• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alkin (1969) mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses meyakinkan keputusan, memilih informasi yang tepat, mengumpulkan, dan menganalisis informasi sehingga dapat melaporkan ringkasan data yang berguna bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif. Ia mengemukakan lima macam evaluasi, yakni :

1) Sistem assesment, yang memberikan informasi tentangkeadaan atau posisi sistem.

28 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 13-14

40

2) Program planning, membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program.

3) Program implementation, yang menyiapkan informasi apakah program sudah diperkenalan kepada kelompok tertentu yang tepat seperti yang direncanakan?

4) Program improvement, yang memberikan informasi tentang bagaimana program berfungsi, bagaimana program bekerja, atau berjalan ? apakah menuju pencapaian tujuan, adakah hal-hal atau masalah-masalah baru yang muncul tak terduga?

5) Program certification, yang memberi informasi tentang nilai atau guna program.29

c. Model Brinkerhoff

Brinkerhoff & Cs. (1983) mengemukakan tiga golongan elemen evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri sebagai berikut :

29 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 15

41

1) Fixed vs Emergent Evaluation Design.

Dapatkah masalah evaluasi dan kriteria akhirnya dipertemukan ? Apabila itu demikian, apakah itu suatu keharusan ? 2) Formative vs Summative Evaluation.

Apakah evaluasi akan dipakai untuk perbaikan atau untuk melaporkan kegunaan atau manfaat suatu program ? Atau keduanya ?

3) Experimental and Quasi Experimental Design vs Natural/ Unobtrusive Inquiry.

Apakah evaluasi akan melibatkan intervensi ke dalam kegiatan program/mencoba memanipulasi kondisi, orang diperlakukan, variabel dipengaruhi dan sebagainya, atau hanya diamati, atau keduanya ?

4) Model Stake atau Model Counternance.

Stake (1967) menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi ialah Description dan Judgment dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan,yaitu : Antecedents (Context), Transaction (Process), dan Outcomes (Output).30

30 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 15- 22

42

4. Beberapa Pendekatan Dalam Evaluasi

(Stecher, Brian M & W. Alan Davis, 1987), Istilah pendekatan evaluasi ini diartikan sebagai beberapa pendapat tentang apa tugas evaluasi dan bagaimana dilakukan, dengan kata lain tujuan dan prosedur evaluasi. Berikut ini beberapa pendekatan memberikan petunjuk bagaimana memperoleh informasi yang berguna dalam kondisi, yaitu :

a) Pendekatan Experimental

Yang dimaksud dengan pendekatan eksperimental yaitu evaluasi yang berorientasi pada penggunaan experimental science dalam program evaluasi. Pendekatan ini berasal dari kontrol eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Tujuan evaluator yaitu untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu yang mengontrol sebanyak-banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program. Evaluator berusaha sekuat tenaga menggunakan metode saintifik sebanyak mungkin.

Keuntungan dari pendekatan eksperimen ini yang kemampuannya dalam menarik kesimpulan yang relatif objektif, generalisasi terhadap pertanyaan program yang bersangkutan. Hal ini

43

membuat pendekatan lebih populer, terpercaya, dan disukai pemakai serta pembuat keputusan.31

b) Pendekatan yang Berorientasi pada Tujuan (Goal Oriented Approach)

Model ini memberi petunjuk kepada pengembangan program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dan hasil yang akan dicapai. Peserta tidak hanya harus menjelaskan hubungan tersebut di atas, tetapi juga harus menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur. Dengan demikian ada hubungan yang logis antara kegiatan, hasil, dan prosedur pengukuran hasil.

c) Pendekatan yang Berfokus kepada Keputusan (The Decision Focused Approach)

Keunggulan pendekatan ini ialah perhatiannya terhadap kebutuhan pembuat keputusan yang khusus dan pengaruh yang makin besar pada keputusan program yang relevan.

Keterbatasan pendekatan ini yaitu banyak keputusan penting dibuat tidak pada waktu yang tepat, tapi dibuat pada waktu yang kurang tepat.

Seringkali banyak keputusan tidak dibuat berdasarkan data, tapi tergantung pada impresi

31 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 23-24

44

perorangan, politik, perasaan, kebutuhan pribadi, dan lain-lain. Dalam hal ini evaluator mungkin dapat memberi pengaruh positif yang lebih objekif dan rasional.32

d) Pendekatan yang Berorientasi kepada Pemakai (The User Oriented Approach)

Kelebihan pendekatan ini ialah perhatiannya terhadap individu yang berurusan dengan program dan perhatiannya terhadap informasi yang berguna untuk individu tersebut . hal ini tidak saja membuat evaluasi menjadi lebih berguna tetapi juga dapat menciptakan rasa telah berbuat bagi individu tersebut, dan hasil evaluasi akan selalu terpakai.

Keterbatasan pendekatan ini yaitu ketergantungannya terhadap kelompok yang sama dan kelemahan ini bertambah besar pengaruhnya sehingga hal-hal lain di luar itu kurang mendapat perhatian. Kelompok itu dapat berganti komposisi berkali-kali dan ini dapat mengganggu kelangsungan atau kelancaran kegiatan evaluasi.

Akhirnya, mereka yang lebih banyak bicara dan lebih persuasif dapat berpengaurh lebih besar. Lagi

32 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 26-27

45

pula, sulit untuk mengatakan atau meyakinkan bahwa semua minat dapat tertampung.33

e) Pendekatan yang Responsif (The Responsive Approach)

Kelebihan pendekatan responsif ini ialah kepekaannya terhadap berbagai titik pandangan, dan kemampuannya mengakomodasi pendapat yang ambigis dan tidak fokus. Pendekatan responsif dapat beroperasi dalam situasi di mana terdapat banyak perbedaan minat dan kelompok yang berbeda-beda, karena mereka dapat mengatur pendapat tersebut dengan cara yang tepat.

Demikian juga evaluasi responsif dapat mendorong proses perumusan masalah dengan menyediakan informasi yang dapat menolong orang mengerti isu lebih baik.

Keterbatasan pendekatan responsif ialah keengganannya membuat prioritas atau penyerdehanaan informasi untuk pemegang keputusan dan kenyataan yang praktis tidak mungkin menampung semua sudut pandangan dari berbagai kelompok.34

f) Goal Free evaluation

33Ibid h. 30

34 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 33

46

Evaluasi goal free evaluation (evaluasi bebas tujuan), dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut : pertama, tujuan pendidikan tak dapat dikatakan sebagai pemberian, seperti tujuan lain, ia harus dievaluasi. Lebih jauh lagi, tujuan biasanya atau umumnya hanya formalitas, dan jarang menunjukkan tujuan yang sebenarnya dari proyek, atau tujuan berubah. Berikut ciri-ciri evaluasi bebas tujuan :

a. Evaluator sengaja menghindar untuk mengetahui tujuan program.

b. Tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu tidak dibenarkan menyempitkan fokus evaluasi.

c. Evaluasi bebas tujuan berfokus pada hasil yang sebenarnya, bukan pada hasil yang direncanakan.

d. Hubungan evaluator dan manajer atau dengan karyawan proyek dibuat seminimal mungkin.

e. Evaluasi menambah kemungkinan ditemukannya dampak yang tak diramalkan.35

35 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 34-35

47 5. Indikator Keberhasilan

Dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk suatu proses evaluasi, Feurstein seperti yang dikutip Isbandi Rukminto Adi

mengajukan beberapa indikator yang perlu dipertimbangkan, diantara :

a. Indikator Ketersediaan (Indicator of Availability). Indikator ini melihat apakah unsur yang seharusnya ada dalam suatu proses itu benar-benar. Misalnya dalam suatu program pembangunan sosial yang menyatakan bahwa diperlukan satu tenaga kader lokal yang terlatih untuk menangani 10 rumah tangga, maka perlu dicek apakah tenaga kader yang terlatih itu benar-benar ada.

b. Indikator Relevansi (Indicator of Relevance).

Indikator ini menunjukkan seberapa relevan ataupun tepatnya sesuatu yang teknologi atau layanan yang ditawarkan. Misalnya pada suatu program pemberdayaan perempuan pedesaan dimana diperkenalkan kompor teknologi terbaru, tetapi ternyata kompor tersebut lebih banyak menggunakan minyak tanah ataupun kayu dibandingkan dengan kompor yang biasa mereka gunakan. Berdasarkan keadaan tersebut maka teknologi yang lebih baru ini dapat dikatakan kurang relevan untuk diperkenalkan

48

bila dibandingkan dengan kompor yang biasa mereka gunakan.

c. Indikator Keterjangkauan (Indicators of Acessbility). Indikator ini melihat apakah layanan yang ditawarkan masih berada dalam

“jangkauan” pihak-pihak yang membutuhkan.

Misalnya saja, puskesmas yang didirikan untuk melayani suatu masyarakat desa berada pada posisi yang strategis, dimana sebagian besar warga desa dapat dengan mudah datang ke puskesmas. Atau apakah suatu posko bencana alam berada dalam jangkauan korban bencana tersebut.

d. Indikator Pemanfaatan (Indicators of Utilisation). Indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah yang disediakan oleh pihak pemberi layanan, dipergunakan (dimanfaatkan) oleh kelompok sasaran. Misalnya saja, seberapa banyak pasangan usia subur yang memanfaatkan layanan jasa puskesmas dalam meningkatkan KB mandiri. Atau, berapa banyak anak jalanan yang mengikuti kegiatan baca tulis dari sekian banyak anak jalanan yang belum bisa membaca dan menulis.

e. Indikator Kualitas (Indicators of Quality).

Indikator ini menunjukkan standar kualitas dari

49

layanan yang disampaikan ke kelompok sasaran. Misalnya saja, apakah layanan yang diberikan oleh suatu Organisasi Pelayanan Kemanusiaan (Human Service Organization) sudah memenuhi syarat dalam hal kerahan, dan sikap empati terhadap klien ataupun kualitas dari tangibles yang ada dalam proyek tersebut.

f. Indikator Upaya (Indicators of Efforts).

Indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktivitas yang dilaksanakan guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Misalnya, berapa bayak sumber daya manusia dan sumber daya material yang dimanfaatkan dalam membangun sarana transportasi antar desa.

g. Indikator Efisiensi (Indicators of Effeciency).

Indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktivitas yang dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat guna (efisien) atau tidak memboroskan sumber daya yang ada dalam upaya mencapai tujuan. Misalnya saja, suatu layanan yang bisa dijalankan dengan baik hanya dengan meggambarkan 4 tenaga lapangan dengan alasan untuk menghindari terjadinya pengangguran terselubung (undereployment).

h. Indikator Dampak (Indicators of Impact).

Indikator ini melihat apakah sesuatu yang kita

50

lakukan benar-benar memberikan suatu perubahan di masyarakat. Misalnya saja, apakah setelah dikembangkan layanan untuk mengatasi kemiskinan selama tiga tahun di suatu desa, maka angka penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sudah menurun.36 A. Pendidikan Inklusif

1. Pengertian Pendidikan Inklusif

Menurut Hildegun Olsen (Tarmansyah, 2007,82).

Pengertian pendidikan inklusif adalah sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik, atau kondisi lainnya. Ini harus mencakup anak-anak jalanan, penyandang cacat, berbakat. Anak-anak jalanan dan pekerja anak berasal dari populasi terpencil atau berpindah-pindah. Anak yang berasal dari populasi etnis minoritas, linguistik, atau budaya dan anak-anak dari area atau kelompok yang kurang beruntung atau termarjinalisasi.37

Dalam pengertian lain, pendidkan inlusif adalah sebuah konsep atau pendekatan pendidikan yang berusaha menjangkau semua individu tanpa kecuali atau dengan kata lain pendidikan inklusif adalah “Sistem pendidikan yang

36 Isbandi Rukminto Adi, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis, (PT. Raja Grafindo :2008) h. 191-194

37 http://www.kajianmakalah.com/2015/12/pengertian-pendidikan-inklusi.html diakses pada : 5 maret 2018, 07;22 WIB

51

terbuka bagi semua individu serta mengakomodasi semua kebutuhan sesuai dengan kondisi masing-masing individu”. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang menghargai perbrdaan anak dan emberikan layanan kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan inklusif adalah pendidikan pendidikan yang tidak diskriminatif. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelmain, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa, dan sebagainya.

Semua anak belajar bersama-sama,baik di kelas/sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Menurut Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, Pasal 1 bahwa : Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.38

38 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h 8

52 2. Tujuan Pendidikan Inklusif

Tujuan diselenggarakannya pendidikan inklusif, yaitu : a. Memberikanesempatan yang seluas-luasnya kepada

semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

b. Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.39

1. Fungsi Pendidikan Inklusif

Fungsi pendidikan inklusif, adalah :

a. Menjamin semua peserat didik mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan bermutu di berbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan.

b. Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi semua peseta didik untuk mengembangkan potensinya secara optimal.40

39 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 9

40 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 9-10

53

4. Manfaat Pendidikan Inklusif

Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik

a. Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus

Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus adalah memiliki rasa percaya diri dan memiliki kesempatan menyesuaikan diri serta memiliki kesiapan dalam menghadapi kehidupan yang nyata pada lingkungan umumnya. Peserta didik berkebutuhan khusus terhindar dari label atau sebutan yang tidak baik, memahami pelajaran di sekolah dengan lebih baik dan dapat beradaptasi, aktif dan dapat menghargai perbedaan, serta memperoleh kesempatan bersosialisasi dan berbagi dengan anak-anak pada umumnya secara alamiah sehingga akan memberikan masukan yang sangat berati dalam aspek kehidupannya.

b. Manfaat pendidikan inklusif bagi peserta didik pada umumnya

Manfaat penelitian inklusif bagi peserta didik pada umumnya adalah dapat belajar mengenai keterbatasan dan kelebihan tertentu pada teman-temannya, mengetahui keterbatasan dan kelebihan serta keunikan temannya. Peserta didik pada umumnya akan tumbuh rasa kepedulian terhadap keterbatasan dan kelebihan peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta didik pada umumnya akan dapat mengembangkan keterampilan

54

sosial, berempati terhadap permasalahan peserta didik berkebutuhan khusus dan membantu peserta didik yang berkebutuhan khusus, dan membantu peserta didik yang berkebutuhan khusus dan teman-teman peserta didik pada umumnya lainnya yang mendapat kesulitan.

c. Manfaat pendidikan inklusif bagi guru

Manfaat pendidikan inklusif bagi guru adalah akan lebih tertantang untuk mengajar lebih baik dan dapat mengakomodasi semua peserta didik sehingga akan berupaya untuk meningkatkan wawasannya mengenai keberagaman karakteristik semua peserta didik. Guru akan lebih kreatif dan terampil mengajar dan mendidik, lebih mengenali peta kekuatan dan kelemahan peserta didiknya. Guru dapat meningkatkan kompetensinya dalam bidang pendidikan khusus. Guru lebih terbuka terhadap perbedaan atau keberagaman peserta didik, mampu mendidik peserta didik yang lebih beragam, lebih terbiasa dan terlatih untuk mengatasi berbagai tantangan pembelajaran, sehingga guru mendapat kepuasan dalam bekerja dan pencapaian prestasi yang lebih tinggi.

d. Manfaat pendidikan inklusif bagi orang tua

Manfaat pendidikan inklusif bagi orang tua adalah merasa dihargai atau dapat meningkatkan penghargaan terhadap anak. orang tua merasa senang ketika anaknya dapat bersosialisasi dengan baik tanpa ada diskriminasi dan akan lebih memahami cara memotivasi

55

peningkatan belajar anaknya yang disesuaikan dengan kebutuhan khususnya. Orang tua mengetahui cara membimbing anaknya dengan lebih baik lagi, dapat meningkatkan interaksi akan keterlibatan dalam kegiatan belajar anaknya serta mendapat kesempatan untuk sharing dengan pihak sekolah dan stakeholder lainnya dalam merencanakan pembelajaran untuk anaknya yang disesuaikan dengan kebutuhan khususnya, kekuatannya, kelemahannya, permasalahan dan hambatan lainnya, serta senang ketika anaknya memilih keterampilan sosial yang baik.

e. Manfaat pendidikan inklusif bagi pemerintah dan pemerintah daerah

Manfaat pendidikan inklusif bagi pemerintah dan pemerintah daerah adalah kebijakan pendidikan terlaksana berlandaskan pada azas demokrasi, berkeadilan dan tanpa diskriminasi karena dapat melaksanakan amanat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri serta kebijakan-kebijakan sebagai manfestasi keinginan atau harapan Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga akan adanya nilai tambah kepercayaan warga negara/masyarakat kepada pemerintah, pemerintah daerah dan sekolah khususnya dalam bidang pendidikan. Termasuk juga kepercayaan dunia (internasional) kepada pemerintah dan pemerintah daerah karena sungguh-sungguh dalam merealisasikan

56

komitmen-komitmen internasional berkenaan dengan pendidikan untuk semua (Educational for All) sehingga akan tumbuh nilai positif di mata dunia/internasioanal.

Manfaat lainnya yaitu dapat mempercepat/akselerasi tuntasnya wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Peserta didik mendapatkan hak pendidikan yang sama dan mendapatkan pendidikan yang lebih luas.

f. Manfaat pendidikan inklusif bagi masyarakat

Manfaat pendidikan inklusif bagi masyarakat adalah dapat memaksimalkan potensi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat akan lebih sadar bahwa setiap peserta didik berkebutuhan khusus berhak memperoleh pendidikan seperti peserta didik pada umumnya. Masyarakat dapat menyumbangkan pemikiran, ide atau gagasan untuk mengembangkan pendidikan yang lebih baik lagi dengan lebih terbuka dan penuh kesadaran.

g. Manfaat pendidikan inklusif bagi sekolah

Manfaat pendidikan inklusif bagi sekolah yaitu pencitraan sekolah meningkat, sekolah lebih terbuka, ramah dan tidak mendiskriminasi. Sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan secara komprehensif bagi semua peserta didik. Sekolah dapat meningkatkan akses bagi semua peserta didik untuk mendapat layanan pendidikan yang baik. Pendidikan tidak diskriminatif.

Pembelajaran berpusat kepada peserta didik (student/child center). Kegiatan pembelajara dapat

57

mengakomodasi kebutuhan peserta didik. Perilaku guru dapat membuat peserta didik senang belajar.

Lingkungan sekolah dan kelas ramah terhadap peserta didik. Pembelajaran berbasis gaya belajar (learning style) peserta didik. Pembelajaran dilaksanakan dengan aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), dan pembelajaran menghargai keberagaman.41

B. Anak berkebutuhan Khusus

1. Definisi Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut Suran dan Rizzo 1979 yang dikutip oleh Frieda Mangunsong, anak luar biasa atau memiliki kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal, meliputi mereka yang tuli, buta, mempunyai gangguan bicara, cacat tubuh, retardasi mental, gangguan emosional.

Juga anak-anak yang berbakat dengan intelegensi yang tinggi, dapat dikategorikan sebagai anak khusus/luar biasa,

41 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 10-13

58

karena memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga profesinal.42

Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru menurut Kauffman dan Hallahan (2005:28-45), antara lain sebagai berikut :

1. Tunagrahita (Mental retardation) atau disebut sebagai anak dengan hendayana perkembangan (Child with development imaiment).

2. Kesulitan belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah (Specific Learning Disablity).

3. Hyperactive (Attention Deficit Disorder with Hyperactive).

4. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder).

5. Tunarungu wicara (Communicaton disorder and deafness).

6. Tunanetra (Partially seing andlegally bind ) atau disebut dengan anak yang mengalami hambatan dalam penglihatan.

7. Anak Autistik (Autistic children).

8. Tunadaksa (Physical disability).

9. Tunaganda (Multiple Handicapped).

10. Anak berbakat (Giftedness and special talents).43

42 Frida Mangunsong, Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid Kesatu, (LPSP3 UI, Depok: 2014), h. 3.

43 Prof. Dr. Bandi Delphie. MA., S.E., Pembelajaran Anak

Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), cet.1, h.15

59

2. Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

a. Anak Tunagrahita (Anak dengan hendaya perkembangan)

Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki intelligensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi paerilaku yang muncul dalam masa perkembangan.

Anak tunagrahita mempunyai hambatan akademik yang sedemikian rupa sehingga dalam pelayanan pembelajarannya memerlukan modifikasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan khususnya. Klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ.

Tunagrahita ringan (IQ : 51-70), Tunagrahita sedang (IQ : 36-51), Tunagrahita (IQ : 20-35), Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20). Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih dititik beratkan pada bina diri dan cara bersosialisasi.44

Definisi AAMD (1983) mengisyaratkan adanya kemampuan intelektual jika diukur dengan WISC-RIII (1991), mempunyai skor IQ 70, dan mempunyai hambatan pada komponen yang tidak bersifat intelektual, yakni perilaku adaptif (adaptive behavior).

Dewasa ini berdasarkan hasil penelitian dari

44 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 27

60

Greenspan’s (1997) berkaitan dengan keterampilan praktis, keterampilan konseptual, dan keterampilan sosial, maka pengertian perilaku adaptif mengalami perubahan pandangan. Semula perilaku adaptif hanya bersifat komponen pelengkap yang dianggap kurang penting dibandingkan dengan kemampuan intelektual.

Namun, saat ini perilaku adaptif justru sama pentingnya dengan kemampuan intelektual dalam menentukkan seseorang termasuk sebagai tunagrahita atau bukan.

Bidang perilaku adaptif yang menjadi perhatian untuk diobservasi meliputi hal-hal sebagai berikut :

a) Menolong diri sebagai bentuk penampilan pribadi, meliputi : makan, minum,menyapu, berpakaian, pergi ke WC, berpatut diri, dan memelihara kesehatan diri.

b) Perkembangan fisik, meliputi keterampilan gerak (gross dan fine motor).

c) Komunikasi, meliputi bahasa reseptif dan bahasa ekspresif.

d) Keterampilan sosial, meliputi keterampilan bermain, keterampilan berinteraksi, berpartisipasi dalam kelompok, bersikap ramah tamah dalam pergaulan, perilaku seksual, tanggung jawab terhadap diri sendiri, kegiatan memanfaatkan waktu luang, dan ekspresi emosi.

e) Fungsi kognitif, meliputi pengetahuan akademik dasar (seperti pengetahuan tentang warna),

61

membaca, menulis, fungsi-fungsi pengenalan terhadap angka, waktu, uang, dan pengukuran.

f) Memelihara kesehatan dan keelamatan diri, meliputi mengatasi luka, berkaitan dengan masalah kesehatan, pencegahan kesehatan, keselamatan diri, memelihara diri secara praktis.

g) Keterampilan berbelanja, meliputi penggunaan uang, berbelanja, kegiatan di bank, dan cara mengatur pembelanjaan.

h) Keterampilan domestik, meliputi membersihkan rumah, memelihara dan memperbaiki

h) Keterampilan domestik, meliputi membersihkan rumah, memelihara dan memperbaiki

Dokumen terkait