53 Universitas Kristen Petra
4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Profil Responden
Profil responden menunjukkan karakteristik atas demografi responden yang akan diteliti. Data yang digunakan berasal dari penyebaran kuisioner melalui Google Form yang dilaksanakan selama 10 hari oleh peneliti. Total responden yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 165 reponden dimana telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu berusia antara 18 hingga 35 tahun, merupakan penduduk Kota Surabaya, dan merupakan pengguna media sosial Instagram. Dalam penelitian ini analisa profil responden terbagi dalam jenis kelamin, usia, pekerjaan, lama penggunaan Instagram, dan jenis barang yang dibeli di Instagram.
a. Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.1. Jenis Kelamin Responden Jenis
Kelamin Frequency Percent Cumulative Percent
Perempuan 125 75.8% 75.8%
Laki – Laki 40 24.2% 100%
Total 165 100%
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.1, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang digunakan sebagai sampel adalah perempuan sebanyak 125 responden (75.8%), sedangkan laki-laki hanya 40 responden (24.2%).
Banyaknya responden perempuan ini erat kaitannya dengan sifatnya yang suka berbelanja.
54 Universitas Kristen Petra
b. Rentang Usia Responden
Tabel 4.2. Usia Responden Kelompok
Usia Frequency Percent Cumulative Percent
18 – 23 121 73.3% 73.3%
24 – 29 24 14.5% 87.8%
30 – 35 20 12.1% 100%
Total 165 100%
Berdasarkan Tabel 4.2 diatas, presentase terbesar untuk umur responden yang masuk kedalam sampel penelitian sebesar 73.3% (121 responden), yaitu pada rentang umur 18 hingga 23 tahun. Sedangkan rentang umur 24 hingga 29 tahun sebesar 14.5% (24 responden) dan rentang umur 30 hingga 35 tahun sebesar 12.1% (20 responden).
c. Pekerjaan Responden
Tabel 4.3. Pekerjaan Responden
Pekerjaan Frequency Percent Cumulative Percent Pelajar /
Mahasiswa 100 60.6% 60.6%
Karyawan 28 17% 77.6%
Wirausaha 26 15.8% 93.4%
Ibu Rumah
Tangga 9 5.5% 98.9%
Tidak
Bekerja 2 1.2% 100%
Total 165 100%
55 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari total 165 responden, 60.6% (100 orang) adalah pelajar atau mahasiswa, 17% (28 orang) merupakan karyawan, 15.8% (26 orang) adalah wirausaha, 5.5% (9 orang) adalah ibu rumah tangga, dan hanya 1.2% (2 orang) yang tidak bekerja. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini adalah seorang pelajar atau mahasiswa.
d. Lama Penggunaan Instagram oleh Responden
Tabel 4.4. Lama Penggunaan Instagram oleh Responden Lama
Penggunaan Frequency Percent Cumulative Percent Lebih dari 1
tahun 165 100% 100%
Kurang dari
1 tahun 0 0% 100%
Total 165 100%
Pada Tabel 4.4, dapat diketahui bahwa semua responden yang menjadi sampel penelitian, yaitu 165 responden (100%) telah menggunakan aplikasi Instagram lebih dari 1 tahun. Dapat disimpulkan bahwa responden telah mengenal dan mengerti fasilitas yang terdapat didalam Instagram yang menjadi salah satu variabel didalam penelitian ini. Pada bagian screening responden pada kuisioner, terdapat 98.8% responden yang menjawab “pernah”
pada pertanyaan mengenai pernah atau tidaknya penggunaan fasilitas yang ada di Instagram (follow, like, comment, mention, hashtag, Instagram TV).
56 Universitas Kristen Petra
e. Jenis Barang yang di Beli Responden di Instagram
Tabel 4.5. Jenis Barang yang di Beli Responden di Instagram Jenis
Barang Frequency Percent Cumulative Percent
Fashion 102 61.8% 61.8%
Makeup /
Skin Care 36 21.8% 83.6%
Elektronik 8 4.8% 88.4%
Makanan /
Minuman 19 11.5% 100%
Total 165 100%
Tabel 4.5 diatas menunjukkan mayoritas responden membeli produk fashion di Instagram, yaitu sebesar 61.8% (102 orang). Sebanyak 63 responden lainnya tersebar pada pembelian produk makeup / skincare sebesar 21.8% (36 orang), produk elektronik sebesar 4.8% (8 orang), dan produk makanan atau minuman sebesar 11.5% (19 orang). Hal ini sesuai dengan kriteria salah satu populasi peneliti, yaitu pengguna produk fashion.
4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya melalui penyebaran kuisioner kepada 30 responden. Metode ini disebut piloting test dan dianalisa dengan menggunakan aplikasi SPSS. Uji Validitas menggunakan metode Corrected Item-Total Correlation dengan kriteria rhitung >
rtabel dan harus lebih besar dari 0.3. Suatu instrumen penelitian dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.
Reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah item kuisioner mantap dan dapat diandalkan dari waktu ke waktu, dalam hal ini konsisten dan stabil. Reliabilitas
57 Universitas Kristen Petra
dapat dilihat melalui nilai cronbach’s alpha dengan kriteria apabila nilainya diatas 0.7, maka dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi.
a. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Gaya Hidup
Tabel 4.6. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Gaya Hidup GAYA HIDUP (X1)
No. Indikator
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach’s Alpha
X1.1.1 Menghabiskan banyak waktu
mencari produk tas mewah 0.516
0.801 X1.1.2 Menyukai aktivitas belanja tas
mewah 0.694
X1.1.3 Berbelanja tas mewah di IG
sebagai hiburan 0.439
X1.1.4 Berbelanja tas mewah untuk
bersosialisasi 0.362
X1.2.1 Berbelanja di IG sebagai hobi 0.301
X1.2.2 Memperhatikan tas mewah yang
digunakan orang lain 0.511
X1.2.3 Membagikan informasi terkait
tas mewah di IG 0.408
X1.2.4 Bangga apabila dapat membeli
tas mewah yang diinginkan 0.476
58 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.6. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Gaya Hidup (sambungan)
X1.2.5 Senang apabila dapat membawa
tas mewah baru 0.604
0.801 X1.3.1 Percaya bahwa harga tinggi
diikuti kualitas yang tinggi 0.317
X1.3.2 Percaya bahwa memiliki tas
mewah adalah sebuah investasi 0.350
X1.3.3
Percaya bahwa memiliki tas mewah mencerminkan identitas dan status
0.421
X1.3.4 Tas mewah akan selalu diminati
pelanggan 0.310
Berdasarkan Tabel 4.6, dapat diketahui bahwa indikator pada variabel Gaya Hidup memenuhi standar validitas dengan kriteria nilai correlated item- total correlation lebih dari 0.3 (rhitung > rtabel). Selanjutnya, indikator dalam variabel Gaya Hidup dapat dikatakan reliabel karena memiliki nilai cronbach’s alpha diatas 0.7, yaitu 0.801 yang berarti item pertanyaan dianggap konsisten.
59 Universitas Kristen Petra
b. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Motivasi
Tabel 4.7. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Motivasi MOTIVASI (X2)
No. Indikator
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach’s Alpha
X2.1.1 Berbelanja di IG adalah sebuah
petualangan yang menyenangkan 0.557
0.839 X2.1.2 Membeli tas mewah untuk
meningkatkan prestige 0.608
X2.1.3 Terdorong membeli tas mewah
karena bernilai 0.732
X2.1.4 Terdorong membeli tas mewah
untuk kebutuhan koleksi 0.587
X2.1.5 Terdorong membeli tas mewah
karena sudah direncanakan 0.587
X2.1.6
Mengunjungi akun IG tertentu untuk mencari tas mewah yang diinginkan
0.411
X2.1.7 Cenderung puas apabila
mendapat tas mewah yang dicari 0.691
Berdasarkan Tabel 4.7, dapat diketahui bahwa indikator pada variabel Motivasi memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Correlated item-correlation dari semua indikator bernilai lebih dari dari 0.3 (rhitung > rtabel) yang berarti
60 Universitas Kristen Petra
dinyatakan valid. Selanjutnya, nilai cronbach’s alpha yang dihasilkan adalah diatas 0.7, yaitu 0.839 yang berarti item pertanyaan dianggap reliabel atau konsisten.
c. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Instagram Facility
Tabel 4.8. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Instagram Facility INSTAGRAM FACILITY (Y)
No. Indikator
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach’s Alpha
Y1.1
Memberikan kepercayaan apabila melihat angka pada fasilitas follow dan like
0.454
0.755 Y1.2
Dapat melihat tanggapan pembeli lain dalam fasilitas comment
0.646
Y1.3
Dapat memperhatikan
rekomendasi pembeli tas mewah pada fasilitas mention
0.570
Y1.4
Dapat mencari informasi
sekumpulan foto tas mewah pada fasilitas hashtag
0.457
Y1.5
Dapat memperoleh informasi produk tas mewah dari fasilitas IG TV
0.502
61 Universitas Kristen Petra
Berdasarkan Tabel 4.8, nilai correlated item-total correlation dari setiap indikator pembentuk variabel Instagram Facility telah lebih dari 0.3 (rhitung >
rtabel) yang berarti dinyatakan valid. Selanjutnya, nilai cronbach’s alpha yang dihasilkan adalah diatas 0.7, yaitu 0.755 yang berarti item pertanyaan dianggap memenuhi uji reliabilitas dan dapat dikatakan konsisten.
d. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Minat Beli
Tabel 4.9. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Minat Beli MINAT BELI (Z)
No. Indikator
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach’s Alpha
Z1.1
Berminat melakukan pembelian tas mewah untuk memenuhi gaya hidup
0.522
0.755 Z1.2 Berminat membeli tas mewah
karena mengikuti tren 0.402
Z1.3 Berminat membeli tas mewah
karena membutuhkan 0.502
Z1.4
Berminat melakukan pembelian tas mewah karena terbantu fasilitas IG
0.765
Z1.5 Berminat mencari informasi
mengenai tren tas mewah di IG 0.442
Berdasarkan Tabel 4.9, dapat disimpulkan bahwa indikator pada variabel Minat Beli telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Nilai correlated
62 Universitas Kristen Petra
item-total correlation dari setiap indikator pembentuk variabel Minat Beli telah lebih dari 0.3 (rhitung > rtabel) yang berarti dinyatakan valid.
Selanjutnya, nilai cronbach’s alpha yang dihasilkan adalah diatas 0.7, yaitu 0.755 yang berarti item pertanyaan dianggap memenuhi uji reliabilitas dan dapat dikatakan konsisten.
4.3 Analisis Deskriptif Jawaban Responden
Pada bagian ini dijelaskan jawaban-jawaban responden mengenai variabel- variabel yang diteliti, yaitu Gaha Hidup (X1), Motivasi (X2), Instagram Facility (Y), dan Minat Beli (Z). Analisa deskriptif dalam penelitian ini menggunakan metode mean dan standard deviasi sehingga lebih mudah untuk mengetahui nilai rata-rata dan nilai penyebaran dari setiap variabel yang ditanyakan didalam kuisioner. Dalam menentukan rata-rata jawaban responden diperlukan interval kelas untuk mengetahui kategori jawaban responden untuk setiap variable.
Interval kelas yang digunakan yaitu:
Interval Kelas = !"#$" &'(&")**"+!"#$" &'('),$-
./0#$- 1'#$2 = 3+43 = 0.8 (4.1)
Dengan interval kelas sebesar 0.8 kemudian dapat disusun kategori jawaban responden sebagai berikut:
Tabel 4.10. Tabel mean Rentang Interval
Mean Keterangan
1-1.8 Cenderung Sangat Tidak Setuju (Sangat Rendah) 1.81-2.6 Cenderung Tidak Setuju (Rendah)
2.61-3.40 Cenderung Netral (Sedang) 3.41-4.20 Cenderung Setuju (Tinggi)
4.21-5.00 Cenderung Sangat Setuju (Sangat Tinggi)
63 Universitas Kristen Petra
Hasil deskripsi jawaban responden pada variable Gaya Hidup, Motivasi, Instagram Facility, dan Minat Beli akan dijelaskan sebagai berikut:
4.3.1 Gaya Hidup
Berikut merupakan analisis deskriptif jawaban responden pada variabel Gaya Hidup yang terdiri dari tiga dimensi (Activity, Interest, Opinion):
Tabel 4.11. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Gaya Hidup GAYA HIDUP (X1)
No. Indikator Mean Std. Dev Keterangan
ACTIVITY (X1.2)
X1.1.1
Menghabiskan banyak waktu mencari produk tas mewah
3.867 1.006 Tinggi
X1.1.2 Menyukai aktivitas belanja
tas mewah 3.739 0.940 Tinggi
X1.1.3 Berbelanja tas mewah di IG
sebagai hiburan 3.230 1.194 Sedang
X1.1.4 Berbelanja tas mewah
untuk bersosialisasi 2.933 1.285 Sedang INTEREST (X1.2)
X1.2.1 Berbelanja di IG sebagai
hobi 3.667 1.052 Tinggi
X1.2.2 Memperhatikan tas mewah
yang digunakan orang lain 3.709 1.139 Tinggi
64 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.11. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Gaya Hidup (sambungan)
X1.2.3 Membagikan informasi
terkait tas mewah di IG 3.321 1.206 Sedang
X1.2.4
Bangga apabila dapat membeli tas mewah yang diinginkan
4.030 1.029 Tinggi
X1.2.5 Senang apabila dapat
membawa tas mewah baru 4.218 0.954 Tinggi OPINION (X1.3)
X1.3.1 Percaya bahwa harga tinggi
diikuti kualitas yang tinggi 4.164 0.910 Tinggi
X1.3.2
Percaya bahwa memiliki tas mewah adalah sebuah investasi
3.667 1.058 Tinggi
X1.3.3
Percaya bahwa memiliki tas mewah mencerminkan identitas dan status
3.745 1.065 Tinggi
X1.3.4 Tas mewah akan selalu
diminati pelanggan 4.158 0.887 Tinggi Rata-rata 3.726
Dapat dilihat pada Tabel 4.11, mean (rata-rata) pada variable Gaya Hidup sebesar 3.726 dimana terletak pada interval 3.41-4.20 (Tabel 4.10). Dapat disimpulkan bahwa responden memiliki persepsi yang tinggi dalam menjawab item pertanyaan pada variabel Gaya Hidup. Nilai mean tertinggi berada pada dimensi Interest pada indikator X1.2.5 sebesar 4.218. Tingginya nilai mean pada
65 Universitas Kristen Petra
indikator tersebut membuktikan bahwa sebagian besar responden cenderung menjawab sangat setuju apabila gaya hidup diukur serta tercermin dari kesenangan pada saat membawa tas mewah baru.
Selanjutnya apabila dilihat dari nilai standar deviasinya, dapat dikatakan bahwa jawaban responden cukup menyebar. Standar deviasi tertinggi berada pada dimensi activity pada indikator X1.1.4, yaitu sebesar 1.285. Sedangkan yang terendah berada pada dimensi opinion pada indikator X1.3.4 dengan nilai 0.887.
Semakin tinggi nilai standar deviasi, maka data bersifat heterogen (menyebar).
Sebaliknya, semakin rendah nilai standar deviasi mendekati 0, maka data bersifat homogen (tidak menyebar).
4.3.2 Motivasi
Berikut merupakan analisis deskriptif jawaban responden pada variabel motivasi yang terdiri dari dua dimensi (hedonis dan utilitarian):
Tabel 4.12. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Motivasi MOTIVASI (X2)
No. Indikator Mean Std. Dev Keterangan
Motif Hedonis (X2.1)
X2.1.1
Berbelanja di IG adalah sebuah petualangan yang menyenangkan
3.812 0.912 Tinggi
X2.1.2 Membeli tas mewah untuk
meningkatkan prestige 3.255 1.199 Sedang
X2.1.3 Terdorong membeli tas
mewah karena bernilai 3.758 1.045 Tinggi
66 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.12. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Motivasi (sambungan)
X2.1.4
Terdorong membeli tas mewah untuk kebutuhan koleksi
3.770 1.088 Tinggi
Motif Utilitarian (X2.2)
X2.2.1
Terdorong membeli tas mewah karena sudah direncanakan
4.097 1.016 Tinggi
X2.2.2
Mengunjungi akun IG tertentu untuk mencari tas mewah yang diinginkan
4.091 0.990 Tinggi
X2.2.3
Cenderung puas apabila mendapat tas mewah yang dicari
4.412 0.874 Tinggi
Rata-rata 3.885
Berdasarkan Tabel 4.12, nilai mean (rata-rata) tertinggi dari variabel Motivasi terletak pada indikator X2.2.3, yaitu sebesar 4.412. Hal ini menunjukan bahwa responden cenderung sangat setuju apabila akan puas jika mendapat tas mewah yang sedang dicari. Nilai mean terendah berada pada indikator X2.1.2, yaitu sebesar 3.225 yang berarti pernyatan “Membeli tas mewah untuk meningkatkan prestige” dipersepsikan sedang. Secara keseluruhan, nilai rata-rata untuk variabel Minat Beli termasuk kategori tinggi karena masih berada pada interval 3.41-4.20.
Apabila dilihat dari nilai standar deviasinya, nilai tertinggi berada pada indikator X2.1.2 sebesar 1,199 yang menunjukkan bahwa jawaban responden heterogen (menyebar). Sedangkan nilai standar deviasi terendah dengan arti bahwa data responden adalah homogen (tidak menyebar), yaitu sebesar 0.874
67 Universitas Kristen Petra
adalah milik indikator X2.2.3, “Cenderung puas apabila mendapat tas mewah yang dicari”. Semakin tinggi nilai standar deviasi, maka data bersifat heterogen (menyebar). Sebaliknya, semakin rendah nilai standar deviasi mendekati 0, maka data bersifat homogen (tidak menyebar).
4.3.3 Instagram Facility
Berikut merupakan analisis deskriptif jawaban responden pada variabel Instagram Facility:
Tabel 4.13. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Instagram Facility INSTAGRAM FACILITY (Y)
No. Indikator Mean Std. Dev Keterangan
Y.1.1
Memberikan kepercayaan apabila melihat angka pada fasilitas follow dan like
3.824 1.038 Tinggi
Y.1.2
Dapat melihat tanggapan pembeli lain dalam fasilitas comment
3.915 0.999 Tinggi
Y.1.3
Dapat memperhatikan rekomendasi pembeli tas mewah pada fasilitas mention
3.921 0.928 Tinggi
68 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.13. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Instagram Facility (sambungan)
Y.1.4
Dapat mencari informasi sekumpulan foto tas mewah pada fasilitas hashtag
3.806 1.106 Tinggi
Y.1.5
Dapat memperoleh
informasi produk tas mewah dari fasilitas IG TV
3.339 1.087 Sedang
Rata-rata 3.761
Hasil yang ditampilkan pada Tabel 4.13 menunjukan bahwa responden cenderung setuju apabila fasilitas Instagram dapat membantu dalam hal memberikan kepercayaan, rekomendasi, dan informasi terhadap minat beli produk tas mewah. Hal ini dibuktikan dengan nilai mean (rata-rata) jawaban responden yang cukup tinggi, yaitu 3.761. Mean tertinggi berada pada indikator Y.1.3 sebesar 3.921 “Dapat memperhatikan rekomendasi pembeli tas mewah pada fasilitas mention” yang artinya, responden cenderung setuju apabila fasilitas mention dapat membantu pembeli mendapatkan rekomendasi. Sedangkan mean terendah berada pada indikator Y.1.5, yaitu 3.339 “Dapat memperoleh informasi produk tas mewah dari fasilitas IG TV”.
Nilai standar deviasi dari setiap indikator dapat dikatakan menyebar.
Semakin tinggi nilai standar deviasi, maka data bersifat heterogen (menyebar).
Sebaliknya, semakin rendah nilai standar deviasi mendekati 0, maka data bersifat homogen (tidak menyebar). Standar deviasi tertinggi berada pada indikator Y.1.4, yaitu 1.106. Sedangkan standar deviasi terendah berada pada indikator Y.1.3 dengan nilai 0.928.
69 Universitas Kristen Petra
4.3.4 Minat Beli
Berikut merupakan analisis deskriptif jawaban responden pada variabel minat beli:
Tabel 4.14. Tanggapan Responden Terhadap Variabel Minat Beli MINAT BELI (Z)
No. Indikator Mean Std. Dev Keterangan
Z.1.1
Berminat melakukan
pembelian tas mewah untuk memenuhi gaya hidup
3.485 1.071 Tinggi
Z.1.2 Berminat membeli tas
mewah karena mengikuti tren 3.539 1.098 Tinggi
Z.1.3 Berminat membeli tas
mewah karena membutuhkan 3.576 1.085 Tinggi
Z.1.4
Berminat melakukan
pembelian tas mewah karena terbantu fasilitas IG
3.824 0.991 Tinggi
Z.1.5
Berminat mencari informasi mengenai tren tas mewah di IG
4.097 0.942 Tinggi
Rata-rata 3.704
Dapat dilihat pada Tabel 4.14, rata-rata mean pada variable Minat Beli cukup tinggi, yaitu sebesar 3.704 dimana terletak pada interval 3.41-4.20 (Tabel 4.10). Mean tertinggi diperoleh dari indikator Z.1.5 “Berminat mencari informasi mengenai tren tas mewah di IG” sebesar 4.097. Hal ini menunjukan responden
70 Universitas Kristen Petra
cenderung sangat setuju untuk mencari informasi terkait tren tas mewah di Instagram. Sedangkan mean terendah diperoleh dari indikator Z.1.1 “Berminat melakukan pembelian tas mewah untuk memenuhi gaya hidup” sebesar 3.485.
Selanjutnya apabila dilihat dari nilai standar deviasinya, dapat dikatakan bahwa jawaban responden cukup menyebar. Standar deviasi tertinggi berada pada indikator Z.1.2, yaitu sebesar 1.098. Sedangkan yang terendah berada pada pada indikator Z.1.4dengan nilai 0.991. Semakin tinggi nilai standar deviasi, maka data bersifat heterogen (menyebar). Sebaliknya, semakin rendah nilai standar deviasi mendekati 0, maka data bersifat homogen (tidak menyebar).
4.4 Hasil Partial Least Square
4.4.1 Evaluasi Goodness-of-Fit Outer Model (Model Pengukuran)
Outer Model atau model pengukuran menggambarkan hubungan antara blok indikator dengan variabel latennya. Model pengukuran digunakan untuk menguji validitas konstruk dan reliabilitas instrumen. Kedua uji ini diperlukan untuk memastikan bahwa kuesioner telah layak dan akurat. Uji ini dilakukan pada data sejumlah 165 dimana data ini merupakan data akhir dari hasil penyebaran kuisioner. Validitas menunjukkan ketepatan item-item pernyataan kuesioner dalam mengukur variabel penelitian. Realibilitas menunjukkan kehandalan kuesioner dalam mengukur variabel penelitian karena menghasilkan pengukuran yang konsisten dan tidak berubah. Uji validitas yang akan dilakukan terdiri dari convergent validity dan discriminant validity. Sedangkan untuk menguji reliabilitas maka digunakan composite reliability.
a. Validitas Konvergen (Convergent Validity)
Convergent Validity dapat dipenuhi apabila masing-masing loading factor bernilai > 0.5. Semakin tinggi nilai loading factor maka semakin tinggi tingkat kepentingan indikator-indikator dalam menggambarkan variabel latennya.
Apabila tidak memenuhi nilai > 0.5, maka indikator akan dibuang dan dihitung kembali. Berikut adalah gambar hasil loading factor yang telah
71 Universitas Kristen Petra
direduksi dengan menghilangan beberapa blok karena tidak memenuhi standar:
Gambar 4.1. Loading factor
Berikut merupakan hasil analisis convergent validity terhadap indikator dari variabel gaya hidup:
Tabel 4.15. Hasil Analisis Convergent Validity Variabel Gaya Hidup GAYA HIDUP (X1)
No. Indikator Loading Factor
ACTIVITY (X1.1)
X1.1.2 Menyukai aktivitas belanja tas
mewah 0.777
X1.1.4 Berbelanja tas mewah untuk
bersosialisasi 0.737
72 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.15. Hasil Analisis Convergent Validity Variabel Gaya Hidup (sambungan) INTEREST (X1.2)
X1.2.4 Bangga apabila dapat membeli
tas mewah yang diinginkan 0.722
X1.2.5 Senang apabila dapat membawa
tas mewah baru 0.780
OPINION (X1.3)
X1.3.2 Percaya bahwa memiliki tas
mewah adalah sebuah investasi 0.671
X1.3.3
Percaya bahwa memiliki tas mewah mencerminkan identitas dan status
0.760
Berdasarkan hasil dari Tabel 4.15 dapat diketahui bahwa nilai dari semua outer loading indikator variabel pembentuk gaya hidup lebih dari 0.5. Hal ini berarti indkator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan valid dan telah memenuhi convergent validity. Indikator yang memiliki nilai outer loading tertinggi, yaitu X1.2.5 dalam dimensi opinion sebesar 0.780 yang menyatakan “Senang apabila dapat membawa tas baru”. Dapat disimpulkan bahwa indikator X1.2.5 memiliki kontribusi yang tinggi dalam menjelaskan konstruk latennya (variabel Gaya Hidup).
73 Universitas Kristen Petra
Berikut merupakan hasil analisis convergent validity terhadap indikator dari variabel motivasi:
Tabel 4.16. Hasil Analisis Convergent Validity Variabel Motivasi MOTIVASI (X2)
No. Indikator Loading Factor
Motif Hedonis (X2.1)
X2.1.1 Berbelanja di IG adalah sebuah
petualangan yang menyenangkan 0.693
X2.1.3 Terdorong membeli tas mewah
karena bernilai 0.793
X2.1.4 Terdorong membeli tas mewah
untuk kebutuhan koleksi 0.722 Motif Utilitarian (X2.2)
X2.2.2
Mengunjungi akun IG tertentu untuk mencari tas mewah yang diinginkan
0.742
X2.2.3 Cenderung puas apabila
mendapat tas mewah yang dicari 0.827
Pada Tabel 4.16 dapat diketahui bahwa nilai dari semua outer loading indikator variabel pembentuk motivasi lebih dari 0.5. Hal ini berarti indkator- indikator yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan valid dan telah memenuhi convergent validity. Indikator yang memiliki nilai outer loading tertinggi, yaitu X2.2.3 sebesar 0.827 yang menyatakan “Cenderung puas
74 Universitas Kristen Petra
apabila mendapat tas mewah yang dicari”. Dapat disimpulkan bahwa indikator X2.2.3 memiliki kontribusi yang tinggi dalam menjelaskan konstruk latennya (variabel Motivasi).
Berikut merupakan hasil analisis convergent validity terhadap indikator dari variabel Instagram Facility:
Tabel 4.17. Hasil Analisis Convergent Validity Variabel Instagram Facility INSTAGRAM FACILITY (Y)
No. Indikator Loading Factor
Y1.1
Memberikan kepercayaan apabila melihat angka pada fasilitas follow dan like
0.722
Y1.2
Dapat melihat tanggapan pembeli lain dalam fasilitas comment
0.748
Y1.3
Dapat memperhatikan
rekomendasi pembeli tas mewah pada fasilitas mention
0.737
Y1.4
Dapat mencari informasi
sekumpulan foto tas mewah pada fasilitas hashtag
0.701
Y1.5
Dapat memperoleh informasi produk tas mewah dari fasilitas IG TV
0.729
75 Universitas Kristen Petra
Pada Tabel 4.17 dapat diketahui bahwa nilai dari semua outer loading indikator variabel pembentuk Instagram facility lebih dari 0.5. Hal ini berarti indkator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan valid dan telah memenuhi convergent validity. Nilai outer loading tertinggi dimiliki oleh indikator Y1.2 sebesar 0.748 yang menyatakan “Dapat melihat tanggapan pembeli lain dalam fasilitas comment”. Dapat disimpulkan bahwa indikator Y1.2 memiliki kontribusi yang tinggi dalam menjelaskan konstruk latennya (variabel Instagram Facility).
Berikut merupakan hasil analisis convergent validity terhadap indikator dari variabel minat beli:
Tabel 4.18. Hasil Analisis Convergent Validity Variabel Minat Beli MINAT BELI (Z)
No. Indikator Loading Factor
Z1.1
Berminat melakukan pembelian tas mewah untuk memenuhi gaya hidup
0.819
Z1.2 Berminat membeli tas mewah
karena mengikuti tren 0.799
Z1.3 Berminat membeli tas mewah
karena membutuhkan 0.694
Z1.5 Berminat mencari informasi
mengenai tren tas mewah di IG 0.753
Pada Tabel 4.18 dapat diketahui bahwa nilai dari semua outer loading indikator variabel pembentuk minat beli lebih dari 0.5. Hal ini berarti
76 Universitas Kristen Petra
indkator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan valid dan telah memenuhi convergent validity. Nilai outer loading tertinggi dimiliki oleh indikator Z1.1 sebesar 0.819 yang menyatakan “Berminat melakukan pembelian tas mewah untuk memenuhi gaya hidup”. Dapat disimpulkan bahwa indikator Z1.1 memiliki kontribusi yang tinggi dalam menjelaskan konstruk latennya (variabel Motivasi).
b. Validitas Diskriminan (Discriminant Validity)
Discriminant Validity dapat diuji dengan dua cara, yaitu dengan melihat nilai cross loading dan average variance extracted (AVE). Untuk dapat dinyatakan memenuhi persyaratan, nilai cross loading semua indikator pada setiap variabel latennya harus lebih besar daripada yang berada pada variabel laten lainnya. Sedangkan untuk nilai akar AVE harus lebih besar daripada nilai korelasi antar variabel laten atau konstruk yang lain dan bernilai > 0.5.
• Cross Loading
Tabel 4.19. Cross Loading
GH IF MI MO Moderating
Effect 1
Moderating Effect 2 X1.1.2 0.777 0.273 0.584 0.624 -0.163 -0.094 X1.1.4 0.737 0.356 0.563 0.433 -0.168 -0.156 X1.2.4 0.722 0.222 0.438 0.462 -0.215 -0.085 X1.2.5 0.780 0.257 0.601 0.654 -0.242 -0.197 X1.3.2 0.671 0.404 0.503 0.467 -0.283 -0.189 X1.3.3 0.760 0.397 0.531 0.478 -0.242 -0.136 X2.1.1 0.543 0.313 0.495 0.693 -0.121 -0.065 X2.1.3 0.593 0.325 0.676 0.793 -0.174 -0.155 X2.1.4 0.518 0.217 0.556 0.722 -0.154 -0.039 X2.2.2 0.451 0.281 0.519 0.742 -0.122 -0.132 X2.2.3 0.560 0.347 0.577 0.827 -0.269 -0.259
Y1.1 0.350 0.722 0.414 0.293 -0.142 -0.082
Y1.2 0.286 0.748 0.254 0.371 -0.237 -0.226
Y1.3 0.277 0.737 0.263 0.275 -0.206 -0.210
Y1.4 0.298 0.701 0.262 0.301 -0.213 -0.136
Y1.5 0.319 0.729 0.330 0.206 -0.174 -0.175
Z1.1 0.634 0.318 0.819 0.614 -0.088 -0.112
Z1.2 0.554 0.373 0.799 0.550 -0.093 -0.102
Z1.3 0.495 0.328 0.694 0.553 -0.122 -0.169
Z1.5 0.548 0.323 0.753 0.595 -0.178 -0.190
GH * IF -0.293 -0.259 -0.156 -0.225 1.000 0.727 MO * IF -0.195 -0.217 -0.186 -0.176 0.727 1.000
77 Universitas Kristen Petra
Berdasarkan Tabel 4.19, diketahui bahwa semua indikator pada tiap-tiap variabel yang terbentuk memiliki nilai cross loading terbesar dibandingkan dengan variabel-variabel lain. Hal ini berarti variabel Gaya Hidup, Motivasi, Instagram Facility, dan Minat Beli dapat memprediksi indikator-indikator dalam bloknya lebih baik dibandingkan dengan indikator-indikator pada blok lainnya.
• Akar AVE dan Latent Variabel Correlation
Tabel 4.20. Hasil Analisis Nilai AVE dan Akar AVE
Variabel AVE Akar AVE
Gaya Hidup 0.551 0.742
Motivasi 0.573 0.757
Instagram Facility 0.529 0.727 Moderating Effect 1 1.000 1.000 Moderating Effect 2 1.000 1.000
Minat Beli 0.590 0.768
Tabel 4.21. Hasil Analisis Nilai Latent Variabel Correlation
GH IF MI MO Moderating
Effect 1
Moderating Effect 2
GH 0.742
IF 0.428 0.727
MI 0.729 0.436 0.768
MO 0.707 0.393 0.753 0.757
Moderating
Effect 1 -0.293 -0.259 -0.156 -0.225 1.000 Moderating
Effect 2 -0.195 -0.217 -0.186 -0.176 0.727 1.000
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.20 dan Tabel 4.21, dilihat dari angka yang tercetak tebal, nilai akar AVE telah memenuhi standar >0.5. Pada saat pengujian dengan membandingkan dengan korelasi antar variabel ditemukan bahwa akar
78 Universitas Kristen Petra
AVE gaya hidup, motivasi, dan minat beli lebih besar dari pada nilai korelasi konstruk lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa indikator telah mampu menjelaskan variabel latennya dengan baik. Oleh karena itu, dari kedua metode diatas, yaitu melihat cross loading dan membandingkan akar AVE dengan korelasi antar variabel, dapat disimpulkan bahwa semua variabel memiliki diskriminan validitas yang baik.
c. Composite Reliability
Composite Reliability digunakan untuk menguji nilai reliabilitas indikator-indikator pada sebuah variabel atau konstruk. Suatu konstruk dikatakan reliabel apabila nilai composite reliability > 0.7 dan cronbach’s alpha > 0.7. Berikut ditunjukan nilai composite reliability dan nilai cronbach’s alpha dari setiap variabel:
Tabel 4.22. Composite Reliability
Variabel Cronbach’s Alpha
Composite Reliability
Gaya Hidup 0.836 0.880
Motivasi 0.813 0.870
Instagram Facility 0.782 0.849 Moderating Effect 1 1.000 1.000 Moderating Effect 2 1.000 1.000
Minat Beli 0.766 0.851
Berdasarkan hasil dari Tabel 4.22, dapat dikatakan bahwa semua variabel dalam penelitian memiliki nilai lebih dari 0.7. Hal ini berarti bahwa variabel Gaya Hidup, Motivasi, Instagram Facility, dan Minat Beli telah memenuhi
79 Universitas Kristen Petra
kriteria composite reliability yang diharapkan, yaitu bersifat konsisten dan memiliki kemantapan dalam penggunaannya.
4.4.2 Evaluasi Goodness-of-Fit Inner Model (Model Struktural)
Evaluasi Inner Model dapat dilakukan dengan menggunakan Q-Square untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Selanjutnya dilakukan evaluasi menggunakan metode path coefficients (t-test).
a. R-Square
Nilai R-Square pada variabel minat beli adalah sebesar 0.671 (Gambar 4.1). Nilai ini berarti besarnya variabel minat beli dapat dijelaskan oleh variabel independen (Gaya Hidup, Minat Beli, dan Instagram Facility) sebesar 67.1%, dan sisanya yaitu sebesar 32.9% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak ikut diteliti. Hasil perhitungan R-Square memiliki arti Q-Square juga bernilai 0.671 dimana Q-square = R- (Q-Square > 0). Sehingga dapat dikatakan bahwa model ini memiliki nilai observasi dan prediksi ( predictive relevance).
b. Path Coefficients
Langkah selanjutnya untuk mengevaluasi model struktural yaitu dengan melihat nilai dari path coefficients. Hasil dari path coefficients akan menghasilkan nilai t-statistic. Hipotesa penelitian dapat dikatakan diterima apabila t-statistic > 1.96. Berikut hasil dari nilai path coefficients dan t- statistic:
80 Universitas Kristen Petra
Tabel 4.23. Hasil Path Coefficients dan T-statistic
Original Sample
(O)
Sample Mean (M)
Standard Deviation
(STDEV)
T Statistics (|O/STDEV|)
GH -> MI 0.392 0.409 0.083 4.751
IF -> MI 0.110 0.134 0.060 1.830
MO -> MI 0.451 0.420 0.099 4.547
Moderating
Effect 1 (GH) -> MI 0.166 0.144 0.127 1.300 Moderating Effect
2 (MO) -> MI -0.109 -0.085 0.107 1.019
Pada Tabel 4.23, Nilai t-statistic pengaruh Gaya Hidup terhadap Minat beli adalah sebesar 4.751 (>1.96) yang berarti Gaya Hidup memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Minat Beli. Nilai Original Sample (O) yang dihasilkan positif yang menunjukan bahwa semakin tinggi gaya hidup seseorang maka semakin tinggi seseorang tersebut memiliki minat beli terhadap tas mewah.
Selanjutnya pada baris ketiga terlihat adanya hubungan yang signifikan antara Motivasi dengan Minat Beli dengan nilai t-statistic 4.547 (>1.96). Nilai Original Sample (O) yang dihasilkan positif yang berarti ketika seseorang memiliki suatu motivasi yang tinggi, contohnya meningkatkan prestige, maka akan timbul minat beli yang tinggi terhadap produk yang akan memberikan prestige kepada penggunanya.
Hasil pada Tabel 4.23 memiliki arti bahwa Instagram Facility tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Minat Beli dengan nilai t-statistic kurang dari 1.96, yaitu 1.830. Nilai koefisien atau Original Sample (O) yang dihasilkan positif senilai 0.110. Selanjutnya, berdasarkan hasil perhitungan path coefficients, menunjukan bahwa nilai Moderating Effect 1 – MI 1.300 dengan Original Sample (O) senilai 0.166, dan nilai Moderating Effect 1 – MI 1.019 dengan Original Sample (O) senilai -0.109. Hal ini menunjukan bahwa Instagram Facility tidak berpengaruh signifikan memoderasi hubungan Gaya Hidup dengan Minat Beli, selain itu Instagram Facility juga tidak berpengaruh signifikan memoderasi hubungan Motivasi terhadap Minat Beli.
81 Universitas Kristen Petra
Berdasarkan hasil perhitungan path coefficient yang dijelaskan pada Tabel 4.24, berikut adalah rangkuman hasil hipotesis penelitian:
Tabel 4.24. Rangkuman Hasil Hipotesis Penelitian Hipotesis Variabel
Pertama Variabel
Kedua Variabel
Moderating Keterangan
H1 Gaya Hidup Minat Beli Terima
H2 Motivasi Minat Beli Terima
H3 Instagram
Facility Minat Beli Tolak
H4 Gaya Hidup Minat Beli Instagram
Facility
Tolak
H5 Motivasi Minat Beli Instagram
Facility
Tolak
4.5 Pembahasan
Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan teknik analisa data Partial Least Square dengan menggunakan SmartPLS, diketahui bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Gaya Hidup, Motivasi, dan Instagram Facility sebagai variabel independen terhadap Minat Beli sebagai variabel dependen. Selain itu pula, terdapat pengaruh yang positif dan tidak signifikan antara Gaya Hidup terhadap Minat Beli yang dimoderasi oleh Instagram Facility, serta pengaruh yang negatif dan tidak signifikan antara Motivasi terhadap Minat Beli yang dimoderasi oleh Instagram Facility.
a. Gaya Hidup (X1) ® Minat Beli (Z)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli produk tas mewah. Hal ini terbukti dari beberapa hasil pengujian yang telah dilakukan pada subab sebelumnya.
Pertama, rata-rata responden menjawab item kuisioner bagian variabel gaya hidup dengan nilai 3.726 yang berarti memiliki persepsi cenderung setuju.
82 Universitas Kristen Petra
Terlihat pada indikator X1.2.5 memiliki nilai rata-rata jawaban cenderung sangat setuju, yaitu sebesar 4.218. Hal ini membuktikan bahwa responden memiliki gaya hidup yang tercermin dalam kesenanganya menggunakan tas mewah baru. Kedua, pada analisa mean variabel minat beli, didapati nilai rata- rata keseluruhan sebesar 3.704 dimana menunjukkan tingkat kesetujuan responden terhadap minat beli tas mewah untuk memenuhi gaya hidup, mengikuti tren, memenuhi kebutuhan fashion, dan setuju apabila mencari informasi tas mewah di Instagram. Ketiga, nilai perhitungan t-statistic antara gaya hidup dan minat beli yang melebihi 1.96, yaitu 4.751 membuktikan adanya signifikansi yang tinggi. Semakin tinggi seseorang memiliki gaya hidup, maka semakin tinggi pula minatnya untuk membeli sebuah produk tas mewah. Keempat, apabila dihubungkan dengan karakteristik responden yang masuk kedalam kategori generasi millennial, gaya hidup sangat berpengaruh terhadap minat untuk membeli. Gaya hidup generasi yang tercermin dari kesenangannya terhadap barang mewah membuktikan adanya minat beli yang besar.
Analisa ini pula didukung penelitian sebelumnya oleh Cesare Amatulli dan Gianluigi Guido (2010), gaya hidup dapat mempengaruhi minat beli.
Penelitiannya mengenai hal-hal yang menentukan seseorang berbelanja barang mewah di Italia. Hasil penelitiannya menemukan bahwa salah satu faktor yang menjadi alasan timbulnya minat beli fashion mewah adalah gaya hidup sebagian masyarakat yang serba mewah (Amatulli & Guido, 2012). Semakin orang memiliki gaya hidup tertentu, maka semakin meningkat minatnya untuk membeli barang untuk mendukung gaya hidupnya (Tufail, et.al., 2018).
Dengan demikian hipotesis penelitian pertama mengenai “Gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap minat beli generasi millennial” dapat diterima.
b. Motivasi (X2) ® Minat Beli (Z)
Pada variabel motivasi dan minat beli juga memiliki nilai signifikansi yang cukup tinggi, yaitu dengan t-statistic sebesar 4.547. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang positif antara motivasi dan minat beli. Pada
83 Universitas Kristen Petra
pengujian disub bab sebelumnya, nilai mean atau rata-rata dari jawaban responden terhadap item kuisioner pada variabel motivasi adalah sebesar 3.885. Nilai ini menunjukkan responden cenderung setuju dan berarti responden memiliki motivasi baik secara hedonis maupun utilitarian terhadap pembelian produk tas mewah. Rata-rata tertinggi didapat dari indikator X2.2.3, yaitu sebesar 4.412 pada motif utilitarian. Hal ini menunjukkan bahwa responden cenderung sangat setuju apabila kepuasan terjadi ketika mendapat tas mewah baru. Jawaban responden tertinggi selanjutnya didapat dari indikator X2.1.1 pada motif hedonis yang mengatakan bahwa belanja merupakan hal yang menyenangkan. Dari hasil rata-rata ini dapat ditarik kesimpulan bahwa rasa senang dan rasa puas yang akan didapat merupakan sebuah motivasi bagi responden sehingga memiliki niat membeli produk tas mewah untuk mencapai apa yang menjadi motivasinya. Responden cenderung memikirkan apa yang hendak didapat dan dirasakan setelah melakukan pembelian. Selanjutnya, apabila dikaitkan dengan karakteristik responden yang merupakan generasi millennial, ketika generasi ini memiliki suatu motivasi tertentu ketika berbelanja barang mewah (dilihat dari sisi hedonis atau utilitarian), maka minat beli akan meningkat.
Analisa ini didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sarah Giovanini pada sebagian kecil masyarakat generasi millennial yang ada di Amerika. Penelitiannya menemukan adanya pengaruh self-motivation (motivasi) terhadap purchase intention (minat beli) barang mewah dimana seseorang termotivasi untuk membeli karena memiliki harga diri (self-esteem atau pride) yang tinggi (Giovanini & Thomas, 2015). Hal ini sesuai dengan indikator pada motif hedonis X2.1.2 yang menyatakan bahwa responden cenderung setuju apabila membeli tas mewah akan meningkatkan pride (harga diri). Selain itu, penelitian yang dilakukan Caesar Amatulli dan Gianluigi Guido (2010), membuahkan hasil bahwa adanya dorongan dalam diri (inner drives) dalam hal ini motivasi dapat membentuk sebuah minat beli untuk memuaskan dorongan yang ada didalam diri seseorang tersebut. Dengan demikian, hipotesis penelitian kedua, yaitu “Motivasi berpengaruh signifikan terhadap minat beli generasi millennial” dapat diterima.
84 Universitas Kristen Petra
c. Instagram Facility (Y) ® Minat Beli (Z)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang tidak signifikan antara Instagram Facility (fasilitas di Instagram) dengan minat beli.
Dapat diketahui melalui nilai t-statistic 1.830 (>1.96) yang berarti hubungan diantara keduanya kurang signifikan. Pertama, terlihat dari mean jawaban responden, nilai rata-rata untuk indikator Y.1.5 sebesar 3.339, yaitu mengenai fasilitas Instagram TV yang berarti sedang. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa diantara responden belum mengenal fasilitas terbaru dari Instagram sehingga belum merasakan keuntungan apabila mengaktifkan fasilitas Instagram TV.
Kedua, munculnya fenomena penjualan barang mewah palsu di Instagram dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Hal ini terbukti dari berita yang dilansir oleh nbcnews.com, Solon & Ingram (2019), bahwa banyaknya penjual tas mewah palsu membuat masyarakat resah. Penipuan ini memanfaatkan fasilitas media sosial yang ada seperti contohnya hashtag pada Instagram Facility untuk meyakinkan bahwa barang yang dijual adalah original. Dapat disimpulkan bahwa hashtag tidak menjadi faktor yang mempengaruhi minat beli. Ketiga, apabila dihubungkan dengan keuntungan media sosial dimana informasi secara cepat dan mudah didapat bisa menjadi penentu seseorang memiliki minat beli terhadap barang mewah. Konsumen semakin selektif terhadap apa yang mereka ketahui melalui informasi dan berita yang ada.
Keempat, apabila dikaitkan dengan karakteristik responden millennial, yaitu mudah terpengaruh. Ketika banyak bermunculan komentar, video, dan hashtag mengenai tas mewah palsu, maka akan terpengaruh untuk menomorduakan fasilitas Instagram sebagai media yang membantu memunculkan minat beli karena dirasa merugikan apabila mempercayainya.
Dengan demikian, dapat dikatakan hipotesis penelitian ketiga, yaitu
“Instagram Facility berpengaruh signifikan terhadap minat beli tas mewah pada generasi millennial” tidak dapat diterima.
85 Universitas Kristen Petra
d. Gaya Hidup (X1) ® Instagram Facility (Y) ® Minat Beli (Z)
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa Instagram Facility tidak memoderasi hubungan gaya hidup dengan minat beli. Nilai dari perhitungan t- statistic cukup rendah yaitu 1.300 (<1.96) yang berarti hubungan moderasi tidak signifikan. Hal ini dapat disebabkan hasil rata-rata jawaban responden ketika menjawab pernyataan “Berbelanja di IG sebagai hiburan” mendapat angka 3.230 dalam kategori sedang. Dapat disimpulkan tidak semua responden menggunakan fasilitas yang ada di Instagram untuk berbelanja dan tidak semua responden memiliki tingkat kegemaran yang sama dalam berbelanja. Seperti contoh, menggunakan fasilitas Instagram untuk sekedar menambah koneksi dan menambah ide-ide bisnis.
e. Motivasi (X2) ® Instagram Facility (Y) ® Minat Beli (Z)
Selain itu, ditemukan juga bahwa Instagram Facility tidak memoderasi hubungan motivasi dengan minat beli. Nilai perhitungan t-statistic, yaitu 1.019 (<1.96). Hampir sama dengan penjelasan pada poin d, bahwa responden memiliki sifat yang berbeda meskipun berada didalam satu generasi. Ketika seseorang memiliki motivasi dalam dirinya untuk mendapat produk dengan terencana, maka akan ada beberapa hal yang telah direncanakan salah satunya akun yang hendak ditarget untuk membeli. Oleh karena itu, fasilitas Instagram tidak meningkatkan atau menambah motivasinya untuk memiliki minat beli karena telah direncakan sebelumnya.
Alasan yang dapat terjadi untuk penolakan hipotesa keempat dan kelima adalah penjelasan poin c sebelumnya, bahwa dewasa ini, kriminalitas tidak hanya timbul di dunia nyata saja melainkan dunia maya. Banyak kejadian yang secara tidak langsung membuat masyarakat mempertimbangkan minatnya untuk membeli produk terutama produk dengan harga yang tinggi di media sosial (Instagram). Seperti akun bodong, yaitu penjual palsu yang menipu uang konsumen (cnnindonesia-Taylor, 2018). Dalam konteks hasil penelitian antara gaya hidup dan minat beli yang dimoderasi Instagram
86 Universitas Kristen Petra
Facility, konsumen tidak lagi mempertimbangkan keuntungan adanya Instagram Facility sebagai media penolong yang mendorong minat belinya, melainkan ada faktor lain yang dipertimbangkan misalnya rekomendasi dari kerabat atau orang lain.
Selain itu, apabila dibandingkan dengan media sosial lainnya seperti Facebook sebenarnya hampir sama dimana penipuan juga sering terjadi di Facebook. Facebook adalah media untuk bersosialisasi dimana seseorang dapat membagikan dan mengolah foto serta konten, memberi tanda suka dan komentar, dan dapat berkomunikasi melalui fasilitas messanger. Tidak sedikit pula orang yang memanfaatkan Facebook sebagai media untuk menambah pendapatan. Perbedaannya adalah Facebook memiliki website atau situs resmi dalam bahasa Indonesia yang memberikan banyak masukan dan saran apabila pengguna mengalami penipuan pembeli dapat lebih berhati-hati, berbeda dengan Instagram yang tidak secara resmi mempublikasi informasi mengenai penanganan kasus akun palsu sehingga (id.id.facebook.com). Selain itu, dalam hubungannya dengan perannya sebagai pemoderasi, bisa jadi fasilitas yang digunakan di Facebook tidak memoderasi hubungan gaya hidup atau motivasi ke minat beli karena menurut Mark Zukerberk (CEO Facebook), penjualan barang mewah jarang dilakukan di Facebook dan target market adalah non- millennials (entrepreneur.com).
Dengan demikian, dapat dikatakan hipotesis penelitian keempat dan kelima, yaitu “Instagram Facility secara signifikan memoderasi hubungan antara gaya hidup terhadap minat beli tas mewah pada generasil millennial”
dan “Instagram Facility secara signifikan memoderasi hubungan antara motivasi terhadap minat beli tas mewah pada generasil millennial” tidak dapat diterima.