• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Kualitas Udara berdasarkan Parameter

Dalam dokumen SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015 (Halaman 29-33)

2.7.5.1. Parameter NO2

Konsentrasi NO2 berkisar diantara 30-50 μg/Nm³ dengan konsentrasi tertinggi terdapat pada lokasi Kuningan pada tanggal 1-2 Juli yaitu sebesar 96,1 μg/Nm³. Kuningan merupakan kawasan perkantoran dan pusat bisnis dengan lalu lintas kendaraan yang tinggi. Jumlah NO2 dipengaruhi oleh aktivitas yang melibatkan pembakaran bahan bakar fosil seperti pembangkit tenaga listrik dan kendaraan bermotor sehingga lokasi dengan jumlah kendaraan yang tinggi memiliki konsentrasi NO2 yang lebih tinggi daripada lokasi yang memiliki jumlah kendaraan yang sedikit. Lokasi dengan aktivitas pembakaran dengan bahan bakar fosil juga memiliki konsentrasi NO2 yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi dengan aktivitas pembakaran yang kecil atau tidak ada.

Kecenderungan kualitas NO2 dari pengukuran Bulan Juli sampai dengan Bulan Agustus adalah konsentrasi NO2 turun dari tanggal pengukuran 8-9 Juli sampai dengan tanggal 29-30 Juli, kemudian

pengukuran. Pada Tahun 2015, Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 18-19 Juli, yang mana aktivitas menjelang Idul Fitri akan turun secara drastis sehingga kualitas udara di DKI Jakarta menjadi lebih baik. Konsentrasi NO2 naik kembali pada awal bulan Agustus, dimana aktivitas perkantoran mulai berjalan dengan normal, kendaraan yang lalu-lalang juga sudah kembali normal sehingga konsentrasi NO2 yang bersumber dari aktivitas pembakaran dengan bahan bakar fosil juga kembali naik.

Kadar nitrogen oksida di udara perkotaan biasanya 10–100 kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar nitrogen oksida di udara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi nitrogen oksida dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama nitrogen oksida yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi nitrogen oksida buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin. Kadar nitrogen oksida di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar matahari dan aktivitas kendaraan bermotor.

2.7.5.2. Parameter SO2

Sulfur dioksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak mudah terbakar diudara gas belerang dioksida SO2 tidak berwarna, dan berbau sangat tajam. Gas belerang dioksida dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa yang mengandung unsur belerang. Sumber pokok (pembangkit tenaga listrik, pabrik pembakaran, pertambangan dan pengolahan logam), sumber daerah (pemanasan domestik dan distrik), dan sumber bergerak (mesin diesel). Lokasi yang berdekatan dengan industri, maupun lokasi yang memiliki traffic tinggi akan memiliki konsentrasi SO2 yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi yang letaknya jauh dari industri dan memiliki traffic rendah. Konsentrasi SO2 tertinggi, yaitu sebesar 91,7μg/Nm³ terdapat pada lokasi Kuningaan tanggal 1-2 Juli, yaitu sama dengan tanggal dan tempat dengan konsentrasi NO2 tertinggi.

Kecenderungan kualitas SO2 dari pengukuran Bulan Juli sampai dengan Bulan Agustus adalah konsentrasi SO2 turun dari tanggal pengukuran 8-9 Juli sampai dengan tanggal 29-30 Juli, kemudian naik kembali di awal Agustus; yaitu sama dengan konsentrasi NO2. Fluktuasi konsentrasi SO2

dipengaruhi oleh aktivitas di sekitar tempat pengukuran, yaitu adanya Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 18-19 Juli. Adanya hari raya lebaran menyebabkan pergerakan kendaraan bermotor keluar dari DKI Jakarta sehingga konsentrasi pencemar yang disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor dapat turun. Konsentrasi SO2 naik kembali pada awal bulan Agustus, dimana aktivitas perkantoran mulai berjalan dengan normal, kendaraan yang lalu-lalang juga sudah kembali normal sehingga konsentrasi SO2 yang bersumber dari aktivitas pembakaran dengan bahan bakar fosil juga kembali naik.

Efek–efek SO2 dalam berbagai variasi konsentrasi dapat menimbulkan penyakit seperti pada konsentrasi 185 µg/m3 penyakit paru–paru dan saluran pernapasan meningkat. 0,19 ppm menyebabkan

tingginya angka kematian. 0,25 ppm bergabung dengan asap (smoke) pada konsentrasi 750 µg/m3 sehingga menaikkan angka kematian harian dan kenaikan tajam angka kesakitan (Kenneth and Warner, 1981). Tingginya kadar SO2 di udara merupakan salah satu penyebab terjadinya hujan asam. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman.

2.7.5.3. Parameter CO

Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama dengan bahan bakar bensin. Berdasar estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta Ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang menggunakan bensin dan sepertiga berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran batu bara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik. Konsentrasi CO tertinggi terpantau pada lokasi JIEP pada tanggal 29-30 Agustus yaitu sebesar 2098 μg/Nm³. JIEP merupakan kawasan industri yang terletak di Pulogadung yang memiliki aktivitas produksi yang tinggi. Lokasi ini merupakan sumber emisi tidak bergerak yang menggunakan berbagai jenis bahan bakar pada proses produksinya.

Kecenderungan konsentrasi CO pada periode pengukuran Bulan Juli dan Agustus hampir sama dengan

trend konsentrasi NO2 dan SO2, yaitu turun pada awal sampai akhir Juli, kemudian naik kembali pada awal Bulan Agustus. Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin. Sumber CO antara lain kendaraan bermotor, terutama pengguna bahan bakar bensin. Berdasarkan laporan WHO (1992), dinyatakan paling tidak 90 persen dari CO di udara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor, sisanya berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran batu bara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik. Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Dalam beberapa penelitian ditemukan kadar CO cukup tinggi di dalam kendaraan sedan maupun bus. Sumber lain CO adalah gas arang batu yang mengandung lebih 5 persen CO, yaitu alat pemanas berbahan bakar gas, lemari es gas, kompor gas, dan cerobong asap yang bekerja tidak baik. Bila aktivitas yang berkaitan dengan konsentrasi CO seperti aktivitas kendaraan dan industri menurun, maka konsentrasi CO di udara juga akan turun.

2.7.5.4. Parameter THC

Konsentrasi Total Hidrokarbon tertinggi terpantau berlokasi di JIEP pada tanggal 1-2 Juli yaitu sebesar 5,5 ppm. JIEP merupakan lokasi kawasan industri di Pulogadung, yang tedapat banyak aktivitas yang pekerja yang menggunakan kendaraan bermotor sebagai sarana transportasi sehari-harinya. Dalam pengukuran di Bulan Juli dan Bulan Agustus dapat dilihat bahwa konsentrasi THC memiliki trend atau fluktuasi yang sama dengan parameter-parameter yang lain, yaitu SO2, NO2, dan CO. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya aktivitas pada lokasi pemantauan.

Akibat aktifitas perubahan manusia udara seringkali menurun kualitasnya. Perubahan kualitas ini dapat berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimiawi. Perubahan kimiawi, dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terkandung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai pencemaran udara. Kualitas udara yang dipergunakan untuk kehidupan tergantung dari lingkungannya. Kemungkinan disuatu tempat dijumpai debu yang bertebaran dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan. Demikian juga suatu kota yang terpolusi oleh asap kendaraan bermotor atau angkutan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Hidrokarbon merupakan salah satu polutan yang ikut andil dalam pencemaran udara. Bensin yang digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor merupakan suatu campuran komplek antara hidrokarbon-hidrokarbon sederhana dengan sejumlah kecil bahan tambahan non-hidrokarbon bersifat sangat volatil yang sangat mudah menguap dan mengemisikan hidrokarbon ke udara. Hidrokarbon yang diemisikan tersebut merupakan polutan primer karena dilepaskan ke udara secara langsung oleh kendaraan bermotor baik pada saat pengisian bahan bakar maupun karena tidak sempurnanya pembakaran yang terjadi di ruang bakar.

2.7.5.5. Parameter TSP

Konsentrasi TSP tertinggi terpantau berlokasi pada KBN tanggal 4-5 Agustus yaitu sebesar 411 μg/Nm³. KBN atau Kawasan Berikat Nusantara merupakan kawasan industri yang berlokasi di Cakung dengan

trend per lokasi pemantauan menyerupai dengan trend atau fluktuasi konsentrasi pencemar yang lain,

yaitu SO2, NO2, CO, dan THC.

Berbagai proses alami mengakibatkan penyebaran partikulat di atmosfer, misalnya letusan vulkano dan hembusan debu serta tanah oleh angin. Aktivitas manusia juga berperan dalam penyebaran partikulat, misalnya dalam bentuk partikulat-partikulat debu dan asbes dari bahan bangunan, abu terbang dari proses peleburan baja, dan asap dari proses pembakaran tidak sempurna, terutama dari batu arang. Sumber partikulat yang utama adalah dari bakaran bahan bakar kendaraan dan diikuti oleh proses-proses industri.

Efek partikulat dalam berbagai variasi konsentrasi dapat menyebabkan penurunan visibilitas pada konsentrasi 100–150 µg/m3, naiknya angka penyakit 100–130 µg/m3, menyebabkan terganggunya

saluran pernafasan anak 200 µg/m3, gejala perubahan penderita bronkhitis menjadi akut dan pada konsetrasi 750 µg/m3 (WHO, 1979).

Dalam dokumen SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015 (Halaman 29-33)

Dokumen terkait