• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seperti telah diketahui bahwa usaha kecil di Indonesia memiliki berbagai keunggulan, terutama kemampuannya di dalam menyerap tenaga kerja bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar. Namun demikian menurut Kadarisman (2007) UKM memiliki kendala untuk berkembang menjadi perusahaan besar dan untuk meningkatkan kinerjanya, ini disebabkan keterbatasan dalam hal kemampuan produksi, akses ke pasar dan permodalan. Menurut Urata (Riyanti, 2003) usaha-usaha kecil di Indonesia banyak menghadapi kendala untuk bermain aktif di pasar, karena mereka kurang

memiliki kemampuan manajemen dan teknologi yang memadai, juga kurang memiliki informasi pasar.

Menurut Partomo dan Soejoedono (2004) UKM menghadapi kendala dalam mempertahankan atau mengembangkan usahanya, antara lain kurangnya pengetahuan dalam mengelola usaha, kekurangan modal, dan lemah di bidang pemasaran, untuk itu pembinaan UKM pertama-tama harus ditujukan kepada upaya meningkatkan kemampuan manajemen di bidang pemasaran, keuangan dan personalia. Demikian juga menurut Haswell (Riyanti, 2003) salah satu penyebab kegagalan usaha kecil adalah lemahnya kemampuan manajerial.

Menurut Ravianto (1986) manajemen merupakan landasan utama bagi peningkatan produktivitas, dengan berlandaskan manajemen yang baik, akan terkondisi tenaga kerja, modal, teknologi dan bahan baku yang tepat sesuai kinerja yang diinginkan, dengan cara mengelola masukan yang terbatas untuk menghasilkan lebih banyak produk dan jasa. Di sini terjadi hubungan antara masukan berupa sumber daya dan keluaran berupa produk dan jasa.

2.4.1. Peluang Pasar

Pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk dipuaskan, mempunyai uang untuk dibelanjakan dan mempunyai kemauan untuk membelanjakannya. Pasar juga dapat berarti sejumlah permintaan barang dan jasa oleh pembeli potensial (William, 1991).

Sedangkan pemasaran menurut Meredith, dkk (2005), adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk mengenal siapa yang menjadi konsumen, apa yang mereka butuhkan, serta bagaimana cara memuaskan mereka dengan memperoleh keuntungan daripadanya. Pertanyaan (1) siapa yang menjadi konsumen, (2) apa yang mereka butuhkan, dan (3) apa yang harus diberikan kepada konsumen, untuk menjawabnya diperlukan suatu penelitian pasar.

Pemasaran mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan pelanggan yang belum terpenuhi, dengan mengukur besarnya permintaan, serta cara yang diinginkan pelanggan. Menurut Kotler (1990) untuk meningkatkan keberhasilan jual beli, seorang pengusaha harus melakukan analisis keinginan pelanggan, dan apa yang dapat diberikannya. Prinsip ini adalah mengetahui informasi tentang permintaan dan kondisi pasar, atau disebut penelitian pasar.

Penelitian diperlukan untuk memperoleh informasi pasar tentang (1) tujuan pelanggan membeli, (2) untuk apa pelanggan membeli, dan (3) apa

yang diinginkan pelanggan. Data yang dibutuhkan, sumber data dan cara memperolehnya merupakan hal yang harus diketahui oleh pengrajin industri tempe. Menurut Kartasapoetra (1992) dengan diperolehnya informasi pasar maka dapat diramalkan mutu produk yang diinginkan, strategi meningkatkan permintaan, dan cara penjualan yang efektif.

Hasil penelitian pasar dapat memberi informasi kepada pengrajin ada tidaknya peluang pasar. Peluang pasar dapat diidentifikasi melalui (1) permintaan barang lebih besar dari yang ditawarkan, dan (2) mutu barang yang ditawarkan atau pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan harga yang harus dibayar oleh pelanggan. Menurut Zimmerer (Suryana, 2003) peluang pasar dapat terjadi apabila (1) pesaing tidak aktif, (2) pesaing tidak memiliki teknologi tepat guna, dan (3) pesaing tidak memiliki strategi pemasaran. Kondisi demikian terbuka peluang pasar bagi pengrajin untuk memanfaatkannya, menurut Scarborough (Suryana, 2003) ciri wirausaha adalah selalu mencari peluang. 2.4.2. Bahan baku

Tempe dibuat dari kacang kedelai yang difermentasi. Kedelai yang digunakan untuk pembuatan tempe masih harus diimpor dari Amerika. Kedelai jenis ini memiliki mutu lebih baik dibandingkan dengan kedelai lokal. Menurut Mustofa (2008) para pengrajin tempe lebih menyukai kedelai impor yang bungkilnya berukuran lebih besar dibandingkan kedelai lokal.

Pengrajin tempe berupaya menjaga ketersediaan dan kesinambungan kedelai, hal ini dilakukan untuk menjamin kelancaran produksi. Sebagai anggota KOPTI, pengrajin memperoleh prioritas untuk mendapatkan kedelai, namun untuk menjamin kelancaran pasokan, pengrajin tidak bergantung hanya kepada satu pemasok. Selain KOPTI, pengrajin membina hububungan baik dengan pedagang kedelai yang berada di pasar. Menurut Meredith, dkk (2005) untuk menjamin bahwa operasi bisnis berjalan lancar, pengusaha harus memelihara hubungan baik dengan para pemasok, dan harus mampu membeli bahan dalam jumlah yang cukup sehingga dapat menjamin berlangsungnya produksi secara berkesinambungan dan menguntungkan.

Bahan baku menentukan mutu produk, untuk itu bahan baku yang akan digunakan harus dijamin telah memenuhi persyaratan mutu, selain itu volume dan waktu harus sesuai kebutuhan. Menurut Suardi (2004) untuk keperluan

tersebut, pengusaha harus menilai dan memilih pemasok atas dasar kemampuannya menyediakan bahan baku yang memenuhi persyaratan mutu.

2.4.3. Modal

Di dalam ilmu ekonomi, modal adalah salah satu faktor produksi. Menurut Suardi (2004) modal merupakan sumber daya industri yang harus ditetapkan dan disediakan. Penggunaan sumber daya harus direncanakan dan dipertimbangkan efisiensinya, termasuk untuk kebutuhan di masa yang akan datang.

Pada umumnya permodalan usaha kecil masih lemah, modal yang dikelola biasanya adalah milik pribadi atau keluarga. Bagi usaha kecil untuk memperoleh tambahan modal melalui lembaga keuangan seperti bank tidak mudah. Namun tidak semua pengusaha mengharapkan bantuan modal, menurut Alma (2006) terdapat pengusaha yang tidak mau berhutang, karena takut hutang tersebut menjadi beban hidupnya. Sebaliknya ada yang berpendapat tanpa hutang, usaha akan sulit berkembang, karena penambahan modal sendiri melalui tabungan memerlukan waktu yang lama, sedangkan peluang usaha yang menguntungkan cepat berlalu.

Menurut Dani dan Triyono (1994), masih banyak usaha kecil menghadapi kendala dalam memperoleh fasilitas modal yang disediakan lembaga perbankan, disebabkan: (1) tidak memiliki informasi yang cukup tentang fasilitas modal yang tersedia, (2) kendala pemenuhan persyaratan teknis dan administrasi yang ditetapkan lembaga keuangan terutama perbankan, dan (3) tidak dapat membuat proposal dengan benar.

2.4.4. Tenaga kerja

Tenaga kerja yang memiliki kompetensi, merupakan aset utama bagi industri dan pemilik usaha. Meredith, dkk (2005) menyatakan bahwa tenaga

kerja terampil merupakan sumberdaya langka yang biasanya kurang tersedia. Memiliki tenaga kerja yang mau mencurahkan kemampuannya secara

total harus diciptakan dan dikondisikan oleh pemilik usaha. Menurut Suardi (2004) hal ini dapat dilakukan dengan cara memampukan dan memberi kesempatan kepada tenaga kerja untuk merencanakan, menerapkan, dan mengendalikan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Kebebasan dan wewenang perlu diberikan kepada tenaga kerja agar termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Keterlibatan tenaga kerja secara menyeluruh,

akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggungjawab, serta mendorong keinginan meningkatkan kompetensi.

Tenaga kerja yang memiliki kompetensi untuk mendapatkannya diperlukan suatu analisis berdasarkan (1) pengetahuan, (2) sikap, dan (3) keterampilan, yang dibutuhkan sesuai sifat dari pekerjaan tersebut. Tempe adalah sejenis makanan yang terbuat dari kedelai, yang dalam proses pembuatannya membutuhkan perhatian khusus yang berkaitan dengan ketaatan kepada ketentuan-ketentuan dalam pembuatan makanan. Jumlah tenaga kerja dan kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri tempe harus disesuaikan dengan jam kerja dan kompetensi yang diperlukan dalam proses pembuatan tempe, sehingga seluruh proses dapat selesai tepat waktu dengan mutu tempe yang baik.

2.4.5. Kebijakan Pemerintah

Menurut Astuti (2008) kenaikan harga kedelai yang mencapai 110% telah menyebabkan kelangkaan bahan baku kedelai di pasaran, dan menggoyahkan usaha kecil. Naiknya harga bahan baku kedelai disebabkan kebijakan pemerintah yang bergantung kepada kedelai impor untuk memenuhi 60% kebutuhan kedelai dalam negeri dan tidak disertai peningkatan produksi di dalam negeri.

Menurut Mustofa (2008), 80% bahan baku tempe masih diimpor. Harga 1 kg kedelai saat ini mencapai Rp. 8.000; sedangkan harga normal Rp. 3.500-Rp. 4.000. Lonjakan kenaikan harga ini mulai terasa sejak November 2007; sehingga industri kecil yang memiliki modal terbatas yang umumnya menggunakan bahan baku kurang lebih 25 kg tidak mampu beroperasi.

Harga kedelai yang berfluktuasi setiap hari dan terbatasnya modal, menambah berat beban industri tempe. Kondisi ini menjadi semakin sulit karena terbatasnya pasokan kedelai lokal yang diharapkan bisa mengganti penggunaan kedelai impor. Menurut Mulyo (2008) sejak awal tahun 1990, produksi kacang kedelai lokal terus menurun, sampai hilang dari pasar.

Pada saat ini pengrajin tempe tidak hanya menghadapi kenaikan bahan baku kedelai, tetapi juga bahan bakar yang terus naik dan sukar diperoleh. Kondisi yang tidak menguntungkan ini, membuat pengrajin tempe berharap kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk dapat mengendalikan harga kedelai agar terjangkau.

2.5. Kompetensi