HASIL PENELI TIAN DAN PEMBAHASAN
NO PROS ES KET S IDIK S IDANG VONIS
4.2.6. Evaluasi / Penilaian Kinerja S umber Daya Manusia
Evaluasi Sumber Daya M anusia atau sering dikenal dengan penilaian kinerja merupakan kegiatan mengukur atau menilai apakah untuk seorang penyidik/penyidik pembantu itu sukses atau gagal dalam melaksanakan pekerjaanya dengan menggunakan standar pekerjaan sebagai tolok ukur. Evaluasi ini setidaknya bertujuan : Pertama, untuk memberikan dasar bagi rencana dan pelaksanaan pemberian penghargaan bagi penyidik/penyidik pembantu kinerja atas kinerja mereka pada periode waktu sebelumnya ( to reward past performance), dan kedua, untuk memotivasi agar pada waktu yang akan datang kinerja penyidik/penyidik pembantu tersebut bisa lebih ditingkatkan (to motivate future performance improvement).
Triangulasi sumber dilakukan dengan informan 3 untuk mengetahui evaluasi / penilaian apa saja yang diterapkan untuk mendukung pelaksanaan tugas Direktorat Penyidikan Densus 88 AT Polri.
Wawancara dengan Infoman 1 mengatakan bahwa pada Densus 88 AT Polri sendiri selalu dilaksanakan analisa dan evaluasi dalam pelaksanaan tugas. Karena dengan adanya evaluasi kinerja personel Densus 88 AT Polri bisa lebih baik lagi dalam melaksanakan tugas selanjutnya.
Wawancara dengan informan 2 mengatakan bahwa evaluasi/penilaian kinerja sangatlah penting demi keberhasilan organisasi Densus 88 AT Polri.
Wawancara dengan informan 3 mengatakan bahwa pada Direktorat Penyidikan Densus 88 AT Polri dilaksanakan evaluasi/penilaian bagi para penyidik/penyidik pembantu, namun tidak sering dilaksanakan.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Wawancara dengan informan 4 mengatakan bahwa evaluasi yang dilakukan di Direktorat Penyidikan melalui cara, yaitu: Pertama, melakukan gelar perkara. Fungsi gelar perkara dalam penyidikan tindak pidana merupakan salah satu upaya untuk membantu penyidikan dalam memberikan gambaran yang objektif dan jelas akan status hukum dan aspek hukum suatu permasalahan bagi penyidik pada suatu kasus yang menurut penilaian penyidik tidak jelas. Kedua, melaksanakan rapat untuk mengevaluasi kinerja yang telah dilaksanakan oleh penyidik/penyidik pembantu dan menentukan rencana/program penyidikan apa saja yang akan dilaksanakan kedepannya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Direktorat Penyidikan. Ketiga, Setiap dua periode dalam setahun selalu dilaksanakan penilaian kinerja bagi semua anggota dalam bentuk SM K (Sistem M anajemen Kinerja) yang harus diisi oleh pimpinan dan rekan kerja sesama penyidik/penyidik pembantu. Adanya penilaian ini juga akan membantu penyidik/penyidik pembantu apabila akan melaksanakan pendidikan Polri, pengurusan kenaikan gaji berkala, kenaikan pangkat dan sebagainya. Penilaian itu adalah sebuah keharusan, karena tanpa adanya penilaian tidak ada yang baik dan yang buruk.
Wawancara dengan Informan 5 mengatakan bahwa penyidik/penyidik pembantu setiap tahun dalam dua periode melaksanakan penilaian kinerja dan selalu melaksanakan evaluasi apabila ada kasus terorisme yang harus diselesaikan.
4.2.7. Kompensasi
Kompensasi merupakan salah satu fungsi yang penting dalam manajemen sumber daya manusia, karena kompensasi merupakan salah satu aspek yang paling sensitif di dalam hubungan kerja. Dalam praktiknya masih banyak perusahaan yang
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
belum memahami secara benar sistem kompensasi. Sistem kompensasi membantu dalam memberi penguatan terhadap nilai-nilai kunci serta memfasilitasi pencapaian tujuan organisasi. Ada yang beranggapan bahwa dengan melaksanakan kompensasi minimum sudah merasa memenuhi ketentuan kompensasi yang berlaku, sehingga mereka berharap tidak akan terjadi masalah yang berkaitan dengan kompensasi pekerja. Pemahaman semacam ini perlu diluruskan dengan mendalami makna dan pengertian kompensasi dan sistem kompensasi secara keseluruhan.
M enurut Notoadmodjo dalam Sutrisno (2009) ada beberapa tujuan dari kompensasi yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. M enghargai prestasi kerja
Dengan pemberian kompensasi yang memadai adalah suatu penghargaan perusahaan terhadap prestasi kerja para karyawan. Selanjutnya akan mendorong perilaku-perilaku atau kinerja karyawan sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan, misalnya produktivitas yang tinggi.
2. M enjamin keadilan
Dengan adanya sistem kompensasi yang baik akan menjamin terjadinya keadilan di antara karyawan dalam organisasi. M asing-masing karyawan akan memperoleh kompensasi yang sesuai dengan tugas, fungsi, jabatan dan prestasi kerja.
3. M empertahankan karyawan
Dengan sistem kompensasi yang baik, para karyawan akan lebih survival bekerja perusahaan itu. Hal ini berari mencegah keluarnya karyawan dari organisasi itu mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
4. M emperoleh karyawan yang bermutu
Dengan sistem kompensasi yang baik akan menarik lebih banyak calon karyawan , akan lebih banyak pula peluang untuk memilih karyawan yang terbaik.
5. Pengendalian biaya
Dengan sistem pemberian kompensasi yang baik, akan mengurangi seringnya melakukan rekrutmen, sebagai akibat semakin seringnya karyawan yang keluar mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan di tempa lain. Hal ini berarti penghematan biaya untuk rekrutmen dan seleksi calon karyawan baru.
6. M emenuhi peraturan-peraturan
Sistem kompensasi yang baik merupakan tuntutan dari pemerintah. Suatu perusahaan yang baik dituntut adanya sistem administrasi kompensasi yang baik pula.
Triangulasi sumber dilakukan dengan informan 4 untuk mengetahui adanya perbedaan kompensasi apabila penyidik memiliki penilaian yang baik dengan yang memiliki nilai yang kurang.
Wawancara dengan Informan 1 mengatakan bahwa beban tugas yang dihadapi personel Densus 88 AT Polri dalam menangani kasus tindak pidana terorisme sangatlah berbeda dengan personel Polri pada satuan kerja yang lain. Untuk itu kompensasi bagi personel Densus 88 AT Polri sangatlah baik untuk mendukung dan memberikan semangat bagi personel Densus sendiri.
Wawancara dengan Informan 2 mengatakan bahwa kompensasi sangatlah penting apabila diterapkan pada satuan kerja Densus 88 AT Polri sehingga dapat memberikan motivasi dalam diri bagi setiap personel yang sudah bekerja keras
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
menghadapi kejahatan teror yang semakin marak di wilayah Republik Indonesia.
Wawancara dengan Informan 3 mengatakan bahwa pemberian kompensasi bagi penyidik/penyidik pembantu tentu ada perbedaan. Karena pada Direktorat Penyidikan sendiri memiliki beban tugas yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.
Wawancara dengan Informan 4 mengatakan bahwa Densus 88 AT Polri khususnya Direktorat Penyidikan yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berbeda dengan satuan kerja yang ada di Polri dalam penanganan terorisme memiliki resiko dan beban kerja yang sangat berat baik secara personal, organisasi bahkan dapat dirasakan oleh keluarga. M asalah kesejahteraan para penyidik Polri yang belum memadai adalah salah satu faktor kurang maksimalnya kinerja penyidik, terdapat prinsip dasar yang tentunya sama-sama kita ketahui bahwa setiap orang yang bekerja baik di instansi pemerintah, swasta, maupun institusi penegak hukum tentu mengharapkan imbalan dari apa yang dikerjanya.
Wawancara dengan informan 5 mengatakan bahwa dengan adanya kompensasi bagi penyidik secara tidak langsung dapat memberikan motivasi dalam meningkatkan kinerja. Kompensasi bagi penyidik merupakan suatu penghargaan terhadap tanggung jawab yang dimiliki, apalagi tanggung jawab sebagai penyidik Densus 88 AT Polri yang memiliki resiko yang besar.
Faktor gaji merupakan faktor penghargaan atas pekerjaan yang diemban. Bagaimana mungkin, seorang penyidik mampu bekerja secara profesional jika masih harus memikirkan masalah biaya-biaya yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Tuntutan terhadap penyesuaian peningkatan kesejahteraan aparat penegak hukum inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan sehingga
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
pemerintah dan legislatif harus meningkatkan kesejahteraan penegak hukum untuk mewujudkan lembaga hukum yang bersih dari praktek mafia hukum. Salah satunya melalui kebijakan pemberian tunjangan kineja atau remunerasi dengan jumlah yang sepadan dengan tanggung jawab yang diemban oleh penyidik kepolisian, sehingga dapat meningkatkan profesionalisme dalam bekerja.
4.2.8. Pengawasan
Untuk mencegah terjadinya praktek maladministrasi dalam proses penyidikan, perlu dilakukan pengawasan yang ketat dan efektif dari Internal Kepolisian. Pengawasan penyidikan di internal Kepolisian dilakukan oleh pejabat pengemban fungsi pengawasan. Hal tersebut diatur dalam Pasal 78 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang M anajemen Penyidikan Tindak Pidana, yang menentukan tentang subyek pengawasan dan pengendalian penyidikan meliputi : a) atasan penyidik; dan b) pejabat pengemban fungsi pengawasan penyidikan, sementara objek pengawasan dan pengendalian penyidikan meliputi ; a) petugas penyelidik dan penyidik; b) kegiatan penyelidikan dan penyidikan; c) administrasi penyelidikan dan penyidikan; dan d) administrasi lain yang mendukung penyelidikan dan penyidikan. Suatu indikator pengawasan penyidikan belum berjalan efektif manakala masih ditemukan penyimpangan dalam proses penyidikan, yang ditandai adanya kekecewaan dan komplain dari masyarakat. Kepercayaan masyarakat yang cenderung memudar terhadap aparat penegak hukum secara khusus terhadap Polri adalah adanya kesan seolah-olah Polri menjalankan tugas dan wewenangnya masih bertindak diskriminatif. Pengawasan yang intensif dan ketat yang ditunjukan melalui kualitas pelaksana pengawasan maupun dari segi kuantitas yakni ketersediaan yang
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
cukup aparat yang bertugas melakukan pengawasan dalam proses penyidikan.
Triangulasi sumber dilakukan dengan informan 4 untuk mengetahui bahwa pada Densus 88 AT Polri adanya pengawasan terhadap kinerja Personel Densus 88 AT Polri.
Wawancara dengan informan 1 mengatakan bahwa pengawasan terhadap personel Polri sangatlah penting dan harus dilaksanakan. Karena tanpa adanya pengawasan kinerja Polri tidak akan berjalan dengan optimal.
Wawancara dengan informan 2 mengatakan bahwa sebagai anggota Polri perlu adanya pengawasan dalam melaksanakan tugas sehingga tidak terjadi pelanggaran atau kesalahan yang dapat merugikan diri sendiri, organisasi bahkan keluarga.
Wawancara dengan Informan 3 mengatakan bahwa pada Direktorat Penyidikan sendiri selalu dilaksanakan pengawasan terhadap kinerja penyidik, namun masih belum optimal. Karena keterbatasan jumlah personel yang berpangkat perwira yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap personelnya.
Wawancara dengan informan 4 mengatakan bahwa pengawasan kinerja Direktorat Penyidikan Densus 88 AT Polri yang digunakan adalah dengan penentuan Standar Operasional (SOP) yang telah ditetapkan, Supervisi kegiatan, dan pemeriksaan. Namun saat ini Pengawasan ini dilakukan dengan monitoring oleh Perwira M enengah Pengawasan (Pamenwas) di bawah pimpinan Direktur Penyidikan masih belum optimal.
Wawancara dengan informan 5 mengatakan bahwa pengawasan terhadap kinerja penyidik Direktorat Penyidikan sangatlah penting, sehingga dapat mengontrol penyidik dalam
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
proses penyidikan dan dapat mengurangi praperadilan terhadap kasus yang sedang ditangani.