• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.6 Evaluasi Keperawatan

Klien mengatakan sesak nafas

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, klien tampak sesak nafas, tampak terpasang selang nasal kanul, suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan,

Klien mengatakan sesak nafasnya sedikit lega O :

GCS 465, kesadaran composmentis, klien tampak nyaman, tampak terpasang selang nasal kanul, TD 150/80 mmHg,

Lanjutkan intervensi No ; 1, 2, 3, 6

S :

Klien mengatakan sesak nafas berkurang 150/80 mmHg, RR 23x/m, HR 76x/m, S 36ºC, NRM 2Lpm

A:

Masalah teratasi sebagian P :

Pertahankan dan lanjutkan intervensi No;

Klien mengatakan sesak nafas disertai batuk tidak berdahak

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, klien tampak sesak nafas dan batuk, tampak terpasang selang nasal kanul, suara nafas

Klien mengatakan sesak nafas sedikit lega, batuk terpasang selang nasal kanul, TD 146/80 mmHg,

Lanjutkan intervensi No ; 1, 2,

3, 6,

S :

Klien mengatakan sesak nafas berkurang, batuk berkurang

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, klien tampak nyaman dan batuk sekit berkurang, tampak terpasang selang nasal kanul,

Klien mengatakan pusing dan nyeri dada

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah,

gelisah, tampang

memegangi kepala dan dadanya, skala nyeri 6, TD 148/92 mmHg, RR 26x/m, HR 90x/m, S 36,6ºC

A:

S :

Klien mengatakan pusing dan nyeri dada sedikit

Klien mengatakan pusing dan nyeri dada berkurang O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, klien sudah tampak nyaman, skala nyeri 3, TD 140/80 mmHg, RR 23x/m, HR 86x/m, S 36ºC A:

Masalah teratasi sebagian

Masalah belum teratasi composmentis, k/u lemah, gelisah, tampak memegengai kepalanya, skala nyeri 5, TD 150/80 mmHg, RR 27x/m,

Klien mengatakan pusing sedikit berkurang

Klien mengatakan pusing berkurang

Klien mengatakan BAK sedikit dan terasa nyeri, rasa haus berkurang

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, tampak haus, asites pada output 322,5cc, balance cairan 1.127,5 cc

Klien mengatakan BAK sedikit dan nyeri, rasa haus berkurang

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, asites pada perut, edema

Klien mengatakan BAK sedikit dan nyeri, rasa haus berkurang

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, asites pada perut, edema

Klien mengatakan BAK sedikit, rasa haus berkurang O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah,bibir kering, kulit tampak kering dan bersisik,

Klien mengatakan BAK masih sedikit, haus

Klien mengatakan BAK sedikit, haus berkurang

output 377,5 cc, balance

Klien mengatakan lelah letih lemah

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, tampak bed rest dan ADL dibantu keluarga & perawat, asites pada perut, edema

Lanjutkan intervensi No;

1,2,3,4,5

S :

Klien mengatakan lelah letih lemah

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, tampak bed rest dan ADL dibantu keluarga &

perawat, mukosa bibir sedikit lembab, TD 150/80 mmHg, RR 25x/m, HR

Klien mengatakan lelah letih lemah

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemah, tampak bed rest dan ADL dibantu keluarga &

perawati, mukosa bibir lembab, TD 140/80

Klien mengatakan mual muntah dan nafsu makan berkurang, makan hanya 2 sendok

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemas, mukosa bibir tampak kering, TD 150/80 mmHg, RR

Klien mengatakan mual, makan 4 sendok

O :

GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemas, mukosa bibir tampak sedikit lembab, TD 146/80 mmHg, RR 25x/m, HR

Klien mengatakan mual, makan habis ½ porsi GCS 465, kesadaran composmentis, k/u lemas, mukosa bibir tampak

57 BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Pembahasan

Berisi perbandingan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus yang disajikan untuk menjawab tujuan khusus. Setiap temuan perbedaan diuraikan dengan konsep. Pembahasan disusun sesuai dengan tujuan khusus.

Pembahasan ini berisi tentang mengapa (Why) dan bagaimana (How). Urutan penulisan berdasaran paragraf adalah F-T-O (Fakta-Teori-Opini).

5.1.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari suatu proses keperawatan, kegiatan yang dilakukan pada tahap tersebut adalah mengumpulkan data, seperti riwayat keperawatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan data sekunder lainnya meliputi: catatan, hasil pemeriksaan diagnostik dan literature (Deswani, 2009). Pengkajian yang dilakukan oleh perawat ketika menghadapi klien dengan gagal ginjal kronik gangguan sitem perkemihan terutama pada klien dengan gagal ginjal kronik meliputi riwayat kesehatan, review sitem (head to toe) dan pengkajian psikososial (Somantri, 2009).

Gagal ginjal kronik merupakan kondisi dimana ginjal sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ini dikarenakan banyak nefron yang rusak secara progresif. Penyebabnya bermacam-macam, misalnya karena menderita penyakit tertentu menyebabkan peradangan glomeluri. Awalnya membran glomerular menjadi lebih tebal, tahap selanjutnya membran ini terserang jaringan berserabut. Proses inilah yang menyebabkan fungsi ginjal sebagai penyaring terhambat (Dharma, 2015).

Pengkajian gagal ginjal kronik ini ditekankan pada support system untuk mempertahankan kondisi keseimbangan keadaan tubuh (hemodynamically process). Tidak optimalnya fungsi ginjal, tubuh akan melakukan kompensasi jika dalam batas kewajaran tetapi jika kondisi ini berlanjut, maka akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis yang menandakan gangguan sistem tersebut.

Hasil pengkajian pada tanggal 22 dan 25 Mei 2017 keluhan utama pada kasus Tn.W dan Tn.G adalah sesak nafas. Sesak nafas merupakan salah satu manifestasi klinik gagal ginjal kronik, hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas disebabkan oleh perikarditis (Suyono, 2001). Perikarditis dapat terjadi dan lebih besar kemungkinan terjadinya jika kadar ureum atau fosfat tinggi atau terdapat hiperparatiroidisme sekunder yang berat.

Riwayat penyakit dahulu, klien Tn.W mengatakan ± 11 tahun yang lalu mempunyai hipertensi dan sudah ± 5 tahun menderita jantung sedangkan klien Tn.G mengatakan ± 7 tahun yang lalu mempunyai hipertensi dan sudah ± 4 tahun menderita jantung. Gagal ginjal kronik sering kali menjadi penyakit komplikasi dari penyakit lainnya, sehingga merupakan penyakit sekunder (secondary illness). Penyebab yang sering adalah diabetes mellitus dan hipertensi, ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa komplikasi hipertensi yaitu penyakit jantung dapat timbul akibat kelebihan cairan dan hipertensi dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri atau kardiomiopi dilatasi. Sebagian besar hipertensi pada penyakit gagal ginjal kronik disebabkan hipervolemia akibat retensi natrium

dan air sehingga mengakibatkan ritme jantung yang tripel. Hipertensi akan memperburuk kondisi gagal ginjal dengan tujuan agar terjadi peningkatan filtrasi protein-protein plasma. Kondisi akan bertambah buruk dengan semakin banyak terbentuk jaringan parut sebagai respon dari kerusakan nefron dan secara progresif fungsi ginjal menurun drastis dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit-metabolit (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin, 2014).

Pola kognitif-perseptual klien Tn.W dan Tn.G mengatakan belum terlalu mengetahui tentang penyakit gagal ginjal kronik, tubuh kehilangan energi, mudah gelisah dan merasa haus, perasaan tak berdaya, perubahan tidur, dan putus asa. Hal ini sesuai dengan teori salah satu manifestasi klinis depresi yaitu perasaan tak berdaya, putus asa, kehilangan minat dalam sehari-hari, perubahan tidur, kehilangan energi, mudah marah dan gelisah (Shanty, 2011).

Pola nutrisi dan metabolisme, selama sakit klien Tn.W dan Tn.G hanya boleh makan selain tempe, tahu, kecap maupun kacang-kacangan serta pembatasan dalam pemberian cairan, sehari klien hanya minum ± 2-3 gelas air putih dan teh 200-250 cc, selama sakit Tn.W mengeluh sesak nafas. BB 68 kg dengan TB 172 cm diperoleh IMT 23 kg/m2. Diet rendah protein 60 gram rendah garam bentuk bubur, sedangkan klien Tn.G mengeluh sesak nafas dan mual muntah. BB 44 kg dengan TB 150 cm diperoleh IMT 19,5 kg/m2. Diet rendah protein 1540 kkal 53 gram bentuk bubur. Intervensi diet juga perlu pada gangguan fungsi renal dan mencakup pengaturan yang cermat terhadap masukan protein, masukkan cairan untuk

mengganti cairan yang hilang, masukkan natrium untuk natrium yang hilang, dan pembatasan kalium. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan protein dibatasi karena urea, asam urat, dan asam organik hasil pemecahan makanan dan protein jaringan akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada klirens renal (Smeltzer & Bare, 2012).

Protein yang dikonsumsi harus memiliki nilai biologis yang tinggi (produk susu, telur, daging). Protein yang mengandung nilai biologis yang tinggi adalah substansi protein lengkap dan menyuplai asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan sel. Biasanya cairan yang diperbolehkan adalah 500-600 cc untuk 24 jam. Kalori diperoleh dari karbohidrat dan lemak untuk mencegah kelemahan. Pemberian vitamin juga penting karena diet rendah protein tidak cukup memberikan komplemen vitamin yang diperlukan. Selain itu, klien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut dalam air melalui darah selama penanganan dialisis (Smeltzer

& Bare, 2012).

Pola eliminasi selama sakit, klien Tn.W dan Tn.G mengatakan jarang bahkan sama sekali tidak BAK dalam sehari paling banyak klien BAK 1-2 kali sehari dengan warna kuning jernih dan bau khas, sedangkan BAB klien Tn.W mengatakan selama sakit belum BAB sama sekali sedangkan klien Tn.G mengatakan kadang sembelit, BAB sebanyak 1 kali sehari dengan konsistensi keras, bau khas warna hitam. Analisa input - output cairan klien Tn.W terdapat input : makan dan minum 850 cc, injeksi 100 cc dan infus 500 cc mendapatkan total 1.450 cc sedangkan output terdapat urine 280 cc,

feses : belum BAB dan IWL (15xBB) 1.020 cc dengan total 1.300 cc memperoleh hasil balance cairan 150 cc. Klien Tn.G terdapat input : makan dan minum 600 cc, injeksi 24 cc dan infus 500 cc mendapatkan total 1.124 cc sedangkan output terdapat urine 250 cc, feses 100 cc, dan IWL (15xBB) 660 cc dengan total 1.010 cc memperoleh hasil balance cairan 114 cc.

Gagal ginjal dimanifestasikan dengan anuria, oliguria atau volume urine normal. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan anuria (kurang dari 50 ml/hari) dan normal haluran urine tidak seperti oliguria. Oliguria (kurang dari 400 ml/hari) adalah suatu klinis yang umum di jumpai pada gagal ginjal kronik. Penatalaksanaan keseimbangan cairan didasarkan pada berat badan harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urine dan serum, cairan yang hilang, tekanan darah dan status klinis klien. Masukan dan haluran oral dan parenteral urine, drainage lambung, feses, drainage luka dan perpirasi dihitung dan digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantian cairan. Cairan yang hilang melalui kulit dan paru dan hilang akibat proses metabolisme normal juga dipertimbangkan dalam penatalaksanaan cairan (Smeltzer & Bare, 2012).

5.1.2 Rumusan Masalah

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis tentang respon individu, keluarga, dan masyarakat tentang masalah kesehatan, sebagai seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat (Setiadi, 2012). Perumusan diagnosa keperawatan harus didasarkan pada kondisi klien di lapangan, kondisi ini

dapat berupa aktual, potensial maupun diagnosa sejahtera (NANDA, 2012-2014).

Hasil pengkajian data dan pengelompokkan data penulis menemukan beberapa masalah kesehatan dan menfokuskan pada fungsi kesehatan fungsional yang membutuhkan dukungan dan bantuan pemulihan sesuai dengan kebutuhan hieraki Maslow (Potter dan Perry, 2005). Hasil pengkajian dan analisa data penulis mengangkat diagnosa, yaitu : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi natrium serta cairan.

Data yang mendukung diagnosa keperawatan kelebihan volume cairan meliputi data subyektif dan obyektif pada Tn W. Data subyektif klien mengatakan buang air kecil hanya sedikit terasa nyeri saat pipis dan mengeluh haus. Data obyektif klien tampak gelisah, mukosa bibir kering, bau nafas ammonia, edema pada tangan kiri dan asites pada perut, tanda – tanda vital ; tekanan darah 148/92mmHg, pernafasan 26x/menit, nadi 90x/menit, hasil laboratorium ; ureum 208 mg/dl, hemoglobin 7,5 g/dl, hematokrit 22%.

Data yang mendukung diagnosa keperawatan kelebihan volume cairan meliputi data subyektif dan obyektif klien Tn G. Data subyektif klien mengatakan buang air kecil hanya sedikit dan mengeluh haus. Data obyektif mukosa bibir kering, kulit tampak keriput dan kering, edema pada tungkai bawah, TTV : tekanan darah 150/80 mmHg, pernafasan 27x/menit, nadi 80x/menit, hasil laboratorium : ureum 242 mg/dL, creatinin 14,6 mg/dL, albumin 2,6 g/dL.

Kelebihan volume cairan adalah peningkatan retensi cairan isotonik.

Hal ini sesuai dengan batasan karakteristik diagnosa keperawatan kelebihan volume cairan : perubahan tekanan darah, perubahan pola pernafasan, penurunan hemoglobin dan hematokrit, edema, dispnea, gelisah, perubahan berat jenis urine, penambahan berat badan dalam waktu yang singkat, perubahan status mental, dan gangguan elektrolit (NANDA 2012-2014).

5.1.3 Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan atau perencenaan merupakan bagian dari suatu fase pengorganasian dalam keperawatan sebagai pedoman untuk mengarahkan tindakan keperawatan dalam usaha membantu, meringankan, memecahkan masalah atau untuk memenuhi kebutuhan klien (Setiadi, 2012).

Berdasarkan diagnosa yang telah penulis rumuskan dengan menyesuaikan dengan prioritas permasalahan, penulis menyusun intervensi sebagai berikut : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi cairan serta natrium. Kasus Tn.W dan Tn.G penulis melakukan tindakan keperawatan berdasarkan klasifikasi tujuan dan kriteria hasil keperawatan pada kelebihan volume cairan selama 3x24 jam diharapkan masalah kelebihan volume cairan pada Tn.W dan Tn.G dapat berkurang atau teratasi, dengan kriteria hasil : edema berkurang, turgor kulit baik, membram mukosa lembab, produksi urine > 600 ml/hari, dan keseimbangan antara input dan output stabil. Intervensi yang akan dilakukan berdasarkan klasifikasi intervensi keperawatan kelebihan volume cairan : monitoring status cairan klien Tn.W dan Tn.G (BB harian, turgor

kulit dan adanya edema, distensi vena leher, dan TTV), membatasi masukan cairan. Menganjurkan mengunyah permen karet rendah gula dan mengulum es batu. Lakukan tindakan pemantauan intake output cairan. Kolaborasi dengan klien dan keluarga untuk berkelanjutan pemantauan cairan.

5.1.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Darmawan, 2012).

Kebanyakan klien dengan stadium tahap akhir penyakit gagal ginjal yang menjalani hemodialisa harus menjaga diet cairan yang dibatasi untuk mencegah kelebihan cairan antara sesi dialisis. Konsekuensi pembatasan cairan harus dijalani klien GGK yang menjalani hemodialisis adalah timbulnya rasa haus dan mulut kering (xerostomia). Salah satu cara untuk mengurangi rasa haus pada klien dengan mengunyah permen karet rendah gula dan mengulum es batu (Solomon, 2006). Mengunyah permen karet selama 5 menit dapat meningkatkan saliva untuk mengurangi rasa haus dan xerostomia dengan jumlah rata-rata 2,7 mL - 2,8 mL per menit (Yahrini, 2009). Mengulum es batu selama 5 menit, efek rasa dingin dan air es yang mencair dapat menyebabkan menyegarkan mulut serta mengatasi rasa haus (Mayus, 2013).

Pengelolan kasus pada klien Tn.W dan Tn.G diagnosa kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi natrium serta cairan. Penulis mengimplementasi hasil riset pada

Tn.W dan Tn.G dengan anjuran “Mengunyah Permen Karet Rendah Gula dan Mengulum Es Batu Untuk Menghilangkan Rasa Haus” menurut Yahrini (2009) dalam Arfany N.W (2014), didapatkan hasil yang signifikan terhadap penurunan rasa haus pada Tn.W dan Tn.G yang dilakukan selama 3 hari, kedua klien mengatakan mgulum es batu selama 5 menit memberikan efek dingin didalam mulut dan air es yang mencair menyebabkan perasaan rasa haus yang dirasakan berkurang.

Adapun kesenjangan yang ditemukan penulis pada efektifitas

“Mengunyah Permen Karet Rendah Gula dan Mengulum Es Batu” pada prinsipnya tindakan ini diterapkan pada klien gagal ginjal kronik untuk mengurangi rasa haus pada klien tanpa adanya intervensi lain dan dilakukan selama 3 hari. Pengaplikasian pada klien terdapat intervensi lain yaitu mengkaji status cairan klien Tn.W dan Tn.G (BB harian, turgor kulit dan adanya edema, distensi vena leher, dan TTV) dan melakukan hasil riset

“Pemantauan Intake Output Cairan Untuk Mencegah Overlood Cairan” dan pengaplikasian tindakan hanya dapat dilakukan 3 hari. Sehubungan dengan overlood dapat dicegah melalui pembatasan intake cairan yang efektif serta efisien dan pentingnya program pembatasan cairan pada klien mencegah komplikasi serta mempertahankan kualitas hidup klien. Pemantauan dilakukan dengan cara mencatat jumlah cairan yang diminum dan jumlah urine setiap harinya pada chart / tabel (Shepherd, 2011).

Tabel 5.1.4.1 Chart Pemantauan Intake Output dan Analisa Keseimbangan Cairan dalam 24 jam

Hari ke

Cairan masuk (ml) Cairan keluar (ml) Makan &

minum Infus Injeksi Urine BAB IWL

Klien 1 / Tn.W

1 850 500 100 280 - 42,5

2 870 500 100 290 - 42,5

3 850 500 100 290 - 42,5

Klien 2 / Tn.G

1 600 500 24 250 100 27,5

2 600 500 24 260 100 27,5

3 630 500 24 310 100 27,5

Hasil pemantauan intake output pada klien Tn.W setiap harinya naik turun, balance cairan hari pertama +1.127,5 ml, hari kedua +1.137,5 ml, hari ketiga +1.117,5 ml, sedangkan klien Tn.G mengalami penurunan setiap harinya, balance cairan hari pertama +746,5 ml, hari kedua +736,5 ml, hari ketiga +686,5 ml. Berdasarkan pemantauan intake output selama 3 hari pada klien Tn.W dan Tn.G, terdapat balance cairan Tn.W naik turun dikarenakan klien tidak patuh terhadap pembatasan masukan cairan dibandingkan dengan klien Tn.G yang mengalami penurunan balance cairan setiap harinya dikarenakan klien mematuhi terhadap pembatasan masukan asupan cairan.

5.1.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi didefinisikan sebagai keputusan asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku klien yang tampil (Darmawan, 2012).

Evaluasi yang akan dilakukan oleh penulis disesuaikan dengan kondisi klien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat dilaksanakan dengan SOAP, subjektive, objektive, analisis, dan planning (Darmawan, 2012).

Pembahasan dari evaluasi yang meliputi subjektif, objektif, analisa, dan rencana. Evaluasi akhir diagnosa kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi natrium serta cairan yang dilakukan pada klien Tn.W tanggal 25 Mei 2017 jam 14.45 WIB adalah subyektif Tn.W mengatakan BAK sedikit lancar nyeri berkurang dan rasa haus berkurang, mulut dan tenggorokan terasa segar setelah mengunyah atau mengulum es batu. Evaluasi akhir pada klien Tn.G tanggal 26 Mei 2017 jam 15.30 WIB adalah subyektif Tn.G mengatakan BAK sedikit lancar dan rasa haus berkurang, mulut dan tenggorokan terasa segar setelah mengunyah atau mengulum es batu. Obyektif yaitu kedua klien tampak segar, mukosa bibir terlihat lembab, balance cairan Tn.W 140 ml sedangkan balance cairan Tn.G 84 ml. Analisa masalah ditingkatkan sebagian. Perencenaan tindak lanjut, pantau intake output serta hitung balance cairan, anjurkan mengunyah permen karet rendah gula dan mengulum es batu. Kolaborasi dengan keluarga dalam pemantauan cairan dam pembatasan asupan cairan.

Hasil evaluasi jurnal efektifitas “Mengunyah Permen Karet Rendah Gula dan Mengulum Es Batu” (Arfany, 2014) yang diaplikasikan pada klien Tn.W dan Tn.G untuk menurunkan rasa haus pada klien Tn.W dan Tn.G adalah cukup efektif berdasarkan respon yang dirasakan klien Tn.W dan Tn.G, dimana kedua klien sama-sama mengatakan mengulum es batu selama 5 menit memberikan efek dingin didalam mulut dan air es yang mencair menyebabkan perasaan rasa haus yang dirasakan berkurang.

Hasil evaluasi jurnal “Pemantauan Intake Output” (Anggraini, et, al., 2016) yang di aplikasikan pada klien Tn.W dan Tn.G untuk mencegah overlood cairan cukup efektif pada klien Tn.G dan Tn.W meskipun terdapat balance cairan yang naik turun pada klien Tn.W dikarenakan kurangnya tingkat kepatuhan pembatasan masukan asupan cairan. Keefektifan pembatasan jumlah cairan bergantung pada pengetahuan klien terhadap jumlah cairan yang boleh diminum, tingkat kepatuhan, dan disiplin ketat pembatasan masukan cairan.

69 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Bab VI ini penulis akan menyimpulkan proses keperawatan dari pengkajian, diagnosa, perencenaan, implementasi dan evaluasi tentang asuhan keperawatan pengaruh mengunyah permen karet rendah gula dan mengulum es batu untuk mengurangi rasa haus pada pasien yang mengalami gagal ginjal kronik dengan kelebihan cairan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan mengaplikasikan hasil penelitian efektifitas mengunyah permen karet rendah gula dan mengulum es batu sebagai upaya menurunkan rasa haus serta pemantauan intake output untuk mencegah overlood cairan pada pasien gagal ginjal kronik, maka dapat ditarik kesimpulan :

6.1.1 Pengkajian

Keluhan utama yang di rasakan pasien saat dilakukan pengkajian pasien Tn.W mengatakan sesak nafas sedangkan pasien Tn.G mengatakan sesak nafas disertai batuk namun sulit keluar dahak. Pasien belum terlalu tahu tentang penyakit gagal ginjal kronik, tubuh kehilangan energi, mudah gelisah, perasaan tak berdaya, perubahan tidur, nyeri saat duduk yang lama, dan putus asa. Tanda-tanda vital : pasien Tn.W yaitu TD 148/92 mmHg, RR 26x/m, HR 90x/m, S 36,6ºC tampak gelisah, terpasang selang oksigen nasal kanul sedangkan pasien Tn.G yaitu ; TD 150/80 mmHg, RR 27x/m, HR 80x/m, S 37ºC keadaan umum pasien lemah, tampak terpasang selang oksigen nasal kanul.

6.1.2 Diagnosa

Hasil perumusan masalah sesuai dengan pengkajian hierarki kebutuhan dasar menurut Maslow yaitu prioritas diagnosa pada Tn.W dan Tn.G yaitu Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi natrium serta cairan.

6.1.3 Intervensi

Intervensi yang dilakukan penulis diagnosa kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi cairan serta natrium pada kasus Tn.W dan Tn.G yaitu Monitoring status cairan pasien Tn.W dan Tn.G (BB harian, turgor kulit dan adanya edema, distensi vena leher, dan TTV), membatasi masukan cairan. Menganjurkan

“Mengunyah Permen Karet Rendah Gula dan Mengulum Es Batu”. Lakukan tindakan “Pemantauan Intake Output Cairan”. Kolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk berkelanjutan pemantauan cairan.

6.1.4 Implementasi

Dalam asuhan keperawatan pada Tn.W dan Tn.G dengan gagal ginjal kronik di ruang melati 1 telah sesuai dengan penulis rumuskan. Penulis menekankan efektivitas mengunyah permen karet renda gula dan mengulum es batu mengurangi rasa haus serta pemantauan intake output untuk mencegah overlood cairan.

6.1.5 Evaluasi

Hasil evaluasi masalah keperawatan diagnosa kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluran urine, diet berlebih, dan retensi cairan serta natrium pada kasus Tn.W dan Tn.G teratasi sebagian. Untuk

mencapai hasil yang maksimal intervensi ditingkatkan, anjurkan untuk mengunyah permen karet rendah gula dan mengulum es batu serta pantau intake output cairan.

6.1.6 Analisa

Analisa aplikasi jurnal penelitian yang telah dilakukan oleh Arfany, 2014 judul “Efektifitas Mengunyah Permen Karet Rendah Gula dan Mengulum Es Batu Terhadap Penurunan Rasa Haus Pada Pasien Penyakit

Analisa aplikasi jurnal penelitian yang telah dilakukan oleh Arfany, 2014 judul “Efektifitas Mengunyah Permen Karet Rendah Gula dan Mengulum Es Batu Terhadap Penurunan Rasa Haus Pada Pasien Penyakit

Dokumen terkait