BAB IV DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi ekperawatan terdiri dari beberapa komponen : a. Tanggal dan waktu dilakukan evaluasi keperawatan b. Diagnose keperawatan
E. Cara pengumpulan data
Teknik pengumpulan data menggunakan multi sumber bukti (Triangulasi) artinya teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik data dan sumber data yang telah ada. Triagulasi teknik berarti penelitian menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti akan menggunakan observasi, pengukuran, wawancara mendalam, dan dokumnetasi untuk sumber data yang sama secara serompok (Sugriyono 2014).
1. Observasi
Dalam observasi ini, peneliti mengobservasi atau melihat kondisi darai pasien, seperti keadaan umum pasien dan keadaan pasien, selain itu juga mengobservasi tindakan apa saja yang telah dilakukan pada pasien, misalnya pasien terpasang infuse.
2. Pengukuran
Pengukuran yaitu melakukan pemantauan kondisi pasien dengan metode mengukur dengan menggunakan alat ukur pemeriksa, seperti melakukan pengkuruan suhu, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan. 3. Wawancara
Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk menukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dikonsentrasikan makna dalam suatu topic tertentu. Wawancara digunakan apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal respon lebih mendalam (Sugiyono 2014).
Dalam peneliotian ini wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara bebas terpimpin. Wawancara jenis ini merupakan kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan wawancara terpimpin. Meskipun dapat unsure kebebasan, tapi ada pengaruh pembicara secara tegas dan megarah. Jadi wawancara ini mempunyai cirri yang fleksibelitas (keluwesan) tapi arahnya yang jelas. Artinya pewawancara diberi kebebasan yang diharapkan dan respon secara bebas dapat memperikan
kenapa pasien masuk rumah sakit, penyakit yang diderita sebelumnya dan sebagian.
4. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau kerya-karya monumental dari seseorang. Dalam penelitian yang akan dilakukan. Contoh data pemeriksaan labor, data pemeriksaan diagnostic dan data pengobatan.
F. Jenis-jenis data
1. Data primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari pasien seperti pengkajian kepada pasien meliputi : identitas pasien, riwayat kesehatan pasien, pola aktifitas pasien sehari-hari dirumah dan pemeriksaan fisik etrhadap pasien.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh langsung dari rekam medic, serta dari dokumentasi di ruang Inap Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang. Data sekunder umumnya berupa bukti, data penunjang, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang tidak dipublikasikan.
G. Cara Pemilihan Responden
Pemilihan responden merujuk pada teknik non random sampling dengan teknik purposive sampling, dimana subjek penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan dari peneliti itu sendiri (Nursalam, 2011).
H. Rencana Analisis
Rencana analisa yang dilakukan pada penelitian ini adalah menganalisis semua teman pada tahapan proses keperawatan dengan menggunakan konsep dan teori keperawatan pada pasein dengan PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis). Data yang telah didapatkan dari hasil melakukan asuhan keperawatan melalui dari pengkajian, penegakan diagnose, merencakan tindakan,
melakukan tindakan sampai mengevaluasi hasil tindakan akan dinarasi dan dibandingkan dengan teori asuhan keperawatan dengan kasus Gangguan pemenuhan oksigenasi pada pasein PPOK. Analisa yang dilakukan adalah untuk menentukan apakah ada kesesuaian antara teori yang ada dengan kondisi pasien.
Data didapatkan berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan dengan metode pengumpulan data dengan teknik wawancara. Analisa data dilakukan berdasarkan data-data yang telah diperoleh kemudian dikelompokkan menjadi data subjektif dan objektif. Hasil analisa data tersebut kemudian dirumuskan menjadi diagnosis keperawatan sesuai dengan panduan Nursing American Diagnisis (NANDA), dilanjutkan dengan menyusun intervensi keperawatan, melaksanakan implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan. Setelah didapatkan hasil pengkajian, perumusan diagnosis dan intervensi, serta pelaksanaan implementasi dan evaluasi, peneliti kemudian membandingkan hasil tersebut dengan konsep asuhan keperawatan teoritis
BAB IV
DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN KASUS
A. Deskripsi Kasus 1. Pengkajian
Tn.M (Partisipan 1) berumur 67 tahun datang ke IGD RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang pada tanggal 2 Juni 2017 pukul 17.30 WIB melalui IGD dengan keluhan sesak nafas(+) sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, demam (+). Pasien datang ke Rumah Sakit dengan anaknya, dengan tanda-tanda vital TD : 110/80 mmHg, nadi : 88 x/menit, pernafasan: 23 x/menit, suhu :37,3 0C. pasien di diagnose dengan penyakit PPOK. Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 3 Juni 2017, pasien tampak lemah, pasien tidak tampak terpasang oksigen, pasien mengatakan nafasnya terasa sesak dan sesak akan bertambah saat melakukan aktivitas dan saat tidur, pasien juga mengatakan batuk.
Tn.S (Partisipan 2) berumur 67 tahun datang ke IGD RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang pada tanggal 2 Juni 2017 pukul 17.35 WIB melalui IGD rujuakan puskesmas lubuk kilangan dengan keluhan Sesak nafas lebih kurang 2 jam sebelum dibawa ke rumah sakit, bunyi menciut (+), batuk (+) Sudah 3 hari yang lalu, pilek (-), serta nyeri di ulu hati (+).Pasien datang ke Rumah Sakit dengan anaknya, dengan tanda-tanda vital TD : 120/70 mmHg, nadi : 93 x/menit, pernafasan: 24 x/menit, suhu : 36,6 0C. pasien di diagnose dengan penyakit PPOK. Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 3 Juni 2017, pasien tampak lemah, pasien tidak tampak terpasang oksigen, pasien mengatakan nafasnya terasa sesak dan
sesak akan bertambah saat melakukan aktivitas dan saat tidur, pasien juga mengatakan batuk dan juga berdahak. Metode penelitian ini yaitu dengan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan melihat hasil laboratorium. Setelah dilakukan penelitian didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 4.1
Pengkajian Deskripsi Kasus
Asuhan keperawatan Partisipan 1 Partisipan 2 Identitas Pasien Tn. M Laki-laki berusia 67 tahun datang dibawa anaknya ke RS Reksodiwiryo Padang pada tanggal 2 Juni 2017 pukul 17.30 WIB melalui IGD dengan keluhan sesak nafas(+), demam (+)
Tn.S laki-laki berusia 66 tahun datang dibawa anaknya ke RS Reksodiwiryo Padang pada tanggal 2 juni 2017 pukul 17.35 WIB melalui IGD rujukan dari Puskesmas Lubuk Kilangan dengan keluhan Sesak nafas lebih kyrang 2 jam sebelum dibawa kerumah sakit, bunyi menciut (+), batuk (+)Sudah 3 hari yang lalu, pilek (-), serta nyeri di ulu hati (+).
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan bahwa pasien sesak nafas sebelum masuk rumah sakit, disertai dengan bunyi menciut (+), disertai dengan demam (+). Pasien dirawat diruang VI Paru Rumah Sakit Reksodiwiryo padang dengan diagnosa medis PPOK.
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 03 Juni 2017 pasien mengatakan nafasnya masih terasa
Pasien mengatakan bahwa pasien sesak nafas sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai dengan bunyi menciut (+),batuk (+), nyeri di ulu hati. Pasien dirawat diruang VI Paru Rumah Sakit Reksodiwiryo padang dengan diagnosa medis PPOK.
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 03 Juni 2017 pasien mengatakan masih sesak nafas(+) disertai
demam (+) dan juga masih batuk
dibagian ulu hati pasien. Pasien juga mengatakan pasien juga memiliki riwayat ASMA sebelumnya.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan pernah dirawat sebelumnya pada tahun 2016 dengan penyakit yang sama dengan pasien sekarang yaitu PPOK.
Klien mengatakan memiliki riwayat ASMA ± 3 Tahun yang lalu dan juga pernah dirawat pada tahun 2013 dengan sakit yang sama dengaan pasien sekarang yaitu PPOK.. Riwayat
Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarga klien yang menderita sakit yang sama dengan klien. tidak ada keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes mellitus, jantung koroner serta tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular.
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang menderita sakit yang sama dengan klien. tidak ada keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes mellitus, jantung koroner serta tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular.
ADL Tn,M memiliki kebiasaan makan 3 kali sehari. Konsistensi makanan biasa, rata-rata menu setiap harinya adalah nasi,lauk dan sayur. Jenis minuman Jenis minuman air putih, frekuensi minum dirumah lebih dari 7 gelas sehari. Pola tidur siang teratur dengan lama tidur lebih kurang 2 jam, pola tidur malam teratur dengan jumlah jam tidur 6-7 jam, Kebiasaan BAK lebih dari 3 kali sehari dengan jumlah lebih kurang 1500-2000 cc, sedangkan kebiasaan BAB 1 kali sehari, jumlah tidak dapat ditentukan, warma normal dan bau khas.
Tn,S memiliki kebiasaan makan 3 kali sehari. Konsistensi makanan biasa, rata-rata menu setiap harinya adalah nasi,lauk dan sayur. Jenis minuman Jenis minuman air putih, frekuensi minum dirumah lebih dari 7 gelas sehari. Pola tidur siang teratur dengan lama tidur lebih kurang 1 jam, pola tidur malam teratur dengan jumlah jam tidur 6-7 jam, Kebiasaan BAK lebih dari 2 kali sehari dengan jumlah lebih kurang 1500-2000 cc, sedangkan kebiasaan BAB 1 kali sehari, jumlah tidak dapat ditentukan, warma normal dan bau khas.
Pemeriksaan Saat dilakukan pemeriksaan fisik,
Saat dilakukan pemeriksaan fisik, keadaan
Fisik keadaan umum pasien Compos Mentis (GCS : 4-5-6), suhu 37,50C, nadi 86 kali permenit, pernafasan 22 kali permenit mata simetris kiri dan kanan, reflek cahaya positif pada mata kiri dan kanan , konjungtiva negatif anemis pada mata kiri dan kanan, sklera negatif ikterik pada mata kiri dan kanan, reflek pupil positif isokor pada mata kiri dan kanan, udema palpebra negatif, pernafasan cupping hidung. Pada inspeksi bibir tidak sianosis, mukosa mulut dan bibir lembab, Pada telinga tampak bersih,tidak teraba pembesaran kelenjer getah bening dan kelenjer tiroid. Pemeriksaan jantung ditemukan iktus kordis tidak terlihat, iktus kordis tidak teraba jelas,dan irama jantung teratur. Pada pemeriksaan abdomen tidak tampak perubahan warna kulit, tidak tampak tonjolan, asites negatif ,bising usus 5-7 kali permenit, perkusi abdomen pekak, pemeriksaan kulit turgor kembali cepat, lembab, warna kulit tidak pucat, capillary refill kembali dalam dua detik, akral teraba hangat.pada ekstremitas atas sebelah kanan klien terpasang infuse dengan RL 20 tts/menit.
umum pasien Compos Mentis (GCS : 4-5-6), suhu 37,00C, nadi 84 kali permenit, pernafasan 23 kali permenit, mata simetris kiri dan kanan, reflek cahaya positif pada mata kiri dan kanan , konjungtiva negatif anemis pada mata kiri dan kanan, sklera negatif ikterik pada mata kiri dan kanan, reflek pupil positif isokor pada mata kiri dan kanan, udema palpebra negatif, pernafasan cupping hidung. Pada inspeksi bibir tidak sianosis, mukosa mulut dan bibir lembab, Pada telinga tampak bersih,tidak teraba pembesaran kelenjer getah bening dan kelenjer tiroid. Pemeriksaan jantung ditemukan iktus kordis tidak terlihat, iktus kordis tidak teraba jelas,dan irama jantung teratur. Pada pemeriksaan abdomen tidak tampak perubahan warna kulit, tidak tampak tonjolan, asites negatif ,bising usus 5-7 kali permenit, perkusi abdomen pekak, pemeriksaan kulit turgor kembali cepat, lembab, warna kulit tidak pucat, capillary refill kembali dalam dua detik, akral teraba hangat.pada ekstremitas atas sebelah kiri klien terpasang infuse dengan RL 20 tts/menit.
Penunjang juni 2017 ditemukan hemoglobin 13,2 g/dl ( normal 14-16 g/dl),leukosit 12.220 /mm3 (normal 5000-100000 /mm3).leotokrit 40 % (normal 40-48 %) Gula darah sewaktu 80 mg/dl (normal sp 180 mg/dl)
Obat yang diprogramkan ADS : Nucral 3x2, Combiven 4x1, Cefrixone 2x1, Ranitidine 2x1, Ondansentron 3x1, Metilpredinisol 2x1, PCT 3x1 , Ambroxol 3x1, Curcuma 3x1, Neurodex 2x, Cefedime 2x1. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 5 juni 2017 ditemukan hemoglobin 10,9 g/dl ( normal 14-16 g/dl),leukosit 16,060 /mm3 (normal 5000-100000 /mm3) juni 2017 ditemukan hemoglobin 15,0 g/dl ( normal 14-16 g/dl),leukosit 7060 /mm3 (normal 5000-100000 /mm3).leotokrit 46 % (normal 40-48 %) Gula darah sewaktu 84 mg/dl (normal sp 180 mg/dl) Obat yang diprogramkan ADS : O2 2-3 L, Drip aminopilin 2 amp dalam RL 8j/kolf, ceftriaxon 1 x 2 gr, ranitidine 2x1, combiven 4x1, farmavon 3x1,
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan terhadap TN.M dan Tn.S didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :
Tabel 4.2 Diagnosa Keperawatan
Partisipan 1 Partisipan 2
Berdasarkan hasil pengkajian, masalah keperawatan yang muncul pada Tn. M diantaranya ketidak
efektif besehan jaklan nafas
berhubungan dengan dengan
peningkatan produksi mucus yang
ditandai dengan a) pasien mengatakan batuk, b) batuk berdahak dan sulit untuk
Berdasarkan hasil pengkajian, masalah keperawatan yang muncul pada Tn.M diantaranya
Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan perubahan membrane alveolar-kapiler yang
ditandai dengan a) pasien mengatakan sesak nafas,
dikeluarkan c) pasien mengeluh sesak nafas dengan frekuensi pernafasan 24 kali permenit (normal 16 - 20 kali permenit) d) pasien mengatakan badannya terasa lemah.
Diagnosa yang kedua yaitu
Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan perubahan membrane alveolar-kapiler yang
ditandai dengan a) pasien mengatakan sesak nafas,
Diagnosa yang keempat yaitu
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen
yang ditandai dengan a) pasien mengatakan sesak nafas dan sesak meningkat bila beraktifitas. b) pasien mengeluh badan terasa lemas
Diagnosa yang kedua yaitu,
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara
suplai dengan kebutuhan
oksigen yang ditandai dengan
yang ditandai dengan a) pasien mengatakan sesak nafas dan sesak meningkat bila beraktifitas. b) pasien mengeluh badan terasa lemas
Diagnosa yang ketiga yaitu
Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan
peningkatan produksi mucus
yang ditandai dengan a) pasien batuk, b) batuk berdahak dan sulit untuk dikeluarkan c) sesak nafas dengan frekuensi pernafasan 27 kali permenit (normal 16 - 20 kali permenit).
3. Intervensi Keperawatan
Setelah didapatkan beberapa diagnose keperawatan seperti yang ada pada table diatas, maka peneliti dapat merumuskan tindakan yang akan dilakukan terhadap diagnose dari Tn.M dan Tn.S sebagai berikut :
Table 4.3
diagnosa keperawatan, intervensi yang direncanakan untuk mengatasi masalah ketidakefektifan bersihan
jalan nafas mempunyai tujuan
menurut Nic dan Noc yaitu respiratory status: ventilation dengan kriteria hasil menurut mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu. Respiratory status: airway patency dengan Kriteria Hasil: Menunjukkan jalan nafas yang paten. Mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang menghambat jalan nafas. Intervensi yang dilakukan untuk ketidakefektifan bersihan jalan nafas yaitu airway management posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, keluarkan sekret dengan batuk. Auskultasi suara nafas, catat bila ada suara tambahan. Berikan bronkodilator, monitor status respirasi dan status O2,
Rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa gangguan pertukaran gas dengan tujuan
Respiratory status: gas exchange dengan kriteria hasil mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat. Respiratory status: ventilation dengan kriteria hasil memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan, mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispnea. Vital Sign Status dengan kriteria hasil tanda-tanda vital dalam rentang normal. Intervensi untuk gangguan pertukaran gas yaitu respiratory Monitoring dengan monitor pola nafas, irama, kedalaman dan usaha nafas.
diagnosa keperawatan, intervensi yang direncanakan untuk mengatasi masalah
gangguan pertukaran gas
dengan tujuan Respiratory status: gas exchange dengan kriteria hasil mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat. Respiratory status: ventilation dengan kriteria hasil memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan, mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispnea. Vital Sign Status dengan kriteria hasil tanda-tanda vital dalam rentang normal. Intervensi untuk gangguan pertukaran gas yaitu respiratory Monitoring dengan monitor pola nafas, irama, kedalaman dan usaha nafas. Perhatikan gerakan dan kesimetrisan, menggunakan otot bantu, dan adanya retraksi otot intercostals dan supraclavicular. Monitor bunyi nafas, misalnya mendengkur, auskultasi bunyi nafas, catat peningkatan ventilasi, monitor kemampuan pasien dalam batuk efektif. Oxygen therapy dengan intervensi pertahankan jalan nafas yang paten, atur peralatan oksigenasi. Monitor aliran oksigen, pertahankan posisi pasien, observasi tanda-tanda hipoventilasi. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi. Vital Sign Monitoring dengan intervensi monitor TD, nadi, suhu, dan RR. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Monitor pola pernafasan abnormal, monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit, monitor
Perhatikan gerakan dan kesimetrisan, menggunakan otot bantu, dan adanya retraksi otot intercostals dan supraclavicular. Monitor bunyi nafas, misalnya mendengkur, auskultasi bunyi nafas, catat peningkatan ventilasi, monitor kemampuan pasien dalam batuk efektif. Oxygen therapy dengan intervensi pertahankan jalan nafas yang paten, atur peralatan oksigenasi. Monitor aliran oksigen, pertahankan posisi pasien, observasi tanda-tanda hipoventilasi. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi. Vital Sign Monitoring dengan intervensi monitor TD, nadi, suhu, dan RR. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Monitor pola pernafasan abnormal, monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit, monitor sianosis perifer. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign.
Rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa intoleransi aktivitas dengan tujuan Energy Conservation dengan kriteria hasil TTV dalam batas normal, energy kelemahan. Activity tolerance dengan kriteria hasil berpatisipasi dalam aktivitas fisik tanpa peningkatan TTV. Self care dengan kriteria hasil mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri, mampu berpindah tanpa bantuan alat. Dengan intervensi keperawatan bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan, bantu pasien memilih aktivitas dengan kemampuan fisik, psikologis, sosial, bantu untuk mendapatkan alat bantu aktivitas, sediakan penguatan positif bagi yang aktif
sianosis perifer. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign.
Rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa intoleransi aktivitas dengan tujuan Energy
Conservation dengan kriteria hasil TTV dalam batas normal, energy kelemahan. Activity tolerance dengan kriteria hasil berpatisipasi dalam aktivitas fisik tanpa peningkatan TTV. Self care dengan kriteria hasil mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri, mampu berpindah tanpa bantuan alat. Dengan intervensi keperawatan bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan, bantu pasien memilih aktivitas dengan kemampuan fisik, psikologis, sosial, bantu untuk mendapatkan alat bantu aktivitas, sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas, bantu pasien mengembangkan motivasi diri dan pengetahuan, monitor respon fisik, emosi sosial dan spiritual.
Rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa ketidakefektifan
bersihan jalan nafas mempunyai
tujuan menurut Nic dan Noc yaitu respiratory status: ventilation dengan kriteria hasil menurut mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu. Respiratory status: airway patency dengan Kriteria Hasil: Menunjukkan jalan nafas yang paten. Mampu mengidentifikasi dan mencegah
pengetahuan, monitor respon fisik, emosi sosial dan spiritual.
untuk ketidakefektifan bersihan jalan nafas yaitu airway management posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, keluarkan sekret dengan batuk. Auskultasi suara nafas, catat bila ada suara tambahan. Berikan bronkodilator, monitor status respirasi dan status O2
4. Implementasi Keperawatan
Setelah di rumuskan rencana tindakan yang akan dilakukan terhadap Tn.M dan Tn.S, implementasi yang telah dilakukan oleh perawat ruangan yaitu sebagai berikut :
Table 4.4
Implementasi Keperawatan
Partisipan 1 Partisipan 2
Implementasi keperawatan pada diagnosa ketidakefektifan bersihan
jalan nafas berhubungan dengan
peningkatan produksi mukus
dilakukan selama 5 hari yaitu mengukur tanda tanda vital pasien, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 88 x/menit, frekuensi pernafasan 23x/menit, suhu 36,8 derajat Celcius. Implementasi selanjutnya yaitu memberikan posisi semi fowler pada pasien, posisi pasien setengah duduk. Implementasi berikutnya mengauskultasi suara nafas pasien. Tindakan keperawatan berikutnya mendemonstrasikan pasien mengeluarkan sputum dengan cara batuk efektif. melaksanakan kolaborasi pemberian bronkodilator yaitu combivent nebu 4x1 pada pukul 10.00 Wib
Implementasi keperawatan pada
Implementasi keperawatan pada diagnosa kedua gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolar-kapiler dilakukan
selama 5 hari yaitu mengatur peralatan oksigen dan mengatur aliran oksigen binasal kanul 3 L/menit, mempertahankan posisi pasien semi fowler, dan melihat adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi. Implementasi berikutnya melihat pola nafas, dan irama nafas pasien, memperhatikan gerakan dan kesimetrisan serta menggunakan otot bantu dan adanya retraksi otot intercostals dan supraclavicular, mengauskultasi nafas pasien. Kemudian implementasi keperawatan yang dilakukan yaitu memantau kembali kemampuan pasien dalam batuk
diagnosa kedua gangguan
pertukaran gas berhubungan
dengan perubahan membran
alveolar-kapiler dilakukan selama
5 hari yaitu mengatur peralatan oksigen dan mengatur aliran oksigen binasal kanul 3 L/menit, mempertahankan posisi pasien semi fowler, dan melihat adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi. Implementasi berikutnya melihat pola nafas, dan irama nafas pasien, memperhatikan gerakan dan kesimetrisan serta menggunakan otot bantu dan adanya retraksi otot intercostals dan supraclavicular, mengauskultasi nafas pasien. Kemudian implementasi keperawatan yang dilakukan yaitu memantau kembali kemampuan pasien dalam batuk efektif, mengukur tekanan darah pasien, melihat adanya sianosis perifer
Implementasi keperawatan diagnosa intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara
kebutuhan dan suplai oksigen yang
dilakukan selama 5 hari adalah mengkaji tingkat ketergantungan pasien, selanjutnya membantu pasien mengidentifikasi aktifitas yang mampu dilakukan, implementasi keperawatan berikutnya membantu pasien untuk memilih aktivitas dengan kemampuan fisik, psikologis, dan sosial, membantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan. Implementasi selanjutnya memperhatikan respon fisik, emosi sosial dan spiritual
efektif, mengukur tekanan darah pasien, melihat adanya sianosis perifer
Implementasi keperawatan diagnosa intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara
kebutuhan dan suplai oksigen
yang dilakukan selama 5 hari adalah mengkaji tingkat ketergantungan pasien, selanjutnya membantu pasien mengidentifikasi aktifitas yang mampu dilakukan, implementasi keperawatan berikutnya membantu pasien untuk memilih aktivitas dengan kemampuan fisik, psikologis, dan sosial, membantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan. Implementasi selanjutnya memperhatikan respon fisik, emosi sosial dan spiritual
Implementasi keperawatan pada diagnosa ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
berhubungan dengan
peningkatan produksi mukus
dilakukan selama 5 hari yaitu mengukur tanda tanda vital