4.3 Pembahasana Hasil Penelitian
4.3.1 Evaluasi Penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi
Kegiatan evaluasi terhadap penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga, dilakukan melalui empat aspek evaluasi yakni context, input, processdan product. Dalam evaluasi penyelenggaraan program ini, apabila dilihat pada aspek Input telah sesuai dengan analisis kebutuhan baik masyarakat maupun dunia industri. Hal tersebut ditunjukkan melalui hasil temuan penelitian bahwa identifikasi kebutuhan dalam rangka menyelenggarakan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga adalah kebutuhan tenaga kerja akan pengakuan sertifikasi profesi dan peningkatan kompetensi serta masukan dari Dinas Pemerintah Provinsi dan Dunia Industri.
Melalui masukan yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Dunia Industri, serta analisis akan kebutuhan tenaga kerja terhadap sertifikat pengakuan dan peningkatan kompetensi. Merujuka pada hasil temuan terebut, Tempat Uji Kompetensi diharapkan mampu memberikan layanan fasilitas kepada masyarakat maupun tenaga kerja. Hal tersebut nampaknya tercantum dalam (BNSP, 2007: 40) bahwa tempat kerja dan atau lembaga yang dapat memberikan fasilitas pelaksanaan uji kompetensi, yang telah diverifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi, diharapkan mampu memberikan layanan fasilitas kepada masyarakat. Melalui hasil temuan penelitian dan instruksi dari Badan
Standar Sertifikasi Profesi, memberikan sebuah gambaran bahwa pendirian Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif sangat diperlukan bagi masyarakat dan dunia industri.
Dengan adanya identifikasi terhadap kebutuhan baik masyarakat maupun dunia industri, secara tidak langsung memberikan sebuah gambaran bahwa dalam rangka penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga telah diadasarkan pada telaah identifikasi kebutuhan. Melalui identifikasi kebutuhan tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa dalam evaluasi context terhadap Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif, dapat dikatakan sangat sesuai. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian Irwanti dan Sudira (2014) tentang Evaluasi Uji Kompetensi Siswa Keahlian Multimedia di SMK Se Kota Yogyakarta yang menyatakan bahwa evaluasi pada aspek Input sangat sesuai dengan kebutuhan.
Hasil telaah analisis pada penelitian diatas, nampaknya senada juga ditunjukkan melalui hasil penelitian Pan Wei Rong (2009) tentang Analysis of Teaching Factory Model of Nanyang Polytechnicdan Mao Cai Sheng (2009) tentang Educational Feature of Singapore’s Teaching Factory and Its Implication bahwa melalui adanya Teaching Factory akan mampu menjadikan sebagai pengembangan dan pembelajaran siswa sebelum memasuki dunia industri. Berdasarkan pada hasil temuan dan penelitian relevan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi Context pada Program Tempat Uji
Kompetensi Teknik Otomotif sangat sesuai dengan identifikasi kebutuhan dalam menyelenggarakan program.
Melalui identifikasi kebutuhan serta masukan terhadap perlunya sebuah layanan sertifikasi kompetensi, menjadi dasar utama bagi SMK Negeri 2 Salatiga dalam menyelenggarakan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif. Tahapan penyusunan perencanaan program merupakan langkah tindak lanjut SMK Negeri 2 Salatiga dalam mempersiapkan penyelenggaraan program tempat uji kompetensi. Dalam tahapan input penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif, SMK Negeri 2 Salatiga berupaya berupaya menyelenggarakan tempat uji kompetensi sesuai dengan kebutuhan tempat kerja dan standar pemerintah. Hasil pada temuan penelitian tersebut nampaknya sesuai dengan aturan yang dikeluarkan oleh Direktorat SMK Tahun 2007 yang menyatakan bahwa penyelenggaraan Tempat Uji Kompetensi harus dipertimbangkan dan disesuaikan akan kebutuhan dunia industri serta mengacu pada standar operasional penyelenggaraan.
Hasil temuan dalam penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga, telahmenyatakan bahwa Program Tempat Uji Kompetensi ini telah memperoleh ijin berdasarkan pada Surat Keputusan Lembaga Sertifikasi Profesi Teknik Otomotif Nomor: Kep-031/SK LSP-TO/Re.TUK/JKT/III/2011.Walaupun secara teknis bahwa program tempat uji kompetensi ini telah
beroperasi sejak tahun 2007. Dengan demikian bahwa Tempat Uji Kompetensi di SMK Negeri 2 Salatiga, sebagai lembaga yang mempunyai tugas untuk meningkatkan kompetensi serta memberikan sertifikasi pengakuan terhadap kompetensi tenaga kerja telah merujuk pada tahapan perencanaan yang telah ditetapkan.
Temuan hasil penelitian tersebut, nampaknya diperkuat oleh pendapat Pidarta (2004: 26) bahwa tahapan dalam perencanaan merupakan bagian dari langkah peningkatan mutu terhadap perbaikan program. Melalui uraian diatas, nampaknya tahapan dalam perencanaan menjadi salah satu kunci utama terhadap penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga. Hal tersebut juga diperkuat oleh Standar Operational Procedure (SOP) berupa pedoman BNSP 206/ISO 17024 terkait dengan mekanisme kerja Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga.
Pentingnya penerapan Standar Operational Procedure (SOP) terhadap mekanisme kerja Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif, menjadi komponen penting dalam penyelenggaraan program. Hal tersebut juga selaras dengan hasil penelitian Nuryake (2012) bahwa pelaksanaan Standart Operational Procedure (SOP) dengan benar, menjadi point penting dalam penyelenggaraan sebuah program. Melalui uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada aspek evaluasi input Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif telah menunjukkan tahapan perencanaan yang
baik, hal tersebut ditunjukkan melalui perencanaan dan mekanisme yang mengacu pada Standart Operational Procedure (SOP) yang telah ada.
Evaluasi process dalam penyelenggaraan pada Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif, ditunjukkan melalui kompetensi instruktur pengajar dan pelaksanaan dari kegiatan uji kompetensi tersebut. Berdasarkan hasil temuan penelitian, bahwa dari segi pendidikan akademik para instruktur yang dimiliki oleh Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif memiliki kualifikasi pendidikan S1 dan S2. Selain itu, para instruktur telah didukung dengan model-model pelatihan peningkatan kompetensi baik berupa IHT maupun diklat mandiri. Upaya tersebut dilakukan dalam rangka mewujudkan suatu konsep manajemen pedidikan guna mendukung pelaksanaan program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif dengan memadukan sumber pendukung yang ada, salah satunya tenaga instruktur. Temuan penelitian tersebut, didukung oleh pendapat Pidarta (2004:28) bahwa manajemen pendidikan berupaya untuk memadukan seluruh aktivitas sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.
Selain itu, evaluasi proses terhadap program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif dalam konteks penyeleggaraan masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pihak pengelola. Hal tersebut nampaknya dipengaruhi oleh kebijakan dari dunia industri yang tidak mau mengakui sertifikat kompetensi yang telah dikeluarkan oleh program 69
Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga. Merujuk dari ulasan temuan penelitian tersebut, dapat dipahami bahwa dunia industri memiliki kriteria tersendiri dalam menilali kompetensi yang dimiliki oleh seorang tenaga kerja. Berdasarkan pada uraian hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa evaluasi proses program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga masih belum sesuai dengan harapan yang telah dirancang oleh pengelola.
Evaluasi aspek produk dalam penyelenggaraan Program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga, dilihat dari substansi ketercapaian program dan tindak lanjut program. Secara umum bahwa penyelenggaraan program ini masih belum tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Beberapa kendala yang dihadapi diantaranya jumlah peminat untuk mengikuti program uji kompetensi yang masih kurang.
Melalui hasil temuan tersebut, nampaknya harapan pihak pengelola terhadap meningkatan mutu dan kualitas program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga masih belum selaras dengan tujuan penyelenggaraan program. Oleh karena itu, disatu sisi pada aspek produk program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga masih belum sesuai dengan baik. Hal tersbut juga diperkuat oleh hasil temuan penelitian dari Nyoman, dkk (2014) yang menyatakan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara tujaun dan pelaksanaan program
sehingga menghasilkan produk yang bermutu rendah. Berdasarkan pada hasil temuan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pada aspek evaluasi produk pada penyelenggaraan program Tempat Uji Kompetensi Teknik Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga masih belum sesuai.
4.3.2 Kebijakan Terhadap Penyelenggaraan Program