Gambar 2.11 Bentuk Fisik MAD11
Tabel 2. 1 Spesifikasi masukan MAD 11
Tabel 2. 2 Spesifikasi keluaran MAD11
22
Setelah diketahui spesifikasi masukan atau keluaran juga hal-hal yang berkaitan dengan instalasi, perlu juga mengetahui alokasi bit Internal Relay (IR). Tabel 2.3. memperlihatkan alokasi Internal Relay (IR) pada MAD11.
15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0
s/b x X X x x x x d D d d d d d d
Tabel 2.3 Alokasi IR pada MAD11
Bit 0 s/d 7 : bit data
Bit 8 s/d 14 : bit tidak digunakan
Bit 15 s : sign bit jika 0 tegangan keluaran positif, kalau 1 keluaran negatif.
B : broken wire bit jika 0 tidak ada kerusakan, kalau 1 ada kerusakan.
Untuk dapat membaca tegangan masukan, maka pada MAD11 perlu diketahui alokasi channel yang akan digunakan. Set Analog Destination atau Alokasi channel MAD11 yang diberikan tergantung dengan jumlah I/O pada PLC yang digunakan, seperti yang ditunjukkan
Tabel 2. 4 Alokasi channel MAD 11
Langkah selanjutnya menempatkan MAD 11 tersebut pada range yang dikehendaki. Setting range diberikan saat inisialisasi MAD 11.
Setting range MAD 11 ditunjukkan pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Setting range MAD11
Gambar 2.12 Format data untuk inisialisasi MAD11 a) Penyambungan MAD11 (modul analog to digital)
Data masukan atau keluaran MAD11 adalah 16 bit yang dihubungkan dengan PLC dan dapat diatur sebagai masukan atau keluaran, tergantung apakah MAD11 difungsikan sebagai pengubah analog ke digital atau sebaliknya. Gambar 2.24. memperlihatkan bagian- bagian MAD11.
Gambar 2.13 Bagian MAD11
Pada modul MAD 11 seperti gambar 2.22. terdapat expansion I/O connecting cabel yang akan disambungkan ke expansion conector yang ada pada PLC. Seperti gambar 2.23. Expansion I/O conecting cabel
24
berfungsi sebagai sarana untuk mengirim data dari modul MAD ke PLC CP1E untuk diolah.
Gambar 2.14 Koneksi antara PLC dan MAD11
Setiap unit analog I/O CP1W-MAD11 menyediakan 2 input analog dan 1 output analog. Kisaran input analog dapat diatur dari 0-20mA, atau 4sampai 20mA. Masukannya memiliki resolusi 1/6000. Fungsi deteksi sirkuit terbuka dapat digunakan dengan pengaturan 1-5VDC dan 4 sampai 20Ma. Kisaran keluaran analog dapat diatur 1-5VDC, 0 sampai 10 VDC, -10 sampai 10VDC, 0 sampai 20mA, atau 4-20mA. Keluarannya memiliki resolusi 1/6000.
7. Inverter
Gambar 2.15 Bentuk fisik inverter
https://www.gator.co.za/products/senlan-sb150-series/
Inverter / variable frequency drive / variable speed drive merupakan sebuah alat pengatur kecepatan motor dengan mengubah nilai frekuensi dan tegangan yang masuk ke motor. pengaturan nilai frekuensi dan tegangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan kecepatan putaran dan torsi motor yang di inginkan atau sesuai dengan kebutuhan. Secara sederhana prinsip dasar inverter untuk dapat mengubah frekuensi menjadi lebih kecil atau lebih besar yaitu dengan mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC kemudian dijadikan tegangan AC lagi dengan frekuensi yang berbeda atau dapat diatur.
Gambar 2.16 Inverter
http://trikueni-desain-sistem.blogspot.com/2013/09/Prinsip-Dasar-Inverter.html
Untuk mengubah tegangan AC menjadi DC dibutuhkan penyearah (converter AC-DC) dan biasanya menggunakan penyearah tidak terkendali (rectifier dioda) namun juga ada yang menggunakan penyearah terkendali (thyristor rectifier). Setelah tegangan sudah diubah menjadi DC maka diperlukan perbaikan kualitas tegangan DC dengan menggunakan tandon kapasitor sebagai perata tegangan. Kemudian tegangan DC diubah menjadi tegangan AC kembali oleh inverter dengan teknik PWM (Pulse Width Modulation). Dengan teknik PWM ini bisa didapatkan amplitudo dan frekuensi keluaran yang diinginkan. Selain itu teknik PWM juga menghasilkan harmonisa yang jauh lebih kecil dari pada teknik yang lain serta menghasilkan gelombang sinusoidal, dimana kita tahu kalau harmonisa ini akan menimbulkan rugi-rugi pada motor yaitu cepat panas. Maka dari itu teknik PWM inilah yang biasanya dipakai dalam mengubah tegangan DC menjadi AC(Inverter).
26
Memang ada banyak cara untuk mengatur/mengurangi kecepatan motor seperti dengan gear box / reducer. Namun mengatur kecepatan motor dengan inverter akan memperoleh banyak keuntungan yang lebih bila dibandingkan dengan cara-cara yang lain. Seperti : jangkauan yang luas untuk pengaturan kecepatan dan torsi motor, mempunyai akselerasi dan deselerasi yang dapat diatur, mempermudah proses monitoring/pengecekan, sistem proteksi motor yang baik, mengurangi arus starting motor dan menghemat pemakaian energi listrik, memperhalus start awal motor dll.
Terdapat banyak produk inverter (Variable speed drive) di pasaran dengan berbagai vendor, seperti : Mitsubishi, Altivar, Siemen, LG, Omron, Hitachi, Yaskawa, Fuji, dll.
Gambar 2.17 Macam-macam Inverter
http://trikueni-desain-sistem.blogspot.com/2013/09/Prinsip-Dasar-Inverter.html
Pemilihan inverter yang benar tentunya dengan memperhatikan spesifikasi dari motor serta keperluan dalam pemakaian inverter itu sendiri.
seperti dengan memperhatikan daya motor, tegangan motor, frekuensi motor.
contohnya anda memiliki motor 3 phase 3KW, maka anda perlu menggunakan inverter dengan spesifikasi daya diatas 3 kw seperti 3,2 kw atau 3,3 kw dan tentunya tegangan keluaran dari inverter harus sama dengan tegangan motor. sebenarnya anda juga bisa menggunakan inverter dengan daya 3 kw untuk motor 3 kw tapi dengan syarat anda menggunakan motor
tersebut dengan beban yang kecil atau dengan kata lain motor tidak digunakan dengan daya maksimal. Jadi penting untuk mengetahui arus pada motor saat dijalankan dengan beban, untuk settingan ampere pada inverter sebagai proteksi motor, serta untuk menghitung daya beban yang berguna dalam pemilihan inverter. Pemilihan inverter dengan mendekati daya motor akan lebih efisien daripada memilih inverter jauh diatas dari daya motor.
Berikut ini akan saya gambarkan rangkaian kontrol forward reverse motor dengan inverter secara sederhana dengan menggunakan inverter vendor mitsubishi.
Rangkaian motor induksi putar kanan kiri (forward reverse)
Gambar 2.18 Pemasangan inverter pada instalasi motor
Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa pengaturan frekuensi inverter dilakukan dengan mode eksternal menggunakan potensiometer. pengaturan frekuensi juga bisa dilakukan tanpa potensio dengan mengganti settingan inverter dengan mode internal. Dari gambar diatas juga bisa dilihat jika sinyal
28
kontrol output SD dihubungkan dengan STF maka motor akan berjalan maju/forward sedangkan jika dihubungkan ke STR maka motor akan berjalan mundur/reverse. Pengaturan kontrol forward reverse ini diatur oleh relay CR1 dan CR2.