DAFTAR LAMPIRAN
F. Manfaat Penelitian
2) Faktor eksternal
adanya perhatian kepada sesuatu objek yang dapat menimbulkan adanya persepsi adalah didasarkan pada kekomplekan kejiwaan. Kekomplekan kejiwaan ini selaras dengan proses pemahaman atau belajar (learning), motivasi, dan kepribadian yang dimiliki oleh masing-masing orang.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah lingkungan. Berbagai macam faktor-faktor perhatian yang berasal dari luar maupun dari dalam dapat mempengaruhi proses persepsi adalah sebagai berikut.
a) Intensitas; pada prinsipnya bahwa semakin besar intensitas stimulus dari luar semakin besar pula hal-hal itu dapat dipahami (to be percieved). Suara keras, bau yang tajam, sinar yang terang akan lebih banyak atau mudah diketahui dibandingkan dengan suara yang lemah, bau yang tidak tajam, dan sinar yang buram. Misalnya, seorang guru berteriak dan memukul meja atau papan tulis untuk menenangkan siswanya yang ribut di kelas agar segala perhatian terfokus pada guru tersebut.
b) Ukuran; faktor ini sangat dekat dengan prinsip intensitas bahwa
semakin besar ukuran sesuatu objek akan semakin mudah untuk bisa diketahui atau dipahami. Bentuk ukuran ini akan mempengaruhi persepsi seseorang dan dengan melihat ukuran suatu objek orang akan mudah tertarik perhatiannya yang pada gilirannya dapat membentuk persepsinya. Begitu pula dalam proses pembelajaran siswa akan memberikan perhatiannya terhadap isi materi yang disampaikan oleh guru yang ditulis atau ditayangkan dalam slide dengan huruf-huruf besar serta diberi garis bawah.
25
bahwa stimuli dari luar yang penampilannya berlawanan dengan latar belakangnya atau sekelilingnya atau yang sama sekali di luar sangkaan orang banyak, akan menarik banyak perhatian. Contoh pada Gambar 2. Bulatan hitam pada kedua gambar kelihatannya lebih besar dalam gambar lingkaran sebelah kanan. Perbedaan itu disebabkan karena latar belakang bulatan-bulatan itu tidak seimbang atau menunjukkan keberlawanan. Padahal kedua bulatan hitam itu ukurannya sama.
Gambar 2. Prinsip Keberlawanan dalam Persepsi
Sumber: Luthans, Organizational Behavior (1981: 88) dalam Miftah Thoha (2010: 152)
d) Pengulangan (repetition); dalam prinsip ini dikemukakan bahwa stimulus dari luar yang diulang akan memberikan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan yang sekali dilihat.
e) Gerakan (moving); prinsip gerakan ini antaranya menyatakan bahwa orang akan memberikan banyak perhatian terhadap objek yang bergerak dalam jangkauan pandangannya dibandingkan dari objek yang diam. Misalnya, guru mengajar hanya berdiri di mimbar atau hanya duduk di kursi membacakan materi pelajaran barangkali tidak akan menarik siswanya. Lain halnya kalau diikuti gerakan fisik, sambil berjalan mendekati para siswanya maupun gerakan materi yang memberikan kesempatan siswanya untuk berdiskusi, bertanya, dan adu argumentasi. Barangkali model gerakan guru memberikan materi ini akan menarik bagi siswanya, dari gerakan sesuatu objek yang menarik perhatian
26
seseorang ini akan timbul suatu persepsi. Dengan demikian, persepsi ditimbulkan dari proses penarikan sesuatu objek, dan objek bergerak akan lebih banyak menarik perhatian seseorang dibandingkan dengan objek yang diam.
f) Baru dan familiar; prinsip ini menyatakan bahwa baik situasi eksternal yang baru maupun yang sudah dikenal dapat dipergunakan sebagai penarik perhatian. Objek atau peristiwa baru dalam tatanan yang sudah dikenal, atau objek atau peristiwa yang sudah dikenal dalam tatanan yang baru akan menarik perhatian pengamat.
Berdasarkan uraian penjelasan dari para ahli di atas maka dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan persepsi yaitu faktor fungsional, faktor struktural, faktor yang terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang diartikan, dan dalam konteks situasi di mana persepsi tersebut dibuat. Semua faktor yang dapat mempengaruhi persepsi tersebut, harus mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan, dalam memahami suatu peristiwa dan meneliti fakta-fakta secara struktural agar kita dapat mempersepsikan dengan benar sesuai stimulus atau pesan yang disampaikan baik verbal maupun nonverbal.
2. Konsep Hubungan Interpersonal a. Pengertian hubungan interpersonal
Setiap orang secara kodrati merupakan mahkluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Setiap orang selalu melakukan hubungan dengan orang lain disegala bidang kehidupannya. Hubungan yang dijalin antar pribadi seseorang akan membentuk suatu ikatan perasaan yang timbal balik, sehingga menimbulkan perasaan yang menyenangkan maupun menjengkelkan. Seseorang dengan perasaan yang senang maupun sebaliknya akan
27
mempengaruhi cara bersikapnya, baik sikap yang menguntungkan ataupun tidak menguntungkan.
Hubungan interpersonal menurut Suranto (2011: 27) merupakan karakteristik kehidupan sosial yang mewajibkan setiap individu untuk membangun sebuah relasi dengan yang lain, sehingga akan terjalin sebuah ikatan perasaan yang bersifat timbal balik dalam suatu pola hubungan tersebut. Dalam arti luas hubungan interpersonal adalah interaksi yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan hati pada kedua belah pihak.
Jalaluddin Rakhmat (2003: 119) mengatakan bahwa setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Misalnya, pada kalimat berikut isinya sama tetapi kadar hubungan interpersonal di dalamnya berbeda. “Sebut nama kamu !; Siapa nama Anda ?, Bolehkah saya tahu nama Bapak ?, Sudi kiranya Bapak berkenan menyebutkan nama Bapak?’’
Berdasarkan kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa isi yang disampaikan adalah sama yaitu menanyakan nama Anda tetapi dalam kalimat-kalimat tersebut juga mendefinisikan hubungan interpersonalnya. Sejalan dengan pernyataan di atas Arnold (1975) dalam Jalaluddin Rakhmat (2003:120)
mengembangkan apa yang disebut sebagai “relationship-enchanment methods”
(metode peningkatan hubungan) dengan merumuskan metode ini dengan tiga prinsip: makin baik hubungan interpersonal, (1) makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya; (2) makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog); dan (3) makin cenderung ia
28
mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka dapat dinyatakan bahwa dalam segi psikologi komunikasi, makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan. Anita taylor, et al. (1977:1987) dalam Jalaluddin Rakhmat (2003:119) mengatakan bahwa banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik diantara komunikan. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang buruk.
Hubungan interpersonal didefinisikan sebagai hubungan yang dijalani antara dua individu, memiliki karakteristik yang khas berdasarkan tingkat kontinuitas, berbagi pengalaman, dan interaksi saling ketergantungan berdasarkan latar belakang keadaan dan aktivitas. Definisi ini diperluas dalam ranah kualitas hubungan interpersonal, yang diperkuat oleh tingkat kepercayaan, keakraban, dan rasa saling berbagi; adanya pengaruh positif, kedekatan, dan affective tone; serta isi dan kualitas komunikasi (Collins & Repinski, 1994; Laible & Thompson, 2007) dalam Theo Wubbels, et al., (2012: 20).
Berdasarkan beberapa penjelasan dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa hubungan interpersonal antara guru dan siswa adalah interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa sehingga terjalin sebuah ikatan perasaan yang bersifat timbal balik dalam pola hubungan tersebut, yang menentukan cara pesan atau informasi dapat dipahami oleh keduanya tanpa adanya kegagalan komunikasi. Interaksi antara guru dengan siswa ini didasari
29
oleh rasa saling berbagi, saling ketergantungan dan didukung oleh adanya pengaruh positif, kedekatan, serta bentuk kerja sama yang saling membutuhkan dan menguntungkan diantara keduanya.
b. Teori-teori hubungan interpersonal
Jalaluddin Rakhmat (2003: 120-124) berdasarkan pada teori dari Coleman dan Hammen (1974: 224-231) menyebutkan bahwa ada empat buah teori atau model hubungan interpersonal yaitu: