HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.2.3. Evaluasi Pengawasan Pengelolaan Dana Desa
Menurut Siswanto (2011 : 149) , pengawasan yang efektif yaitu
1. Ada unsur keakuratan, dimana data harus dapat dijadikan pedoman 2. Tepat waktu, yaitu informasi harus dihimpun dan segare di evaluasi
secara cepat;
3. Objektif dan Komprehensif, artinya mudah dipahami
4. Terpusat, dengan memutuskan pada bidang yang paling banyak kemungkinan akan terjadi penyimpangan dari standar
5. Secara ekonomi realistik, dimana biaya pengawasan harus ditekan seminimum mungkin
6. Secara organisasi realistik, yaitu cocok dengan keadaan yang ada di organisasi
7. Berkoordinasi dengan arus pekerjaan organisasi, karna dapat menimbulkan sukses atau gagal seluruh operassi
8. Fleksibel, harus dapat menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi, sehingga organisasi dapat segera bertindak untuk mengatasi perubahan yang merugikan atau memanfaatkan peluang baru
9. Preskriptif dan Operasional, pengendalian efektif dapat mengidentifikasi tindakan perbaikan apa yang perlu diambil setelah terjadi penyimpangan dari standar;
10. Diterima para anggota organisasi, artinya pengendalian harus bertalian dengan tujuan yang berarti dan diterima
Tindak lanjut dari hasil pengawasan yang dilakukan Badan Permusyawaratan Desa adalah evaluasi terhadap pengelolaan Dana Desa. Evaluasi
tersebut dilakukan setelah proses pembangunan dan pengawasan selesai dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui:
1. Efektifitas dari program pembangunan yang telah dilaksanakan sudah tercapai sesuai dengan yang direncanakan dan diinginkan,
2. Efisiensi yaitu usaha-usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Desa dalam pelaksanaan program-program pembangunan desa sudah tercapai atau belum dan sesuai dengan perencanaan yag telah dibuat,
3. Kecukupan yaitu pencapaian dari program pemerintah desa dapat mengatasi masalah yang ada di masyarakat
4. Perataan yaitu program-program pembangunan apakah sudah merata di setiap dusun sehingga seluruh masyarakat Desa Kuta Pinang dapat merasakan manfaat dari pembangunan tersebut.
Menurut penelitian yang penulis lakukan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang belum melakukan tindak lanjut dari pengawasan program-program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Kuta Pinang. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Andry Syahputra selaku anggota Badan permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang pada wawancara tanggal 01 September 2020 bahwa Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang hanya melakukan pengawasan saat pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah desa dan tidak melakukan evaluasi terhadap hasil pengawasan yang telah dilakukan hal tersebut dikarenakan anggota BPD masih belum memahami proses evaluasi yang baik dan benar. Tim Monitoring yang merupakan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang membutuhkan pedoman yang
jelas mengenai sistem pengawasan dan juga evaluasinya, hal tersebut sesuai yang diungkapkan oleh Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang yaitu Bapak Irwan Aswito.
“...Kami selaku Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang selalu melakukan pengawasan terkait pembangunan dan juga kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa Kuta Pinang dengan melakukan kegiatan monitoring dan mendokumentasikan apa-apa saja yang telah dibangun dan dibiayai oleh Dana Desa. Setelah itu, untuk evaluasinya, BPD belum melakukan karena kami kurang memahami bagaimana cara membuat evaluasi dari hasil pengawasan tersebut”.
Senada dengan Irwan Aswito, Andry juga menyebutkan bahwa evaluasi terkait peran pengawasan yang dilakukan oleh BPD terhadap pembangunan yang didanai dari dana Desa masih belum dipahami oleh anggota BPD. Bentuk instrumen untuk evaluasi yang akan dilakukan oleh BPD dalam menjalankan peran pengawasannya terhadap pemanfaatan Dana Desa sama sekali tidak diketahui oleh BPD. Oleh karena itu BPD hanya sekedar melakukan pengawasan tanpa melakukan evaluasi apalagi tindak lanjut terhadap hasil pengawasan yang telah dilakukan.
Hal tersebut, semakin menambah kejelasan bahwa evaluasi dan tindak lanjut dari pengawasan belum dilaksanakan dengan sebenar-benarnya sehingga peran pengawasan dari BPD terhadap pengelolaan Dana Desa yang dilakukan oleh Pemerintah Desa belum dapat dikatakan maksimal.
Evaluasi pengawasan juga dapat dijadikan panduan atau pedoman dalam pelaksanaan perbaikan dari kegiatan perbaikan jika ada penyimpangan dalam
pelaksanaan pembangunan. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan lembaga legislatif desa yang memiliki kewenangan untuk mengkritisi kinerja Kepala Desa terkait dalam penggunaan Dana Desa apabila terindikasi ada penyimpangan atau ketidak sesuaian anggaran dengan realisasi. Menurut hasil penelitian penulis, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang masih belum mengoptimalkan fungsinya sebagai lembaga legislatif desa, dikarenakan kurang memahami tugas dan fungsi sebagai lembaga pengawas desa. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Irwan Aswito pada wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 03 Agustus 2020 bertempat di kantor Desa Kuta Pinang beliau mengungkapkan:
“...anggota BPD sepertinya tidak pernah memberi kritikan terhadap laporan penggunaan Dana Desa oleh Kepala Desa karena kami kurang memahami masalah laporan keuangan takutnya nanti karena ketidakpahaman kami malah jadi ribut dengan pemerintahan desa”.
Hal tersebut juga dipertegas kembali oleh sekretaris BPD, ibu Ramawati pada wawancara tanggal 24 Agustus 2020 menyampaikan sebagai berikut:
“...BPD dan pemerintah desa dalam hal ini kepala desa dan semua perangkatnya selalu kooperatif jika BPD meminta atau memonitoring laporan keuangan desa. namun karena BPD juga kurang begitu memahami laporan keuangan, kami tidak bayak terlalu bertanya yang terpenting apa yang dianggarkan oleh pemerintah desa sudah terealisasi dan dalam perencanaan pembangunan dalam musdes biasanya kami hanya mengundang orang-orang terdekat di kampong kami guna untuk meperlancar kegiatan kami”.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa, BPD Desa Kuta Pinang telah melakukan monitoring kepada pemerintah desa dalam hal ini terhadap kinerja Kepala Desa sebagai pelaksana pembangunan. Namun sangat disayangkan, anggota BPD banyak yang kurang memahami tentang alokasi penggunaan Dana Desa untuk apa saja pemanfaatannya dan kurang memahami laporan keuangan sehingga laporan penggunaan Dana Desa yang telah dibuat hanya sekedar dilihat saja tanpa ada koreksi-koreksi tertentu.
Hal tersebut juga menyebabkan Badan permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang menganggap bahwa kinerja Kepala Desa dan Perangkat Desa tidak perlu lagi untuk dikritisi dikarenakan pembangunan yang dibiayai dana desa sudah terlaksana begitu juga dengan laporan keuangan yang sudah tersusun rapi, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang menganggap yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Kuta Pinang sudah sesuai dengan yang direncanakan di RKP Desa Kuta Pinang.
Sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Levison dalam Soekanto (2017:
269) tentang peranan, maka Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang sudah memenuhi cakupan dari teori peran tersebut yaitu sesuai dengan norma/peraturan, pelaksanaan secara lembaga dan pengawasan secara individu yang ditugaskan oleh lembaga. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Irwan Aswito Ketua BPD Kuta Pinang yang menyatakan bahwa BPD Desa Kuta pinang dalam melakukan pengawasan pembangunan yang dibiayai oleh dana desa sesuai dengan norma yang berlaku di desa kuta pinang, dalam melakukan pengawasan BPD menghargai kegiatan yang dilakukan oleh para pekerja atau kontraktor tanpa mencampuri rincian kegiatan apalagi biaya
pembangunan tersebut. BPD hanya memastikan bahwa pembangunan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan selesai tepat pada waktunya.
Dalam melakukan pengawasan BPD membentuk tim karena tidak mungkin kalau harus mendatangi tempat pembagunan secara beramai-ramai. Tim tersebut yang akan secara bergantian melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan.
Senada Irwan, Rudianto juga mengemukakan bahwa pengawasan BPD ke lokasi pembangunan dilakukan secara tim yang biasanya dalam tim tersebut dibagi tugas untuk berkunjung ke lokasi. Karena kadangkala, kegiatan pembangunan hampir bersamaan di beberapa dusun. Andry, anggota BPD yang lainnya juga mengungkapkan bahwa tim yang dibentuk oleh BPD untuk mengawasi pembangunan terdiri dari 1 orang yang ditugaskan untuk mengawasi satu lokasi pembangunan. Namun, tidak dipungkiri bahwa kadangkala beberapa orang anggota BPD datang secara bersama ke suatu lokasi pembangunan untuk melihat sejauhmana proses pembangunan tersebut berjalan.
Dari hasil wawancara tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa:
1. Peranan meliputi norma-norma yng dihubungkan dengan posisi seseorang dalam suatu masyarakat. Peranan BPD Desa Kuta Pinang sudah sangat jelas yaitu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang yang melakukan kegiatan monitoring pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Pengawasan yang dilakukan oleh BPD sesuai dengan norma yang berlaku di daerah Kuta Pinang. Peranan meliputi norma-norma yng dihubungkan dengan posisi seseorang dalam suatu masyarakat. Peranan dalam hal ini merupakan suatu peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan;
2. Peranan adalah konsep tentang yang dapat dilaksanakan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi atau lembaga. Keberadaan lembaga seperti Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Kuta Pinang merupakan hal yang penting mengingat fungsi BPD sebagai lembaga legislasi yang mempunyai hak untuk mengawasi pengelolaan kegiatan yang dibiayai oleh Dana Desa
3. Peranan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial dalam masyarakat. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang dalam melakukan kegiatan monitoring tidak selalu dilakukan oleh seluruh anggota BPD, namun dapat dilakukan oleh individu atau tim yang sudah dibentuk oleh BPD.
Pengawasan merupakan proses terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan sumber daya organisasi untuk memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan tindakan koreksi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki penyimpangan yang terjadi. Badan Permusyawaratan Desa Kuta Pinang belum maksimal dalam melakukan pengawasan yang efektif terhadap pengelolaan Dana Desa di Desa Kuta Pinang dikarenakan belum adanya tindakan evaluasi sebagai pedoman untuk perbaikan bagi kebijakan pembangunan yang ada di desa Kuta Pinang.