167 KINERJA KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN BABIRIK
DALAM MELAKUKAN PENCATATAN PERNIKAHAN Akhmad Sofyan
Abstrak:
This paper aims to find out about the procedures and procedures for marriage registration at KUA Babirik Subdistrict, factors that inhibit marriage registration, and efforts taken by KUA to overcome them.
Based on the results of the study note that the description of the marriage registration procedure at this agency is Notification of Marriage, research by KUA employees, after that it was announced by the KUA. Factors that inhibit the registration of marriage is in the form of a number of people who are still doing marriage under the hand, the supply of empty marriage books, incomplete files from the bride and groom. Efforts are made in overcoming it in the form of socializing to the Babirik community in collaboration with the Babirik Subdistrict, schools and assemblies of taklim, providing a certificate of marriage by the bride and groom who have not obtained a marriage book and giving a one-week period to complete the marriage file.
Kata Kunci: marriage registration procedures, marriage registration impediments, efforts to overcome marriage registration impediments
A. Pendahuluan
Perkawinan adalah ketentuan Allah yang berlaku pada semua makhluk- Nya. Baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
Perkawinan merupakan cara bagi setiap makhluk untuk berkembang biak dan melanjutkan keturunannya.1 Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 1:
Penulis adalah dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, email: [email protected]
1 Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat 1, (Bandung:
Pustaka Setia, 1999) h. 9.
168
الًاَجِر ا َمُ ْنِْم َّرَتَو اَ َجَ ْوَز اَ ْنِْم َقَلَذَو ٍةَدِحاَو ٍسْفَه ْنِم ْ ُكَُلَلَذ يِ َّلَّا ُ ُكَُّبَر اوُلَّثا ُساَّيما اَ هيَُّأ َيَ
اااِِكَر ْ ُكََُْلَل َن َان َ ََّّا َّن ا إ َماَحْر َْلاَو َِِت َنوُمَءا َسَج يِ َّلَّا َ ََّّا اوُلَّثاَو إ اءا َسِوَو اايرِثَك ّ
Allah SWT tidak menjadikan manusia seperti makhluk lainnya yang bebas mengikuti nalurinya tanpa ada aturan dan batasan. Allah tidak menghendaki pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan dalam menyalurkan nafsu seksualnya, sehingga tercipta hubungan yang teratur harmonis dan serasi serta saling meridhai.2 Rasulullah SAW bersabda:ََلل الله لىض ِالله ُلو ُسَر اَيَم َلاَك :َلاَك َُْيَع َلَاَعَث ُ ََّّا َ ِضِ َر ٍدوُع ْسَم ِنْب ِالله ِدْاَع ْنَع َيَ :لمسو ُن َطْحَأَو ،ِ َصََاْلِن هظَغَأ ََُّه ّ اَف ، ْجَّوَ َتَََْلَف َةَءاَاما ُ ُكٌُِْم َعا َعَخ ْ سا ِنَم ِبَاا َّ شما َ َشَْعَم
)َََِْلَل ٌقَفَّذُم( ٌءاَجِو ُ َلَ ََُّه اَف ،ِمْو َّطم ِبِ َََِْلَعَف ْع ِعَخ ْ سٌَ ْمَم ْنَمَو ،ِجْرَفْلِن ّ
3
Dalam Islam, tujuan pernikahan bukan hanya untuk mencapai kenikmatan seksual semata. Tujuan mulia dari suatu pernikahan adalah untuk menciptakan sebuah keluarga, dan terbangun suatu masyarakat, peradaban bangsa dan negara yang kuat.4
Menurut aturan keperdataan di Indonesia, suatu pernikahan bisa dinyatakan sah jika pernikahan tersebut tercatat atau terdaftar pada Kantor Urusan Agama jika dia muslim. Sedangkan jika beragama non muslim, maka pernikahan tersebut tercatat di Kantor Catatan Sipil.
Meskipun pernikahan tersebut sudah dianggap sah secara agama, akan tetapi selama pernikahan tersebut belum tercatat dan terdaftar, maka menurut ketentuan hukum Negara, pernikahan tersebut dianggap tidak sah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam UU Perkawinan No 1 tahun 1974 yang menyatakan bahwa setiap perkawinan yang dilangsungkan mesti dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku
2 M. Afnan Chafidh dan A. Ma’ruf Asrori, Tradisi Islami, (Surabaya:
Khalista, 2009) h. 88.
3 Ibnu Hajar Al Asqalani, Bulughul Maram, (tt: Haromain, tth) h. 208.
4 M. Afnan Chafidh dan A. Ma’ruf Asrori, Tradisi Islami… h. 88.
169 sesuai agama yang dianut masing-masing.5 Dalam Kompilasi Hukum Islam juga dijelaskan bahwa setiap perkawinan perlu dicatatkan agar terjamin ketertiban perkawinan.6
Pencatatan nikah sangat penting dilaksanakan oleh pasangan suami istri karena buku nikah yang mereka peroleh merupakan bukti dokumen tentang keabsahan kedua mempelai itu baik secara agama maupun negara. Dengan buku nikah itu, mereka dapat membuat akta kelahiran anak sebagai bukti keturunan sah yang dihasilkan dari pernikahan tersebut dan memperoleh hak-haknya sebagai ahli waris.
Dengan adanya bukti pencatatan pernikahan, pernikahan yang dilangsungkan oleh seseorang akan mempunyai kekuatan hukum. Pada pasal 7 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam (KHI) dinyatakan bahwa suatu perkawinan “hanya” dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.7 Dengan demikian, mencatatkan suatu pernikahan yang dilakukan merupakan kewajiban bagi mereka yang akan melangsungkan akad nikah.
Selain itu, akhir-akhir ini sering terdengar dan bahkan tidak jarang menemukan suatu kasus tentang pernikahan di kalangan penduduk Indonesia yang beragama Islam yang dilakukan di luar sepengetahuan Pegawai Pencatat Nikah (PPN). Istilah yang popular untuk itu ialah nikah bawah tangan atau nikah sirri karena pernikahannya itu tanpa disertai dengan akta nikah yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah dari Kantor Urusan Agama. Pernikahan yang demikian hukumnya sah menurut agama. Namun jika dilihat dari hukum negara, pernikahan seperti ini tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat sempurna. Hal ini akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari jika muncul suatu
5 Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman Pejabat Urusan Agama Islam Tahun 2011, (tt: Kementerian Agama, 2011) h 18
6 Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Bahan Penyuluhan Hukum, (tt: Departemen Agama, 2001) h 167
7 Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Bahan Penyuluhan … h 167
170
masalah dalam hubungan pernikahan pasangan suami isteri tersebut, di antaranya masalah dalam menentukan warisan, hak pengasuhan anak dan lain-lain.
Pencatatan nikah sangat berkaitan dengan kesadaran hukum masyarakat. Karena jika tidak ada kesadaran hukum dari masyarakat, bahkan cenderung untuk menyepelekannya, sangat kecil kemungkinan peraturan mengenai pencatatan nikah dapat diterapkan di masyarakat.
Oleh karena itu, perlu kerja keras dari instansi terkait khususnya Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mencatatkan pernikahan.
Kecamatan Babirik merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan seluruh warganya menganut agama Islam.8 Tentu hal ini membuat Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Babirik harus bekerja maksimal agar tidak terjadi kasus nikah bawah tangan.
B. Tinjauan Teoretis
1. Pengertian Pernikahan
Pernikahan dalam bahasa arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj. Kata na-ka-ha (
حكى
) dan za-wa-ja (جوز
) memiliki arti yang sama yaitu kawin atau mengawini.9 Para Ulama berselisih pendapat mengenai pengertian lafazh nikah.a. Menurut Muhammad Al Qori (Ulama Hanafiyah)
َلَٕا َِِت ُل َّضَوَخًُ َُهَ ِل( ِدْلَعمْا يـِف ٌزاَجـَم ،ِء ْطَوما يـِف ٌةِلَْـِلَح :ِةغُلنا يـِف وُُ
اَمُ َنَْْـَت ٌكَ َتَ ْشُم :َلَْـِكو ،ِء ْطَوما
10
8 Sumber data lihat di https://hulusungaiutarakab.bps.go.id
9 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, t.th) h 159 dan 467
10 Ali bin Shulton Muhammad Al-Qori Al-Hanifi Al-Hanafi, Syarah Al- Wiqoyah, Kitab Nikah, h 1 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
171 b. Menurut Ali bin Sulthon (Ulama Malikiyah)
ِفِ ِ ِلَاَمْعِخ ْ سِا ُ َثَْكٔأو ِدْلَعْماو ِء ْطَوْما لىَل ُقَل ْعًُو ،ُلُذاَدَّخماو هم َّضما اةَغُم َوَُُو ٌزاَجَم ِء ْطَوْما ِفِ ٌةَلِِْلَح َوُُ ْلََُو ،َِِِْف ااةَب َس َِِهْوَكِم ُدْلَعما َِت ىَّم َسٌُو ،ِء ْطَوْما ؤأ ِسْكَعما ؤأ ِدْلَعْما ِفِ
،ملاسما داع نبا ُلؤلا اَِه َصََأ .ٌلاَوْكَأ اَمِيهِف ؟ٌةَلِِْلَح
االْ َشَ ُبَرْكَأ ُلَّوَلاو اةَغُم ُبَرْكَأ ِنِاَّثماو
11
c. Menurut Thobalawi (Ulama Syafi’iyah)
ِتٓلا ِغْفَّلن ِبِ ٍء ْطَو َةَح َبِٕا ُنَّم َضَخًَ ٌدْلَع اال ْ َشَ َو ُء ْطَوْماَو هم َّضما اةَغُم َوَُُو َوَُُو ,
ِء ْطَوْما ِفِ ٌزاَجَم ِدْلَعْما ِفِ ٌةَلِِلَح
12
d. Menurut Imam Zarkasy (Ulama Hanabilah)
ِبَرَعْما ِمَ َكَل ِفِ ُح َكَِّيما : ِجِاَجهزما ْنَعَو .ُدْلَعْما ُن ْوُكٍَ ْدَكو ،ُء ْطَوْما ُح َكَِّيما ااعَِ َجَ ِدْلَعْماَو ِء ْطَوْما َنَْعَمِت
13
Dari beberapa pendapat di atas, maka nikah bisa diartikan akad, juga bisa diartikan wath’i (setubuh).
Sedangkan menurut Istilah, Imam Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibariy dalam kitab Fathul Mu’in mengatakan bahwa nikah secara syara’ adalah “akad yang dengan akad itu menjadi kebolehan untuk bersetubuh, dengan lafazh nikah atau kawin”.14 Sedangkan menurut Abu Bakar bin Muhammad Husaini Al- Hasan Ad-Dimisyqi dalam kitab Kifayatul Akhyar, nikah menurut syara’ adalah “akad yang telah masyhur yang mengandung
11 Ali bin Abdussalam At-Tawassuli, At-Tuhfah Fi Syarhil Bahjah, Bab nikah, h 1 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
12 Syekh Thobalawi As-Syafi’i, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Kitabun Nikah, h 2 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
13 Muhammad bin Abdullah Az-zarkasyi Al-Hanbali, Syarah Az- zarkasyi, Kitabun Nikah, h 1 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
14 Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatho Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin Juz 3, (Surabaya: Hidayah, tth) h 255
172
rukun-rukun dan syarat-syarat”.15
Dari dua pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa nikah menurut Syara’ adalah akad yang mengandung rukun-rukun dan syarat-syarat yang dengan akad itu menghalalkan hubungan wath’i (setubuh).
Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 1 menyatakan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin yang sangat erat antara pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.16 Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 2 menegaskan bahwa suatu perkawinan adalah akad yang sangat kuat antara seorang pria dan wanita (mitsaqan ghalidzan) untuk menaati perintah Allah, dan melaksanakannya merupakan ibadah”.17
2. Dasar Hukum Pernikahan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
َن ِم ْ ُكَُم َبا َظ اَم او ُحِكْىاَف ٰىَماَخََْما ِفِ او ُع ِسْلُث َّلًَأ ْ ُتُْفِد ْن
ّ ا َو اَم ْوَأ اة َدِحا َوَف اوُم ِدْعَث َّلًَأ ْ ُتُْفِد ْن ّ اَف ۖ َع َبِ ُر َو َث َلاُزَو ٰ َنَْثَم ِءا َسًِّما اوُموُعَث َّلًَأ ٰ َنَْدَأ َ ِلََِٰذ إ ْ ُكُُىاَمًَْأ ْتَكَلَم
18
Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman:
ََُّّا ُمِ ِنْْغًُ َءاَرَلُف اوُهوُكٍَ ْن ا إ ْ ُكُِئاَم ّ
ّ اَو ْ ُكُِداَاِع ْنِم َينِحِما َّطماَو ْ ُكٌُِْم ٰىَم َيََ ْلا اوُحِكْىَأَو
15 Abu Bakar bin Muhammad Husaini Al-Hasan Ad-Dimisyqi, Kifayatul akhyar, (Surabaya: Haromain, 2005) h 36
16 Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Pedoman Pejabat Urusan Agama Islam Edisi 2011, (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2001) h 17
17 Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Bahan Penyuluhan Hukum, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2001) h 167
18 Departemen Agama RI, Al-Qur’anul Karim, (Semarang: Nur cahaya, 1985) h 80
173
ٌيِلَل ٌع ِساَو ُ ََّّاَو ۗ ِ ِلِ ْضَف ْنِم
19
Kedua ayat diatas menerangkan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk menikah dan jangan takut menjadi miskin dengan menikah. Karena Allah akan memberikan rezeki-Nya dengan karunianya.
Rasulullah SAW bersabda:
اَيَم َلاَك :َلاَك َُْيَع َلَاَعَث ُ ََّّا َ ِ ضِ َر ٍدوُع ْسَم ِنْب ِالله ِدْاَع ْنَع الله لىض ِالله ُلو ُسَر
هظَغَأ ََُّه
ّ اَف ، ْج َّوَ َتَََْلَف َةَءاَاما ُ ُكٌُِْم َعا َعَخ ْ سا ِنَم ِبَاا َّ شما َ َشَْعَم َيَ :لمسو ََلل ٌقَفَّذُم( ٌءاَجِو ُ َلَ ََُّه اَف ،ِمْو َّطم ِبِ َََِْلَعَف ْع ِعَخ ْ سٌَ ْمَم ْنَمَو ،ِجْرَفْلِن ُن َطْحَأَو ،ِ َصََاْلِن ّ َََِْلَل
20) Di hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
َدِ َحَ لمسو ََلل الله لىض َّبىَّيما َّنَأ ،َُْيَع َلَاَعَث ُ ََّّا َ ِضِ َر ٍ ِلِاَم ِنْب ِسَوَأ ْنَعَو َحَأَو، ُر ِعْفُأَو ،ُمو ُضَأَو ،ُم َنََأَو ، ِّلِ َضُأ َنََأ ِّنِِكَم :َلاَكَو ،َََِْلَل َنَْزَأَو ، َ ََّّا ،َءا َسًِّما ُجَّوَز
)َََِْلَل ٌقَفَّذُم( ِّنِِم َسَُْلَف ِتًَِّ ُس ْنَع َةِغَر ْنَمَف
21
Dalam hadits di atas bisa disimpulkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk menikah karena menikah adalah sunnah Nabi SAW, dan lebih diutamakan kepada pemuda karena kebanyakannya para pemuda tidak bisa menahan gejolak hawa nafsu di dalam dirinya. Oleh karena itu, di perintahkanlah untuk menikah. Jikalau tidak mampu, maka di sunnahkan baginya untuk terus menerus melakukan puasa.
3. Pengertian Pencatatan
Pencatatan dalam bahasa arab disebut dengan kata Tautsiq (
قَِْزْوَّخما
(. Kataقَِْزْوَّخما
bersumber dari rangkaian huruf katawa- tsa-qa )َقَّزَو
( mengandung pengertian percaya, meneguhkan,19 Ibid., h 319
20 Ibnu Hajar Al-Asqallani, Bulughul Maram, (Surabaya: Haramain, tth) h 208
21 Ibid.
174
penguatan (kokoh), mengikat perjanjian.22Al Jamal mendefinisikan “At-Tautsiq adalah suatu perkara yang mendatangkan kekuatan (hukum) menuju kebenaran”.23
Al Hujaili mendefinisikan dengan pernyataan, “Kumpulan akad-akad syar’i yang dikuatkan guna menegaskan hak dan membakukannya di tangan pemiliknya atau ditanggungan orang lain maupun menetapkannya di kala terjadi konflik di depan meja persidangan”.24
Dari kedua pendapat tersebut Yusuf Ad Duraiwisy menyimpulkan bahwa At-Tautsiq adalah segala sesuatu yang menjadi sebab terbentuknya penetapan dan pengokohan akad- akad perjanjian dan hak-hak orang lain dengan tetap berada di tangan pemiliknya atau berada di tanggungan orang lain serta dapat dipakai untuk menjadi landasan argumentasi dikala terjadi pertikaian. Pernyataan beliau itu mencakup semua bentuk sarana setifikasi, seperti pencatatan, gadai, persaksian dan sarana- sarana mutakhir lainnya, semisal rekaman suara dan lain semisalnya.25
Henry Simamora mengemukakan bahwa: “Pencatatan adalah pembuatan suatu catatan pembukuan, kronologis kejadian yang terjadi, terukur melalui suatu cara yang sistematis dan teratur”.26 Artinya bahwa bahwa pencatatan adalah suatu kegiatan penghimpunan data dengan cara mencatat yang
22 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia…h 491
23 Al Jamal, yang dikutip oleh Yusuf Ad Duraiwisy, Nikah Sirri, Mut’ah dan Kontrak dalam timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Darul Haq, 2010) h 80
24 Al Hujaili, yang dikutip oleh Yusuf Ad Duraiwisy., Ibid.
25 Ibid.,h 81
26 Henry Simamora, yang dikutip oleh Rendy Kristiandy, Prosedur Pencatatan Piutang, http://elib.unikom.ac.id, di akses tanggal 10 November 2014
175 mampu memberikan informasi.
Pencatatan pernikahan adalah suatu yang dilakukan oleh pegawai pencatat nikah terhadap peristiwa pernikahan, yaitu saat akan dilangsungkannya akad nikah antara kedua mempelai.27 Sekalipun bukan merupakan syarat sah suatu pernikahan, pencatatan pernikahan memegang peranan penting dalam suatu pernikahan, karena pencatatan itu merupakan syarat diakui atau tidaknya suatu pernikahan oleh negara dan hal ini membawa banyak konsekuensi hukum bagi yang bersangkutan.
4. Dasar Hukum Pencatatan
Dalam Islam tidak ada aturan khusus tentang kewajiban mencatatkan pernikahan. Akan tetapi dilihat dari segi manfaatnya, pencatatan pernikahan sangat dibutuhkan sebagai bukti nyata suatu pernikahan agar seseorang mendapatkan kepastian hukum. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
ََْمَو إ ٍُوُاُخْكاَف ىًّم َسُم ٍلَجَأ َٰلَ ا ٍنٍَْدِت ْ ُتًًَُْاَدَث اَذ ّ ا اوٌَُمٓأ َنٍِ َّلَّا اَ هيَُّأ َيَ ّ ٌةِث َان ْ ُكٌََُُْت ْةُذْك
هقَحْما َََِْلَل يِ َّلَّا ِلِلْمَُْمَو ْةُذْكََْلَف إ ُ ََّّا ََُمَّلَل َ َكَم َةُذْكٍَ ْنَأ ٌةِث َان َبِبًَ َلًَو إ ِل ْدَعْم ِبِ
ِف َس هقَحْما َََِْلَل يِ َّلَّا َن َان ْن ّ اَف إ اائُْ َش ٌَُِْم ْسَرْاًَ َلً َو ََُّتَر َ ََّّا ِقَّخََْمَو اافَِع َض ْوَأ اايه
ْنِم ِنٍَْدَِِ َش اوُدِِ ْشَد ْساَو إ ِل ْدَعْم ِبِ َُهَِمَو ْلِلْمَُْلَف َوُُ َّلِمًُ ْنَأ ُعَ ِعَخ ْ سٌَ َلً ْوَأ َّل ِضَث ْنَأ ِءاَدَِ هشما َنِم َن ْو َضْرَح ْنَّمِم ِن َتََأَرْماَو ٌلُجَرَف ِ ْينَلُجَر َنَوُكٍَ ْمَم ْن اَف ۖ ْ ُكُِماَجِر ّ َُهاَدْح ا ّ ْنَأ اوُمَب ْسَج َلً َو إ اوُعُد اَم اَذ ا ُءاَدَِ هشما َبِبًَ َلًَو إ ٰ َرْدُ ْلا اَ ُهاَدْح ّ ا َرِّكَكُذَف ا ّ
َأ ٰ َنَْدَأَو ِةَداَِ َّشلِن ُمَوْكَأَو ِ ََّّا َدْيِع ُط َسْكَأ ْ ُكُِمََٰذ إ ِ ِلَِجَأ َٰلَ ا اايرِاَك ْوَأ اايرِغ َض ٍُوُاُذْكَح ّ َّلً
ّ ا ۖ اوُت َتَ ْرَح ۗ اَُوُاُذْكَح َّلًَأ ٌحاٌَُج ْ ُكََُْلَل َسَُْلَف ْ ُكٌََُُْت اَ َنَو ُرٍِدُث اةَ ِضِاَح اةَراَ ِتِ َنوُكَح ْنَأ َّلً
ۗ ْ ُكُِب ٌقو ُسُف ََُّه اَف اوُلَعْفَث ْن ّ
ّ اَو إ ٌدَِِ َش َلً َو ٌةِث َان َّرا َضًُ َلًَو إ ْ ُتُْعًَاَاَث اَذ ّ ا او ُدِِ ْشَأَو
27 Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat 1, (Bandung: Pustaka Setia, 2001) h 90
176
َو ۖ َ ََّّا اوُلَّثاَو ٌيِلَل ٍء ْ َشَ ِّ ُكِب ُ ََّّاَو ۗ ُ ََّّا ُ ُكُُمِّلَعًُ
: ةرلاما(
٢٨٢
28)
Dalam ayat tersebut, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum yang bisa diambil dari ayat di atas tersebut:
a. Menurut jumhur ulama bahwa perintah ayat tersebut bersifat anjuran dan pengarahan sebagaimana dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir:
ٍدًَز ُنْباو ِيج َرُج ُنباو ُن َسَلحاو ٍسَوَأ نب ُعَِْتَّرماو ه ِبِْع َّشماو ٍدَِع َس وُتَأ َلاَكَو ِّدَؤَُْلَف ا اضْعَت ُكُ ُضْعَت َنِمَأ ْن اَف :ِ ِلَ ْولِت َخ ِسُو َّ ُثُ ،ااة ِجاَو َ ِلَِذ َن َان : ُهُ ُ ْيرَغو ّ ِ َّلَّ أ
ۥََُخَيٰـَمَأ َنِمُث ْؤ أ
29
b. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa perintah dalam ayat tersebut bermakna wajib, sehingga pencatatan terhadap setiap akad perjanjian wajib dilakukan. Sebagaimana dalam kitab Tafsir At-Thabari:
ِـْلِعْما ُلَُْأ َفَلَذْداو ْلَُ ،ََِْـَلَل َوُُ ْنَم ىـَلل لَِكت ِباَذِكْما ِبَاَخِخْكا يـِف م
ٌمزَلً ٌضْرَفَو ، ٌةِجاَو ٌّقَح َوُُ :ْمُِ َضْعَت َلاَلَف ؟ ٌب ْدَه وُؤأ ٌةِجاَو َوُُ
30
Pencatatan pernikahan dipandang penting untuk menghindari dari kemudharatan yang timbul akibat tidak dicatatnya suatu perkawinan. Sebagaimana kaidah ushuliyah:
ِحِما َطَمْما ِةْلَج َلىَل ٌمَّدَلُم ِد ِساَفَمْما ُءْرَد
31
Dengan demikian, pencatatan suatu akad nikah yang dilakukan bagi penganut agama Islam hukumnya sunnah, bahkan hampir mengarah kepada wajib. Terlebih jika melihat ‘illat
28 Departemen Agama RI, Al-Qur’anul Karim …h 44
29 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Al Baqarah: 282, h 2 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
30 Imam At Thabari, Tafsir At Thabari, Al Baqarah: 282, h 2 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
31 Abdul Hamid Hakim, Mabadi Awwaliyah, (Jakarta: Maktabah Sa’adiyah Putra, tth) h 34
177 hukumnya, yaitu menghindari kemudharatan, dan untuk menarik kemaslahatan bersama. Dengan adanya alat bukti ini berupa pencatatan pernikahan ini, pasangan pengantin dapat terhindar dari mudharat dikemudian hari karena alat bukti tertulis ini dapat memproses secara hukum persoalan dalam rumah tangga, terutama sebagai alat bukti dalam pengadilan agama.
C. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bentuk penelitian lapangan tentang kinerja KUA dalam melakukan pencatatan pernikahan dengan lokasi di kantor urusan agama kecamatan Babirik.
Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah kepala KUA, penghulu, dan pegawai pencatat nikah KUA kecamatan Babirik.
Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah mengenai pencatatan pernikahan dengan lokasi di kantor urusan agama kecamatan Babirik Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Untuk mendapatkan data yang diperlukan, maka digunakan beberapa teknik, yaitu observasi yaitu mengadakan pengamatan secara langsung di lapangan untuk mengetahui secara langsung objek penelitian. Kemudian wawancara, yaitu bertanya pada informan untuk menggali dan memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian.
Adapun dalam tahapan pengolahan analisis data, penulis melakukan penyajian data, dilanjutkan dengan reduksi data, kemudian verifikasi data dan penarikan kesimpulan.
D. Pembahasan
a. Prosedur Pencatatan Pernikahan pada KUA Babirik
Tata cara pencatatan nikah adalah proses pelaksanaan pencatatan nikah mulia dari pemberitahuan atau pendaftaran dari calon mempelai sampai tercatatnya nikah itu, yaitu ketika proses penandatanganan akta oleh masing-masing pihak yang berkepentingan. Menurut salah satu pegawai pencatat nikah KUA Kecamatan Babirik, prosedur melaksanakan pernikahan sebelum
178
memasukkan berkas ke KUA adalah:
“Yang pertama adalah mempelai mendatangi kantor desa setempat untuk meminta dan mengisi model N, kemudian menyerahkannya ke kantor KUA kecamatan Babirik. Ini jika calon mempelai pria dan wanitanya bertempat tinggal di kecamatan Babirik. Jika berbeda kecamatan, maka calon mempelai pria meminta dan mengisi model N ke kantor desa di kecamatannya bertempat tinggal. Kemudian mendatangi KUA kecamatan setempat dan meminta surat rekomendasi nikah untuk menikah di kecamatan Babirik. Adapun yang dimaksud model N yang didapat di kantor Desa berupa itu terdiri dari model N1-N7. N1 adalah Surat Keterangan Untuk Menikah.
N2 adalah Surat Keterangan Asal Usul. N3 adalah Surat Persetujuan Mempelai. N4 adalah Surat Keterangan Tentang Orang Tua. N5 adalah Surat Izin Orang Tua. N6 Surat Keterangan Kematian Suami/Istri jika duda/janda, jika masih lajang, maka N6 tidak diisi. N7 adalah Surat Pemberitahuan Kehendak Nikah”.
Kemudian beliau menambahkan, prosedur yang dilakukan di Kantor Urusan Agama adalah:
“Mempelai atau walinya mendatangi KUA untuk melakukan pemberitahuan kehendak nikah, yaitu dengan membawa berkas pernikahan. Kemudian berkas itu kami teliti apakah syarat-syarat pernikahan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan baik menurut hukum munakahat ataupun menurut perundang- undangan yang berlaku, baik mengenai persetujuan calon mempelai, umur, izin orang tua dan seterusnya. Jikalau ada kejanggalan, maka kami akan mengembalikan berkas tersebut.
Setelah kami teliti, kami umumkan dengan menempelkan surat pengumuman kehendak nikah yang ditempel di papan pengumuman pernikahan. Pengumuman itu memuat tentang biodata calon pengantin, kapan dan di mana pernikahan itu dilangsungkan. Pernikahan itu dilangsungkan setelah hari
179 kesepuluh sejak diumumkan. Setelah hari kesepuluh dan sudah terjadi ijab kabul oleh mempelai, kami menulis buku nikah untuk diserahkan kepada mempelai yang sudah resmi jadi suami istri dan kami arsipkan dalam model NA”.
Selanjutnya beliau menjelaskan berkas atau surat-surat yang dilampirkan dalam pemberitahuan kehendak nikah adalah sebagai berikut:
“Surat-surat seperti Fotokopi KTP, Fotokopi Kartu Keluarga, Pas foto berupa 2 x 3 sebanyak 2 lembar, 3 x 4 sebanyak 2 lembar, dan 4 x 6 sebanyak 1 lembar. Kemudian menyerahkan beberapa model N yang sudah didapat di kantor Kecamatan, akta cerai bagi janda atau duda. Jika mempelai adalah anggota TNI / POLRI, melampirkan juga surat izin komandan. Jika calon mempelai belum mencapai umur, harus melampirkan surat izin pengadilan atau dispensasi. Dan jika calon suami hendak beristri lebih dari seorang harus melampirkan surat izin poligami dari Pengadilan Agama”.
Dari keterangan di atas, prosedur pencatatan pernikahan oleh KUA kecamatan Babirik dimulai dari pemberitahuan kehendak nikah, dilanjutkan dengan penelitian berkas oleh pihak KUA, kemudian pengumuman kehendak nikah oleh pihak KUA, sampai penandatangan buku nikah dan berkas nikah.
Pemberitahuan kehendak nikah atau pendaftaran nikah di KUA wajib dilakukan oleh calon mempelai dan menyerahkan beberapa berkas yang menjadi syarat untuk diteliti oleh pihak KUA.
Hal ini sebagaimana yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 5 Ayat 1 yang berbunyi “agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan dicatat”32. Dengan adanya pemberitahuan tersebut disertai dengan kelengkapan berkas yang diserahkan, maka pihak KUA akan mudah untuk melakukan
32 Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, op. cit.
180
penelitian berkas mempelai yang ingin melangsungkan pernikahan.
Adapun penelitian berkas oleh pihak KUA berupa pengecekan apakah kedua calon mempelai memenuhi syarat dalam melakukan pernikahan dan tidak terdapat halangan baik dari sisi agama maupun dari sisi peraturan negara. Berkas-berkas yang sebelumnya diserahkan oleh calon mempelai diteliti mulai dari identitas calon mempelai, apakah nama dan orangnya jelas, jenis kelaminnya jelas, walinya jelas, dan status pernikahan dari calon mempelai tersebut sudah jelas. Hal ini dilakukan agar penyimpangan-penyimpangan dalam pernikahan seperti status mempelai sebagai isteri/suami orang, atau calon mempelai yang menikah dibawah umur bisa diminimalisir.
Pengumuman kehendak nikah oleh pihak KUA dengan cara menempelkan surat pengumuman kehendak nikah yang di papan pengumuman pernikahan depan kantor. Pengumuman itu memuat tentang biodata calon pengantin, kapan dan di mana pernikahan itu dilangsungkan.Pengumuman bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa ada warga yang ingin melakukan pernikahan. Maka jika ada masyarakat yang merasa keberatan dengan pernikahan yang akan dilangsungkan, mereka bisa melaporkan ke pihak KUA kecamatan Babirik. Nabi Muhammad SAW bersabda:
لمسو ََلل الله لىض ِالله َلو ُسَر َّنَأ ََِِْتَأ ْنَع،ِ ْيرَتهزما ِنْبا ِالله ِدْاَع ِنْب ِرِماَل ْنَعَو َأ ٍُا َوَر( َح َكَِّيما اوُيِلْلَأ :َلاَك )ُ ِكُاَلحا ََُحَّ َصََو ،ُدَ ْحَ
33
b. Permasalahan-permasalahan yang menghambat pencatatan pernikahan pada KUA Kecamatan Babirik.
Adapun faktor-faktor yang menghambat kinerja pencatatan pernikahan pada KUA menurut kepala KUA kecamatan Babirik adalah sebagai berikut:
“Sebagian masyarakat masih ada yang melakukan pernikahan di
33 Ibnu Hajar Al-Asqallani, Bulughul Maram, (Surabaya: Haramain, tth) h 208
181 bawah tangan yang tidak tercatat di KUA. Hal ini akibat ketidakpahaman masyarakat tentang betapa pentingnya nikah yang dicatatkan oleh petugas KUA. Kebanyakan masyarakat mengira bahwa menikah di KUA biayanya mahal. Padahal tidak.
Jika menikah di KUA tidak dipungut biaya sepeserpun. Berbeda jika menikahkan di rumah. Tentu ada biaya yang dibebankan kepada calon mempelai sesuai dengan peraturan yang berlaku”.
Selain hal-hal di atas, ada faktor lain yang membuat kinerja KUA terganggu, diantaranya:
“Di Kantor Urusan Agama Kecamatan Babirik pernah terjadi persedian buku nikah kosong. Hal ini disebabkan pergantian menteri dan terjadi pergantian tandatangan oleh Menteri Agama dalam buku nikah. Sedangkan ada beberapa masyarakat yang ingin cepat memperoleh buku nikah. Ada juga beberapa calon mempelai yang kurang melengkapi berkas, seperti Kartu Keluarga, KTP, Akta Cerai dan sebagainya sehingga berkasnya kami kembalikan”.
Pada umumnya, ketidaktahuan masyarakat tentang pentingnya mencatatkan pernikahan dikarenakan tingkat pendidikan masyarakat yang rendah. Disamping itu, keinginan calon mempelai untuk secepatnya melangsungkan pernikahan tanpa mau disibukkan dengan mengurus berkas pernikahan menjadi masalah lain yang perlu mendapatkan perhatian oleh semua pihak. Pihak calon mempelai harus memahami bahwa kelengkapan berkas yang harus dipenuhi berguna untuk menghindarkan terjadinya penyimpangan pernikahan.Dan pihak KUA juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kegunaan berkas-berkas yang wajib dilengkapi oleh pihak calon mempelai.
Menurut Yusuf Al Qordhowi, pengantin yang tidak mendaftarkan pernikahannya berarti telah berbuat dosa dan mesti
182
dikenakan sanksi dengan hukuman yang ditetapkan oleh penguasa meskipun akad nikahnya telah sah34. Di Indonesia, sanksi tersebut berupa tidak diakui pernikahannya oleh negara sebagaimana tertera dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 6 Ayat 2 yang berbunyi:
“Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum”.35 Hal ini menimbulkan kerugian tersendiri bagi calon pengantin. Mereka akan kesulitan untuk mengurus pergantian status pernikahan di KTP dan membuat Kartu Keluarga, dan jika mereka memiliki anak, anaknya tidak bisa memiliki Akta Kelahiran karena pernikahan orang tuanya tidak diakui oleh negara.
c. Upaya yang dilakukan KUA Kecamatan Babirik dalam menanggulangi faktor penghambat pencatatan pernikahan.
Upaya yang dilakukan KUA Kecamatan Babirik dalam menanggulangi faktor penghambat pencatatan pernikahan menurut Kepala KUA adalah sebagai berikut:
“Kami rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat Babirik bekerjasama dengan pihak Kecamatan Babirik, melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan majelis-majelis taklim tentang pentingnya mencatatkan pernikahan di KUA, dampak negatif dari nikah dini dan kerugiannya apabila menikah tidak tercatat di KUA, kami juga mengumumkan kepada masyarakat bahwa menikah di KUA gratis, dan jika ingin menikah di rumah mempelai, dibebankan biaya sebesar Rp. 600.000 sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu masyarakat lebih memilih menikah di kantor daripada di rumah. Untuk kasus
34 Yusuf Al Qordhowi yang dikutip oleh Yusuf Ad Duraiwisy, Nikah Sirri, Mut’ah dan Kontrak dalam timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Darul Haq, 2010) h 97
35 Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Bahan Penyuluhan Hukum, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2001) h 166
183 seperti buku nikah yang kosong, kami memberikan penjelasan kepada pengantin tentang kosongnya stok buku nikah dan memberikan surat keterangan telah menikah oleh pihak KUA Babirik yang belum memperoleh buku Nikah. Surat keterangan ini memiliki kekuatan hukum karena ditandatangani oleh kepada KUA selaku pejabat yang berwenang dan memiliki kekuatan hukum sebagai alat bukti keabsahan pernikahan mempelai.Untuk calon mempelai yang belum melengkapi berkas pernikahan, kami memberi tempo 1 minggu untuk melengkapi berkas pernikahan tersebut. Kecuali surat seperti Akta Cerai, Surat Kematian Suami/Istri. Jika tidak bisa menunjukkan surat-surat tersebut, maka kami akan menolak permohonan menikah.”
Dengan adanya sosialisasi tersebut dapat meminimalisir pernikahan yang tidak dicatatkan oleh Pegawai Pencatat Nikah dan dapat merubah asumsi masyarakat tentang biaya pencatatan pernikahan yang menurut mereka masih mahal.Tentu pihak KUA mesti terus menerus berupaya untuk memahamkan kepada masyarakat. Rasulullah SAW bersabda:
ِرْجَلْا َنِم ُ َلَ َن َان ادُُ َلَ ا اَلَد ْنَم ّ ُصُلْيًَ َلً ََُعِاَث ْنَم ِر ْوُجُأ ُلْثِم
ُأ ْنِم َ ِلَِذ ْ ِهُ ِر ْوُج
اائُْ َش
36
E. Kesimpulan
1. Prosedur pencatatan pernikahan oleh KUA kecamatan Babirik dimulai dari pemberitahuan kehendak nikah, dilanjutkan dengan penelitian berkas oleh pihak KUA, kemudian pengumuman kehendak nikah oleh pihak KUA, sampai penandatangan buku nikah dan berkas nikah.
2. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi KUA kecamatan Babirik dalam kinerja melakukan pencatatan pernikahan diantaranya adalah:
1) masih banyak masyarakat yang melakukan nikah sirri/nikah
36 Imam Muslim, Shohih Imam Muslim, dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”
184
bawah tangan. 2) kosongnya persediaan buku nikah. 3) masih banyak calon pengantin yang belum melengkapi berkas persyaratan nikah.
3. Solusi yang dilakukan KUA kecamatan Babirik adalah: a) melakukan sosialisasi secara intensif kepada masyarakat, baik bekerjasama dengan pihak sekolah, Kantor Kecamatan, Kantor Desa dan sebagainya. b) memberikan surat keterangan telah menikah yang ditandatangani oleh kepala KUA bahwa mempelai tersebut benar- benar telah melakukan pernikahan dan diakui kebenarannya oleh pihak KUA. c) memberikan penjelasan kepada calon mempelai agar melengkapi berkas-berkas yang masih kurang dan memberi waktu 1 minggu untuk melengkapi berkas-berkas tersebut.
185 Daftar Pustaka
Abidin, Slamet dan Aminuddin,1999. Fiqih Munakahat 1, Bandung:
Pustaka Setia.
Ad Duraiwisy, Yusuf, 2010. Nikah Sirri, Mut’ah dan Kontrak dalam timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Jakarta:
Darul Haq.
Ad-Dimisyqi, Abu Bakar bin Muhammad Husaini Al-Hasan, Kifayatul akhyar, Surabaya: Haromain.
Ad-Dimyathi, Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatho, 2005.
I’anatut Thalibin Juz 3 ,Surabaya: Hidayah, tth.
Al Asqalani, Ibnu Hajar,tth. Bulughul Maram, tt: Haromain.
Al-Hanafi, Ali bin Shulton Muhammad Al-Qori, Syarah Al-Wiqoyah, Kitab Nikah, hlm 1 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
Al-Hanbali, Muhammad bin Abdullah Az-zarkasyi, Syarah Az- zarkasyi, Kitabun Nikah, hlm 1 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
As-Syafi’i, Syekh Thobalawi, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Kitabun Nikah, hlm 2 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
At Thabari, Imam, Tafsir At Thabari, Al Baqarah: 282, hlm 2 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
At-Tawassuli, Ali bin Abdussalam, At-Tuhfah Fi Syarhil Bahjah, Bab nikah, hlm 1 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
186
Chafidh, M. Afnan dan A. Ma’ruf Asrori, 2009. Tradisi Islami, Surabaya: Khalista.
Departemen Agama RI, 1985. Al-Qur’anul Karim, Semarang: Nur cahaya.
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2011. Pedoman Pejabat Urusan Agama Islam Tahun 2011, Kementerian Agama.
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, tt. Bahan Penyuluhan Hukum, Departemen Agama.
Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, 2001.
Pedoman Pejabat Urusan Agama Islam Edisi 2011, Jakarta: Kementerian Agama RI.
Hakim, Abdul Hamid, tth. Mabadi Awwaliyah, Jakarta: Maktabah Sa’adiyah Putra.
Henry Simamora, yang dikutip oleh Rendy Kristiandy, Prosedur Pencatatan Piutang, http://elib.unikom.ac.id, di akses tanggal 10 November 2014.
Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir, Al Baqarah: 282, hlm 2 dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
Muslim, Imam, Shohih Imam Muslim, dikutip dari CD “Al-Marja'ul Akbar Lit Turasil Islami”.
Saebani, Beni Ahmad, 2001. Fiqh Munakahat 1, Bandung: Pustaka Setia.
Yunus, Mahmud, t.t. Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT. Hidakarya Agung.