• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Petani terhadap Sistem Penyaluran Pupuk

Menurut petani yang membentuk Koptan, sistem penyaluran yang ditempuhnya yaitu membeli pupuk langsung dari Distributor lebih baik dibandingkan cara lama atau membeli ke Pengecer, karena dapat mengatasi masalah kelangkaan pupuk dan mendapatkan harga yang lebih murah. Namun kemudahan ini belum dapat dilakukan oleh semua kelompok tani, karena membutuhkan persyaratan administrasi yang rapi dan ketersediaan modal yang memadai untuk melakukan pembelian/penebusan pupuk ke distributor. Apabila kebutuhan pupuk kelompok tani setiap kali pembelian sebanyak 7 ton, maka diperlukan uang kontan sebesar Rp. 7.120.000 atau minimal 50 persennya yang harus dibayarkan ke distributor.

3.3.4. Alternatif Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi 1. Pelaku Distribusi

Sesuai dengan Keputusan Menteri Perdagangan dan Perindustrian No. 356 Tahun 2004, pelaku distribusi pupuk bersubsidi adalah distributor dan pengecer resmi. Distributor didefinisikan sebagai badan usaha yang sah yang ditunjuk oleh produsen pupuk untuk melakukan pembelian, penyimpanan, penjualan, serta pemasaran pupuk bersubsidi dalam partai besar untuk dijual kepada petani melalui pengecernya. Sementara itu, pengecer resmi didefinisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang ditunjuk oleh distributor, yang

VI-148

kegiatan pokoknya adalah melakukan penjualan pupuk secara langsung kepada petani. Apabila dicermati sebenarnya pengaturan pelaku distribusi pupuk bersubsidi pada Kepmenperindag tersebut di atas sudah cukup baik. Penilaian ini didasarkan pada salah satu kalimat dalam definsi pengecer resmi yang tertulis “…kegiatan pokoknya melakukan penjualan pupuk secara langsung kepada petani”. Kalimat tersebut mestinya dimaknai bahwa tugas pengecer resmi adalah mendekatkan diri kepada petani agar dapat melakukan penjualan secara langsung kepada petani. Dengan kata lain, pelaku distribusi yang diatur dalam Kepmenperindag No. 356 Tahun 2004, apabila melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sebenarnya sudah cukup optimal untuk menyalurkan pupuk bersubsidi hingga ke petani secara 6 tepat, khususnya tepat harga (petani membeli sesuai HET).

Namun demikian, alternatif penyempurnaan sistem distribusi pupuk bersubsidi, khususnya yang berkaitan dengan pelaku distribusi, masih dimungkinkan sepanjang mampu memperbaiki kondisi yang terjadai saat ini. Salah satu alternatif pengaturan pelaku distribusi pupuk bersubsidi adalah pelaku distributor pupuk diserahkan kepada BUMN yang bergerak dalam bidang usaha ekspedisi, sementara pengecer tetap seperti yang ada saat ini. Keunggulan pengaturan ini adalah manajemen distributor pupuk ada dalam satu perusahaan, sehingga perhitungan biaya distribusi, khususnya angkutan, dapat lebih efisien dan seragam. Efisien yang dimaksudkan disini adalah perhitungan kompensasi biaya angkutan untuk lokasi yang relatif jauh dengan yang dekat dapat dengan mudah dilakukan. Sementara maksud seragam disini lebih ditujukan pada manajemen bisnis. Keunggulan yang lain adalah kemudahan dalam kontrol dan pengawasan, karena distributor hanya terdiri dari beberapa perusahaan saja di seluruh Indonesia.

2. Sistem Distribusi

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem distribusi yang ada saat ini sebenarnya sudah cukup baik sepanjang aturan yang telah ditetapkan Kepmenperindag No. 356 Tahun 2004 dilaksanakan secara konsisten oleh distributor dan pengecer resmi. Untuk distributor, konsistensi yang diperlukan adalah dalam hal pemenuhan syarat-syarat sebagai distributor, khususnya yang berkaitan dengan alat kelengkapan yang harus dimiliki atau dikuasai oleh suatu distributor, seperti kantor, gudang dan armada angkutan. Selain itu, distributor dilarang memperjualbelikan DO (delivery order) kepada pihak lain yang tidak berhak, karena akan mempersulit kontrol dan pengawasan peredaran pupuk. Hal lain yang mestinya dilakukan oleh distributor adalah menunjuk beberapa pengecer resmi (tidak hanya satu) di lokasi yang mudah dijangkau (desa) oleh petani, dan tidak terfokus pada peraturan yang menyatakan minimal mempunyai satu pengecer di tingkat

kecamatan. Apabila hal ini dilakukan maka kewajiban pengecer resmi untuk menjual pupuk bersubsidi secara langsung kepada petani sesuai dengan HET dapat terlaksana.

Alternatif penyempurnaan terhadap sistem distribusi di atas dapat dilakukan dengan menunjuk BUMN yang bergerak dalam bidang usaha ekspedisi sebagai distributor pupuk seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Alternatif lain yang sedikit ekstrim adalah menyerahkan sepenuhnya sistem distribusi kepada produsen pupuk. Salah satu keunggulan sistem ini adalah pemerintah relatif lebih mudah dalam mengawasi pelaksanaan distribusi pupuk. Melalui sistem ini maka apabila terjadi lonjak harga dan/atau langka pupuk di suatu daerah, pemerintah dapat dengan segera meminta pertanggungjawaban pihak produsen.

3. Sistem Penerimaan

Distribusi pupuk bersubsidi yang ada saat ini menganut sistem distribusi pasif. Artinya, petani secara sendiri-sendiri maupun berkelompok yang membutuhkan pupuk bersubsidi datang sendiri ke kios pengecer resmi yang umumnya berada di kecamatan. Padahal kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua petani mampu membeli pupuk secara tunai atau bahkan tidak mampu membali pupuk secara memadai, dan petani yang termasuk kategori ini umumnya melakukan sistem pembelian pupuk tunda bayar (hutang), dimana pembayarannya dilakukan setelah panen (yarnen). Dengan demikian, sistem distribusi yang ada saat ini, selain pasif juga tidak lengkap.

Tidak lengkap artinya penyaluran pupuk bersubsidi hanya didukung oleh sistem distribusi saja, dan tidak didukung oleh sistem penerimaan yang baik. Beberapa konsekuensi dari sistem penyaluran pupuk yang pasif dan tidak lengkap adalah : (a) tidak tepat sasaran, karena hanya petani yang mampu membeli tunai dan dalam jumlah besar saja yang dapat menikmati HET, dan (b) rawan penyimpangan, yaitu pembelian oleh yang tidak berhak.

Untuk itu perlu dibentuk sistem penerimaan dengan mengaktifkan kembali kelompok tani untuk menjembatani dan memfasilitasi anggotanya (petani) memperoleh pupuk secara 6 tepat. Kasus di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menunjukkan bahwa pemberdayaan kelompok tani sebagai penyalur pupuk bersubsidi ternyata mampu menjamin anggota kelompok tani dan petani lain di sekitarnya (di luar anggota) memperoleh pupuk sesuai dengan HET dan tepat waktu. Kasus tersebut setidaknya menunjukkan bahwa kelompok tani yang diberdayakan dan dikelola dengan manajemen yang baik, mampu berperan sebagai penyalur pupuk bersubsidi. Untuk dapat berfungsi juga sebagai kontrol terhadap jumlah pupuk bersubsidi yang disalurkan, sistem penerimaan yang dibentuk dilengkapi juga dengan form kebutuhan kelompok tani (semacam RDKK) yang disahkan oleh aparat instansi terkait, yang mudah ditemui oleh kelompok tani. Syarat

VI-150

mudah ditemui bagi aparat yang mengesahkan daftar kebutuhan pupuk kelompok tani ini perlu ditekankan untuk menghindari keterlambatan pengajuan kebutuhan pupuk kelompok tani akibat dari aparat yang sulit atau terlalu sibuk untuk ditemui.

4. Sistem Pengawasan

Salah satu alternatif perbaikan sistem distribusi pupuk adalah dengan mengoptimalkan sistim pengawasan yang sudah ada sekarang. Selama ini aturan yang ada hanya menghubungkan pengawasan yang dilakukan oleh pihak produsen dan tim pengawas yang dibentuk pemerintah hanya melalui hasil pengawasan dan bukan pada pelaksanaannya. Oleh karena itu, untuk menyelaraskan pengawasan yang dilakukan oleh pihak produsen dan tim pengawas pupuk propinsi dan kabupaten maka tata cara pengawasan dan koordinasinya sebaiknya juga termaktub dalam surat keputusan pemerintah.

Pihak produsen pupuk sebenarnya telah menempatkan tenaga pengawas di tiap kabupaten yang menjadi wilayah penyalurannya. Di Jawa Timur, Pupuk Kaltim menempatkan 7 orang sales reprensentative, sedangkan Pupuk Petrokimia Gresik menempatkan 8 orang sales supervisor dan 36 orang asisten sales supervisor. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan pengawasan, diusulkan untuk menempatkan dua orang staf pengawas dari pihak produsen untuk satu kabupaten yang merupakan wilayah tanggung jawab penyaluran pupuknya. Sebagai tambahan, tugas dan wewenang yang dibebankan kepada pengawas ini harus sampai memeriksa kinerja dari mulai distributor hingga pengecer. Disamping itu, wewenang juga harus diberikan sampai pada usulan untuk pemberian sangsi bagi distributor dan/atau pengecer yang melanggar aturan distribusi.

Frekuensi pengawasan juga dapat lebih dikoordinasikan antara pihak pengawas dari produsen dan tim pengawas pupuk. Tujuannya agar pengawasan di wilayah dapat dilakukan secara lebih intensif. Sebagai contoh, bila dalam seminggu tim pengawas hanya melakukan pengawasan selama 2 hari, maka dengan koordinasi pengawas dari produsen maka dalam seminggu dapat dilakukan selama 4 hari, dengan tambahan 2 hari pengawasan dari pihak pengawas produsen. Upaya perbaikan sistem pengawasan sebenarnya telah dilakukan oleh PT. PKT dengan cara mendaftar armada pengangkutan yang diperbolehkan mengambil pupuk di Gudang Penyangga Pupuk Kabupaten. Melalui sistem ini, upaya pengangkutan pupuk keluar wilayah dapat minimalisir.

IV. KESIMPULAN

Dalam situasi normal (temuan di lapang bulan Agustus 2005) tanpa ada isu langka pasok, petani tetap membayar harga penebusan pupuk bersubsidi berkisar 6,7 – 18,1 persen di atas HET. penyebab utama harga pupuk bersubsidi yang dibayar petani di atas HET adalah (1) ulah distributor yang hanya menjual DO dan (2) ulah pengecer resmi yang mengambil marjin di atas ketentuan yang telah ditetapkan.

Dua hal tersebut dipicu oleh lemahnya kontrol produsen pupuk atas penyaluran pupuk dari Lini III ke Lini IV, padahal produsen tersebut yang bertanggung jawab atas terjaminnya HET di Lini IV (wan prestasi terhadap pasal 4 ayat 2, SK Menperindag No 356 Tahun 2004).

Dengan sistem distribusi yang berlaku saat ini, sesungguhnya masih ada ruang untuk menjamin HET dengan cara menambah receiving system, yaitu kelompok tani membeli langsung ke distributor (kasus kelompok tani Rukun Santosa, Jombang, Jawa Timur). Pada kasus di Kabupaten Jombang, kelompok tani sebenarnya masih dimungkinkan untuk menjual pupuk bersubsidi di bawah HET, karena kelompok tani tersebut mendapat harga Urea bersubsidi dari distributor franko tempat pembeli sebesar Rp. 1.020 per kg. Dengan kata lain, apabila distributor benar-benar melaksanakan fungsinya, yaitu menjual pupuk sesuai dengan harga tebus (Rp 1.020) franko tempat pembeli, maka lonjak harga ataupun harga pupuk bersubsidi melampaui HET tidak perlu terjadi.

Hasil pengamatan di lapang menunjukkan kinerja distributor dari produsen pupuk cukup baik, karena mereka sebenarnya lebih berpengalaman dalam hal teknis penyaluran maupun administrasi pergudangan. Permasalahan justru muncul pada beberapa distributor swasta yang sebenarnya tidak mempunyai kemampuan secara ekonomi maupun teknis (tidak mempunyai kantor, gudang maupun sarana transportasi), namun karena didukung oleh “kekuatan tertentu” mendapat lisensi dari produsen pupuk untuk menjadi distributor. Distributor semacam inilah yang sebenarnya seringkali menyebabkan pasokan pupuk bersubsidi di suatu daerah menjadi langka atau mengalami lonjak harga hingga melampui HET, karena mereka hanya menjual DO saja dan tidak bertanggung jawab terhadap arus penyaluran pupuk di wilayah yang sebenarnya merupakan tanggung jawabnya.

Pengaturan sistem distribusi pupuk bersubsidi disarankan tetap menggunakan SK Menperindang No. 70/MPP/KEP/2/2003, yang diubah menjadi SK Menperindag No. 356/MPP/KEP/5/2004, dengan beberapa penyempurnaan sebagai berikut: (1) menambah pengecer resmi paling sedikit 2 (dua) buah di setiap kecamatan yang lokasinya berbeda desa; (2) kelompok tani dapat menjadi sebagai salah satu pengecer resmi (saat ini kelompok tani sudah memiliki SIUP). Kasus di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, perlu didorong untuk propinsi lainnya.

VI-152

Dokumen terkait