• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Goodness-of-Fit Inner Model (Model Struktural)

Dalam dokumen 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN (Halaman 27-34)

79 Universitas Kristen Petra

kriteria composite reliability yang diharapkan, yaitu bersifat konsisten dan memiliki kemantapan dalam penggunaannya.

4.4.2 Evaluasi Goodness-of-Fit Inner Model (Model Struktural)

Evaluasi Inner Model dapat dilakukan dengan menggunakan Q-Square untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Selanjutnya dilakukan evaluasi menggunakan metode path coefficients (t-test).

a. R-Square

Nilai R-Square pada variabel minat beli adalah sebesar 0.671 (Gambar 4.1). Nilai ini berarti besarnya variabel minat beli dapat dijelaskan oleh variabel independen (Gaya Hidup, Minat Beli, dan Instagram Facility) sebesar 67.1%, dan sisanya yaitu sebesar 32.9% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak ikut diteliti. Hasil perhitungan R-Square memiliki arti Q-Square juga bernilai 0.671 dimana Q-square = R- (Q-Square > 0). Sehingga dapat dikatakan bahwa model ini memiliki nilai observasi dan prediksi ( predictive relevance).

b. Path Coefficients

Langkah selanjutnya untuk mengevaluasi model struktural yaitu dengan melihat nilai dari path coefficients. Hasil dari path coefficients akan menghasilkan nilai t-statistic. Hipotesa penelitian dapat dikatakan diterima apabila statistic > 1.96. Berikut hasil dari nilai path coefficients dan t-statistic:

80 Universitas Kristen Petra

Tabel 4.23. Hasil Path Coefficients dan T-statistic

yang signifikan terhadap Minat Beli. Nilai Original Sample (O) yang dihasilkan positif yang menunjukan bahwa semakin tinggi gaya hidup seseorang maka semakin tinggi seseorang tersebut memiliki minat beli terhadap tas mewah.

Selanjutnya pada baris ketiga terlihat adanya hubungan yang signifikan antara Motivasi dengan Minat Beli dengan nilai t-statistic 4.547 (>1.96). Nilai Original Sample (O) yang dihasilkan positif yang berarti ketika seseorang memiliki suatu motivasi yang tinggi, contohnya meningkatkan prestige, maka akan timbul minat beli yang tinggi terhadap produk yang akan memberikan prestige kepada penggunanya.

Hasil pada Tabel 4.23 memiliki arti bahwa Instagram Facility tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Minat Beli dengan nilai t-statistic kurang dari 1.96, yaitu 1.830. Nilai koefisien atau Original Sample (O) yang dihasilkan positif senilai 0.110. Selanjutnya, berdasarkan hasil perhitungan path coefficients, menunjukan bahwa nilai Moderating Effect 1 – MI 1.300 dengan Original Sample (O) senilai 0.166, dan nilai Moderating Effect 1 – MI 1.019 dengan Original Sample (O) senilai -0.109. Hal ini menunjukan bahwa Instagram Facility tidak berpengaruh signifikan memoderasi hubungan Gaya Hidup dengan Minat Beli, selain itu Instagram Facility juga tidak berpengaruh signifikan memoderasi hubungan Motivasi terhadap Minat Beli.

81 Universitas Kristen Petra

Berdasarkan hasil perhitungan path coefficient yang dijelaskan pada Tabel 4.24, berikut adalah rangkuman hasil hipotesis penelitian:

Tabel 4.24. Rangkuman Hasil Hipotesis Penelitian Hipotesis Variabel

Facility Minat Beli Tolak

H4 Gaya Hidup Minat Beli Instagram

Facility

Tolak

H5 Motivasi Minat Beli Instagram

Facility

Tolak

4.5 Pembahasan

Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan teknik analisa data Partial Least Square dengan menggunakan SmartPLS, diketahui bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Gaya Hidup, Motivasi, dan Instagram Facility sebagai variabel independen terhadap Minat Beli sebagai variabel dependen. Selain itu pula, terdapat pengaruh yang positif dan tidak signifikan antara Gaya Hidup terhadap Minat Beli yang dimoderasi oleh Instagram Facility, serta pengaruh yang negatif dan tidak signifikan antara Motivasi terhadap Minat Beli yang dimoderasi oleh Instagram Facility.

a. Gaya Hidup (X1) ® Minat Beli (Z)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli produk tas mewah. Hal ini terbukti dari beberapa hasil pengujian yang telah dilakukan pada subab sebelumnya.

Pertama, rata-rata responden menjawab item kuisioner bagian variabel gaya hidup dengan nilai 3.726 yang berarti memiliki persepsi cenderung setuju.

82 Universitas Kristen Petra

Terlihat pada indikator X1.2.5 memiliki nilai rata-rata jawaban cenderung sangat setuju, yaitu sebesar 4.218. Hal ini membuktikan bahwa responden memiliki gaya hidup yang tercermin dalam kesenanganya menggunakan tas mewah baru. Kedua, pada analisa mean variabel minat beli, didapati nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3.704 dimana menunjukkan tingkat kesetujuan responden terhadap minat beli tas mewah untuk memenuhi gaya hidup, mengikuti tren, memenuhi kebutuhan fashion, dan setuju apabila mencari informasi tas mewah di Instagram. Ketiga, nilai perhitungan t-statistic antara gaya hidup dan minat beli yang melebihi 1.96, yaitu 4.751 membuktikan adanya signifikansi yang tinggi. Semakin tinggi seseorang memiliki gaya hidup, maka semakin tinggi pula minatnya untuk membeli sebuah produk tas mewah. Keempat, apabila dihubungkan dengan karakteristik responden yang masuk kedalam kategori generasi millennial, gaya hidup sangat berpengaruh terhadap minat untuk membeli. Gaya hidup generasi yang tercermin dari kesenangannya terhadap barang mewah membuktikan adanya minat beli yang besar.

Analisa ini pula didukung penelitian sebelumnya oleh Cesare Amatulli dan Gianluigi Guido (2010), gaya hidup dapat mempengaruhi minat beli.

Penelitiannya mengenai hal-hal yang menentukan seseorang berbelanja barang mewah di Italia. Hasil penelitiannya menemukan bahwa salah satu faktor yang menjadi alasan timbulnya minat beli fashion mewah adalah gaya hidup sebagian masyarakat yang serba mewah (Amatulli & Guido, 2012). Semakin orang memiliki gaya hidup tertentu, maka semakin meningkat minatnya untuk membeli barang untuk mendukung gaya hidupnya (Tufail, et.al., 2018).

Dengan demikian hipotesis penelitian pertama mengenai “Gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap minat beli generasi millennial” dapat diterima.

b. Motivasi (X2) ® Minat Beli (Z)

Pada variabel motivasi dan minat beli juga memiliki nilai signifikansi yang cukup tinggi, yaitu dengan t-statistic sebesar 4.547. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang positif antara motivasi dan minat beli. Pada

83 Universitas Kristen Petra

pengujian disub bab sebelumnya, nilai mean atau rata-rata dari jawaban responden terhadap item kuisioner pada variabel motivasi adalah sebesar 3.885. Nilai ini menunjukkan responden cenderung setuju dan berarti responden memiliki motivasi baik secara hedonis maupun utilitarian terhadap pembelian produk tas mewah. Rata-rata tertinggi didapat dari indikator X2.2.3, yaitu sebesar 4.412 pada motif utilitarian. Hal ini menunjukkan bahwa responden cenderung sangat setuju apabila kepuasan terjadi ketika mendapat tas mewah baru. Jawaban responden tertinggi selanjutnya didapat dari indikator X2.1.1 pada motif hedonis yang mengatakan bahwa belanja merupakan hal yang menyenangkan. Dari hasil rata-rata ini dapat ditarik kesimpulan bahwa rasa senang dan rasa puas yang akan didapat merupakan sebuah motivasi bagi responden sehingga memiliki niat membeli produk tas mewah untuk mencapai apa yang menjadi motivasinya. Responden cenderung memikirkan apa yang hendak didapat dan dirasakan setelah melakukan pembelian. Selanjutnya, apabila dikaitkan dengan karakteristik responden yang merupakan generasi millennial, ketika generasi ini memiliki suatu motivasi tertentu ketika berbelanja barang mewah (dilihat dari sisi hedonis atau utilitarian), maka minat beli akan meningkat.

Analisa ini didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sarah Giovanini pada sebagian kecil masyarakat generasi millennial yang ada di Amerika. Penelitiannya menemukan adanya pengaruh self-motivation (motivasi) terhadap purchase intention (minat beli) barang mewah dimana seseorang termotivasi untuk membeli karena memiliki harga diri (self-esteem atau pride) yang tinggi (Giovanini & Thomas, 2015). Hal ini sesuai dengan indikator pada motif hedonis X2.1.2 yang menyatakan bahwa responden cenderung setuju apabila membeli tas mewah akan meningkatkan pride (harga diri). Selain itu, penelitian yang dilakukan Caesar Amatulli dan Gianluigi Guido (2010), membuahkan hasil bahwa adanya dorongan dalam diri (inner drives) dalam hal ini motivasi dapat membentuk sebuah minat beli untuk memuaskan dorongan yang ada didalam diri seseorang tersebut. Dengan demikian, hipotesis penelitian kedua, yaitu “Motivasi berpengaruh signifikan terhadap minat beli generasi millennial” dapat diterima.

84 Universitas Kristen Petra

c. Instagram Facility (Y) ® Minat Beli (Z)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang tidak signifikan antara Instagram Facility (fasilitas di Instagram) dengan minat beli.

Dapat diketahui melalui nilai t-statistic 1.830 (>1.96) yang berarti hubungan diantara keduanya kurang signifikan. Pertama, terlihat dari mean jawaban responden, nilai rata-rata untuk indikator Y.1.5 sebesar 3.339, yaitu mengenai fasilitas Instagram TV yang berarti sedang. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa diantara responden belum mengenal fasilitas terbaru dari Instagram sehingga belum merasakan keuntungan apabila mengaktifkan fasilitas Instagram TV.

Kedua, munculnya fenomena penjualan barang mewah palsu di Instagram dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Hal ini terbukti dari berita yang dilansir oleh nbcnews.com, Solon & Ingram (2019), bahwa banyaknya penjual tas mewah palsu membuat masyarakat resah. Penipuan ini memanfaatkan fasilitas media sosial yang ada seperti contohnya hashtag pada Instagram Facility untuk meyakinkan bahwa barang yang dijual adalah original. Dapat disimpulkan bahwa hashtag tidak menjadi faktor yang mempengaruhi minat beli. Ketiga, apabila dihubungkan dengan keuntungan media sosial dimana informasi secara cepat dan mudah didapat bisa menjadi penentu seseorang memiliki minat beli terhadap barang mewah. Konsumen semakin selektif terhadap apa yang mereka ketahui melalui informasi dan berita yang ada.

Keempat, apabila dikaitkan dengan karakteristik responden millennial, yaitu mudah terpengaruh. Ketika banyak bermunculan komentar, video, dan hashtag mengenai tas mewah palsu, maka akan terpengaruh untuk menomorduakan fasilitas Instagram sebagai media yang membantu memunculkan minat beli karena dirasa merugikan apabila mempercayainya.

Dengan demikian, dapat dikatakan hipotesis penelitian ketiga, yaitu

“Instagram Facility berpengaruh signifikan terhadap minat beli tas mewah pada generasi millennial” tidak dapat diterima.

85 Universitas Kristen Petra

d. Gaya Hidup (X1) ® Instagram Facility (Y) ® Minat Beli (Z)

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa Instagram Facility tidak memoderasi hubungan gaya hidup dengan minat beli. Nilai dari perhitungan t-statistic cukup rendah yaitu 1.300 (<1.96) yang berarti hubungan moderasi tidak signifikan. Hal ini dapat disebabkan hasil rata-rata jawaban responden ketika menjawab pernyataan “Berbelanja di IG sebagai hiburan” mendapat angka 3.230 dalam kategori sedang. Dapat disimpulkan tidak semua responden menggunakan fasilitas yang ada di Instagram untuk berbelanja dan tidak semua responden memiliki tingkat kegemaran yang sama dalam berbelanja. Seperti contoh, menggunakan fasilitas Instagram untuk sekedar menambah koneksi dan menambah ide-ide bisnis.

e. Motivasi (X2) ® Instagram Facility (Y) ® Minat Beli (Z)

Selain itu, ditemukan juga bahwa Instagram Facility tidak memoderasi hubungan motivasi dengan minat beli. Nilai perhitungan t-statistic, yaitu 1.019 (<1.96). Hampir sama dengan penjelasan pada poin d, bahwa responden memiliki sifat yang berbeda meskipun berada didalam satu generasi. Ketika seseorang memiliki motivasi dalam dirinya untuk mendapat produk dengan terencana, maka akan ada beberapa hal yang telah direncanakan salah satunya akun yang hendak ditarget untuk membeli. Oleh karena itu, fasilitas Instagram tidak meningkatkan atau menambah motivasinya untuk memiliki minat beli karena telah direncakan sebelumnya.

Alasan yang dapat terjadi untuk penolakan hipotesa keempat dan kelima adalah penjelasan poin c sebelumnya, bahwa dewasa ini, kriminalitas tidak hanya timbul di dunia nyata saja melainkan dunia maya. Banyak kejadian yang secara tidak langsung membuat masyarakat mempertimbangkan minatnya untuk membeli produk terutama produk dengan harga yang tinggi di media sosial (Instagram). Seperti akun bodong, yaitu penjual palsu yang menipu uang konsumen (cnnindonesia-Taylor, 2018). Dalam konteks hasil penelitian antara gaya hidup dan minat beli yang dimoderasi Instagram

86 Universitas Kristen Petra

Facility, konsumen tidak lagi mempertimbangkan keuntungan adanya Instagram Facility sebagai media penolong yang mendorong minat belinya, melainkan ada faktor lain yang dipertimbangkan misalnya rekomendasi dari kerabat atau orang lain.

Selain itu, apabila dibandingkan dengan media sosial lainnya seperti Facebook sebenarnya hampir sama dimana penipuan juga sering terjadi di Facebook. Facebook adalah media untuk bersosialisasi dimana seseorang dapat membagikan dan mengolah foto serta konten, memberi tanda suka dan komentar, dan dapat berkomunikasi melalui fasilitas messanger. Tidak sedikit pula orang yang memanfaatkan Facebook sebagai media untuk menambah pendapatan. Perbedaannya adalah Facebook memiliki website atau situs resmi dalam bahasa Indonesia yang memberikan banyak masukan dan saran apabila pengguna mengalami penipuan pembeli dapat lebih berhati-hati, berbeda dengan Instagram yang tidak secara resmi mempublikasi informasi mengenai penanganan kasus akun palsu sehingga (id.id.facebook.com). Selain itu, dalam hubungannya dengan perannya sebagai pemoderasi, bisa jadi fasilitas yang digunakan di Facebook tidak memoderasi hubungan gaya hidup atau motivasi ke minat beli karena menurut Mark Zukerberk (CEO Facebook), penjualan barang mewah jarang dilakukan di Facebook dan target market adalah non-millennials (entrepreneur.com).

Dengan demikian, dapat dikatakan hipotesis penelitian keempat dan kelima, yaitu “Instagram Facility secara signifikan memoderasi hubungan antara gaya hidup terhadap minat beli tas mewah pada generasil millennial”

dan “Instagram Facility secara signifikan memoderasi hubungan antara motivasi terhadap minat beli tas mewah pada generasil millennial” tidak dapat diterima.

Dalam dokumen 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN (Halaman 27-34)

Dokumen terkait