• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor dan Dampak Pernikahan di Bawah Umur

Dalam dokumen Oleh: TEDDY PARHAN (Halaman 87-100)

BAB IV HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN

A. Potret Pernikahan di Bawah Umur di KUA Kecamatan Gunung Putri

2. Faktor dan Dampak Pernikahan di Bawah Umur

(Sumber: Interview Pribadi Tanggal 02 Maret-15 Mei 2021) Faktor dominan:

Diagram. 5

2. Faktor dan Dampak Pernikahan di Bawah Umur

Pernikahan di bawah umur tidak terjadi hanya di desa-desa tetapi bisa terjadi juga di kota-kota besar dan rata-rata mempunyai alasan yang sama

41%

14% 18%

9% 18%

Hamil di Luar nikah Ekonomi

Menghindari Zina Perjodohan

Tidak tahu isi UU Perkawinan Menghindari Zina 14 11/10/2020 RA dan JF 21 dan 17 Hamil di luar Nikah

15 17/11/2020

MS dan

DA 22 dan 18 Hamil di luar Nikah

16 16/11/2020 J dan N 26 dan 17 Ekonomi dan Menghindari Zina 17 16/11/2020 AR dan TS 25 dan 18

Menghindari zina dan tidak tahu isi UU

yaitu hamil di luar nikah atau istilah masyarakat sekarang yaitu “kecelakaan”. Lalu apa saja faktor-faktor yang mendorong terjadinya pernikahan di bawah umur di Wilayah Kecamatan Gunung Putri?

Seperti yang bisa dilihat pada data di atas didominasi oleh perempuan dengan rentan umur 16-18 tahun. Adapun faktor terjadinya pernikahan di bawah umur ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu:

1. Faktor internal

Faktor internal yang di maksud penulis adalah berkaitan dengan pemahaman dan keinginan dari diri mereka sendiri, dilandasi dengan rasa cinta dan cocok, mereka merasa sudah siap dari segi mental. Sehingga memutuskan untuk melangsungkan pernikahan dan mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagaimana alasan dari YJ yang menikah pada tanggal 03 Maret 2020 dia menyatakan:

“Saya nikah karena udah ngerasa siap aja a,udah cocok, istri juga termasuk dewasa lah walaupun umurnya masih muda, intinya saya menghindari hal yang ga baik aja, soalnya udah cukup lama kita pacarana”

Ketika menikah YJ berusia 24 tahun sedangkan istrinya 18 tahun, secara hukum perundang-undangan YJ telah memenuhi persyaratan untuk menikah, dan secara hukum Islam YJ telah memenuhi persyaratan ahliyyah yaitu, sifat yang menunjukkan seseorang telah_matang sempurna jasmani_dan akalnya sehingga seluruh_tindakannya dapat dinilai dan_dipertanggung jawabkan oleh syara’.2 Sedangkan istrinya NN belum memenuhi persyaratan yang tertera dalam UU perkawinan, maka NN melakukan permohonan dispensasi pernikahan di Pengadilan Agama Cibinong agar pernikahannya bisa dicatat di KUA.

2 Ali Imron, Pertanggung Jawaban Hukum: Konsep Hukum Islam dan Relevansinya dengan

Dari kasus ini, YJ dan NN mereka sudah mampu dan pantas secara lahir batin, mereka menikah demi memelihara diri dari kejahatan dan kesengsaraan, sekalipun mereka tidak menikah mereka masih bisa menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan, maka hukum menikah bagi mereka hukumnya sunnah.

Selain keinginan dari diri sendiri, keluarga khususnya orang tua merupakan salah satu faktor terjadinya pernikahan di bawah umur. Orang tua melakukan perjodohan dan mendesak anak untuk segera menikah, karena Orang tua menginginkan anaknya terjaga dari perbuatan yang terlarang dan terhindar dari terkena aib yang membuat malu nama baik keluarga. Sebagaimana pasangan A dan RA mereka berdua menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya melalui proses taaruf. Maka, hukum pernikahan bagi mereka adalah mubah, karena pernikahan yang mereka langsungkan tidak ada desakkan oleh alasan-alasan yang mewajibkan mereka segara menikah atau karena alasan-alasan yang mengharamkan untuk mereka menikah.

Berbicara tentang perjodohan, dalam pasal 26 Undang-undang No.35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, pasal ini sudah menyebutkan bahwasanya orang tua berkewajiban dalam memelihara, menumbuh kembangkan anak, dan melindungi anak. Ditinjau dari UU tersebut, bahwasanya orang tua_tidak berhak menjodohkan dan memilih pasangan untuk_anaknya kecuali atas kemauan anak itu sendiri. Jika anak harus dijodohkan oleh orang tuanya, maka hal ini termasuk dalam_kekerasan pada anak,_karena hak_anak tidak terpenuhi.3 Dalam Islam dikenal dengan wali mujbir, wali mujbir adalah wali yang mempunyai wewenang langsung untuk menikahkan

3 Desyi Wahna Sari, “Perjodohan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2004 Menurut Hukum Islam” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi, 2020), h.57.

orang yang berada di bawah perwaliannya meskipun tanpa izin orang tua.4 Wali mujbir terdiri dari bapak dan seterusnya ke atas, selain mereka tidak mempunya hak ijbar. 5 Namun, masih banyak orang tua yang masih_salah_mengartikan hak ijbar, justru hak tersebut di lakukan untuk_memaksakan kehendak terhadap anak.

2. Faktor Eksternal

Sesuai dengan hasil wawancara penulis bahwa faktor eksternal juga menyebabkan terjadinya pernikahan di bawah umur, di antaranya disebabkan oleh putusnya pendidikan anak, pergaulan bebas, ekonomi, dan tidak mengerti pasangan tentang isi Undang-undang pernikahan. Sebagaimana penulis temukan bahwa pelaku praktik pernikahan di bawah umur di atas, rata-rata tingkat pendidikannya masih tergolong rendah, yaitu antara SD dan SMP. Atas dasar inilah, Kepala KUA Kecamatan Gunung Putri sepakat bahwa faktor terjadinya pernikahan di bawah umur ini salah satunya karena pendidikan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Shilahuddin Nur, S.Ag., Kepala KUA Kecamatan Gunung Putri:

“Bisa saja karena faktor Pendidikan mereka melakukan pernikahan, karena yang saya tahu, rata-rata mereka sekolah Cuma sampai SMP kadang ada yang SD saja, mungkin karena pandemi, sekolah dirumahkan orang tua lengah sehingga anak-anak bebas melakukan apa saja”6

4 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam Jilid 4, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 1996), h. 1337.

5 Abdul Ghofur Anshori, Perkawinan Islam Perspektif Fikih dan Hukum Positif, (Yogyakarta:UII Press 2011), h.40.

Kepala KUA Kecamatan Gunung Putri menegaskan bahwa salah satu faktor terjadinya pernikahan di bawah umur di KUA Kecamatan Gunung Putri adalah faktor Pendidikan, menurut data hasil wawancara penulis terhadap para pelaku praktik pernikahan di bawah umur terdapat yang 5 orang yang hanya sampai Sekolah Dasar, 7 orang Sekolah Menengah Pertama dan 9 orang Sekolah Menengah Atas, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel.7

NO NAMA USIA

TINGKAT PENDIDIKAN TIAP

PASANGAN

1 J dan SI 18 dan 16 SD dan SMA 2 IH dan FA 22 dan 18 SMA dan SMA 3 S dan DA 28 dan 17 SMA dan SD

4

MR dan

RZ 24 dan 17 SMP dan SMP 5 S dan F 20 dan 18 SMP dan SD

6

AP dan

AT 18 dan 17 SMA dan SMP

7

JY dan

NN 23 dan 18 SMA dan SMA 8 A dan RA 25 dan 18 SMA dan SD

9

DS dan

SM 20 dan 17 SMA dan SMA

10

AM dan

Dan dari 17 pasangan ini terdapat 9 orang yang harus putus Sekolah Menengah Atas, terdiri dari 8 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Faktor mereka harus putus sekolah salah satunya adalah karena Pandemi Covid-19, Pandemi Covid-19 ini berdampak pada kegiatan belajar yang mengharuskan mereka belajar secara daring, sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Orang tua lengah dan kurang mengawasi anaknya, mengakibatkan anak terjerumus terhadap hal yang dilarang oleh Agama, hingga akhirnya orang tua memutuskan untuk memberhentikan kegiatan belajar mereka serta menikahkan anaknya. Sebagaimana pernyataan dari DS yang menikahi istrinya SM pada 17 tahun:7

“Alasan saya nikah itu karena corona a, awalnya istri itu ngerasa jenuh gara-gara corona sekolah daring kelamaan, terus akhirnya kita jadi sering ketemu maen terus, sampe suatu hari kita ngelakuin, sampai akhirnya hamil. Abis itu mau ga mau istri berhenti sekolah soalnya kita dinikahin sama orang tua kita a.”

7 DS, Pelaku Perniakahan di bawah umur, Interview Pribadi, Karanggan, 10 April 2021.

11 A dan LR 26 dan 18 SMA dan SMA 12 R dan I 18 dan 17 SMP dan SMP 13 AR dan N 18 dan 18 SD dan SMP 14 RA dan JF 21 dan 17 SMA dan SMA

15

MS dan

DA 22 dan 18 SMA dan SMA 16 J dan N 26 dan 17 SMA dan SMP

17

AR dan

Faktor selanjutnya yaitu pergaulan bebas, sebagaimana data di atas, menunjukkan bahwa pada tahun 2020 pergaulan bebas menjadi salah satu faktor yang dominan, terdapat 9 pasangan dari 17 pasangan yang penulis wawancarai melakukan pernikahan di bawah umur karena alasan telah hamil sebelum adanya pernikahan. Salah satu hal ini terjadi karena sangat lemahnya pengawasan orang tua pada masa pandemi Covid-19, anak merasa bebas melakukan yang ia inginkan pada masa pandemi Covid-19. Sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap anak, yaitu hamil di luar nikah. Sebagaimana pernyataan dari Ibu mertua DA, Anaknya menikah pada tanggal 17 September 2021:

“saya kurang ngawasin anak saya, mau temenan, bergaul, pacaran sama siapa aja, apa lagi pas corona ya, jarang dirumah dia main mulu, intinya saya percaya sama anak saya, tapi pas tahu tiba-tiba ada pacarnya hamil saya kaget”8

Pernikahan ini dilakukan demi kemaslahatan dan terjauh dari kemudaratan, Hakim telah benar-benar mempertimbangkan berdasarkan asas manfaat. Asas kemanfaatan dalam hukum Islam adalah asas yang menyertai asas keadilan dan kepastian hukum, yaitu segala pengembalian keputusan hukum di timbang dan didasarkan pada manfaat maslahat tidaknya suatu keputusan tersebut.9 Asas kemanfaatan hukum lebih melihat kepada manusia dan bukan manusia ada untuk hukum.10 Maka Hakim mempertimbangkan pernikahan 8Orang tua Ms, Orang tua Pelaku Pernikahan Di Bawah Umur, Interview Pribadi, Tlajung Udik, 12 April 2021.

9Ziaurrani Mahendra, “Pertimbangan dan Faktor Penyebab Hakim Mengabulkan Permohonan Dispensai Umur Pernikahan (Studi dalam Perspektif Pasal 7 Ayat 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Dalam Periode 2011 Sampai Dengan 2013 Di Pengadilan Agama Kota Malang)”, Artikel Ilmia, S-1, (Universitas Brawijaya Malang, 2014), h.19.

10 Nita Fatmawati, Yunanto, Marjo, “Dispensasi Perkawinan di bawah Umur Akibat Hamil di luar Nikah (Studi di Pengadilan Agama Demak”, Diponegoro Law Review, Vol. 5, No. 2 (2016), h. 12.

harus dilakukan atau wajib karena tidak ada cara lain untuk menjaga kecuali dengan jalan meikah. Dalam kaida Ushuliyyah dikatakan:

ٌبِجاَو َوُهَ ف ِهِب َّلًِإ ُبِجاَولا ُّمِتَي َلً اَم

”Sesuatu yang tidak menyebabkan terpenuhinya sesuatu yang wajib kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib”, Permohonan dispensasi nikah ini dikabulkan dianggap lebih besar manfaatnya, apabila Hakim tidak mengabulkan permohonan dispensasi ini maka dampak yang akan ditimbulkan bisa terjadi sangat besar. Pertimbangan Hakim yang lain adalah sesuai dengan kaidah Ushuliyyah

لحاصلما بلج ىلع مدقم دسافلما أرد

“Mencegah yang membahayakan itu lebih diprioritaskan dari pada meraih keuntungan”

Hal ini juga tertera dalam Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam juga dijelaskan, seorang wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yan menghamilinya. Pernikahan dengan Wanita hamil tersebut dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkannya perkawinan saat Wanita hamil, tidak diperlukan pernikahan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Serta mayoritas ulama dari Imam Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa pernikahan akibat hamil di luar nikah sah dan tidak ada ‘iddah bagi wanita yang hamil di luar nikah untuk

melangsungkan pernikahan.11 Artinya, Wanita yang hamil di luar nikah dapat dinikahkan tanpa harus menunggu kelahiran anaknya. Namun, berbeda dengan Ibnu Hanbal menurutnya pernikahan yang di lakukan karena hamil di luar nikah itu tidak boleh dilakukan dan tidak sah, kecuali dengan dua syarat:12

1. Selesai melahirkan 2. Telah bertobat dari zina

Selanjutnya adalah karena masalah ekonomi, masalah ekonomi merupakan tindak lanjut masalah pendidikan, karena rendahnya tingkat pendidikan orang tua dan anak mengakibatkan lemahnya ekonomi, sebagian orang tua yang mengalami PHK pada masa pandemi Covid-19 mengorbankan anaknya untuk menikah. Sebagaimana pernyataan MR, yang menikah pada tanggal 01 Agustus 2020:

“Orang tua istri saya maksa nikah, soalnya bapaknya kena PHK jadi nyuruh anaknya nikah sama saya a”13

Faktor yang terakhir adalah tidak mengetahui isi dari Undang-undang perkawinan, khususnya tentang batas usia pernikahan. Ketika penulis mewawancarai ke 17 pasangan muda pelaku pernikahan di bawah umur, penulis bertanya apakah mereka tahu tentang batas umur pernikahan? Ternyata hampir semua pasangan tidak tahu bahwa ada batasan umur untuk menikah. Untuk memperkuat pernyataan ini penulis juga melakukan wawancara dengan staf KUA Kecamatan 11 Ika Irdayanti, “Perkawinan Hamil di luar Nikah (Studi Analisis Imam Syafi’I dan Imam Ahmad Hambal” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2018), h.3.

12 Tengku Muhammda Hasbi As-Shiddieqy, Hukum-Hukum Fiqh Islam (Semarang:PT Pustaka Riski Putra, 1997), h. 243-244.

Gunung Putri dan kepala KUA Kecamatan Gunung Putri. Penghulu KUA Kecamatan Gunung Putri menyatakan bahwa:14

“Jadi a, rata-rata faktor pernikahan di bawah umur yang tercatat di sini itu kecelakaan (Hamil di luar nikah), sisanya si karena ekonomi jadi orang tua ada yang di PHK terus jalan pintasnya menikahkan anaknya supaya meringankan beban keluarga, terus tidak mengetahui UU batas umur pernikahan.” Maka berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis,15 penulis menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong adanya pernikahan di bawah umur yaitu:

Diagram. 6

Dari uraian di atas penulis menjelaskan tentang faktor pendorong terjadinya pernikahan di bawah umur di Wilayah Kecamatan Gunung Putri, lalu bagaimana dampak bagi mereka setelah melakukan pernikahan di bawah umur?

14 Saiful Ikhwan, Penguhulu KUA Kecamatan Gunung Putri, Interview Pribadi, Gunung Putri, 28 April 2021

15 Penulis melakukan wawancara dengan 17 orang pasangan yang melakukan pernikahan di bawah umur di wilayah Kecamatan Gunung Putri.

Agama 18% Perjodohan 14% Pendidikan 11% Pergaulan Bebas 32% Ekonomi 11%

Tidak Tahu isi UU Perkawinan

14%

Agama Perjodohan

Pendidikan Pergaulan Bebas

Setelah penulis melakukan wawancara dan penulis mengambil kesimpulan bahwa pernikahan yang mereka lakukan berdampak pada keharmonisan dalam rumah tangga. Keharmonisan suami istri merupakan bentuk pencapaian keberhasilan serta kebahagiaan yang tidak semua orang dapat memperolehnya.16Setiap orang mendambakan keluarga yang harmonis, keharmonisan rumah tangga ialah terciptanya kebahagiaan, rasa aman dalam keluarga dan terciptanya komunikasi yang baik di setiap anggota keluarga, sehingga jarang terjadi perselisihan dalam keluarga. Perselisihan dalam rumah tangga pasti akan terjadi, perselisihan dalam rumah tangga merupakan momok bagi pasangan yang baru menikah. Terkadang pernikahan yang dibangun bertahun-tahun pun sering mengalami perselisihan dan berdampak pada keharmonisan rumah tangga hingga berakhir dengan perceraian. Sebagaimana dari hasil wawancara yang penulis lakukan terhadap 17 pasangan, jika dilihat dari umur pernikahan yang telah mereka jalani, pernikahan mereka masih di kategorikan pernikahan seumur jagung. Seharusnya di usia rumah tangga yang relatif muda pernikahan harmonis dan jauh dari hal yang kurang baik. Akan tetapi, dari ke 17 pasangan ini, mereka mengakui bahwa sering terjadi perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga mereka, perselisihan dan pertengkaran menjadi makanan sehari-hari, bahkan sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut pengakuan SI yang menikah pada tanggal 30 Agustus 2020 menyatakan bahwa17:

“iya A kadang kita juga bertengkar mulu hal kecil saja di ributin mulu (dengan ketawa khasnya) sampe saya pernah d pukul walaupun gasakit

16 Eka Rini Setiawati, “Pengaruh Pernikahan Dini Terhadap Keharmonisan Pasangan Suami dan Istri di Desa Bagan Bhakti Kecamatan Balai Jaya Kabupaten Rokan Hilir”, Jom Fisip, Vol. 4 No.1 (Februari 2017), h. 8.

tapi sakit hati aja begitu a, sampe pernah pergi dari sini pulang ibu bapak saya”

Begitu N istri dari AR yang meikah pada tanggal 17 November 2020 menyatakan bahwa:18

“kalo berantem pernah adu omongan ga tahu kenapa beda saja pas pacaran sama sudah nikah, pas sudah nikah jadi sering berantem tapi saya, ya saya si sabar-sabar saja soalnya kita sendiri yang mau nikah” Pernikahan yang dilakukan di bawah umur merupakan faktor dari terjadinya perselisihan dan pertengkaran. Karena, di mana kondisi pasangan tersebut secara psikologis dan sosial belum matang, khususnya belum matangnya emosional. Kematangan emosional ini sangat penting demi menjaga keutuhan rumah tangga, jika tingkat kematangan emosional rendah, maka seseorang akan cenderung mengedepankan emosi tanpa berpikir mengenai upaya penyelesaiannya.

Akan tetapi sampai saat ini dari ke 17 pasangan yang penulis wawancarai tidak penulis temui dari mereka ada yang bercerai, karena relatif usia rumah tangga mereka yang masih tergolong muda, sehingga mereka masih sama-sama berusaha saling bertanggung jawab menjaga keutuhan rumah tangganya. Namun, tidak dapat dimungkiri jika mereka masih mempertahankan ego dan emosional yang meluap, maka perceraian pasti akan terjadi. Menurut Mies Grinjis dan Hoko Horii yang dikutip oleh Fachria Octaviani dan Nunung Nurwati bahwa angka perceraian pernikahan di bawah umur mencapai 50%, biasanya perceraian dilakukan saat usia pernikahannya satu hingga dua tahun.19

Pernikahan di bawah umur yang dilakukan juga mempunyai dampak terhadap kesehatan, khususnya terhadap kesehatan alat reproduksi

18 N, Pelaku Pernikahan di bawah Umur, Interview Pribadi, 17 Maret 2021.

19Fachria Oktaviani dan Nunung Nurwati, “Dampak Pernikahan Usia Dini Terhadap Perceraian”, https://Journal.umnpas.ac.id/index.php/humanitas/articel/download/2820/1387 , h.47,

perempuan. Kesehatan reproduksi menjadi salah yang sangat diperhatikan oleh dunia semenjak hal ini diangkat dalam konferensi Internasional yang diadakan di Kairo Mesir pada tahun 1994 mengenai Kependudukan dan Pembangunan (Internasional Conference on Population an Development, ICPD).20 Pernikahan di bawah umur yang dilakukan memiliki pengaruh yang tidak baik bagi seseorang yang menjalaninya, karena belum matangnya organ reproduksi dan juga kematangan fisik dari seorang remaja perempuan. Sehingga, hal ini sangat berisiko.

Usia Reproduksi yang sehat dan aman bagi perempuan adalah antara 20-35 tahun.21 Maka, jika remaja perempuan hamil di bawah umur tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi, karena alat reproduksi belum siap menerima kehamilan, dapat menimbulkan komplikasi dan salah satunya adalah keguguran kandungan. Keguguran di usia dini diakibatkan karena leher rahim seorang remaja masih sangat sensitif.22 Kurangnya terpenuhi gizi sang ibu dan anak dalam kandungan, serta terjadi anemia sampai depresi merupakan faktor terjadinya keguguran.23 Sebagaimana kasus yang di alami oleh kedua orang pasangan yang penulis wawancarai yaitu, DA (17 tahun) dan TA 16 (Tahun), secara umur keduanya belum memasuki fase usia sehat dan aman reproduksi sehingga kehamilan mereka sangat berisiko tinggi. Keduanya mengalami keguguran saat usia

20 Shafa Yuandina Sekarayu dan Nunung Nurwati, “Dampak Pernikahan Usia Dini Terhadap Kesehatan Reprodusi, Jurnal Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat (JPPM), Vol.2 No.1 (April 2021), h. 41.

21 Candra Wahyu dan Siti Mahmudah, “Analisis Sikap Pasangan Usia Subur Tentang Kesehatan Reproduksi Terhadap Penundaan Kehamilan di Kelurahan Blabak Kecamatan Pesantren Kota Kediri”, Strada Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 6 No. 2 (Desember 2017), h. 59.

22 Shafa Yuandina Sekarayu dan Nunung Nurwati, “Dampak Pernikahan Usia Dini Terhadap Kesehatan Reproduksi, Jurnal Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat (JPPM), Vol.2 No.1 (April 2021), h. 43.

23 Sri Mulyaningsih dan Fidyawati A. Hiola, “Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan Reproduksi Perempuan”, Lembaga Penelitian Dan Pengembangan Pada Masyarakat Universitas

kandungan 4 dan 5 bulan. Mereka beralasan bahwa salah satu faktor terjadinya keguguran keduanya adalah terlalu capai beraktifitas.

Dalam dokumen Oleh: TEDDY PARHAN (Halaman 87-100)

Dokumen terkait