dampak imobilitas karena selama proses imobilitas seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri, kecemasan, dan lain – lain.
Menurut Tarwoto (2011) pasien dengan gangguan mobilisasi akan mengalami defisit perawatan diri yang ditandai dengan gangguan neuromuskular, menurunnya kekuatan otot, menurunnya kontrol otot dan koordinasi serta gangguan fisik
b. PosisiSim
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri. Posisi ini dilakukan untuk memberi kenyamanan dan memberikan obat per anus (supositoria).
Cara :
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke kiri dengan posisi badan setengah telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk kearah kedada.
c) Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan diatas tempattidur.
d) Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan setengah telungkup dan kaki kanan lurus, lutut dan paha kiri ditekuk diarahkan kedada.
e) Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kiri diatas tempattidur.
c. PosisiTrendelenburg
Pada posisi ini pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.
Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Pasien dalam keadaan berbaring telentang, letakkan bantal diantara kepala
dan ujung tempat tidur pasien, dan berikan bantal di bawah lipatanlutut.
c) Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat tidur atau atur tempat tidur khusus dengan meninggalkan bagian kakipasien.
d. Posisi DorsalRecumbent
Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan) di atas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa genitalia serta pada proses persalinan. Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Pasien dalam keadaan berbaring telentang, pakai bawahdibuka.
c) Tekuk lutut, renggangkan paha, telapak kaki menghadap ke tempat tidur, dan renggangkan keduakaki
d) Pasangselimut e. PosisiLithotomi
Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi.
Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Pasien dalam keadaan berbaring, telentang, kemudian angkat kedua pahanya dan tarik ke arahperut.
c) Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadappaha
d) Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomi
e) Pasangselimut f. Posisi GenuPectoral
Pada posisi ini pasien menungging dengan kedua kki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan sigmoid.
Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Anjurkan pasien untuk posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada kasur tempattidur.
c) Pasang selimut padapasien 2) Latihan ROM Pasif danAktif
Pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena penyakit, diabilitas, atau trauma memerlukan latihan sendi untuk mengurangi bahaya imobilitas.
Menurut Junaidi (2011) setelah keadaan pasien membaik dan kondisinya telah stabil baru diperbolehkan dilakukannya mobilisasi.
Latihan berikut dilakukan untuk memelihara dan mempertahankan kekuatan otot serta memelihara mobilitas persendian.
a. Fleksi dan Ekstensi Pergelangan Tangan Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Atur posisi lengan pasin dengan menjauhi sisi tubuh dan siku menekuk denganlengan
c) Pegang tangan pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang
pergelangan tanganpasien
d) Tekuk tangan pasien ke depan sejauhmungkin e) Catat perubahan yang terjadi
b. Fleksi dan Ekstensi Siku Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dengan telapak mengrah ketubuhnya
c) Letakkan tangan diatas siku pasien dan pegang tangannya degan tanganlainnya
d) Tekuk siku pasien sehingga tangannya mendekatbahu e) Lakukan dan kembalikan ke posisisebelumnya
f) Catat perubahan yang terjadi
c. Pronasi dan Supinasi Lengan Bawah Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Atur posisi lengan bawah menjauhi tubuh pasien dan pegang tangan pasien dengan tanganlainnya.
c) Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya
d) Putar lengan bawah pasien sehingga telapaknyamenjauhinya e) Kembalikan ke posisisemula.
f) Putar lengan bawah pasien sehingga telapak tangannya menghadap kearahnya.
g) Kembalikan ke posisisemula h) Catat perubahan yang terjadi d. Pronasi Fleksi Bahu Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan b) Atur posisi tangan pasien di sisitubuhnya
c) Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan pasien dengan tanganlainnya
d) Angkat lengan pasien pada posisisemula e) Catat perubahan yang terjadi
e. Abduksi dan Adduksi Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Atur posisi lengan pasien disampingbadannya
c) Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan pasien dengan tanganlainnya
d) Gerakan lengan pasien menjauh dari tubuhnya ke arahperawat e) Kembalikan ke posisisemula
f) Catat perubahan yang terjadi f. Rotasi Bahu Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Atur posisi lengan pasien menjauhi tubuh dengan sikumenekuk
a) Letakkan satu tangan perawat di lengan ats pasien dekat siku dan pegang tangan pasien dengan tangan yanglain
b) Gerakkan lengan bawah ke bawah sampai menyentuh tempat tidur, telapak tangan menghadap kebawah
c) Kembalikan ke posisisemula
d) Gerakkan lengan bawah ke belakang sampai menyentuh tempat tidur, telapak tangan menghadap keatas
e) Kembalikan lengan ke posisisemula f) Catat perubahan yang terjadi
g. Fleksi dan Ekstensi Jari – jari Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Pegang jari-jari kaki pasien dengan satu tangan sementara tangan lain memegangkaki
c) Bengkokkan (tekuk) jari-jari kaki kebawah d) Luruskan jari-jari kemudian dorongkebelakang e) Kembalikan ke posisisemula
f) Catat perubahan yang teradi h. Infersi dan Efersi Kaki Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Pegang separuh bagian atas kaki pasien dengan satu jari dan pegang pergelangan kaki dengn tangansatunya
c) Putar kaki ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki lainnya d) Kembalikan ke posisisemula
e) Putar kaki keluar sehingga bagian telapak kaki menjauhi kaki yang lain f) Kembalikan ke posisisemula
g) Catat perubahan yang terjadi
i. Fleksi dan Ekstensi Pergelangan Kaki Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Letakkan satu tangan perawat pada telapak kaki pasien dan satu tangan yang lain diatas pergelangan kaki. Jaga kaki lurus dan rileks
c) Tekuk pergelangan kaki, arahkan jari – jari kaki ke arahdada pasien d) Kembalikan ke posisisemula
e) Tekuk pergelangan kaki menjauh dadapasien f) Catat perubahan yang terjadi
j. Fleksi dan Ekstensi Lutut Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Letakkan atu tangan di bawah lutut pasien dan pegang tumit pasien dengan tangan yang lain
c) Angkat kaki, tekuk pada lutut dan pangkalpaha
d) Lanjutkan menekuk lutut ke arah dada sejauhmungkin
e) Ke bawahkan kaki dan luruskan lutut dengan mengangkat kaki ke atas f) Kembalikan ke posisisemula
g) Catat perubahan yang terjadi
k. Rotasi Pangkal Paha Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan kaki dan satu tangan yang lain di atas lutut
c) Putar kaki menjauhiperawat d) Putar kaki ke arahperawat e) Kembalikan ke posisisemula f) Catat perubahan yang terjadi
3) Abduksi dan Adduksi Pangkal Paha Cara:
a) Jelaskan prosedur yang akandilakukan
b) Letakkan satu tangan perawat di bawah lutut pasien dan satu tangan padatumit
c) Jaga posisi kaki pasien lurus, angkat kaki kurang lebih 8 cm dari tempat tidur, gerakkan kaki menjauhi badanpasien
d) Gerakkan kaki mendekati badanpasien e) Kembalikan ke posisisemula
f) Catat perubahan yang terjadi 4) LatihanAmbulasi
5) Duduk diatas tempat tidur Prosedur kerja:
a) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan kepada
pasien
b) Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping badannya dengan telapak tangan menghadapkebawah
c) Berdirilah disamping tempat tidur dan letakkan tangan pada bahu pasien d) Bantu pasien untuk duduk dan beri penompang ataubantal
6) Turun dari tempat tidur, berdiri, kemudian duduk dikursi roda Prosedur kerja:
a) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan kepada pasien
b) Pasang kunci kursiroda
c) Berdirilah menghadap pasien dengan kadua kakimerenggang d) Tekuk sedikit lutut dan pingganganda
e) Anjurkan pasien untuk meletakkan kedua tangannya dibahuanda f) Letakkan kedua tangan anda disamping kanan dan kiri pinggang pasien g) Ketika kaki pasien menapak dilantai, tahan lutut anda pada lutut pasien h) Bantu pasien duduk dikursi roda dan atur posisi agarnyaman
7) Membantu berjalan Prosedur kerja:
a) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan kepada pasien
b) Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping badan atau memegang telapak tangananda
c) Berdiri disamping pasien dan pegang telapak tangan dan lengan bahupasien
2.3 konsep Asuhan keperawatan keluarga dengan rheumatoid atritis 2.3.1 Pengkajian
Menurut Pricilla, 2016 Pangkajian keperawatan pada pasien Artritis Reumatoid sebagai berikut:
1) Identitas Klien
Jenis kelamin: Penelitian dari Mayo Clinic yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan antara 1995-2005, wanita penderita Artritis Reumatoid mencapai 54.000 -100.000 orang, sedangkan pria hanya 29.000 dari 100.000 orang (Situmorang, 2017).
Umur : seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan memiliki resiko tinggi untuk menderita RA (Depkes 2013).
2) Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama : pengkajian kesehatan untuk menentukan masalah dengan struktur atau fungsi muskuloskeletal dapat dilakukan selama skrining kesehatan, dapat fokus pada keluhan utama seperti pada nyeri sendi atau dapat menjadi bagian pengkajian kegiatan total. Jika pasien memiliki masalah dengan struktur atau fungsi muskuloskeletal analisa dan tanya, karakteristik, rangkaian, keparahan, faktor yang memprediksi titrasi dan meredakan, dan semua gejala terkait, catat waktu dan kejadian.
Riwayat Kesehatan Keluarga : Menurut (Mansjoer, 2011) Genetik merupakan faktor keturunan yang terdapat (HLA) atau antigen limfosit manusia yang tinggi.
(HLA) terdapat rematik yang menunjukan adanya hubungan aloagen sel B yang lebih dikenal anti bodi monoklonal dengan status rematik atau rentan terkena rematik yang dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik.
3) Pola Makan dan Minum
Pola makan yang salah menjadi salah satu pencetus terjadinya kekambuhan. Di mana pola makan yang sehat sebaiknya dimulai dengan mengadakan perubahan- perubahan kecil pada makanan yang kita pilih, juga mengurangi makanan dapat mempengaruhi kekambuhan Penyakit rematik seperti, produk kacang-kacangan seperti susu kacang, kacang buncis, organ dalam hewan seperti; usus, hati, limpa, paru, otak, dan jantung, makanan kaleng seperti, sarden, kornet sapi, makanan yang dimasak menggunakan santan kelapa, beberapa jenis buah-buahan seperti durian, air kelapa muda, minuman seperti alkohol dan sayur seperti kangkung dan bayam (Putri, 2012).
4) Kebersihan Diri
Penyebab salah satunya yang sering terjadi rematik inilah alasan mengapa mandi malam dilarang tetapi semata-mata bukan karena mandi malam. Karena air dan udara yang dingin memicu pengaruh terhadap kapsul sendi sehingga membuat persendian semakin nyeri. Itulah alasannya sehingga malam tidak di anjurkan mandi air dingin tetapi yang dianjurkan adalah air hangat (Syam S, 2012).
5) Pola kegiatan/Aktivitas Sehari-hari
Rematik sering terjadi pada orang mempunyai aktivitas yang berlebihan dan melakukan pekerjaan yang banyak dalam jangka waktu yang lama dengan posisi jalan maupun berdiri dengan rentan yang lama karena terjadi penekanan yang berlebihan pada sendi lutut, semakin berat aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam kegiatan sehari-hari sering dapat mengakibatkan kekambuhan rematik pada saat lansia (Andaniar, 2010).
6) Pengkajian Musculoskeletal
Pengkajian keperawatan sistem muskuloskeletal dapat dilakukan sebagai bagian pengkajian total atau sendiri untuk pasien yang diketahui atau dicurigai mengalami makalah teknik yang digunakan untuk mengkaji sistem muskuloskeletal adalah inspeksi palpasi dan pengukuran massa otot dan rentang gerak sendi (ROM).
Sebelum pengkajian, kumpulkan semua peralatan dan jelaskan teknik untuk menurunkan ansietas pasien:
Kaji sendi untuk pembengkakan, nyeri, kemerahan, hangat, crepitus, dan ROM.
Hanya kaji ROM pada setiap sendi jika pasien memiliki masalah muskuloskeletal;
akan tetapi, mengkaji satu sendi atau lebih merupakan bagian umum asuhan keperawatan. Berikut ini pengkajian pada pasien artritis rheumatoid:
1. Pengkajian gaya berjalan dan postur tubuh
Inspeksi postur tubuh dan gaya berjalan. Postur tubuh harus tegak; gaya berjalan harus halus dan mantap.
2. Pengkajian sendi
Inspeksi sendi mengenai adanya deformitas, pembengkakan, dan kemerahan.
3. Pengkajian rentang gerak sendi
Kaji ROM sendi dengan meminta pasien untuk melakukan aktivitas spesifik untuk setiap sendi, seperti berikut ini:
Jari:
Fleksi: "membuat kepalan tangan".
Ekstensi: "membuka tangan anda".
Abduksi: "Buka jari Anda".
Adduksi: "Rapatkan jari Anda".
Siku:
Fleksi 160 derajat: "Sentuh tangan hingga bahu Anda".
Ekstensi 180 derajat: "luruskan siku Anda"
Supinasi 90 derajat: "tekuk siku Anda 90 derajat, dan putar telapak tangan ke atas".
Pronasi 90 derajat: "tekuk siku Anda 90 derajat dan turunkan kepalan tangan ke bawah".
Pergelangan kaki:
Dorsi fleksi 20 derajat: "Arahkan kaki anda ke langit-langit".
Plantar fleksi 45 derajat: "arahkan kaki anda ke lantai".
Inversi 30 derajat: "berjalan pada sisi luar kaki anda".
Evensi 20 derajat: "berjalan pada sisi dalam kaki anda
2.4.3 Analisa Data
Analisa data merupakan kemampuan konitif dalam pengembangan gaya berfikir dan penalaran yang dipergaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman, dan pengertian keperawatan. Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. Dalam melakukan Analisa data, diperlukan kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah Kesehatan dan keperawatan klien.
2.4.4 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul 1. Nyeri kronis b.d Kondisi musculoskeletal kronis
Definisi: Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat dan konsisten, yang berlangsung lebih dari 3 bulan.
Gejala dan tanda mayor : Subjektif
1. Mengeluh nyeri
2. Merasa depresi atau tertekan Objektif
1. Tampak 2. meringis
3. gelisah tidak mampu menuntaskan aktivitas Gejala dan tanda minor
Subjektif
1. Merasa takut mengalami cedera berulang Objektif
1. bersikap protektif (misal posisi menghindari nyeri) 2. Waspada
3. pola tidur berubah 4. anoreksia
5. Fokus menyempit
6. berfokus pada diri sendiri
2.4.4.1 Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskeletal
Definisi : Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri.
Gejala dan tanda mayor Subjektif
1. Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas Objektif
1. Kekuatan otot menurun
2. Rentang gerak atau ROM menurun Gejala dan tanda minor
Subjektif
1. Nyeri saat bergerak
2. Enggan melakukan pergerakan
3. Merasa cemas saat bergerak Objektif
1. Sendi kaku
2. Gerakan tidak terkoordinasi 3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah
2.4.4.2 Defisit Pengetahuan tentang artritis rheumatoid b.d Kurang terpapar informasi
Definisi: Ketiadaan atau kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu.
gejala dan tanda mayor Subjektif
1. Menanyakan masalah yang dihadapi objektif
1. menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran
2. Menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah gejala dan tanda minor
Subjektif (Tidak tersedia) objektif
1. menjalani pemeriksaan yang tidak tepat
2. menunjukkan perilaku berlebihan (misal apatis, bermusuhan, agitasi histeria)
52 2.4.5 Intervensi Keperawatan
Tabel.2.4.5 Intervensi keperawata
NO. SDKI SLKI SIKI
DIAGNOSA KEPERAWATAN
LUARAN INTERVENSI
1. Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan musculoskeletal
Luaran Utama Mobilitas fisik
Setelah dilakukan intervensi selama 48 jam, maka tingkat mobilitas fisik meningkat dengan kriteria hasil:
1. Pergerakan ekstremitas meningkat 2. Kekuatan otot meningkat
3. Rentang gerak (ROM) meningkat 4. nyeri menurun
5. kecemasan menurun 6. Kaku sendi menurun
7. Gerakan tidak terkoordinasi menurun 8. Gerakan terbatas menurun
9. kelemahan fisik menurun
Intervensi Utama Dukungan ambulasi Observasi
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya - Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi - monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum
memulai ambulasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi Terapeutik
- Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu (mis. tongkat, kruk)
- Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi
Edukasi
- Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi - Anjurkan melakukan ambulasi dini
- ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan (mis.
berjalan dari tempat tidur ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi, berjalan sesuai toleransi)
53 Observasi
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya - Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan - Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum
memulai mobilisasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi Terapeutik
- fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (misal pagar tempat tidur)
- Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan
Edukasi
- Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi - Anjurkan melakukan mobilisasi dini
Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (misal duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi)
1. Nyeri kronis b.d Kondisi musculoskeletal kronis
Luaran Utama 1. Tingkat nyeri
Setelah dilakukan intervensi selama 24 jam, maka tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil:
a) Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat
b) keluhan nyeri menurun c) Meringis menurun d) Sikap protektif menurun e) Gelisah menurun f) Kesulitan tidur menurun
g) Berfokus pada diri sendiri menurun h) Perasaan depresi (tertekan) menurun i) Perasaan takut mengalami cedera
berulang menurun j) Anoreksia menurun
Intervensi utama Manajemen nyeri Observasi
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi respons nyeri non verbal
- Identifikasi faktor yang memberatkan dan memperingan nyeri - Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri - Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan - Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
- Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat atau dingin, terapi bermain)
54 k) Frekuensi nadi membaik
l) Pola nafas membaik m) Fokus membaik n) Pola tidur membaik
- Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
- Fasilitasi istirahat dan tidur
- pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri - Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri - Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
- Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu - Perawatan kenyamanan
Observasi
- Identifikasi gejala yang tidak menyenangkan (mis. Mual, nyeri, gatal, sesak)
- Identifikasi pemahaman tentang kondisi, situasi dan perasaannya - Identifikasi masalah emosional dan spiritual
Terapeutik
- Berikan posisi yang nyaman
- Berikan kompres dingin atau hangat - Ciptakan lingkungan yang nyaman - Berikan pemijatan
- Berikan terapi akupresur - Berikan terapi hypnosis
- Dukungan keluarga dan pengasuh terlibat dalam terapi atau pengobatan
- Diskusikan mengenai situasi dan pilihan terapi atau pengobatan yang diinginkan
Edukasi
- Jelaskan mengenai kondisi dan pilihan terapi atau pengobatan - Ajarkan terapi relaksasi
- Ajarkan latihan pernafasan
- Ajarkan teknik distraksi dan imajinasi terbimbing Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgesik, antipruritus, antihistamin, jika perlu
Terapi relaksasi Observasi
- Identifikasi penurunan tingkat nyeri, ketidakmampuan
55 berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan
kognitif
- Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan - Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan penggunaan teknik
sebelumnya
- Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah dan suhu sebelum dan sesudah Latihan
- Monitor respons terhadap terapi relaksasi Terapeutik
- Menciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan - Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik
relaksasi
- Gunakan pakaian longgar
- Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama - Menggunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan
analgetik atau tindakan medis lain, jika sesuai Edukasi
- jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (,mis. Musik, meditasi, nafas dalam, relaksasi otot progresif)
- Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih - Anjurkan mengambil posisi nyaman
- Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
- Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih - Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis. Napas dalam,
peregangan, atau imajinasi terbimbing)
2.4.6 Implementasi Keperawatan
Menurut Mubarak (2012), tahapan dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan perbaikan kearah perilaku hidup sehat.
Pelaksana adalah inisiatif dari rencana tindakan yang spesifik untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan (Nursalam,2014).
2.4.7 Evaluasi Keperawatan
Sesuai dengan rencana tindakan yang diberikan, tahap penilaian yang dilakukan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak belum berhasil maka perlu disusun rencana baru yang sesuai (Mubarak,2012).
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan keluarga dengan Rheumatoid Arthritis adalah :
1. Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit Rematik.
2. Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan penyakit Rematik.
3. Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita Rematik.
4. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan pencegahn
3.4.8 Kerangka masalah
Gambar 2.1Pathway artritis reumatoid(suarjana,2009) Inflamasi non-bakterialdisebabkanolehinfeksi,
endokrin, autoimun, metabolic, danfaktor genetic, sertafaktorlingkungan
ArtritisReumatoid
Sinovitis Tenosinovilis Kelainanpadatulang
Hiperemia dan pembengkakan
Invasikolagen Erositulang&kerusaka n pada tulang rawan
Nekrosis dan kerusakan dalam
ruang sendi
Ruptur tendon secara parsial atau
total
Instabilitas dan deformitas sendi
Nyeri
Hambatanmob ilitasfisik
Gangguan mekanis dan fungsional pada
sendi
BAB III