• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSIF PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) BOJONGSARI 01- DEPOK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSIF PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) BOJONGSARI 01- DEPOK"

Copied!
199
0
0

Teks penuh

(1)

i

EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSIF PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH

DASAR NEGERI (SDN) BOJONGSARI 01- DEPOK SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh :

RIZKIA INDRIYANI

NIM : 1113054100017

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1441 H/2020 M

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v ABSTRAK

Rizkia Indriyani (1113054100017), Evaluasi Program Pendidikan Inklusif Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongsari 01-Depok

Berbicara pendidikan inklusif adalah berbicara semua anak atau peserta didik. Pendidikan merupakan hal penting bagi anak untuk menunjang hidup dan keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat. Sama halnya terhadap anak yang memiliki keterbatasan seperti pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang pada dasarnya mereka juga membutuhkan pendidikan yang layak seperti anak normal lainnya.

Penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui implementasi kebijakan pelaksanaan program pendidikan inklusif di SDN Bojongsari 01-Depok dan mengetahui hasil evaluasi dalam pelaksanaan program pendidikan inklusif di SDN Bojongsari 01- Depok. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Penulis menunjuk Kepala Sekolah SDN Bojongsari 01-Depok untuk memberikan informasi yang penulis butuhkan, lalu Kepala Sekolah merujuk informasi lainnya yang dapat membantu penulis dalam memilih informan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan yakni Guru pendamping kelas khusus, guru kelas regular dan orangtua walimurid di program pendidikan inklusif.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan program pendidikan inklusif pada Anak berkebutuhan khusus (ABK) cukup berjalan dengan baik namun masih ada kurang nya sarana dan prasarana yang lengkap untuk menunjang dalam pelaksanaan program. Hal ini menuntut pemerintah sebagai pemberi wewenang dalam penyelenggaraan harus meningkatkan perhatian yang lebih terhadap pelaksanaan prosesnya dengan tujuan untuk tercapainnya keberhasilan program yang dijalankan.

Kata Kunci : Evaluasi Program , Sekolah Inklusif, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

(6)

1 DAFTAR ISI

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... 3

BAB I ... 6

PENDAHULUAN ... 6

A. Latar Belakang Masalah... 6

B. Identifikasi Masalah ... 16

C. Batasan Masalah ... 17

D. Rumusan Masalah ... 17

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 17

F. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 18

G. Metode Penelitian ... 24

BAB II ... 36

KAJIAN PUSTAKA ... 36

A. Evaluasi Program ... 36

B. Pendidikan Inklusif ... 50

C. Anak berkebutuhan Khusus ... 57

BAB III ... 77

GAMBARAN UMUM SDN BOJONGSARI 01 ... 77

BAB IV ... 105

HASIL TEMUAN ... 105

A. Profil Informan ... 105

B. Evaluasi ... 108

C. Program Pendidikan Inklusif ... 112

D. Anak Berkebutuhan Khusus pada pendidikan inklusif di SDN Bojongsari 01-Depok ... 121

BAB V ... 129

(7)

2

ANALISIS DATA ... 129

A. Evaluasi Program ... 129

B. Pendidikan Inklusif ... 153

BAB VI PENUTUP ... 158

A. Kesimpulan ... 158

B. Implikasi ... 160

C. Saran ... 161

DAFTAR PUSTAKA ... 162

LAMPIRAN ... 166

PEDOMAN WAWANCARA ... 166

(8)

3

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil Alaamin, segala puji bagi Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi berjudul Evaluasi Program Pendidikan Inklusif Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongsari 01- Depok. Tidak Lupa juga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan selalu kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat, tabi’in dan umat islam.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang wajib diselesikan sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial jurusan Kesejahteraan Sosial. Peneliti menyadari adanya kekurangan dari skripsi ini, maka kritik dan saran yang membagun akan peneliti terima dengan senang hati. Dalam proses penyelesaian skripsi, ada banyak pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Suparto, M.Ed, Ph.D sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta segenap jajaran Dekanat Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

2. Ahmad Zaky, M.Si sebagai ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hj.

Nunung Khoriyah, MA selaku sekretaris Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(9)

4

3. Dr. Siti Napsiyah. S.Ag, BSW, MSW sebagai Dosen Pembimbing skripsi, yang telah memberikan bimbingan, masukan, arahan, kesabaran serta motivasi dan semangat kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Seluruh Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan kepada peneliti selama menjalani perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Kedua Orangtuaku tercinta, Bapak Yan Sopian dan Ibu Nuraini yang yang tiada henti selalu mendoakan kesuksesan anaknya serta memberikan dukungan baik moril maupun materil. Terimakasih semua nasihat dan energi positifnya yah bu... sehingga skripsi ini dapat selesai.

6. kedua adikku tersayang, Hilya Qonita dan Fairuzi Fadli yang dengan sabar menghadapi turun naik mood penulis selama penyusunan berlangsung.

7. Keluarga besar Ibu Hj. Jubaedah dan Keluarga besar Bapak Marta.

8. Staff dan Jajaran tenaga pengajar SDN Bojongsari-01 Depok yang sudah meluangkan waktunya dan memberikan kesempatan kepada penulis dalam menjalani penelitian ini.

9. Seluruh teman-teman Sosial Welfare 2013 yang telah mewarnai masa-masa perkuliahan.

10. Untuk Sahabat semasa kuliah Vita Renita S.Sos. Fauzia Firdawati S.Sos , Della Azizah S.Sos

(10)

5

11. kawan Last Fighter 2013, Aya Mahalfa Putri, Ulfah Arsyul Mamlakah, Rizkianingsih, Aynadhiah Herlina, Muthoharoh, yang berjuang selama penyelesaian skripsi.

Akhirnya terselesaikan juga.

12. Tim SLRT (Sistem Layanan Rujukan Terpadu) Kecamatan Bojongsari Dinas Sosial Kota Depok , Tri Alfiana, Julia Rahmania, Rizki Nurazizah, Bang Rouf, Kresna , Iqbal , Bang Wani.

13. Jajaran Staff Kelurahan Duren Mekar dan Karang Taruna Kelurahan Duren Mekar dalam memberikan semangat kepada penulis.

14. Sahabat sedari kecil “paguyuban bale oyag”, Mama dan Ayah Kai (elba dan rico), endin, debih, akbar, lutfi.

15. Dan untuk semua pihak yang telah memberi dukungan dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Terimakasih ya

16. Terkhusus untuk diri sendiri yang tetap bertahan jatuh bangun dan berusaha menyelesaikan skripsi ini ditengah desakan stigma negatif tentang mahasiswa tingkat akhir.

Jakarta, Juni 2020

Rizkia Indriyani

(11)

6 BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, identfikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka,dan sistematika penulisan.

A. Latar Belakang Masalah

Irma Setyowati Soemitro menjelaskan pengertian anak menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut : “Ketentuan UUD 1945 ditegaskan pengaturannya dengan dikeluarkan UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang berarti makna anak yaitu seorang anak harus memperoleh hak-hak tersebut dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara lahiriyah, jasmaniah, maupun sosial. Atau anak juga berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosial.”1

Sesuai Pasal 59 Undang-Undang Perlindungan Anak, Indonesia memberikan juga jaminan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan penjualan,

1 Irma Setyowati Soemitro, Aspek Hukum Perlindungan Anak, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), h. 16

(12)

7

perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.2

Salah satu hak anak yaitu diberikan pendidikan yang layak. Pendidikan merupakan hal penting bagi anak untuk menunjang hidup dan keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam mengenyam pendidikan tidak ada istilah untuk membeda-bedakan satu anak dengan yang lainnya. Pendidikan diperuntukan untuk seluruh anak baik mereka yang yang berlatarbelakang ekonomi tinggi hingga rendah. Sama halnya terhadap anak yang memiliki keterbatasan seperti pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang pada dasarnya mereka juga membutuhkan pendidikan yang layak seperti anak normal lainnya.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan salah satu bagian dari anak yang rentan mendapat perlakuan diskriminasi. Tidak jarang mereka dikucilkan dari lingungan sekitar. Mereka tidak mendapat perlakuan yang sama layaknya anak normal sebayanya, dengan kekurangan yang mereka alami justru mereka dikucilkan karena dianggap berbeda, mengganggu bahkan merugikan orang lain, sehingga menghambat proses tumbuh kembang bagi mereka serta dalam proses sosialisasi terhadap lingkungan. Dalam menjalani

2 Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Peremuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi DKI Jakarta, Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Pendidikan, (Bekasi: P2TP2A,

(13)

8

pendidikan, berbeda dengan anak normal, Anak berkebutuhan khusus (ABK) pasti akan menemukan hambatan, sebab itu dukungan sosial sangat berperan dalam prosesnya tumbuh kembang anak.

Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abdil Barr

ٍةَمِلْسُمَو ٍمِلْسُم ِّلُك ىَلَع ٌةَضْيِرَف ِمْلِعْلا ُبَلَط Artinya : “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Hadits diatas menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan golongan mana saja yang wajib menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab menuntut ilmu bukan hanya untuk kepentingan dunian tapi juga untuk pengetahuan dan bekal di akhirat.

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 disebutkan bahwa

“Pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.3

3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Siste Pendidikan Nasional Pasal 32

(14)

9

Fischer (1998) menyatakan bahwa salah satu hal yang berperan penting di dalam pembentukan kemandirian belajar pada diri siswa adalah dari dukungan yang diterima oleh siswa dan komunitas tempat siswa berada, seperti dari sekolah, teman, orangtua, guru dan sebagainya.4 Segala yang berkaitan dengan sekolah dan teman sebaya merupakan sistem penunjang pemenuhan kebutuhan yang berperan penting di dalam proses belajar dan kemandirian anak berkebutuhan khusus (ABK).

Dukungan sosial yang tinggi akan sangat mempengaruhi proses penyesuain diri anak berkebutuhan khusus (ABK).

Masalah sosial timbul karena individu gagal dalam proses sosialisasi atau individu karena beberapa cacat yang dimilikinya, dalam bersikap dan berperilaku tidak berpedoman pada nilai-nilai sosial dan nilai-nilai kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Atas dasar anggapan seperti itu, pemecahan masalah di rekomendasikan melalui suatu upaya yang berupa penanganan maupun pencegahan agar tidak terjadi proses pewarisan cacat individual tersebut dari generasi ke generasi.5

Proses penyesuaian diri merupakan proses yang panjang dan rumit dilalui oleh anak berkebutuhan khusus (ABK), penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam

4https://www.researchgate.net/publication/261738697_Korelasi_Anta ra_Dukungan_Sosial_Orang_Tua_dan_Self-

Directed_Learning_pada_Siswa_SMA Diakses pada tanggal : 20 Agustus 2017

5 Drs Soetomo, Dosen FISIPOL-UGM, Masalah Sosial dan Pembangunan, (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, Cet 1 1995) h.18

(15)

10

kehidupan manusia, terlebih bagi mereka yang mempunyai keterbatasan. Macam penyesuaian diri setiap orang berberda- beda dalam sifat dan caranya. Sebagian orang menyesuaikan diri terhadap lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang bisa hidup dengan sukses, sebagian lainnya tidak sanggup melakukannya. Boleh jadi mereka mempunyai kebiasaan yang tidak serasi untuk berperilaku sedemikian rupa, sehingga menghambat penyesuaian diri bagi dirinya.

Kebanyakan individu yakin bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) perlu diasingkan dari lingkungan dan di kirim ke institusi tertentu. Padahal sudah seharusnya stigma terhadap mereka harus dihapuskan karna bertentangan dengan definisi sekolah inklusi menurut Permen No.70 Tahun 2009 pasal 1 adalah “sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umunya”.

Pendidikan inklusif adalah layanan pendidikan yang mengikutsertakan Anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Berbeda dengan Sekolah luar biasa (SLB) yang memberikan layanan pendidikan kepada Anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memiliki kelainan fisik atau mental yang tidak dapat dilayani di sekolah umum/biasa.

(16)

11

Berbicara pendidikan inklusif adalah berbicara semua anak atau peserta didik. Dari semua anak tersebut terdapat anak/peserta didik yang berkebutuhan khusus. Untuk itulah penting sekali kita mengenalnya. Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang karena suatu hal khusus (baik yang berkebutuhan khusus permanen dan yang berkebutuhan khusus temporer) membutuhkan pelayanan pendidikan khusus, agar potensinya dapat berkembang secara optimal. Konsep anak berkebutuhan khusus (children with special needs) memiliki makna dan lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan konsep anak luar biasa (expectional children).6

Pengelolaan satuan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus pada satuan pendidikan umum dan satuan pendidikan kejuruan dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip kemandirian dan manajemen berbasis sekolah. Pengelolaan pendidikan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus mencakup perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan, dan pertanggungjawaban yang meliputi komponen: (1) kurikulum, (2) proses dan hasil pembelajaran, (3) administrasi dan manajemen satuan pendidikan, (4) organisasi kelembagaan satuan pendidikan, (5) sarana dan prasarana, (6) ketenagaan, (7) pembiayaan (dalam bentuk Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah), (8) peserta didik, (9) peran serta masyarakat, (10) lingkungan/budaya

6 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 23

(17)

12

sekolah; dan (11) rehabilitasi sosial, edukatif, dan medis.

Perencanaan disusun oleh sekolah bersama komite sekolah, dan stakeholder lainnya dalam bentuk Rencana Kerja Sekolah Jangka Panjang (RKASPJ) 8 tahun, Rencana Kerja Sekolah Jangka Menengah (RKASJM) 4 tahun, Rencana Kerja Sekolah Jangka Pendek/Tahunan (RKASJP/T), Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).7

Beberapa masalah yang dihadapi anak disekolah diantaranya, stigma orangtua wali murid terkait penempatan kelas Anak berkebutuhan khusus (ABK) yang di satukan ruang kelas dengan anak regular, hal tersebut menunjukkan masih adanya diskriminasi dari lingkungan sekitarnya, awamnya pengetahuan orangtua terhadap kebutuhan dasar anak serta penanganan khusus terhadap anak, kurangnya pengetahuan guru disekolah terhadap penanganan siswa berkebutuhan khusus, serta kurangnya tenaga khusus yang menangani siswa berkebutuhan khusus menjadi beberapa kendala yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan program sekolah inklusif.

Dalam masa pertumbuhan terutama anak–anak membutuhkan pendamping. Keberadaan pendamping bagi anak berkebutuhan khusus memiliki makna yang berarti bagi proses perlindungan dan tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan peningkatan kapasitas pendamping, yaitu

7 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 48-49

(18)

13

orangtua, keluarga, guru, masyarakat dan lingkungan (termasuk sekolah) dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus sejak dini akan memberikan dampak signifikan dalam merawat, memelihara, mendidik, dan meramu bakat atau potensi yang dimiliki setiap anak berkebutuhan khusus. Hal ini karena masih adanya pemahaman yang keliru dan sikap diskriminatif terhadap anak berkebutuhan khusus di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pada tahun 2015 lalu, jumlah Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia menyentuh angka 1,6 jiwa. Data tersebut tersimpan dalam Data Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud. Diperlukan pemahaman dan penanganan yang baik demi menemukan solusi terbaik.8 Beberapa sekolah di kota Depok telah diterapkan program pendidikan inklusif diantara lain : SMP Negeri 8 Kota Depok, SMP Negeri 9 Kota Depok, SDN Cilangkap 2, SDN Cisalak 3, SDN Depok Baru 8, dan SDN Bojong Sari 01 merupakan salah satu sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif.9

Oleh karena itu, dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus, para pendamping memerlukan pengetahuan tentang anak-anak tersebut, keterampilan mengasuh dan melayaninya. Anak berkebutuhan khusus perlu

8http://brainking-indonesia.com/jenis-anak-berkebutuhan-khusus-abk- yang-memiliki-gangguan-pada-perkembangan-otak-dan-syarafnya/ Diakses pada tanggal : 15 Januari 2018

9 http://inklusifdepok.blogspot.co.id/ Diakses pada tanggal : 15 Januari 2018

(19)

14

mendapat dorongan, tuntunan, dan praktek langsung secara bertahap. Potensi yang dimiliki anak-anak berkebutuhan khusus akan tumbuh berkembang seiring dengan keberhasilan peran pendamping serta kemudahan aksebilitas dalam pengimplementasian program sekolah inklusif.

Terkait dengan pengimplementasian program pendidikan inklusif pada anak berkebutuhan khusus (ABK) berkaitan dengan penghapusan adanya diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) maka diperlukan lembaga yang menyelenggarakan hal terkait. Melalui program lembaga pemerintah salah satunya adalah SDN Bojong Sari 01. Dalam hal pelayanan untuk siswa berkebutuhan khusus SDN Bojong Sari 01 menerapkan pendekatan inklusif, yang diterapkan sejak tahun 2005 lalu. Dimana siswa berkebutuhan khusus akan berinteraksi dengan siswa lainnya (dengan pendampingan khusus) didalam kelas reguler. Dilihat dari data tahun ajaran 2017/2018 terdapat 24 anak berkebutuhan khusus yang mengikuti pendidikan inklusi di SDN Bojong Sari 01.

Diantaranya anak yang mengalami Tunagrahita down syndrom, tunagrahita, lamban belajar, kesulitan belajar, gangguan emosi, cerebral palsy (lumpuh otak), ADD (anak dengan disabilitas), Autisme, hiperaktif, dan retardasi mental. Program pendidikan inklusif merupakan salah satu alternatif upaya yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan untuk Anak berkebutuhan khusus. SD Negeri Bojong Sari 01 memberikan pendampingan dan pelayanan serta terapi untuk Anak

(20)

15

berkebutuhan khusus (ABK). Pelayanan ini bertujuan memberikan fasilitas dan manfaat bagi siswa dengan gangguan perkembangan, keterampilan untuk hidup serta kemandirian.

Pada program pendidikan inklusif pentingnya peran pekerja sosial dalam usahauntuk mencapai tujuannya, sebagai pemecah masalah, meningkatkan kemampuan orang dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Dalam melakukan penelitiannya, peneliti memilih SDN Bojongsari 01 untuk dijadikan objek dalam kegiatan penelitian karena SDN Bojongsari 01 merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk langsung oleh Dinas pendidikan Jawa Barat dalam mengimplementasikan program sekolah inklusif. Salah satu keunggulan SDN Bojongsari 01 yaitu tersedianya tenaga guru pendamping yang merupakan lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), tersedianya sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar, serta tersedianya ruang khusus untuk belajar, bimbingan serta konsultasi bagi orangtua murid.

Untuk kepentingan pendalaman penelitian, skripsi ini hanya akan membahas mengenai evaluasi program pendidikan inklusif pada Anak berkebutuhan khusus (ABK) di SD Negeri Bojong Sari 01. Oleh kaena itu, untuk mengetahui lebih dalam bagaimana implementasi program pendidikan inklusif yang diterapkan, maka penulis akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan program sekolah inklusif dengan memilih judul “Evaluasi Program Pendidikan Inklusif Pada Anak

(21)

16

Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojong Sari 01-Depok”.

B. Identifikasi Masalah

Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan, khususnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkompeten, unggul, dan kompetitif dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. Pendidikan inklusif sebagai sistem layanan pendidikan khusus mensyaratkan agar semua anak difabel dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama anak-anak lain seusianya. Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan untuk anak-anak difabel di kelas biasa bersama-sama dengan teman sebayanya.

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran tersebut, maka dibutuhkan evaluasi pembelajaran didalamnya. Kegiatan evaluasi merupakanhal penting dalam menjalankan program untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai sehingga faktor terlihat faktor kekuragannya. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana program yang dijalankan dalam pendidikan inklusif terhdap anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Bojongsari 01- Depok.

(22)

17 C. Batasan Masalah

Dengan melihat latar belakang diatas, agar pembahasan dalam skripsi ini lebih terfokus dan terarah pada satu masalah, maka penulis membatasi permasalahan skripsi ini pada ruang lingkup evaluasi program pendidikan inklusif pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojong Sari 01.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan dan uraian pembatasan masalah diatas maka dapat dirumuskan, sebagai berikut :

a. Bagaimana implementasi kebijakan pendidikan inklusif di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongsari 01-Depok ?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini yaitu :

a. Untuk mengetahui implementasi kebijakan pada pelaksanaan program sekolah inklusif yang di selenggarakan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojong Sari 01-Depok

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

(23)

18

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan baik bagi penulis, para akademis maupun masyarakat mengenai penyelenggaraan pendidikan inklusi pada Anak berkebutuhan khusus (ABK) selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif dan berguna sebagai referensi tambahan bagi perkembangan Jurusan Kesejahteraan Sosial.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi lembaga-lembaga terkait, khususnya bagi SD Negeri Bojong sari 01 dalam hal implementasi pendidikan pada Anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Bojong Sari 01 dan memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan pekerja sosial.

F. Tinjauan Kajian Terdahulu

Dalam penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka sebagai langkah dari penyusunan skripsi yang penulis teliti, agar terhindar dari kesamaan judul dan lain- lainnya dari skripsi yang sudah ada sebelum-sebelumya.

Setelah mengadakan tinjauan pustaka, maka peneliti menemukan skripsi sebagai berikut :

Tabel 1.2

Tinjauan Pustaka (Literature Review)

(24)

19

No. Peneliti Judul Pembahasan

1. Skripsi, Ulfa Andriyani, 2014.

Program Terapi Anak

Berkebutuhan Khusus Di Yayasan Panti Nugraha Jakarta Selatan

Skripsi ini

menjelaskan tentang Evaluasi Program

Terapi Anak

Berkebutuhan

Khusus Di Yayasan Panti Nugraha Jakarta Selatan.

2. Skripsi, Tridiwa Arief Sulistyo, 2017.

Implementasi Kebijakan Pendidikan Inklusif Bagi Mahasiswa Difabel Di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Tridiwa Arief Sulistyo menjelaskan tentang implementasi kebijakan pendidikan inklusif di Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.

Lebih spesifiknya penelitian

menggambarkan peran universitas dalam pelaksanaan pendidikan inklusif.

3. Skripsi, Welvy Redasurya, 2015.

Implementasi Evaluasi

Pembelajaran di Sekolah Alam

Welvy menjelaskan

hasil dari

implementasi evaluasi

(25)

20

(Studi Kasus di SD School of Universe

Parung)

pembelajaran di sekolah berbasis

alam yang

memfokuskan objek penelitian pada hasil belajar murid.

3. Landasan Teori

Penelitian ini menggambarkan beberapa teori untuk mengkaji tema pokok penelitian, yaitu Evaluasi Hasil Implementasi Pendidikan Inklusi Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di SDN Bojong Sari 01.

Sehingga teori yang digunakanadalah sebagai berikut : 1. Definisi Evaluasi Program

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata evaluasi berarti penilaian.10 Evaluasi adalah pengidentifikasian keberhasilan atau kegagalan suatu rencana kegiatan atau program. Evaluasi berusaha mengidentifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program.11

10 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), h.238.

11 Edi suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan

Masyarakat, Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerja Sosial (Bandung: PT RefikA Aditama, 2005), h.119.

(26)

21

Paulson dalam bukunya “A Strategy for Evaluation Design” yang dikutip oleh Grotelueschen mengemukakan bahwa, “Evaluation as a process of examining certain objects or events in the light of specific value standards for the purpose of making adaptive decisions” Menurut Paulson evaluasi program adalah proses pengujian berbagai objek atau peristiwa tertentu dengan menggunakan ukuran- ukuran nilai khusus dengan tujuan untuk menentukan keputusan-keputusan yang sesuai.12

2. Teori Pendidikan Inklusif

Lahirnya paradigma pendidikan inklusif sarat dengan muatan kemanusiaan dan penegakan hak-hak azasi manusia. Inti (core) dalam paradigma pendidikan inklusif yaitu sistem pemberian layanan pendidikan dalam keberagaman, dan falsafahnya yaitu menghargai perbedaan semua anak. Pendidikan inklusif adalah sebah paradigma pendidikan yang humanis.

Pendidikan inklusif adalah sebuah falsafah pendidikan yang mengakomodasi semua anak sesuai dengan kebutuhannya. Pada tataran operasional layanan pendidikannya menggeser pola segregasi menuju pola inklusi, hal ini mengandung konsekuensi logis terhadap penyelenggaraan pendidikan di seklah umum dan sekolah kejuruan, antara lain sekolah harus lebih

12 Djuju Sudjana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h.21.

(27)

22

terbuka, ramah terhadap anak, dan tidak diskriminatif.13

Hakekat pendidikan inklusif terdiri dari 2, yaitu : a. Pendidikan inklusi adalah penggabungan

pendidikan regular dan pendidikan khusus ke dalam satu sistem lembaga pendidikan yang dipersatukan untuk mempertemukan perbedaan kebutuhan semua.

b. Pendidikan inklusif bukan sekedar metode atau pendekatan pendidikan melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebinekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Tujuan pendidikan inklusif adalah untuk menyamakan hak semua orang tanpa terkecuali dalam memperoleh pendidikan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat dasar

13 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 7.

(28)

23

dan menengah. Hai ini menunjukkan bahwa difabel di Indonesia berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana mestinya.14

3. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Menurut Suran dan Rizzo 1979 yang dikutip oleh Frieda Mangunsong, anak luar biasa atau memiliki kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal, meliputi mereka yang tuli, buta, mempunyai gangguan bicara, cacat tubuh, retardasi mental, gangguan emosional. Juga anak-anak yang berbakat dengan intelegensi yang tinggi, dapat dikategorikan sebagai anak khusus/luar biasa, karena memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga profesinal.15

14Sumber Berita Online :

https://ycaitasikmalaya46111.wordpress.com/2013/01/11/tujuan -pendidikan- inklusif/ Diakses pada tanggal 20 Agustus 2017

15 Frida Mangunsong, Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid Kesatu, (LPSP3 UI, Depok: 2014), h. 3.

(29)

24 G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai menggunakan prosedur statistik atau dengan cara-cara kuantifikasi. Peneltian kualitatif dapat dapat menunjukan kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalis organisasi, pergerakan sosial, dan hubungan kekerabatan.16 Dalam penelitian kualitatif memiliki dua tujuan, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkapkan, kedua, menggambarkan dan menjelaskan.

Menurut Bogdan dan taylor mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghaslkan data deskritif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh).17

Penulis menggunakan metode penelitian kualiatif untuk menggambarkan dan menjelaskan secara teori dan praktek pada Evaluasi Program Pendidikan Inklusi

16 M. Djunaidi Ghony, Fauzan Almanshur, Metode Peneltian Kualitatif, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 25

17 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori – Aplikasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2007), h. 47

(30)

25

Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di SDN Bojong Sari 01-Depok.

2. Sumber Data

Penelitian ini dilakukan dengan cara mempelajari dan menganalisa data-data penelitian yang dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu :

a. Data Primer , yaitu data yang bersumber dari hasil wawancara langsung dengan pihak SDN bojong Sari 01, wali murid siswa regular , wali murid siswa berkebutuhan khusus, dan siswa berkebutuhan khusus (jika sekiranya bisa dilakukan) di SDN Bojongsari 01.

b. Data Sekunder, yaitu data yang bersumber dari beberapa literatur terkait yang berhubungan langsung dengan permasalahan penelitian, diantaranya: buku-buku, skripsi, makalah, laporan ilmiah, jurnal, internet dan lain sebagainya.

3. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksananakan di SD Negeri Bojongsari 01 yang terletak di Jalan Raya Bojong Sari No.

26, RT.01/RW.02, Bojong Sari, Depok. Peneliti mengambil lokasi ini karena SD Negeri Bojongsari 01 ini merupakan salah satu sekolah yang ada di Depok yang menerapkan sekolah inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Waktu yang digunakan dalam penelitian ini

(31)

26

selama enam bulan di mulai sejak Mei 2019 hingga November 2019.

4. Teknik Pemilihan Informan

Subjek penelitian dipilih secara sengaja sesuai dengan data yang ditunjukan untuk mendapatkan informasi sesuai kebutuhan penelitian. Peneliti akan menggali data seluas-luasnya dari pihak yang terlibat dalam evaluasi program pendidikan inklusi pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Bojong Sari 01.

Tabel 1.1

Rancangan Subyek Penelitian

No .

Subjek Penelitian

Informasi

Yang Dicari Jumlah

Metode Pengumpulan

Data 1. Kepala

Sekolah SDN Bojongsari 01- Depok

Gambaran umum program pendidikan inklusif di SDN

Bojongsari 01- Depok, Latar

belakang berdirinya,

1 Orang

Wawancara bebas terstruktur

(32)

27 tujuan, visi dan misi sekolah, Program dan layanan yang

ada di

sekolah, hasil program pendidikan sekolah inklusif.

2. Guru

Pendamping Program Sekolah Inklusif SDN Bojongsari 01- Depok

Program dan rencana kerja sekolah , Strategi dan kedekatan tenaga pengajar dengan siswa, faktor

penghambat dan

pendukung pelaksanaan program, Kategori dan

1 Orang

Wawancara bebas terstruktur

Observasi

(33)

28 pengelompok an kelas dalam

program sekolah inklusif.

3. Guru Kelas SDN Bojongsari 01 - Depok

Perubahan perilaku siswa, peran orangtua terhadap program pendidikan inklusif.

1 Orang

Wawancara bebas terstruktur

Observasi

4 Orangtua Siswa Inklusif SDN Bojongsari 01- Depok

Pengaruh yang dilihat terhadap sekolah inklusif pada

anak ,

Manfaat yang didapat dari sekolah inklusif dan

1 Orang

Wawancara bebas terstruktur

Observasi

(34)

29 hasil yang dicapai.

Jumlah Informan

4 O r a n g

5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumulan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data primer, dan lebih banyak pada teknik observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi.18

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, diantaranya sebagai berikut :

a) Wawancara

Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan tanya jawab yang ditujukan kepada guru pendamping, guru kelas,

18 M. Djunaidi Ghony, Fauzan Almanshur, Metode Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 164.

(35)

30

orang tua siswa regular serta orang tua siswa berkebutuhan khusus di SDN Bojongsari 01, mengenai evaluasi program pendidikan inklusi pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Bojongsari 01.

Wawancara kualitatif merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data dan informasi. Wawacara yang digunakan adalah wawancara kualitatif. Artinya, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa kepada seluruh informan tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tentu saja peneliti menyimpan cadangan masalah yang perlu ditanyakan kepada informan.19

b) Dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian.20 Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengkaji dokumen-dokumen

19 M. Djunaidi Ghony, Fauzan Almanshur, Metode Penelitian Kualitatif , (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 176.

20Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2008), Cet. 7, h. 70

(36)

31

tertulis, seperti: arsip, internet, brosur, majalah, koran dan lain sebagainya.

c) Observasi

Inti dari observasi adalah adanya perilaku yang tampak dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Perilaku yang tampak dapat berupa perilaku yang dapat dilihat langsung oleh mata, dapat didengar, dapat dihitung, dan dapat diukur. Pada dasarnya, tujuan dari observasi adalah untuk mendeskripsikan lingkungan (site) yang diamati, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, individu-individu yang terlibat dalam lingkungan tersebut beserta aktivitas dan perilaku yang dimunculkan, serta makna kejadian berdasarkan perspektif individu yang terlibat tersebut.21

Peneliti melakukan pengamatan langsung dengan mendatangi SDN Bojongsari 01.

Informasi yang peneliti dapatkan tidak langsung diolah dalam tulisan, melainkan mencari informasi valid dari beberapa wawancara yang dilakukan maupun observasi langsung.

21 Haris Hardiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu- Ilmu Sosial, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), Cet. 3, h. 131-132

(37)

32 6. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data yang telah dihimpun, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu teknik analisis data dimana penulis membaca, mempelajari, memahami dan menguraikan semua data yang telah diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi dan observasi yang kemudian memberikan analisa-analisa komprehensif sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

7. Teknik Keabsahan Data

Adapun penelitian ini adalah deskriptif, yakni penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau keadian-keadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.22 Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih.23 Penulis berusaha memberikan gambaran seobjektif mungkin mengenai evaluasi program pendidikan inklusi pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Bojong Sari 01-Depok.

22 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori – Aplikasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), h. 47

23 Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdikarya, 2008), Cet. 7, h. 35

(38)

33 8. Pedoman Penulisan Skripsi

Dalam teknik penulisan Skripsi, peneliti menggunakan Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatulah Jakarta Nomor 507 tahun 2007 tentang Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesisi, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

9. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini, maka penulis membagi sistematika penulisan kedalam enam bab, yang terdiri dari sub-sub bab. Adapun sistematikanya sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, sistematika skripsi. Kegunaan pendahuluan dalam skripsi ini adalah mengantarkan pembaca untuk memahami gambaran tentang topik yang akan dibahas.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Bab ini berisi landasan teori dan kajian pustaka yang membahas tentang seluk beluk evaluasi program pendidikan inklusif pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Bojongsari 01-Depok.

(39)

34

BAB III PROFIL LEMBAGA

Bab ini menjelaskan tentang gambaran umum onjek penelitian yang terdiri dari latar belakang berdirinya sekolah, visi dan misi sekolah, sarana dan prasarana, program kerja dan rencana kerja, serta bentuk layanan khusus yang disediakan oleh SDN Bojongsari 01.

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN Bab ini menggambarkan pelaksanaan program pendidikan inklusif pada abak berkebutuhan khusus (ABK) yang diselenggarakan oleh SDN Bojongsari 01- Depok.

BAB V : PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil temuan penelitian dan pembatasan/diskusi yang berisi tentang pembahasan atau diskusi mengenai hasil penelitian yang diperoleh. Bagaimana keterkaitan penelitian dengan teori yang sudah ada, dan penelitian ini juga membahas tentang bagaimana gambaran pelaksanaan dan hasil dari program pendidikan inklusif pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di

(40)

35

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongsari 01- Depok.

BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

Bab ini berisi rangkuman hasil penelitian yang ditarik dari analisis data dan pembahasan. Saran berisi perbaikan-perbaikan atau masukan-masukan dari penulis untuk perbaikan-perbaikan yang berkaitan dengan penelitian. Peneliti juga dapat mengemukakan persoalan-persoalan baru yang muncul dari penelitian tersebut untuk dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

(41)

36 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Pada pembahasan di BAB II ini, peneliti menjelaskan teori yang digunakan untuk menganalisis dan menjawab permasalahan. Adapun teori yang akan digunakan dalam penelitian, yakni teori :Evaluasi Program

1. Pengertian Evaluasi Program

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata evaluasi adalah penilaian.24 Evaluasi adalah pengidentifikasian keberhasilan atau kegagalan suatu rencana kegiatan atau program. Secara umum dikenal dua tipe evaluasi, yaitu evaluasi terus-menerus (on-going evaluation) dan evaluasi akhir (ex-post evaluation). Tipe evaluasi yang pertama dilaksanakan pada interval periode waktu tertentu. Tipe evaluasi yang kedua dilakukan setelah implementasi suatu program atau rencana. Evaluasi berusaha mengidentifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program.25

Definisi evaluasi ditulis oleh Ralph Tyler, yaitu evaluasi ialah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai (Tyler,1950, hlm.

69). Menyediakan informasi untuk pembuatan keputusan,

24 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamu Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), h. 238.

25 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat Rakyat, (Bandung: Refika Aditama, 2005), h. 119.

(42)

37

dikemukakan oleh Cronbach (1963), Stufflebeam (1971), juga Alkin (1969). Maclcolm, Provus, pencetus Discrepancy Evaluation (1971), mendefinisikan evaluasi sebagai perbedaan apa yang ada dengan suatu standar untuk mengetahui apakah ada selisih.26

2. Peran dan Tujuan Evaluasi Program

Evaluasi formal telah memegang peranan penting dalam (Worten, Blaine R, dan James R, Sanders, 1987) antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :

1. Membuat kebijaksanaan dan keputusan.

2. Menilai hasil yang dicapai para pelajar.

3. Menilai kurikulum.

4. Memberi kepercayaan kepada sekolah.

5. Memonitor dana yang telah diberikan.

6. Memperbaiki materi dan program pendidikan.27

3. Model-model Evaluasi a. Model evaluasi CIPP

Stufflebeam (1969,1971, 1983, Stufflebeam &

Shinkfield, 1985) merumuskan bahwa evaluasi sebagai

“suatu proses menggambarkan, memperoleh, dan

26 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 3.

27Ibid h. 4

(43)

38

menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan ”Dia membuat pedoman kerja untuk melayani para manajer dan administrator menghadapi empat macam keputusan pendidikan, membagi evaluasi menjadi empat macam,yaitu :

1) Contect evaluation to serve planning decision

Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program, dan merumuskan tujuan program.

2) Input evaluation, structure decision Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan. Bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.

3) Process evaluation, to serve implementing decision

Evaluasi proses untuk membantu mengimplementasikan keputusan sampai sejauh mana rencana telah diterapkan? Apa yang harus direvisi?

Begitu pertanyaan tresebut terjawab

(44)

39

prosedur dapat dimonitor, dikontrol, dan diperbaiki.

4) Product evaluation,to serve recycling decision

Evaluasi produk untuk menolong keputusan selanjutnya. Apa hasil yang telah dicapai? Apa yang dilakukan setelah program berjalan? Huruf pertama dari konteks evaluasi dijadikan ringkasan CIPP.28

b. Evaluasi Model UCLA

Alkin (1969) mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses meyakinkan keputusan, memilih informasi yang tepat, mengumpulkan, dan menganalisis informasi sehingga dapat melaporkan ringkasan data yang berguna bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif. Ia mengemukakan lima macam evaluasi, yakni :

1) Sistem assesment, yang memberikan informasi tentangkeadaan atau posisi sistem.

28 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 13-14

(45)

40

2) Program planning, membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program.

3) Program implementation, yang menyiapkan informasi apakah program sudah diperkenalan kepada kelompok tertentu yang tepat seperti yang direncanakan?

4) Program improvement, yang memberikan informasi tentang bagaimana program berfungsi, bagaimana program bekerja, atau berjalan ? apakah menuju pencapaian tujuan, adakah hal-hal atau masalah- masalah baru yang muncul tak terduga?

5) Program certification, yang memberi informasi tentang nilai atau guna program.29

c. Model Brinkerhoff

Brinkerhoff & Cs. (1983) mengemukakan tiga golongan elemen evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri sebagai berikut :

29 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 15

(46)

41

1) Fixed vs Emergent Evaluation Design.

Dapatkah masalah evaluasi dan kriteria akhirnya dipertemukan ? Apabila itu demikian, apakah itu suatu keharusan ? 2) Formative vs Summative Evaluation.

Apakah evaluasi akan dipakai untuk perbaikan atau untuk melaporkan kegunaan atau manfaat suatu program ? Atau keduanya ?

3) Experimental and Quasi Experimental Design vs Natural/ Unobtrusive Inquiry.

Apakah evaluasi akan melibatkan intervensi ke dalam kegiatan program/mencoba memanipulasi kondisi, orang diperlakukan, variabel dipengaruhi dan sebagainya, atau hanya diamati, atau keduanya ?

4) Model Stake atau Model Counternance.

Stake (1967) menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi ialah Description dan Judgment dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan,yaitu : Antecedents (Context), Transaction (Process), dan Outcomes (Output).30

30 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 15- 22

(47)

42

4. Beberapa Pendekatan Dalam Evaluasi

(Stecher, Brian M & W. Alan Davis, 1987), Istilah pendekatan evaluasi ini diartikan sebagai beberapa pendapat tentang apa tugas evaluasi dan bagaimana dilakukan, dengan kata lain tujuan dan prosedur evaluasi. Berikut ini beberapa pendekatan memberikan petunjuk bagaimana memperoleh informasi yang berguna dalam kondisi, yaitu :

a) Pendekatan Experimental

Yang dimaksud dengan pendekatan eksperimental yaitu evaluasi yang berorientasi pada penggunaan experimental science dalam program evaluasi. Pendekatan ini berasal dari kontrol eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Tujuan evaluator yaitu untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu yang mengontrol sebanyak-banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program. Evaluator berusaha sekuat tenaga menggunakan metode saintifik sebanyak mungkin.

Keuntungan dari pendekatan eksperimen ini yang kemampuannya dalam menarik kesimpulan yang relatif objektif, generalisasi terhadap pertanyaan program yang bersangkutan. Hal ini

(48)

43

membuat pendekatan lebih populer, terpercaya, dan disukai pemakai serta pembuat keputusan.31

b) Pendekatan yang Berorientasi pada Tujuan (Goal Oriented Approach)

Model ini memberi petunjuk kepada pengembangan program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dan hasil yang akan dicapai. Peserta tidak hanya harus menjelaskan hubungan tersebut di atas, tetapi juga harus menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur. Dengan demikian ada hubungan yang logis antara kegiatan, hasil, dan prosedur pengukuran hasil.

c) Pendekatan yang Berfokus kepada Keputusan (The Decision Focused Approach)

Keunggulan pendekatan ini ialah perhatiannya terhadap kebutuhan pembuat keputusan yang khusus dan pengaruh yang makin besar pada keputusan program yang relevan.

Keterbatasan pendekatan ini yaitu banyak keputusan penting dibuat tidak pada waktu yang tepat, tapi dibuat pada waktu yang kurang tepat.

Seringkali banyak keputusan tidak dibuat berdasarkan data, tapi tergantung pada impresi

31 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 23-24

(49)

44

perorangan, politik, perasaan, kebutuhan pribadi, dan lain-lain. Dalam hal ini evaluator mungkin dapat memberi pengaruh positif yang lebih objekif dan rasional.32

d) Pendekatan yang Berorientasi kepada Pemakai (The User Oriented Approach)

Kelebihan pendekatan ini ialah perhatiannya terhadap individu yang berurusan dengan program dan perhatiannya terhadap informasi yang berguna untuk individu tersebut . hal ini tidak saja membuat evaluasi menjadi lebih berguna tetapi juga dapat menciptakan rasa telah berbuat bagi individu tersebut, dan hasil evaluasi akan selalu terpakai.

Keterbatasan pendekatan ini yaitu ketergantungannya terhadap kelompok yang sama dan kelemahan ini bertambah besar pengaruhnya sehingga hal-hal lain di luar itu kurang mendapat perhatian. Kelompok itu dapat berganti komposisi berkali-kali dan ini dapat mengganggu kelangsungan atau kelancaran kegiatan evaluasi.

Akhirnya, mereka yang lebih banyak bicara dan lebih persuasif dapat berpengaurh lebih besar. Lagi

32 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 26-27

(50)

45

pula, sulit untuk mengatakan atau meyakinkan bahwa semua minat dapat tertampung.33

e) Pendekatan yang Responsif (The Responsive Approach)

Kelebihan pendekatan responsif ini ialah kepekaannya terhadap berbagai titik pandangan, dan kemampuannya mengakomodasi pendapat yang ambigis dan tidak fokus. Pendekatan responsif dapat beroperasi dalam situasi di mana terdapat banyak perbedaan minat dan kelompok yang berbeda-beda, karena mereka dapat mengatur pendapat tersebut dengan cara yang tepat.

Demikian juga evaluasi responsif dapat mendorong proses perumusan masalah dengan menyediakan informasi yang dapat menolong orang mengerti isu lebih baik.

Keterbatasan pendekatan responsif ialah keengganannya membuat prioritas atau penyerdehanaan informasi untuk pemegang keputusan dan kenyataan yang praktis tidak mungkin menampung semua sudut pandangan dari berbagai kelompok.34

f) Goal Free evaluation

33Ibid h. 30

34 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 33

(51)

46

Evaluasi goal free evaluation (evaluasi bebas tujuan), dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut : pertama, tujuan pendidikan tak dapat dikatakan sebagai pemberian, seperti tujuan lain, ia harus dievaluasi. Lebih jauh lagi, tujuan biasanya atau umumnya hanya formalitas, dan jarang menunjukkan tujuan yang sebenarnya dari proyek, atau tujuan berubah. Berikut ciri-ciri evaluasi bebas tujuan :

a. Evaluator sengaja menghindar untuk mengetahui tujuan program.

b. Tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu tidak dibenarkan menyempitkan fokus evaluasi.

c. Evaluasi bebas tujuan berfokus pada hasil yang sebenarnya, bukan pada hasil yang direncanakan.

d. Hubungan evaluator dan manajer atau dengan karyawan proyek dibuat seminimal mungkin.

e. Evaluasi menambah kemungkinan ditemukannya dampak yang tak diramalkan.35

35 Dr. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd. Evaluasi Program dan Instrmen Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 34-35

(52)

47 5. Indikator Keberhasilan

Dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk suatu proses evaluasi, Feurstein seperti yang dikutip Isbandi Rukminto Adi

mengajukan beberapa indikator yang perlu dipertimbangkan, diantara :

a. Indikator Ketersediaan (Indicator of Availability). Indikator ini melihat apakah unsur yang seharusnya ada dalam suatu proses itu benar-benar. Misalnya dalam suatu program pembangunan sosial yang menyatakan bahwa diperlukan satu tenaga kader lokal yang terlatih untuk menangani 10 rumah tangga, maka perlu dicek apakah tenaga kader yang terlatih itu benar-benar ada.

b. Indikator Relevansi (Indicator of Relevance).

Indikator ini menunjukkan seberapa relevan ataupun tepatnya sesuatu yang teknologi atau layanan yang ditawarkan. Misalnya pada suatu program pemberdayaan perempuan pedesaan dimana diperkenalkan kompor teknologi terbaru, tetapi ternyata kompor tersebut lebih banyak menggunakan minyak tanah ataupun kayu dibandingkan dengan kompor yang biasa mereka gunakan. Berdasarkan keadaan tersebut maka teknologi yang lebih baru ini dapat dikatakan kurang relevan untuk diperkenalkan

(53)

48

bila dibandingkan dengan kompor yang biasa mereka gunakan.

c. Indikator Keterjangkauan (Indicators of Acessbility). Indikator ini melihat apakah layanan yang ditawarkan masih berada dalam

“jangkauan” pihak-pihak yang membutuhkan.

Misalnya saja, puskesmas yang didirikan untuk melayani suatu masyarakat desa berada pada posisi yang strategis, dimana sebagian besar warga desa dapat dengan mudah datang ke puskesmas. Atau apakah suatu posko bencana alam berada dalam jangkauan korban bencana tersebut.

d. Indikator Pemanfaatan (Indicators of Utilisation). Indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah yang disediakan oleh pihak pemberi layanan, dipergunakan (dimanfaatkan) oleh kelompok sasaran. Misalnya saja, seberapa banyak pasangan usia subur yang memanfaatkan layanan jasa puskesmas dalam meningkatkan KB mandiri. Atau, berapa banyak anak jalanan yang mengikuti kegiatan baca tulis dari sekian banyak anak jalanan yang belum bisa membaca dan menulis.

e. Indikator Kualitas (Indicators of Quality).

Indikator ini menunjukkan standar kualitas dari

(54)

49

layanan yang disampaikan ke kelompok sasaran. Misalnya saja, apakah layanan yang diberikan oleh suatu Organisasi Pelayanan Kemanusiaan (Human Service Organization) sudah memenuhi syarat dalam hal kerahan, dan sikap empati terhadap klien ataupun kualitas dari tangibles yang ada dalam proyek tersebut.

f. Indikator Upaya (Indicators of Efforts).

Indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktivitas yang dilaksanakan guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Misalnya, berapa bayak sumber daya manusia dan sumber daya material yang dimanfaatkan dalam membangun sarana transportasi antar desa.

g. Indikator Efisiensi (Indicators of Effeciency).

Indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktivitas yang dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat guna (efisien) atau tidak memboroskan sumber daya yang ada dalam upaya mencapai tujuan. Misalnya saja, suatu layanan yang bisa dijalankan dengan baik hanya dengan meggambarkan 4 tenaga lapangan dengan alasan untuk menghindari terjadinya pengangguran terselubung (undereployment).

h. Indikator Dampak (Indicators of Impact).

Indikator ini melihat apakah sesuatu yang kita

(55)

50

lakukan benar-benar memberikan suatu perubahan di masyarakat. Misalnya saja, apakah setelah dikembangkan layanan untuk mengatasi kemiskinan selama tiga tahun di suatu desa, maka angka penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sudah menurun.36 A. Pendidikan Inklusif

1. Pengertian Pendidikan Inklusif

Menurut Hildegun Olsen (Tarmansyah, 2007,82).

Pengertian pendidikan inklusif adalah sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik, atau kondisi lainnya. Ini harus mencakup anak-anak jalanan, penyandang cacat, berbakat. Anak-anak jalanan dan pekerja anak berasal dari populasi terpencil atau berpindah- pindah. Anak yang berasal dari populasi etnis minoritas, linguistik, atau budaya dan anak-anak dari area atau kelompok yang kurang beruntung atau termarjinalisasi.37

Dalam pengertian lain, pendidkan inlusif adalah sebuah konsep atau pendekatan pendidikan yang berusaha menjangkau semua individu tanpa kecuali atau dengan kata lain pendidikan inklusif adalah “Sistem pendidikan yang

36 Isbandi Rukminto Adi, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis, (PT. Raja Grafindo :2008) h. 191-194

37http://www.kajianmakalah.com/2015/12/pengertian-pendidikan- inklusi.html diakses pada : 5 maret 2018, 07;22 WIB

(56)

51

terbuka bagi semua individu serta mengakomodasi semua kebutuhan sesuai dengan kondisi masing-masing individu”. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang menghargai perbrdaan anak dan emberikan layanan kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan inklusif adalah pendidikan pendidikan yang tidak diskriminatif. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelmain, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa, dan sebagainya.

Semua anak belajar bersama-sama,baik di kelas/sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Menurut Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, Pasal 1 bahwa : Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajran dalam lingkungan pendidikan secara bersama- sama dengan peserta didik pada umumnya.38

38 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h 8

(57)

52 2. Tujuan Pendidikan Inklusif

Tujuan diselenggarakannya pendidikan inklusif, yaitu : a. Memberikanesempatan yang seluas-luasnya kepada

semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

b. Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.39

1. Fungsi Pendidikan Inklusif

Fungsi pendidikan inklusif, adalah :

a. Menjamin semua peserat didik mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan bermutu di berbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan.

b. Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi semua peseta didik untuk mengembangkan potensinya secara optimal.40

39 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 9

40 Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., Pendidikan Inklusif & Upaya Implementasnya, (Jakarta Timur : PT Luxima Metro Media) Cet. 3, h. 9-10

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penyewa akan lebih tertarik untuk bekerja sama jika karyawan yang memberikan pelayanan jasa tersebut menunjukan rasa empati yang tinggi dalam melayani, sikap dari

[r]

(1) Dalam hal sebagian dari KPR yang diterbitkan oleh Kreditor Asal pada saat perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 beroperasi belum memenuhi persyaratan untuk

Data Harga Pokok Produksi, Harga Jual dan Volume Penjualan Industri Keripik Singkong Kreasi Lutvi Periode 2010 –

Pengaruh Harga Pokok Produksi dan Harga Jual CPO dan PKO Terhadap Volume Penjualan Pada PTPN IV (Persero) Medan Variable independen adalah harga pokok produksi; Variabel

Proses pendidikan nilai berbasis catur gatra melalui mata pelajaran. kewirausahaan di SMK SPP Tanjungsari secara implisit lebih

Chain shackle pada bucket elevator telah mengalami masalah keausan karena material tersebut tidak sesuai dengan standar DIN 745 sehingga diperlukan optimalisasi

Astaxanthin, tepung wortel dan spirulina merupakan sumber beta karoten alami yang dapat meningkatkan kualitas dan kecerahan warna pada ikan hias.. Sejauh ini belum