Melihat tantangan dari lingkungan usaha di atas yang cukup sulit, Dewan Komisaris berpendapat bahwa Kinerja Direksi sudah baik. Namun demikian, diharapkan tahun depan untuk menjadi perhatian Direksi Bank Victoria agar dapat menurunkan dan menjaga rasio Non Performing Loan (NPL) tidak melampaui target RBB. Adapun dasar pertimbangan yang digunakan dalam penilaian Kinerja Direksi antara lain adalah sebagai berikut.
KineRJa Bisnis BanK
Pada 2015, Bank memiliki pertumbuhan aset, kredit dan DPK di atas pertumbuhan perbankan di tingkat Buku II. Pertumbuhan aset, kredit dan DPK Bank Victoria di 2015 masing-masing adalah sebesar 8,83%, 5,34%, dan 6,15%. Sedangkan pertumbuhan aset, kredit dan DPK di industri perbankan tingkat Buku II mengalami pertumbuhan negatif yaitu masing-masing sebesar (11,79%), (12,30%), dan (8,16%). Namun demikian dari sisi proitabilitas dan kualitas aktiva produktif Bank Victoria masih dibawah rata-rata bank. Pertumbuhan aset, kredit dan DPK Bank Victoria di 2015 telah berhasil meningkatkan pangsa pasar Bank pada di industri perbankan di tingkat BUKU II. Pangsa pasar Bank berdasarkan aset telah mengalami peningkatan dari 2,01% di 2014 menjadi 2,49% di 2015. Untuk pangsa pasar berdasarkan kredit, telah mengalami peningkatan dari 1,75% di 2014 menjadi 2,12% di 2015. Sedangkan pangsa pasar berdasarkan DPK mengalami peningkatan dari 2,59% di 2014 menjadi 2,99% di 2015.
Selain pencapaian kinerja bisnis, Dewan Komisaris juga menjalankan fungsi pengawasan dan pemberian pengarahan pada proses bisnis. Proses bisnis yang baik akan mendorong kinerja bisnis yang baik pula. Dewan Komisaris fokus terhadap implementasi manajemen risiko dan good corporate governance.
ManaJeMen RisiKo
Dewan Komisaris menilai bahwa sistem manajemen risiko telah diterapkan dengan baik. Dalam rangka penerapan manajemen risiko yang efektif, Direksi Bank telah menetapkan struktur organisasi yang disusun dengan kejelasan tugas dan tanggung jawab terkait penerapan manajemen risiko yang disesuaikan dengan tujuan dan kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas kegiatan usaha Bank. Kecukupan kerangka pendelegasian wewenang disesuaikan dengan karakteristik dan kompleksitas produk, tingkat risiko yang akan diambil Bank dan selaras dengan rencana strategis Bank.
Terdapat 8 (delapan) risiko yang dikelola Bank, yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko operasional, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko hukum dan risiko reputasi. Menurut pendapat Dewan Komisaris, kedelapan risiko
2015 PeRFoRManCe evaLUaTion
Recognizing the challenges from the business environment being tough, the Board of Commissioners considers that the performance of Board of Directors was satisfactory. However, in the years to come, the Board of Directors shall be able to lower and maintain Non-Performing Loans (NPL) ratios so as not to exceed the target stated in the Bank’s Business Plan (RBB). The rationales used in the evaluation of the Board of Directors’ performance are as follows.
THe BanK’s BUsiness PeRFoRManCe
In 2015, the Bank recorded growth in assets, lending and TPF that were above the average growth in the BUKU II banking category. Bank Victoria’s asset, lending and TPF growth was 8.83%, 5.34%, and 6.15%, respectively. Meanwhile, assets, lending and TPF growth rate on average in the BUKU II banking category was negative, i.e. (11.79%), (12.30%), and (8.16%), respectively. However, in terms of proitability and earnings assets quality, Bank Victoria’s performance was still lower than the average in the banking industry.
Growth in assets, lending and TPF of Bank Victoria in 2015 markedly increased the Bank’s market share in the BUKU II banking category. The Bank’s market share by assets experienced an increase from 2.01% in 2014 to 2.49% in 2015. Market share by lending increased from 1.75% in 2014 to 2.12% in 2015. Meanwhile, increase in market share by TPF was seen from 2.59% in 2014 to 2.99% in 2015.
Aside from the achievements in business, the Board of Commissioners has also performed the supervisory and advisory functions in relation to the business processes. Excellent business processes will boost business performance. The Board of Commissioners focuses on the performance in risk management and good corporate governance.
RisK ManaGeMenT
The Board of Commissioners considers that risk management has been duly performed. In order to apply an efective risk management, the Board of Directors has established an organization structure that is arranged with a clear deinition of duties and responsibilities related to risk management implementation in accordance with the Bank’s goals and business policy, as well as the size and complexity of the Bank’s business activities. The adequacy of the authority delegation framework is adjusted to the products’ characteristics and complexity, the risk level to be taken, and in line with the Bank’s strategic plan.
There are 8 (eight) risks managed by the Bank, namely: credit risk, liquidity risk, market risk, operational risk, strategic risk, compliance risk, legal risk, and reputation risk. In the Board of Commissioners’ view, all of the eight risks have been duly
tersebut telah dikelola dengan baik. Hasil penilaian risiko di 2015 menunjukkan bahwa kedelapan risiko masuk dalam peringkat low hingga low to moderate dan memiliki peringkat kualitas satisfactory.
Dalam rangka penerapan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 26/POJK.03/2015 tanggal 4 Desember 2015 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan, Dewan Komisaris juga berpendapat bahwa Bank telah melakukan penerapan manajemen permodalan terintegrasi terhadap Grup Victoria dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat dan meningkatkan usaha secara keseluruhan dengan baik.
GOOD CORPORATE GOVERNANCE
Implementasi Good Corporate Governance (GCG) menjadi perhatian utama bagi Dewan Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan dan pemberian nasehat kepada Direksi. Dewan Komisaris berpendapat bahwa Direksi telah menerapkan GCG dengan efektif dan konsisten di 2015. Bank Victoria senantiasa melakukan evaluasi penerapan GCG secara berkelanjutan, sehingga penerapan GCG akan selalu mengalami peningkatan.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 jo. Peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/15/DPNP/2013 tanggal 29 April 2013 perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, Bank telah melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas pelaksanaan GCG. Pada 2015, Bank Victoria memperoleh nilai komposit assessment pelaksanaan GCG sebesar 2 atau dalam kategori BAIK.
Sejalan dengan diterbitkannya POJK No. 18/POJK.03/2014 tentang Penerapan Tata Kelola Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan dan dikeluarkannya Surat Edaran OJK No. 15/SEOJK.03/2015, Bank Victoria telah ditunjuk sebagai entitas utama dari Group Victoria. Berkaitan dengan itu pada tanggal 25 Mei 2015, Bank Victoria telah melakukan perubahan struktur organisasi yang dibutuhkan, pembentukan Komite Tata Kelola Terintegrasi, penyusunan pedoman dan tata tertib Komite Tata Kelola Terintegrasi Grup Victoria, dan penyusunan Laporan Pelaksanaan Tata Kelola Terintegrasi.
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu dari penerapan GCG yang utama di Bank Victoria. Dewan Komisaris menilai bahwa pelaksanaan CSR sudah cukup efektif dan bagi Bank. Pelaksanaan CSR meliputi CSR terkait dengan lingkungan hidup; CSR terkait dengan ketenagakerjaan, kesehatan, dan keselamatan kerja; CSR terkait dengan pengembangan sosial dan kemasyarakatan; serta CSR terkait dengan tanggung jawab kepada konsumen. Pada tahun 2015, penggunaan dana untuk kegiatan pengembangan sosial kemasyarakatan mencapai sebesar Rp39.000.000 meningkat dibandingkan tahun 2014 yang sebesar Rp32.815.750.
managed. The risk evaluation result in 2015 shows that all of the eight risks were ranked Low to Low to Moderate, and have a satisfactory quality.
In order to implement the OJK Regulation No. 26/ POJK.03/2015 dated 4 December 2015 regarding the Obligation of Integrated Capital Adequacy for Financial Conglomerates, the Board of Commissioners concludes that the Bank has implemented integrated capital management for Victoria Group in order to maintain the trust of the public and improve its overall business.
GooD CoRPoRaTe GoveRnanCe
The implementation of Good Corporate Governance (GCG) becomes the main concern for the Board of Commissioners in performing its supervisory and advisory functions with regard to the Board of Directors. The Board of Commissioners concludes that the Board of Directors has efectively and consistently implemented GCG in 2015. Bank Victoria will continue to evaluate its GCG implementation to keep improving its performance.
Based on Bank Indonesia Regulation No. 8/4/PBI/2006 and Bank Indonesia Circular No. 15/15/DPNP/2013 on 29 April 2013 regarding the Implementation of Good Corporate Governance for Commercial Banks, the Bank performed self- assessment of its GCG implementation. In 2015, Bank Victoria achieved a composite score in the GCG implementation self- assessment of 2, which translates to the Good category.
In line with the issuance of OJK Regulation No. 18/ POJK.03/2014 concerning the Implementation of Integrated Governance for Financial Conglomerates and the issuance of OJK Circular No. 15/SEOJK.03/2015, Bank Victoria has been appointed as the main entity of Victoria Group. In this regard, on 25 May 2015, Bank Victoria performed the necessary changes to the organization structure, established the Integrated Governance Committee, prepared the guidelines and code of conductas well as the Integrated Governance Implementation Report.
CoRPoRaTe soCiaL ResPonsiBiLiTY
Corporate Social Responsibility (CSR) is one of the main GCG implementation measures in Bank Victoria. The Board of Commissioners considers that CSR implementation has been adequately efective for the Bank. There are four categories of CSR: CSR related to the environment; CSR related to employment, health, and safety; CSR related to social development; and CSR related to consumers. In 2015, the total funds incurred for social development were Rp39,000,000, higher than funding in 2014, which was Rp32,815,750.
PanDanGan aTas PRosPeK
UsaHa BanK
Bank Indonesia telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai kisaran 5,2%-5,6% yoy di 2016. Di tengah dinamika ekonomi global, upaya Pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan efektivitas stimulus iskal akan memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di 2016.
Pada sektor Perbankan, stabilitas keuangan tetap solid ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan relatif terjaganya kinerja pasar keuangan. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengen risiko-risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 optimis akan berada pada kondisi yang baik.
Dewan Komisaris memandang bahwa Direksi akan mampu memanfaatkan peluang yang ada dan optimis bahwa prospek usaha yang telah disusun oleh Direksi telah sesuai. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa Direksi telah menyusun strategi-strategi pengembangan usaha yang tepat. Sehingga diharapkan Proitabiltas dan kualitas aktiva produktif membaik. Di lain pihak melalui anak perusahaannya Bank Victoria Syariah, Direksi juga telah memprioritaskan pengembangan target UKM untuk mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah.
PeniLaian KineRJa KoMiTe-KoMiTe
Di BaWaH DeWan KoMisaRis
Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Komisaris dibantu oleh Komite Penunjang yaitu Komite Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi, Komite Pemantau Risiko. Untuk menjalankan POJK No. 18/POJK.03/2014 tentang Penerapan Tata Kelola Terintegrasi Bagi Konglomerasi Keuangan, Dewan Komisaris telah membentuk Komite Tata Kelola Terintegrasi.
Dewan Komisaris menilai bahwa selama 2015, komite- komite tersebut telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan efektif. Penilaian atas kinerja komite- komite di bawah Dewan Komisaris disajikan sebagai berikut.