Prinsip dasar kebijakan pemberian subsidi pupuk antara lain adalah : (1) terpenuhinya azas enam tepat dalam distribusi pupuk, yaitu tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, dan mutu, dengan demikian petani dapat didorong menggunakan pupuk sesuai teknologi
VI-124
pemupukan yang dianjurkan di masing-masing wilayah (Direktorat Pupuk dan Pestisida, 2004); (2) karena subsidi tersebut ditujukan untuk petani, maka seharusnya subsidi tersebut betul-betul dapat diterima oleh petani, dengan indikasi keberhasilan apabila pengecer menjual dan petani membayar harga pupuk tersebut sebesar HET; (3) kebijakan pemberian subsidi pupuk tersebut tidak merugikan pabrikan pupuk, sehingga bagi pabrikan pupuk dapat menerima keuntungan yang wajar; (4) agar kebijakan pemberian subsidi pupuk yang ditetapkan pemerintah dapat diamankan di tingkat pengecer atau petani, maka harus didukung oleh pola pendistribusian yang efektif dan efisien; dan (5) perlunya seperangkat sistem dan mekanisme pengawasan yang baik dengan instrumen penerapan sanksi atau hukum yang tegas bagi yang melakukan pelanggaran.
Sistem Rayonisasi
Adanya permasalahan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi menyebabkan pemerintah kembali melakukan penyesuaian dalam sistem distribusi pupuk melalui sistem rayonisasi. Pada sistem rayonisasi pabrik pupuk harus melayani pasokan ke tingkat kabupaten atau Lini III, sementara itu pada sistem mekanisme distribusi dibebaskan produsen pupuk hanya bertanggung jawab hingga pemasaran di Lini II (pemasokan di tingkat propinsi). Saat ini, pembelian pupuk oleh umum di Lini I dan II tidak diperbolehkan. Selain dilarang melakukan pembelian pupuk di Lini I dan II, distributor diwajibkan membuat manajemen stok pupuk dan memenuhi berbagai persyaratan yang cukup ketat. Kebijakan pembelian pupuk di lini I (pabrik) dan lini II (distributor Propinsi) ditetapkan atas usulan ‘Tim Interdep’ yang terdiri dari;
pengusaha (produsen), Deptan, Depperindag, Dephut, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menegkop, dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Tugas Tim Interdep adalah merumuskan rencana kebutuhan pupuk untuk sektor pertanian, yang dalam prakteknya yang banyak berperan adalah Dinas Pertanian dan Bupati/Walikota.
Untuk distributor di wilayah Jawa diharuskan menyediakan stok untuk kebutuhan satu minggu, sedangkan untuk distributor di luar Jawa harus menyediakan stok untuk kebutuhan dua minggu. Untuk menanggulangi harga pupuk yang dirasakan mahal oleh petani, maka pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan subsidi transportasi pupuk, khusus untuk daerah terpencil (remote areas) sebesar Rp 200 per kg.
Sistem rayonisasi yang terakhir menggunakan subsidi bahan baku gas.
Namun demikian, implementasi kebijakan sistem rayonisasi dalam penyaluran pupuk masih belum efektif dan cenderung menyebabkan terjadinya miss-alokasi penyaluran pupuk antar wilayah. Kasus terjadinya kelangkaan pupuk dan melonjaknya harga di atas HET, terutama jenis Urea, kembali terjadi secara berulang pada setiap musim tanam atau musim penggunaan pupuk tinggi. Hasil kajian di
lapang menunjukkan beberapa temuan berikut : (1) ketersediaan pupuk relatif terjamin terutama di tingkat distributor dan pengecer resmi, sedangkan untuk distributor dan pengecer tidak resmi sering mengalami kekosongan; (2) harga eceran tertinggi (HET) pupuk melalui distributor dan pengecer resmi masih relatif terkendali pada harga Rp. 1.050/kg, (3) HET pupuk melalui pengecer tidak resmi, kios-kios kecil, dan kelompok tani di atas HET, karena menerima harga dari distributor atau pengecer resmi sebesar Rp. 1.050-1.100/kg, sehingga mereka menjual ke petani dengan harga Rp. 1.100-1.300/kg tergantung kondisi pasar dan lokasi, (4) terjadi perembesan pupuk dari wilayah pemasaran yang satu ke wilayah pemasaran yang lain dalam pasar yang sama (pasar bersubsidi), yang menunjukkan tidak efektifnya Pola Kerjasama Operasional (KSO) pada sistem rayonisasi; (5) Terjadinya lonjakan harga di tingkat pengecer dan petani, juga dipicu oleh HET yang ditetapkan pemerintah sudah tidak realistis lagi, biaya tebus yang ditetapkan pemerintah di Lini II sebesar Rp. 980,-/kg, setelah ditambah biaya transportasi Rp.20-30/kg dan bongkar muat Rp. 5/kg, fee distributor sebesar Rp 20/kg, dan biaya tidak resmi lainnya Rp.
5/kg, maka biaya pokok di tingkat distributor sekitar Rp.1.030-1035/kg. Kondisi ini mendorong distributor menjual dengan harga diatas HET.
3.2.2. Kinerja Penyaluran Pupuk di Lini IV 1. Wilayah Kerja dan Volume Penyaluran
Wilayah kerja dalam penyaluran pupuk melalui sistem rayonisasi dilakukan pembagian di antara produsen pupuk. Untuk Propinsi Jawa Tengah menjadi tanggung jawab PT. PUSRI. Pada masing-masing wilayah pemasaran, Pemasaran Pupuk Daerah (PPD) menunjuk distributor yang memenuhi beberapa persyaratan. Penunjukan sebagai distributor oleh PPD PUSRI harus memenuhi beberapa persyaratan: (1) berbentuk badan hukum; (2) bergerak dalam bidang usaha perdagangan umum; (3) berpengalaman sebagai distributor pupuk minimal 2 musim tanam dan telah menunjukkan kinerja distribusi yang baik sesuai penilaian produsen, hasil kajian di Kabupaten Klaten dan Sragen distributor yang ditunjuk telah berpengalaman puluhan tahun dalam distribusi dan perdagangan pupuk; (4) memiliki pengurus yang aktif menjalankan roda organisasi; (5) memenuhi persyaratan umum untuk melakukan kegiatan perdagangan yaitu Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Tempat Usaha (SITU), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang semuanya telah dipenuhi; (6) memiliki atau menguasai sarana untuk kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi, berupa gudang (pemilikan 1-2 unit) dengan kapasitas 500-750 ton/unit dan alat transportasi (2-3 unit) dengan kapasitas angkut 6-7,5 ton, sehingga dapat menjamin kelancaran penyaluran sesuai dengan yang menjadi tanggung jawabnya ; (7) mempunyai jaminan distribusi di wilayah kerja yang
VI-126
ditetapkan oleh produsen minimal 1 (satu) pengecer di setiap kecamatan, kajian di lapang menunjukkan satu distributor memiliki (5-10 pengecer resmi); (8) Memiliki permodalan yang dapat dipercaya dan disepakati oleh produsen ; (9) memenihi persyaratan lain yang ditetapkan oleh produsen.
Mekanisme kontrak SPJB antara produsen dengan distributor
Ketentuan umum pembuatan kontrak/SPJB (Surat Perjanjian Jual Beli) pupuk bersubsidi antara produsen dengan distributor mencakup :(1) Kontrak/SPJB pupuk bersubsidi antara produsen dengan distributor dibuat untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, perpanjangan kontrak dapat dilakukan apabila menurut penilaian produsen bahwa distributor tersebut memperlihatkan kinerja yang baik ; (2) Pada dasarnya alokasi pupuk bersubsidi dari produsen kepada distributor yang akan dituangkan dalam kontrak/SPJB pupuk bersubsidi berpedoman kepada rencana kebutuhan pupuk bersubsidi di wilayah pemasaran yang menjadi tanggung jawab produsen masing-masing, kasus di Kabupaten Klaten dan Sragen secara rataan distributor dapat jatah penebusan 25-50 ton/dua hari (kecuali pada hari libur); (3) Kontrak/SPJB pupuk bersubsidi harus memuat sangsi bagi distributor yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penyaluran pupuk bersubsidi, dan berdasarkan kajian dilapang ditemukan bahwa secara temporal terjadi pelanggaran, terutama dalam bentuk aliran pupuk ke luar wilayah kerja pemasarannya.
Peran Distributor
Tugas dan tanggung jawab distributor antara lain adalah : (1) Bertanggung jawab atas kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi dari Lini III ke Lini IV di wilayah kerjanya, di lapang ditemukan bahwa para distributor juga bertindak sebagai pengecer atau menjual langsung ke kelompok-kelompok tani dengan harga yang dapat mencapai Rp. 55.000/50 kg; (2) Bertanggung jawab agar pupuk bersubsidi sesuai dengan jumlah dan jenisnya sampai dan diterima oleh pengecer sesuai nama, alamat dan wilayah kerja yang diajukan pada saat pembelian;
(3) Menyalurkan pupuk bersubsidi hanya kepada pengecer yang ditunjuk sesuai dengan harga yang ditetapkan, dijumpai kasus-kasus dalam jumlah terbatas terjadinya perdagangan pupuk antar wilayah pemasaran, masuknya pupuk Kujang ke Jateng dan diduga juga terjadinya aliran pupuk Jateng ke Jatim terutama pada wilayah-wilayah berbatasan; (4) Bertanggungjawab dan menjamin tersedianya stok pupuk bersubsidi di wilayah kerjanya untuk memenuhi minimal kebutuhan 1 (satu) minggu berikutnya, dalam distributor memiliki kebijakan pupuk dari gudang PPK langsung kirim ke pengecer untuk efisiensi; (5) Melaksanakan sendiri kegiatan pembelian dan penyaluran pupuk bersubsidi, karena itu : (a) tidak dibenarkan melaksanakan penjualan pupuk bersubsidi kepada pedagang dan atau pihak lain yang tidak
ditunjuk sebagai pengecer resmi, ditemukan penjualan langsung oleh distributor ke kelompok tani dan kios-kios desa; dan (b) tidak dibenarkan memberikan kuasa untuk pembelian pupuk bersubsidi kepada pihak lain, kecuali kepada petugas distributor yang bersangkutan yang dibuktikan dengan Surat Kuasa dari pengurus/Manajer Distributor yang bersangkutan ; (6) Berperan aktif membantu produsen melaksanakan penyuluhan dan promosi ; (7) Bersama-sama produsen melakukan pembinaan, pengawasan dan penilaian terhadap pengecer di wilayah kerjanya ; (8) Diwajibkan memasang papan nama dengan ukuran 1 x 1,5 meter sebagai Distributor pupuk yang resmi di wilayah kerjanya ; (9) Melaksanaan koordinasi secara periodik dengan instannsi terkait di wilayah kerjanya ; (10) diwajibkan menyampaikan laporan pengadaan, penyaluran dan posisi stok di gudang yang dikelolanya secara periodik setiap akhir bulan kepada produsen dengan tembusan kepada instansi terkait dengan menggunakan formulir laporan sebagaimana tercantum pada lampiran VI keputusan ini ; (11) distributor menentukan cakupan wilayah penyaluran pupuk bersubsidi kepada para pengecer yang ditunjuknya, dalam prakteknya sulit terutama pengecer-pengecer yang berlokasi di pasar dan di daerah-daerah perbatasan.
Beberapa persyaratan penunjukkan sebagai pengecer antara lain adalah : (1) Berbentuk usaha perorangan atau badan usaha yang memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan; (2) Bergerak dalam bidang usaha di perdagangan umum; (3) Berpengalaman sebagai pengecer pupuk minimal 2 musim tanam dan telah menunjukkan kinerja distribusi yang baik sesuai penilaian distributor; (4) Memiliki pengurus yang aktif mengelola perusahaannya; (5) Memiliki atau menguasai sarana untuk kelancaran pelaksanaan penyaluran pupuk bersubsidi yang dapat menjamin kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi di wilayah kerja masing-masing; (6) Mempunyai jaringan distribusi di wilayahnya yang ditetapkan oleh Distributor minimal 1 (satu) di setiap kecamatan; (7) Memiliki permodalan yang dapat dipercaya dan disepakati oleh Distributor; dan (8) Memenuhi persyaratan lain yang ditetapkan oleh Distributor.
Tanggung jawab pengecer antara lain adalah : (1) Bertanggung jawab atas pupuk bersubsidi yang diterima dari Distributor dan kelancaran penyalurannya kepada petani; (2) Menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai peruntukannya; (3) Bertanggungjawab dan menjamin tersedianya stok semua jenis pupuk bersubsidi di wilayah kerja masing-masing untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Distributor yang bersangkutan; (4) Hanya menerima pupuk bersubsidi dari Distributor yang ditunjuk oleh Produsen; (5) Melaksanakan sendiri kegiatan penyaluran pupuk bersubsidi kepada Petani sesuai dengan cakupan wilayah penyalurannya; (6) Menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai dengan Harga Eceran Teringgi (HET) yang berlaku dalam kemasan 50 kg termasuk NPK dalam kemasan 20 Kg, di mana harga Urea Rp. 1.050/kg, dalam kenyataannya ditemukan pengecer yang menjual di atas HET yaitu sebesar Rp.
VI-128
1.100-1.200/kg; (7) Memasang papan nama dengan ukuran 0,50 X 0,75 meter sebagai pengecer resmi dari Distributor yang ditunjuk oleh produsen ; dan (8) Memasang daftar harga sesuai HET yang berlaku.