DAFTAR LAMPIRAN
F. Manfaat Penelitian
4) Pemutusan (terminating); adalah tahap paling rendah dalam kadar suatu hubungan. Semakin lama dan semakin penting hubungan interpersonal
tersebut, pemutusan hubungan terasa semakin menyakitkan.
Suranto (2011: 44) mengatakan bahwa untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Hal itu disebabkan, salah satu keadaan yang dapat memelihara kebersamaan adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jadi selama kedua belah pihak masih secara seimbang merasa memperoleh manfaat dari hubungan interpersonal itu, maka akan ada tindakan nyata untuk memeliharanya dalam suasana kebersamaan.
Secara teoritis, hubungan interpersonal akan terjaga manakala kedua belah pihak sama-sama memperoleh manfaat dari hubungan tersebut. Apabila salah satu pihak sudah merasa tidak memperoleh manfaat, apalagi merasa dikhianati, maka hubungan interpersonal dapat tergelincir kepada situasi kadar hubungan yang makin buruk, bahkan pemutusan, ada beberapa faktor yang memicu penurunan kadar hubungan interpersonal yaitu kompetisi, dominasi, saling menyalahkan, meremehkan dan perbedaan nilai (Suranto, 2011: 44).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa tahap-tahap hubungan interpersonal yang terjadi di dalam proses pembelajaran yang berlangsung antara guru dengan siswanya itu dimulai dari tahap pembentukan (perkenalan). Pada tahap ini guru dan siswa pertama kali bertemu bertatap muka di kelas dan guru mulai membuka pelajaran. Komunikasi pada tahap ini dilakukan dengan hati-hati untuk membentuk persepsi dan kesan pertama yang baik. Misalnya, guru berpenampilan menarik dan memberikan apersepsi dalam pembelajaran untuk memberikan persepsi awal siswa yang positif, sehingga
39
siswa merasa termotivasi bahwa mata pelajaran yang sedang disampaikan itu adalah penting dan bermanfaat.
Pada tahap kebersamaan/peneguhan hubungan interpersonal antara guru dengan siswa tidaklah bersifat tetap, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal guru-siswa, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium). Guru menciptakan keakraban, kontrol, respons yang tepat, nada emosional yang tepat dalam interaksi dengan siswanya. Dalam tahap peneguhan ini guru harus tetap menjaga suasana kelas agar tetap terkontrol dalam arti siswa tetap aktif mengikuti pembelajaran dengan baik. Misalnya, siswa tidak ada yang mengantuk, gaduh, dan mengganggu siswa yang lain. Guru dapat melakukan tahap peneguhan dengan berbagai cara. Misalnya, selama proses pembelajaran berlangsung guru menyelipkan kelucuan-kelucuan yang wajar agar siswa tidak cepat merasa bosan sehingga siswa merasa ‘hangat’ dan ‘akrab’. Guru harus
mampu memotivasi siswanya untuk dapat belajar dengan baik agar prestasi belajar siswa dapat optimal. Akan tetapi, jika guru tidak berhasil memberikan peneguhan maka sering dijumpai beberapa siswa yang malas mengikuti pembelajaran, pasif di kelas, membuat gaduh dan lain-lain. Pada tahap terakhir hubungan interpersonal adalah pemutusan. Pada tahap pemutusan adalah ketika guru sudah tidak dapat mendekatkan diri dengan siswanya. Siswa merasa apa yang disampaikan oleh gurunya sudah tidak penting. Siswa merasa sangat jenuh sehingga siswa menunjukkan sikap yang sering membolos pada saat jam pelajaran itu berlangsung. Walaupun demikian, pada tahap pemutusan masih dapat membangun hubungan interpersonal yang baik lagi karena sifat hubungan interpersonal adalah tidak statis. Guru masih dapat membangun kembali ke
40
tahap peneguhan. Salah satunya dengan kemampuan guru untuk mengadakan relasi yang dekat dengan para siswanya agar keduanya merasa saling membutuhkan.
d. Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal
Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka, yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Bila antara Anda dengan Saya berkembang sikap curiga, makin sering anda berkomunikasi dengan Saya makin jauh jarak Kita. Maka perlu dipahami bahwa ada faktor-faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik menurut Jalaluddin Rakhmat (2003: 129) yaitu:
1) Percaya (trust)
Faktor percaya adalah yang paling penting karena dengan percaya itu berarti akan membuat kita banyak membuka diri tentang kita kepada orang yang kita percaya dan karena kita yakin orang tersebut tidak akan mengkhianati atau merugikan kita. Sejak tahap pertama dalam hubungan interpersonal (tahap perkenalan), sampai tahap kedua (tahap peneguhan), percaya menentukan efektivitas komunikasi. Giffin (1967: 224-234) dalam Jalaluddin Rakhmat (2003: 130) mengatakan bahwa percaya didefinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko.
Sejauh mana kita percaya kepada orang lain dipengaruhi oleh faktor-faktor personal dan situsional. Deustsch (1958) dalam Jalaluddin Rakhmat (2003:
130-41
131) mengatakan bahwa harga diri dan otoritasme mempengaruhi percaya. Orang yang harga dirinya positif cenderung mempercayai orang lain, sebaliknya orang yang mempunyai kepribadian otoriter cenderung sukar mempercayai orang lain.
Faktor yang berhubungan dengan sikap percaya antara lain: a) Karakteristik dan maksud orang lain; maksudnya orang akan
menaruh kepercayaan kepada seorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan, atau pengalaman dalam bidang tertentu. Kita percaya kepada guru matematika dalam urusan menghitung tetapi tidak percaya padanya dalam urusan sastra dan sebagainya.
b) Hubungan kekuasaan; percaya tumbuh apabila orang-orang
mempunyai kekuasaan terhadap orang lain. Apabila saya tahu anda akan patuh dan tunduk kepada saya, saya akan mempercayai anda.
c) Sifat dan kualitas komunikasi; bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan tujuan sudah jelas, bila ekspektasi sudah dinyatakan, maka akan tumbuh sikap percaya.
d) Pengalaman; maksudnya adalah sikap percaya berkembang apabila setiap komunikan menganggap lainnya berlaku jujur dan sikap ini dibentuk berdasarkan pengalaman kita dengan komunikan.
Selain pengalaman ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya yaitu menerima artinya kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Empati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain, dengan empati kita berusaha melihat seperti orang lain melihat, merasakan seperti orang lain
42
merasakannya. Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Menerima dan empati mungkin saja dipersepsi salah oleh orang lain. Sikap menerima kita dapat ditanggapi sebagai sikap tak acuh, dingin dan tidak bersahabat dan empati dapat ditanggapi sebagai pura-pura. Supaya ditanggapi sebenarnya, kita harus jujur mengungkapkan diri kita kepada orang lain.