• Tidak ada hasil yang ditemukan

IndikatorKinerjaUtama (IKU) BNN Tahun 2011

PENJELASAN 33 INDIKATOR KINERJA UTAMA BNN SEBAGAI BERIKUT:

B. Evaluasi Kinerja

Evaluasi akuntabilitas kinerja adalah kegiatan analisis dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi atas masalah yang ditemukan untuk tujuan peningkatan kinerja dan akuntabilitas organisasi sedangkan evaluasi kinerja dilakukan untuk melihat keberhasilan dan kegagaln suatu organisasi atau unit kerja dalam melaksanakan misi yang dibebankan kepadanya.

Badan Narkotika Nasional dalam melakukan analisis yang berkaitan dengan pencapaian kinerja tahun berjalan, dengan menyajikan perkembangan capaian baik dalam bentuk narasi maupun tabel atau grafik.

Capaian kinerja BNN satu tahun merupakan kelanjutan dari capaian kinerja periode tahun sebelumnya, dan merupakan arah untuk capaian pada periode berikutnya, khususnya yang ada di dalam Rencana Strategis ( Renstra). Ditinjau dari capaian kinerja masing-masing sasaran untuk tahun 2011, BNN telah dapat melaksanakan kegiatan dan tugas utama yang menjadi tanggung jawab organisasi.

Berikut ini diuraikan kinerja capaian BNN tahun 2011 dilihat dari masing-masing sasaran strategis yang telah ditetapkan, yaitu :

1 1 . .

Sasaran : Meningkatnya pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat rentan/resiko tinggi, dan lingkungan keluarga terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Keberhasilan BNN Pada di Bidang Pencegahan BNNdalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010.Dan telah berhasil melaksanakan 4 (empat) Indikator kinerja yang sudah

ditentukan, indikator kinerja ini dalam rangka Meningkatnya pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat rentan/resiko tinggi, dan lingkungan keluarga terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

Keberhasilan yang dicapai Bidang Pencegahan BNNdengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikut:

No Indikator kinerja Target Realisasi %

1. % Siswa yang bersikap positif terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

NARASIKAN

No Indikator kinerja Target Realisasi %

2 % Mahasiswa yang bersikap positif terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

NARASIKAN

No Indikator kinerja Target Realisasi %

3. % Pekerja swasta yang bersikap positif terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

NARASIKAN

No Indikator kinerja Target Realisasi %

4. % Anggota PNS/TNI/POLRI yang bersikap positif terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap NARASIKAN

2 2 . .

Sasaran : Meningkatnya peranan instansi pemerintah dan kelompok masyarakat dalam upaya menciptakan dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Keberhasilan BNN Pada di Bidang Pencegahan BNNdalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010. Dan telah berhasil melaksanakan 3(tiga) Indikator kinerja yang sudah ditentukan, indikator kinerja ini dalam rangka Meningkatnya peranan instansi pemerintah dan kelompok masyarakat dalam upaya menciptakan dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Keberhasilan yang dicapai Bidang Pencegahan BNNdengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikut:

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

1. % Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah yang melaksanakan kebijakan

NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

2 % Organisasi Sosial Kemasyarakatan tingkat pusat dan daerah yang terlibat dalam upaya pencegahan dan

pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

3 % Kelompok Masyarakat tingkat pusat dan daerah yang terbentuk dan turut serta menciptakan dan meningkatkan

No Indikator Kinerja Target Realisasi % pengetahuan, pemahaman, dan

kesadaran terhadap bahaya penyalahguna-an dan peredaran gelap narkoba

NARASIKAN

3 3 . .

Sasaran : Terciptanya lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat rentan/resiko tinggi, dan lingkungan keluarga bebas narkoba melalui peran serta instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat, bangsa, dan negara.

Keberhasilan BNN Pada di Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNNdalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010. Dan telah berhasil melaksanakan 5(lima) Indikator kinerja yang sudah ditentukan, indikator kinerja ini dalam rangka Terciptanya lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat rentan/resiko tinggi, dan lingkungan keluarga bebas narkoba melalui peran serta instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat, bangsa, dan negara.

Keberhasilan yang dicapai Bidang Pemebrdayaan Masyarakat BNNdengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikut:

No Indikator Target Realisasi %

1. % Lingkungan sekolah bebas narkoba

NARASIKAN

No Indikator Target Realisasi %

2. % Lingkungan perguruan tinggi bebas narkoba

NARASIKAN

No Indikator Target Realisasi %

3. % Lingkungan kerja swasta bebas narkoba

NARASIKAN

No Indikator Target Realisasi %

4. % Lingkungan instansi pemerintah bebas narkoba

NARASIKAN

No Indikator Target Realisasi %

5 % Lingkungan masyarakat bebas narkoba (tingkat Kecamatan NARASIKAN

4 4 . .

Sasaran : Menurunnya tingkat kerawanan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

Keberhasilan BNN Pada di Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNNdalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010. Dan telah berhasil melaksanakan 3(tiga) Indikator kinerja yang sudah ditentukan, indikator kinerja ini dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat rentan/resiko tinggi, dan

lingkungan keluarga bebas narkoba melalui peran serta instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat, bangsa, dan negara.

Keberhasilan yang dicapai Bidang Pemeberdayaan Masyarakat BNNdengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikut:

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

1. % Penduduk Kampung Ambon yang bersikap positif terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba

NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

2. % Penurunan penyalahgunaan narkoba di Kampung Ambon

NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

3 % Pengungkapan jaringan peredaran gelap narkoba di Kampung Ambon NARASIKAN

.

5 5 . .

Sasaran : Menurunnya produksi ganja dan kawasan rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba melalui program pengembangan alternatif/ pengembangan alternatif di Provinsi Aceh

Keberhasilan BNN Pada di Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNNdalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010. Dan telah berhasil melaksanakan 4(empat) Indikator kinerja yang sudah

ditentukan, indikator kinerja ini dalam upaya Menurunnya produksi ganja dan kawasan rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba melalui program pengembangan alternatif/ pengembangan alternatif di Provinsi Aceh

Keberhasilan yang dicapai Bidang Pemeberdayaan Masyarakat BNNdengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikut:

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

1. Area lahan ganja yang beralih fungsi

3 Ha 3 Ha 100

NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

2 Jumlah kawasan rawan

penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang dibina melalui pengembangan alternatif

NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

3 Jumlah penanam ganja yang beralih ke usaha legal produktif NARASIKAN

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

4 Jumlah pelaku tindak kejahatan narkoba yang beralih ke usaha legal produktif

NARASIKAN

6 6 . .

Sasaran : Meningkatnya pelayanan program terapi dan rehabilitasi penyalahguna dan atau pecandu narkoba dan kapasitas lembaga rehabilitasi medis dan sosial

Keberhasilan BNN Pada di Bidang Rehabilitasidalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010.

Dan telah berhasil melaksanakan 4(empat) Indikator kinerja yang sudah ditentukan, indikator kinerja ini dalam upaya Meningkatnya pelayanan program terapi dan rehabilitasi penyalahguna dan atau pecandu narkoba dan kapasitas lembaga rehabilitasi medis dan sosial

Keberhasilan yang dicapai Bidang Rehabiliatsi dengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikut:

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

1. % Penyalahguna dan/atau pecandu narkoba (teratur pakai dan pecandu) yang mengikuti program Terapi & Rehabilitasi

10%

(5.585 orang)

10%

(5.586 orang)

100%

Dari tabel di atas, pencapaian Deputi Bidang Rehabilitasi BNN mencapai 100% dari target yang ditetapkan. Prosentase Penyalah Guna dan/atau Pecandu Narkoba (Teratur Pakai dan Pecandu) yang Mengikuti Program Terapi dan Rehabilitasi target yang ditetapkan pada penetapan kinerja adalah peningkatan 10% atau 5.585 orang. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencapaian tersebut adalah sosialisasi tentang PP Nomor 25 Tentang Wajib Lapor, pelayanan rehabilitasi oleh lembaga rehabilitasi instansi pemerintah, pelayanan rehabilitasi oleh lembaga rehabilitasi komponen masyarakat, hasil monitoring penyalah guna narkoba di lembaga-lembaga rehabilitasi serta penguatan lembaga rehabilitasi yang dikelola oleh instansi pemerintah maupun komponen masyarakat. Selain hal tersebut juga dikarenakan adanya peningkatan kemampuan petugas rehabilitasi pada instansi pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada pecandu, serta pelayanan rehabilitasi, penjangkauan dan pendampingan yang dilakukan oleh lembaga rehabilitasi komponen masyarakat, dalam rangka peningkatan pemulihan penyalah guna dan/atau pecandu narkoba.

Pentingnya pelayanan rehabilitasi bagi korban penyalah guna narkoba dalam mendukung program P4GN sebagai salah satu upaya untuk menekan permintaan akan narkoba di kalangan penyalah guna. Karena itu jumlah penyalah guna narkoba yang mengikuti pelayanan rehabilitasi harus terus ditingkatkan setiap tahunnya.Selain sebagai salah satu upaya untuk menekan angka permintaan narkoba, peningkatan pelayanan rehabilitasi terhadap penyalah guna narkoba memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup sehingga pada akhirnya mereka dapat kembali hidup secara normal di masyarakat.

Pelayanan kepada korban penyalah guna narkoba yang mengikuti program rehabilitasi dilakukan oleh 2 (dua) direktorat yang berada di bawah Deputi Bidang Rehabilitasi yaitu Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah (PLRIP) dan

Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat (PLRKM).

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat PLRIP diselenggarakan dalam dua bentuk yaitu layanan rehabilitasi Nonkomunitas Terapeutik (Non-TC) dan layanan rehabilitasi Komunitas Terapeutik (TC).Dengan metode komunitas terapetik diharapkan penyalahguna dapat pulih dari penyalahgunaan narkoba, sehingga dengan metode TC tersebut penyalahguna mendapatkan pengetahuan tentang adiksi, disiplin diri/ saving behaviour, dan dapat mempertahankan pemulihannya (mencegah relaps). Permasalahannya penyalah guna sering merasa bosan karena metode TC mengharuskan penyalahguna untuk menginap di lembaga rehabilitasi dalam waktu minimal 6 bulan dengan capaian 1.100 orang penyalah guna. Sementara pada pelaksanaan program non komunitas terapeutik capaian target penyalah guna yang mengkuti program Nonkomunitas terapeutik pada instansi pemerintah sebanyak 2.206 orang. Sejumlah 2206 penyalah guna tersebut berada di 15 propinsi diIndonesia (data terlampir). Dengan metode nonkomunitas terapetik diharapkan penyalah guna dapat pulih seperti semula.

Pada pelaksanaan kegiatan di lingkungan Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitsi Komponen Masyarakat (PLRKM) pelayanan rehabilitasi

penyalah guna narkoba juga diselenggarakan dalam dua bentuk yaitu layanan rehabilitasi Nonkomunitas Terapeutik (Non-TC) dan layanan rehabilitasi Komunitas Terapeutik (TC).

Pertama untuk bentuk rehabilitasi Non-TC (OSC, ORC dan CBU) diberikan dukungan bagi penyalah guna dan/atau pecandu narkoba berupa Focus Group Discussion (FGD), bantuan test urine, pelayanan rujukan kesehatan dan pertemuan recovering addict melalui outing yang dilakukan di 4 propinsi yaitu Jakarta, Makasar, Bandung dan Medan. Bantuan Focus Group Discussion (FGD) bertujuan untuk memberikan pembinaan dan konsultasi yang difokuskan pada perubahan perilaku penyalahgunaan klien menuju abstinensia.

Sedangkan bantuan tes urine bertujuan untuk memantau penyalahgunaan yang dilakukan klien dalam proses pemulihan. Kemudian bantuan rujukan kesehatan bertujuan agar klien mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas yang dibutuhkannya akibat penyalahgunaan narkoba dengan harga dan lokasi yang terjangkau. Pertemuan recovering addict melalui outing bertujuan agar para pecandu yang sedang menjalani program rehabilitasi bersosialisasi dengan masyarakat dalam rangka proses pemulihan.

Bentuk layanan kedua yaitu rehabilitasi komunitas terapeutik (TC), selain dukungan yang disebutkan diatas juga diberikandukungan residensial.

Bantuan residensial hanya diberikan kepada lembaga rehabilitasi yang menjalankan program TC. Dimana bantuan tersebut ditujukan untuk membantu biaya makan klien yang sedang dalam proses rehabilitasi rawat inap.

Dari pelaksanaan program Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat, korban penyalah guna narkoba yang telah mendapat pelayanan rehabilitasi berjumlah 2.280 orang. Dengan adanya dukungan tersebut diharapan bahwa penyalah guna yang telah melakukan rehabilitasi tersebut dapat pulih dan kembali ke masyarakat, dan dapat menajlankan kehidupannya dengan keluarga dan masyarakat.

Dari pelaksanaan kegiatan di 2 (dua) direktorat tersebut, korban penyalah guna narkoba yang telah mendapat pelayanan rehabilitasi berjumlah 5.586 orang.Dengan demikian, pencapaian tersebut telah sesuai dengan target peningkatan 10%. Daftar hasil pencapaian dapat terlihat dalam tabel berikut:

Tabel Jumlah Korban Penyalah Guna Narkoba yang Mendapat Pelayanan Tahun 2011

Provinsi Target Penyalah

Guna Realisasi %

1 Aceh 242 207 85,84

2 Sumatera Utara 260 469 180,38

3 Sumatera Barat 140 282 201,43

4 Riau 142 156 109,86

5 Kep. Riau 90 40 44,44

6 Jambi 60 20 33,33

7 Sumatera Selatan 180 112 62,22

8 Lampung 303 340 112,21

9 Bangka Belitung 60 40 66,67

10 Banten 270 165 61,11

11 DKI Jakarta 603 636 105,47

12 Jawa Barat 850 646 76

13 Jawa Tengah 342 320 93,57

14 D I Yogyakarta 120 100 83,33

15 Jawa Timur 335 311 92,84

16 Bali 200 105 52,5

17 Nusa Tenggara Barat 90 61 67,78

18 Nusa Tengga Timur 110 80 72,73

19 Kalimantan Barat 262 358 136,64

20 Kalimantan Tengah 20 20 100

21 Kalimantan Selatan 80 40 50

22 Kalimantan Timur 40 60 150

23 Sulawesi Utara 222 171 77,03

24 Gorontalo 122 108 88,52

25 Sulawesi Barat 40 20 50

26 Sulawesi Selatan 220 532 241,82

27 Sulawesi Tenggara 40 20 50

28 Maluku 142 167 117,61

Jumlah 5.585 5.586 100,02

Pencapaian di atas merupakan hasil sinergisitas dan kerjasama antara Deputi Bidang Rehabilitasi BNN dengan instansi-instansi terkait yang juga bergerak melaksanakan pelayanan rehabilitasi korban penyalah guna narkoba.Instansi-instansi tersebut antara lain Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BNNP, BNNK serta LSM yang bergerak di bidang rehabilitasi korban penyalah guna narkoba.

No Indikator Kinerja Target Realisasi % 2 % Penyalahguna dan/atau

pecandu narkoba (teratur pakai dan pecandu) yang lulus program (Complete Program) Terapi dan

70%

(350 orang) 500 org

472 Orang

94,40

% NARASIKAN

Di tahun 2011Keberhasilan BNN Pada di Bidang Rehabilitasidalam melaksanakan kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja yang ditetapkan sesuai amanat dalam Permen PAN R&B nomor 29 tahun 2010.

Dan telah berhasil melaksanakan Indikator kinerja sesuai dalam Penetapan Kinerja UPT T&R, indikator kinerja ini dalam upaya Meningkatnya pelaksanaan program pascarehabilitasi penyalahguna dan/atau pecandu narkobayang berada di Unit Pelayanan Teknis (UPT) T&R yang berada di Lido Bogor Jawa Barat.Keberhasilan yang dicapai Bidang Rehabilitasi dengan realisasi kegiatan di ukur melalui matrik Pengukuran Kinerja sebagai berikutSasaran tersebut di atas merupakan sasaran yang menjadi indikator keberhasilan BNN di bidang Rehabilitasi, berikut ini adalah target dan realisasi capaian sebagai berikut:

Pada tahun 2011 UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN mempunyai target sesuai dengan penetapan kinerja yang tertuang didalam rencana strategi BNN pada tahun 2010-2014 adalah sebesar 500 orang, akan tetapi didalam pelaksanaannya bahwa capaian kinerja UPT dalam memberikan pelayanan kepada korban penyalahguna narkoba hanya mencapai 94,40 % atau 472 orang, dapat dirinci sebagai berikut : residen yang telah mengikuti pelayanan secara komplit program sebanyak 287 orang (60,8%), sedangkan residen tidak komplit (prematur program) hanya mengikuti detoksifikasi sebanyak 185 orang (39,2%).Terdata jumlah kunjungan residen di UPT Terapi dan Rehabilitasi pada tahun 2011 sebanyak 1088 orang terdiri dari residen lanjutan pada tahun 2010 sebanyak 286 orang, dan sampai dengan akhir tahun anggaran 2011 terdapat 404 orang yang masih melanjutkan program T&R ke tahun 2012

Alur pelayanan program terapi dan rehabilitasi penyalahguna dan atau pecandu narkoba berbasis komunitas di UPT Terapi & Rehabilitasi :

K

egiatan pelayanan program terapi dan rehabilitasi penyalahguna dan atau pecandu narkoba berbasis komunitas di UPT Terapi & Rehabilitasi :

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

3 % Lembaga Rehabilitasi milik instansi pemerintah yang mendapatkan peningkatan kapasitas (Capacity Building)

5% (84 Lembaga)

5%(84 Lembaga)

100%

Dari tabel di atas, pencapaian Deputi Bidang Rehabilitasi BNN mencapai 100% dari target yang ditetapkan. Pentingnya Lembaga Rehabilitasi Milik Instansi Pemerintah yang Mendapatkan Peningkatan Kapasitas (Capacity Building) sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian peningkatanpenyalah guna dan/atau pecandu Narkoba (teratur pakai dan pecandu) yang mengikuti program rehabilitasi. Hal tersebut karena kapasitas pada lembaga-lembaga rehabilitasi yang ada sangat kurang dibandingkan dengan jumlah korban penyalah guna narkoba yang berada di masyarakat. Dari data yang ada, jumlah kapasitas lembaga rehabilitasi di Indonesia hanya tersedia untuk 18.000 orang, jumlah tersebut sangat memprihatinkan berbanding dengan jumlah prevalensi korban penyalah guna narkoba 3,2 juta orang. Maka dari itu, indikator ini sangat penting guna meningkatkan kapasitas lembaga rehabilitasi yang sudah ada.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam mendukung pencapaian kinerja ini terbagi dalam 2 program dukungan lembaga rehabilitasi yaitu dukungan kepada lembaga rehabilitasi komunitas

terapeutik instansi pemerintah serta dukungan kepada lembaga rehabilitasi non komunitas terapeutik instansi pemerintah.

Pada pelaksanaannya, kegiatan yang dilakukan adalah memberikan dukungan operasional lembaga rehabilitasi yang dikelola oleh instansi pemerintah, meningkatkan pengetahuan sumber daya manusia yang bertugas di lembaga-lembaga tersebut serta mensosialisasikan PP Nomor 25 tentang Wajib Lapor kepada lembaga-lembaga tersebut serta membantu mempersiapkan pelaksanaan PP tersebut.

Dukungan terhadap lembaga juga diberikan kepada lembaga yang dikelola oleh instansi pemerintah, yang pada tahun 2011 dukungan diberikan kepada 84 lembaga yang terdiri dari 24 lembaga rehabilitasi penyalah guna narkoba dengan layanan Terapeutic Community (TC), dan 60 lembaga rehabilitasi penyalah guna narkoba dengan layanan Non Terapeutic Community (Non TC).

Pada pelaksanaan dukunganlembaga rehabilitasi komunitas terapeutik, penguatan dan fasilitasi diberikan kepada petugas yang bertugas di 24 lembaga rehabilitasi tersebut. Tujuannya meningkatkan kapasitas petugas sehingga dapat meningkatkan kemampuan pelayanan lembaga tersebut dalam memberikan pelayanan khususnya metode TC. Sejumlah 24 lembaga tsb terdiri dari Lapas/ Rutan, Rumah Sakit Jiwa dan panti rehabilitasi sosial.

Permasalahan yang dihadapi Memerlukan waktu yg lama dan program ini terdiri dari beberpa tahap yang memerlukan rawat inap (inpatient) sehingga memerlukan cost yang besar, tidak semua kasus sama.

Sementara pada pelaksanaan dukungan lembaga rehabilitasi non komunitas terapeutik instansi pemerintah (metode non TC merupakan metode seperti, terapi medis, terapi religi, 12 langkah, Narcotics Annomyous (NA), Cognitif Behaviour Therapy (CBT), Motivational Interviweing (MI), Motivational Enhancement Therapy (MET), dll terkecuali TC. Metode tersebut diberikan kepada petugas yang bertugas di 60 lembaga tersebut. Tujuannya untuk

meningkatkan kapasitas petugas sehingga dapat meningkatkan kemampuan pelayanan lembaga tersebut dalam memberikan pelayanan khususnya metode Non TC. 60 lembaga tersebut terdiri dari Puskesmas dan Rumah Sakit (RSUD, RSJ, RS Polri).

Dukungan operasional diberikankepada lembaga pemerintah dengan program Outreach Centre (ORC) yang dikelola oleh 8 puskesmas berada di 6 provinsi yaitu Puskesmas Tebet Jakarta, Puskesmas Kasi-kasi Makassar Sulawesi Selatan, Puskesmas Tamalate Makassar Sulawesi Selatan,

Puskesmas Biaro Kabupaten Agam Sumatera Barat, Puskesmas Sukaraja Bandar Lampung, Puskesmas Kampung Bali Jakarta, Unitra Butterfly Balikpapan Kalimantan Timur, Puskesmas Pidie Aceh.

Penguatan lainnya adalah dukungan operasional pada lembaga rehabilitasi instansi pemerintah yang telah bekerjasama dengan Deputi Bidang Rehabilitasi dalam penanggulangan korban penyalahguna narkoba dalam program One Stop Center (OSC), yang berada di 9 provinsi, terdiri dari 6 rumah sakit (Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Aceh, DKI Jakarta, Lampung), dan 3 Lembaga Permasyarakatan

(Kalimantan Barat, Riau, Jawa Tengah).

Untuk mendukung program wajib lapor pecandu narkoba, diberikan fasilitasi atau penguatan melalui peningkatan kemampuan asesmen dan rencana terapi untuk meningkatkan kepekaan petugas

puskesmas dan rumah sakit dalam menerima pecandu lapor diri. Kegiatan ini dilaksanakan di 15 provinsi yang melibatkan 428 petugas, serta 450 tokoh masyarakat dan kelompok jejaring anti narkoba. Selain asesmen dan rencana terapi diberikan juga kemampuan dalam pelaksanaan program modalitas terapi dengan metode TC berupa workshop kepada petugas rumah sakit jiwa dan

lapas/rutan. Kegiatan Workshop TC dilaksanakan di 9 provinsi dengan melibatkan 275 petugas dirumah sakit jiwa dan lapas/rutan.

Permasalahan yang dihadapi dalam metode ini tidak dapat dilakukan secara serentak, kemampuan petugas diperoleh secara bertahap sehingga petugas hanya mempu memberikan pelayanan secara bertahap menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

Selain dua sasaran strategi di atas, Deputi Bidang Rehabilitasi mendapat tugas untuk memfasilitasi pusat rehabilitasi dengan membangun tempat rehabilitasi di dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan provinsi Kalimantan Timur.

Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM serta Dinas Kesehatan Provinsi.

Kendala yang terjadi selama pelaksanaan adalah tempat-tempat rehabilitasi yang difasilitasi oleh Deputi Bidang Rehabilitasi merupakan milik Kementerian Kesehatan (Rumah Sakit dan Puskesmas), Kemeterian Sosial (Panti Rehabilitasi), Kementerian Hukum dan HAM (Lapas/Rutan), sehingga mengalami kendala dalam pengawasan dan sistem pelaporan, karena kegiatan ini merupakan kewenangan kementerian terkait.

No Indikator Kinerja Target Realisasi %

4 % Lembaga Rehabilitasi milik komponen masyarakat yang mendapatkan peningkatan kapasitas (Capacity Building)

5% (96 lembaga)

5% (96

lembaga)

100%

Dari tabel di atas, pencapaian Deputi Bidang Rehabilitasi BNN mencapai 100% dari target yang

ditetapkan, pentingnya Lembaga Rehabilitasi Milik Komponen Masyarakat yang Mendapatkan Peningkatan Kapasitas (Capacity Building) sangat diperlukan untuk mencapaian peningkatanpenyalah guna

dan/atau pecandu narkoba (teratur pakai dan pecandu) yang mengikuti

program terapi dan rehabilitasi. Hal tersebut karena kapasitas pada lembaga-lembaga rehabilitasi yang ada sangat kurang dibandingkan dengan jumlah korban penyalah guna narkoba yang berada di masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam mendukung pencapaian kinerja ini terbagi dalam 2 program dukungan lembaga rehabilitasi yaitu dukungan kepada lembaga rehabilitasi komunitas terapeutik (TC) komponen masyarakat serta dukungan kepada lembaga rehabilitasi nonkomunitas terapeutik (NTC) komponen masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah memberikan dukungan operasional bagi lembaga-lembaga rehabilitasi milik komponen masyarakat berupa bantuan operasional,

peningkatan pengetahuan bagi petugas rehabilitasi, serta penunjukan koordinator regional dan wilayah yang bertugas untuk membina dan mengawasi pelaksanaan program di lembaga-lembaga rehabilitasi tersebut.

Dukungan yang diberikan antara lain berupa honorarium untuk 3 orang petugas penjangkau atau konselor, asistensi program TC selama 2 (dua) bulan dan peningkatan kemampuan dan keterampilan bagi petugas rehabilitasi komponen masyarakat. Bantuan honorarium bagi 3 orang petugas penjangkau atau konselor ditujukan untuk memberikan dukungan operasional bagi proses penjangkauan dan pendampingan klien. selama waktu 6 bulan untuk lembaga yang baru didukung dan dukungan 12 bulan untuk lembaga rehabilitasi yang telah didukung sebelumnya.

Sedangkan bantuan assistensi program TC ditujukan untuk membimbing lembaga rehabilitasi yang memberikan pelayanan rehabilitasi

Sedangkan bantuan assistensi program TC ditujukan untuk membimbing lembaga rehabilitasi yang memberikan pelayanan rehabilitasi

Dokumen terkait