4.3.1 Hasil Evaluasi Penyelenggaraan Program Pendidikan Inklusif di SMA Negeri 4
4.2.3.4 Evaluasi Product Penyelenggaraan Program Pendidikan Inklusif di SMAN 4
Perkembangan atau prestasi dari bidang akademik maupun non akademik ABK merupakan dampak penerapan program pendidikan inklusif. Dampak ini menunjukkan keberhasilan atau ketercapaian dari program yang dijalankan. Sejak SMAN 4 sudah menerima ABK pada tahun 2009, maka sudah banyak lulusan ABK dengan perkembangan dan prestasi yang bervariasi. Secara akademik, perkembangan ABK mencapai rata-rata atau cukup baik. Hal ini berhubungan dengan jenis ketunaan ABK yang diterima di sekolah ini tidak parah dan masih bisa mengikuti pelajaran. Guru BK dan guru kelas
77 menyampaikan bahwa ABK memiliki perkembangan akademik yang cukup baik dan perkembangan non akademik yang baik. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala SMAN 4 dalam wawancara sebagai berikut:
Secara akademik, prestasi ABK cukup baik bahkan memang ada yang baik. Baru-baru saja ada salah satu ABK kami yang mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional di Yogyakarta sebagai perwakilan provinsi Kalteng. Ini merupakan kebanggaan bagi kami di sekolah.
Program tersebut tidak hanya berdampak pada perkembangan dan prestasi ABK di bidang akademik saja, melainkan berdampak pada perkembangan dan prestasi ABK di bidang non akademik. “Perkembangan ABK di sini cukup bagus baik dari segi akademik seperti salah satu ABK yang pernah mewakili Kalteng dalam lomba OSN (olimpiade) dan prestasi non akademik (olahraga dan seni)”, ungkap guru mapel dalam wawancara. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala SMAN 4 dalam wawancara sebagai berikut:
Sejauh ini, perkembangan ABK bisa dikatakan baik. Banyak ABK yang mengalami perubahan dan perkembangan seperti lebih percaya diri, mandiri dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Secara akademik, prestasi ABK cukup baik bahkan memang ada yang baik. Dari segi non akademik, ABK cukup berprestasi dan membanggakan. Baru-baru saja ada salah satu ABK kami yang mengikuti lomba OSN di Yogyakarta sebagai perwakilan provinsi Kalteng. Ini merupakan kebanggaan bagi kami di sekolah.
Hal serupa disampaikan oleh salah seorang guru BK dalam wawancara sebagai berikut:
Prestasi akademik ABK (slow learner) termasuk cukup baik karena mampu mencapai rata-rata. Bahkan ada ABK yang pernah mewakili provinsi Kalteng dalam
78
lomba OSN di Yogyakarta. Sementara, ABK juga banyak yang menyumbangkan prestasi di bidang non akademik, misalnya bidang olahraga.
Mengingat bahwa SMAN 4 sudah menerima ABK sejak tahun 2009 maka sekolah ini sudah meluluskan beberapa ABK dengan prestasi akademik dan non akademik yang cukup baik. Di samping itu, banyak lulusan ABK dari SMAN 4 yang melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Di samping itu, produk dari pelaksanaan program ini adalah 15 ABK yang terlayani di sekolah. Berdasarkan hasil wawancara bersama Kepala SMAN 4 dan guru BK di atas, ketersediaan sarpras dinyatakan sudah sesuai dengan jenis kebutuhan ABK. Kedua nara sumber tersebut menambahkan pula bahwa SMAN 4 memiliki 15 ABK dengan jenis ketunaan tuna daksa, tuna rungu ringan, hiperaktif, autis, low vision dan slow learner. “Jenis ketunaan ABK di sini ada 6 seperti tuna daksa, tuna rungu ringan, hiperaktif, autis, low vision dan slow learner”, imbuh Kepala SMAN 4 dalam wawancara.
Hasil temuan data lapangan terhadap evaluasi penyelenggaraan program pendidikan inklusif di SMAN 4 dapat dilihat melalui tabel sebagai berikut:
Tabel 4.3
Ringkasan Hasil Temuan Lapangan di SMAN 4
Komponen
Evaluasi Substansi Data Lapangan
Context
1. Kebutuhan yang belum terpenuhi
1. Pilot project oleh Pemerintah Pusat bersama Pemprov (penyelenggara pendidikan inklusif perwakilan tingkat SMA tahun 2009, kemudian secara serentak ketika
79
pemberlakuan Perwali tahun 2014.
2. Populasi yang dilayani
1. ABK dengan kebutuhan khusus/kelainan kelas ringan dan masih bisa ditolerir.
3.Peluang/ma nfaat
1. Kepercayaan tinggi dari masyarakat luas bahwa sekolah melayani ABK dan kerja sama yang terjalin antara sekolah dan orang tua ABK.
Input
1. Kemampua n sekolah
1. Sarana sudah cukup memadai (bantuan dari pusat sejak tahun 2009), prasarana masih kurang.
2. Perencanan
1. Semua pihak di dalam sekolah wajib terlibat, termasuk ada bantuan dan kerja sama dengan PK-PLK dan psikolog pada saat PPDB (pengidentifikasian jenis kelainan ABK).
3. Sumber dana
1. Mendapat dukungan dari APBD bagi semua siswa, namun belum ada bantuan/dana khusus bagi ABK.
4. Staf/SDM
1. Tidak ada GPK dan ditangani langsung oleh guru BK.
2. Sebagian guru sudah mampu menangani dan melayani ABK.
3. Sebagian guru sudah pernah mendapatkan pelatihan khusus.
Process
1. Monitorin/ evaluasi
1. Monev berisi surat permohonan dan pemberitahuan dari Kasi. SLB Disdikpora pada bulan Nopember 2014.
2. Kompetensi SDM
1. Materi/bahan ajar, kurikulum dan evaluasi diberikan secara sama/umum. 3. Pelaksanaa n kegiatan pembelajar an/ 1. Pemberian materi/pembelajaran di kelas masih sama/umum, namun ada penanganan/bimbingan
80
Pendampin gan
secara individual yang diberikan sesuai kebutuhan ABK.
2. ABK boleh mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
4. Efektivitas sarpras
1. Manfaat sarpras bagi ABK dan guru sudah signifikan sesuai dengan kebutuhan ABK.
5. Masalah/ kendala yang dihadapi
1. GPK belum ada, prasarana masih terbatas, sistem penilaian UN yang masih disamaratakan, tidak ada standar baku evaluasi, dan tidak meratanya pelatihan khusus bagi guru-guru. 2. Kendala-kendala bisa teratasi
dan sinkronisasi kebijakan program dengan keadaan sekolah.
Product
1. Prestasi/ perkemban gan ABK
1. Prestasi akademik maupun non akademik sudah cukup baik.
2. Jumlah ABK yang terlayani
2. Ada 15 ABK dengan jenis kebutuhan khusus/kelainan tuna daksa, tuna rungu ringan, hiperaktif, autis, low
vision dan slow learner.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Bagian ini merupakan pembahasan tentang hasil penelitian yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. Pembahasan terhadap hasil penelitian ini merupakan upaya untuk menjelaskan hasil analisis dan menjawab rumusan masalah yang diajukan yaitu bagaimanakah evaluasi terhadap context, input, process dan product dari penyelenggaraan program pendidikan inklusif di kota Palangka Raya.
81 4.3.1 Penyelenggaraan Program Pendidikan Inklusif
di Kota Palangka Raya Berdasarkan Evaluasi
Context
Evaluasi context terhadap penyelenggaraan program pendidikan inklusif di kota Palangka Raya meliputi unsur penilaian terhadap kebutuhan yang belum terpenuhi, populasi yang dilayani, dan peluang atau manfaat dari penyelenggaraan program.
Berdasarkan hasil penelitian di ketiga sekolah yang diteliti, penerimaan ABK sudah berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya yakni sebelum diberlakukannya kebijakan dari Disdikpora kota Palangka Raya yang mewajibkan semua sekolah melaksanakan program pendidikan inklusif. Alasan dari penerimaan ABK adalah karena ketiga sekolah tersebut melihat ada kebutuhan yang belum terpenuhi dimana para orang tua yang memiliki ABK menginginkan agar anaknya diterima di sekolah tersebut. Hasil temuan ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isabella dkk. (2014) dimana implementasi pendidikan inklusi di SDN Negeri 131/IV Kota Jambi sangat dibutuhkan masyarakat sekitar karena adanya keinginan dan kebutuhan untuk menyekolahkan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus di sekolah reguler. Oleh karena itu, ketiga sekolah yang diteliti dalam penelitian ini menerima dan melayani ABK meski kondisi pelayanan sekolah masih terbatas.
82
Terkait hasil temuan di atas, ada 2 sekolah yang kemudian dilirik oleh pemerintah kota dan/atau pemerintah pusat atas dedikasi sekolah tersebut dalam melayani ABK. Kedua sekolah tersebut diangkat dan dicanangkan sebagai sekolah pilot project pelaksana program pendidikan inklusif. Hasil temuan ini sudah sesuai dengan Permendiknas No. 70 Tahun 2009 pasal 4 ayat 1 dimana “pemerintah kabupaten/kota menunjuk minimal satu sekolah dasar, dan satu sekolah menengah pertama pada setiap kecamatan dan satu satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib menerima peserta didik” dengan kebutuhan khusus.
Selain pertimbangan atas kebutuhan yang belum terpenuhi, hasil temuan menunjukkan bahwa populasi yang dilayani adalah peserta didik dengan kebutuhan khusus dan berpotensi pada kecerdasan dan/atau bakat istimewa, yang direkrut dengan prioritas pada jarak terdekat domisili anak ke sekolah. Hasil temuan ini sesuai dengan Permendiknas No. 70 Tahun 2009 pasal 3 ayat 1 dimana peserta didik dengan kelainan fisik, emosional, mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Terkait temuan ini, jenis atau karakteristik dari kebutuhan/kelainan khusus yang dimiliki anak yang diterima di ketiga sekolah tempat penelitian ini adalah jenis atau karakteristik yang ringan atau tidak parah. Dalam hal ini, secara intelektual ABK masih bisa
83 mengikuti pelajaran atau arahan guru, secara perilaku ABK masih bisa kooperatif dan mandiri, secara psikologi ABK masih bisa percaya diri, dan/atau secara fisik ABK masih bisa terkontrol. Dengan demikian, ketiga sekolah tersebut menerima ABK dengan menyesuaikan pada jenis kebutuhan/kelainan yaitu kelas ringan atau cukup, dimana ABK berdomisili dekat lingkungan sekolah. Hasil temuan ini dibenarkan karena menurut Permendiknas No. 70 Tahun 2009 pasal 5 ayat 1 sekolah menerima peserta didik dengan kelainan dan/atau potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa atas pertimbangan terhadap sumber daya yang dimiliki sekolah tersebut.
Dengan penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus, ketiga sekolah mendapat manfaat atas kepercayaan dan apresiasi yang diberikan oleh masyarakat khususnya orang tua ABK terhadap pelaksanaan program pendidikan inklusif. Temuan ini dibenarkan dengan pernyataan Mudjito dkk.. (2012) dimana anak-anak dengan kondisi dan kendala tertentu dan/atau tidak mendapatkan pelayanan pendidikan, sebaiknya memperoleh akses yang mudah dalam memperoleh pendidikan. Dengan demikian, peluang dari penerimaan ABK di ketiga sekolah tempat penelitian tersebut akan meningkat dan bertambah. Sehingga pada akhirnya, tujuan dalam pemerataan akses pendidikan yang ramah, adil tanpa diskriminatif bisa diwujudkan secara optimal dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil temuan dari semua aspek pada komponen context terhadap penyelenggaraan program
84
PI di ketiga sekolah, secara tidak langsung agenda Pokja PI untuk masa 2014-2018 sudah berjalan dan sedang berlangsung. Hal ini terlihat pada agenda atau kalender tahunan Pokja PI untuk tahun 2014-2018 poin (d) tentang “pemerataan akses pendidikan atau pelayanan imklusif di setiap kecamatan dengan membuat sekolah piloting dari jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK”. Pemerataan akses yang dimaksud dalam penelitian adalah pemenuhan kebutuhan orang tua dan ABK; semua ABK dengan jenis kebutuhan khusus kelas ringan hingga sedang terlayani; serta masyarakat atau sosial memberikan kepercayaan penuh kepada sekolah dalam melayani ABK.
4.3.2 Penyelenggaraan Program Pendidikan Inklusif