• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTA HISTORIS DAN KEYAKINAN MUSLIM

MENCARI MUHAMMAD YANG HISTORIS • Mengapa Qur’an tidak dapat dipahami secara terpisah dari Hadith

FAKTA HISTORIS DAN KEYAKINAN MUSLIM

Dengan menggunakan Qur’an, Hadith dan Sira, apa yang paling dapat kita ketahui tentang Muhammad? Kepastian historis tentunya tidak mudah untuk didapat melalui teks yang kurang lengkap seperti Qur’an, yang dipenuhi dengan informasi yang salah seperti Hadith, dan selambat Sira. Bahkan Qur’an dalam opini beberapa sejarawan modern, “seperti yang kita miliki sekarang bukanlah sebuah karya dari Muhammad atau para redaksi Uthman... tetapi sebuah endapan tekanan sosial dan budaya dari dua abad Islam yang pertama”.(24) Sementara apologis Islam secara umum menyatakan dengan bangga bahwa teks Qur’an tidak pernah diubah dan tidak ada varian-varian lainnya, ada beberapa indikasi bahkan

dalam beberapa tradisi Islam bahwa sesungguhnya hal ini tidaklah demikian. Seorang Muslim mula-mula, yakni Anas ibn Malik, melaporkan bahwa setelah sebuah peperangan yang menewaskan banyak orang Muslim, Qur’an sebenarnya memuat sebuah pesan dari orang Muslim yang terbunuh untuk mereka yang masih hidup: “Kemudian kami membaca sebuah ayat di dalam al-Qur’an dalam waktu yang panjang, (ayat yang) telah disingkirkan atau dilupakan. Maka nyatalah kepada umat kami bahwa kami telah bertemu Tuhan kami yang berkenan dengan kami dan kami menyenangkan-Nya”.(25)

Sementara itu, beberapa sarjana Barat seperti pakar hadith Ignaz Goldziher (1850-1921), juga John Wansbrough, Patricia Crone, Michael Cook, Christoph Luxenberg, dan yang lainnya, telah membuat sebuah terobosan dalam meneliti ahadith mana yang merefleksikan apa yang benar-benar dikatakan dan dilakukan Muhammad, dan mana yang merupakan legenda yang saleh – riset yang sering menyimpang secara tajam dari hikmat yang diterima oleh para sarjana Muslim berkenaan dengan Hadith.(26)

Dari sudut pandang historis yang sangat ketat, mustahil untuk menyatakan secara pasti bahwa ada seorang bernama Muhammad yang benar-benar pernah hidup, atau seandainya pun ia pernah ada dalam sejarah, ia banyak melakukan apa yang diceritakan mengenai dirinya. Seumpamanya pun ia pernah eksis – terutama berdasarkan catatan mengenai aspek-aspek kehidupannya yang sangat memalukan bagi orang Muslim di jaman sekarang (dan, dalam berbagai tingkatan yang berbeda di sepanjang sejarah), hal-hal itu dikonfrontasikan dengan sulitnya untuk disesuaikan dengan ukuran kepantasan di jaman modern ini. Sangat sulit untuk membayangkan bagaimana Muhammad menikahi seorang anak perempuan yang masih berusia 6 tahun, atau pernikahannya dengan mantan menantunya. Orang Muslim bergumul selama berabad-abad untuk menjelaskan hal-hal ini dan juga aspek-aspek kehidupan Muhammad lainnya; jika seorang editor atau kompilator dapat dengan begitu saja membuang atau melupakan hal-hal itu, pastilah ia akan melakukannya. Namun, beberapa sejarawan percaya bahwa Muhammad yang muncul di hadapan kita dalam Qur’an, Hadith, dan Sira adalah seorang figur yang campur-aduk, yang kemudian memberikan imperialisme dan mitos Arab. Yang lainnya juga telah mempertanyakan apakah Muhammad dalam sejarah benar-benar mempunyai hubungan dengan Mekkah dan Medina, atau jika kisah itu mendapatkan setting demikian untuk memposisikannya di kota-kota utama di Arab Saudi.

Spekulasi-spekulasi historis ini jelas sekali tidak berpengaruh pada doktrin atau praktek Islam. Oleh karena itu, tidak kurang penting untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan Muhammad daripada apa yang secara umum dipercayai oleh orang-orang Muslim mengenai kehidupan Muhammad, karena apa yang dipercayai oleh orang Muslim ini masih membentuk dasar bagi keyakinan, praktek, dan hukum orang Muslim. Penting untuk mengetahui Muhammad yang telah membentuk dan terus membentuk kehidupan

banyak orang Muslim di seluruh dunia. Gambaran yang populer mengenai Muhammad, dan sejumlah besar legislasi Islam yang diterima oleh jutaan Muslim pada masa kini sebagai hukum Allah yang sebenarnya, telah diperinci dari perkataan dan perbuatannya dalam hadith yang oleh para ulama dan ahli hukum dari aliran-aliran Islam ortodoks, dipandang otentik.

Gambaran mengenai Muhammad seperti inilah yang menginspirasi orang Muslim di seluruh dunia, apakah itu baik atau jahat, dan itu tetaplah benar tanpa mempedulikan akurasi historis yang sebenarnya dari materi ini. Jutaan orang Muslim memandang Muhammad yang ada dalam Qur’an, Hadith dan Sira untuk mendapatkan tuntunan tentang bagaimana meneladani tokoh yang dalam tradisi Islam telah dianugerahi al-insan al-kamil, atau Manusia Sempurna. Konsep ini telah memainkan peranan yang penting dalam mistik Islam. Sarjana Itzchak Weismann, dalam mendiskusikan pemikiran mistik Amir ‘Abd al-Qadir al-Jaza’iri (1808-1883), yang telah mengobarkan jihad terhadap Perancis yang kemudian menjadi Algeria modern, menjelaskan bahwa dalam tradisi-tradisi mistik Islam, “Manusia Sempurna adalah kemanusiaan yang ideal. Dalam suatu kriteria yang ketat bahwa hanya Muhammad yang telah mencapai keadaan ini dengan sempurna, oleh karena hanya dalam dia nama-nama Ilahi telah dinyatakan dalam harmoni yang lengkap dan sempurna”.(27) Sementara beberapa orang Muslim yang tidak terlalu mistis akan mendapati bahwa ini adalah sebuah penghormatan yang berlebihan. Devosi populer terhadap Muhammad di kalangan orang Muslim di seluruh dunia tidak kurang bersemangat.

Itulah sebabnya sangatlah penting di jaman sekarang ini orang-orang Barat menjadi lebih akrab dengan satu figur yang mempesona ini.

Catatan Kaki

1. Dr. Muqtedar Khan, “The Legacy of Prophet Muhammad and the Issues of Pedophilia and Polygamy,” Ijtihad, June 9, 2003.

2. Muhammad Ibn Ismaiel Al-Bukhari, Shih al-Bukhari: The Translation of the Meanings, trans. Muhammad M. Khan, Darussalam, 1997, vol. 3, book 46, no. 2468.

3. Maxime Rodinson, Muhammad, translated by Anne Carter, Pantheon books, 1980, 279-283.

4. Bukhari, vol. 7, book 68, no. 5267. 5. Bukhari, vol. 1, book 8, no. 402. 6. Bukhari, vol. 4, book 56, no. 2832. 7. Von Denffer, 18-19.

8. The word hadith’s Arabic plural is ahadith, and this is found in much English-language Muslim literature. However, to avoid confusing English-speaking readers I have used the English plural form.

10. Abdul Hamid Siddiqi, Introduction to Imam Muslim, Sahih Muslim, translated by Abdul Hamid Siddiqi, Kitab Bhavan, revised edition 200, v.

11. “Ibn Hisham’s Notes,” in Ibn Ishaq, The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, A. Guillaume, translator, (Oxford University Press, 1995), 691.

12. Ibid., xxxv 13. Ibid., xxxvii 14. Ibid., 516 15. Ibid., 451

16. My own copy bears the stamp of the Islamic bookstore in Lahore, Pakistan.

17. AH stands for anno Hegirae, year of the Hijra, or the number of years after Muhammad fled Mecca for Medina, according to the Islamic lunar calendar.

18. A.I Akram, The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed: His Life and Campaigns (Feroze Sons Publisher, Lahore, 1969).

19. Javeed Akhter, The Seven Phases of Prophet Muhammad’s Life, International Strategy and Policy Institute, 2001.

20. PBUH stands for “Peace Be Upon Him.”

21. Salah Zaimeche, “A Review on Early Muslim Historians,” Foundation for Science Technology and Civilisation, 2001.

22. Yahiya Emerick, The Life and Work of Muhammad, Alpha Books, 2002, 311.

23. S. Moinul Haq and H.K. Ghazanfar, “Introduction,” in Ibn Sa’d, Kitab Tabaqat Al-Kabir, vol. I, S. Moinul Haq and HK. Ghazanfar, translator, Kitab Bhavan, n.d., xxi. 24. Ibn Al-Rawandi, “Origins of Islam: A Critical Look at the Sources,” in The Quest for the

Historical Muhammad, Ibn Warraq, editor, Prometheus Books, 2000, 111. 25. Ibn Sa’d, Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir, vol. II, 64

26. See Ignaz Goldhizer, Muslim Studies, vol. 2, George Allen & Unwin Ltd., 1971.

27. Itzchak Weismann, “God and the Perfect Man in the Experience of ‘Abd Qâdir al-Jaza’iri,” Journal of the Muhyiddin Ibn ‘Arabi Society, volume 30, Autumm 2001.

PASAL 3

MUHAMMAD MENJADI NABI

• Agama-agama dan dewa-dewa Arab sebelum Islam

• Tradisi-tradisi Muslim: Orang Yahudi dan Kristen menantikan seorang nabi. • Penglihatan Muhammad yang pertama: malaikat– atau sesuatu yang lain? • Ketakutan Muhammad dan keinginan untuk bunuh diri

• Bagaimana Muhammad menjadi yakin bahwa ia adalah seorang nabi