
Kesesuaian
Poin Persyaratan Sebelum Sesudah
a
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Job Order Sheet sebanyak 5 rangkap didistribusikan kepada arsip PPIC, Unit Produksi, Unit Gudang Raw Material, Mill Manager, dan Unit QC FG.
√ √
b
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Surat Permintaan Barang sebanyak 3 rangkap didistribusikan kepada Unit Purchasing, arsip PPIC, dan Mill Manager.
√ √
c
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Bon Pengeluaran Barang dari Gudang sebanyak 4 rangkap didistribusikan kepada Unit Gudang Raw Material (2), Unit Produksi, dan Accounting.
√ √
d
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Form Retur Bahan Baku sebanyak 6 rangkap didistribusikan kepada Unit Gudang Raw Material (3), Kepala Unit Produksi, Administrasi Produksi, dan QC Raw Material.
x √
e
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Lembar Pemakaian Tinta sebanyak 3 rangkap didistribusikan kepada Unit Produksi, Kabag ATK, dan Administrasi Produksi.
√ √
f
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Order Kerja Engineering sebanyak 3 rangkap didistribusikan kepada Unit Produksi, arsip Unit Engineering, dan operator Engineering yang memperbaiki mesin.
√ √
g
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Laporan Kerja Harian sebanyak 3 rangkap didistribusikan kepada Unit Produksi, Administrasi Produksi, dan Accounting.
√ √
h
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Laporan Kerja Harian OTC sebanyak 4 rangkap didistribusikan kepada Unit Produksi, Administrasi Produksi, QC FG, dan Accounting.
√ √
Tabel 4.4. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Defect List OTC sebanyak 4 rangkap didistribusikan kepada Unit Produksi, Unit QC FG, Administrasi Produksi, dan Accounting.
√ √
j
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Surat Pengantar ke Gudang Semi finished sebanyak 5 rangkap didisrtibusikan kepada Unit Gudang Semi finished (3), Unit Produksi, dan Administrasi Produksi.
√ √
k
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Out of Spect Form sebanyak 3 rangkap didistribusikan kepada Kepala QC FG, Unit Produksi, dan Arsip Checker QC FG.
√ √
l
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Checksheet sebanyak 4 rangkap didistribusikan kepada assisten Mill Manager, Kepala Unit QC FG, Kepala Unit Produksi, dan arsip Checker QC FG.
√ √
m
Form didistribusikan sesuai tembusan pihak yang berkepentingan. Surat Pengantar Produksi sebanyak 5 rangkap didistribusikan kepada Unit Produksi, Unit PPIC, Administrasi Produksi, Unit Gudang FG, dan Kabag ATK.
√ √
n Status tiap barang yang ada jelas dan tidak
rancu x √
o Mengetahui jumlah dan jenis barang yang
beredar di lantai produksi. x x
Dari tabel di atas, diketahui sebelum implementasi SOP, sebanyak 15 poin persyaratan yang diamati terdapat tiga poin yaitu poin d, poin n, dan poin o yang tidak dapat sesuai. Pada poin d, ditemukan ketidak sesuaian terjadi karena saat itu belum ada form retur, hanya sekedar memo ke Gudang Raw Material yang menyatakan bahwa ada bahan baku yang dikembalikan karena tidak sesuai spesifikasi. Memo ini bersifat tidak resmi dan tidak didistribusikan kepada Administrasi Produksi. Pada poin n, status barang yang dimaksud adalah apabila ditemukan kecacatan, penyebabnya dapat ditemukan sumbernya. Pada keadaan
sebelumnya, beberapa LKH ditumpuk untuk beberapa stasiun kerja sekaligus menjadi satu. Hal ini jelas menyulitkan untuk melacak penyebab kecacatan berasal dari stasiun kerja yang mana. Selain itu, penyebab kecacatan bahan baku seharusnya dibedakan menjadi dua, mana yang berasal dari hasil proses produksi dan bahan baku yang memang tidak sesuai spesifikasi sebelum diproses. Pada Poin o, sistem administrasi yang ada harus dapat memfasilitasi data barang yang sedang berada di lantai produksi, mulai dari input hingga output.
Sesudah implementasi, Poin d dinyatakan sesuai. Hal ini dikarenakan sudah dibuat satu dokumen resmi untuk mencatat pengembalian bahan baku ke Gudang Raw Material. Distribusinya pun sudah sesuai kepada pihak yang berwenang. Poin n diberi perbaikan yaitu membuat LKH untuk tiap stasiun kerja masing-masing, tidak ada bertumpuk lagi. LKH yang baru juga memuat pencatatan pemakaian bahan pembantu untuk stasiun kerja yang bersangkutan.
Poin n setelah implementasi dinyatakan sesuai. Pada poin o, sampai sesudah implementasi tetap dinyatakan tidak sesuai, karena pengisian di LKH ada yang belum lengkap dan benar, sehingga data yang disampaikan kepada administrasi produksi tidak dapat terintegrasi.
4. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi.
Kondisi yang diamati dapat dilihat pada tabel 4.5. sebagai berikut:
Tabel 4.5. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan Keempat
Kesesuaian
Poin Persyaratan Sebelum Sesudah
a
Unit Produksi sebagai unit untuk membuat produk dengan bukti dokumen Lembar Kerja Harian (LKH).
√ √
b
Unit PPIC sebagai pengatur perencanaan
produksi dengan bukti dokumen JOS √ √
Tabel 4.5. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan Keempat (Sambungan)
Dari tabel di atas, diketahui semua persyaratan dapat dipenuhi, baik sebelum maupun sesudah implementasi. Hal ini menunjukkan Unit Produksi ATK dan unit pendukung yang terkait langsung dengan proses produksi, sudah mengetahui dengan jelas peran dan fungsi unitnya dalam relasinya dengan proses produksi.
5. Melindungi organisasi dan staf dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya
Kondisi yang diamati dapat dilihat pada tabel 4.6. sebagai berikut:
Kesesuaian
Poin Persyaratan Sebelum Sesudah
c
Unit Gudang Raw Material-Semi Finished sebagai penyedia bahan baku dan WIP yang diminta Unit Produksi terkait dengan bukti dokumen BPBG, penyimpanan barang semi finishing yang diterima dari Unit Produksi terkait dengan bukti dokumen Surat Pengantar Barang, menangani pengembalian bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi dari Unit Produksi dengan bukti dokumen Form Retur.
√ √
d
Unit Engineering sebagai pelaksana proses perbaikan mesin yang tidak dapat ditangani secara mandiri oleh operator. Hal ini ditunjukkan dengan bukti dokumen OKE.
√ √
e
Unit QC FG sebagai pemeriksa kualitas produk dalam satu turunan produksi yang didapat dari Unit Produksi terkait dengan bukti dokumen Checksheet.
√ √
f
Unit Gudang Finished Good sebagai penyimpan barang jadi yang diterima dari Unit Produksi dengan bukti dokumen Surat Pengantar Produksi.
√ √
Tabel 4.6. Tinjauan Kesesuaian SOP dengan Unit ATK Produksi pada Tujuan Kelima
Kesesuaian Poin Persyaratan
Sebelum Sesudah a Pencatatan tiap status barang sama dengan
realita yang ada x x
b Status barang tercatat dengan jelas di dokumen
terkait x √
c
Pencatatan hasil produksi lengkap, status barang setelah dikerjakan dalam satu shift menghasilkan berapa yang berstatus WIP, barang baik, dan barang rusak.
x √
d Perencanaan produksi dicatat di Job Order
Sheet. √ √
e
Permintaan pengeluaran bahan baku dicatat di form Bon Pengeluaran Barang dari Gudang (BPBG).
√ √
f Pencatatan hasil produksi di Laporan Kerja
Harian (LKH). √ √
g Pencatatan hasil perbaikan mesin dicatat di Order
Kerja Engineering (OKE). √ √
h Pencatatan pemakaian bahan pembantu produksi
di LKH kolom pemakaian bahan pembantu. √ √ i Hasil inspeksi sample produk tiap kali turunan
produksi dicatat di Checksheet. √ √ j Pengiriman barang Finished good dicatat di Surat
Pengantar Produksi (SPP). √ √
Sebelum implementasi, dari 10 poin persyaratan yang dijadikan acuan, terdapat 3 poin yang tidak dapat terpenuhi, yaitu poin a, poin b, dan poin c. Poin a tidak terpenuhi karena pada LKH Ordner terlihat janggal cara pencatatan hasil produksinya. Jumlah input bahan yang masuk di setiap stasiun kerja rancu karena walaupun jumlah input pada LKH dicatat sama, tetapi jumlah cacat yang ada berbeda-beda. Logikanya, bahan yang cacat sudah tidak bisa masuk di stasiun kerja berikutnya. Pada poin b, status barang yang cacat tidak tercatat di dokumen terkait. Di OTC, kecacatan tidak terdeteksi, karena LKH OTC hanya memuat
hasil produksi baik. Pada poin c, LKH yang ada sebelumnya tidak mengakomodasi operator untuk mencatat tiap status barang dengan lengkap.
Setelah implementasi, poin b dan poin c sudah dapat memenuhi persyaratannya. Perbaikan yang dilakukan pada poin b adalah membuat form yang dapat mencatat kecacatan dengan lengkap. Pada poin c, perbaikan yang dilakukan dengan membuat LKH yang dapat menampung seluruh pencatatan status barang. Untuk poin a, perbaikan sudah dilakukan, tetapi karena perbaikan tersebut memerlukan waktu dan hasilnya belum dapat terlihat dalam masa implementasi penulis. Jadi poin a tetap dinyatakan tidak dapat memenuhi persyaratannya. Kondisi kesesuaian tujuan SOP dengan penerapan di lapangan sebelum implementasi dapat ditulis secara numeris dalam Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Pemenuhan Tujuan SOP Sebelum Implementasi
SEBELUM konsistensi dan tingkat kinerja staf atau operator dalam organisasi atau unit.
8 8 0 100 0
2
Memperjelas alur tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari staf atau operator terkait
8 8 0 100 0
3
Untuk menghindari kesalahan, keraguan, dan duplikasi dan inefisiensi
15 12 3 80 20
4
Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi
Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi