UPAYA PREVENTIF KUA DALAM MENANGANI PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR PADA MASA PANDEMI COVID-19
(STUDI KUA KECAMATAN GUNUNG PUTRI)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh:
TEDDY PARHAN 11170440000096
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2021 M / 1442 H
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta 26 Juni 2021 21 Rajab 1442 H
Teddy Parhan 11170440000096
iv
ABSTRAK
Teddy Parhan, NIM: 11170440000096. UPAYA PREVENTIF KUA DALAM
MENANGANI PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR PADA MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KUA KECAMATAN GUNUNG PUTRI). Hukum Keluarga,
Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 1444H/2021M.
Kementerian PPPA melaporkan pada masa pandemi Covid-19 angka pernikahan di bawah umur meningkat, khususnya di Kecamatan Gunung Putri. Maka, hal ini perlu diperhatikan oleh aparat setempat yaitu KUA, karena KUA merupakan peranan yang penting dalam meminimalisir angka pernikahan di bawah umur. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis terdorong untuk melakukan penelitian untuk mengetahui potret pernikahan di bawah umur di KUA Kecamatan Gunung Putri, upaya apa saja yang dilakukan oleh KUA Kecamatan Gunung Putri dalam menangani angka pernikahan di bawah umur pada masa pandemi Covid-19, kendala apa saja yang KUA Kecamatan Gunung Putri alami dalam menangani pernikahan di bawah umur.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode pendekatan normatif empiris. Sumber data primernya adalah hasil wawancara dengan pelaku pernikahan dibawah umur dan pejabat KUA Kecamatan Gunung Putri. Sumber sekundernya semua literature terkait dengan tema yang dibahas. Teknik pengumpulan data berupa studi lapangan (Field Research) dengan melakukan interview dan studi kepustakaan (Library Research). Metode menganalisisnya menggunakan analisis deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, praktik pernikahan di bawah umur di wilayah Kecamatan Gunung Putri mengalami peningkatan, pada tahun 2019 berjumlah 2 orang dan tahun 2020 berjumlah 37 Orang. Kedua, upaya yang dilakukan KUA Kecamatan Gunung Putri pada masa pandemi Covid-19 adalah penyuluhan dan sosialisasi secara daring melalui aplikasi Zoom, tentang menikah sesuai umur yang ditentukan oleh Undang-udang bekerja sama dengan Kepala Desa Bojong kulur beserta jajarannya. Ketiga, kendala yang dialami oleh KUA Kecamatan Gunung Putri adalah Kegiatan penyuluhan yang tidak terprogram (secara berkala), Orang tua tidak berperan aktif dalam pencegahan pernikahan di bawah umur, minat masyarakat yang minim, keterbatasan masyarakat akan jaringan internet dan Pembatasan Berskala Besar (PSBB) karena kasus Covid-19 semakin bertambah. Kata Kunci : Kantor Urusan Agama, Pernikahan di bawah umur Pembimbing : Hotnidah Nasution, M.A.
v
KATA PENGANTAR
Puja serta puji syukur bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, yang telah memberikan taufik, rahmat dan hidayah. Selawat dan salam tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Alhamdulillah berkat karunia Allah SWT penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan judul: Upaya Preventif KUA dalam menangani pernikahan di bawah umur pada masa pandemi Covid-19 (Studi KUA Kecamatan Gunung Putri) sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, penulis tidak akan bisa menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu pada kesempatan ini peneliti mengaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.H., M.A. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2. Dr. Mesraini, S.H. MA.g dan Achmad Chairul Hadi, M.A. Ketua Program
Studi dan Sekretaris Program studi Hukum Keluarga.
3. Hotnidah Nasution, M.Ag. Sebagai Dosen Pembimbing skripsi penulis yang dengan sabar dan ikhlas meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan arahan serta saran-saran kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Dr. Hj. Rosdiana, M.A. Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan saran dan masukan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 5. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum yang tidak bisa penulis sebutkan
namanya satu persatu, yang telah mendidik dan memberikan ilmu yang berharga kepada penulis.
6. Yang tersayang dan tercinta kedua orang tua penulis, Ayahanda & Ibunda (H. Gomin & Lilis) beserta keluarga, yang telah mendoakan memberikan
vi
dukungan, motivasi yang tak henti, tanpa beliau penulis tidak akan pernah bisa menyelesaikan study dan penulisan skripsi ini.
7. Sahabat terbaik Bisma Gilang Ramadhan, Arini Salwa Khairi, Faza Hushaini, yang selalu memberikan bantuan, semangat dan dorongan kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman Lajnah LDK Syahid, Hukum Keluarga-c angkatan 2017, terima kasih untuk canda tawa yang selalu hadir. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga sampai kapan pun.
9. Seluruh elemen yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu, memberikan doa, semangat dan motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kata sempurna dan terdapat banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran akan penulis perhatikan dengan baik. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan setiap pembaca pada umumnya.
Bogor, 26 Juni 2021
Ttd.
Teddy Parhan
vii
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah. ... 5
1. Identifikasi Masalah ... 5
2. Pembatasan Masalah ... 6
3. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1. Tujuan Penelitian ... 6
2. Manfaat Penelitian ... 7
D. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu ... 7
E. Metode Penelitian ... 10
1. Jenis Penelitian... 10
2. Pendekatan Penelitian ... 10
3. Sumber Data... 11
F. Teknik Pengumpulan Data ... 11
G. Tektik Pengelolaan data ... 11
H. Lokasi Pengumpulan Data ... 13
I. Metode Analisis Data ... 13
J. Pedoman Penulisan ... 13
K. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II PERNIKAHAN DAN PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR ... 15
viii
1. Pengertian Pernikahan ... 15
2. Rukun dan Syarat Pernikahan ... 17
3. Dasar Hukum Pernikahan ... 19
4. Larangan Pernikahan ... 22
5. Tujuan dan Hikmah Pernikahan... 31
B. Pernikahan di bawah umur dan Dispensasi Nikah ... 35
1. Pengertian Pernikahan di bawah umur ... 35
2. Usia Pernikahan dalam Islam... 35
3. Usia Pernikahan dalam Perundang-undangan ... 42
4. Dampak Pernikahan di bawah umur ... 43
5. Dispensasi Nikah ... 44
BAB III GAMBARAN UMUM KUA KECAMATAN GUNUNG PUTRI DAN PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR ... 50
A. Gambaran Umum Kecamatan Gunung Putri ... 50
1. Letak Geografis ... 50
B. Gambaran Umum Kantor Urusan Agama ... 52
1. Tugas dan Fungsi KUA Kecamatan Gunung Putri ... 52
2. Data Pegawai dan Struktur Organisasi KUA Kecamatan Gunung Putri ... 54
3. Visi dan Misi KUA Kecamatan Gunung Putri ... 57
4. Sarana dan Prasarana Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gunung Putri ... 58
C. Praktek Pernikahan dan Pernikahan di Bawah Umur di Kecamatan Gunung Putri... 59
1. Praktik Pernikahan di KUA Kecamatan Gunung Putri ... 59
2. Praktik Pernikahan di Bawah Umur di Kecamatan Gunung Putri ... 62
BAB IV HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN ... 71
A. Potret Pernikahan di Bawah Umur di KUA Kecamatan Gunung Putri ... 71
1. Data-data Kasus Pernikahan di Bawah Umur di KUA Kecamatan Gunung Putri ... 71
ix
2. Faktor dan Dampak Pernikahan di Bawah Umur ... 77
B. Peran dan Pencegahan KUA Menangani Pernikahan di Bawah Umur ... 90
C. Kendala Penanganan Pernikahan Di Bawah Umur ... 102
BAB V PENUTUP ... 106
A. Kesimpulan ... 106
B. Saran-saran ... 107
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara suami dan istri untuk mewujudkan kehidupan yang sakinah, mawadah dan penuh rahmah. Dengan sebuah pernikahan dapat membuat kehidupan seseorang menjadi lebih terarah, tenang, tentram dan bahagia. Pernikahan dibentuk melalui ikatan suci karena diatur oleh agama dan kemudian dikukuhkan dengan peraturan perundang-undangan, adat istiadat masyarakat dan lain-lain.1 Sedangkan tujuan yang lain dari pernikahan dalam Islam selain untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani maupun rohani manusia, juga sekaligus untuk membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan dalam menjalani hidupnya di dunia ini, juga pencegah perzinahan, agar tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa bagi yang bersangkutan, ketentraman keluarga dan masyarakat.2
Untuk melaksanakan pernikahan, seorang suami dan istri harus mencapai umur 19 tahun sebagaimana pasal 7 ayat 1 yang menyebutkan bahwa “ Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai 19 (Sembilan belas) tahun”.3 Ketika seorang suami atau istri belum mencapai umur yang telah
ditentukan undang-undang maka berdasarkan pasal 7 ayat (1) ini, dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.4 Meskipun demikian, di dalam pasal 6 ayat (2) disebutkan bahwa Perkawinan sebelum usia 21 tahun harus mendapat izin orangtua.5 Maka apabila seorang calon suami atau istri melangsungkan pernikahan
1 Annur Rahim Fakih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, (Yogyakarta: UUI Press, 2004), h.73.
2 Moh. Idris Ramulyo, Hukum Pernikahan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1996), h. 26-27. 3 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 7 ayat (1)
4 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 7 ayat (2) 5 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 6 ayat (2)
di bawah umur 19 tahun disebut dengan pernikahan di bawah umur, karena calon suami atau istri belum mencapai syarat yang telah ditentukan oleh Undang-undang.
Adanya ketentuan ini jelas menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, karena dalam al-Qur’an dan al-Hadits tidak diberikan ketetapan yang jelas dan tegas tentang batas minimal usia seseorang untuk melangsungkan pernikahan. Kedua sumber hukum tersebut hanya menyebut setelah mencapai akil baligh. Baligh pada umumnya diindikasikan dengan ihtilam (mimpi basah) bagi laki-laki dan haid (menstruasi) bagi perempuan. namun, secara implisit, syari’at menghendaki orang yang hendak menikah adalah orang yang sudah siap mental, fisik dan psikis, dan paham arti sebuah pernikahan yang merupakan bagian dari ibadah.6
Namun, saat ini masih banyak sekali terjadi pernikahan di bawah umur di Indonesia, disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor ekonomi, adat, budaya, dan faktor lainnya. Berdasarkan catatan Direktorat Jendral Badan Peradilan Agamaterdapat 34.000 permohonan dispensasi yang diajukan pada Januari hingga Juni 2020. Sebanyak 97 persen permohonan dikabulkan 60 persen yang mengajukan dispensasi pernikahan adalah anak dibawah 18 tahun.7 Menurut laporan Pusat
Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak (Puskapa) Bersama UNICEF, Badan Pusat Statisttik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Laporan tahun 2020 menyebutkan bahwa berdasarkan populasi penduduk, Indonesia menempati peringkat ke-10 perkawinan anak atau di bawah umur tertinggi di Dunia.8 Serta dari seluruh Negara anggota ASEAN, Indonesia ada di peringkat kedua.9
6 Husein Muhammad, Ijtihad Kyiai Husein Upaya Membangun Keadilan Gender, (Jakarta: Rahima, 2001), h. 223.
7 https://yoursay.suara.com/news/2020/10/21/110151/kasus-pernikahan-dini-meningkat-selama-masa-pandemi, diakses pada tanggal 19 Februari 2021, pukul 11:00 WIB.
8 https://www.idntimes.com/news/indonesia/dini-suciatiningrum/indonesia-masuk-10-negara-dengan-angka-perkawinan-anak-tertinggi, diakses pada tanggal 12 Februari 2021, pukul 09:30 WIB
9 https://lokadata.id/artikel/pernikahan-anak-di-indonesia-peringkat-dua-asean, diakses pada tanggal 5 Februari 2021, pukul 20:00 WIB.
Sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional pada tahun 2020 Jawa Barat merupakan salah satu Provinsi penyumbang angka pernikahan di bawah umur tertinggi di Indonesia.10 Khusunya di Wilayah Kabupaten Bogor, permohonan dispensasi nikah di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan. Hal ini sebagaimana data yang didapatkan oleh penulis pada Pengadilan Agama Cibinong yaitu pada tahun 2019 sebanyak 136 orang11 dan pada 2020 naik menjadi 387 orang.12 Menurut Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan catatan Pengadilan Agama Cibinong menunjukkan kasus dispensasi nikah pada tahun 2019 sebanyak 136 orang, dan pada tahun 2020 naik menjadi 225 orang.13
Data pernikahan di bawah umur yang terjadi di Kabupaten Bogor, data yang tercatat di Kantor KUA Kecamatan Gunung Putri pada tahun 2019 sebanyak 2 orang dan pada tahun 2020 untuk laki-laki 8 orang dan untuk perempuan 29 orang.14 Dari data yang penulis dapatkan bahwasanya pernikahan dibawah umur di wilayah Kecamatan Gunung Putri mengalami peningkatan pada masa Pandemi Covid-19.
Sehingga hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah setempat terutama pihak KUA, karena dalam hal ini KUA perlu mengadakan sosialisasi terkait pencegahan pernikahan di bawah umur beserta dampak yang banyak terjadi akibat pelaksanaan pernikahan usia di bawah umur. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak selamanya dan tidak seluruhnya masyarakat mengerti dan memahami Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini sebagaimana terjadi wilayah Kantor Urusan Agama Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor. Pegawai Pencatat Nikah (PPN) mempunyai kedudukan yang
10 https://edukasi.kompas.com/read/2020/07/08/131828971/pakar-unpad-angka-pernikahan-dini-melonjak-selama-pandemi diakses pada tanggal 10 Februari 2021, pukul 19:30 WIB.
11http://kabayan.pta-bandung.go.id/pengawasan_sipp/proses_stat, diakses pada tanggal 9 Maret 2021, pukul 16:00 WIB.
12http://kabayan.pta-bandung.go.id/pengawasan_sipp/proses_stat, diakses pada tanggal 9 Maret 2021, pukul 16:00 WIB.
13https://www.validnews.id/Perkawinan-Anak-di-Kabupaten-Bogor-Meningkat-GAG, diakses pada tanggal 1 Maret 2021, pukul 13:00 WIB.
jelas sesuai UU No. 22 tahun 1946, dalam kaitan ini yang dilakukan oleh aparat Kantor Urusan Agama adalah melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas Pegawai Pencatat Nikah, melaksanakan pelayanan nikah dan rujuk serta bimbingan keluarga sakinah. KUA merupakan aparat yang menentukan suksesnya pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974, karena di samping sebagai pelaksana langsung yang memberikan pelayanan pencatatan dan bimbingan nikah, talak, cerai rujuk pada KUA Kecamatan, juga sebagai figure terdepan dalam menangani masalah keagamaan dalam masyarakat. Fungsi ganda tersebut menjadikan KUA harus semakin mempersiapkan diri dan meningkatkan kemampuan.15
Tugas Kantor Urusan Agama (KUA) tidak hanya yaitu melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang urusan Agama Islam, untuk melaksanakan tugas tersebut maka dibagi menjadi 5 bagian garapan:16
1. Seksi kepenghuluan
2. Seksi pengembangan keluarga sakinah 3. Seksi produk halal
4. Seksi bina ibadah sosial
5. Seksi pengembangan kemitraan Umat Islam
Dalam 5 garapan tugas KUA tadi tidak ditemukan tugas KUA yang berkaitan dengan pernikahan di bawah umur dan dispensasi Pernikahan. Oleh karena itu penulis menyusun skripsi ini, menurut penulis peran KUA sangat penting dalam menangani pernikahan di bawah umur khususnya untuk meminimalisir dan pencegahan. Karena, sebelum terjadinya sebuah pernikahan pasangan suami dan istri di anjurkan untuk mengikuti bimbingan perkawinan pra nikah dan harus mendaftarkan, mencatat pernikahannya terlebih dahulu.
15 Departemen Agama RI, ”Pedoman Pegawai Pencatat Nikah dan Pembantu Pegawai Pencatat Nikah, Proyek Peningkatan Sarana Keagamaan Islam, Zakat dan Wakaf”. (Jakarta: Depag, 1997), h. 1.
16 Saripudin, Peradilan Agama di Indonesia, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), cet. Ke-1, h. 165.
Telah kita tahu, tahun 2020 merupakan masa sulit. Karena Virus Covid-19 yang mengakibatkan semua kegiatan terhambat, khususnya kegiatan KUA dalam menangani pernikahan di bawah umur. Seperti, bimbingan dan penyuluhan. Lalu seperti apakah pernikahan di bawah umur pada masa Pandemi Covid-19? Apa sama dengan sebelum Pandemi? Apa upaya yang dilakukan oleh KUA pada masa pandemi Covid-19? Apakah terkendala?
Maka penulis merasa ada hal yang cukup menarik untuk dibahas, yang menjadi fokus bahasan di dalam penelitian ini adalah guna mengetahui bagaimana upaya preventif KUA dalam menangani pernikahan di bawah umur di KUA Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor, faktor apa saja yang menjadi hambatan tugas dan fungsi dari KUA Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor dalam menangani pernikahan di bawah umur pada masa pandemi Covid-19. Maka penulis mengangkat sebuah judul skripsi “UPAYA PREVENTIF KUA KECAMATAN
GUNUNG PUTRI DALAM MENANGANI PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR PADA MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KUA KECAMATAN GUNUNG PUTRI).
B. Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah.
Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang terkait dengan peran KUA dalam pernikahan di bawah umur sebagai berikut:
1. Identifikasi Masalah
a. Meningkatnya angka pernikahan di bawah umur di wilayah Kecamatan Gunung Putri pada masa pandemi Covid-19.
b. Peran dan pencegahan KUA dalam meminimalisisr angka pernikahan di bawah umur di Kecamatan Gunung Putri belum berjalan secara optimal.
c. Banyak kendala yang dialami oleh KUA Kecamatan Gunung Putri dalam menanangani pernikahan di bawah umur.
2. Pembatasan Masalah
Untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas. Dalam penelitian ini, penulis hanya membahas mengenai pernikahan di bawah umur di Kecamatan Gunung Putri pada masa pandemi Covid-19, upaya KUA dalam meminimalisir angka pernikahan di bawah umur yang terjadi di Kecamatan Gunung Putri dan kendala apa saja yang dialami oleh KUA Keacamatan Gunung Putri.
3. Perumusan Masalah
Terdapat beberapa permasalahan yang akan dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a. Bagaimana Potret Pernikahan Di bawah Umur di KUA Kecamatan Gunung Putri?
b. Bagaimana peran dan pencegahan KUA dalam mengurangi angka pernikahan di bawah umur di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor?
c. Apa kendala KUA dalam menangani pernikahan di bawah umur di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ini digapai dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Untuk mendeksripsikan bagaimana pernikahan di bawah umur di wilayah Kecamatan Gunung Putri
b. Untuk mendeksripsikan bagaimana upaya pencegahan KUA dalam menangani Pernikahan di bawah umur.
c. Untuk mendekskripsikan apa saja kendala yang dialami oleh KUA dalam menangani pernikahan di bawah umur di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
2. Manfaat Penelitian
Terdapat beberapa manfaat yang ingin diberikan dari hasil dari penelitian ini, yaitu:
a. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah wawasan kepada masyarakat terkhusus masyarakat Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, mengenai peran dari KUA.
b. Manfaat Akademi
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan, referensi, dan informasi di Fakultas Syari’ah dan Hukum serta diharapkan bisa menjadi sumbangsih pemikiran yang positif serta memberikan suatu kontribusi ilmu pengetahuan, agar ilmu tetap berkembang dan bermanfaat baik bagi penulis maupun pembaca.
D. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu
Dari hasil penelusuran pada beberapa karya tulis ilmiah, kajian yang berkaitan dengan pernikahan di bawah umur bukan hal yang baru. Penelitian tersebut sejatinya telah dipublikasikan dalam beberapa karya sebagai berikut:
Ilham Ramdani Rahmat (2019) dalam penelitiannya menjelaskan tentang faktor-fakor penyebab pernikahan dini di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Adapun faktor yang melatar belakangi maraknya pernikahan dini di Desa Suntenjaya adalah faktor ekonomi masyarakat yang masih di bawah rata-rata, faktor sosial dan pendidikan yang relatif rendah. Selain itu praktik pernikahan dini ini melanggar hak-hak anak diantaranya: hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu,
bergaul dengan teman sebaya, hak untuk berpikir dan berekspresi dan hak untuk mendapatkan pendidikan, sehingga pernikahan dini dan hak-hak anak sangat bertolak belakang dalam upaya pemenuhan hak-hak anak.17
Titi Nurindah Sari (2016) dalam peneliatannya menjelaskan tentang pernikahan usia Muda di Masyarakat Madura di Desa Serabi Barat Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan bahwasanya masyarakat setempat banyak yang melangsungkan pernikahan di bawah umur dan di laksakan secara sirri (tidak di daftarkan di KUA), alasan masyarakat di Desa Serabi Barat melangsungkan pernikahan secara sirri adalah karena proses yang di lalui berbelit-belit memakan waktu dan biaya yang yang dikeluarkan dianggap terlalu mahal. Faktor-faktor terjadinya pernikahan dini adalah karena budaya, perjodohan dan faktor ekonomi, dampak dari hal itu banyak pasangan yang bertengkar walaupun tidak sampai bercerai, hamil usia muda dan banyak anak sehingga sistri dan anak terlantar tanpa ada tanggung jawab dari suami.18
Maulana Muzaki Fatwa (2018) dalam penelitiannya menjelaskan tentang pernikahan di bawah umur dan melakukan penelitian Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak. Pegawai KUA Kecamatan Mranggen dalam meminimalisir pernikahan dini di Kecamatan Mranggen sudah baik yaitu, dengan melakukan pembinaan terhadap calon pengantin, sosialisasi, penyuluhan terhadap remaja dan masyarakat umum tentang batas usia perkawinan yang di atur dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 di Desa yang berada di Kecamatan Mranggen dengan menggandeng berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Terbukti kasus pernikahan dini di KUA Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak dari tahun ke
17 Ilham Ramdani Rahmat, “Implikasi Pernikahan Dini Terhadap Hak-hak Anak (Studi di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat).”, (Skripsi S-1 Jakarta: Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).
18 Titi Nur Indah Sari, “Fenomena Pernikahan Usia Muda di Masyarakat Madura (Studi Kasus di Desa Serabi Barat Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan)”, (Skripsi S-1, Jakarta: Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016).
tahun semakin turun. Faktor-faktor terjadinya pernikahan dini di kecamatan Mranggen yaitu faktor hamil di luar nikah, orangtua dan pendidikan.19
Ainur Rofiqoh (2017) dalam penelitiannya menjelaskan tentang dampak pernikahan dibawah umur terhadap kesejahteraan rumah tangga di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukerejo Kabupaten Ponorogo dari tahun 2013 sampai tahun 2017 sejumlah 12 pasangan, dari 12 pasangan tersebut 3 diantaranya terjadi di Desa Sukerejo, adapun faktor yang menyebabkan pernikahan di bawah umur di Desa Kedung banteng Kecamatan Sukerejo adalah karena hamil di luar nikah yang di pengaruhi kurangnya kontrol pengawasan orang tua dan kemauan sendiri. Sehingga pernikahan tersebut mempunyai dampak yang besar terhadap kesejahteraan rumah tangga seperti beban orang tua bertambah, berkurangnya kemandirian dan perceraian.20
Anggi Dian Savendar (2019) dalam penelitianya menjelaskan tentang pengaruh pernikahan di bawah umur terhadap keharmonisan rumah tangga di Desa Banarjoyo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Pengaruh pernikahan di bawah umur terhadap keharmonisan rumah tangga yang dirasakan oleh pasangan suami istri di desa Banarjoyo berpengaruh terhadap keharmonisan dalam rumah tangga mereka karena dengan belum cukupnya umur dari seseorang untuk menikah menyebabkan banyak dampak terhadap keharmonisan dalam rumah tangga. Pernikahan di bawah umur merupakan salah satu penyebab tidak terwujudnya keharmonisan yang ada dalam rumah tangga, selain itu pasangan yang menikah di umur muda juga belum siap secara psikologis dan sosial ekonomi. Pada
19 Maulana Muzaki Fatwa, “Peran Kantor Urusan Agama (KUA) dalam Meminimalisir Pernikahn Dini (Studi Kasus di KUA Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak)”, (Skripsi S-1. (Semarang: Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2018).
20 Ainur Rofiqoh, “Dampak Pernikahan di bawah Umur Terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga (Studi Kasus di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukerejo Kabupaten Ponorogo)”, Skripsi S-1, (Ponorogo: Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ponorogo: 2017).
umumnya mereka belum mempunyai pekerjaan tetap sehingga kesulitan ekonomi bisa memicu terjadinya permasalahan dalam rumah tangga.21
Dari lima karya tulis ilmiah diatas secara garis besar membahas tentang pernikahan dibawah umur serta dampak dari pernikahan di bawah umur. Dari karya ilmiah yang mempunyai sedikit kemiripan dengan penelitian ini adalah Maulana Muzaki Fatawa (2018). Namun yang membedakan dengan penelitian ini adalah obyek penelitian, yaitu di Kantor Urusan Agama Gunung Putri dan juga memfokuskan terhadap upaya pencegahan KUA untuk mengurangi dan menangani pernikahan di bawah umur di Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor pada masa pandemi Covid-19 dan kendala-kendala yang dialami oleh KUA Kecamatan Gunung Putri
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian menggunakan penelitian kualitatif, penelitian kualitatif adalah tradisi tertentui dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada masusia.22
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatann yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah: Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris, yaitu penelitian dengan adanya data-data lapangan sebagai sumber data utama, seperti hasil wawancara. Penelitian empiris digunakan untuk menganalisis hukum yang dilihat sebagai perilaku masyarakat yang berpola dalam kehidupan masyarakat yang selalu berinteraksi dan berhubungan dalam aspek kemasyarakatan.23
21 Anggi Dian Savendra, “Pengaruh Pernikahan di bawah Umur Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga (Studi Kasus di Desa Banarjoyo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur)”, Skripsi S-1, (Metro: Fakultas Syariah dan Hukum, Institut Agama Islam Negeri Metro: 2019).
22 Pupu Sauful Rahmat, “Penelitian Kualitatif”, Equilibrium, Vol. 5, (Januari-Juni 2009), h.2. 23 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h.43.
3. Sumber Data
a. Data Primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari
masyarakat.24 Dalam penelitian ini, data primer merupakan data langsung dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Gunung Purri.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang dapat memberikan penjelasan mengenai bahan data primer yang diperoleh dari buku-buku, Undang-undang, jurnal, skripsi, artikel, berita, dan lain-lain yang berkaitan dengan materi penelitian.
F. Teknik Pengumpulan Data
Supaya mendapatkan data yang lebih lengkap dan akurat serta hasilnya dapat dipertanggung jawabkan keasliannya dan kebenarannya, maka penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu:
a. Lapangan (field research)25
Penelitian menggunakan Teknik pengumpulan data berupa wawancara, dan dokumentasi yaitu guna mendapatkan gambaran yang jelas dan terperinci dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan.
b. Kepustakaan (Library research)
Penulis mengumpulkan dan mempelajari literatur-literatur perundang-undangan, serta tulisam-tulisan para sarjana yang erat kaitannya dengan masalah diteliti.
G. Tektik Pengelolaan data
Tahap-tahap untuk mengolah data yaitu: a. Editing
24 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 1986). h.51.
25 Bungaran Antonius Simanjutak dan Soedjito Sosrodiharjo, Metode Penelitian Sosial (Edisi
Tahap pertama dilakukan yaitu meneliti kembali data-data yang telah diperoleh dengan tujuan apakah data-data tersebut sudah mencukupi untuk memecahkan permasalahan yang diteliti untuk mengurangi kesesalahan dan kekurangan data dalam penelitian serta untuk meningkatkan kualitas data.26 b. Classifaying
Mereduksi data yang ada dengan cara menyusun dan mengklasifikasikan data yang diperoleh untuk mempermudah pembacaan dan pembahasan sesuai dengan kebutuhan penelitian.
c. Verifying
Verifikasi data adalah pembuktian kebenaran data untuk menjamin kualitas data yang telah terkumpul. Verifikasi ini dilakukan dengan cara menemui sumber data (informan) dan memberikan hasil wawancara dengannya untuk ditanggapi apakah data tersebut sesuai dengan yang di informasikan oleh nya atau tidak.27
d. Analyzing
Analyzing adalah proses penyederhanaan kata ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan juga mudah untuk diinterpretasikan. Dengan cara memaparkan data yang sudah di klasifikasi kan, kemudian di interpretasi dengan mengaitkan sumber data yang ada sambil dianalisis sesuai dengan item-item yang dikaji dalam penelitian ini.
e. Concluding
Concluding adalah pengambilan kesimpulan dari data-data yang diperoleh setelah dianalisa untuk memperoleh jawaban kepada pembaca atas kegelisahan dari apa yang dipaparkan pada latar belakang masalah.28
26 Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2011), h.346.
27 Nana Sudjana dan Awal Kusuma, Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi, (Bandung: Sinar Baru Algnesindo, 2008), h.84
H. Lokasi Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan di kalangan masyarakat Kecamatan Gunung Putri, tetapi tidak semuanya masyarakat di wawancarai, mengingat dari keterbatasan waktu dan tenaga yang tidak memungkinkan bagi penulis.
I. Metode Analisis Data
Kegiatan analisi dimulai dengan melakukan pemeriksaan terhadap data yang terkumpul, baik dari penelitian lapangan (Field Research) maupun dari penelitian kepustakaan (Library research) yang diperoleh dari buku, Undang-undang, jurnal, skripsi, dan karya lainnya yang berkaitan dengan judul. Kemudian, data primer maupun data sekunder dilakukan analisis penelitian secara kualitatif yang disebut dengan content analyze (analisis kandungan) terhadap berkas-berkas yang diperoleh dari hasil penelitian, yang kemudian dari hasil penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. sehingga, dengan demikian diharapkan dapat menjawab segala permasalahan yang ada dalam skripsi ini.
J. Pedoman Penulisan
Pedoman penulisan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah berdasarkan buku pedoman penulisan skripsi yang diterbitkan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2017.
K. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan proposal ini merupakan suatu uraian mengenai susunan dari penulisan itu sendiri yang secara teratur dan terperinci. Adapun sistematika penulisan proposal ini terdiri dari lima bab sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab pertama, diuraikan bebrapa rencana dari penelitian yang terdiri dari, latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan (review) kajian terdahulu, kerangka teori dan konseptual, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG PERNIKAHAN DAN PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR
Dalam bab kedua menguraikan tentang pengertian secara umum, pengertian pernikahan di bawah umur, rukun dan syarat nikah, tujuan dan hikmah nikah.
BAB III: GAMBARAN UMUM KECAMATAN, KANTOR URUSAN AGAMA AGAMA DAN PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR
Pada bab ini meliputi gambaran umum Kecamatan Gunung Putri, KUA Gunung Putri, kedudukan, fungsi dan tugas Kantor Urusan Agama serta profil KUA Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor, Pernikahan dan praktik Pernikahan di bawah umur.
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab keempat akan diuraikan mengenai hasil dari penelitian, yang terfokus, potret pernikahan di bawah umur, Upaya Preventif KUA dalam menangani pernikahan di bawah umur, peran KUA, dan kendala yang dialami oleh KUA di kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
BAB V: PENUTUP
Pada bab terakhir terdapat kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan dalam skripsi ini nantinya, dan terdapat saran yang merupakan sumbangsih pemikiran dan rekomendasi penulis tentang peranan KUA.
15
BAB II
PERNIKAHAN DAN PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR A. Pernikahan
1. Pengertian Pernikahan
a. Nikah Dalam Perspektif Hukum Islam
Pernikahan berasal dari kata nikah menurut bahasa al-jam’u dan al-dhamu yang artinya berkumpul atau mengumpulkan dan digunakan untuk kata bersetubuh sekaligus.1 Nikah (Zawaj) bisa diartikan (wath’u al-zaujah) bermakna menyetubuhi istri.2 Definisi yang lain mengemukakan bahwa nikah berasal dari bahasa arab ”nikǎhun” yang merupakan masdar atau asal kata dari kata kerja ”nakaha”, sinonimnya ”tazawwaja”. Menurut istilah ilmu fikih para fukaha mendefinisikan nikah yaitu akad perjanjian yang mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual (persetubuhan) dengan memakai kata-kata (lafazh) nikah atau tazwij.3 Menurut ulama Hanafiyah mendefiniskan bahwa nikah adalah: 4
ديفي دقع
كلم
اًدصق ةعتلما
Nikah adalah sebuah Akad adalah yang memberikan hak kepemilikan untuk bersenang-senang secara sengaja, artinya akad sangat berpengaruh bagi laki-laki, karena status akad memberikan hak kepemilikan secara khusus dan laki-laki lain tidak boleh memilikinya. Ulama Mazhab sepakat bahwa pernikahan tidak sah apabila dilakukan hanya karena sama-sama suka tanpa adanya akad, pernikahan sah
1 Sayyid’ Sabiq’, Fiqih al-Sunnah, (Beirut: Dǎr al-Fikr 1983) jilid-2 cet ke-4, h. 29
2 Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers), 2014, Cet.4, hlm.6-7.
3 Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,2000), h.11. 4 Sayyid’ Sabiq’, Fiqih al-Sunnah, (Beirut: Dǎr al-Fikr 1983) jilid-2 cet ke-4, h. 29.
apabila sudah terjadi akad yaitu ijab dan kabul antara laki-laki dengan wakil atau dengan walinya5
Maka berdasarkan pengertian tersebut, pernikahan adalah sebuah ikatan perjanjian untuk saling mendapatkan hak dan kewajiban, serta bertujuan melakukan hubungan pergaulan yang dilandasi tolong-menolong. Karena pernikahan merupakan pelaksanaan Agama, yang di dalamnya terkandung tujuan mengharap rida Allah SWT.
b. Nikah dalam Perspektif Hukum Positif
Menurut UU No.1 Tahun 1974 mendefinisikan pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.6 Ikatan lahir batin di sini adalah sebuah perjanjian yang didasari oleh lahiriah dan batiniah, artinya pernikahan tidak bisa di katakan sebagai perjanjian pada umumnya atau hanya bersifat hubungan perdata saja, akan tetapi pernikahan harus di pandang lebih.7
Selain definisi yang disebutkan dalam UU No.1 Tahun 1974 tersebut, Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia memberikan definisi lain yang tidak mengurangi arti definisi UU tersebut, tetapi bersifat menambahkan penjelasan. Pernikahan yaitu akad yang kuat atau mǐtsǎqan ghalǐza untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.8
Pernikahan antara manusia dan binatang sangat berbeda, binatang melakukan karena desakan nafsu dan sekehendak birahinya 5 Muhammad Jawad Mughniyah, al-Fiqh ‘ala al-Madzhabi al-Khǎmsah, diterjemahkan Masykur A.B,. dkk Fiqih Lima Mazhab, (Jakarta: Lentera, Cet. 23, 2008, h.39.
6 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 1.
7 Umar Haris Sanjaya dan Aunur Rahim Faqih, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Gama Media, 2017), h. 10.
saja, sedangkan manusia telah di atur dengan berbagai syarat, etika dan akhlak, oleh sebab itu manusia harus menikah sesuai dengan norma yang sudah ditetapkan.9
Maka berdasarkan pengertian tersebut, definisi pernikahan tidak berbeda jauh dengan yang didefinisikan ajaran Islam, yaitu sebuah akad atau perjanjian yang kuat antara laki-laki dan perempuan, demi terwujudnya keluarga yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Rukun dan Syarat Pernikahan
Dalam melaksanakan suatu perikatan atau pernikahan terdapat rukun dan syarat yang harus terpenuhi, rukun dan syarat merupakan yang menentukan suatu perbuatan hukum, apabila rukun dan syarat tidak terpenuhi maka perbuatan tersebut tidak sah dimata Hukum.10 Ada rukun tanpa ada syarat maka suatu ibadah tidak sah. Sebaliknya, ada syarat tetapi tidak ada rukun, juga tidak sah suatu ibadah. Akan tetapi tidak selalu syarat harus ada rukun, dan tidak selalu setiap rukun harus ada syarat.11
Adapun rukun nikah terbagi menjadi 5, sebagaimana yang disebutkan di bawah ini:12
1. Calon mempelai laki-laki, dengan syarat sebagai berikut: a. Muslim
b. Merdeka c. Berakal d. Adil
9 Aulia Muthia, Hukum Islam Dinamika Seputar Hukum Keluarga, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017) ,h. 49-50.
10 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqh Munakahat dan
Undang-Undang Perkawinan), (Jakarta: Kencana, 2014) cet ke-5, h. 59.
11 Hasanuddin, Rukun dan Syarat dalam Ibadah Nikah Menurut Empat Mazhab Fiqih, 12 Mardani, Hukum Keluarga Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2016), h. 39.
e. Tidak terdapat halangan pernikahan f. Tidak sedang berihram haji atau umrah
2. Calon mempelai wanita, dengan syarat sebagai berikut: a. Muslimah
b. Merdeka c. Berakal
d. Telah mendapat izin dari walinya
e. Tidak bersuami atau sedang masa ‘iddah f. Tidak terdapat halangan pernikahan g. Tidak sedang berihram haji atau umrah 13
3. Wali dari mempelai wanita yang mengakad-kan pernikahan, dengan syarat sebagai berikut:
a. Muslim b. Laki-laki c. Balig d. berakal14
4. Dua orang saksi, dengan syarat sebagai berikut: a. Laki-laki
b. Balig c. Berakal
d. Dapat mendengar dan melihat serta mengerti dan paham akan maksud akad nikah15
e. Tidak dipaksa
f. Tidak sedang berihram
Ketentuan Saksi dalam Kompilasi Hukum Islam, yaitu:16 13 Sayyid’ Sabiq’, Fiqih al-Sunnah, (Beirut: Dǎr al-Fikr 1983, Jilid-2, Cet ke-4), h. 48. 14 Abd Shomad, Hukum Islam: Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2010, Cet Pertama), h. 278.
15 Sayyid’ Sabiq’, Fiqih al-Sunnah, (Beirut: Dǎr al-Fikr 1983, Jilid-2, Cet ke-4), h. 53. 16 Pasal 24-26 Kompilasi Hukum Islam.
1. Saksi dalam perkawinan merupakan rukun pelaksanaan akad nikah. Setiap perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi.
2. Yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad ialah seorang yang tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli. 3. Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah
serta mendatangi akad nikah pada waktu dan di tempat akad nikah dilangsungkan.
5. Ijab yang dilakukan oleh wali dan kabul yang dilakukan oleh suami, dengan syarat sebagai berikut17
a. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali
b. Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai laki-laki c. Memakai kata-kata nikah atau tazwij
d. Lafaz ijab dan kabul bukan kata kinayah (kiasan) e. Antara ijab dan kabul bersambung
f. Lafaz ijab dan kabul harus terjadi dalam satu majelis, dan harus diucapkan setelah ijab
g. Orang yang sedang ijab dan kabul tidak sedang berihram haji atau umrah
3. Dasar Hukum Pernikahan
Pernikahan merupakan bagian dari Hukum Perdata, yaitu mengatur hubungan antara orang dengan orang.18 Dengan adanya sebuah pernikahan maka akan ada keluarga, yaitu suami, istri, anak, cucu dan harta kekayaan mereka. Pernikahan diawali dengan sebuah akad, dari adanya akad yang di ucapkan oleh suami maka membolehkan laki-laki dan perempuan melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak boleh serta akan timbul akibat 17 Kholil Rahman, Hukum Perkawinan Islam,(Diktat tidak diterbitkan), (Semarang: IAIN Walisongo), h. 31-31.
18 Aulia Muthia, Hukum Islam Dinamika Seputar Hukum Keluarga, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017), h. 58.
hukum di antara suami dan istri, yaitu hak dan kewajiban sebagai suami dan istri. Dasar hukum pernikahan bersumber dari al-Quran, Hadis, UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pada dasarnya pernikahan adalah perbuatan yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 1:
َز اَهْ نِم َقَلَخَّو ٍةَدِحاَّو ٍسْفَّ ن ْنِ م ْمُكَقَلَخ ْيِذَّلا ُمُكَّبَر اْوُقَّ تا ُساَّنلا اَهُّ يَآيٰ
اَمُهْ نِم َّثَبَو اَهَجْو
َز اَهْ نِم َقَلَخَّو ٍةَدِحاَّو ٍسْفَّ ن ْنِ م ْمُكَقَلَخ ْيِذَّلا ُمُكَّبَر اْوُقَّ تا ُساَّنلا اَهُّ يَآيٰ اًْيِْثَك ًلًاَجِر
َّثَبَو اَهَجْو
هِب َنْوُلَء
ۤا
َسَت ْيِذَّلا َٓ للّا اوُقَّ تاَو ۚ ًء
ۤا
َسِنَّو اًْيِْثَك ًلًاَجِر اَمُهْ نِم
اًبْ يِقَر ْمُكْيَلَع َناَك َٓ للّا َّنِا ۗ َماَحْرَْلًاَو
Artinya: Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
Dan juga hadis Nabi Saw dari Anas bin Malik yang di riwayatkan oleh Ahmad disahkan oleh Ibnu Hibban:
َلاَق ُهنَعَو
اًيَْنَ ِلُّتَ بَّ تلا ِنَع ىَهْ نَ يَو , ِةَءاَبْلِبِ ُرُمَْيَ ملسو هيلع الله ىلص َِّللَّا ُلوُسَر َناَك (
ْلَا اوُجَّوَزَ ت:ُلوُقَ يَو, اًديِدَش
ُدَْحَْأ ُهاَوَر ) ِةَماَيِقْلَا َمْوَ ي َءاَيِبْنَْلَْا ُمُكِب ٌرِثاَكُم ِ نِّإ َدوُلَوْلَا َدوُدَو
َناَّبِح ُنْب ِ ُهَحَّحَصَو
ِثيِدَح ْنِم اًضْيَأ َناَّبِح ِنْباَو , ِ يِئاَسَّنلاَو , َدُواَد ِبَِأ َدْنِع: ٌدِهاَش ُهَلَو
ٍر اَسَي ِنْب ِلِقْعَم
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat. Riwayat Ahmad. Hadis shahih menurut Ibnu Hibban. Hadis itu mempunyai saksi menurut riwayat Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Hibban dari hadits Ma’qil Ibnu Yasar.
Dari kedua sumber hukum di atas maka pernikahan merupakan suruhan dan perbuatan yang disenangi oleh Allah SWT, serta Nabi pun melakukannya. Namun suruhan pernikahan dalam Al-Quran dan Sunah bukanlah kewajiban yang harus dilakukan karena tidak ditemukan di dalam Al-Quran dan Sunah yang menjelaskan secara rinci bahwa pernikahan adalah wajib dan sebagai ancaman bagi yang menolak pernikahan.19
Hukum asal pernikahan adalah Mubah, akan tetapi dilihat dari kondisi dan situasi orang-orang yang akan melakukan pernikahan hukum pernikahan terbagi menjadi wajib, sunah, makruh dan haram.
a. Wajib bagi orang-orang yang telah siap dan mampu untuk menikah serta sudah tidak bisa di bendung dikhawatir akan terjerumus praktik perzinahan.
b. Sunnah bagi orang-orang yang berkeinginan untuk menikah, merasa sudah pantas dan siap untuk menikah serta bisa menahan diri dari perbuatan yang haram seperti perzinahan.
c. Makruh bagi orang-orang yang belum siap dan pantas melakukan pernikahan, lemah syahwatnya, belum mampu secara lahir batin dan belum mampu secara finansial.
19 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqh Munakahat dan
d. Haram bagi orang-orang yang tidak siap untuk secara lahir dan batin untuk melakukan pernikahan, tidak memenuhi ketentuan syara’ dan meyakini pernikahannya kelak akan merusak kehidupan pasangannya. e. Mubah bagi orang-orang yang tidak terdesak dan pernikahan itu tidak
mendatangkan kesengsaraan apa-apa kepada siapa pun.
Dasar Hukum Pernikahan terdapat pada pasal 28 B ayat (1) Undang-undang dasar 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah” dan juga terdapat pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).
4. Larangan Pernikahan
Ulama klasik sepakat bahwa larangan Pernikahan adalah larangan adanya pernikahan antara laki-laki dengan perempuan, menurut syara’ larangan pernikahan dibagi menjadi dua yaitu halangan abadi (al-Tahrim al-muabbad) dan halangan sementara (al-tahrim al-mu’aqqat).20
a. Larangan abadi (al-tahrim al-muabbad)
Larangan ini disepakati terbagi menjadi tiga yaitu: nasab, hubungan persusuan dan hubungan pernikahan, yang masih perselisihkan ada dua, yaitu zina dan li’an.21
1. Hubungan Nasab
Dalam al-Quran sudah memberikan aturan dalam surat an-Nisa ayat 23 yaitu:
20 Agus Hermanto, “Larangan Perkawinan Perspektif Fikih dan Relevansinya dengan Hukum Perkawinan di Indonesia”, Muslim Heritage, Vol.2, No.1,(Mei-Oktober 2017), h.127.
21 Abdul Rahman Ghazali, Fikih Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), Cet 3, 2008, h. 7.
ُتٓنَ بَو ِخَْلًا ُتٓنَ بَو ْمُكُتٓلٓخَو ْمُكُتٓ مَعَو ْمُكُتٓوَخَاَو ْمُكُتٓ نَ بَو ْمُكُتٓهَّمُا ْمُكْيَلَع ْتَمِ رُح
ُكُبِٕى
ۤ
َبَِرَو ْمُكِٕى
ۤا
َسِن ُتٓهَّمُاَو ِةَعاَضَّرلا َنِ م ْمُكُتٓوَخَاَو ْمُكَنْعَضْرَا اِْتٓ لا ُمُكُتٓهَّمُاَوِتْخُْلًا
ِْف ِْتٓ لا ُم
َلَع َحاَنُج َلََف َّنِِبِ ْمُتْلَخَد اْوُ نْوُكَت َّْلَّ ْنِاَف
َّنِِبِ ْمُتْلَخَد ِْتٓ لا ُمُكِٕى
َّۖ
ۤا
َس ِن ْنِ م ْمُكِرْوُجُح
َّۖ ْمُكْي
َلَس ْدَق اَم َّلًِا ِْيَْتْخُْلًا َْيَْب اْوُعَمَْتَ ْنَاَو
ْمُكِب َلَْصَا ْنِم َنْيِذَّلا ُمُكِٕىۤاَنْ بَا ُلِٕىَۤلََحَو
ْۙ
َٓ للّا َّنِا ۗ َف
اًمْيِحَّر اًرْوُفَغ َناَك
Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istri kamu (mertua); anak-anak istri kamu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha PenyayangBerdasarkan surat an-Nisa ayat 23 wanita-wanita yang haram di nikahi selamanya adalah
1. Ibu kandung dan garis keturunan ke atas yaitu ibu, nenek (baik dari ibu atau bapak dan seterusnya ke atas)
2. Anak perempuan kandung yang mempunyai hubungan darah dari garis keturunan ke bawah seperti anak perempuan, cucu perempuan, baik itu dari anak laki-laki atau perempuan ke bawah.
3. Saudara perempuan yaitu, saudara seayah seibu, seayah saja atau seibu saja.
4. Bibi yaitu saudara perempuan seayah atau seibu, mau itu saudara sekandung ayah atau ibu
5. Kemenakan (Keponakan) yaitu anak perempuan saudara laki-laki atau perempuan seterusnya.22
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Juga dijelaskan dalam pasal 39 ayat 1.23 Larangan selama-lamanya karena pertalian nasab:
a. Dengan seorang wanita yang melahirkannya atau yang menurunkannya atau keturunannya.
b. Dengan keturunan ayah atau ibu.
c. Dengan seorang wanita saudara yang melahirkannya. 2. Persusuan (Radha’ah)
Para ulama sepakat bahwa seorang anak mempunyai hubungan persusuan jika air susu masuk ke dalam perut anak yang belum mencapai umur dua tahun kalender Hijriah dengan metode tertentu.24 Laki-laki atau perempuan yang mempunyai hubungan persusuan mahram rada’ah maka haram di nikahi karena seperti ibu kandungnya sendiri.
22 Agus Hermanto,”Larangan Perkawinan Perspektif Fikih dan Relevansinya Dengan Hukum Perkawinan di Indonesia”, Muslim Heritage, Vol.2, No.1, (Mei-Oktober 2017), h.127-128.
23 Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 39 Ayat 1
24 Fahrul Fauzi, “Larangan Perkawinan Sepersusuan ditinjau dari Perspektif Hukum Islam dan Medis”, Jurnal Peradaban dan Hukum Islam. Vol.3 No.2 (Oktober,2020), h. 51.
Hubungan persusuan yang diharamkan iyalah:25 1. Ibu susuan (wanita yang menyusui)
2. Nenek susuan, yaitu ibu dari yang pernah menyusui atau ibu dari suami yang menyusui itu, maka suami dari ibu yang menyusui itu menjadi ayah bagi anak susuan sehingga haram untuk di nikahi.
3. Bibi susuan, yaitu saudara perempuan ibu susuan atau saudara perempuan suami dari ibu susuan ke atas.
4. Kemenakan susuan perempuan, yaitu anak perempuan saudara ibu susuan.
5. Saudara susuan perempuan, saudara seayah kandung maupun seibu.
Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dijelaskan pada pas 39 ayat 3 yaitu:26
a. Dengan wanita yang menyusui dan seterusnya menurut garis lurus ke atas
b. Dengan wanita persusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah
c. Dengan seorang wanita saudara persusuan, dan kemenakan persusuan ke bawah
d. Dengan bibi persusuan ke atas
e. Dengan anak yang disusui oleh istrinya dan keturunannya. 3. Hubungan Pernikahan
Adapun halangan menikah karena hubungan pernikahan adalah:
1. Ibu mertua (ibu dari istri)
25 Agus Hermanto, “Larangan Perkawinan Perspektif Fikih dan Relevansinya dengan Hukum Perkawinan di Indonesia”, Muslim Heritage, Vol.2, No.1,(Mei-Oktober 2017), h.129.
2. Anak perempuan dari istri
3. Perempuan yang telah di nikahi oleh anak laki-laki 4. Perempuan yang telah di nikahi oleh ayah atau ibu tiri.
Dalam UU. No. 1 Tahun. 1974 pasal 8 huruf c dijelaskan bahwa pernikahan dilarang antara dua orang yang berhubungan semenda yaitu mertua, anak tiri menantu dan ibu/bapak tiri. 27
Dalam KHI Pasal 39 ayat 2, pernikahan dilarang karena adanya pertalian semenda adalah:
1. Dengan seorang wanita yang melahirkan istrinya atau bekas istrinya. Dengan seorang wanita bekas istri orang yang menurunkannya.
2. Dengan seorang wanita keturunan istri atau bekas istrinya, kecuali putusnya hubungan pernikahan dengan bekas istrinya atau qabla dukhul.
3. Dengan seorang wanita bekas istri keturunannya. Larangan yang masih di selisihkan ada dua yaitu:
1. Zina
Menikahi seorang pezina hukumnya haram, dan tidak di halalkan menikahinya, begitu pula bagi perempuan tidak halal menikahi laki-laki pezina , sebagaimana dalam QS. an-Nur ayat 3:
َلً ُةَيِناَّزلاَّوَّۖ ًةَكِرْشُم ْوَا ًةَيِناَز َّلًِا ُحِكْنَ ي َلً ْ ِنّاَّزلَا
ۚ
ٌكِرْشُمْوَا ٍناَز َّلًِا ااَهُحِكْنَ ي
َْيِْنِمْؤُمْلا ىَلَع َكِلٓذ َمِ رُحَو
27 UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 8 huruf c.Artinya: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.
2. Li’an
Jika terjadi sumpah li’an antara suami dan istri maka putuslah hubungan pernikahan antara keduanya selama-lamanya.28 Li’an berpengaruh atas keutuhan rumah tangga karena bisa mengakibatkan perceraian, maka dari itu bagi suami dan istri di haramkan untuk menikah selamanya, tidak di bolehkan rujuk atau menikah lagi dengan akad baru.29
b. Larangan bersifat sementara (mahram mu’aqqat)
Larangan menikah ini bersifat sementara dan sewaktu-waktu bisa untuk menikahinya jika sudah tidak ada penghalang untuk menikahinya.
1. Menikahi dua orang dalam satu waktu Di jelaskan dalam surat an-Nisa ayat 23
َْيَْب اْوُعَمَْتَ ْنَاَو
َفَلَس ْدَق اَم َّلًِا ِْيَْتْخُْلًا
Artinya: Bahwa (tidak boleh kamu) mengumpulkan dua orang bersaudara kecuali apa yang telah berlalu.
28 Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet 3, 2008, h. 111.
29 Agus Hermanto, “Larangan Perkawinan Perspektif Fikih dan Relevansinya dengan Hukum Perkawinan di Indonesia”, Muslim Heritage, Vol.2, No.1, (Mei-Oktober 2017), h.135.
Imam mazhab sepakat bahwa mengumpulkan dua orang bersaudara dalam satu waktu untuk di nikahi adalah haram dan di haramkan juga menikahi seorang perempuan beserta bibinya, baik dari pihak bapak atau ibu.30
2. Poligami di luar batas
Yaitu seorang laki-laki menikah poligami lebih dari empat, karena dalam al-Quran sudah di jelaskan batas pernikahan adalah 4 orang.
QS An-nisa ayat 3:
ْنِاَو
ٓنْثَمِء
ۤا
َسِ نلا َنِ م ْمُكَل َباَط اَم اْوُحِكْناَف ىٓمٓتَ يْلا ِفِ اْوُطِسْقُ ت َّلًَا ْمُتْفِخ
كِلٓذ ۗ ْمُكُناَْيَْا ْتَكَلَم اَم ْوَا ًةَدِحاَوَ ف اْوُلِدْعَ ت َّلًَا ْمُتْفِخ ْنِاَف ۚ َعٓبُرَو َثٓلُ ثَو
آنْدَا
ۗاْوُلْوُعَ ت َّلًَا
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.3. Larangan karena ikatan pernikahan Dalam QS An-Nisa ayat 24:
30 Agus Hermanto, “Larangan Perkawinan Perspektif Fikih dan Relevansinya dengan Hukum Perkawinan di Indonesia”, Muslim Heritage, Vol.2, No.1, (Mei-Oktober 2017), h.139.
اَم َّلًِا ِء
ۤا
َسِ نلا َنِم ُتٓنَصْحُمْلاَو
ۚ ْمُكْيَلَع ِٓ للّا َبٓتِك ۚ ْمُكُناَْيَْا ْتَكَلَم
Artinya: Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.
Dalam ayat ini di jelaskan larangan menikahi perempuan yang sudah mempunyai ikatan pernikahan, bahkan perempuan yang sudah menikah dilarang untuk di lamar.
Dalam Kompilasi Hukum Islam(KHI) pada pasal 40 ayat 2 dijelaskan larangan melangsungkan pernikahan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang masih berada dalam masa ‘iddah dengan laki-laki lain.
4. Larangan karena talak tiga
Laki-laki yang sudah mentalak istrinya tiga kali maka tidak boleh atau diharamkan dinikahi lagi kecuali sampai mantan istrinya melakukan pernikahan terlebih dahulu dan sudah habis masa ‘iddah. Sesuai dengan QS al-Baqarah ayat 230:
ْنِم هَل ُّلَِتَ َلََف اَهَقَّلَط ْنِاَف
ُدْعَ ب
ٓ تَح
َحِكْنَ ت
اًجْوَز
ۗهَْيَْغ
ْنِاَف
اَهَقَّلَط
َلََف
َحاَنُج
اَهُ نِ يَ بُ ي ِٓ للّا ُدْوُدُح َكْلِتَو ۗ ِٓ للّا َدْوُدُح اَمْيِقُّي ْنَا ااَّنَظ ْنِا ااَعَجاََتََّي ْنَا ااَمِهْيَلَع
ٍمْوَقِل
َنْوُمَلْعَّ ي
Artinya: Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.
5. Larangan karena berihram
Perempuan yang sedang berihram tidak boleh di nikahi oleh laki-laki, baik laki-laki tersebut sedang ihram atau tidak, jika sudah lepas masa ihram maka larangan tersebut tidak berlaku lagi.31 Hal ini sesuai dengan pendapat Laits dan al-Aza’i yang dikutip oleh Ibnu Rusyd. Mereka berpendapat bahwa orang yang sedang melakukan ihram tidak boleh menikah ataupun menikahkan, jika tetap dilakukan maka pernikahannya batal.32
6. Larangan karena ‘iddah
Para Ulama sepakat bahwa wanita yang sedang masa iddah di larang untuk di nikahi baik dia ber ‘iddah karena suami meninggal atau bercerai.33 ‘iddah merupakan hal yang penting bagi seorang perempuan, karena masa ‘iddah merupakan waktu yang sangat penting untuk merenung, introspeksi diri, juga untuk memastikan bahwa rahim perempuan bersih dan demi menjaga hubungan baik antara kedua keluarga besar.
31 Mardani, Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam Modern, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2011),13-14
32 Ibnu Ruysd, Bidayatul Mujtahid, (Qahirah: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 2012), h. 34 33 Muhammad Jawad Mughniyah, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Khamsah, 342.
7. Larangan karena kafir
Para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak dibolehkan menikah dengan perempuan penyembah berhala, perempuan zindiq’, perempuan murtad, penyembah sapi, perempuan.
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 75 menjelaskan bahwa keputusan pembatalan pernikahan karena salah satu suami atau istri ada yang murtad.34
5. Tujuan dan Hikmah Pernikahan
A. Tujuan
Pernikahan adalah sebuah ikatan dan komitmen yang kuat guna menjadikan manusia dan masyarakat menjadi terhormat. Dengan adanya pernikahan, pasti ada sebuah tujuan, dan tujuan pernikahan tidak hanya untuk melampiaskan syahwat saja.35 Tujuan pernikahan bersifat jangka panjang, untuk memelihara diri agar tidak terjerumus ke dalam hal yang buruk, serta untuk membentuk rumah tangga yang di landaskan oleh cinta, kasih, sayang dan saling tolong menolong.36
Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.37 Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.38
34 Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 27 huruf a.
35 Wahyu Wibisana, “Pernikahan dalam Islam”, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Ta’lim, Vol 14, No. 2,(2016), h.191.
36 Hasan Bastomi, “Pernikahan Dini dan Dampaknya (Tinjauan Batas Umur Perkawinan Menurut Hukum Islam dan Hukum Perkawinan di Indonesia)”, Jurnal Yudisia, Vol 27, No. 2 (Desember 2016), h. 360.
37 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 1. 38 Kompilasi Hukum Islam (KHI), Pasal 3
Menurut Imam Al- Ghazali tujuan pernikahan antara lain:39 1. Mendapatkan keturunan
2. Memenuhi hajat pasangan suami dan istri menyalurkan syahwat dan kasih sayang
3. Mengikuti perintah Agama, memelihara diri dari kejahatan dan kesengsaraan.
4. Menumbuhkan rasa tanggung jawab, menjalankan kewajiban dan menerima hak-hak, dan juga bersungguh-sungguh mendapatkan harta kekayaan yang kekal.
5. Mendapatkan rasa tenteram atas dasar cinta dan kasih sayang Menurut Amir Syarifuddin tujuan disyariatkan perkawinan adalah.40
1. Untuk mendapatkan keturunan, dengan dalil al-Quran surat an-Nisa’ ayat 1:
اَهَجْوَز اَهْ نِم َقَلَخَّو ٍةَدِحاَّو ٍسْفَّ ن ْنِ م ْمُكَقَلَخ ْيِذَّلا ُمُكَّبَر اْوُقَّ تا ُساَّنلا اَهُّ يَآيٰ
َّثَبَو
هِب َنْوُلَء
ۤا
َسَت ْيِذَّلا َٓ للّا اوُقَّ تاَو ۚ ًء
ۤا
َسِنَّو اًْيِْثَك ًلًاَجِر اَمُهْ نِم
َۗماَحْرَْلًاَو
َّنِا
َٓ للّا
َناَك
ْمُكْيَلَع
اًبْ يِقَر
Artinta: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan39 Hasan Bastomi, “Pernikahan Dini dan Dampaknya (Tinjauan Batas Umur Perkawinan Menurut Hukum Islam dan Hukum Perkawinan di Indonesia, Yudisia, Vol. 7, No. 2 (Desember 2016), h. 360.
40 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqh Munakahat dan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
2. Untuk mendapatkan keluarga bahagia, dengan dalil QS. surat ar-Rum ayat 21:
َلَعَجَو اَهْ يَلِا ااْوُ نُكْسَت ِل اًجاَوْزَا ْمُكِسُفْ نَا ْن ِم ْمُكَل َقَلَخ ْنَا هِتٓيٓا ْنِمَو
ْمُكَنْ يَ ب
ًةَّدَوَّم
َنْوُرَّكَفَ تَّ ي ٍمْوَق ِل ٍتٓيَٓلً َكِلٓذ ِْف َّنِاۗ ًةَْحَْرَّو
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.Maka dapat di simpulkan bahwa tujuan sebuah pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik guna kelangsungan hidup dan memperoleh ketenangan dalam hidup, dengan ketentuan norma agama yang berlaku.41
B. Hikmah
Pernikahan disyariatkan sehingga pernikahan pasti mempunyai hikmah. Hikmah pernikahan berkaitan dan tidak bisa terlepas dari tujuan pernikahan. Hikmah terjadinya pernikahan adalah menjaga mata dari hal-hal yang tidak di izinkan, dan menjaga kehormatan diri dari perbuatan seks bebas.42 Rasulullah SAW menjelaskan hikmah
41 Aulia Muthia, Hukum Islam Dinamika Seputar Hukum Keluarga, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017), h. 50.
42 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqh Munakahat dan