• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.2.2. Peran BPD Dalam Pengawasan Pengelolaan Dana Desa

Robbins dan Coulter dalam Solihin (2009: 193), pengawasan merupakan proses terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan sumber daya organisasi untuk memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan tindakan koreksi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki penyimpangan yang terjadi. Peran pengawasan yang dilakukan oleh Badan permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang terhadap pengelolaan Dana Desa dimulai dengan membuat rancangan PerDes bersama Kepala Desa, kemudian menetapkan rancangan tersebut menjadi Peraturan Desa dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MusRenBang) Desa Kuta Pinang. Peraturan Desa (PerDes) yang ditetapkan berkaitan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Desa(APBDes) yang memuat pemasukan dan pengeluaran Dana Desa. irwan

selaku ketua Badan Permusyawaratn Desa (BPD) Desa Kuta Pinang dalam forum diskusi (FGD) antara Peneliti, Anggota BPD, Tokoh Masyarakat dan Perangkat Desa mengemukakan Peran BPD Desa Kuta Pinang dalam pengelolaan Dana Desa antara lain:

1. Menyampaikan pendapat mengenai perencanaan pengelolaan Dana Desa berdasarkan aspirasi masyarakat sebagai penentu prioritas pelaksanaan pengelolaan Dana Desa;

2. Merumuskan Peraturan Desa yang sudah disepakati dalam kegiatan musyawarah mufakat bersama Kepala Desa, Perangkat Desa, dan Stakeholders Desa Kuta Pinang;

3. Melakukan pengawasan dan pemantauan dalam pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh Dana Desa;

4. Melakukan evaluasi pengelolaan Dana Desa

5. Mengkritisi laporan Kepala Desa mengenai pengelolaan Dana Desa yang telah dilaksanakan.

Ramawati, Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang menambahkan bahwa dalam menjalankan tugasnya Badan Permusyawaratn Desa (BPD) berkewajiban untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat desa, karena BPD merupakan perwakilan masyarakat desa yang diharapkan dapat menampung aspirasi masyarakat untuk meningkatkan kemajuan desa. Irwan Aswito juga menambahakan secara lebih terperinci tentang tugas-tugas BPD yang berkaitan dengan masyarakat antara lain:

1. Menggali aspirasi masyarakat 2. Menampung aspirasi masyarakat

3. Mengelola aspirasi masyarakat

4. Menyampaikan kepada pemerintah desa tentang aspirasi masyarakat yang berkaitan dengan pembangunan desa melalui Musyawarah Rencana Pembangunan Desa.

Gambar 4.8

Musyawarah Rencana Pembangunan Desa Kuta Pinang

Sumber: dokumen Desa Kuta Pinang 2019

Rudianto, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang pada tanggal 10 Agustus 2020 menyampaikan bahwa keterlibatan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam memutuskan penggunaan Dana Desa di Desa Kuta Pinang dilandasi rasa tanggung jawab. Bentuk tanggung jawab dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang adalah selalu hadir tepat waktu dalam setiap musyawarah desa yang membahas tentang pembangunan desa dan penggunaan Dana Desa. Masyarakat juga diikut sertakan dalam setiap musyawarah agar masyarakat dapat mengetahui tentang pengalokasian Dana Desa. Namun pada dasarnya kami hanya mengundang beberapa saja masyarakat yang bisa kami ajak bersepakat dalam menyampaikan aspirasinya, karena pada dasarnya kami tidak ingin nanti ada keributan dalam menyusun perencanaan

kegiatan dan kebanyakan masyarakat yang kami undang yang hadir sangat sedikit dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, Badan Permusyawaratan Desa mengajukan usulan kepada perangkat desa agar lebih mensosialisaikan kepada masyarakat desa khususnya kepada kepala-kepala dusun agar memotivasi tokoh-tokoh masyarakat di dusun-dusun untuk berperan aktif dalam kegiatan musyawarah desa agar aspirasi masyarakat desa dapat tersampaikan karena BPD juga belum bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan maksimal karena keterbatasan waktu.

Seorang tokoh masyarakat, Bapak Aminuddin yang dapat peneliti wawancarai pada tanggal 1 September 2020 menyampaikan bahwa memang benar adanya kalau partisipasi masyarakat dalam kegiatan musyawarah desa kurang optimal dikarenakan kegiatan tersebut diadakan pada hari dan jam kerja sehingga masyarakat yang diundang banyak yang tidak dapat hadir. Selain hal tersebut dalam penyampaian aspirasi masyarakat juga kurang berpartisipasi karena mungkin kurangnya sosialisasi sehingga mereka tidak sepenuhnya peduli dengan pembangunan desa. oleh karena itu perlu diadakan musyawarah disetiap dusun sebelum lanjut ke musyawarah tingkat desa. Rudianto membenarkan bahwa memang kegiatan Musrenbang diadakan di hari kerja dikarenakan apabila dilaksanakan di hari libur maka akan semakin sulit untuk mengumpulkan stakeholder yang ada di desa Kuta Pinang mengingat hari libur biasanya orang- orang akan menikmati waktu bersama keluarganya atau bepergian ke suatu tempat.

Dalam penggunaan Dana Desa oleh Pemerintah Desa sebagai pelaksana kebijakan memerlukan kontrol dari pihak lain dalam hal ini oleh Badan

Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga akan mempengaruhi kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat desa. Dalam forum diskusi (FGD) Irwan pada tanggal 12 Oktober 2020 mengemukakan beberapa hal yang dilakukan oleh Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) dalam melakukan pengawasan dan pemantauan pengelolaan Dana Desa di Desa Kuta Pinang yaitu:

1. Memantau semua pemasukan dan pengeluaran kas Desa;

2. Memantau secara rutin mengenai dana-dana yang digunakan untuk pembangunan Desa;

3. Melakukan pengawasan Peraturan Desa (PerDes) yang berkaitan dengan Pengelolaan Dana Desa.

Pemasukan bagi Desa Kuta Pinang merupakan hal yang penting bagi proses pembangunan dan peningkatan pemberdayaan masyarakat Desa Kuta Pinang. Salah satu pemasukan Desa Kuta Pinang berasal dari dana transfer Pemerintah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu Dana Desa. Mekanisme penyaluran Dana Desa oleh Pemerintah Pusat harus diketahui oleh Pemerintah Desa, Badan permusyawaratan Desa (BPD), dan masyarakat agar dapat dipahami oleh seluruh elemen masyarakat. Berikut ini merupakan bagan mekanisme penyaluran Dana Desa dari Rekening Kas Umum Negara hingga sampai ke Rekening Kas Desa.

Gambar 4.9

Bagan mekanisme penyaluran Dana Desa

Sumber: kementerian Keuangan Indonesia

Kepala Desa Kuta Pinang menyampaikan bahawa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.07/2017 bahwa penyaluran Dana Desa Tahun 2018 dari rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) dilaksanakan dalam tiga tahap dengan rincian sebagai berikut:

1. Tahap I sebesar 20%, paling cepat bulan Januari dan paling lambat minggu ketiga bulan Juni;

2. Tahap II sebesar 40 %, paling cepat bulan Maret dan paling lambat minggu keempat bulan Juni;

3. Tahap III sebesar 40 %, paling cepat bulan Juli

Lebih jelas lagi, Rusmiati selaku Sekretaris Desa Paya Pinang menyebutkan persyaratan-persyaratan penyaluran Dana Desa antara lain:

1. Membawa surat pemberitahuan bahwa Pemerintah Daerah yang bersangkutan telah menyampaikan Peraturan Daerah mengenai APBD tahun anggaran berjalan; Peraturan Bupati/Walikota mengenai tata cara pembagian dan penetapan rincian Dana Desa setiap Desa

2. Persyaratan penyaluran tahap II ini meliputi:

e. Laporan realisasi penyaluran Dana Desa tahun anggaran sebelumnya f. Laporan konsolidasi realisasi penyerapan dan capaian output Dana Desa

tahun anggaran sebelumnya

3. Persyaratan penyaluran tahap III adalah laporan realisasi penyaluran Dana Desa sampai dengan tahap II, dimana minimal 75% dari Dana Desa yang diterima di RKUD telah disalurkan ke RKD.

Penyaluran Dana Desa dari RKUD ke Rekening Kas Desa (RKD) dilakukan paling lama 7 hari kerja setelah Dana Desa diterima di RKUD.

Penyaluran Dana Desa dari RKUD ke RKD dilakukan setelah bupati/walikota menerima dokumen persyaratan penyaluran, dengan ketentuan yakni, Tahap I berupa peraturan Desa mengenai APBDesa dari Kepala Desa; Tahap II berupa laporan realisasi penyerapan dan capaian output Dana Desa tahun anggaran sebelumnya dari Kepala Desa; Tahap III berupa laporan realisasi penyerapan dan capaian output Dana Desa sampai dengan tahap II dari Kepala Desa, yang menunjukkan rata-rata realisasi penyerapan paling sedikit sebesar 75% dan rata- rata capaian output menunjukkan paling sedikit sebesar 50%. Perubahan tahapan penyaluran tersebut dimaksudkan agar Dana Desa dapat segera tersalur ke desa dan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Irsa Angie selaku Kepala Urusan Keuangan Desa Kuta Pinang menyampaikan pada forum FGD bahwa sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang pedoman pengelolaan keuangan desa, dalam Pasal 1 disebutkan bahwa:

1. Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang

termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban desa tersebut.

2. Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, penata usahaan, pelaporan, pertanggung- jawaban dan pengawasan keuangan desa.

Tabel 4.9

Pemasukan Desa Kuta Pinang Tahun Anggaran 2019 No ADD (Juta) Dana Desa

(Juta)

Bagi Hasil Pajak (Juta)

Total

1 269.494.156 748.849.617 28.910.250 1.047.254.023

Sumber: Dokumen Desa Kuta Pinang, 2019

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa pemasukan kas Desa Kuta Pinang cukup besar dan juga sangat memadai untuk merealisasikan rencana pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang sudah direncanakan di RKP Desa Kuta Pinang. Pemasukan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan realisasi RKP Desa harus dipahami dan diawasi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang.

Selain pemasukan desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang juga berperan dalam memantau setiap pengeluaran yang ada di Kas Desa.

Pengeluaran Desa merupakan dana yang dikeluarkan desa untuk keperluan Desa dalam menjalankan Pemerintahan Desa dan program-program Pemerintah Desa.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Irwan, mengatakan bahwa pengeluaran desa Kuta Pinang adalah anggaran dan dana yang dikeluarkan Pemerintah Desa untuk penunjang jalannya program-program Pemerintah Desa Kuta Pinang.

contoh pembangunan yang dibiayai oleh Dana Desa antara lain pembuatan Drainase di dusun III, IV, V dan VI. Perehapan Lantai gedung PAUD dan Mushola. Selain itu pemasangan jaringan internet di Dusun III Desa Kuta Pinang sudah dilakukan oleh pemerintah .

Kepala Desa Kuta Pinang juga menjelaskan bahwa pengeluaran Desa Kuta Pinang adalah anggaran yang dikeluarkan oleh Desa untuk kepentingan pembangunan sarana dan prasarana di Desa Kuta Pinang dan untuk menjalankan program-program Pemerintah Desa seperti pemberdayaan masyarakat desa, pembelian aset, dan setiap transaksi pembiayaan dari Dana Desa dilengkapi dengan bukti-bukti yang lengkap sebagai laporan jika dana tersebut memang digunakan untuk keperluan Desa.

Irwan Aswito menambahkan bahwa Badan Permusyawaratan Desa (BPD) selaku lembaga legislatif di desa melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pemasukan dan pengeluaran desa termasuk pemasukan dan pembiayaan yang diambil dari Dana Desa tersebut. Pemantauan dan pengawasan yang dilakukan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang berupa kegiatan monitoring yang dilakukan setiap akhir tahun terhadap laporan keuangan dan juga kegiatan-kegiatan program pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa yang bersumber dari Dana Desa dan dana lainnya.

Irwanto kembali menambahkan bahwa pemantauan terhadap laporan keuangan yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang dengan melihat laporan data keuangan desa yang berkaitan dengan dana yang masuk ke kas desa dan juga pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan terkait dengan pembiayaan dan belanja desa baik itu pembangunan maupun untuk

pemberdayaan masyarakat. Laporan keuangan yang diperiksa oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD), adakalanya kurang dipahami oleh anggota BPD itu sendiri karena keterbatasan Sumber Daya manusia. Seperti yang diungkapkan oleh ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Irwan Aswito bahwa pemahaman anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) masih begitu rendah terhadap laporan data keuangan desa karena keterbatasan sumber daya manusia.

Ketidakpahaman terhadap pencatatan transakasi keuangan yang tertuang dalam laporan keuangan desa merupakan hambatan yang cukup berpengaruh terhadap pengawasan yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang. Pemahaman laporan keuangan tersebut hanya sebatas pengetahuan berapa uang masuk ke kas desa. Sedangkan untuk detail transaksi pembelanjaan yang tercatat kurang dipahami sehingga apa yang tertuang di laporan keuangan tersebut apabila dilihat sudah balance uang masuk dan uang keluar maka Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menganggap laporan keuangan tersebut sudah benar tanpa memeriksa rincian pembiayaan lainnya.

Gambar 4.10 Dokumentasi monitoring BPD

Sumber: Dokumen BPD Desa Kuta Pinang

Dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa Kuta Pinang ada beberapa program pembangunan yang akan dilakukan di desa Kuta Pinang. Pembangunan tersebut sudah direalisasikan oleh Pemerintah Desa Kuta Pinang seperti yang disampaikan oleh Bapak Rudianto selaku anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kuta Pinang. Pada saat kegiatan pembangunan, Badan Permusyawaratan Desa melakukan monitoring di awal pengerjaan, pertengahan, dan akhir pengerjaan. Pemerintah Desa Kuta Pinang sudah merealisasikan program-program pembangunan yang tertuang di dalam RKP Desa. Hal ini terlihat dari beberapa dokumentasi yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) pada saat melakukan monitoring pembangunan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Kuta Pinang yang bersumber dari Dana Desa yang sudah tertuang di dalam RKP Desa Kuta Pinang.

Gambar 4.11

Gambar Fisik Drainase Dusun IV Desa Kuta Pinang

Sumber: Dokumentasi BPD, 2019

Atas saran Badan Permusyawaratan Desa Pembuatan drainase yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Kuta Pinang dilaksanakan dengan membuat pengumuman lelang tender yang terbuka untuk umum namun lebih diprioritaskan bagi kontraktor yang merupakan warga Desa Kuta Pinang, hal tersebut bertujuan untuk lebih mengoptimalkan pengawasan dan juga memberi lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Ramawati juga menunjukkan dokumentasi kegiatan pembangunan drainase dan plat dwiker di beberapa dusun di Desa Kuta Pinang.

Gambar 4.12

Gambar Fisik Drainase Dusun VI Desa Kuta Pinang

Sumber: Dokumen BPD, 2019

Gambar 4.13

Gambar fisik Drainase Dusun V

Sumber: Dokumentasi BPD, 2019

Gambar 4.14

Gambar Fisik Drainase di Dusun III

Sumber: Dokumentasi BPD, 2019

Selain pembuatan drainase ada beberapa pembangunan oleh Pemerintah Desa Kuta Pinang yang dibiayai oleh Dana Desa antara lain pemasangan jaringan internet. Di Desa Kuta Pinang akses jaringan komunikasi terutama internet sangat tidak memadai. Oleh karena itu, Kepala Desa bersama stake holders Desa Kuta Pinang membuat kesepakatan bersama untuk membuat jaringan internet di Desa Kuta Pinang dengan tujuan agar masyarakat Desa Kuta Pinang menjadi lebih paham tentang Informasi teknologi (IT) saat ini. Dengan pemahaman IT yang baik diharapkan masyarakat Desa Kuta Pinang dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Kuta Pinang.

Gambar 4.15 Tower Jaringan Internet

Sumber: Dokumen Desa Kuta Pinang

Berdasarkan temuan di lapangan, hasil penelitian terhadap pelaksanaan pemasangan jaringan internet di kantor Desa Kuta Pinang sudah dilaksanakan dengan baik. Masyarakat desa Kuta Pinang sudah dapat merasakan manfaat dari

pemasangan jaringan internet tersebut. Apalagi di masa pandemi ini, dimana anak-anak sekolah belajar secara daring, maka keberadaan instalasi jaringan internet tersebut sangat membantu. Anak-anak desa Kuta Pinang dapat memanfaatkan wifi yang ada di di kantor desa untuk melakukan pembelajaran jarak jauhnya.

Dana Desa Kuta Pinang juga dimanfaatkan untuk rehabilitasi sarana dan prasarana, yaitu untuk perbaikan musholla di dusun V dan Perbaikan lantai gedung PAUD Desa Kuta Pinang. Hal tersebut diungkapkan oleh Supriadi, Kepala Desa Kuta Pinang. Ramawati juga menambahkan bahwa pada saat pengerjaan rehabilitasi BPD ada beberapa kali melakukan monitoring, hal tersebut dapat dilihat di dokumentasi berikut:

Gambar 4.16 Rehabilitasi Musholla Dusun V

Sumber: Dokumentasi BPD, 2019

Musholla di Dusun V memang memerlukan rehabilitasi dikarenakan pada saat sekarang ini jumlah jamaah di musholla tersebut sudah melebihi kapasitas sehingga perlu untuk ditambah luas bangunnya. Selain itu, musholla tersebut sudah cukup tua sehingga banyak dari bagian gedung sudah mulai lapuk dan perlu untuk diganti.

Namun kemudian, Ramawati menyebutkan bahwa ternyata setelah pembangunan rehabilitasi gedung musholla tersebut selesai dilakukan baru diketahui bahwa dalam ketentuan penggunaan Dana Desa sesuai dengan Peraturan Menteri Desa PDTT No 16 Tahun 2018 ternyata bahwa pembangunan untuk sarana ibadah tidak termuat di dalam peraturan tersebut, sehingga hal tersebut akhirnya menimbulkan polemik bagi BPD dan Pemerintahan Desa. ketika di konfirmasi kepada ketua BPD, beliau juga kurang memahami pemanfaatan Dana Desa itu untuk apa-apa saja dan untuk masalah tersebut BPD akan mencoba untuk membicarakannya dengan Pemerintah Desa. Ketika peneliti tanyakan kepada Pemerintah Desa, yakni Kepala Desa tentang hal tersebut, beliau mengatakan bahwa pada awal penganggaran saya belum menjabat sebagai Kepala Desa sehingga saya hanya meneruskan apa-apa yang sudah termuat dalam Rencana Kerja yang sudah dibuat oleh Kepala Desa sebelumnya. Sama halnya dengan Kepala Desa yang memang masih baru, BPD Kuta Pinang juga merupakan orang- orang baru yang belum begitu memahami tentang pengelolaan Dana Desa yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah. Hal tersebut disampaikan oleh ketua BPD Kuta Pinang bahwasannya kepengurusan BPD yang sekarang adalah periode pemilihan tahun 2019, sehingga kami hanya mengikut apa yang sudah tertuang

dalam Rencana Kerja Pemerintah dan tugas kami adalah mengawasi jalannya pembangunan sesuai yang termuat dalam RKPDes tersebut.

Kegiatan pembangunan yang didanai oleh Dana Desa yang lainnya adalah rehabilitasi lantai gedung PAUD. Untuk rehabilitasi Gedung PAUD ini memang sudah termuat jelas dalam peraturan Kemendesa tentang prioritas penggunaan Dana Desa sehingga tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Gambar 4.17

Rehabilitasi Lantai Gedung PAUD

Sumber: Dokumentasi BPD, 2019

Gedung PAUD yang terletak di Dusun III Desa Kuta Pinang merupakan swadaya masyarakat dimana kondisi gedung masih sangat sederhana. Oleh karena itu, pemerintah Desa Kuta Pinang menganggarkan untuk rehabilitasi gedung PAUD tersebut. Namun karena keterbatasan dana maka yang terlebih dahulu direhabilitasi adalah lantai gedung tersebut karena kerusakan terparah ada pada lantai. Irwanto, anggota BPD Desa Kuta Pinang menyebutkan bahwa pengerjaan rehabilitasi lantai gedung PAUD tersebut dilaksanakan selama 1 minggu dan menurut pemantauan BPD pengerjaannya cukup baik dan sesuai dengan RKP Desa Kuta Pinang.

Dokumen terkait