• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL KAJIAN

D. Persamaan regresi linier berganda

4.7 Pembahasan Interpretasi Data Analisis Regresi Linier Berganda .1 Pembahasan Persamaan Regresi Linier berganda .1 Pembahasan Persamaan Regresi Linier berganda

4.7.2 Faktor Factor Yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Kelompok Wanita Tani

yang diungkapkan oleh mulyati dkk (2016) pengalaman usahatani dalam menentukan keberhasilan sebuah usaha tani, karena dengan pengalaman usaha tani mereka akan lebih terampil dalam mengatasi hambatan mauapun tantangan yang mungkin terjadi pada saat usaha tani berlangsung. Jika dilihat pada keadaan dilapangan yang didukung dengan hasil kajian yang saya teliti rata rata anggota KWT lestari melakukan usaha tani lebih dari 16 tahun ataupun lebih, hal itu menunjukan bahwa anggota kelompok wanita tani lestari rata rata sudah memahami secara garis besar bagaimana cara ber budidaya dengan benar.

4.7.2 Faktor Factor Yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Kelompok Wanita Tani

1. Pengaruh Kegiatan Penyuluhan Terhadap Tingkat adopsi kelompok wanita tani

Hasil dari pengaruh kegiatan penyluhan terhadap tingkat adopsi kelompok wanita tani dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut :

No MODEL T hitung T tabel Nilai

Signifikan

4 Kegiatan penyuluhan 0.422 0.05 0.000

Sumber : olah data spss,2022

Bisa kita lihat pada tabel 4.16 bahwa nilai signifikan sebesar 0,00 dan kurang dari alpha yang ada, denga demikian bisa dikatakan bahwa kegiatan penyuluhan mampu mempengaruhi tingkat adopsi mengenai program yang diberikan. Tetapi bila pada tabel t hitung dan koefisien regresi yang tertera pada sub variable bernotasi positif, yang artinya kegiatan penyuluhan yang dilakukan

72

menandakan tidak bersifat berbalik. Hal ini sependapat menurut yahya mukhlis (2018) yang mana kegiatan penyuluhan memiliki pengaruh terhadap tingkat adopsi petani. Bila dikaitkan dengan kegiatan penyuluhan ataupun pelatihan yang dilakukan oleh P4s Hikmah Farm dengan judul pelatihan budidaya hidroponik didapatkan hasil bahwa anggota KWT lestari sangat aktif dan tertarik untuk menerapkan budidaya sayur hidroponik serta didukung dengan potensi SDA DAN SDM di daerahnya, sehingga hal ini yang mempengaruhi Kelompok Wanita Tani Lestari mau mengadopsi budidaya sayur hidroponik.

2. Pengaruh Fasilitas Program Terhadap Tingkat Adopsi Kelompok Wanita Tani Hasil dari pengaruh fasilitas program terhadap program yang diberikan dapat dilihat pada tabel 4.17 dibawah ini:

No MODEL T hitung T tabel Nilai

Signifikan

6 Fasilitas program 1.222 0.05 0.467

Sumber : olah data spss,2022

Pada tabel 4.17 bahwa nilai signifikan sebesar 0,467 dan lebih banyak nilainya dari alpha,hal ini menandakan bahwa saya fasilitas program tidak berpengaruh terhadap tingkat adopsi kelompok wanita tani. Jika kita pada tabel t hitung dan koefisien regresi pada sub variable fasilitas program bernotasi negatif, hal ini menyatakan bahwa pengaruh fasilitas program bersifat berbalik. Hasil tersebut tidak sejalan menurut luthfi dkk (2019) yang mana fasilitas program berpengaruh terhadap program yang diberikan, hal ini dikarenakan bahwa pada kelompok wanita tani lestari fasilitas program tidak ada manfaatnya secara signifikan dari pelaksanaan penyuluhan yang diberikan. Pada pelaksanaanya di lapangan fasilitas program berupa penyiapan sarana prasana yang menunjang kegiatan penyuluhan seperti, layar screen, proyektor, fasilitas umum dan sarana budidaya seperti penyiapan media tanam, penyiapan instalasi dan masih banyak lagi, dengan kata lain anggota KWT dalam pelaksanaanya tidak begitu tertarik

antusias untuk mengetahui lebih dalam mengenai fasilitas program dengan demikian anggota KWT lestari tidak sepenuhnya menyambut baik variable fasilitas program ini.

3. Pengaruh Manfaat Yang Dirasakan Terhadap Tingkat Adopsi Kelompok Wanita Tani

Hasil dari pengaruh fasilitas program terhadap program yang diberikan dapat dilihat pada tabel 4.18 dibawah ini:

No MODEL T hitung T tabel Nilai

Signifikan

5 Manfaat yang dirasakan 0.396 0.05 0.003

Sumber : olah data spss,2022

Berdasarkan tabel 4.18 bahwa nilai sig sebesar 0,003 dan kurang dari alpha. Dengan demikian manfaat yang diberikan berpengaruh terhadap tingkat adopsi kelompok wanita tani. Tetapi bila kita pada tabel t hitung dan koefisien regresi pada sub variable manfaat yang dirasakan bernotasi positif, berarti menyatakan pengaruh yang diberikan tidak bersifat berkebalikan. hal ini menandakan bahwa semakin tinggi tingkat kesenangan seorang adopter dalam penerimaan inovasi yang diberikan dan antusias maka semakin tinggi pula tingkat adopsi seorang adopter. Sejalan dengan teori (Sularso,2012) yang mana bila penggunaan suatu teknologi dapat diserap dengan mudah dan bermanfaat oleh sasaran, maka akan meningkatkan kesenangan sasaran dalam melakukan proses adopsi dan mengimplementasikanya. terdapat kemiripan dengan KWT lestari sebagai penerima pelatihan budidaya sayur hidroponik dimana pada implementasinya saat pemberian materi dan dilapangan mereka cukup antusias.

Dibuktikan dengan adanya timbulnya keingin tahuan yang lebih serta mereka mau untuk menerapakan inovasi yang diberikan selama pelatihan yang mana hal itu dituangkan dalam bentuk green house di lahan demplot milik anggota.

4. Pengaruh Kesesuaian Dengan Kebutuhan Terhadap Tingkat Adopsi Kelompok

74 Wanita Tani

Kesesuian dengan kebutuhan merupakan suatu pengukuran yang mana bila dilakukan pengukuran sejauh mana suatu teknologi yang dianggap konsisten dan memiliki kesesuaian ketetapan yang ada. Bila suatu teknologi maupun inovasi tidak sesuai dengan kebutuhan maka proses adopsi tidak bisa terjadi. Untuk hasil dari analsisi data dapat dilihat pada tabel dibawah :

Tabel 4.19

No MODEL T hitung T tabel Nilai

Signifikan 7 Kesesuaian dengan

kebutuhan 0.150 0.05 0.002

Sumber : olah data spss,2022

Berdasarkan tabel Tabel 4.19 dilihat pada koefisien t hitung bahwa nilai signifikan sebesar 0,002 artinya hal tersebut dibawah 0,05 dengan demikian variable kesesuaian dengan kebutuhan bisa dikatakan berpengaruh terhadap tingkat adopsi KWT lestari. berkaitan dengan tingkat adopsi kelompok wanita tani lestari terhadap budidaya sayur dengan system hidroponik yaitu mayoritas tinggi dimana seluruh anggota kelompok wanita tani lestari dapat ber budidaya dengan benar dan efektif secara konsisten. yang mana pada segi pengelolaanya dilakukan secara bergilir sehingga pelaksanaanya dan ilmu yang didapat oleh anggota KWT lestari biisa berjalan dengan tepat dan merata. Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh morteza (2011) yang mana kesesuaian dengan kebutuhan dapat menunjukan indikator mengarah pada tingkat adopsi suatu teknologi akan tinggi bila mana seorang petani dapat merasakan adanya nilai lebih yang dirasakan.

BAB V

PERANCANGAN DAN UJICOBA RANCANGAN PENYULUHAN 5.1 Rancangan Penyuluhan

Perancangan penyuluhan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mana di dalamnya terdapat sasaran penyuluhan, tujuan penyuluhan, metode penyuluhan, dan media penyuluhan, adapun tujuan dari rancangan penyuluhan ini adalah mengetahui tingkat adopsi kelompok wanita tani lestari terhadap pelatihan budidaya sayur dengan system hidroponik di desa purwodadi kecamatan ringinrejo Kab. Kediri. Penyusunan rancangan penyuluhan pada kajian ini berdasarkan pada keadaan umum wilayah dan hasil penelitian.

Dokumen terkait