• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Tinjauan kasus

V. Harapan keluarga

3.6 Evaluasi

3. Minggu, 14 maret 2021

Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskelet al

S:

P : klien mengatakan sakit pada lutut kanan dan jari dikaki kanan berkurang sedikit Q : nyeri terasa cekot-cekot R : nyeri di lutut kanan danjari kaki kanan

T : saat berjalan dan bangun tidur

O:

1. TTV :

TD : 120/70 mmhg Nadi : 89 x/menit RR :20 x/menit

S : 36,8ºC 2. Grimice (-) 3. Klien berjalan

menggunakan walker 4. Klien merasa cemas saat

menggerakan kaki nya.

5. Skala nyeri 2 6. K/U composmentis A : masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi 1,2 4. Minggu

14 maret 2021

Nyeri kronis b.d Kondisi musculoskeleta l kronis

S:

P: klien mengatakan masih nyeri pada lutut dan jari tangannya berkurang

Q: nyeri terasa cekot-cekot dan terbakar R: nyeri di lutut dan jari tangan

T: jarang O:

1. TTV:

TD: 110/80 mmHg Nadi : 80x/menit RR: 20x/menit S :36,6°C 5. Tidur nyenyak 6. skala nyeri 2

7. tidak ada gangguan aktivitas 8. Ekspresi wajah biasa

A: Masalah nyeri kronis teratasi sebagian P: Hentikan Intervensi

5. Senin 15 maret

2021

Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskelet al

S:

P : klien mengatakan sakit pada lutut kanan dan jari dikaki kanan berkurang

Q : nyeri terasa cekot-cekot R : nyeri di lutut kanan dan

jari kaki kanan

T : saat berjalan dan bangun tidur

O:

1. TTV :

TD : 120/70 mmhg Nadi : 89 x/menit RR :20 x/menit

S : 36,8ºC 2. Grimice (-) 3. Klien berjalan

menggunakan walker 4. Klien tidak cemas saat

menggerakan kaki nya.

• Skala nyeri 2 K/U composmentis

BAB IV

PEMBAHASAN

dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis atritis rematid di desa kemantrenrejo yang meliputi pengkajian.intervensi,implementasi dan evaluasi.

4.1 Pengkajian 4.1.1 Identitas

Pada konsep penyakit menurut Situmorang, 2017 Penelitian dari Mayo Clinic yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan antara 1995-2005, wanita penderita Artritis Reumatoid mencapai 54.000 dari 100.000 orang, sedangkan pria hanya 29.000 dari 100.000 orang. Dan menurut Depkes 2013, Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan memiliki resiko tinggi untuk menderita RA. Pada studi kasus dijabarkan bahwa, klien adalah Ny. E berusia 45 tahun. Dalam studi kasus dan konsep penyakit, tidak ada kesenjangan pada jenis kelamin karena wanita lebih banyak menderita Artritis Reumatoid dari pada laki-laki. Sedangkan untuk usia terdapat kesenjangan antara konsep dengan studi kasus, dikarenakan klien masih berusia 45 tahun sedangkan pada konsep penyakit usia 60 tahun memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita Artritis Reumatoid.

i. riwayat Kesehatan 1. Keluhan Utama

77

Pada konsep penyakit, pengkajian kesehatan untuk menentukan masalah dengan struktur atau fungsi muskuloskeletal dapat dilakukan selama skrining kesehatan, dapat fokus pada keluhan utama seperti pada nyeri sendi atau dapat menjadi bagian pengkajian kegiatan total. Sedangkan pada studi kasus klien mengeluh nyeri pada lutut dan jari kaki dengan skala nyeri 5 dan memiliki gangguan saat melakukan aktivitas. Untuk keluhan utama tidak terdapat kesenjangan karena nyeri pada pasien rematik disebabkan oleh system imun yang menyerang sendi dan menyebabkan respon peradangan.

2. Riwayat Kesehatan Keluarga

Pada konsep masalah menurut Mansjoer2011,Genetik merupakan faktor keturunan yang terdapat (HLA) atau antigen limfosit manusia yang tinggi. (HLA) terdapat rematik yang menunjukan adanya hubungan aloagen sel B yang lebih dikenal anti bodi monoklonal dengan status rematik atau rentan terkena rematik yang dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik. Sedangkan pada studi kasus, klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit rematik.

Pada pengkajian ini terdapat kesenjangan karena tidak adanya pengaruh genetik pada klien, hal tersebut terjadi karena klien tidak mengetahui ibunya meninggal karena stroke dan ayah nya tengah menderita hipoglikemi.

3. Perilaku yang Mempengaruhi Kesehatan

Pada konsep masalah menurut Putri2012, mengurangi makanan dapat mempengaruhi kekambuhan Penyakit rematik seperti, produk kacang-kacangan seperti susu kacang, kacang buncis, organ dalam hewan seperti; usus, hati, limpa, paru, otak, dan jantung, makanan kaleng seperti, sarden, kornet sapi, makanan yang dimasak menggunakan santan kelapa, beberapa jenis buah-buahan seperti durian, air kelapa muda, minuman seperti alkohol dan sayur seperti kangkung dan bayam. Pada studi kasus, klien mengatakan kebiasaan memakan jeroan dan makanan bersantan serta sayur kangkung dan bayam. Pada pengkajian ini tidak terdapat kesenjangan karena Pola makan yang salah menjadi salah satu pencetus terjadinya kekambuhan pasien rematik.

Pada konsep masalah menurut syam, 2012 alasan mengapa mandi malam dilarang tetapi semata-mata bukan karena mandi malam. Karena air dan udara yang dingin memicu pengaruh terhadap kapsul sendi sehingga membuat persendian semakin nyeri. Itulah alasannya sehingga malam tidak di anjurkan mandi air dingin tetapi yang dianjurkan adalah air hangat.Pada studi kasus klien mengatakan ttidak pernah mandi malam dengan air dingin. Pada kasus ini terdapat kesenjangan karena rematik pada klien bukan disebabkan oleh mandi malam dengan air dingin.

4. Pemeriksaan Fisik

1) Aktivitas Istirahat

Pada konsep masalah menurut Andaniar, 2010Rematik sering terjadi pada orang mempunyai aktivitas yang berlebihan. Pada studi kasus klien melakukan aktivitas yang cukup berat seperti mengangkat cucian basah, mencuci piring dengan berdiri, dll yang dilakukan setiap hari. Pada pengkajian ini tidak terdapat kesenjangan karena aktivitas klien memang cukup berat.

2) Makanan/minuman

Pada konsep masalah menurut Putri 2012, mengurangi makanan dapat mempengaruhi kekambuhan Penyakit rematik seperti, produk kacang-kacangan seperti susu kacang, kacang buncis, organ dalam hewan seperti; usus, hati, limpa, paru, otak, dan jantung, makanan kaleng seperti, sarden, kornet sapi, makanan yang dimasak menggunakan santan kelapa, beberapa jenis buah-buahan seperti durian, air kelapa muda, minuman seperti alkohol dan sayur seperti kangkung dan bayam. Pada studi kasus, klien mengatakan kebiasaan memakan buah durian dan makanan bersantan serta sayur kangkung dan bayam. Pada pengkajian ini tidak terdapat kesenjangan karena Pola makan yang salah menjadi salah satu pencetus terjadinya kekambuhan pasien rematik.

3) Neurosensori

Pada konsep masalah, kekakuan pada sendi sering dikeluhkan ketika pagi hari ketika setelah duduk yang terlalu lama atau setelah bangun pagi. Pada studi kasus, klien mengeluh kaku pada sendi Ketika terlalu lama duduk.

Pada pengkajian ini tidak terjadi kesenjangan dikarenakan klien juga mengalami hal serupa.

4) Nyeri/ketidaknyamanan

Pada konsep masalah, Nyeri terjadi ketika melakukan aktifitas berat. Pada studi kasus klien mengatakan nyeri saat berjalan. Dari hasil tersebut maka tidak ada kesenjangan.

b. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian perawat, penulis mengambil 2 diagnosa yaitu, Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskeletal dan Nyeri akut berhubungan dengan gangguann musculoskeletsal. Karena dari hasil pengkajian pada klien, penulis menemukan data yang mengarah pada 2 diagnosa tersebut.

Diagnosa 1 ditegakan dengan pasien berjalan dengan pincang dan membutuhkan pegangan untuk berjalan, dan diagnosa ke 2 ditegakan dengan wajah pasien yang tampak meringis setiap berjalan.

i. Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskeletal

Masalah keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan data objektif dimana data subjektif, klien mengatakan nyeri pada lutut dan jari-jari kaki saat bergerak yang menyebabkan kecemasan untuk bergerak, nyeri terasa cekot-cekot, nyeri muncul tiba-tiba saat beraktivitas, nyeri yang dirasakan

hilang timbul dengan skala nyeri 5 dan aktivitas terganggu. Data objektif, klien tampak meringis, tekanan darah : 120/ 70 mmHg, suhu : 36,8°C, nadi : 80x/menit, dan RR : 20x/menit.

Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri ((PPNI, T. P. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)).

Penulis memilih ganguuan mobilitas menjadi diagnosa keperawatan dengan high priority (prioritas pertama) yang harus diselesaikan dikarenakan pada tahap skoring prioritas masalah gangguan mobilitas memiliki nilai 5 lebih tinggi daripada nyeri akut dengan nilai 4.

ii. Nyeri kronis b.d kondisi musculoskeletal kronis

Masalah keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan data objektif dimana data subjektif, klien mengatakan nyeri pada lutut dan jari-jari tangan, nyeri terasa terbakar dan cekot-cekot, nyeri muncul pada pagi hari saat banun tidur, nyeri yang dirasakan hilang timbul dengan skala nyeri 5, dan aktivitas terganggu. Data objektif, klien tampak meringis, tekanan darah : 120/ 80 mmHg, suhu : 36,5°C, nadi : 80x/menit, dan RR : 20x/menit.

c. Intervensi Keperawatan

Menurut UU Keperawatan No. 38 tahun 2014 perencanaan merupakan semua tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang diberikan pada klien. Adapun intervensi yang rumuskan sesuai dengan SIKI PPNI, 2018 yaitu sebagai berikut :

4.3.1 Diagnosa 1 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan musculoskeletal yaitu dengan dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan keluarga mampu mengenal masalah kesehatan klien melalui rencana asuhan keperawatan meliputi : 1).

Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, 2). Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan, 3).jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, 4). Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (latihan pemanasan kecil dipagi hari).Semua intervensi tersebut telah penulis lakukan pada saat kunjungan rumah Ny.E.

Pada intervensi tidak ada kesenjangan, karena rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan tinjauan pustaka berdasarkan SIKI PPNI, 2018.

Diagnosa 2 : nyeri akut berhubungan dengan gangguan muscukuloskeletal yaitu Setelah dilakukan intervensi selama 24 jam, maka tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil meliputi : 1.) Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat 2.)keluhan nyeri menurun 3.) Meringis menurun 4.) Sikap protektif menurun 5.) Gelisah menurun 6.)Kesulitan tidur menurun7.)Berfokus pada diri sendiri menurun8.) Perasaan depresi (tertekan) menurun 9.)Perasaan takut mengalami cedera berulang menurun 10.)Anoreksia menurun 11.) Frekuensi nadi membaik 12.)Pola nafas membaik 13.) Fokus membaik 14.) Pola tidur membaik.

Pada intervensi tidak terdapat kesenjangan, karena rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan tinjauan pustaka berdasarkan SIKI PPNI, 2018.

d. Implementasi

Pada pelaksanaan tindakan keperawatan telah dilaksanakan dengan rencana yang telah di tetapkan oleh penulis. Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskeletal dibutuhkan pelaksanaan selama 3 hari. Pada diagnosa defisit pengetahuan tentang rhematoid atritis b.d kurang terpapar informasi dibutuhkan pelaksanaan selam 2 hari.

Pada pelaksanaan tindakan keperawatan tidak ditemukan hambatan dikarenakan klien dan keluarga kooperatif dengan perawat, sehingga rencana tindakan dapat dilakukan.

e. Evaluasi

Pada tinjauan kasus evaluasi dapat dilakukan karena dapat diketahui keadaan klien dan masalahnya secara langsung. Pada tinjauan kasus pada waktu dilakukan evaluasi tentang gangguan mobilisasi b.d gangguan muskuloskeletsak 2x24 jam karena tindakan yang tepat klien juga melakukan apa yang di ajarkan oleh penulis untuk mengatasi nyeri dan berhasil dilaksanakan dan tujuan serta kriteria hasil telah tercapai.

Pada akhir evaluasi semua tujuan dan kriteria hasil dapat dicapai sebagian karena adanya kerjasama yang baik antara keluarga klien dan klien. Hasil evaluasi pada Ny.K sudah sesuai dengan harapan masalah teratasi sebagian.

BAB V

Dokumen terkait