HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kandungan Nutrisi Pakan
4.2 Faktor abiotik pemeliharaan larva Aedes egypti
Faktor abiotik selama pemeliharaan penting diketahui sebagai parameter kontrol. Pengukuran parameter udara dan air perlu diperhatikan guna mencapai kondisi stabil (optimum) dalam pemeliharaan. Parameter udara meliputi pengukuran suhu dan kelembaban relatif. Parameter air meliputi pengukuran suhu, pH dan oksigen terlarut/dissolved oxygen (DO). Kondisi optimum diharapkan juga mampu meningkatkan kesuksesan pemeliharaan larva nyamuk A.aegypti.
Hasil pengukuran merupakan hasil rata-rata dari masing-masing parameter faktor abiotik selama pemeliharaan larva nyamuk A. aegypti. Suhu udara harian selama pemeliharaan larva adalah 27±2 °C dan kelembaban udara relatif 75,2±5%.
Hasil pengukuran parameter air disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Hasil pengukuran suhu, pH dan oksigen terlarut (DO) air selama pemeliharaan larva nyamuk Aedes aegypti
Pakan
Parameter Air
Suhu (°C) pH DO (mg/l) Tepung larva lalat black soldier fly 26,2±2 7,2±2 5,5±2
Pakan ikan koi 26,1±2 7,0±2 5,3±2
Pakan anjing 26,1±2 7,2±2 4,7±2
Suhu dalam proses pemeliharaan nyamuk berpengaruh terhadap waktu pertumbuhan, kematian dan umur dewasa (Tunlin, Burkot & Kay 2000; Su &
Mulla, 2001; Delatte, Gimonneau, & Triboire, 2009). Suhu udara, kelembaban relatif dan suhu air dalam pemeliharaan larva A.aegypti pada penelitian ini telah
sesuai dengan Couret et al., (2014) yang menyatakan bahwa larva nyamuk A.
aegypti mampu hidup dengan ketahanan yang baik pada kisaran suhu udara 26–28
°C dan kelembaban udara relatif 60-75,5%. Suhu air 25,5-29 °C telah terbukti mampu meningkatkan produksi pupa dan mempercepat waktu pertumbuhan (Balestrino et al., 2014).
Parameter pH memegang peranan penting dalam proses homeostasis, oleh karena itu pH merupakan faktor fisik utama yang berpengaruh terhadap distribusi organisme dalam habitat akuatik (Clark, Flis, & Remold, 2004b). Rata-rata pH harian pada pemeliharaan larva dari ketiga pakan berkisar antara 7-7,2 dan oksigen terlarut 4,7-5,3 mg/L (Tabel 3). Hal tersebut masih tergolong sesuai untuk pemeliharaan nyamuk. Larva nyamuk A. aegypti memiliki range pH yang luas yaitu 4-11. Larva yang dipelihara pada pH air pada rentang 4-11 memiliki nilai pH hemolimph yang konstan yaitu di atas 7,5 di seluruh rentang pH. Namun, pH air yang disarankan dalam pemeliharaan nyamuk A. aegypti adalah 4-7. Parameter pH mampu mempengaruhi waktu pertumbuhan dan kematian larva dan pupa baik jantan maupun betina (Clark, Flis, & Remold, 2004a; Clark, Flis, & Remold, 2004b).
4.3 Pengaruh penggunaan pakan terhadap waktu pertumbuhan Aedes aegypti Waktu pupasi dan kemunculan dewasa nyamuk Aedes aegypti tidak berbeda dari ketiga pakan (Sig. 0,630 dan 0,296; P>0,05) (Lampiran 3). Durasi pertumbuhan dari larva instar I sampai terbentuknya pupa (waktu pupasi) berlangsung selama 7-10 hari. Durasi pertumbuhan dari larva instar I sampai kemunculan dewasa berlangsung selama 9-12 hari (Tabel 4). Secara lebih rinci, instar I larva nyamuk A.
aegypti berlangsung selama 2 hari, instar II selama ±1 hari, instar III selama ±1-2 hari dan instar IV berlangsung ±1-±1-2 hari. Pupasi (kemunculan pupa) berlangsung selama ±1-3 hari dan kemunculan dewasa berlangsung selama ±1-2 hari.
Singkatnya waktu pupasi dan kemunculan dewasa merupakan hal yang diharapkan dalam program TSM guna mempercepat produksi serangga (Bond et al., 2017). Tepung larva lalat black soldier fly dapat dikonsumsi oleh larva nyamuk A. aegypti. Hal tersebut dapat terlihat dari keberhasilan proses pertumbuhan larva menjadi pupa dan dewasa. Tepung larva lalat tidak berpengaruh negatif terhadap waktu pertumbuhan larva nyamuk. Namun, penggunaannya masih belum mampu mempercepat waktu pupasi dan kemunculan dewasa. Durasi pertumbuhan dari penggunaan tepung larva lalat black soldier fly terhadap larva nyamuk A. aegypti setara dengan penggunaan pakan ikan koi dan pakan anjing (Tabel 4).
Tabel 4. Pengaruh penggunaan pakan terhadap waktu pertumbuhan Aedes aegypti
Pakan
Waktu pertumbuhan (hari)
Waktu pupasi Waktu kemunculan dewasa (rata-rata±SD) (rata-rata±SD) Tepung larva lalat black soldier fly 2,00±0,00a 2,00±0,00a
Pakan ikan koi 1,67±0,57a 1,67±0,57a
Pakan anjing 1,67±0,57a 1,33±0,57a
Keterangan: Waktu pupasi 1,00 (6-10 hari) dan 2,00 (7-10 hari). Waktu kemunculan dewasa 1,00 (8-12 hari) dan 2,00 (9-12 hari). Superscript yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada uji ANOVA post hoc Tukey
Waktu metamorfosis A. aegypti dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan suhu (Tunlin, Burkot & Kay, 2000). Selama fase larva, sumber makanan yang masuk ke dalam tubuh akan disintesis dan kemudian diakumulasi. Hasil sintesis yang berupa nutrisi-nutrisi penting akan digunakan dalam proses metamorfosis dan sebagai cadangan makanan pada fase berikutnya (Briegel, Knüsel, & Timmermann,
2001; Lang et al., 2017). Larva nyamuk memerlukan nutrisi berupa protein, lipid dan glikogen untuk kesuksesan pertumbuhan (Briegel & Timmermann, 2001;
Araujo, Gil & Silva, 2012). Asam amino spesifik seperti arginin, sistein, glisin, prolin, triptofan, tirosin dan fenilalanin merupakan komponen protein penting dalam proses ini, yaitu menjamin berhasilnya proses moulting, eklosi dan diferensiasi (Chen, 1961).
Pertumbuhan larva nyamuk dikatakan berhasil ketika larva secara stabil tumbuh sampai instar akhir. Nutrisi larva pada serangga merupakan faktor penentu keberhasilan metamorfosis karena berperan penting dalam regulasi hormonal (Telang, Frame & Brown, 2007). Nutrisi memegang peran penting untuk memfasilitasi pertumbuhan, diantaranya untuk proses moulting dan eclosion (Telang, Frame, & Brown, 2007). Moulting dan Eclosion merupakan proses perubahan fase/tahap dalam metamorfosis serangga. Istilah moulting pada nyamuk digunakan saat terjadinya perubahan fase instar larva dan perubahannya menjadi pupa (Araújo, Gil & Silva, 2012). Eclosion/eklosi digunakan saat keluarnya dewasa dari pupa dan larva dari telur (Briegel, Hefti, & Dimarco, 2002; Farnesi et al., 2009).
Secara fisiologis, proses metamorfosis diatur oleh interaksi hormon otak yaitu prothoracicotropic hormone (PTTH), juvenile hormone (JH), dan hormon ekdison yang sensitif terhadap nutrisi (Telang, rame & Brown, 2007). Hormon otak disekresikan oleh bagian otak yang pelepasannya dipengaruhi oleh faktor makanan.
Adanya hormon tersebut menyebabkan sekresi hormon ekdison dan JH (Telang, Frame, & Brown, 2007). Kedua hormon berperan pengaturan proses moulting dan
berhentinya waktu makan (stop feeding) pada larva untuk memasuki waktu pupasi.
Ketika PTTH melepas hormon ekdison maka dimulai sintesis protein untuk menyusun kutikula baru atau pergantian kulit (moulting) (Telang, Frame, & Brown, 2007). Bersamaan dengan aktivasi PTTH, korpora alata yang terdapat di perbatasan antara prothoraks dan otak juga mulai mengeluarkan JH. Titer (kadar) JH menentukan jenis kutikula yang akan dibentuk. Titer JH yang cukup tinggi akan membentuk kutikula instar berikutnya. Ekspresi JH dari satu instar ke instar berikutnya semakin rendah, dan pada titer tertentu menyebabkan yang disusun adalah kutikula pupa (terjadi pada instar akhir/instar IV pada nyamuk) (Telang, Frame, & Brown, 2007). Ekdison dan JH merupakan senyawa steroid yang biosintesisnya berasal dari kolesterol (bagian dari lipid) (Telang, Frame, & Brown, 2007), sehingga dibutuhkan makanan yang cukup mengandung kolesterol agar serangga dapat cukup memiliki kedua hormon tersebut. Tepung larva lalat tinggi kandungan protein dan lipid (Tabel 1), sehingga penggunaannya dimungkinkan tidak mengganggu proses metamorfosis dan berpotensi mempercepat pertumbuhan larva nyamuk A. aegypti.
Protein penting dibutuhkan pada pertumbuhan larva terutama pada saat larva instar I sampai III. Protein dibutuhkan pada awal instar untuk proses pembentukan organ, khususnya bagian torak (Timmermann & Briegel, 1999).
Sedangkan, nutrisi tersimpan seperti lipid dan glikogen digunakan untuk pertumbuhan larva menjelang waktu pupasi dan kemunculan dewasa (Handel, 1988). Nutrisi tersimpan yang kaya akan lipid mampu meningkatkan ketahanan pupa yang dihasilkan (Araújo, Gil & Silva, 2012). Pada saat kemunculan dewasa,
lipid dan glikogen akan digunakan untuk kebutuhan metabolik dan terbang sebelum mendapat sumber gula/nektar bunga (Clements, 1955; Handel, 1988). Nutrisi tersimpan dari fase larva sangat penting untuk memperpanjang umur dewasa, mempengaruhi berat pupa dan dewasa, kemampuan terbang, dan kesuksesan kawin/kopulasi oleh jantan (Araújo, Gil & Silva, 2012; Lang et al., 2017).
4.4 Pengaruh penggunaan pakan terhadap persentase kematian Aedes aegypti Persentase kematian larva Aedes aegypti berbeda signifikan dari ketiga pakan (Sig. 0,004; P<0,05) (Lampiran 4). Penggunaan tepung larva lalat berbeda signifikan dengan pakan ikan koi dan pakan anjing terhadap parameter persentase kematian larva dan pupa nyamuk A. aegypti. Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan pakan ikan koi dan pakan anjing. Tepung larva lalat memiliki persentase kematian larva yang paling rendah yaitu 2,66% dan persentase kematian pupa paling rendah yaitu mencapai 0% (Tabel 5).
Tabel 5. Pengaruh penggunaan pakan terhadap persentase kematian Aedes aegypti
Pakan Tepung larva lalat black soldier fly 2,66±0,29a 0,00±0,00a
Pakan ikan koi 9,66±0,28b 5,17±1,61b
Pakan anjing 8,66±0,57b 3,91±1,36b
Keterangan: Superscript berbeda menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada uji ANOVA post hoc Tukey
Kematian dalam pemeliharaan larva dan pupa nyamuk sebenarnya tidak dapat diketahui secara spesifik. Umumnya, kematian disebabkan oleh pembentukan sampah permukaan (scum formation) dan banyak dialami pada saat instar awal (Asahina, 1964). Sampah permukaan merupakan lapisan sampah sisa pakan yang
terbentuk pada badan air yang berpengaruh signifikan terhadap kematian larva dan pupa nyamuk. Sampah permukaan dapat mengakibatkan terhambatnya pengambilan oksigen oleh larva (Asahina, 1964). Fenomena tersebut antara lain dipengaruhi oleh tekstur, takaran dan kandungan minyak pada pakan serta jumlah larva (Asahina, 1964). Tepung larva lalat memiliki tekstur tepung sedikit basah, sehingga cenderung menggumpal dan tidak tersebar merata di badan air ketika ditaburkan. Pakan ikan koi dan pakan anjing memiliki tekstur kering dan mudah tersebar ke seluruh permukaan air (Lampiran 1). Walaupun lemak pada tepung larva lalat tergolong tinggi (Tabel 1), namun dalam praktiknya minyak lebih banyak terbentuk dan menutupi permukaan air pada penggunaan pakan ikan koi dan pakan anjing. Adanya hal tersebut selama pemeliharaan, maka kemungkinan pembentukan sampah permukaan diduga akan lebih tinggi terjadi pada penggunaan pakan ikan koi dan pakan anjing dibanding tepung larva lalat. Pembentukan sampah permukaan akibat sisa pakan dapat mengubah pH dan kandungan oksigen terlarut pada air. Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi waktu pertumbuhan dan kematian larva dan pupa baik jantan maupun betina (Clark, Flis, & Remold, 2004a;
Clark, Flis, & Remold, 2004b).