Peramalan Permintaan Pear dari Australia 155 59 Perkembangan Harga Pear Impor dari Australia Tahun
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil
3. Evaluasi Model (Uji Diagnostik)
Setelah dilakukan estimasi parameter model, selanjutnya dilakukan evaluasi untuk memastikan apakah model yang diestimasi sudah baik atau belum. Kreiteria dalam evaluasi metode ARIMA antara lain:
- Proses iterasi harus convergence
Hasil pengolahan Model SARIMA menunjukkan bahwa proses iterasi telah
convergence (antara dua model sudah tidak ada beda yang nyata). Proses
iterasi telah convergence ditunjukkan adanya pernyataan relative change in
54 - Residual random
Residual dari hasil peramalan dari model juga menunjukkan bahwa residual (forcast error) sudah random. Sebagai indikator residual hasil ramalan telah
random indikator yang digunakan adalah modifeid Box-Pierce statistik. Hal ini
ditunjukkan bahwa nilai P-value untuk uji staitistik dari residual lebih besar dari 0,05. Selain itu grafik ACF dan PACF dari residual yang memiliki pola cut off menunjukkan bahwa residual telah acak
- Kondisi invertibilitas ataupun stasioneritas harus terpenuhi
Kondisi invertibilitas ataupun stasioner telah terpenuhi. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah koefisien MA atau AR yang masing-masingnya kurang dari satu. Dalam output model terlihat jumlah koefisien untuk MA (1) = -0,6442 dan SMA (1,1) = -0.7921.
- Parameter yang diestimasi berbeda nyata dengan nol
Parameter yang diestimasi berbeda nyata dengan nol. Ini dapat dilihat dari nilai P-value koefisien yang kurang dari 0,05. Terlihat pada output bahwa P- value koefisen untuk MA (1) = 0,000 dan untuk SMA (1,1) = 0,000
- Model harus parsimonius
Keseluruhan model yang telah memenuhi syarat di atas, model SARIMA
(0,0,1)(0,1,1)12 adalah model yang relatif sudah dalam bentuk paling
sederhana
- Model harus memiliki MSE terkecil
Model ini memiliki nilai MSE terkecil dari keseluruhan model yang dicoba.
Model ini memiliki nilai MSE sebesar 6,34E+11.
4. Peramalan
Hasil peramalan untuk 12 bulan ke depan permintaan impor apel dari USA dapat dilihat pada lampiran 13. Model Total permintaan impor apel dari USA menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebesar 33.967
ton dengan rata-rata per bulan sebesar 2.830 ton. Puncak tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 4.577 ton. Sedangkan puncak terendah terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 1.886 ton.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Impor Apel dari Amerika Serikat (USA)
Keseluruhan variabel hipotesis penelitian yang diduga mempengaruhi permintaan apel dari USA yang berpengaruh nyata antara lain harga apel impor,
lag impor dan variabel dummy bulanan. Sedangkan variabel yang tidak
berpengaruh nyata adalah nilai tukar, pasokan dan harga mangga PIKJ.
Tabel 6. Hasil Analisis Model Regresi Permintaan Impor Apel dari USA Tahun 2002-2005
Elastisitas Peubah koefisien SE
koefisien t-hitung p-value VIF SR LR
Constant 5089924 2758332 1,85 0,075
Nilai tukar -369,8 230,8 -1,60 0,119 1,7 -1,22 -2,25 Harga apel impor -1928512 920868 -2,09* 0,045 1,7 -0,53 -0,98 Pasokan mangga PIKJ -0,04147 0,03662 -1,13 0,266 4,5 -0,06 -0,12 Harga mangga PIKJ 5,41 72,09 0,08 0,941 2,4 0,01 0,02
Lag volume impor 0,458 0,1348 3,40* 0,002 2,8 Februari 593831 589365 1,01 0,321 2,6 Maret 441515 655467 0,67 0,506 3,2 April 715948 652501 1,10 0,281 3,2 Mei 1167345 628966 1,86** 0,073 2,9 Juni 1997330 603051 3,31* 0,002 2,7 Juli 1393936 530941 2,63* 0,013 2,1 Agustus 1314725 540677 2,43* 0,021 2,2 September 1082784 556009 1,95** 0,061 2,3 Oktober 2232257 724087 3,08* 0,004 3,9 November 2980491 645712 4,62* 0,000 3,1 Desember 3346997 620841 5,39* 0,000 2,9 R-Sq = 76,8% R-Sq(adj) = 64,8% Durbin-Watson statistic = 1,71 F hit = 6,42
Keterangan: * = signifikan pada taraf nyata 5 % ; ** = signifikan pada taraf nyata 10 % SR = jangka pendek; LR = jangka panjang
Permintaan apel dari USA akan menurun pada saat harga apel ditingkat eksportir USA meningkat. Koefisien harga apel yang bernilai negatif, menunjukkan pada saat harga meningkat akan menurunkan permintaan apel. Selain itu terdapat indikasi pada saat nilai tukar melemah, akan menurunkan
56 permintaan apel dari USA. Pada jangka pendek dan panjang pemintaan apel dari USA bersifat tidak elastis terhadap perubahan harga. Sedangkan terhadap perubahan nilai tukar permintaan apel dari USA lebih responsif, baik pada jangka pendek maupun pada jangka panjang. Hal tersebut diduga jarak yang jauh menyebabkan pembebanan biaya transportasi ke dalam harga apel menjadi besar, dan pada saat nilai tukar melemah berdampak apel USA menjadi kalah bersaing dengan apel dari negara lain. Permintaan apel dari USA diduga menurun pada saat pasokan mangga meningkat. Pada saat pasokan mangga meningkat dan harga mangga menurun, terdapat indikasi konsumen beralih mengkonsumsi mangga. Puncak musim panen apel USA jatuh pada bulan Desember.
Pengujian asumsi kenormalan dilakukan dengan melihat grafik Kolmogorov-Smirnov (Lampiran 9). Berdasarkan grafik ini, terlihat bahwa titik residual yang ada tergambar segaris dan nilai P-value sebesar 0,15 lebih besar
dari α = 0,05. artinya, residual model permintaan apel dari USA terdistribusi
normal. Pengujian lainnya yaitu asumsi homoskedastisitas diperiksa menggunakan grafik Residual Plot, dimana (Lampiran 8). Pada grafik scatter plot tidak ditemukan titik yang berpola sistematik (acak). Hal ini menunjukkan bahwa variasi setiap unsur residual adalah sama (konstan). Adapun masalah multikolinearitas dapat dilihat dari nilai VIF. Pada Tabel 6 terlihat bahwa semua variabel bebas (penjelas) mempunyai nilai VIF lebih kecil dari 10, sehingga tidak terjadi masalah multikolinearitas. Sedangkan uji Durbin-Watson untuk melihat autokorelasi dihasilkan nilai sebesar 1,99, maka berdasarkan hipotesis awal dapat diambil kesimpulan tidak terdapat autokorelasi antar veriabel bebas dalam model. Hasil dugaan model regresi permintaan impor apel dari USA (Tabel 6) diperoleh koefisien determinasi sebesar 72,1 persen. Hasil tersebut memiliki pengertian bahwa 72,9 persen perubahan volume permintaan impor apel dari
USA dapat dijelaskan oleh variasi peubah bebas dalam model, sedangkan 27,1 persen diterangkan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat dalam model. Hasil pengolahan regresi dari permintaan apel impor dari USA dapat dilihat pada
Lampiran 9. Hasil uji F untuk model secara keseluruhan signifikan pada taraf
nyata alpha 5 persen. Hasil tersebut memiliki pengertian bahwa secara bersama-sama semua peubah bebas dalam model mampu menjelaskan dengan baik perubahan volume permintaan impor apel dari USA.
5.1.1.3. Permintaan Impor Apel dari Australia a. Plot Data
Perkembangan Impor Apel Indonesia dari Australia Tahun 2001-2005
0 50000 100000 150000 200000 250000 janua ri ma ret mei juli sep tem ber novem ber janu ari mar et mei juli sept emb er nove mber janua ri ma ret mei juli sept em ber nove mbe r janua ri ma ret mei juli sept em ber novem ber janua ri mar et me i juli sept em ber nove mbe r Bulan B e ra t B e rs ih ( k g ) impor apel
Gambar 5. Perkembangan Impor Apel Indonesia dari Australia tahun 2001–2005
Australia merupakan negara asal impor apel Indonesia terbesar kelima. Selama tahun 2001 – 2005, impor apel Indonesia dari Australia umumnya menunjukkan fluktuasi yang menurun di awal bulan dan fluktuasi yang meningkat di tengah dan akhir tahun. Permintaan apel impor Indonesia dari Australia pada tahun 2001 adalah sebesar 1.083 ton. Terjadi penurunan 11,62 persen dari tahun 2001, sehingga total permintaan apel impor dari Australia pada tahun 2002 menjadi sebesar 957 ton. Pada tahun 2003 menurun sebesar 30,49 persen dari tahun 2002 dan tahun 2004 menurun 5,34 persen dari tahun 2003. Pada tahun
58
b. Peramalan Permintaan Impor Apel dari Australia
Pada Tabel 7 dibawah ini hasil pengolahan terbaik diperoleh dengan menggunakan metode Winters Aditif. Hasil pengolahan data permintaan impor apel dari Australia menghasilkan nilai MSE terkecil sebesar 1,02E+09. Metode ini optimal pada nilai pemulusan level estimasi saat ini sebesar 0,050. Untuk nilai pemulusan trend sebesar 0,250 sedangkan untuk musimannya sebesar 0,010. Hasil pengolahan dan peramalan untuk tahun 12 bulan ke depan dilihat pada Lampiran 10.
Total permintaan apel dari Australia meningkat tajam dari tahun sebelumnya yaitu menjadi sebesar 1.263 ton, dengan rata-rata permintaan per bulan sebesar 105 ton. Puncak tertinggi terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 167 ton. Sedangkan puncak terendah jumlah permintaan sebesar 37 ton, terjadi pada bulan Januari.
Tabel 7. Nilai MSE Metode Peramalan Time Series pada Permintaan Impor Apel Indonesia dari Australia
No. Metode MSE MSE Terkecil
1 trend 5,38E+09 6